Mangrove sudah lama dikenal sebagai pohon yang punya fungsi ekologis, terutama sebagai garda terdepan penjaga pesisir. Hutan di tepi laut ini tak hanya hijau di permukaan, tapi juga punya akar-akar kuat yang muncul dari lumpur. Tugasnya bukan cuma melindungi pantai, tapi mangrove juga merupakan rumah bagi berbagai jenis biota.
Tapi pernah terpikir ga sig bahwa mangrove juga bisa menjadi sumber pangan?
Cerita ini saya temukan di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Lewat webinar EcoBloggerSquad bertajuk "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat" akhir September lalu bersama The Asia Foundation dan Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat.
Mama-Mama Friwen: Menjaga Hutan, Menjaga Pangan
Mereka terlibat dalam rehabilitasi hutan, menanam kembali mangrove di kawasan yang rusak, melakukan pemantauan, dan menjaga agar hutan tidak dieksploitasi sembarangan.
Ada hubungan yang sangat sederhana di sini: kalau hutannya rusak, sumber pangannya juga ikut terancam.
Karena itu, bagi mereka, menjaga mangrove dan memanfaatkan hasilnya bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya berjalan beriringan. Hutan menyediakan pangan, sementara pengetahuan tentang pangan menjadi salah satu alasan untuk terus menjaga hutan.
Yang dipertahankan akhirnya bukan hanya pohonnya, tetapi juga ilmu pengetahuan lokal, sumber pangan lokal yang tersedia, juga penghidupan masyarakat yang tumbuh di dalamnya.
Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen, Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota.
Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.
Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.
Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan anak muda.
Dari Mangrove ke Pohon Asam di Pinggir Jalan
Jauh dari Raja Ampat, saya menemukan contoh lain yang lebih dekat dengan keseharian.
Saat ini saya tinggal di Bandung. Di salah satu ruas jalan tidak jauh dari tempat tinggal saya, ada pohon asam jawa yang cukup besar. Selama ini saya mengenalnya seperti kebanyakan orang mungkin mengenal pohon di pinggir jalan: sebagai pohon peneduh.
Tajuknya lebar dan rindang. Berjalan atau berkendara di bawahnya terasa sedikit lebih teduh dibandingkan ruas jalan yang minim pepohonan.
Padahal, asam jawa (Tamarindus indica) punya fungsi lain yang tidak kalah menarik. Buahnya sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bumbu. Daging buahnya dapat diolah menjadi minuman, sirup, manisan, permen, dan berbagai produk pangan lainnya.
Pohon asam pun bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam lanskap jalan Indonesia. Penanaman pohon sebagai peneduh dan bagian dari penghijauan jalan sudah dilakukan sejak masa kolonial. Bandung sendiri memiliki sejarah panjang dalam penataan ruang hijau dan pepohonan di sepanjang jalan.
Kini, asam jawa kembali hadir dalam penataan kawasan Gedung Sate–Gasibu. Pohon-pohon yang ditanam di sana tentu masih membutuhkan waktu untuk tumbuh besar. Belum ada buah yang bisa dipanen dalam waktu dekat.
Tetapi justru di situlah menariknya.
Ketika sebuah pohon ditanam hari ini, kita mungkin sedang menanam manfaat yang baru akan terasa bertahun-tahun kemudian.
Menanam Lebih dari Sekadar Pohon
Mangrove di Friwen dan asam jawa di Bandung tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda. Tetapi keduanya mengingatkan kita pada satu hal sederhana: tanaman tidak selalu hanya punya satu fungsi.
Sebuah pohon bisa membantu menjaga ekosistem sekaligus menyediakan pangan. Bisa membuat lingkungan lebih teduh sekaligus menghasilkan sesuatu yang dapat dikonsumsi. Bahkan, ketika pengetahuan tentang pemanfaatannya tetap hidup, tanaman tersebut dapat menjadi bagian dari budaya dan penghidupan masyarakat.
Karena itu, mungkin saat memilih tanaman untuk penghijauan, kita tidak hanya perlu bertanya, “Seberapa rindang pohon ini?”
Kita juga bisa bertanya:
Apa yang bisa diberikan pohon ini kepada lingkungan?
Apa yang bisa diberikannya kepada manusia?
Dan yang paling penting, bagaimana kita memastikan manfaat itu tetap ada untuk generasi berikutnya?
Sebab menjaga pohon dengan fungsi ganda berarti menjaga lebih dari sekadar penghijauan.
Kita juga sedang menjaga kemungkinan: bahwa dari satu pohon, bisa tumbuh keteduhan, pangan, pengetahuan, dan kehidupan.
Kebetulan saat ini tinggal menghitung hari menjelang Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026, yang berlangsung pada 3–11 Oktober 2026 di Bangkok. Tahun ini, BKKCAW mengangkat tema “Rai Likit, Economy we Shape, Climate we Share”, dengan berbagai pembahasan yang mempertemukan isu iklim dengan ekonomi, sistem pangan, komunitas, serta alam dan keanekaragaman hayati.
Menariknya, beberapa agenda BKKCAW tahun ini secara langsung memperlihatkan bagaimana hubungan tersebut bisa diwujudkan. Misalnya, Forest Market yang menampilkan produk-produk hasil usaha sosial berbasis hutan yang dikelola perempuan.
Program itu menunjukkan bagaimana produk hutan bisa menciptakan penghidupan berkelanjutan sekaligus mempertahankan nilai ekonomi di dalam komunitas. Ada pula Sambal from the Forest, yang mengenalkan hasil pangan dari berbagai lanskap hutan Indonesia sekaligus mengangkat bagaimana pengetahuan perempuan mengenai pangan dan sumber daya hutan dapat mendukung ketahanan pangan rumah tangga, usaha komunitas, penghidupan berkelanjutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Nah, sampai sini harusnya kita semakin sadar, bahwa ternyata pohon-pohon itu tak hanya memberi manfaat baik bagi lingkungan. Ya buat sumber pangan, ya buat meningkatkan perekonomian. Makanya, jangan biarkan perubahan iklim merusak alam kita. Jaga alam, jaga hutan, untuk kehidupan anak-cucu kita di masa depan. Share dong tanaman di daerahmu yang juga punya manfaat ganda seperti mangrove atau asam jawa.





























