Menu
Tampilkan postingan dengan label RagiStory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RagiStory. Tampilkan semua postingan

Ragi Story : Kisah Gas Melon dan Gas Pinky

Episode Ragi Story kali ini berkisah tentang Gas Melon dan Gas Pinky sempat mewarnai hari-hari manten anyar di awal pernikahan. Ini #RagiStory, Story-nya Ara dan Nugi.


Masih ingat ribut-ribut netijen soal Nagita Slavina yang pakai gas melon alias gas elpiji 3 kg untuk masak rendang jelang lebaran lalu? Gas melon yang tabungnya berwarna hijau itu adalah elpiji khusus subsidi pemerintah untuk masyarakat miskin. Memangnya semiskin apa istri Raffi Ahmad itu sampai ga kebeli gas elpiji non-subsidi?

Tapi hari ini aku tidak mau membahas Nagita Slavina. Hanya ribut-ribut soal gas melon itu membuat ingatanku melayang ke masa saat masih manten anyar bersama Nugisuke. Saat itu kami masih tinggal di sebuah kontrakan sederhana yang masuk kawasan Sleman, Yogyakarta.

Memulai hidup sebagai pasutri dari nol tentu banyak suka dukanya. Saat itu aku dan Nugi hidup sangat pas-pasan. Tabungan kami sudah habis untuk biaya nikahan (termasuk tiket PP Jogja-Palembang dan SWAB covid😅).

Cuma yang namanya manten anyar, menjalaninya ya enjoy saja. Bunga-bunga cinta masih sangat wangi sehingga mampu membungkus fakta kalau sebenarnya sangat pusing soal duit. Kami bahkan masih bisa menertawakan diri saat berburu detergen atau sabun yang ada hadiah piring dan gelas demi ga usah beli peralatan makan.

Kami juga membeli kompor satu tungku dan gas melon karena memang anggarannya hanya cukup untuk itu. Semuanya berjalan biasa saja. Sebiasa banyak rumah tangga lain yang memulai hidup dari nol setelah menikah.

Gas Melon yang Mematahkan Hati

Suatu hari, gas melon kami habis. Nugi pergi ke warung untuk membelinya. Sepulangnya dia, aku semringah karena tabung gas melon yang dibawanya tampak mulus. Biasanya kan sudah bocel-bocel atau berkarat di banyak bagian.

Namun senyumku mendadak menguap begitu melihat tulisan dalam huruf besar-besar berwarna putih yang tampak begitu kontras di hijau tabungnya :

HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN

Aku syok. Untuk pertama kalinya merasa tertampar fakta. Meski sudah lama tahu bahwa gas elpiji melon ini adalah subsidi pemerintah yang hanya ditujukan bagi masyarakat kurang mampu, rasanya aku bersikap tidak mau tahu. Sama seperti nyaris semua orang (tak peduli bagaimana status ekonomi atau sosialnya) di sekitarku.

Namun kali itu benar-benar berbeda. Aku benar-benar merasa ditabok oleh tulisan itu. Bisa dibilang, itu kali pertama aku membaca tulisannya sejelas itu. Selama ini, aku selalu mendapat tabung gas melon yang tampilan luarnya tidak mulus lagi. Bocel dan karatan sana sini. Kalau pun tampak ada huruf-hurufnya, biasanya sebagian besar sudah pudar.

Aku nyaris tidak pernah merasa bersalah menggunakan gas melon selama ini, karena di dusun mamaku tidak ada yang menjual gas elpiji nonsubsidi. Semua rumah tangga lumrah memakai tabung gas melon karena hanya itu yang tersedia.

Di kosan aku juga pakai gas melon. Yah, apa yang bisa diharapkan dari anak kos kuliahan yang masih harus menghidupi mamanya yang janda itu dengan penghasilan tak menentu? Dilihat dari sudut manapun, tampaknya saat itu aku memang masih berhak atas gas melon.

Tapi semuanya tidak bisa disamakan dengan kondisiku setelah menikah. Meski aku dan Nugi hidup pas-pasan, kami jauuh dari kekurangan. Meski aku dan Nugi juga tidak tajir melintir, rasanya enggan juga kalau disebut miskin. Terlebih, gaji budak koorporat perusahaan Bandung tentunya sudah lebih dari cukup untuk hidup tenang di Jogja.

Ini tidak bisa dibiarkan! Batinku saat itu. Aku sudah langsung gelisah ketika memakai gas melon untuk memasak. Ada rasa ga nyaman, campuran antara takut dan rasa bersalah karena tahu masih memakai sesuatu yang bukan peruntukannya.

Aku lalu bilang ke Nugi, bahwa aku ingin ganti tabung gas. Aku tidak mau pakai gas melon lagi. Kondisi finansial rumah tanggaku mungkin memang belum stabil, tapi aku tidak mau terbiasa mengambil yang bukan hak kami.

Masalahnya, tabung gas perdana tidaklah murah. Tabung gas melon itu saja kami belinya sudah sekitar 150 atau 200 ribu. Mungkin kalau yang nonsubsidi 5,5 kg itu bisa setengah juta sendiri. Duit dari mana? Ga ada anggarannya karena kami juga masih banyak keperluan lain.

Meski begitu, aku tidak lelah memperkatakan kalau aku mau tabung gas baru. Spesifik tabung gas pinky 5,5 kg karena sepertinya akan nampak cantik di dapur mungilku. Yah, Istilahnya manifestasi aja dulu. Memperkatakan yang baik-baik dengan niat yang baik pula. Aku meyakini akan terkabul.


Gas Pinky yang Datang Sendiri

Bright Gas Pinky

Sepertinya seisi semesta kompak bersinergi mewujudkan keinginanku itu. Tidak lama setelah keinginan menggebu-gebu untuk beli tabung gas baru rutin diucapkan, ndelalah aku melihat flyer di akun IG Bright Gas berisi ajakan untuk meramaikan HUT Pertamina ke-64 dengan iming-iming tabung Bright Gas perdana 5,5 kg untuk 640 orang.

Tentu saja aku sangat tertarik. Bright Gas sendiri merupakan produk gas elpiji dalam negeri non-subsidi yang diproduksi oleh PT Pertamina. Meski aku biasanya kurang beruntung kalau urusan undian atau give-away give-away-an, yang kali itu aku cukup optimis. 640 pemenang itu jumlah cukup banyak, terlebih kriterianya adalah yang posting tercepat. Saat kusisir jumlah postingan melalui hashtag, ada sekitar 300-an akun yang sudah posting. Masih ada separuh kuota tersisa.

Tanpa pikir panjang, aku langsung membuat foto bersama Nugi dan menguploadnya secepat mungkin. Aku benar-benar optimis bahwa inilah jalanku mendapat tabung gas pinky impian.

Dan benar saja, saat diumumkan kira-kira sebulan berselang, namaku ada di antara 640 penerima tabung gas perdana. Proses klaimnya juga tidak lama. Hanya berselang 1 minggu, tabung gas pinky itu pun “datang sendiri” ke kontrakan kami. Rupanya diantar oleh agen gas terdekat dengan domisili kami.

Bright Gas Pinky 5,5 kg

Puji Tuhan, Puji Tuhan, Puji Tuhan.

Akhirnya kami bisa lepas dari gas subsidi. Yang lucu adalah nasib gas melon kami. Tadinya berniat kalau sudah punya tabung gas pinky, tabung gas melonnya akan kami hibahkan ke saudara atau tetangga yang lebih berhak. Bisa juga kami jual dan hasil penjualannya bisa didonasikan.

Eh, kontrakan kami malah kebobolan maling saat kami tinggal main ke Solo. Tidak ada barang yang hilang kecuali tabung gas melon kami 😂 Sepertinya malingnya kepepet butuh tabung gas buat jualan.

Well, sejak hari itu, tabung gas pinky masih setia menemani hari-hariku di dapur sampai detik ini. Awalnya memang agak syok untuk pembagian anggaran. Biasa budget isi ulang gas melon cukup 20 ribu, refill gas pinky bisa nyaris 100 ribu. Dengan nominal yang sama, budget isi ulang gas pinky bisa dapat gas melon 3 kali lipat.

Rugi?

Menurutku tergantung sudut pandang. Lebih mahal iya, jelas. Namun setidaknya aku bisa masak dengan lebih tenang. Di samping rupanya ya berkat Tuhan memang selalu ada untuk mencukupkan. Sampai sekarang, rasanya aku dan Nugi belum pernah sampai di titik ga bisa kebeli gas sama sekali.


Belajar Untuk Tidak Makan Hak Orang Lain

Saat membuat draft tulisan ini, timeline media sosialku ramai dengan kisah mahasiswi undip so called influencer, yang punya gaya hidup cukup mewah dan sering flexing ke-hedon-annya, tapi rupanya termasuk dalam daftar penerima beasiswa KIP Kuliah. Padahal, beasiswa ini merupakan program pemerintah, yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa dari keluarga fakir miskin.

Ini mirip seperti kasus Nagita Slavina yang ketahuan pakai tabung gas melon untuk masak rendang. Padahal, sekelas Nagita rasanya lebih dari mampu untuk menyetok tabung gas pinky sampai segudang sendiri, bukan? Kenapa masih harus pakai gas melon yang bukan peruntukannya?

Tapi kebiasaan menikmati sesuatu yang bukan hak dan peruntukannya ini nampaknya sesuatu yang lumrah di masyarakat kita. Banyak program dan bantuan pemerintah yang sebetulnya sudah didesain dengan sangat baik, namun praktiknya tidak tepat sasaran.

Aku ingat waktu masih nguli dulu dan liputan pembagian BLT yang jelas-jelas ditujukan bagi masyarakat miskin, masih saja ditemukan orang-orang bermobil dan berkalung-cincin-gelang emas ikut antre.

Begitu pun saat di SPBU, tidak jarang kita melihat mobil-mobil mewah turut antre mengisi pertalite atau biosolar yang jelas-jelas BBM bersubsidi.

Segala yang bersubsidi atau bahkan gratisan itu memang lebih enak. Kadang kita juga terpaksa menikmatinya karena keadaan serta satu dan lain hal. Tapi menurutku, kita harus rajin mempertanyakan, apakah aku benar-benar berhak menikmatinya? Apakah masih ada orang lain yang seharusnya lebih berhak menerima?

Terkadang, perkara miskin dan kaya itu hanya sebatas mental. Mau sebanyak apapun uang hingga miliaran, kalau mentalnya miskin, biasanya tetap akan punya sejuta alasan untuk tetap mengambil hak orang lain dan menikmatinya tanpa mau tahu. Lihat tuh koruptor kita, rata-rata udah tajir melintir. Tapi selalu merasa kurang terus hidupnya.

Sebaliknya, orang-orang dengan penghasilan pas-pasan bahkan yang hidupnya berkekurangan, hatinya bisa sangat kaya. Aku kenal salah satu temanku, dia kuliah dengan beasiswa bidikmisi (semacam KIP K sekarang) karena memang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun di semester yang lebih tinggi, dia memutuskan mengundurkan diri dari penerima beasiswa karena kehidupannya membaik setelah disambi-sambi kerja.

Aku juga pernah baca berita tentang tukang becak di Madiun yang menolak BLT karena merasa bahwa itu bukan haknya.

Kisah-kisah seperti ini menurutku jauh lebih menghangatkan hati. Di samping jadi reminder juga untukku pribadi, untuk tahu malu jika sampai makan sesuatu yang merupakan hak orang lain yang lebih membutuhkan.

Aku dan Nugi belum sempurna. Belum sesuci itu sampai ga berbuat kesalahan sedikit pun. Tapi di rumah tangga kecil kami yang baru seumur jagung ini, kami sudah berkomitmen untuk tidak meyalahgunakan hak orang lain yang lebih membutuhkan untuk kepentingan pribadi.

Dimulai dari hal-hal yang bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari, seperti tidak pakai gas melon dan tidak mengisi pertalite kalau kelak punya mobil. Kami mau terus melatih mental kami agar terbiasa menjadi “kaya”.

Kalaupun kami belum kaya, toh kami punya Bapa di Surga YANG MAHA KAYA. Butuh apa-apa tinggal minta melalui doa. Ga perlu sampai mengambil apa yang bukan hak dan peruntukannya.


14



"Saya berjanji untuk hidup setia dan saling membantu, baik waktu suka maupun susah, waktu sehat maupun sakit, dalam berkekurangan ataupun berkelimpahan. Saya berjanji, akan menghormati, dan setia padanya dan tidak ada yang bisa menceraikan kami berdua kecuali maut."

 __________________________________________

Waktu melihat kalender hari ini, aku kaget melihat tanggalnya sudah tiba di tanggal 29 Februari. Hari terakhir bulan cinta tahun ini. Buatku, waktu melesat cepat sekali. Isi kepalaku langsung melayang ke Februari 2023, tepat setahun lalu ketika rumah tangga #RagiStory mendapat ujian yang rasanya bikin kami berdua tidak bisa bernafas saking engepnya.

Februari tahun itu sebetulnya kusambut dengan sukacita. Seperti biasa, aku selalu berbahagia karena itu bulan lahirku. Biasanya aku tidak terlalu merasa gimana-gimana setiap ulang tahun. Tapi sejak Nugi hadir di hidupku, dia selalu merayakannya dan menghujaniku dengan cinta.

Tahun lalu juga begitu, kami masih sempat merayakan ulang tahunku di awal Februari. Terlebih perutku semakin membesar saat itu dengan dua janin di rahimku yang sudah menginjak 7 bulan. Deg-degan, mulai cemas dengan persalinan yang makin dekat, namun juga sangat excited. Ga sabar bertemu dengan dua malaikat kecil kami.

Namun ga ada angin ga ada hujan, tanpa warning atau firasat sama sekali, mendadak di suatu petang Nugi bilang kalau aku harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa keluarga kami. Awalnya Nugi enggan cerita detail, namun aku yang sudah gelagat kegelisahannya sejak berapa hari lalu membujuknya untuk cerita.


"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk cerita, tapi kupikir kamu dan kita harus menyiapkan diri. Kantorku lagi bermasalah, Beb. Ga tahu bakal bertahan apa nggak. Beberapa rekan kantor udah pada dipecatin, aku ga tahu kapan giliranku, tapi ada kemungkinan aku kena lay off juga," kata Nugi yang bikin jantungku auto bergemuruh.

Air mataku langsung meleleh. Hormon kehamilanku terlalu complicated untuk memproses informasi ini. Respon pertama adalah komplen ke Tuhan. Why now? Kenapa harus sekarang sih, Tuhan? Tepat di saat kehamilanku 7 bulan dan dokter sudah menyuruhku menyiapkan diri untuk persalinan kapan saja karena risiko kelahiran prematur untuk kehamilan kembar itu sangat tinggi.


Bahkan tanpa kabar ga enak seperti ini pun, beban mentalku menghadapi persalinan udah ga mudah. Ini lagi ditambah-tambahin begini. Tuhan ya ampun, mentalku ga se-setrong itu. Aku merasa aku akan jauh lebih woles andai kabar ini kuterima saat kami masih manten anyar.


Saat itu kami masih berdua, rasanya masalah seberat apapun bisa ditanggung berdua. Tapi beda cerita saat tanggung jawab kami sudah nambah seperti ini. Dua sekaligus pula. Gimana kami membiayai dua bayi ini kalau Nugi ga lagi bergaji?

Aku benar-benar kalut saat itu. Fokusku hanya pada nasib Aya Sae yang ada di rahumku. Orang tua macam apa kami kalau sampai ga bisa menjamin awal hidup mereka di dunia ini?

Tapi mungkin ini salah satu privileged sudah menikah. Jadi, sekalut apapun aku saat itu, begitu melihat ekspresi Nugi, lelaki yang sangat kucintai ini rupanya juga ga bisa menyembunyikan kekecewaannya sendiri, emosiku yang biasanya meledak-ledak tak keruan justru mereda.


Perasaan "aku-ga-sendirian-lagi" itu malah nyata jadi penguat di saat tak terduga. Aku sadar, sefrustrasi dan sekecewanya aku, ga akan ada apa-apanya dengan yang dirasakan Nugi. Tanpa Nugi menjelaskan lebih jauh, aku tahu dia menyesali dirinya lebih dari apapun.

Nugi itu suami yang baik dan aku sangat yakin akan jadi Bapak yang baik juga. Tapi karena itulah dia jadi kelewat kecewa sama dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjadi sandaran keluarga kecilnya, justru di saat sosoknya sebagai pemimpin paling dibutuhkan.


Aku langsung "menampar" diriku sendiri, mengingatkan diriku sendiri, mengontrol diriku sendiri untuk ga mengeluarkan kalimat apapun yang akan menyalahkan Nugi. Nugi ga salah apapun di sini. Dia juga ga kuasa mengatur apapun yang terjadi di kantornya.


Sebaliknya, di sini peranku sebagai istri, yang kata Tuhan adalah penolong yang sepadan itu teruji. Ara yang sebagai ibu hamil memang sudah down ga keruan sejak awal, tapi Ara yang sebagai istri ga boleh ikut down juga. Hancur semua kami nanti.

Aku meminta waktu menyendiri sejenak untuk menenangkan diri. Aku meminta maaf pada Aya Sae kalau gejolak emosiku sekarang dan dalam beberapa hari ke depan mungkin akan bikin mereka ga nyaman. Kuminta mereka bersabar dan bantu mendoakan kami, orang tuanya yang lemah ini agar dikuatkan Tuhan.

Setelah (agak) tenang, aku kembali pada Nugi yang masih tampak bengong dan terpuruk. Kuajak dia berdoa. Bukan kami sok relijies apa gimana, tapi justru kami mau komplen dan mengeluarkan semua uneg-uneg saat itu biar lega. Meski doa-doa kami cuma didominasi komplen, tapi di ujung doa aku memaksa diriku berucap, "Saat ini aku sungguh nggak ngerti kenapa kami harus menghadapi hal kaya gini sekarang. Tapi aku mau belajar percaya, bahwa Engkau punya maksud baik semua ini. Kalau memang harus kami melalui ini, kami ga akan menghindar, tapi tolong kuatkan kami melalui semua ini. Amin."


Seiring kepalaku mulai terurai selepas berdoa, aku yang sudah pernah menghadapi krisis bahkan beberapa kali masuk zona survival di sejumlah fase hidup sebelum ini, langsung menyiapkan sejumlah strategi dengan semua kemungkinan terburuk : Nugi dipecat.

Aku menyusun skala prioritas sambil mendata aset dan tabungan kami. Puji Tuhan, keputusan kami menunda pembuahan selama setahun khusus untuk menabung rupanya sangat tepat. Nugi sejumlah tabungan di rekening dan aku punya "celengan" dalam bentuk LM dan reksadana.


Fokus kami adalah persalinan. Sisanya biar "dipikirkan sambil jalan". Aku meminta Nugi mengecek saldo BPJS ketenagakerjaannya. Puji Tuhan, rupanya jumlahnya sudah lumayan. Ada sekian puluh juta. Kubilang Nugi, amit-amit kamu beneran dipecat dan ga langsung dapat kerjaan baru, saldo ini udah cukup buat kita makan beberapa waktu dan buat modal usaha.


Melihatku sibuk menyusun strategi, Nugi tampak tidak tinggal diam. Dia juga mulai mengusulkan sejumlah "jalan keluar", termasuk mengingatkan ada 2 CC-nya yang masih available dengan limit masing-masing belasan juta rupiah.


So, untuk target jangka pendeknya sudah. Sementara kami masih bisa bernafas sampai persalinan. Tinggal pikirkan untuk yang jangka menengah dan panjangnya. Bisa sambil jalan. Yang penting, yang prioritas paling atas kami tidak perlu mencemaskannya dulu sekarang.


***

2023 kami lalui seperti roller coaster. Up n down dengan ekstrem kami lalui sepanjang tahun.


Bayiku selamat, Puji Tuhan. Tapi aku sempat kritis pascamelahirkan.


Nugi selamat dari lay off, namun perombakan manajemen kantor membuatnya harus didemosi dan membuat gaji bulanannya berkurang.

Persiapan tabungan anak kami selama setahun hanya dimaksudkan untuk satu anak, tapi ketika diberi dua sekaligus ... sungguh tidak mudah menyesuaikannya.

Tabungan kami habis lagi seperti waktu habis menikah, celengan LM-ku harus "disekolahkan", Nugi juga harus berutang CC.

Kami punya banyak pengeluaran tak terduga di tahun itu. Termasuk hilangnya HP Nugi dan anak bulu kami, Otin, yang sempat-sempatnya keracunan dan nyaris tewas (tagihan klinik hewannya, pemirsaah 🙃🙃🙃). Tapi juga dapat berkat tak terduga juga. Nugi dapat drone dan iPad dari menang lomba nulis.

Tapi seperti kata seorang teman baik yang padanya aku sampahkan semua kejadian ini,
"Ara dan Nugi, kalian tu bukannya hidup sendiri. Ga akan mungkin kami biarin Aya Sae kelaparan. Tenang-tenang, rukun-rukun, baek-baeklah di sana. Semua akan berlalu. All is well..."

***
Dan hari ini, tepat setahun setelah semua kejadian yang nyaris bikin aku ga bisa bernafas itu ...

Aku menuliskan semua ini di sebelah Aya Sae yang tertidur pulas. Mereka sehat dan tumbuh dengan baik. Imunisasi lengkap bahkan sampai ke imunisasi tambahan yang tidak disubsidi pemerintah.

Di kamar Nugi sedang mengikuti instruksi dari aplikasi belajar bahasa spanyol. Itu caranya rehat sejenak dari dua job-nya (ya, Nugi double job sekarang).

Tabungan LM-ku sudah pulang dari "sekolah". Beberapa bulan lalu Nugi sudah menebusnya.

Kami tidak pusing dengan kebutuhan harian atau anak, karena bahkan Aya Sae sudah "mampu" beli diapers dan skincare-nya sendiri lewat tawaran endorsement yang mampir ke akun sosmedku.

Sudah mulai membuat beberapa portfolio sekaligus untuk beberapa financial goals (termasuk untuk traveling one day).

PR kami hanya menyisakan sedikit cicilan CC yang masih dalam batas sangat aman untuk kesehatan finansial.

Tapi di atas semua yang terjadi ini, baik tahun lalu dan tahun ini --juga tahun-tahun ke depan kuharap-- aku sangat bersyukur bahwa #RagiStory bertahan. Aku berbahagia karena aku dan Nugi bisa saling mendukung dan tetap memegang janji pernikahan kami.

Aku dan Nugi sadar bahwa apa yang kami alami ini belum apa-apa. Tapi memang rumah tangga itu memang ga pernah mudah kan?

Kalau mau mudah, mungkin janji pernikahan di altar harusnya diganti :
"Setia dalam suka saja, sehat saja, dan berkelimpahan saja".


0


Ragi Story : Desember 2023, Ketika Sukacita Natal Itu Kembali

Sudah lama ga update Ragi Story, padahal kami punya banyak cerita. Salah satunya adalah di Desember 2023 ini, kali pertama kami merayakan Natal dengan formasi lengkap setelah si kembar lahir. Sukacita kami sekeluarga tertuang di postingan kali ini.
___________________________________________________________________
Sewaktu kecil, aku merasa sukacita natal itu terpampang nyata. Aku ingat betapa antusiasnya Ara kecil menyambut Desember dan hari natal. Sibuk sekali pokoknya. Entah latihan menyanyi, membuat koreografi tarian untuk tampil di gereja, membantu mama membuat kue, atau sekadar menerka-nerka akan dapat baju natal baru seperti apa.

Sayangnya, sukacita dan antusiasme menyambut natal ini kian meredup seiring bertambahnya usia. Mulai mengerti rasa malu dan malas untuk sekadar tampil di acara gereja, mulai enggan juga bertemu banyak orang saat tradisi sanjo (saling berkunjung, bersilaturahmi ke rumah teman dan kerabat setiap hari raya) karena malas ditanya-tanya, serta alasan-alasan lainnya yang entah kenapa bikin Natal rasanya jadi tidak semenarik dulu saat masih kecil.

Sekitar tahun 2010-an, aku mulai merasa makin lempeng dengan Hari Natal. Tidak membencinya, namun apa ya… semacam kehilangan sprakle di hati. Saat itu keluargaku harus tercerai- berai pisah kota karena badai ekonomi yang menerpa kami. Usaha papa bangkrut sehingga semua aset harus ludes terjual. Papa, mama, kakak, nenek dan aku sendiri terpaksa berpisah karena harus berjuang bertahan hidup.

Selama beberapa tahun kemudian, aku kerap melewatkan natal tanpa keluargaku. Ketika akhirnya kemudian bisa berkumpul lagi karena aku menyusul pindah ke Palembang (dari kota sebelumnya, Bengkulu), rupanya tidak bertahan lama juga. Papa meninggal pada Desember 2017, hanya beberapa minggu menjelang Natal.

Natal terakhir bersama papa, aku bahkan ga punya foto yang resolusinya lebih baik 😭

Sejak tahun itu, aku praktis "membenci" desember juga natal. Aku terlalu sakit ditinggal pergi papaku untuk selamanya. Meski manusia memang tidak pernah terbiasa dengan lubang-lubang kehilangan, namun buatku, Desember dan Natal hanyalah sebuah momen untuk membuka lagi memori luka itu.


Tahun berikutnya kakakku satu-satunya juga sudah sibuk dengan keluarga barunya. Alhasil, natal hanya bisa kulewatkan berdua saja dengan mama. Untuk seseorang yang sangat merindukan hangatnya keluarga di setiap hari raya, aku sungguh merasa kesepian.

Natalku berteman sepi
Saat itu, aku masih merayakan Natal sepertinya hanya karena KTP-ku Kristen. Tapi jauh di lubuk hati terdalam, aku benar-benar kehilangan sukacita natal itu sendiri.

Desember 2019, Ketika Nugisuke Hadir di Hidupku

Natal bersama Nugisuke

Setelah dua tahun penuh berkutat dalam duka mengenang papa tercinta, seorang mas-mas Jogja yang stay di Bandung mendadak hadir di hidupku. Meski hanya berjumpa di udara, hadirnya ternyata mampu menarikku agar tak berkubang dalam kesepian terlalu dalam.


Papa tentu belum tergantikan sosoknya. Namun ketika aku punya seseorang yang kemudian berjanji untuk menemani hari-hari, membuatku merasa tak lagi kesepian dan sendiri. Nugi, si mas-mas Jogja itu kemudian memintaku menjadi kekasihnya di Desember 2019. Tepat ketika era pandemi resmi dimulai di Tiongkok.

Tak menyangka namun bersyukur, komitmen kami pun rupanya berlanjut. Berturut-turut Desember setelahnya kulalui dengan aman sentosa karena punya seseorang yang bisa menemaniku merayakan natal.

2020, kami merayakan Natal di Jogja. Tak lama kemudian, tepatnya di malam tahun baru 2021, Nugi melamarku dan kami resmi bertunangan.
Saat bertunangan di gereja

Tahun 2021, kami di Palembang sebagai manten anyar. Pada malam natal, kami malah di bioskop nonton Spiderman. Rencananya mau ibadah esok paginya saja. Eh malah kejebak banjir, alhasil kami melewatkan ibadah natal tahun itu. Kami hanya sempat menemani mama natalan di dusun sambil menikmati hari-hari kami sebagai manten anyar. 
Natal 2022, bersama mama dan Aya Sae di perut

Tahun 2022, kami merayakan Natal di Bandung. Tepat satu minggu setelah kami pindahan dari Jogja. Kami ga cuma berdua saat itu, sudah ada Aya Sae yang berusia enam bulan dalam kandunganku, juga mama yang baru datang dari Palembang.

Desember 2023, Ketika Sukacita Natal Itu Kembali

Desember 2023, Ketika Sukacita Natal Itu Kembali

Desember 2023 ini ada yang berbeda. Beberapa minggu sebelum Desember tiba, aku sudah memesan sejumlah ornamen penghias pohon natal di market place. 1 renceng lampu hias dan beberapa item gantungannya. Lalu membeli 5 topi Santa Claus sekaligus, masing-masing untukku, Nugi, Aya, Sae, dan mama.

Aku juga mulai hunting sejumlah hampers kue kering yang akan segera ku-check out begitu THR dari kantor Nugi cair. Termasuk memesan gula batok langsung dari Palembang untuk persiapan membuat cuko pempek.

Nugi berjanji akan mengajak kami semua ke mall menjelang Natal dengan agenda utama membeli baju baru, terutama untuk Aya Sae sambil makan di luar. Kami juga berencana membuat foto keluarga bertema natal dan mulai mereka-reka dimana tempat dan kapan timing yang tepat untuk mengambil foto.
Menghadiri Natal gabungan bertema budaya Sunda, awal Desember

Kami juga merekap jadwal-jadwal perayaan natal di gereja kami. Termasuk rencana membawa Aya Sae ikut perayaan natal khusus anak sekolah minggu.

Dengan semua rencana itu, aku jadi gelisah dan suka mondar-mandir sendiri saking excited-nya. Euforia menyambut natal sangat terasa di rumah kontrakan minimalis kami. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali seantusias itu.

Meski demikian, semua perasaan itu terasa begitu familiar. Seperti de javu, seperti sobat lama yang bersua kembali. Aku ingat, aku ingat semua semangat ini. Aku selalu mengalaminya setiap tahun, dulu sekali. Mungkin belasan atau puluhan tahun yang lalu.

Aku tak bisa berhenti mengukir senyum di sepanjang Desember. Terlebih ketika semua rencana itu mulai terealisasi satu per satu, meski ternyata tak semulus yang direncanakan. Adaaa saja "insiden" yang mengganggu.

Beberapa insiden tersebut antara lain, lampu pohon natal yang kami beli tahun lalu rupanya hanya bertahan beberapa hari dan mati. Tambahan lampu yang kubeli dari market place rupanya kualitasnya juga buruk dan menyusul mati. Nugi jadi terpaksa beli baru yang setelah dipasang ternyata kurang panjang. Alhasil kami memutar otak untuk mengakali agar lampunya cukup (yang berhasil dengan hanya menghias ⅔ pohon natalnya. Yang menghadap tembok tidak perlu diberi lampu).
Nugisuke opname, pertengahan Desember

Insiden "terberat" adalah Nugi yang ndelalah harus opname di rumah sakit karena asthma-nya kambuh. Bagian ini mungkin kelak akan dibahas dalam tulisan tersendiri. Namun karena ini, kami harus merelakan Aya Sae batal ikut perayaan natal sekolah minggu. Issoke, girls. Tahun depan ya, Nak…

Lalu THR natal Nugi yang diproyeksikan akan turun 1-2 minggu sebelum natal, ternyata baru cair hanya beberapa hari menjelang Natal. Jadinya was was nungguin paket kue kering. Takut ekspedisi kadung overload. Untunglah, paketnya sampai sebelum Natal tiba.

Insiden berikutnya adalah ketika sesi foto keluarga tepat di malam Natal. Kami sudah mempersiapkan diri dan terutama menyiapkan mood Aya Sae agar siap difoto. Rupanya sesi pemotretan tak berjalan mulus. Aya yang biasanya banci kamera mendadak menangis meraung-raung. Kemungkinan karena kelelahan setelah belanja di mall.

Aya menangis saat sesi foto

Namun semua itu tidak sebanding dengan sukacita yang aku –kami-- rasakan. Aku bahkan sempat menangis terharu ketika ibadah Natal. Merenungi betapa baiknya Tuhan pada keluarga kami. Mensyukuri setiap penyertaan Tuhan di sepanjang tahun 2023. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur ga habis-habis pokoknya.
_________________________________________________________________________________

Pada akhirnya, Natal selalu berbicara tentang kasih. Bagaimana kasih Tuhan hadir dalam hidupmu. Bagaimana kamu hidup dengan mengasihi Tuhan dan sesamamu.

Aku sendiri merasakan kasih Tuhan nyata hadir di rumahku, yang kini lengkap berisi orang-orang terkasihku. Aku masih ingin merayakan banyak natal dan natal lagi bersama mereka. Bukan hanya tahun 2023 ini, namun di tahun-tahun berikutnya juga. 


Has been written with a grateful heart and a bunch of thanks, for those that I Love the most :

Nugi, best husband in this universe.

Aya dan Sae, our little angels from heaven.

Mama, my super and wonderful woman ever.

Wouldn't be Christmas without all of you, guys!

(Bandung, akhir tahun 2023)




2

Proses membeli sepeda motor secara cash di rumah tangga yang baru seumur jagung memberi banyak pelajaran buat Ara dan Nugi. Selengkapnya dalam Ragi Story, it's our story, a journey to stay happy 


Membeli Sepeda Motor Cash

Di awal pernikahan dan memulai hidup baru di sebuah kontrakan di Jogja, saya dan Nugi tidak langsung berpikir ingin membeli sepeda motor. Apalagi secara cash. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan saat itu karena nyaris semua tabungan terkuras untuk biaya pernikahan. Kami juga masih memiliki beberapa cicilan, termasuk pengeluaran rutin tiap bulannya untuk membayar kamar kos Nugi di Bandung meski sudah lebih dari setahun tidak lagi ditempati.


Keinginan membeli sepeda motor baru timbul dan kian menguat setelah "mengaudit" buku kas rumah tangga kami. Pengeluaran untuk transportasi kami per bulan rupanya menyentuh angka Rp 700 ribu lebih. Padahal, mobilitas kami sebetulnya terbatas. Nugi juga masih work from home. Yang rutin paling biaya untuk ojol saat ke gereja PP setiap minggunya. Ditambah jika ada event/job ngeblog offline atau butuh belanja sesuatu sesekali, yang sungguh bisa dihitung dengan jari frekuensinya.


Sepeda motor yang tadinya kami anggap hanya sebatas keinginan, ternyata mulai berubah menjadi kebutuhan. Kontrakan kami yang terletak di Jogja coret, tepatnya di kawasan Godean yang sudah masuk kabupaten Sleman, membuat kami kerap kesulitan mendapat akses angkutan. Tidak ada angkutan umum yang proper, sementara jasa angkutan online juga tak sebanyak di dalam kota.


Seringkali kami harus menunggu lama setelah memesan, dan berakhir di-cancel drivernya. Terlebih jika hari hujan, nyaris tidak ada yang mau pick up. Driver Jogja ini rupanya belum semilitan driver Bandung, yang standby kapanpun dalam kondisi apapun.


Kami pernah pulang ke kontrakan sampai larut malam karena tidak ada yang pick up orderan kami untuk diantar ke Godean. Ketika akhirnya bisa pulang, itu pun karena sudah diakali untuk membagi jarak tempuh. Jadi misal total 10 km, kami pesan 2 kali untuk masing-masing jarak per 5 km agar tidak dicancel lagi.


Kami kadang juga terpaksa menolak sejumlah ajakan meet up teman-teman blogger Jogja karena memang sesulit itu untuk kemana-mana. Mungkin beberapa teman blogger masih ada yang menganggap kami sombong karena sekarang nyaris nggak pernah diajak-ajak ngumpul lagi 😅😅


Ah, nyesek memang kalau ingat masa itu. Tapi ya itulah asem-asemnya kehidupan manten baru yang mau ga mau harus dinikmati.



Motor Baru VS Motor Bekas


Ketika menyadari bahwa sepeda motor adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi (karena jika tidak, anggaran kami akan semakin membengkak tiap bulannya), kami langsung memasukkan itu ke skala prioritas. Lupakan dulu perabotan atau keinginan ini itu yang masih bisa ditunda.


Masalahnya, duit dari mana?

Semurah-murahnya motor, jelas tidak bisa didapat dengan uang 1-2 juta. Kecuali kalau mau beli motor bekas.


Nugi sempat melontarkan opsi ini, karena menurutnya, yang penting punya motor dulu. Tidak harus baru, yang penting bisa dipakai.


Tapi saya menentang, saya semasa gadis sudah beli 2 sepeda motor. Baru semuanya, meski 2-2nya kredit. Mohon maaf, saya tidak mau downgrade. Pernikahan harusnya membawa kualitas hidup lebih baik, jangan malah turun.


Alasan kedua, saya dan Nugi benar-benar "buta" soal otomotif. Siapa yang menjamin kami akan membeli motor yang layak meski bekas? Kalau yang terjadi sebaliknya bagaimana? Niat ingin hemat dan untung malah buntung karena uangnya habis untuk biaya reparasi di bengkel. Teman saya ada yang begini, beli motor bekas yang terjangkau dompet, tapi nyaris setiap minggu harus masuk bengkel karena adaaa saja yang bermasalah.


Di mata saya, opsi motor baru tetap yang terbaik untuk kami yang sama-sama tidak mengerti dunia motor. Kalau beli baru, ada garansi perawatan sampai berbulan-bulan. Kami hanya cukup meluangkan waktu untuk "check up" rutin di bengkel resmi.



Cash VS Kredit


Opsi pembelian sepeda motor secara kredit atau cash sempat menjadi perdebatan Jika ingin cepat dapat motornya, tentu pilihan kredit lebih mudah. Tapi kalau hitung-hitungan jangka panjang, pembelian secara kredit sungguh melelahkan. Bukan hanya harganya yang akan jauh berlipat ketimbang pembelian secara cash, namun juga membayangkan tagihan yang harus dibayar tiap bulannya sementara masih ada tagihan lain yang perlu diselesaikan apa tidak bikin kepala meledak? Bisa-bisa tak tersisa lagi anggaran untuk sekadar jajan es duren atau nonton di bioskop.


Saya bilang ke Nugi, sudah cukup saat masih single saya berurusan dengan utang dan tagihan. Saya lelah. Saya ingin hidup tenang. Saya ingin upgrade kondisi finansial saya. Kalaupun memang harus kredit, saya pilih kredit properti, bukan kendaraan.


"Ya sudah, kalau kamu memang yakin. Mari kita imani, kalau kita bisa membeli secara cash… Soal duitnya dari mana urusan nanti, mari kita minta sama Tuhan dulu," jawab Nugi yang menandai komitmen kami untuk membeli sebuah sepeda motor secara cash.



Rutin Berdoa


"Makin spesifik kita minta ke Tuhan, makin spesifik pula Tuhan menjawab."


Entah benar atau tidak, tapi saya sudah membuktikan sendiri soal ini saat meminta jodoh dari Tuhan. Super spesifik. Dan …, Tuhan menjawab tepat seperti apa yang saya minta. Makanya nggak ada keraguan sedikit pun soal Nugi adalah tulang rusuk. Karena memang se-spesifik itu Tuhan menjawab. Kapan-kapan saya cerita sendiri soal ini.


Lanjut ke motor, saya juga merasa perlu spesifik saat minta Tuhan. Setelah riset sedikit soal harga dan tipe-tipe motor, serta memperhitungkan kondisi finansial kami, kami pun memutuskan mulai berdoa untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit. Warna merah. Persis seperti Akashi milik saya di Palembang yang masih mulus dan tidak pernah rewel meski sudah dipakai 6 tahun.


Harga cashnya Rp 15.000.000 , meski ada dealer yang memberikan harga Rp 14.750.000. Bukan nominal yang sedikit, tapi kami cukup optimis sudah bisa membelinya dalam setengah tahun. Tentang caranya, biarkan Tuhan yang urus.


Pada November 2021, kami mulai rutin menyelipkan permohonan kami untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit Merah cash di setiap mezbah keluarga kecil kami setiap malam (Yah, mungkin semacam doa bareng keluarga setelah salat magrib berjamaah kalau untuk keluarga muslim, kira-kira).


Kami percaya jika Tuhan sudah ACC, kami akan mendapatkannya di waktu yang tepat. Tugas kami sebagai manusia adalah berusaha. Ya, menabung!



Bertahan dari Serbuan Badai


Sekilas rencana kami untuk menabung rutin sambil tetap berdoa terkesan sangat mudah dan bikin optimis. Kenyataannya setelah dijalani adaaaa saja serbuan badainya.


Mulai dari pengeluaran-pengeluaran tak terduga yang lebih prioritas, job sampingan yang seret-lancar silih berganti, rasa frustrasi dan tidak sabaran karena masih harus naik ojol kemana-mana dengan segala dramanya, mulut-mulut nyinyir tetangga dan netijen, hingga yang paling sulit dilawan yakni serbuan brosur dan iklan promo pembelian secara kredit.


Sistem kredit yang ditawarkan sungguh menggiurkan, bahkan ada yang hanya butuh DP ratusan ribu rupiah dengan cicilan cukup ringan (meski harus ambil yang 3 tahun). Tapi saya dan Nugi saling mengingatkan dan menguatkan, bahwa kredit itu jebakan betmen. Kami gantian saja saling mengingatkan untuk bertahan dalam komitmen membeli secara cash.


Terkesan sangat mudah dituliskan, tapi yang kami alami berbulan-bulan lalu rasanya sungguh berat. Puji Tuhan, kami bertahan



Ao, Sang Jawaban Doa


Pada akhir tahun sebetulnya tabungan kami sudah cukup untuk membeli sepeda motor cash, terutama dengan tambahan THR Nugi yang diterima jelang Natal. Namun terpakai untuk biaya mudik kami Palembang dan Bengkulu, lalu lanjut ke Bandung.


Di Bandung kami banyak pengeluaran, namun memang harus dilakukan demi misi mengakhiri "tagihan" kosan Nugi. Sudah waktunya kami menutup keran pengeluaran tak berguna. Kalaupun suatu saat nanti Nugi harus kembali masuk kantor dan kami pindah lagi ke Bandung, biarlah itu urusan nanti.


Singkat cerita, baru pada pertengahan Februari dana kami terkumpul. Itupun berkat bantuan Ibu Ratu yang mentransfer dana nyaris ⅓-nya. Terima kasih, Yang Mulia. Mohon maaf, kami belum mampu ngasih yang terbaik malah dikasih terus ini😭😭😭


Saya sudah semangat 45 mau ke dealer untuk mengambil motor kami, ndelalah sales yang selama ini berhubungan dengan kami mengabari stok Revo Fit warna merah kosong. Bukan hanya di dealer setempat, namun bahkan Se-Jogja Raya ini kosong.


<To be continued
Tulisan belum selesai. Wkwkwk..lanjut besok ya



0


Hal hal yang berubah dari Nugisuke setelah menikah

April ini, usia pernikahan saya dan Nugisuke udah 7 bulan. Akhirnya, lebih setengah tahun dan menginjak semester kedua. Iyaaa, masih terhitung seumur jagung banget meski udah mulai terasa aneh di kuping kalau ada yang bilang kami manten anyar. Dibanding dengan saat masih single atau awal-awal pernikahan, suami saya ini lumayan banyak berubah setelah menikah.

Nah, dalam rangka merayakan monthversary kami (hilih), saya memilih menulis postingan ini untuk mengabadikan momen tentang suami tercinta. Agar suatu saat nanti bisa dibaca lagi, entah untuk mencari kekuatan untuk bertahan di masa sulit, atau sekadar untuk membangkitkan memori senyum dan bersyukur atas hari-hari yang sudah kami lewati berdua.

Cukup intronya, langsung saja, berikut hal-hal yang berubah dari Nugisuke setelah setengah tahun menikah dalam Ragi Story ~ a Journey to Stay Happy :

1. Lebih Berisi

Ara~Nugi sebelum dan sesudah menikah

Kadang definisi cinta itu adalah menggendut bersama. Wkwkwkwk.

Kalau tidak membandingkan foto-foto Nugi saat masih bujangan, saya tidak terlalu notice sih kalau tubuhnya tambah berisi sekarang. Tapi saya sendiri juga melar sih.

Sebetulnya kalau dari porsi makan biasa saja. Rasanya kami nyaris tidak pernah makan berlebihan. Sesekali makan di luar namun tetap didominasi makanan rumahan yang selalu diupayakan memenuhi menu gizi seimbang.

Satu-satunya biang kerok penyebab melarnya tubuh kami adalah kemageran akut. Saya dan Nugi harus akui, sejak punya Ao (motor baru kami), kami jadi kian malas bergerak. Apalagi olahraga. Dulu saat awal menikah masih rutin jalan-jalan tipis di sekitar sawah atau keliling kampung, sekalian menikmati pemandangan dan udara segar. Kadang kalau belanja pun sengaja pilih rute yang agak jauh biar bisa jalan kaki lebih lama.

Sekarang nyaris nggak pernah. Ya ampun … kalau tidak mau kebablasan obesitas, sepertinya kami sudah harus segera rutin berolahraga lagi. Demi kesehatan dan kebugaran juga tentunya mengingat faktor U juga mulai berpengaruh.

Tolong doakan niat ini agar segera direalisasikan dan bukan sekadar angan-angan ya ...

2. Tidak (Terlalu) Idealis Lagi

Saat staycation di Ramada Suites Solo

Nugisuke dengan Blog  thetravelearn.com -nya selama ini punya personal branding sebagai traveler dan hotel reviewer. Nugi yang dulu cenderung idealis, dia berdedikasi mempertahankan niche travel dan hotel reviewer di blog maupun akun media sosialnya semaksimal mungkin.Nugi yang dulu juga tak segan menolak tawaran paid promotion yang berpotensi "merusak" blognya.

Tapi lihatlah sekarang, blognya mulai "kacau" dengan banyaknya postingan yang sebenarnya bukan-Nugi-banget. Meski tak sampai bikin Nugi kehilangan identitas asli sepenuhnya, tetap saja, Nugi berubah. Dia tak seidealis dulu lagi.

Dan saya tahu persis alasannya. Semata karena Nugi sangat paham kalau sekarang dia tak hanya menghidupi diri sendiri, tapi sudah punya istri yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebetulnya gaji bulanan Nugi sebagai budak korporat sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kami berdua tanpa Nugi harus mengorbankan idealisme blognya. 7 bulan kami berumah tangga, rasanya belum pernah sekali pun kekurangan apa yang mau dimakan atau dipakai.

Tapi buat Nugi itu belum cukup. Kata Nugi, kami berdua masih punya banyak mimpi yang harus diwujudkan. Men pride Nugi diam-diam juga kerap terluka ketika dilihatnya saya harus menahan diri nunggu gajian atau fee cair dulu kalau mau beli sesuatu. Dia berulang kali bilang ingin segera mencapai kemerdekaan finansial, sehingga bisa lebih maksimal menyejahterakan rumah tangga kecilnya, sekaligus menyokong kebutuhan hidup orang tua kami yang usianya beranjak senja.

Meski menyayangkan nasib blognya, tapi saya tidak bisa menyalahkan Nugi sepenuhnya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin jadi suami yang lebih bertanggung jawab. Bukan salah Nugi kalau dia ingin membahagiakan saya, istrinya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin tetap berbakti pada orang tuanya. Dan bukan salah Nugi kalau dia punya banyak rencana juga mimpi-mimpi masa depannya.

Melihat Nugi sampai segitunya, saya cuma bisa berdoa agar kondisi finansial kami segera settle. Income yang lewat saya juga semoga bisa lebih banyak, biar Nugi tidak terus-terusan mengkhawatirkan isi keranjang akun marketplace saya.

Dengan begitu, Nugi tidak perlu lagi "merusak" blognya dengan job-job receh yang malah bikin dia kehilangan identitasnya.

3. Lebih Berani Melawan Ara

Ape lo ape Lo!

Beneran lho ini. Di awal menikah, seperti yang sudah saya singgung di postingan ini, Nugi itu tipe Yes Boy. Dia akan iya iya saja terkait apa saja yang saya bilang demi menghindari konflik. Maklum, produk Jogja gaes, harus meladeni istrinya yang mulutnya produk pesisir Sumatera ini. Bisa apa dia?

Di masa itu, saya sangat yakin Nugi bakal aktif misal tergabung dalam organisasi atau komunitas macem Ikatan Suami-Suami Takut Istri🤣

Tapi sekarang, Nugi sudah berubah gaes. Dia tidak inggih inggih lagi sekarang. Sudah berani mendebat, berargumen, bahkan tidak segan menolak apapun yang saya putuskan sebelah pihak dan dia ga sreg. Nugi bukan lagi yes boy-nya Ara.

Perlahan namun pasti, dia makin meresapi perannya sebagai kepala rumah tangga secara utuh. Makin jelas kalau dia tidak mau menyerahkan posisinya sebagai leader di rumah ini kepada siapapun, bahkan kepada istrinya yang super galak dan sering kesurupan reog ini.

Perubahan yang sungguh bikin saya terharu dan bangga. Bikin saya kian yakin kalau saya tidak menikahi pria yang salah.

Nugi memang makin berani melawan saya, untuk hal-hal yang menurutnya tidak benar. Tapi dia melakukannya masih dengan cara  super lembut khas mas mas Jogja. Tanpa tarik urat leher, tanpa kata-kata mutiara, dan tentu saja tanpa main tangan sama sekali.

Kelembutan dan kesabarannya tidak sirna, bahkan seiring waktu kian bertambah. Inilah yang pada akhirnya selalu meluluhkan sisi emosional berlebih seorang Ara.

Semakin hari, kami makin lihai berdebat dan bernegosiasi dengan lebih elegan untuk menyelesaikan setiap konflik. Belum sempurna, tentu saja. Kadang masih ada momen-momen "kelepasan", tapi sudah jauh membaik dari triwulan pertama.


4. Sudah Bisa Pasang Badan untuk Ara



Saat baru menikah, masih di minggu-minggu awal kami serumah, saya dan Nugi sempat ada ribut besar. Saya berkonflik dengan keluarga Nugi perkara kesalahpahaman. Respon Nugi? Dia auto di pihak keluarganya dan menyalahkan saya dong. 3 lawan 1 gaes.

Apakah saya terus nangis-nangis minta dipulangkan ke Palembang? Oh, tentu tidak, Esmeralda! Justru saya yang "ngusir" Nugi dari kontrakan kami. Saya minta dia pulang ke tempat orang tuanya, ke keluarganya. Saya minta dia ambil waktu sebanyak yang dia perlukan, dan silakan kembali kapan saja saat dia sudah benar-benar siap berumah tangga.

Di mata saya saat itu, Nugi belum siap menjadi suami seorang Ara. Dia masih berat ke keluarganya. Memang tidak bisa disalahkan juga sih, keluarga kandung jelas segalanya buat Nugi. Tapi jujur saja, saya tidak mau serumah dengan suami macam itu. Buat saya, suami yang tidak bisa memberikan rasa aman ke istrinya itu suami yang belum beneran suami.

Tapi ternyata Nugi hanya kembali ke rumah ibunya beberapa hari saja, setelah itu dia pulang ke kontrakan petak kami dengan permintaan maaf dan perubahan sikap yang nyata.

Setelahnya, Nugi nyaris selalu berdiri di pihak saya ketika ada konflik dengan orang lain. Bahkan ketika menurutnya saya yang salah. Dia akan menegur dan mendidik saya di dalam rumah, tapi ketika menghadapi "dunia" dan segala masalahnya, dia selalu di sisi saya.

Lalu beberapa hari lalu, Nugi mendadak berbicara sangaaaattt ketus pada seseorang yang sebetulnya sangat dia hormati. Saat saya tanya kenapa, Nugi bilang dia tidak suka cara seseorang itu bertanya pada saya dengan nada mengintimidasi. Jadi perlu diberi pelajaran sedikit.

Padahal, saya merasa tidak ada masalah lho. Ya, cara orang itu bertanya memang bikin tidak nyaman sih, tapi rasanya tidak perlu juga kalau sampai diganjar keketusan Nugi sedemikian rupa. Saya masih bisa handle sendiri.

Tapi tentu saja saya berterima kasih dan mengapresiasi tindakan Nugi. Itu momen di mana saya merasa Nugi benar-benar makin matang sebagai seorang suami. Dia betul-betul pasang badan untuk saya tanpa diminta. Spontan begitu saja. Dan … Nugi terlihat seperti sosok berbeda. Saya masih sulit percaya kalau dia masih lelaki yang sama dengan yang saya suruh kembali pada ibunya berbulan bulan bulan lalu.

Tapi itu beneran Nugi. Nugi yang sama. Nuginya Ara, yang semakin hari semakin dewasa saja

***


Perubahan adalah keniscayaan. Segala sesuatu yang bertumbuh akan berubah. Tak terkecuali Nugi (juga saya). Jika seseorang tidak berubah, maka artinya dia berhenti tumbuh. Dan kalau sudah demikian, proses pembusukan pun dimulai.

Menikah benar-benar mengubah banyak hal. Disadari atau tidak. Disukai atau tidak. Diinginkan atau tidak. Perubahan apsti terjadi. Tinggal ke arah mana perubahan terjadi. Kian membaik kah? Atau justru memburuk? Siapkah kita menghadapi semua perubahan itu?


Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang masih berkenan meninggalkan jejak di postingan ini.


<to be continued>


Bonus :

Otin dan Ojan, anak baru kami


3

Baca juga

Cara Mengatasi Mata Kering Tanpa Ke Dokter A La Mommy Twins

Cara Mengatasi Mata Kering Tanpa Ke Dokter (kucingdomestik.com)  Belakangan saya sibuk cari cara mengatasi mata kering , kalau bisa ya yang ...