Menu



Asuransi Kesehatan Masa Kini, Bayarnya Cashless Sesuai Tagihan


Belum lama ini saya masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Penyebabnya asam lambung naik dan mengiritasi saluran pernafasan. Bikin saya jadi mual hebat, batuk-batuk parah, juga sesak nafas.

Beruntung, kondisi saya segera membaik setelah mendapat penanganan yang tepat. Setelah menunggu beberapa jam, saya diperbolehkan pulang dengan "dibekali" 7 macam obat sekaligus. Saya lega karena cukup dengan rawat jalan saja, tidak sampai rawat inap karena pasti akan sangat merepotkan.

Namun ketika harus membayar tagihan rumah sakitnya, saya dan suami sama-sama nyengir kuda. Bukan mau mengeluh sih, tapi nominalnya bukan kaleng-kaleng. Cukup untuk staycation di hotel bintang 4 atau makan di restoran mewah sampai kenyang. Ini saya "hanya" rawat jalan lho, bayangkan jika harus rawat inap dan otomatis menambah biaya kamar per malamnya.

Maka benarlah, kesehatan itu sungguh nikmat Tuhan yang tidak murah harganya. Jangan tunggu sakit baru menyadarinya, ya!


Pentingnya Asuransi untuk Proteksi Diri

Kejadian mendadak berurusan dengan rumah sakit itu membuat saya dan suami langsung berbicara serius soal asuransi kesehatan. Sebetulnya kami sudah punya BPJS, namun faskes 1 kami cukup jauh dari kontrakan yang kami tempati sekarang. Kami butuh proteksi ekstra untuk bisa dipakai di mana saja dan kapan saja tanpa khawatir.

Sebagai generasi milenial yang (merasa) sudah cukup melek finansial, kami menyadari betul pentingnya memiliki asuransi kesehatan. Sebelum menikah sudah dipikirkan dan direncanakan, namun memang belum terlaksana karena banyaknya kebutuhan ini itu khas pengantin baru. Masuknya saya ke IGD seolah bak kode kecil dari Tuhan agar kami segera mengurus asuransi kesehatan demi proteksi diri ke depannya.

Perlunya proteksi diri untuk saat-saat terkapar di RS begini

By the way,  banyak teman dan kerabat saya yang masih berpikir asuransi itu hanya buang-buang uang. Rugi jika sudah membayar namun tak terpakai karena sehat terus alias tidak pernah sakit.

Ini pemikiran yang keliru, menurut saya. Membayar premi asuransi itu bisa diibaratkan seperti menyewa jasa satpam untuk rumah atau kantor kita. Memangnya kita akan merasa rugi jika keadaan aman-aman saja dan tidak terjadi tindak pencurian atau perampokan? Tentu tidak, bukan? Kita akan bersyukur karenanya.

Sebaliknya, jika amit-amit terjadi hal yang tidak diinginkan, kita bisa sedikit lega karena sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk sebuah proteksi atau perlindungan.

Pilihan Asuransi Digital untuk Keluarga Milenial

Pandemi Covid-19 telah mempercepat digitalisasi di setiap sendi kehidupan masyarakat. Nyaris segala hal sudah bisa dilayani dalam genggaman. Semua sudah serba online dan cashless.

Tidak terkecuali dengan asuransi. Saya ingat saat saya masih bekerja kantoran nyaris satu dekade lalu, produk-produk asuransi hanya bisa diakses secara konvensional melalui agen atau sales-sales marketing-nya. Tapi rupanya sekarang sudah bisa diakses dengan mudah secara online lewat gadget.


Flexi Hospital & Surgical Protection, Bayar Asuransi Cashless Sesuai Tagihan

Tepat ketika saya dan suami asyik berunding memilih asuransi pada pertengahan Juni lalu, Astra Life rupanya baru meluncurkan Flexi Hospital & Surgical Protection yang merupakan asuransi kesehatan dengan manfaat penggantian biaya perawatan di Rumah sakit di Indonesia.

Kami tertarik dengan produk asuransi ini karena memberikan penggantian biaya rawat jalan darurat dan penggantian biaya perawatan lengkap di Indonesia di Rumah Sakit Indonesia dengan pembayaran manfaat sesuai tagihan. Maksudnya, kita bisa memilih dan menentukan sendiri besaran premi yang harus dibayarkan sesuai dengan kebutuhan dan manfaat yang diinginkan.

Biar lebih jelas, bisa langsung ke tautan ilovelife.co.id untuk mencoba sendiri kalkulator premi dan manfaat dari Flexi Hospital & Surgical Protection seperti yang sudah saya coba ini. 

Hasil kalkulator premi (screenshot pribadi)

Asuransi Flexi Hospital & Surgical Protection dari #AstraLife ini juga merupakan solusi untuk para pasien yang membutuhkan penggantian biaya rawat jalan kanker (radioterapi dan kemoterapi) dan Cuci Darah. Termasuk juga penggantian biaya fisioterapi yang mencakup terapi okupasi dan terapi Wicara.

Untuk pembayarannya no ribet-ribet club. Semua bisa dibayar dengan non-tunai karena adanya fasilitas cashless dengan e-card di Rumah Sakit rekanan di Indonesia. 

Manfaat asuransi Flexi Hospital & Surgical Protection dari Astra Life


Ah, andai saja saya dan suami sudah membeli produk asuransi ini sebelum saya terkapar di IGD, pasti tidak perlu pusing dengan tagihannya. But better late than never. Tidak ada kata terlambat untuk mulai sadar memproteksi diri.


Fasilitas MCU Flexi Hospital & Surgical, Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

"Lebih baik mencegah daripada mengobati"
Hampir semua orang tahu adagium atau peribahasa ini. Namun pada kenyataannya lebih banyak orang yang baru sibuk berobat ketika sudah kadung terserang penyakit ketimbang mencegahnya.

Mahalnya biaya disinyalir sebagai salah satu faktor penghambat sehingga banyak orang enggan melakukan Medical Check Up (MCU). Padahal, MCU adalah langkah penting untuk dilakukan sebagai pencegahan.

Mengutip detikHealth dot com, MCU rutin perlu dilakukan karena dari hasilnya bisa diketahu kondisi medis seseorang secara keseluruhan. MCU juga berguna untuk mendeteksi penyakit dalam tubuh, terutama jika terserang sejumlah penyakit yang tidak bergejala. Selain itu, MCU juga bisa digunakan untuk mengetahui risiko penyakit seseorang yang mungkin terjadi di masa depan.

Flexi Hospital & Surgical Protection dari #AstraLife agaknya memahami benar pentingnya MCU ini. Bukan hanya berfokus membuat #TagihanRSjadiRingan semata, asuransi ini juga memberikan fasilitas MCU gratis setiap 2 tahun terhitung sejak tanggal polis aktif lho.

Lebih detail terkait fasilitas MCU ini, bisa dilihat pada gambar berikut :

Fasilitas MCU di Flexi Hospital & Surgical Protection (sumber : ilovelife.co.id)

Hmm, sepertinya Flexi Hospital & Surgical Protection ini asuransi kesehatan masa kini banget, ya?! Sudah preminya terjangkau dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, bayarnya bisa cashless sesuai tagihan mengikuti perkembangan zaman era digital, manfaatnya juga maksimal. Sungguh jawaban kebutuhan asuransi keluarga milenial. 

Untuk info lebih lanjut terkait Flexi Hospital & Surgical

And last but not least,
please protect yourself,
protect your familiy,
protect everyone that you loved,
So you can live your life and love your life then ...
#LoveLife

_____________________________________

Untuk info lebih lanjut terkait Flexi Hospital &Surgical Protection, bisa kunjungi website dan follow media sosial berikut ini :

Website :
Facebook : AstraLifeID
Twitter : @AstraLifeID



1

 Tulisan kali ini berisi pengalaman saya mengatasi rambut lepek dengan menjajal rangkaian haircare Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner. Apakah berhasil? Baca terus sampai habis ya!


Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

Berbagai cara sudah saya coba lakukan demi mengatasi masalah rambut saya yang super lepek, berminyak dan awut-awutan ini. Mulai dari menjajal berbagai merk shampoo dan conditioner, sampai mencoba rutin melakukan perawatan di salon. Namun sepertinya semua upaya saya masih belum memberikan hasil maksimal.


Rasanya rambut saya hanya bagus selama beberapa saat saja setelah keluar dari salon, selebihnya ya kembali lepek, berminyak, dan awut-awutan. Sedih sih ya, rasanya udah habis akal banget mengatasi rambut yang begini ini. Padahal katanya rambut itu mahkota wanita. Huhuhu...


Untunglah, belum lama ini saya dapat kabar kalau Scarlett baru saja mengeluarkan produk hair care. Wah info baru ini, soalnya yang saya tahu, Scarlett selama ini terkenal dengan rangkaian produk skin care dan body care-nya yang nyaris semuanya sudah saya coba. 


Berbekal rasa kepo dan hasil membaca review teman-teman sesama blogger, saya pun memutuskan mencoba hair care produksi Scarlett ini. Saya sih belum tahu ada varian yang lain atau tidak, namun yang saya coba saya pakai adalah Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner.


So, berikut review lengkap rangkaian Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner versi si Emak kucing kampung untuk atasi rambut lepek dan berminyak.


Kemasan, Aroma, dan Tekstur Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

Beruntunglah Scarlett karena saya ini bukan tipe orang yang memilih produk dari kemasannya. Andai cuma lihat dari packagingnya, sudah pasti saya tidak akan beli.

Kemasan Scarlett Sea Salt Shampoo & Conditioner

 Ini masalah selera sih, tapi saya betul-betul kurang suka dengan packaging Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner ini. Desain kemasan botol plastik transparan ini, terlebih tempelan kertas labelnya mengingatkan saya dengan shampoo-shampoo buatan UMKM lokal atau buatan anak-anak sekolah untuk project wirausahanya.  


Ayolah, untuk perusahaan milik Felicya Angelista yang bahkan mampu menjadikan Song Joong Ki dan Twice Ambassadornya, seharusnya Scarlett bisa membuat kemasan yang lebih elegan. (Jangan baper ya, Scarlett! Ini masukan dari pelanggan setia kok 😘)


Untungnya, kelemahan packagingnya langsung terlupakan begitu saja begitu tutupnya dibuka. Sebagai pecinta pantai banget, saya hafal aroma aquatik nan segar yang langsung menyeruak dari dalam botol shampoonya ini. Warnanya yang biru segar juga mengingatkan saya dengan warna air kolam renang. Menariknya, ada tambahan wangi bunga magnolia yang lembut juga. Kebayang nggak sih perpaduan sempurna aroma fresh dan lembut itu? 


Sementara itu, aroma conditioner-nya terasa lebih kuat meski masih sama-sama enak dan sopan masuk hidung. Conditioner Scarlett ini punya wangi bunga-bunga yang manis gitu, lebih tepatnya kaya bunga evening primrose alias bunga sedap malam.


Lanjut ke tekstur. Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo berupa cairan agak kental berwarna biru cerah. Teksurnya biasa saja seperti layaknya shampoo pada umumnya. Tapi cairan shampoonya tidak mudah tumpah bahkan jika botolnya terguling. 

Shampoo yang biru, conditioner yang pink

Sementara untuk conditionernya yang berwarna baby pink ini lebih pekat ketimbang shampoonya, namun lebih ringan ketimbang conditioner pada umumnya. Saya suka tekstur conditioner Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo ini karena tidak lengket dan sangat mudah dibilas.

Kandungan Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

Hasil baca-baca label kemasan dan beberapa artikel review, produk Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner ini mengandung sea salt alias garam laut yang punya fungsi utama mengurangi kadar minyak berlebih di kulit kepala. Cocok banget kan buat yang punya rambut lepek kaya saya?


Selain itu, bersama kandungan bahan-bahan lainnya yang aman, shampoo dan conditioner Scarlett ini juga diklaim bisa mengatasi penumpukan kotoran di permukaan kulit kepala, serta membuka kutikel kulit rambut sehingga penyerapan perawatan selanjutnya bisa lebih maksimal.

Selain fungsi pembersihan maksimal, produk Shampoo dan Conditioner Scarlett ini juga bermanfaat menguatkan akar rambut, memberikan volume, mencegah rambut bercabang dan rontok, serta bikin rambut shining shimering splendid.

Wohoo, paket lengkap banget ya. Apakah hasilnya sejalan dengan klaimnya? 

Kesan Setelah Pemakaian Rutin Selama 2 Minggu

Sebetulnya tidak 2 minggu full banget sih ya, karena saya tidak keramas setiap hari. Cukup 2-3 hari sekali saja biar tidak boros shampoo πŸ™‚

Meski agak kesulitan menuangkan cairan shampoo-nya karena desain botol 250 ml ini cukup besar di genggaman saya, tapi saya lumayan menikmati keramas dengan shampoo Scarlett ini. Mungkin sebagian orang tidak terlalu suka karena sensasi busanya kurang melimpah, namun efek kulit kepala langsung bersih dan segar langsung berasa.

Dan saya suka sekali dengan conditionernya. Cukup tuang secukupnya ke telapak tangan setelah keramas, lalu usapkan ke bagian tengah hingga ujung rambut dan diamkan selama beberapa menit sebelum dibilas bersih. Saya suka karena conditioner ini sangat mudah dibilas sehingga hemat air.

Nugisuke, suami saya, selalu memuji rambut saya wangi sekali setiap kali habis keramas. Macem orang mandi kembang saja, katanya sambil menghujani saya dengan ciuman. Hehehe...

Bye rambut lepek, welcome rambut bervolume 😘

Hebatnya lagi, rambut saya yang biasanya lepek parah langsung terlihat mengembang dan bervolume bahkan dari pemakaian pertama. Minyak minyak yang selama ini yang juga kerap bikin saya ketombean auto lenyap seketika.

Kalau klaim bikin rambut berkilaunya sih belum terlalu kelihatan sih ya, tapi Shampoo ini sangat layak untuk diteruskan pemakaiannya. Setidaknya untuk saya.

Apakah kalian tertarik nyobain juga? 




0


"Siapa yang mengira, bahwa segumpal bulu  bisa mendatangkan begitu banyak kebahagiaan"  - Chicken Soup for the Soul : Pelajaran dari Kucingku

Semua Akan Bucing Pada Waktunya

Dalam salah satu buku seri Chicken Soup for the Soul favorit saya : Pelajaran dari Kucingku, ada beberapa kisah tentang orang-orang yang semula tidak menyukai bahkan cenderung membenci kucing, lama kelamaan menjadi budak kucing (bucing) juga. Di dunia nyata, dua orang terkasih saya rupanya juga mengalami proses seperti itu. Dari cat haters menjadi cat lovers. Memang hanya butuh waktu dan kesempatan, pada akhirnya semua akan menjadi bucing pada waktunya.

___________________________________________

Sewaktu masih pacaran dengan Nugisuke, saya sempat sangat khawatir begitu tahu saya ternyata mengencani seseorang yang punya riwayat asthma akut. Saya cemas dengan kemungkinan tidak bisa memelihara kucing jika kelak berumah tangga.

Untungnya, Nugi bilang dia tidak bermasalah dengan bulu kucing. Saya ingat sekali, "kalau kita serumah nanti, kamu boleh piara kucing. Tapi mohon maaf aku nggak akan nguwel nguwel atau ngelus-ngelus mereka kaya kamu. Aku nggak suka kucing," katanya waktu itu.

Meski kecewa calon suami tidak suka kucing, tapi saya lega Nugi tidak melarang saya memeliharanya. Itu sudah cukup. Lagi pula, saya sangat maklum kenapa Nugi tidak suka kucing. Selain penyakit asthma bawaannya, Nugi lahir dan tumbuh besar di keluarga yang tidak suka kucing.

Ibu mertua saya akan sibuk mengusir dengan gagang sapu jika ada kucing yang mendekat atau lewat dekat rumahnya. Kata Nugi, tidak pernah ada seekor kucing pun yang pernah menginjak rumah mereka sejak dulu.

Di awal-awal menikah dan tinggal di sebuah rumah kontrakan petak, saya tidak langsung memelihara kucing. Sudah cukup terhibur dengan kehadiran kucing abu-abu milik ibu kos bernama Marco yang selalu singgah minta jatah uang keamanan tikus. Selain itu, ada banyak kucing liar yang menjadikan rumah kami sebagai basecamp karena saya selalu menyiapkan dry food di teras.

Meski demikian, kami sempat mencoba memelihara beberapa Kitten yang kami temukan di jalanan. Sedikitnya ada 3 ekor yang sempat kami pelihara dan beri nama, yakni Panda, Cireng, dan Uci. Sayang, ketiganya belum memilih kami sebagai babu. Panda kabur di hari kedua kami pelihara, Cireng mati setelah seminggu sempat kami rawat dengan penuh cinta, dan Uci hilang setelah kami titipkan ke tetangga saat harus ada pekerjaan ke luar kota (padahal hanya ditinggal 2 hari).

Ojan dan Otin saat baru diadopsi

Namun di rumah kontrakan yang baru, kami sepertinya berjodoh dengan 2 ekor kitten yang kami jemput jauh-jauh dari Kaliurang. Sepasang kitten kembar berwarna oren-putih yang mirip sekali dengan Ossas saya di Palembang. Jadilah Ossas Jantan (Ojan) dan Ossas Betina (Otin) menemani hari-hari kami di kontrakan baru.

Perlahan namun pasti, Nugi mulai bersikap seperti layaknya ayah ke anak-anaknya. Segera saja dia punya anak favorit : Otin. Yah, semua ayah memang rasanya akan lemah kepada anak perempuan. Nugi bahkan menyebut dirinya sendiri "Bapak" jika bicara pada duo krucil itu.

Tidur pun minta kelon Bapak

Nugi yang dulu bilang tidak akan mengelus-elus kucing manapun yang saya pelihara, kenyataannya setiap hari selalu punya quality time bersama anabul. Entah menimang-nimang, memangku salah satunya ketika sedang sibuk bekerja, atau mengajak mereka bermain yang disebut Nugi sebagai "momong anak".

Iyaa, nggak ngelus ngelus. Cuma nimang nimang aja 😝😝😝😝

Kalau sudah begini, apa masih pantas meng-klaim dirinya sebagai orang yang tidak suka kucing?

***

Selain Nugi, mama saya tercinta alias yang mulia Ibu Ratu juga selalu bilang dirinya tidak suka kucing. Sepanjang ingatan masa kecil saya, Ibu Ratu memang kejam dengan anak-anak bulu kesayangan saya dan papa. Beliau tidak segan menyabet, menendang, atau mengguyur para kucing jika nekat bandel naik ke atas meja mencuri makanan.

Ossas dan Ling ling, kucing saya di Palembang


Ibu Ratu juga sering membuang para kitten yang menurutnya sudah bisa disapih. Saya benar-benar jadi dendam kesumat dengan mama saya sendiri gara-gara ini. Beruntung, saya punya papa yang sama-sama cat lovers. Kalau tidak ada papa, saya tidak akan pernah diizinkan memelihara kucing sama sekali tentunya.

Saya tidak ingat kapan persisnya Ibu Ratu  berubah. Sepertinya tidak lama setelah papa meninggal. Saat itu, Ossas I yang saya pelihara sejak kecil ingin diminta tetangga dan saya minta pendapat Ibu Ratu. 

"Ya jangan boleh lah, enak saja minta-minta. Sudah besar kok diminta, yang ngerumat sejak kecil siapa?!" komen Ibu Ratu saat itu.

Saya geli sendiri, rasanya selama ini beliau mati-matian memaksa saya berhenti memelihara kucing yang dianggapnya sumber banyak penyakit. 

Lalu ketika Ossas I mati dan saya punya Ossas II yang masih kecil, saya sering mengajaknya pulang pergi dari kosan ke dusun Ibu Ratu setiap weekend. Ossas saat itu masih muat masuk tas selempang saya.

Pada suatu hari, ketika saya akan membawa Ossas kembali ke kosan, Ibu Ratu melarang saya. Beliau meminta Ossas ditinggal saja di dusun.

"Kasihan nggak muat lagi masuk tasmu, lagipula di kosanmu sempit, nggak bisa bebas main-main dia. Di sini kan halaman luas, banyak pohon..," kata Ibu Ratu.

Di situ saya sudah membatin, halah! Bilang saja mulai sayang dengan Ossas dan nggak mau pisah. 

Waktu Ossas ga dibolehin saya bawa ke kosan lagi 

Kecintaan Ibu Ratu pada makhluk berkuping segitiga itu kian nyata setelah saya menikah. Setelah diboyong Nugi untuk pindah dan menetap di Yogyakarta, praktis saya meninggalkan anak-anak bulu saya dalam pengasuhan Ibu Ratu di Palembang. Selain Ossas, saya juga meninggalkan Ling Ling beserta 3 anaknya : Pedro, Cemong, dan Citam. 

Setiap kali saya berkesempatan menelpon, Ibu Ratu akan mengoceh terkait kelakuan anak bulu itu. Ossas yang makin buduk dan keluyuran terus bak preman kampung lah, Ling Ling yang jadi primadona dusun dan selalu diapeli banyak pejantan lah, Pedro dan Cemong yang rutin menghadiahi Ibu Ratu upeti tikus dan anakan ular lah, juga Citam yang belum lama ini membantai 22 dari 25 ekor anak ayam kampung peliharaannya.

Semuanya diceritakan dengan begitu antusias oleh Ibu Ratu. Seolah tak ada topik lain yang lebih menarik ketimbang semua anak-anak bulu itu. Bahkan beliau tidak peduli apakah saya sudah hamil atau belum. Bagi beliau, menebak-nebak siapa sesungguhnya bapak dari janin-janin kucing di perut Ling Ling jauh lebih mendebarkan ketimbang menunggu kabar kehamilan saya, anak bungsu dan perempuan satu-satunya ini.

"Sebenernya nggak suka banget kucing saya tuh"

Meski dengan segala kelakuan ajaibnya jika menyangkut kucing, Ibu Ratu masih suka berucap ke siapa pun yang mau mendengarkan, "Sebenernya nggak suka banget kucing saya tuh. Kotorannya bau, bulunya nempel ke baju kemana-mana, bandel nggak bisa dibilangin. Makannya banyak harus ikan pula..."

Kalau sudah begitu saya iya-iyakan saja. 

Manusia yang dipercaya sebagai kasta tertinggi ciptaan Tuhan, memang kadang masih denial mengakui dirinya sudah menjadi seorang budak makhluk lain. Namun percayalah, semua itu hanya soal waktu dan kesempatan. Jika sudah sekali saja terhipnotis pesonanya, maka semua akan menjadi bucing juga pada waktunya.


Apa kalian punya kisah orang-orang seperti Nugi dan Ibu Ratu juga?


Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang menyempatkan diri meninggalkan jejak di kolom komentar



2

Hak Kesehatan Seksual (gambar : kompas)


Belakangan ini saya beberapa kali membaca berita yang cukup bikin geram, yakni soal pelecehan seksual yang dialami kaum disabilitas. Kasus-kasus yang sungguh bikin marah, geram, sedih, dan miris sekaligus. Terlebih, karena para korbannya masih remaja atau di bawah umur.

Saya ingat saat masih kecil, ada kehebohan di dusun saya. Salah seorang warga, seorang remaja perempuan down syndrome, mendadak diketahui hamil di luar nikah. Saat itu saya belum terlalu paham, namun saya sudah tahu bahwa hamil tanpa didahului ikatan pernikahan sebelumnya merupakan hal yang sangat memalukan.

Ketika sudah agak lebih dewasa, saya baru paham kalau apa yang terjadi dengan remaja tersebut adalah kasus perkosaan dengan memanfaatkan ketidakberdayaan si korban. Pelakunya lebih dari satu, dan hampir semua adalah tetangga sendiri yang berdalih mengajak korban bermain-main di sawah yang ada pondoknya. Dan di sanalah perilaku bejat itu terjadi berulang kali hingga sang remaja akhirnya hamil tanpa pernah benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi.

Kasus seperti ini membuat saya sadar, bahwa mendapatkan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi adalah hak setiap orang, termasuk remaja disabilitas dan OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta). Wawasan terkait edukasi ini selain berdampak baik bagi kesehatan, tentunya akan mampu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman pelecehan dan kekerasan seksual yang mungkin terjadi.

Belum lama ini, saya dan rekan-rekan sesama blogger dan teman-teman Ruang Publik KBR dan NLR Indonesia mengikuti sebuah siaran sosialisasi bertajuk Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja disabilitas. Dalam agenda tersebut, salah satu narasumber yakni Westiani Agustin yang merupakan founder Biyung Indonesia mengatakan, edukasi terkait kesehatan seksual dan reproduksi untuk perempuan Indonesia masih cukup sulit diakses. "Jangankan untuk yang disabilitas dan OYPMK, yang remaja normal saja masih kesulitan mengakses informasi. Umumnya karena topik-topik terkait kesehatan seksual dan reproduksi ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan," ujar Westiani.
Pentingnya Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Hal senada disampaikan Wilhelmina Ice, remaja Champion program Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) asal Nusa Tenggara Timur. Menurut Ice yang juga remaja disabilitas ini, dirinya tergolong beruntung mendapatkan edukasi dari program HKSR yang dia ikuti. "Namun ada banyak teman-teman saya yang kesulitan mengakses informasi. Selain ada perbedaan kapasitas pemahaman antara teman yang satu dan yang lain, keluarga sendiri terkadang masih tidak mau tahu tentang hal ini," ujarnya.

Disampaikan Project Officier HKSR NLR Indonesia, Nona Ruhel Yabloy, sudah saatnya masyarakat kita sadar bahwa seks edukasi itu berbeda dengan pornografi. Dengan pemahaman yang benar terkait kesehatan seksual, remaja khususnya penyandang disabilitas lebih bisa melindungi dirinya sendiri. "Mulai dari hal-hal sederhana terkait pentingnya menjaga kebersihan dan merawat diri. Untuk wanita tahu kapan harus mengganti pembalut saat menstruasi, dll," jelas Nona.

Hal tersebut penting, tapi sampai sekarang banyak orang tua yang berpikir anak akan tahu sendiri pada waktunya, tidak perlu diajari. Padahal belum tentu. Seringkali anak justru kebingungan dan mencari tahu sendiri. Tentunya akan jadi berbahaya jika pada akhirnya anak malah mendapat informasi yang keliru.

Untuk itulah, perlu adanya support system dari orang terdekat. Penting membangun hubungan yang sehat agar remaja punya tempat aman untuk bertanya, khususnya terkait kesehatan seksual dan reproduksi yang selama ini dianggap tabu.






0

* Demi kenyamanan, jika Anda membaca tulisan di blog ini lewat ponsel, ubah dulu setting-an browser-nya ke mode desktop atau website ya πŸ˜‰πŸ˜‰

Tenang Hadapi Culture Shock Makanan Bersama new Enzyplex


Saya menghabiskan nyaris seumur hidup di Sumatera. Lahir dan besar di Bengkulu, lalu menetap di kota pempek, Palembang sejak tahun 2015 silam. Namun sejak menikah akhir tahun lalu dengan seorang mas-mas Jawa, saya pun kemudian diboyong suami untuk tinggal bersama di kota kelahirannya di tanah Jawa, tepatnya Yogyakarta.

Di tahun 2022 ini, untuk pertama kalinya saya berlebaran di Jogja. Benar-benar perdana ini, gaes! Meski secara kepercayaan tidak turut merayakan, namun saya ikut memeriahkan karena keluarga besar Nugi, suami saya, semuanya (kecuali mamak) merayakan Idul Fitri.

Sesajen Bapak Mertua di malam takbiran

Bapak mertua yang penghayat kepercayaan Kejawen ber-KTP Islam sudah menyiapkan sesajen sejak petang hari di malam takbiran. Lalu keesokan harinya di hari H, setelah keluarga kakak ipar dan keponakan-keponakan selesai salat Ied di masjid dekat rumah, saya dan suami ikut sungkem kepada mertua bersama mereka.

Jujur, saya sempat rindu berat dengan pempek, tekwan, dan teman-temannya yang selalu tersedia saat tradisi sanjo (saling berkunjung ke rumah kerabat/teman saat lebaran) di Palembang. Bagaimana ya? Sebagai produk asli Sumatera, saya masih cukup kesulitan mengatasi culture shock makanan di Jogja ini rupanya.

Sudah tahu kan ya, makanan Sumatera itu pada umumnya cenderung bercita rasa pedas dan gurih, sementara di Jogja nyaris semuanya cenderung manis (bahkan opor temen makan ketupat pun manis lho 😭😭). Masakan Sumatera juga biasanya lebih "berani" dalam penggunaan santan, rempah, maupun bumbu-bumbu dapur. Sementara masakan pada umumnya Jawa lebih soft alias  "pelit bumbu".

Meski demikian, saya berusaha keras beradaptasi. Tidak mudah, tentu saja. Tapi bisa kok. Dalam jangka waktu beberapa bulan ini sejak pindah ke Jogja, meski masih belum sanggup makan gudeg yang menurut saya masih terlalu manis untuk teman makan nasi, tapi saya sudah sangat bisa menikmati nasi pecel dan menu-menu khas angkringan seperti mendoan dan sate telur puyuh.

Menu angkringan yang bersahaja


Cabe Burung yang Bikin Mutung


Di awal-awal tinggal di Jogja, saya sempat bingung dengan penyebutan "cabe rawit". Rupanya ada perbedaan makna dengan yang selama ini saya pahami dengan pengertian orang Jogja pada umumnya. Dalam pemahaman saya, cabe rawit itu ya cabe hijau kecil-kecil yang umumnya jadi teman makan gorengan.

Namun bagi orang Jogja (terutama bagi ibu-ibu warung atau pedagang di pasar), cabe yang saya maksud itu adalah cabe lalap. Sementara cabe rawit buat mereka adalah sebutan untuk cabe berwarna merah agak oranye, dan ukurannya agak lebih besar dari cabe yang untuk makan gorengan. Nah, dalam pemahaman saya, cabe rawit Jogja Version ini namanya cabe burung.

Cabe rawit VS Cabe burung


Terus terang, saya agak musuhan dengan cabe burung ini. Derajat pedasnya sebetulnya biasa saja, masih bisa ditanggung lidah. Namun sensasi panasnya luar biasa. Perut saya tidak nyaman dibuatnya. Ya nyeri, ya perih. Cabe yang benar-benar bikin mutung, orang Bengkulu bilang. Mutung bisa diartikan sensasi terbakar, panas yang amat sangat, atau gosong. Kalau dalam KBBI, mutung artinya musnah terbakar. Yah, sama-sama berhubungan dengan panas pokoknya. 

Kalau masak sendiri, cabe burung ini pasti saya hindari. Saya lebih suka perpaduan cabe merah keriting dengan cabe rawit hijau kecil karena menghasilkan rasa pedas yang elegan, menurut saya.

Masalahnya, orang Jogja yang terkenal dengan masakan manisnya ini, ternyata lebih memfavoritkan cabe burung (atau versi mereka : cabe rawit) untuk dunia persambelannya. Ini sungguh culture shock makanan yang masih begitu sulit saya taklukkan. Masakan apapun di Jogja, baik opor, sate, geprek-geprekan, goreng-gorengan bakar-bakaran, bakso, soto, bahkan untuk menu-menu angkringan, nyaris selalu didampingi sambal oranye berbahan baku cabe burung ini.

Ini sungguh dilematis, Ferguso! Satu sisi, masakan Jogja yang dominan manis ini kok kurang sreg jika tidak dicocol sambal. Tapi kalau sambalnya cabe burung, bagaimana nasib perut saya coba?

Memilih tidak makan sama sekali juga bukan jawaban. Apalagi saat disuguhi ketupat opor di rumah mertua atau ayam geprek di rumah Budhe? Mana bisa menolak? Bisa hancur pencitraan saya sebagai menantu idaman di hari lebaran kalau sampai lancang menolak makan.

Culture Shock Makanan Featuring Dispepsia


Masalah culture shock makanan saya dengan cabe burung, biasanya akan diperburuk dengan dispepsia di hari raya saking banyak dan beragamnya makanan yang disantap.

Tahu kan sensasi tidak nyaman di perut seperti terasa penuh, kembung, begah, nyeri di ulu ati, sakit perut? Biasanya kita bilangnya sakit maag. Tapi menurut artikel di alodokter, sekumpulan sensasi tidak nyaman atau gejala tersebut disebut sindrom dispepsia.

Saya kerap mengalami gejala itu karena maklumlah, banyak yang antre minta dimakan kalau hari besar itu. Ketupat opor dan kondimennya, sederet kue-kue kering dan basah seperti nastar, kastangel, atau lapis legit, rengginang, hingga sirup dan minuman bersoda.

Kalian pernah mengalami juga? Kalau pernah, menyebalkan bukan jika kemeriahan dan kebahagiaan hari raya bersama keluarga harus diganggu dispepsia?

Dua masalah ini sempat membuat saya cemas menghadapi lebaran kemarin. Saya sungguh berharap momen perdana saya berlebaran dengan keluarga suami bisa berkesan dan berjalan lancar.

Tenang Berlebaran dengan new Enzyplex


new Enzyplex, suplemen enzim

Syukurlah, kecemasan saya ternyata tidak terbukti. Terima kasih sangat kepada Nugi, suami tercinta yang memperkenalkan saya dengan new Enzyplex. Dia yang sudah duluan konsumsi bilang, new Enzyplex itu bisa membantu mengatasi gejala dispepsia.

Tadinya saya pikir new Enzyplex itu obat maag, habis dari kemasannya gambar lambung gitu ye kan. Warna hijau pula. Kaya, khas banget gitu lho.

Tapi setelah baca-baca label kemasan dan artikel di internet, baru ngeuh kalau new Enzyplex merupakan suplemen enzim. Bukan obat. Di dalam kapsulnya terkandung enzim pankreatin (amilase, lipase, protase) yang dibutuhkan untuk proses pencernaan. Hayoo, mari kita inget-inget lagi pelajaran biologi materi sistem pencernaan manusia 🀭

Ditambah kandungan lain seperti Vitamin B kompleks, Deoxycholic Acid dan Simeticone, produk new Enzyplex ini jadi efektif banget menjaga kesehatan pencernaan kita. Plus, bisa mengurai gas berlebih di lambung sehingga menjauhkan perut kita dari sensasi-sensasi mual-kembung-perih tidak nyaman itu. 

Suplemen new Enzyplex ini paling baik dikonsumsi setelah makan karena akan bekerja maksimal jika ada makanan di lambung. Bisa dikonsumsi rutin karena jika kandungan enzimnya tidak terpakai, akan otomatis dibuang tubuh. Yang penting sesuai aturan pakai dan tidak berlebihan.

Hasilnya gimana?

Lebaran perdana saya di tanah Jawa bisa dikatakan lancar jaya berkat minum new Enzyplex. Puji Tuhan. Mulai dari "bekas" sesajen Bapak mertua, ketupat opor buatan ibu mertua, nasi ayam geprek buatan budhe, juga bakso buatan bulik di Gunung Kidul (yang semuanya featuring cabe burung) bisa tenang dinikmati tanpa drama sakit perut sama sekali. Perut kenyang, hati pun senang.




Di atas semua itu, saya sangat menikmati momen kebersamaan dalam lebaran. Bisa bersilaturahmi dan lebih mengenal keluarga baru dari pihak suami, juga mengikuti tradisi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan sungguh merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Saking berkesan dan menikmati setiap momennya, sibuk ngobrol dan berinteraksi dalam kehangatan keluarga besar, saya malah baru sadar kalau kami tidak punya banyak dokumentasi. Agak menyesal juga sih tidak banyak foto-foto.

Satu dari sedikit dokumentasi yang tersisa : saya, kakak ipar, dan Bapak mertua berkunjung ke rumah Budhe

Ah, sudahlah. Biar jadi alasan untuk mengulang lebaran di tahun selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya lagi. Kira-kira bakal seasyik apa ya? Kalau kalian, bagaimana cerita lebarannya?

Salam ya dari Jogja yang istimewa Seistimewa kalian yang berkenan meninggalkan jejak di tulisan ini ☺️☺️☺️


***





3


Hal hal yang berubah dari Nugisuke setelah menikah

April ini, usia pernikahan saya dan Nugisuke udah 7 bulan. Akhirnya, lebih setengah tahun dan menginjak semester kedua. Iyaaa, masih terhitung seumur jagung banget meski udah mulai terasa aneh di kuping kalau ada yang bilang kami manten anyar. Dibanding dengan saat masih single atau awal-awal pernikahan, suami saya ini lumayan banyak berubah setelah menikah.

Nah, dalam rangka merayakan monthversary kami (hilih), saya memilih menulis postingan ini untuk mengabadikan momen tentang suami tercinta. Agar suatu saat nanti bisa dibaca lagi, entah untuk mencari kekuatan untuk bertahan di masa sulit, atau sekadar untuk membangkitkan memori senyum dan bersyukur atas hari-hari yang sudah kami lewati berdua.

Cukup intronya, langsung saja, berikut hal-hal yang berubah dari Nugisuke setelah setengah tahun menikah dalam Ragi Story ~ a Journey to Stay Happy :

1. Lebih Berisi

Ara~Nugi sebelum dan sesudah menikah

Kadang definisi cinta itu adalah menggendut bersama. Wkwkwkwk.

Kalau tidak membandingkan foto-foto Nugi saat masih bujangan, saya tidak terlalu notice sih kalau tubuhnya tambah berisi sekarang. Tapi saya sendiri juga melar sih.

Sebetulnya kalau dari porsi makan biasa saja. Rasanya kami nyaris tidak pernah makan berlebihan. Sesekali makan di luar namun tetap didominasi makanan rumahan yang selalu diupayakan memenuhi menu gizi seimbang.

Satu-satunya biang kerok penyebab melarnya tubuh kami adalah kemageran akut. Saya dan Nugi harus akui, sejak punya Ao (motor baru kami), kami jadi kian malas bergerak. Apalagi olahraga. Dulu saat awal menikah masih rutin jalan-jalan tipis di sekitar sawah atau keliling kampung, sekalian menikmati pemandangan dan udara segar. Kadang kalau belanja pun sengaja pilih rute yang agak jauh biar bisa jalan kaki lebih lama.

Sekarang nyaris nggak pernah. Ya ampun … kalau tidak mau kebablasan obesitas, sepertinya kami sudah harus segera rutin berolahraga lagi. Demi kesehatan dan kebugaran juga tentunya mengingat faktor U juga mulai berpengaruh.

Tolong doakan niat ini agar segera direalisasikan dan bukan sekadar angan-angan ya ...

2. Tidak (Terlalu) Idealis Lagi

Saat staycation di Ramada Suites Solo

Nugisuke dengan Blog  thetravelearn.com -nya selama ini punya personal branding sebagai traveler dan hotel reviewer. Nugi yang dulu cenderung idealis, dia berdedikasi mempertahankan niche travel dan hotel reviewer di blog maupun akun media sosialnya semaksimal mungkin.Nugi yang dulu juga tak segan menolak tawaran paid promotion yang berpotensi "merusak" blognya.

Tapi lihatlah sekarang, blognya mulai "kacau" dengan banyaknya postingan yang sebenarnya bukan-Nugi-banget. Meski tak sampai bikin Nugi kehilangan identitas asli sepenuhnya, tetap saja, Nugi berubah. Dia tak seidealis dulu lagi.

Dan saya tahu persis alasannya. Semata karena Nugi sangat paham kalau sekarang dia tak hanya menghidupi diri sendiri, tapi sudah punya istri yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebetulnya gaji bulanan Nugi sebagai budak korporat sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kami berdua tanpa Nugi harus mengorbankan idealisme blognya. 7 bulan kami berumah tangga, rasanya belum pernah sekali pun kekurangan apa yang mau dimakan atau dipakai.

Tapi buat Nugi itu belum cukup. Kata Nugi, kami berdua masih punya banyak mimpi yang harus diwujudkan. Men pride Nugi diam-diam juga kerap terluka ketika dilihatnya saya harus menahan diri nunggu gajian atau fee cair dulu kalau mau beli sesuatu. Dia berulang kali bilang ingin segera mencapai kemerdekaan finansial, sehingga bisa lebih maksimal menyejahterakan rumah tangga kecilnya, sekaligus menyokong kebutuhan hidup orang tua kami yang usianya beranjak senja.

Meski menyayangkan nasib blognya, tapi saya tidak bisa menyalahkan Nugi sepenuhnya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin jadi suami yang lebih bertanggung jawab. Bukan salah Nugi kalau dia ingin membahagiakan saya, istrinya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin tetap berbakti pada orang tuanya. Dan bukan salah Nugi kalau dia punya banyak rencana juga mimpi-mimpi masa depannya.

Melihat Nugi sampai segitunya, saya cuma bisa berdoa agar kondisi finansial kami segera settle. Income yang lewat saya juga semoga bisa lebih banyak, biar Nugi tidak terus-terusan mengkhawatirkan isi keranjang akun marketplace saya.

Dengan begitu, Nugi tidak perlu lagi "merusak" blognya dengan job-job receh yang malah bikin dia kehilangan identitasnya.

3. Lebih Berani Melawan Ara

Ape lo ape Lo!

Beneran lho ini. Di awal menikah, seperti yang sudah saya singgung di postingan ini, Nugi itu tipe Yes Boy. Dia akan iya iya saja terkait apa saja yang saya bilang demi menghindari konflik. Maklum, produk Jogja gaes, harus meladeni istrinya yang mulutnya produk pesisir Sumatera ini. Bisa apa dia?

Di masa itu, saya sangat yakin Nugi bakal aktif misal tergabung dalam organisasi atau komunitas macem Ikatan Suami-Suami Takut Istri🀣

Tapi sekarang, Nugi sudah berubah gaes. Dia tidak inggih inggih lagi sekarang. Sudah berani mendebat, berargumen, bahkan tidak segan menolak apapun yang saya putuskan sebelah pihak dan dia ga sreg. Nugi bukan lagi yes boy-nya Ara.

Perlahan namun pasti, dia makin meresapi perannya sebagai kepala rumah tangga secara utuh. Makin jelas kalau dia tidak mau menyerahkan posisinya sebagai leader di rumah ini kepada siapapun, bahkan kepada istrinya yang super galak dan sering kesurupan reog ini.

Perubahan yang sungguh bikin saya terharu dan bangga. Bikin saya kian yakin kalau saya tidak menikahi pria yang salah.

Nugi memang makin berani melawan saya, untuk hal-hal yang menurutnya tidak benar. Tapi dia melakukannya masih dengan cara  super lembut khas mas mas Jogja. Tanpa tarik urat leher, tanpa kata-kata mutiara, dan tentu saja tanpa main tangan sama sekali.

Kelembutan dan kesabarannya tidak sirna, bahkan seiring waktu kian bertambah. Inilah yang pada akhirnya selalu meluluhkan sisi emosional berlebih seorang Ara.

Semakin hari, kami makin lihai berdebat dan bernegosiasi dengan lebih elegan untuk menyelesaikan setiap konflik. Belum sempurna, tentu saja. Kadang masih ada momen-momen "kelepasan", tapi sudah jauh membaik dari triwulan pertama.


4. Sudah Bisa Pasang Badan untuk Ara



Saat baru menikah, masih di minggu-minggu awal kami serumah, saya dan Nugi sempat ada ribut besar. Saya berkonflik dengan keluarga Nugi perkara kesalahpahaman. Respon Nugi? Dia auto di pihak keluarganya dan menyalahkan saya dong. 3 lawan 1 gaes.

Apakah saya terus nangis-nangis minta dipulangkan ke Palembang? Oh, tentu tidak, Esmeralda! Justru saya yang "ngusir" Nugi dari kontrakan kami. Saya minta dia pulang ke tempat orang tuanya, ke keluarganya. Saya minta dia ambil waktu sebanyak yang dia perlukan, dan silakan kembali kapan saja saat dia sudah benar-benar siap berumah tangga.

Di mata saya saat itu, Nugi belum siap menjadi suami seorang Ara. Dia masih berat ke keluarganya. Memang tidak bisa disalahkan juga sih, keluarga kandung jelas segalanya buat Nugi. Tapi jujur saja, saya tidak mau serumah dengan suami macam itu. Buat saya, suami yang tidak bisa memberikan rasa aman ke istrinya itu suami yang belum beneran suami.

Tapi ternyata Nugi hanya kembali ke rumah ibunya beberapa hari saja, setelah itu dia pulang ke kontrakan petak kami dengan permintaan maaf dan perubahan sikap yang nyata.

Setelahnya, Nugi nyaris selalu berdiri di pihak saya ketika ada konflik dengan orang lain. Bahkan ketika menurutnya saya yang salah. Dia akan menegur dan mendidik saya di dalam rumah, tapi ketika menghadapi "dunia" dan segala masalahnya, dia selalu di sisi saya.

Lalu beberapa hari lalu, Nugi mendadak berbicara sangaaaattt ketus pada seseorang yang sebetulnya sangat dia hormati. Saat saya tanya kenapa, Nugi bilang dia tidak suka cara seseorang itu bertanya pada saya dengan nada mengintimidasi. Jadi perlu diberi pelajaran sedikit.

Padahal, saya merasa tidak ada masalah lho. Ya, cara orang itu bertanya memang bikin tidak nyaman sih, tapi rasanya tidak perlu juga kalau sampai diganjar keketusan Nugi sedemikian rupa. Saya masih bisa handle sendiri.

Tapi tentu saja saya berterima kasih dan mengapresiasi tindakan Nugi. Itu momen di mana saya merasa Nugi benar-benar makin matang sebagai seorang suami. Dia betul-betul pasang badan untuk saya tanpa diminta. Spontan begitu saja. Dan … Nugi terlihat seperti sosok berbeda. Saya masih sulit percaya kalau dia masih lelaki yang sama dengan yang saya suruh kembali pada ibunya berbulan bulan bulan lalu.

Tapi itu beneran Nugi. Nugi yang sama. Nuginya Ara, yang semakin hari semakin dewasa saja

***


Perubahan adalah keniscayaan. Segala sesuatu yang bertumbuh akan berubah. Tak terkecuali Nugi (juga saya). Jika seseorang tidak berubah, maka artinya dia berhenti tumbuh. Dan kalau sudah demikian, proses pembusukan pun dimulai.

Menikah benar-benar mengubah banyak hal. Disadari atau tidak. Disukai atau tidak. Diinginkan atau tidak. Perubahan apsti terjadi. Tinggal ke arah mana perubahan terjadi. Kian membaik kah? Atau justru memburuk? Siapkah kita menghadapi semua perubahan itu?


Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang masih berkenan meninggalkan jejak di postingan ini.


<to be continued>


Bonus :

Otin dan Ojan, anak baru kami


3







Cerita Kusta, Stigma, dan Upaya Atasinya 
(Pict : World Health Organization)


*

Main saya kurang jauh ternyata. Saya pikir kusta atau lepra, penyakit kulit yang udah ada sejak jaman Alkitab ini udah tinggal butiran debu. Nyatanya enggak. Masih banyak aja lho pengidapnya. Indonesia bahkan jadi 3 besar negara di dunia penyumbang kasus baru terbanyak,yakni mencapai 17 ribu kasus per tahun. Wah.

Mirisnya, banyaknya jumlah kasus kusta tersebut diperparah stigma yang kadung mendarah daging di masyarakat. Penyakit kusta dianggap sebagai penyakit menular yang sangat ganas, sehingga pengidapnya kerap dikucilkan. Bukan cuma dijauhi, namun terkadang sampai dipecat dari pekerjaan.

Stigma negatif terhadap pasien kusta ini menjadi efek domino yang menyebabkan 4 aspek kesehatan lainnya akan terganggu. Mulai dari sakit mental karena pasien akan tertekan, berlanjut ke sakit sosial karena pasien akan cenderung mengurung diri dan enggan bersosialisasi, lalu merembet ke sakit ekonomi karena pasien tidak bisa bekerja. Dan yang terburuk tentunya adalah sakit spiritual karena semua stigma tersebut juga mengisolasi pasien untuk datang ke tempat-tempat ibadah dimana kebutuhan rohani dan spiritual biasanya terpenuhi.

Jelaslah masalah stigma terhadap penyakit kusta ini bukan perkara sepele dan tentunya perlu perhatian khusus untuk menanganinya. Hal ini dipaparkan dengan apik oleh Dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dalam webinar bertajuk "Kolaborasi Pentahelix untuk Atasi Kusta" yang saya ikuti bersama rekan-rekan blogger belum lama ini.

Blogger Crony Community

Menurut Dr. Flora, diperlukan kolaborasi pentahelix atau multipihak dimana unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, serta media bersatu dan berkomitmen bersama untuk mengatasi kusta. "Sebab tidak bisa mengandalkan pihak medis saja untuk mengatasi stigma terhadap kusta ini. Kami tidak bisa bergerak sendiri, harus ada pihak-pihak lain yang mendampingi," jelas Dr Flora.

Dalam kesempatan tersebut, Dr Flora menegaskan bahwa kusta sebetulnya adalah penyakit menular yang paling tidak menular. Kusta dapat menular jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. "Bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Dengan fakta ini, sebetulnya masyarakat tidak perlu takut berlebihan atau menjauhi pasien sedemikian rupa," beber Dr Flora.

Screenshot Webinar


Masih dalam webinar yang sama, narasumber kedua yakni Wisnu Saputra, S.H, S.IKom selaku jurnalis sekaligus ketua bidang organisasi PWI Kab Bandung menjelaskan bahwa media juga aktif terlibat dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Atasi Kusta karena punya peranan penting, yakni mengedukasi masyarakat dan menyebarkan informasi seluasnya. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi terpapar informasi yang keliru terkait kusta. "Kalau sudah mendapat informasi yang benar dan teredukasi, diharapkan masyarakat tidak lagi termakan stigma," ungkapnya

Wisnu menambahkan, di era digital seperti sekarang, peran media tidak hanya terbatas pada media-media mainstream namun juga bisa dilakukan oleh masyarakat biasa termasuk citizen journalist, blogger, dan influencer. "Langkah paling simpel yang bisa dilakukan adalah meneruskan informasi yang didapat. Secara tidak langsung, itu akan mengedukasi masyarakat lewat follower masing-masing," kata Wisnu.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak terlibat dalam mengatasi kusta di negeri ini. Sekecil apapun peranmu, tetap akan berdampak pada eliminasi stigma kusta di Indonesia. Dan jika itu sudah kompak dilakukan semua pihak, hanya tinggal perkara waktu bahwa penyakit kusta akan benar-benar lenyap karena semua pasiennya sudah tertangani dan diterapi dengan baik.


Punya pengalaman soal penyakit kusta, atau punya kenalan dan saudara yang sakit kusta? Yuk share di kolom komentar.




Salam dari Jogja

0

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...