Menu
Tampilkan postingan dengan label ragi story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ragi story. Tampilkan semua postingan

Proses membeli sepeda motor secara cash di rumah tangga yang baru seumur jagung memberi banyak pelajaran buat Ara dan Nugi. Selengkapnya dalam Ragi Story, it's our story, a journey to stay happy 


Membeli Sepeda Motor Cash

Di awal pernikahan dan memulai hidup baru di sebuah kontrakan di Jogja, saya dan Nugi tidak langsung berpikir ingin membeli sepeda motor. Apalagi secara cash. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan saat itu karena nyaris semua tabungan terkuras untuk biaya pernikahan. Kami juga masih memiliki beberapa cicilan, termasuk pengeluaran rutin tiap bulannya untuk membayar kamar kos Nugi di Bandung meski sudah lebih dari setahun tidak lagi ditempati.


Keinginan membeli sepeda motor baru timbul dan kian menguat setelah "mengaudit" buku kas rumah tangga kami. Pengeluaran untuk transportasi kami per bulan rupanya menyentuh angka Rp 700 ribu lebih. Padahal, mobilitas kami sebetulnya terbatas. Nugi juga masih work from home. Yang rutin paling biaya untuk ojol saat ke gereja PP setiap minggunya. Ditambah jika ada event/job ngeblog offline atau butuh belanja sesuatu sesekali, yang sungguh bisa dihitung dengan jari frekuensinya.


Sepeda motor yang tadinya kami anggap hanya sebatas keinginan, ternyata mulai berubah menjadi kebutuhan. Kontrakan kami yang terletak di Jogja coret, tepatnya di kawasan Godean yang sudah masuk kabupaten Sleman, membuat kami kerap kesulitan mendapat akses angkutan. Tidak ada angkutan umum yang proper, sementara jasa angkutan online juga tak sebanyak di dalam kota.


Seringkali kami harus menunggu lama setelah memesan, dan berakhir di-cancel drivernya. Terlebih jika hari hujan, nyaris tidak ada yang mau pick up. Driver Jogja ini rupanya belum semilitan driver Bandung, yang standby kapanpun dalam kondisi apapun.


Kami pernah pulang ke kontrakan sampai larut malam karena tidak ada yang pick up orderan kami untuk diantar ke Godean. Ketika akhirnya bisa pulang, itu pun karena sudah diakali untuk membagi jarak tempuh. Jadi misal total 10 km, kami pesan 2 kali untuk masing-masing jarak per 5 km agar tidak dicancel lagi.


Kami kadang juga terpaksa menolak sejumlah ajakan meet up teman-teman blogger Jogja karena memang sesulit itu untuk kemana-mana. Mungkin beberapa teman blogger masih ada yang menganggap kami sombong karena sekarang nyaris nggak pernah diajak-ajak ngumpul lagi πŸ˜…πŸ˜…


Ah, nyesek memang kalau ingat masa itu. Tapi ya itulah asem-asemnya kehidupan manten baru yang mau ga mau harus dinikmati.



Motor Baru VS Motor Bekas


Ketika menyadari bahwa sepeda motor adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi (karena jika tidak, anggaran kami akan semakin membengkak tiap bulannya), kami langsung memasukkan itu ke skala prioritas. Lupakan dulu perabotan atau keinginan ini itu yang masih bisa ditunda.


Masalahnya, duit dari mana?

Semurah-murahnya motor, jelas tidak bisa didapat dengan uang 1-2 juta. Kecuali kalau mau beli motor bekas.


Nugi sempat melontarkan opsi ini, karena menurutnya, yang penting punya motor dulu. Tidak harus baru, yang penting bisa dipakai.


Tapi saya menentang, saya semasa gadis sudah beli 2 sepeda motor. Baru semuanya, meski 2-2nya kredit. Mohon maaf, saya tidak mau downgrade. Pernikahan harusnya membawa kualitas hidup lebih baik, jangan malah turun.


Alasan kedua, saya dan Nugi benar-benar "buta" soal otomotif. Siapa yang menjamin kami akan membeli motor yang layak meski bekas? Kalau yang terjadi sebaliknya bagaimana? Niat ingin hemat dan untung malah buntung karena uangnya habis untuk biaya reparasi di bengkel. Teman saya ada yang begini, beli motor bekas yang terjangkau dompet, tapi nyaris setiap minggu harus masuk bengkel karena adaaa saja yang bermasalah.


Di mata saya, opsi motor baru tetap yang terbaik untuk kami yang sama-sama tidak mengerti dunia motor. Kalau beli baru, ada garansi perawatan sampai berbulan-bulan. Kami hanya cukup meluangkan waktu untuk "check up" rutin di bengkel resmi.



Cash VS Kredit


Opsi pembelian sepeda motor secara kredit atau cash sempat menjadi perdebatan Jika ingin cepat dapat motornya, tentu pilihan kredit lebih mudah. Tapi kalau hitung-hitungan jangka panjang, pembelian secara kredit sungguh melelahkan. Bukan hanya harganya yang akan jauh berlipat ketimbang pembelian secara cash, namun juga membayangkan tagihan yang harus dibayar tiap bulannya sementara masih ada tagihan lain yang perlu diselesaikan apa tidak bikin kepala meledak? Bisa-bisa tak tersisa lagi anggaran untuk sekadar jajan es duren atau nonton di bioskop.


Saya bilang ke Nugi, sudah cukup saat masih single saya berurusan dengan utang dan tagihan. Saya lelah. Saya ingin hidup tenang. Saya ingin upgrade kondisi finansial saya. Kalaupun memang harus kredit, saya pilih kredit properti, bukan kendaraan.


"Ya sudah, kalau kamu memang yakin. Mari kita imani, kalau kita bisa membeli secara cash… Soal duitnya dari mana urusan nanti, mari kita minta sama Tuhan dulu," jawab Nugi yang menandai komitmen kami untuk membeli sebuah sepeda motor secara cash.



Rutin Berdoa


"Makin spesifik kita minta ke Tuhan, makin spesifik pula Tuhan menjawab."


Entah benar atau tidak, tapi saya sudah membuktikan sendiri soal ini saat meminta jodoh dari Tuhan. Super spesifik. Dan …, Tuhan menjawab tepat seperti apa yang saya minta. Makanya nggak ada keraguan sedikit pun soal Nugi adalah tulang rusuk. Karena memang se-spesifik itu Tuhan menjawab. Kapan-kapan saya cerita sendiri soal ini.


Lanjut ke motor, saya juga merasa perlu spesifik saat minta Tuhan. Setelah riset sedikit soal harga dan tipe-tipe motor, serta memperhitungkan kondisi finansial kami, kami pun memutuskan mulai berdoa untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit. Warna merah. Persis seperti Akashi milik saya di Palembang yang masih mulus dan tidak pernah rewel meski sudah dipakai 6 tahun.


Harga cashnya Rp 15.000.000 , meski ada dealer yang memberikan harga Rp 14.750.000. Bukan nominal yang sedikit, tapi kami cukup optimis sudah bisa membelinya dalam setengah tahun. Tentang caranya, biarkan Tuhan yang urus.


Pada November 2021, kami mulai rutin menyelipkan permohonan kami untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit Merah cash di setiap mezbah keluarga kecil kami setiap malam (Yah, mungkin semacam doa bareng keluarga setelah salat magrib berjamaah kalau untuk keluarga muslim, kira-kira).


Kami percaya jika Tuhan sudah ACC, kami akan mendapatkannya di waktu yang tepat. Tugas kami sebagai manusia adalah berusaha. Ya, menabung!



Bertahan dari Serbuan Badai


Sekilas rencana kami untuk menabung rutin sambil tetap berdoa terkesan sangat mudah dan bikin optimis. Kenyataannya setelah dijalani adaaaa saja serbuan badainya.


Mulai dari pengeluaran-pengeluaran tak terduga yang lebih prioritas, job sampingan yang seret-lancar silih berganti, rasa frustrasi dan tidak sabaran karena masih harus naik ojol kemana-mana dengan segala dramanya, mulut-mulut nyinyir tetangga dan netijen, hingga yang paling sulit dilawan yakni serbuan brosur dan iklan promo pembelian secara kredit.


Sistem kredit yang ditawarkan sungguh menggiurkan, bahkan ada yang hanya butuh DP ratusan ribu rupiah dengan cicilan cukup ringan (meski harus ambil yang 3 tahun). Tapi saya dan Nugi saling mengingatkan dan menguatkan, bahwa kredit itu jebakan betmen. Kami gantian saja saling mengingatkan untuk bertahan dalam komitmen membeli secara cash.


Terkesan sangat mudah dituliskan, tapi yang kami alami berbulan-bulan lalu rasanya sungguh berat. Puji Tuhan, kami bertahan



Ao, Sang Jawaban Doa


Pada akhir tahun sebetulnya tabungan kami sudah cukup untuk membeli sepeda motor cash, terutama dengan tambahan THR Nugi yang diterima jelang Natal. Namun terpakai untuk biaya mudik kami Palembang dan Bengkulu, lalu lanjut ke Bandung.


Di Bandung kami banyak pengeluaran, namun memang harus dilakukan demi misi mengakhiri "tagihan" kosan Nugi. Sudah waktunya kami menutup keran pengeluaran tak berguna. Kalaupun suatu saat nanti Nugi harus kembali masuk kantor dan kami pindah lagi ke Bandung, biarlah itu urusan nanti.


Singkat cerita, baru pada pertengahan Februari dana kami terkumpul. Itupun berkat bantuan Ibu Ratu yang mentransfer dana nyaris ⅓-nya. Terima kasih, Yang Mulia. Mohon maaf, kami belum mampu ngasih yang terbaik malah dikasih terus ini😭😭😭


Saya sudah semangat 45 mau ke dealer untuk mengambil motor kami, ndelalah sales yang selama ini berhubungan dengan kami mengabari stok Revo Fit warna merah kosong. Bukan hanya di dealer setempat, namun bahkan Se-Jogja Raya ini kosong.


<To be continued
Tulisan belum selesai. Wkwkwk..lanjut besok ya



0


Hal hal yang berubah dari Nugisuke setelah menikah

April ini, usia pernikahan saya dan Nugisuke udah 7 bulan. Akhirnya, lebih setengah tahun dan menginjak semester kedua. Iyaaa, masih terhitung seumur jagung banget meski udah mulai terasa aneh di kuping kalau ada yang bilang kami manten anyar. Dibanding dengan saat masih single atau awal-awal pernikahan, suami saya ini lumayan banyak berubah setelah menikah.

Nah, dalam rangka merayakan monthversary kami (hilih), saya memilih menulis postingan ini untuk mengabadikan momen tentang suami tercinta. Agar suatu saat nanti bisa dibaca lagi, entah untuk mencari kekuatan untuk bertahan di masa sulit, atau sekadar untuk membangkitkan memori senyum dan bersyukur atas hari-hari yang sudah kami lewati berdua.

Cukup intronya, langsung saja, berikut hal-hal yang berubah dari Nugisuke setelah setengah tahun menikah dalam Ragi Story ~ a Journey to Stay Happy :

1. Lebih Berisi

Ara~Nugi sebelum dan sesudah menikah

Kadang definisi cinta itu adalah menggendut bersama. Wkwkwkwk.

Kalau tidak membandingkan foto-foto Nugi saat masih bujangan, saya tidak terlalu notice sih kalau tubuhnya tambah berisi sekarang. Tapi saya sendiri juga melar sih.

Sebetulnya kalau dari porsi makan biasa saja. Rasanya kami nyaris tidak pernah makan berlebihan. Sesekali makan di luar namun tetap didominasi makanan rumahan yang selalu diupayakan memenuhi menu gizi seimbang.

Satu-satunya biang kerok penyebab melarnya tubuh kami adalah kemageran akut. Saya dan Nugi harus akui, sejak punya Ao (motor baru kami), kami jadi kian malas bergerak. Apalagi olahraga. Dulu saat awal menikah masih rutin jalan-jalan tipis di sekitar sawah atau keliling kampung, sekalian menikmati pemandangan dan udara segar. Kadang kalau belanja pun sengaja pilih rute yang agak jauh biar bisa jalan kaki lebih lama.

Sekarang nyaris nggak pernah. Ya ampun … kalau tidak mau kebablasan obesitas, sepertinya kami sudah harus segera rutin berolahraga lagi. Demi kesehatan dan kebugaran juga tentunya mengingat faktor U juga mulai berpengaruh.

Tolong doakan niat ini agar segera direalisasikan dan bukan sekadar angan-angan ya ...

2. Tidak (Terlalu) Idealis Lagi

Saat staycation di Ramada Suites Solo

Nugisuke dengan Blog  thetravelearn.com -nya selama ini punya personal branding sebagai traveler dan hotel reviewer. Nugi yang dulu cenderung idealis, dia berdedikasi mempertahankan niche travel dan hotel reviewer di blog maupun akun media sosialnya semaksimal mungkin.Nugi yang dulu juga tak segan menolak tawaran paid promotion yang berpotensi "merusak" blognya.

Tapi lihatlah sekarang, blognya mulai "kacau" dengan banyaknya postingan yang sebenarnya bukan-Nugi-banget. Meski tak sampai bikin Nugi kehilangan identitas asli sepenuhnya, tetap saja, Nugi berubah. Dia tak seidealis dulu lagi.

Dan saya tahu persis alasannya. Semata karena Nugi sangat paham kalau sekarang dia tak hanya menghidupi diri sendiri, tapi sudah punya istri yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebetulnya gaji bulanan Nugi sebagai budak korporat sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kami berdua tanpa Nugi harus mengorbankan idealisme blognya. 7 bulan kami berumah tangga, rasanya belum pernah sekali pun kekurangan apa yang mau dimakan atau dipakai.

Tapi buat Nugi itu belum cukup. Kata Nugi, kami berdua masih punya banyak mimpi yang harus diwujudkan. Men pride Nugi diam-diam juga kerap terluka ketika dilihatnya saya harus menahan diri nunggu gajian atau fee cair dulu kalau mau beli sesuatu. Dia berulang kali bilang ingin segera mencapai kemerdekaan finansial, sehingga bisa lebih maksimal menyejahterakan rumah tangga kecilnya, sekaligus menyokong kebutuhan hidup orang tua kami yang usianya beranjak senja.

Meski menyayangkan nasib blognya, tapi saya tidak bisa menyalahkan Nugi sepenuhnya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin jadi suami yang lebih bertanggung jawab. Bukan salah Nugi kalau dia ingin membahagiakan saya, istrinya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin tetap berbakti pada orang tuanya. Dan bukan salah Nugi kalau dia punya banyak rencana juga mimpi-mimpi masa depannya.

Melihat Nugi sampai segitunya, saya cuma bisa berdoa agar kondisi finansial kami segera settle. Income yang lewat saya juga semoga bisa lebih banyak, biar Nugi tidak terus-terusan mengkhawatirkan isi keranjang akun marketplace saya.

Dengan begitu, Nugi tidak perlu lagi "merusak" blognya dengan job-job receh yang malah bikin dia kehilangan identitasnya.

3. Lebih Berani Melawan Ara

Ape lo ape Lo!

Beneran lho ini. Di awal menikah, seperti yang sudah saya singgung di postingan ini, Nugi itu tipe Yes Boy. Dia akan iya iya saja terkait apa saja yang saya bilang demi menghindari konflik. Maklum, produk Jogja gaes, harus meladeni istrinya yang mulutnya produk pesisir Sumatera ini. Bisa apa dia?

Di masa itu, saya sangat yakin Nugi bakal aktif misal tergabung dalam organisasi atau komunitas macem Ikatan Suami-Suami Takut Istri🀣

Tapi sekarang, Nugi sudah berubah gaes. Dia tidak inggih inggih lagi sekarang. Sudah berani mendebat, berargumen, bahkan tidak segan menolak apapun yang saya putuskan sebelah pihak dan dia ga sreg. Nugi bukan lagi yes boy-nya Ara.

Perlahan namun pasti, dia makin meresapi perannya sebagai kepala rumah tangga secara utuh. Makin jelas kalau dia tidak mau menyerahkan posisinya sebagai leader di rumah ini kepada siapapun, bahkan kepada istrinya yang super galak dan sering kesurupan reog ini.

Perubahan yang sungguh bikin saya terharu dan bangga. Bikin saya kian yakin kalau saya tidak menikahi pria yang salah.

Nugi memang makin berani melawan saya, untuk hal-hal yang menurutnya tidak benar. Tapi dia melakukannya masih dengan cara  super lembut khas mas mas Jogja. Tanpa tarik urat leher, tanpa kata-kata mutiara, dan tentu saja tanpa main tangan sama sekali.

Kelembutan dan kesabarannya tidak sirna, bahkan seiring waktu kian bertambah. Inilah yang pada akhirnya selalu meluluhkan sisi emosional berlebih seorang Ara.

Semakin hari, kami makin lihai berdebat dan bernegosiasi dengan lebih elegan untuk menyelesaikan setiap konflik. Belum sempurna, tentu saja. Kadang masih ada momen-momen "kelepasan", tapi sudah jauh membaik dari triwulan pertama.


4. Sudah Bisa Pasang Badan untuk Ara



Saat baru menikah, masih di minggu-minggu awal kami serumah, saya dan Nugi sempat ada ribut besar. Saya berkonflik dengan keluarga Nugi perkara kesalahpahaman. Respon Nugi? Dia auto di pihak keluarganya dan menyalahkan saya dong. 3 lawan 1 gaes.

Apakah saya terus nangis-nangis minta dipulangkan ke Palembang? Oh, tentu tidak, Esmeralda! Justru saya yang "ngusir" Nugi dari kontrakan kami. Saya minta dia pulang ke tempat orang tuanya, ke keluarganya. Saya minta dia ambil waktu sebanyak yang dia perlukan, dan silakan kembali kapan saja saat dia sudah benar-benar siap berumah tangga.

Di mata saya saat itu, Nugi belum siap menjadi suami seorang Ara. Dia masih berat ke keluarganya. Memang tidak bisa disalahkan juga sih, keluarga kandung jelas segalanya buat Nugi. Tapi jujur saja, saya tidak mau serumah dengan suami macam itu. Buat saya, suami yang tidak bisa memberikan rasa aman ke istrinya itu suami yang belum beneran suami.

Tapi ternyata Nugi hanya kembali ke rumah ibunya beberapa hari saja, setelah itu dia pulang ke kontrakan petak kami dengan permintaan maaf dan perubahan sikap yang nyata.

Setelahnya, Nugi nyaris selalu berdiri di pihak saya ketika ada konflik dengan orang lain. Bahkan ketika menurutnya saya yang salah. Dia akan menegur dan mendidik saya di dalam rumah, tapi ketika menghadapi "dunia" dan segala masalahnya, dia selalu di sisi saya.

Lalu beberapa hari lalu, Nugi mendadak berbicara sangaaaattt ketus pada seseorang yang sebetulnya sangat dia hormati. Saat saya tanya kenapa, Nugi bilang dia tidak suka cara seseorang itu bertanya pada saya dengan nada mengintimidasi. Jadi perlu diberi pelajaran sedikit.

Padahal, saya merasa tidak ada masalah lho. Ya, cara orang itu bertanya memang bikin tidak nyaman sih, tapi rasanya tidak perlu juga kalau sampai diganjar keketusan Nugi sedemikian rupa. Saya masih bisa handle sendiri.

Tapi tentu saja saya berterima kasih dan mengapresiasi tindakan Nugi. Itu momen di mana saya merasa Nugi benar-benar makin matang sebagai seorang suami. Dia betul-betul pasang badan untuk saya tanpa diminta. Spontan begitu saja. Dan … Nugi terlihat seperti sosok berbeda. Saya masih sulit percaya kalau dia masih lelaki yang sama dengan yang saya suruh kembali pada ibunya berbulan bulan bulan lalu.

Tapi itu beneran Nugi. Nugi yang sama. Nuginya Ara, yang semakin hari semakin dewasa saja

***


Perubahan adalah keniscayaan. Segala sesuatu yang bertumbuh akan berubah. Tak terkecuali Nugi (juga saya). Jika seseorang tidak berubah, maka artinya dia berhenti tumbuh. Dan kalau sudah demikian, proses pembusukan pun dimulai.

Menikah benar-benar mengubah banyak hal. Disadari atau tidak. Disukai atau tidak. Diinginkan atau tidak. Perubahan apsti terjadi. Tinggal ke arah mana perubahan terjadi. Kian membaik kah? Atau justru memburuk? Siapkah kita menghadapi semua perubahan itu?


Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang masih berkenan meninggalkan jejak di postingan ini.


<to be continued>


Bonus :

Otin dan Ojan, anak baru kami


3



Ketika dihadapkan pada dua lelaki yang sama-sama berarti dalam hidup, di mana yang satu sudah jadi mantan, dan yang satu penjamin masa depan… Harus bagaimana? 


Antara Mantan dan Masa Depan



17 Desember 2020


Saya beruntung. Itu tanggal terakhir berlakunya rapid test untuk naik pesawat. Besoknya, tanggal 18 sudah diberlakukan aturan baru yang wajib pakai swab antigen itu. Fiuh, selamat. Hasil rapid saya yang diambil 2 hari sebelumnya di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II itu tidak sia-sia. Bandung, i'm coming ~~

Pertama kalinya naik Batik Air, saya mendarat di Soeta dengan selamat. Meski sempat kesal bukan main dengan penumpang di kursi tepat di depan saya karena (ternyata) dia membuang kulit kuaci sembarangan di sepanjang perjalanan. 


berasa pesawat punya emaknya

Makin badmood karena bandara masih sama ramainya. Seperti tidak sedang pandemi saja. Segigih apapun upaya saya untuk menerapkan protokol kesehatan, tetap adaaaa saja yang nempel-nempel. Langsung dah diri ini merasa kotor dan penuh noda πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

Saya makan siang di AW terminal 2. Sebetulnya sih tidak (terlalu) suka AW. Cuma sengaja biar bisa pamer fotonya ke Omnduut πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Secara Kak Yayan ini udah ngidam bener sama AW bandara Soetta. 

Setelah makan, saya bergegas mencari angkutan selanjutnya yang akan membawa saya menginjak Bumi Parahiyangan. Pilihannya dua : Travel atau Bus. 

Ketika saya kebingungan memilih dua hal ini, tepat di depan saya ada seorang cowok yang auranya ramah dan (sepertinya) bisa ditanyai. Dengan pasang tampang sangat kebingungan a la first traveller (eh, tapi emang iya sih, ini pertama kalinya saya ke Bandung) , si Aa yang kemudian saya tahu namanya Imran ini dengan sabar menjelaskan rute-rute bus dan plus minus naik travel. 

Membaca tulisan Nugi di sini, saya berkesimpulan betapa lelaki itu suka SOK TAHU banget ya dengan apa yang ada di pikiran ceweknya. Baiklah, saya merasa perlu klarifikasi tentang kenapa akhirnya saya memutuskan naik bus bersama Aa Imran ketimbang travel yang jadi rekomendasi dia. 

Di blognya Nugi bilang alasannya uang. Selisih ongkosnya yang cuma beberapa puluh ribu saja itu memang menjadi salah satu pertimbangan. Tapi sungguh bukan SATU-SATU-nya alasan saya milih naik bus. Kalau memang cuma masalah uang, ngapain pusing? Saya udah punya ATM pribadi ini kok πŸ˜‚πŸ˜‚

So, pertama… Sebagai orang yang baru pertama kali menuju Bandung, saya yakin di sepanjang jalan akan banyak hal yang bikin saya kepo. Saya pengen ada yang ditanya. Saya pengen ada temen ngobrol. 

Bayangkan, di travel yang penumpangnya terbatas itu, pasti akan sangat sulit ngobrol dengan santai dan bebas tanpa mengganggu orang lain. 

Yang kedua, I have condition yang mungkin memang belum sempat Nugi tahu. Jadi, saya ini "semi-claustrophobia". Nggak claustrophobia banget yang sampai bikin kena panic attack gitu, tapi saya benar-benar nggak suka dengan ruangan sempit atau kendaraan kecil yang tertutup. Yah, semacam minubus, taxi, atau mobil pribadi. 

Untuk perjalanan jarak pendek, saya masih bisa atasi. Tapi jika harus naik kendaraan-kendaraan ini dalam jangka waktu yang lama, saya bisa sangat gelisah dan super tidak nyaman (Dan biasanya terus memicu saya untuk mabok karena kekurangan oksigen). 



Saya suka kendaraan besar. Kereta api, pesawat, bus, atau bahkan belakang truk terbuka. Yang masih memungkinkan saya untuk berdiri atau berjalan di dalamnya. Bisa juga kendaraan kecil, namun tidak bikin saya merasa "dikurung" seperti sepeda motor atau mobil-mobil jeep yang tanpa atap dan pintu itu. (Makanya, tbh saya kecewa saat tahu motor Nugi ga bisa dipakai dan ke mana-mana malah nge-gocar. Padahal udah ngebayangin motoran keliling Bandung). 

Lanjut, ketiga, punya teman baru di perjalanan itu menyenangkan. Terlebih Aa Imron ini asyik banget diajak ngobrol. Baek pula mau bantuin bawa barang-barang saya yang bejibun. (Makasih banget ya Aa, kalau baca ini salam buat anak dan istri ya). 

Kalau lihat sawah rapi, artinya sudah di Pulau Jawa

Intinya, saya sama sekali tidak menyesali pilihan saya naik bus. Karena kalau saya naik travel, saya nggak bisa menikmati panorama di sepanjang tol dari sudut lebih tinggi. 

Drama Penjemputan

Saya memang sudah menangkap gelagat kejengkelan Nugi karena saya "ngeyel" naik bus. Plus dia sepertinya nggak suka banget sama Aa Imran yang dinilainya "menjerumuskan" saya. Padahal enggak lho.

Nugi ngabarin kemungkinan kalau dia nggak bisa jemput dan saya disarankan naik taxi online. Huh! Cowok macam apa dia? 

Well, yang Nugi nggak tahu, saya benar-benar nggak pusing tuh kalau memang dia nggak bisa jemput. Wahai Nugi, ketahuilah, di Bandung ini saya punya satu orang lain yang bisa saya andalkan selain kamu. Mas mantan! 

Mas mantan yang dari saya boarding sudah berisik mengawal perjalanan saya. Memastikan saya menghitung barang bawaan dengan benar. Mengingatkan saya makan tepat waktu plus printilan lainnya seperti tolak angin dan obat anti mabuk agar stamina saya tetap terjaga sampai tiba di Bandung. 

"Jemput Ara oy," bunyi chat saya tanpa basa-basi. 

"Lho, Nugi kemana?"

"Masih kerja nggak bisa jemput… "

"Aku mau aja lho jemput, tapi kan nggak enak sama Nugi."

"Ish. Jahaaattt…"

Mas mantan mencium bau marabahaya kalau saya sudah mulai ngambek, akhirnya menenangkan dengan bilang dia yang akan menjemput jika (dan hanya jika) Nugi betul-betul tidak bisa. 

Nah. Beres. Saya bisa kembali melanjutkan ber-oh dan wah ria dengan pemandangan di sepanjang tol. Di beberapa titik, proyek kereta cepat tampak masih dikerjakan. 

Dan syukurlah, di detik terakhir Nugi ngabarin bilang bisa jemput. Pffftt, perhatian juga ternyata dia meski sempat bikin saya menunggu lumayan lama karena dia bilang ingin makan dulu. Ini juga sempat bikin saya heran, Nugi kok ya jahat banget makan sendiri padahal saya juga udah kelaparan karena ketika bus tiba di pool, hari sudah jelang magrib. Mana dingin pula karena Bandung baru diguyur hujan. 

Tapi ya sudahlah. Better begitu karena Nugi kalau sudah (ke)lapar(an) atau sakaw cafeine itu asli super menyebalkan. Raut wajahnya bakal kaya ketiak saya : asem! Sungguh bikin pengen nabok saking nggak enaknya dilihat. Jadi biarlah dia makan dulu agar bertemu saya pertama kali dalam kondisi good mood


Hae, LDR Fighter

Dan… ketika akhirnya bisa lihat Nugi lagi untuk pertama kalinya setelah 9 bulan, asli sempat kaget. Nugi jadi montok banget gitu πŸ˜‚πŸ˜‚ Pengen ngatain dia, tapi terus sadar diri. Lha saya sendiri juga sama nambah bengkaknya kok πŸ˜‚πŸ˜‚ 
Yeahh, kadang definisi cinta adalah bahagia dan menggendut bersama...
Thank God, aroma badan Nugi nggak berubah. Sampai detik ini masih menempati peringkat ke-3 aroma favorit Ara setelah durian dan bau kucing yang sudah tidur lama. 

Umm, sisa cerita malam itu sudah diceritakan Nugi di blognya. Kurang lebih sama. Tbh, saya ingin ini ingin itu banyak sekali sama Nugi di kamar hotel. Apa daya, saya datang bulan hari itu dan cuma bisa guling-guling di kasur menahan kram perut nan menyiksa. 

Yah, mau nggak mau harus disyukuri sih. Tuhan ternyata masih melindungi komitmen pacaran kudus kami dari godaan setan yang mungkin menyelinap di dinginnya Bandung malam hari. Ya. Meski harus dengan jalan penuh penderitaan gini. (Ya Tuhan, prosesi sah di altarnya bisa dipercepat nggak? ) 

Btw, kalau Nugi punya nasi goreng sebagai comfort food, saya adalah tim sate padang. Sayang, setelah makan malam bukannya membaik, saya malah muntah-muntah di toilet. 

Pelajaran nomor satu untuk kalian yang baru pertama kali menginjak Bandung : Jangan. Pernah. Pesan. Sate. Padang. 


Pesanlah cuanki saja. Atau seblak. Atau cilok. 

Mahulana, Ksatria di Balik Lensa


Jumat (18/12) keesokan harinya, saya dibangunkan Nugi dan Mahul pagi-pagi sekali. Kepala saya masih gliyengan sejujurnya. Tapi schedule pemotretan sudah menunggu. (Tsaaaahhhh!!!) 

Memaksakan diri mandi dan dandan tipis pagi-pagi demi menyamarkan wajah pucat, saya siap foto-foto. Sama seperti Nugi, saya juga tidak menyangka Mahul se-total itu. 




Melihat hasil foto-foto "prewedding" kami yang luar biasa, saya tidak berpikir dua kali untuk meminta Mahul untuk memotret acara pemberkatan nikah kami kelak. Tentu kami siap jika harus membayar Mahul secara profesional, lengkap dengan transportasi dan akomodasi full service-nya di Palembang. 










Sayang sekali, Mahul menolak dengan halus. "Saya nggak pernah mau motoin nikahan temen, Teh. Soalnya saya nggak mau lihat yang lain senang-senang, saya sibuk kerja sendiri. Kalaupun saya datang ke Palembang, saya pengennya ikut senang-senang juga bareng tamu yang lain… "


Tidak selamanya orang ke-tiga adalah setan


Hmm. Iya juga sih. Baiklah, Mahul, kami mengerti. Tapi kabari segera kalau berubah pikiran ya, siapa tahu kan… 

Mantan VS Masa Depan

Usai sesi foto yang menyenangkan dan sarapan di hotel, Nugi masih harus lanjut kerja karena belum libur. Saya yang dicuekin, memilih chat mas mantan mengatur janji ketemuan. 

Well, sebetulnya saya belum terlalu siap jumpa mantan setelah pertemuan terakhir kami pada empat atau lima tahun silam. Apa daya, Ibu Ratu menitipkan mandat oleh-oleh yang harus diserahkan. Iyaaa, segitu sayangnya emang emak saya itu sama mas mantan πŸ˜‚

Kami janjian di KFC Pasar Baru setelah salat jumat. Yang dekat saja. Cukup turun dari hotel. Tempatnya juga sepi dan lumayan nyaman untuk Nugi menemani kami ngobrol sambil kerja. 

Kesan pertama setelah jumpa mantan? 

Ya ampun. Nggak berubah banget dia. Masih sama kurusnya. Cuma terlihat sih makin dewasa (ya iyalah, udah punya anak). 

Kami bertukar kabar terbaru sekaligus mengenang kisah lama. Meng-ghibahkan teman-teman lama kami. Saya juga membereskan "utang" yang menghantui saya bertahun-tahun ini (yang ternyata mas mantan lupa kalau dia pernah memiutangi saya). 

Berkali-kali saya menyelidiki perasaan sendiri. Saya merasa harus membereskan perasaan lama yang mungkin masih tersisa. Bagaimanapun, pria yang sekarang statusnya sudah jadi laki orang ini pernah begitu berarti dalam perjalanan hidup saya. Dia lelaki yang bikin saya sangat sulit move on. 

Saya merasa akan sangat berbahaya untuk lanjut ke jenjang berikutnya bersama Nugi jika saya terus menerus menoleh ke belakang. Kalau memang masih ada rasa yang tertinggal, mending break dulu kan ya? 

Dan saya rasa, saya tahu jawabannya. 

Jadi, sekalipun saya ngobrol berhadapan dengan mas mantan, ekor mata saya selalu mencari-cari keberadaan Nugi (yang sebenernya cuma di sebelah saya persis). Bahkan beberapa kali saat membahas kisah-kisah emosional, saya sampai merasa perlu menggenggam tangan Nugi di bawah meja untuk menenangkan diri. 

Saya sempat dengan kejam membandingkan keduanya dalam hati. Oh, jelas… dilihat dari sisi mana pun, tetap mantan yang menang πŸ˜‚πŸ˜‚ Mantan jauh lebih sabar, menyenangkan, dan dewasa ketimbang Nugi. 

Nugi aja mengakui kok. Saat perjalanan kembali ke hotel, dia bilang "Si X itu baik dan menyenangkan banget orangnya. Dan sampai sekarang pun kelihatan banget dia sayangnya sama kamu… "

Ya. Sayang mas mantan memang nggak berubah. Dari dulu dia begitu. Tapi ya sudah. "Cuma" sayang. Sebatas sayang. Nggak lebih. Dan nggak pernah lebih. 

Bukan cinta. Apalagi hasrat seorang lelaki ke perempuan. Jauhh... 

Dari dulu mas mantan memang begitu. Saya-nya yang terlalu GR. Saya terlalu bodoh sebagai cewek, karena belum bisa membedakan antara sayang dan cinta. Saya tidak tahu bedanya perhatian dan kasih sayang sebagai saudara atau sebatas sahabat, dengan keinginan dan hasrat untuk menjadi teman hidup hingga usai usia. 

Ah, itu dulu. 

Sekarang saya sudah tahu. Setelah melihat sendiri wujud cinta itu. Ada di Nugi. Terlihat jelas. Karena cowok itu yang akhirnya menunjukkan pada saya bahwa ada perbedaan amat besar antara cinta dan sekadar sayang. 

Nugi selama ini sangat percaya diri jika menyangkut perasaan saya. Bahkan saat memenangkan hati saya setahun lalu, dia dengan songongnya menikung seorang cowok yang sudah 4 tahun dekat dengan saya. 

Namun saat bertemu dengan mantan, untuk pertama kalinya saya melihat kegelisahan dalam diri Nugi. Bukan kecemburuan sih, tapi semacam kepercayaan dirinya selama ini terusik. Dia mungkin tidak sadar hal ini dan mungkin menyangkal jika ditanya langsung. Tapi menurut saya, Nugi cukup ekspresif kok... 

Nugi terlihat sedikit terganggu dengan begitu naturalnya interaksi saya dengan mantan. Saya memang jauh lebih luwes sih di depan mantan ketimbang saat bersama Nugi (Saya bahkan sempat "memalak" mantan, dan seketika dapat Rp 50 ribu yang menurutnya sudah cukup untuk jajan es duren di Bandung. Dengan orang lain mana berani saya begitu πŸ˜‚πŸ˜‚). 

"Aku yakin ini cuma soal waktu. X peka dan memahami kamu karena dia udah kenal lama sama kamu. Aku cuma kalah start masuk di hidupmu, " kata Nugi menghibur diri. 

Saya senyum-senyum sendiri lihat ekspresi Nugi saat ngomong itu. Sebagai pacar yang baik, saya merasa perlu menenangkan Nugi. Meyakinkan dia kalau saya sungguh sudah berdamai dengan masa lalu. Yang sudah biarlah berlalu dengan kesudahannya. 


Kalau boleh saya analogikan, mas mantan itu seperti pohon rindang di tepi jalan. Rimbun nan teduh di tengah terik dan padatnya lalu lintas kehidupan. Dia mampu menimbulkan rasa nyaman dalam diri dan bikin saya selalu ingin kembali meski hanya sekadar memetik buahnya barang dua atau tiga buah. Buah bernama ketulusan persahabatan dan persaudaraan yang nyata serta nggak lekang oleh waktu di tengah begitu banyaknya senyum palsu di dunia ini. 

Sementara Nugi adalah rumah. Yang mungkin belum selesai dibangun, atau masih butuh renovasi di sana-sini. Tidak (atau belum) terlalu nyaman karena masih banyak "perabotan" yang harus dilengkapi. Masih ada banyak proses yang harus dilalui. Tapi di rumah inilah saya tahu saya akan bisa tidur dengan nyenyak. Ada ketenangan dan kenyamanan aneh meski hujan badai topan berlangsung di luar sana. Nugi adalah rumah tempat saya bisa merasa pulang. 

Wahai Nugi, Mas mas Jogja kesayanganku ..., kalau kamu baca ini (dan aku yakin kamu akan baca ini) ... Tenang ya. Selagi kita terus pupuk dan rawat cinta ini, aku jamin nggak ada satu mantan pun yang bisa merampas hatiku darimu. Seperti katamu, kita ini adalah pasangan yang telah mengalahkan dunia dan hantu masa lalu. 

Kuharap, selamanya begitu. 


Akhir kata, 

Terima kasih, Bandung… 

Untuk membereskan segalanya. 


To be continued ~











10

Catatan mommy Ossas kencan bareng Nugisuke, owner thetravelearn di Palembang (bagian kedua -- habis)

Part 1-nya di sini


Ara-Nugi, our first date


"Mas, kamu adalah ke-tidak-pahamanku tentang semesta yang kupelajari dalam doa." (Arako, 2020)


Hotel Feodora, Kamar 307
Feodora Airport Hotel Palembang (pic : booking.com)

Saya memang kurang olahraga. Naik tangga ke lantai tiga saja sudah bikin saya megap-megap. Sampai di kamar yang lampunya remang-remang itu, saya mendadak nge-blank. Bingung ada apa. Lupa tadi kenapa.

Errr, lebih ke awkward juga sih. Baru nyadar kalau kami betul-betul cuma berduaan di dalam kamar. Malam minggu pula. Mau ngapain, Raaaa??? Main ular tangga? Apa monopoli? 

Menghilangkan kegugupan, saya langsung ke kamar mandi yang (sialnya) pintunya ga bisa dikunci. Mau pipis pun terus nggak jadi. Yah, tahu sih mas nggak bakal ngintip juga, tapi tetep saja. Nggak nyaman.

Saya cuma duduk di kloset. Mengatur nafas, sambil mengingat-ingat apa yang bikin saya tadi begitu "semangat 45" ngajak mas ke hotel. Asli, otak mendadak nge-lag di momen nggak tepat tuh nggak enak banget.

Pas keluar, begitu lihat tampang mas. Saya langsung paham. Kaya ada yang langsung nyalain lampu di sela keruwetan dalam kepala. Berbarengan dengan itu, mas bilang …

"Ra, aku kumat bengek …"

ASTAGA! IYAAA, GW TAU LU BENGEK, MAS! ORANG PALING BEGO AJA BAKAL TAHU KALAU LIAT TAMPANG LU SEKARANG. NGACA COBA UDAH KAYA IKAN PATIN DI PASAR NUNGGU DIGETOK!

Meski begitu, nggak sepatah kata pun sanggup keluar dari mulut saya. Saya sibuk mengontrol emosi sendiri. Tenang, Ra... Tenang ... Jangan meledak ...

"Tapi tenang aja. Udah minum obat kok," sambung mas buru-buru. 

TENANG, TENANG DARI HONGKONG?! KALAU LU MATI DI SINI SEKARANG GIMANA, MAS? MAMPUS GW, BISA JADI TERSANGKA PEMBUNUHAN INI… MANA CUMA BERDUAAN DI KAMAR HOTEL LAGI, PAPA BISA MENINGGAL DUA KALI KALAU TAHU ANAK GADISNYA BEGINI ...

Tapi yang keluar dari mulut saya cuma "Te… terus ini gimana ini, Mas? Kita ke rumah sakit?" 

"Nggak, nggak usah. Ntar juga baikan. Tunggu aja… Udah biasa kok ..."

Malam itu saya baru tahu kalau orang sesak nafas itu justru nggak nyaman kalau berbaring. Mereka harus tetap duduk meski sama nggak nyaman-nya. Kami berdua duduk di ujung tempat tidur.

Saya tuh sebenernya berusaha banget untuk menenangkan mas malam itu. Pengen nemenin dia dan pengen bisa bikin dia segera ngerasa baekan. Tapi saya juga nggak tahu harus gimana. Setiap kali ngajak ngobrol, mas jawabnya kaya orang sekarat di sinetron-sinetron itu (ya iyalah, Raaa… namanya orang asthma).

Tapi diem aja juga nggak enak. Bunyi detak jam masih kalah serem sama nafas mas yang "ngiiikk ...ngiiikk…" gitu. Setiap tarikan nafas mas, di kuping saya berasa kaya lonceng penanda kematian. Horor banget asli. Saya benar-benar ketakutan malam itu.

Takut kalau harus kehilangan Mas di meet up perdana kami. Kan nggak lucu.

Perlahan namun pasti, rasa takut kemudian berganti jadi rasa bersalah. Saya flashback momen seharian ini. Andai saya nggak bangunkan mas, dia bisa istirahat lebih lama. Andai saya segera ajak mas pulang begitu tahu ada yang nggak beres bahkan sejak masih di LRT, andai kami tunda dulu ketemuan sama teman (mereka toh orang-orang baik, pasti ngerti kalau janji terpaksa batal), andai saya paksa mas untuk nggak usah bawa motor …

Mas nggak perlu kumat sakit kaya' gini. 

Saya menyesal.

Lalu tanpa bisa dicegah, rasa bersalah pun bergeser ke benci sama diri sendiri. Yang kaya gini lu bilang sayang sama orang, Ra? Yakin lu sanggup berkomitmen seumur hidup? Pppfffttt … hari pertama aja lu udah gagal jagain dia! Mau bilang apa lu sama keluarganya kalau Nugi mati di Palembang? 

Dan … begitulah. Pikiran liar berkecamuk saling kejar di dalam kepala. Saya takut, cemas, dan panik luar biasa. Tapi di sisi lain, saya tahu harus menyembunyikan emosi sekuat tenaga.

Dalam satu kesempatan ngobrol di telepon, mas pernah bilang kalau serangan asthma-nya kumat, dia nggak mau orang di sekitarnya cemas dan khawatir. Itu bakal bikin dia makin nggak nyaman dan makin susah tenang. Makanya, saya nggak mau kelihatan panik atau cemas.

Tapi mas --tentu saja-- bisa lihat kalau ada yang nggak beres sama diri saya. Otak saya benar-benar kacau di dalam saat itu, tapi yang dilihat mas dari luar cuma Ara yang mendadak "freeze" dengan tatapan kosong. Persis kaya orang kesurupan, katanya.

"Ra… hey, Ara… kamu kenapa?" kata mas sambil menggenggam tangan saya lembut. 

Saya berusaha tetap diam, tapi ternyata nggak bisa. Sentuhan tangan mas ke kulit saya ibarat ujung peniti kena balon. Bikin saya nggak bisa nahan diri lagi.

Tangis saya meledak malam itu. Segala kecemasan dan kepanikan langsung tumpah. Saya bahkan sempat nyaris nggak bisa nahan keinginan untuk self harm lagi, even "cuma" jedot-jedotin kepala ke tembok. Ya ampun ... Badan sampai gemetar saking kalutnya.

Saya, yang semula ajak mas ke hotel berniat menenangkan dia, eh, malah berakhir dengan mas yang menenangkan saya. Kacau! 

Asli. Serangan asthma dan anxiety disorder itu sungguh bukan kolaborasi menyenangkan!

Untungnya, insiden malam itu berakhir juga. Setelah entah berapa jam, baik saya dan mas pada akhirnya sama-sama bisa tenang. Saya berhenti menangis, dan nafas mas berangsur normal meski belum sepenuhnya membaik. 

"Duuhh, jeleknya cewekku kalau nangis gini, cup cup cup…udah yaaaa," kata Mas sambil ngusap air mata saya dan ngelus ngelus puncak kepala. Kalau ada yang lihat tingkah dia yang begitu itu, orang-orang pasti mikir kalau umur saya ini baru 4 tahun. 

Meski begitu, saya cuma diam saja. Namanya juga sayang ... (Halah!)

Malam semakin larut, saya mulai bersiap pulang ke kosan. Tapi sebelumnya, saya sempat ajak mas berdoa. Saya peluk dia, dan kami doa bareng.

Begitu kata "Amin" terucap, mas bilang gini sambil senyum-senyum, "Ya ampun. Aku nggak pernah tahu lho pacarku ternyata relijius …"

Saya memutar bola mata. Nggak suka. Dilihat dari sudut mana pun, mana ada sejarahnya si Ara relijius. Fujoshi laknat begini lho.

 Saya tuh …, ajak mas berdoa ya karena cuma itu satu-satunya cara komunikasi ke Tuhan yang saya tahu. Saya cuma pengen berterima kasih. Nggak lebih. Andai … misalnya nih, Tuhan punya FB atau WA mah saya tentunya lebih pilih chat Tuhan begini : 

"TUHAAANNN …  harus banget ya bikin aku nunggu segini lamanya? Tapi nggak papa. Worth it banget tahu. Makasih ya, udah pertemukan aku sama belahan jiwa yang sekarang di sampingku ini. Engkau baik deh, selalu baik meski anakmu yang satu ini bandelnya nggak habis-habis…"



Standar Kegantengan Berbeda

Ganteng versi Mas 😹😹


Keesokan harinya, hari minggu (19/1) pagi, saya balik ke hotel lagi. Mas bangun kesiangan, tentu saja. Nggak papa sih, yang penting dia bisa tidur semalam.

Sampai kamar, mas ternyata belum mandi. Tapi pas saya peluk mas masih enak aja tuh aroma badannya meski ga lagi wangi deodorant, melainkan minyak kayu putih. Nggak lama, dia terus ke kamar mandi.

Kalau di hari sebelumnya saya ngeluh mas lelet banget mandinya, asli … nggak ada apa-apanya itu mah. Pagi itu mas JAUH LEBIH LELET. Kalau kemarin sambil luluran, yang ini bulu keteknya sambil dihitungin satu-satu kali. Habis tu dikepang.

Saya udah nyaris ketiduran di kasur saking bosannya nunggu dia. Tapi nggak sia-sia. Begitu pintu kamar mandi menjeblak terbuka dan wangi sabun menguar di udara, pemandangan indah langsung muncul di depan mata : Punggung fenomenal @nugisuke  versi live action 😹😹 Asli, yang di feed IG dia itu mah nggak ada apa-apanya. 

Lelaki yang memesona dengan punggungnya


"Kumisku udah dicukur nih, Ra…," kata Mas di depan cermin.

Oh, sambil cukuran toh tadi, pantesan lama. Saya diam-diam ngakak penuh kemenangan. Akhirnya, berhasil juga saya menyingkirkan men pride-nya mas plus apalah apalah yang dia sebut ideologi fisik itu.

Jadi gini, Mas itu ngerasa bangga dan ganteng dengan bulu yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Kumis tipis di wajah bikin dia ngerasa dewasa dan macho. Saya? Yang dari kecil memuja idol jepang-korena-cina dan tontonannya sekarang BL series Thailand tentu saja nggak sepakat. 

Saya mah nggak butuh cowok sangar nan macho. Lha tipe cowok ideal versi saya itu yang kaya Haoge kok (yang belum tahu, please nggak usah googling). Yah, intinya saya suka cowok syantiek. Kalaupun nggak bisa dapet yang syantiek ya minimal yang manis, imut, cute bikin gemes gitu deh. Bukan yang sangar (sok) macho.

Pffftt, makanya, ketika akhirnya bisa lihat mas tanpa kumis saya puas bukan main. Segera saja saya ikut mendekat ke cermin. Mas yang tadinya lagi pake pelembap, buru-buru menoleh begitu saya tepat di sampingnya. 

Saya jadi bisa ngeliatin wajah dia yang dari awal emang udah imut dengan bulu mata lentik dan alis lucunya itu … belum lagi kalau ngomongin tangannya yang sehalus kulit bayi.

Entah gimana wajah kami terus mendekat satu sama lain kaya ada magnet-nya. Lebih dekat … lebih dekat lagi… sampai hembusan nafasnya berasa hangat di wajah … sampai wangi tubuhnya tercium … Saya bahkan bisa lihat jerawat unyu dan mungil di bawah telinganya ...

"Mas…," ucap saya, setengah mendesah, nyaris berbisik.

"Hmm?" Mas kaya kehilangan kata-kata. 

"Ini kita udah telat lho ke gereja …"

Mas langsung ngakak. "Ya nggak papa telat, ntar kalau ditanya mama, kubilang 'Iya, Ma. Ini tadi telat soalnya Ara nakal di hotel…'"

Tapi dia terus sibuk ngaca lagi. Kembali "dandan" setelah sebelumnya sempat saya interupsi. Cuma saya masih kepikiran bercandaan mas barusan. Kenapa sih ya cewek selalu (di)salah(kan) misal terjadi sesuatu yang iya iya?

Cewek diperkosa katanya pakaian atau kelakuannya menggoda dan mancing-mancing lawan jenis duluan. Lha kelakuan mas yang sengaja keluar kamar mandi topless gitu apa namanya kalau nggak menggoda? Emang cowok doang gitu yang punya nafsu? Cewek nggak boleh horny? 

Tapi misal kemudian beneran terjadi apa-apa, kesimpulan yang ada ya bakal tetep "Ara yang nakal".

Hebat!!! 


Cowok dibonceng Cewek, Why Not? 

Jalan ke dusun Ibu Ratu, kalau musim hujan


Jam 9 lewat kami baru meluncur dari hotel. Kami akan ibadah di gereja di dusun Ibu Ratu di Desa Sungai Rengit Kabupaten Banyuasin. Perjalanan normal 45 menit dari kosan. 

Tapi karena Mas yang bawa Akashi, perjalanan berasa sejuta kali lebih lambat. Berulang kali saya bilang ke mas biar saya yang bawa motornya, mas nolak. Biasalah, cowok. Gengsinya kegedean. Nggak ada cerita cowok dibonceng cewek katanya.

"Ini mas bakal gini terus bawa motornya?" tanya saya yang mulai emosi saking nggak sabarnya.

"Iya, kenapa emang?"

"Mana bisa ibadah kita. Tengah hari ntar baru nyampe."

Entah karena menangkap nada ketus di suara saya, atau ngerasa belum menguasai medan yang didominasi jalan berlumpur khas dusun, atau khawatir terlambat ibadah … mas akhirnya menyerah juga. Dia bolehin saya yang bawa motor. Dan dia nangkring di boncengan.

"Raaaa…. GILA! KAMU NGEBUT BANGET!!!!" Mas sibuk teriak-teriak panik di belakang begitu saya tancap gas. Mana jalanan nggak rata, pasti nggak enak banget. Ya ampun, saya nggak merasa ngebut blass lho padahal.

Mas bilang itu adalah pertama dan terakhir kalinya dia diboncengin saya. Kapok katanya. Nggak mau lagi. Mas juga bilang kalau begitu cara saya bawa motor, di Bandung nggak akan biarin saya bawa motor sendiri. 

Hadeh. Payah!



Kujatuh Cinta Lagi, 'Tuk ke Sekian Kali ...

 Kabar baiknya, kami sampai gereja dengan selamat meski jelas amat terlambat. Yah, at least masih sempat dengerin khotbah. Kami duduk di bangku paling belakang, sepanjang sisa ibadah tangan mas nggak berhenti genggam tangan saya. Mas masih sakit, tangannya benar-benar panas.

Selesai ibadah, gereja memberi kesempatan untuk orang-orang yang baru pertama ibadah pertama kali untuk maju ke mimbar untuk memperkenalkan diri. Jadi Mas maju dong. 

Tahu nggak, dulu saya nggak percaya orang bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Tapi di detik pertama Mas ngomong di depan seisi gereja, saya kembali jatuh cinta pada lelaki satu ini. 

Jadi, saya tuh berasa melihat Nugi dengan versi berbeda. Nugi yang selama ini saya kenal kan kaya childish, suka cengengesan, rajin bercandaan, tapi pendiam dan kalem bukan main kalau di depan orang yang baru ketemu. Nugi yang di mimbar pegang microfon itu betul-betul semacam punya aura misterius yang kemudian membius semua audience.

Betapa tenang dan meyakinkannya Mas saat bilang dia ke Palembang buat nemuin mama saya. Bahwa dia ingin hubungan kami berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Bahwa dia secara khusus minta didoakan untuk rencana menikah tahun depan. 


Dalam hati pengen teriak lho, "NAH! INI BARU COWOK!!! JANGAN CUMA NGEDEKETIN, MODUS-MODUSIN BERTAHUN-TAHUN TAPI NGGAK NGELAMAR-LAMAR" (Lah, curcol Ra? 😹)

Yah, intinya saya pulang gereja hari itu dengan senyum mengembang. Asli, puas banget ngeliat tampang-tampang speechless orang-orang yang selama ini nggak bosen neror dengan "Mana cowoknya?" atau "Kok nggak nikah-nikah? Awas jadi perawan tua lho…" atau "Nggak usah milih-milih banget lah, nanti malah bablas nggak laku susah lho, Mbak…". Atau yang neror mama dengan "Anaknya Bu Tri males ngerjain kerjaan rumah gitu memang ada laki-laki yang mau?"

WOYY… TUUHHH… TUUHH COWOK GW. CALON LAKI GW. MANIS KAN? KEREN KAANN? DENGER DIA NGOMONG APA TADI? TAHUN DEPAN CUY, TAHUN DEPAANN…

(Weits, santai Ra. Santai. Nggak usah nge-gas… Ingat, balas dendam termanis adalah dengan senyuman. Yang elegan dong ... MUAHAHAHAAHAHAHA…)


Di Istana Ibu Ratu

Yah, di sini mah sebagian besar pembicaraan memang udah jadi urusan calon mantu dan ibu mertua. Saya sibuk pijatin kaki mas saja, berharap dia agak sedikit lebih enakan badannya nanti.

Soal pijat ini, saya dari dulu emang pengen banget bisa. Menurut saya, ini adalah keahlian penting yang seharusnya dimiliki setiap perempuan bersuami. Bahkan jauh lebih penting ketimbang keahlian memasak. Karena percayalah, di zaman kaya sekarang ini, adalah lebih baik suami makan di luar ketimbang pijat di luar. 😹😹😹


Oh iya, Mas juga lulus ujian mengguntingkan kuku lho. Cerita lengkap soal ini sudah pernah saya share di Facebook.

Mmm, sebelum jumpa Mas, ada satu kekhawatiran besar saya yang masih mengganjal. Jadi Mas itu kan punya asthma, saya sempat takut mas nggak bisa dekat-dekat atau piara kucing. Sementara saya, mana bisa hidup tanpa gumpalan bulu itu?

Tapi kekhawatiran saya nggak terbukti. Mas sama sekali nggak batuk atau bersin-bersin. Ossas juga kaya yang langsung akrab gitu sama Mas. Ndusel ndusel manja minta dielus. Aneh, padahal selama ini langsung kabur kalau lihat orang asing. 

Ossas dan ayah baru ...


Hmm …, mungkin Ossas paham. Yang sekali ini bukan orang asing, tapi calon ayah tiri. Lelaki yang akhirnya memenangkan hati mommy-nya tercinta.




Meski begitu, seiring waktu, mood saya memburuk dengan cepat. Mungkin karena sadar kalau nggak bisa lagi berlama-lama sama Mas. Asli, waktu tersisa cuma tinggal beberapa jam saja …

Memikirkan itu bikin saya nggak bisa menahan air mata. Ya. Saya nangis lagi. Di pelukan mas. Nggak mau pisah. Nggak ingin ditinggal.

Ibu Ratu diam saja. 

Tahu anak gadisnya ini aslinya memang cengeng. 


Dan Waktu Tetaplah Mencair ...

Waktu itu seperti kurva. Menanjak lambat sebelum jumpa, namun terjun bebas setelah mas di sini. 2 hari bak sekejap saja. Mas benar-benar sudah waktunya kembali ke Bandung.

Btw, Mas itu plin plan ternyata. Waktu berangkat bilangnya nggak akan pernah mau dibonceng saya lagi. Tapi pas setelah pamitan sama mama, dia bilangnya,

"Udah. Kamu aja yang bawa motornya …"

Haha. Kecanduan dia dibonceng cewek!

Tapi beda dengan berangkat tadi, saat pulang saya bawa motornya sepelan mungkin. Mungkin dengan begitu, waktu bisa sedikit melambat.

Sampai kosan, kami punya waktu sekitar 1,5 jam sebelum mas ke bandara. Saya ajak mas ke kamar yang sepi. Hujan lebat di luar... Memungkinkan kami untuk segera … ena-ena.

Pppfffttt. MANA ADA!!!!

Jadi … gini lho, pemirsah

Sekalipun nafsu tuh ada (ya iyalah, kami kan masih normal cuy!), sekalipun tempat dan suasana mendukung … tapi kalau kita betul-betul sayang sama orang tuh beda tahu. Beda banget!

Ketika rasa sayang mendominasi, rasa menghormati sekaligus rasa ingin menjaga dan melindungi itu muncul juga. Mungkin kedewasaan juga berperan di sini, bahwa masing-masing sudah ngerti apa konsekuensinya kalau misalnya sampai melanggar batas. 

Intinya kalau ke arah sana nggak lah. Kami nggak mau. Cara Tuhan mempertemukan kami sudah begitu indah. Nggak asyik banget kalau misalnya harus dirusak sama kenikmatan sesaat. Biarlah, dari awal kami sudah komitmen mau sabar sampai waktunya tiba. Sampai sah. Well, ini bukan mau sok suci atau gimana … tapi semata percaya kalau buah kesabaran itu nggak akan berkhianat. 

Masih banyak cara lain buat sayang-sayangan tanpa harus kebablasan.

Lagipupa,  boro pengen yang gitu-gituan, mata saya juga udah kaya keran bocor. Bawaannya cuma pengen nangis aja.

Nggak rela, cuma sesingkat ini ternyata waktu yang bisa dinikmati bareng orang yang sudah ditunggu demikian lama. Kami cuma berakhir dengan pelukan lamaaaaaaa banget tanpa banyak kata. Sesekali mas membujuk dan menenangkan kalau isak saya mulai tak terkendali. 

Saya tahu, mas juga nggak rela pisah. Cuma harga diri dia sebagai cowoklah yang menahan dia nggak sesenggukan kaya saya. Momen di kamar kosan saya itu bener-bener yang sering dideskripsikan dalam novel-novel romance : "Nggak perlu ngomong apapun, nggak perlu ngapa-ngapain … Lo ada di sini, di samping gw. Cukup."


Dan waktu tetaplah mencair, sekalipun kau berharap ia membeku selamanya...

Berat sekali rasanya mengantar mas ke bandara sore itu. Nggak banyak lagi momen yang saya ingat kecuali nemenin mas makan di CFC bandara dan sempat selfie beberapa kali untuk terakhir kalinya. Saya terlalu emosional.

Meski begitu …, saya sempat bertanya hal ini, "Mas, tiga kata dong untuk dua hari ini …"

"Aku. Semakin. Yakin."




Air mata saya mengalir lagi senja itu. Tapi bukan lagi air mata kesedihan karena perpisahan, tapi keyakinan dan ketetapan hati untuk memandang hari depan yang penuh harapan.


Aku. Semakin. Yakin

Salam, LDR Fighter!!!! Yoshhhh!!!!

***

Sampai selesai menulis postingan ini,
saya masih nggak ngerti kenapa
orang kaya Mas bisa suka
cewek sinting kaya' saya.
Apa ya? Rasanya terlalu
banyak kekurangan seorang Ara
untuk disandingkan
sama Nugi.
Tapi
satu hal yang pasti,
yang nggak sedikit pun saya ragukan ...
bahwa mas adalah jawaban doa yang sudah demikian lama saya nantikan.

Mommy Ossas mau
say thank you untuk kalian yang sudah mau baca dan ninggalin komentar,
mohon doanya ya kalian semua 😘
semoga #RagiStory bakal terus
berlanjut sampai maut memisahkan.
Amin. Amin. Amin.
19

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...