Menu
Recent Post


"Saya berjanji untuk hidup setia dan saling membantu, baik waktu suka maupun susah, waktu sehat maupun sakit, dalam berkekurangan ataupun berkelimpahan. Saya berjanji, akan menghormati, dan setia padanya dan tidak ada yang bisa menceraikan kami berdua kecuali maut."

___________________________________________


Waktu melihat kalender hari ini, aku kaget melihat tanggalnya sudah tiba di tanggal 29 Februari. Hari terakhir bulan cinta tahun ini. Buatku, waktu melesat cepat sekali. Isi kepalaku langsung melayang ke Februari 2023, tepat setahun lalu ketika rumah tangga #RagiStory mendapat ujian yang rasanya bikin kami berdua tidak bisa bernafas saking engepnya.


Februari tahun itu sebetulnya kusambut dengan sukacita. Seperti biasa, aku selalu berbahagia karena itu bulan lahirku. Biasanya aku tidak terlalu merasa gimana-gimana setiap ulang tahun. Tapi sejak Nugi hadir di hidupku, dia selalu merayakannya dan menghujaniku dengan cinta.


Tahun lalu juga begitu, kami masih sempat merayakan ulang tahunku di awal Februari. Terlebih perutku semakin membesar saat itu dengan dua janin di rahimku yang sudah menginjak 7 bulan. Deg-degan, mulai cemas dengan persalinan yang makin dekat, namun juga sangat excited. Ga sabar bertemu dengan dua malaikat kecil kami.


Namun ga ada angin ga ada hujan, tanpa warning atau firasat sama sekali, mendadak di suatu petang Nugi bilang kalau aku harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa keluarga kami. Awalnya Nugi enggan cerita detail, namun aku yang sudah gelagat kegelisahannya sejak berapa hari lalu membujuknya untuk cerita.


"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk cerita, tapi kupikir kamu dan kita harus menyiapkan diri. Kantorku lagi bermasalah, Beb. Ga tahu bakal bertahan apa nggak. Beberapa rekan kantor udah pada dipecatin, aku ga tahu kapan giliranku, tapi ada kemungkinan aku kena lay off juga," kata Nugi yang bikin jantungku auto bergemuruh.


Air mataku langsung meleleh. Hormon kehamilanku terlalu complicated untuk memproses informasi ini. Respon pertama adalah komplen ke Tuhan. Why now? Kenapa harus sekarang sih, Tuhan? Tepat di saat kehamilanku 7 bulan dan dokter sudah menyuruhku menyiapkan diri untuk persalinan kapan saja karena risiko kelahiran prematur untuk kehamilan kembar itu sangat tinggi.

Bahkan tanpa kabar ga enak seperti ini pun, beban mentalku menghadapi persalinan udah ga mudah. Ini lagi ditambah-tambahin begini. Tuhan ya ampun, mentalku ga se-setrong itu. Aku merasa aku akan jauh lebih woles andai kabar ini kuterima saat kami masih manten anyar. 

Saat itu kami masih berdua, rasanya masalah seberat apapun bisa ditanggung berdua. Tapi beda cerita saat tanggung jawab kami sudah nambah seperti ini. Dua sekaligus pula. Gimana kami membiayai dua bayi ini kalau Nugi ga lagi bergaji?


Aku benar-benar kalut saat itu. Fokusku hanya pada nasib Aya Sae yang ada di rahumku. Orang tua macam apa kami kalau sampai ga bisa menjamin awal hidup mereka di dunia ini?


Tapi mungkin ini salah satu privileged sudah menikah. Jadi, sekalut apapun aku saat itu, begitu melihat ekspresi Nugi, lelaki yang sangat kucintai ini rupanya juga ga bisa menyembunyikan kekecewaannya sendiri, emosiku yang biasanya meledak-ledak ga keruan justru mereda.

Perasaan "aku-ga-sendirian-lagi" itu malah nyata jadi penguat di saat tak terduga. Aku sadar, sefrustrasi dan sekecewanya aku, ga akan ada apa-apanya dengan yang dirasakan Nugi. Tanpa Nugi menjelaskan lebih jauh, aku tahu dia menyesali dirinya lebih dari apapun.


Nugi itu suami yang baik dan aku sangat yakin akan jadi Bapak yang baik juga. Tapi karena itulah dia jadi kelewat kecewa sama dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjadi sandaran keluarga kecilnya, justru di saat sosoknya sebagai pemimpin paling dibutuhkan.


Aku langsung "menampar" diriku sendiri, mengingatkan diriku sendiri, mengontrol diriku sendiri untuk ga mengeluarkan kalimat apapun yang akan menyalahkan Nugi. Nugi ga salah apapun di sini. Dia juga ga kuasa mengatur apapun yang terjadi di kantornya. 

Sebaliknya, di sini peranku sebagai istri, yang kata Tuhan adalah penolong yang sepadan itu teruji. Ara yang sebagai ibu hamil memang sudah down ga keruan sejak awal, tapi Ara yang sebagai istri ga boleh ikut down juga. Hancur semua kami nanti.


Aku meminta waktu menyendiri sejenak untuk menenangkan diri. Aku meminta maaf pada Aya Sae kalau gejolak emosiku sekarang dan dalam beberapa hari ke depan mungkin akan bikin mereka ga nyaman. Kuminta mereka bersabar dan bantu mendoakan kami, orang tuanya yang lemah ini agar dikuatkan Tuhan.


Setelah (agak) tenang, aku kembali pada Nugi yang masih tampak bengong dan terpuruk. Kuajak dia berdoa. Bukan kami sok relijies apa gimana, tapi justru kami mau komplen dan mengeluarkan semua uneg-uneg saat itu biar lega. Meski doa-doa kami cuma didominasi komplen, tapi di ujung doa aku memaksa diriku berucap, "Saat ini aku sungguh nggak ngerti kenapa kami harus menghadapi hal kaya gini sekarang. Tapi aku mau belajar percaya, bahwa Engkau punya maksud baik semua ini. Kalau memang harus kami melalui ini, kami ga akan menghindar, tapi tolong kuatkan kami melalui semua ini. Amin."

Seiring kepalaku mulai terurai selepas berdoa, aku yang sudah pernah menghadapi krisis bahkan beberapa kali masuk zona survival di sejumlah fase hidup sebelum ini, langsung menyiapkan sejumlah strategi dengan semua kemungkinan terburuk : Nugi dipecat.


Aku menyusun skala prioritas sambil mendata aset dan tabungan kami. Puji Tuhan, keputusan kami menunda pembuahan selama setahun khusus untuk menabung rupanya sangat tepat. Nugi sejumlah tabungan di rekening dan aku punya "celengan" dalam bentuk LM dan reksadana. 

Fokus kami adalah persalinan. Sisanya biar "dipikirkan sambil jalan". Aku meminta Nugi mengecek saldo BPJS ketenagakerjaannya. Puji Tuhan, rupanya jumlahnya sudah lumayan. Ada sekian puluh juta. Kubilang Nugi, amit-amit kamu beneran dipecat dan ga langsung dapat kerjaan baru, saldo ini udah cukup buat kita makan beberapa waktu dan buat modal usaha. 

Melihatku sibuk menyusun strategi, Nugi tampak tidak tinggal diam. Dia juga mulai mengusulkan sejumlah "jalan keluar", termasuk mengingatkan ada 2 CC-nya yang masih available dengan limit masing-masing belasan juta rupiah. 

So, untuk target jangka pendeknya sudah. Sementara kami masih bisa bernafas sampai persalinan. Tinggal pikirkan untuk yang jangka menengah dan panjangnya. Bisa sambil jalan. Yang penting, yang prioritas paling atas kami tidak perlu mencemaskannya dulu sekarang.


***

2023 kami lalui seperti roller coaster. Up n down dengan ekstrem kami lalui sepanjang tahun.

Bayiku selamat, Puji Tuhan. Tapi aku sempat kritis pascamelahirkan.

Nugi selamat dari lay off, namun perombakan manajemen kantor membuatnya harus didemosi dan membuat gaji bulanannya berkurang.

Persiapan tabungan anak kami selama setahun hanya dimaksudkan untuk satu anak, tapi ketika diberi dua sekaligus ... sungguh tidak mudah menyesuaikannya.

Tabungan kami habis lagi seperti waktu habis menikah, celengan LM-ku harus "disekolahkan", Nugi juga harus berutang CC.

Kami punya banyak pengeluaran tak terduga di tahun itu. Termasuk hilangnya HP Nugi dan anak bulu kami, Otin, yang sempat-sempatnya keracunan dan nyaris tewas (tagihan klinik hewannya, pemirsaah 🙃🙃🙃). Tapi juga dapat berkat tak terduga juga. Nugi dapat drone dan iPad dari menang lomba nulis.

Tapi seperti kata seorang teman baik yang padanya aku sampahkan semua kejadian ini,

"Ara dan Nugi, kalian tu bukannya hidup sendiri. Ga akan mungkin kami biarin Aya Sae kelaparan. Tenang-tenang, rukun-rukun, baek-baeklah di sana. Semua akan berlalu. All is well..."



***

Dan hari ini, tepat setahun setelah semua kejadian yang nyaris bikin aku ga bisa bernafas itu ...


Aku menuliskan semua ini di sebelah Aya Sae yang tertidur pulas. Mereka sehat dan tumbuh dengan baik. Imunisasi lengkap bahkan sampai ke imunisasi tambahan yang tidak disubsidi pemerintah.

Di kamar Nugi sedang mengikuti instruksi dari aplikasi belajar bahasa spanyol. Itu caranya rehat sejenak dari dua job-nya (ya, Nugi double job sekarang).

Tabungan LM-ku sudah pulang dari "sekolah". Beberapa bulan lalu Nugi sudah menebusnya.

Kami tidak pusing dengan kebutuhan harian atau anak, karena bahkan Aya Sae sudah "mampu" beli diapers dan skincare-nya sendiri lewat tawaran endorsement yang mampir ke akun sosmedku.

Sudah mulai membuat beberapa portfolio sekaligus untuk beberapa financial goals (termasuk untuk traveling one day).

PR kami hanya menyisakan sedikit cicilan CC yang masih dalam batas sangat aman untuk kesehatan finansial.


Tapi di atas semua yang terjadi ini, baik tahun lalu dan tahun ini --juga tahun-tahun ke depan kuharap-- aku sangat bersyukur bahwa #RagiStory bertahan. Aku berbahagia karena aku dan Nugi bisa saling mendukung dan tetap memegang janji pernikahan kami.


Aku dan Nugi sadar bahwa apa yang kami alami ini belum apa-apa. Tapi memang rumah tangga itu memang ga pernah mudah kan?


Kalau mau mudah, mungkin janji pernikahan di altar harusnya diganti :

"Setia dalam suka saja, sehat saja, dan berkelimpahan saja".







0

 

Kamaya dan Kisae 


Aku selalu membiarkan putri kembarku, Kamaya dan Kisae menangis satu dua menit lebih lama, meskipun aku sudah tahu mengapa mereka menangis. Buat sebagian orang, apalagi ibu-ibu senior, aku mungkin ibu yang kejam. Kok tega membiarkan anak menangis.

Tapi sebelum menghakimiku lebih jauh, biarkan dulu aku bercerita.

Aya dan Sae bukanlah anak-anak rewel. Mereka sangat jarang menangis. Bidan-bidan di ruang bayi berkata si kembar selalu anteng. Ibu Ratu juga membenarkan. Saat mereka baru berumur 3 hari dan harus kutinggalkan di rumah karena aku harus lanjut opname akibat preeclampsia dan anemia berat, Ibu Ratu bilang Aya dan Sae tidak pernah menangis. Jika ada yang membuat mereka tidak nyaman seperti lapar atau popoknya basah, mereka hanya menggeliat seperti cacing kepanasan.


Benar saja, Aya dan Sae memang tidak rewel. Tetangga kontrakan sampai tidak percaya kami punya anak bayi karena nyaris tidak ada suaranya.


Awalnya aku senang dengan kondisi ini, ketidakrewelan Aya Sae membantuku pulih dengan pesat. Aku bisa beristirahat dengan proper, begitupun Nugi dan Ibu Ratu. Kami hanya cukup memeriksa kondisi mereka berkala. Minum setiap 1-2 jam sekali dan memeriksa popoknya. Selebihnya aman tenteram damai sentosa.


Namun semakin hari, aku merasakan kejanggalan. Naluri keibuanku merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Sampai suatu ketika, aku melihat ekspresi Sae yang kira-kira berumur 2 mingguan tampak sangat tidak nyaman karena popoknya minta diganti, namun dia seperti berusaha keras menahan diri untuk tidak menangis.


Aku seperti tertampar. Melihat Sae seperti itu membawa ingatanku ke masa lalu. Di mana hatiku sempat mengeras seperti batu, dan tidak bisa menangis selama setidaknya 1,5 tahun. Jangan ditanya rasanya. Sungguh sesak dan tersiksa. Seperti mau mati.


Aku menangis melihat Sae seperti itu. Aku sadar bahwa selama ini Sae dan Aya bukannya tidak rewel, tapi mereka berusaha keras untuk tidak rewel agar tidak menyusahkan orang dewasa di sekitarnya.
Maka di hari-hari setelahnya, kuhabiskan quality time-ku bersama mereka dengan membisikkan kalimat-kalimat semacam …


"Nak, boleh lho nangis kalau tidak nyaman. Siapa yang suruh Aya dan Sae ga boleh nangis? Boleh lho, Nak..."


"Nak, nangis aja kalau ga nyaman. Kalau lapar boleh nangis, kalau sakit boleh nangis, kalau popoknya basah boleh nangis. Nangis lah, Nak..."


"Aya dan Sae takut nangis ya? Takut ganggu mommy, Bapak, sama Eyang? Ga papa, Nak. Kami ga papa kok... Aya sama Sae boleh nangis sepuasnya..."


dst.


Butuh waktu, namun perlahan-lahan mereka mulai berani mengekspresikan diri. Belum berbentuk tangis yang sebenarnya memang, lebih berupa rengekan atau keluhan. Tapi setidaknya ada kemajuan.
Dan aku, Nugi, dan Ibu Ratu juga kompak untuk terus sounding ke mereka. Bukan hanya soal tangisan, namun kami kompak mengenalkan mereka pada emosi dan perasaan-perasaan lain yang dirasakan.
Termasuk jika ada saat-saat aku kelepasan marah pada Nugi dan mereka terpaksa mendengarnya. Kujelaskan pada mereka bahwa tadi aku marah sekaligus meminta maaf karena bikin mereka tidak nyaman.


Hari demi hari berlalu, Aya dan Sae mulai tampak normal. Mereka sudah bisa menangis, meski intensitasnya masih tidak sesering bayi-bayi lain yang selama ini kutemui seumur hidup.


Sampai sekarang, Aya dan Sae hanya menangis ketika kami sudah sangat terlambat memahami kode-kode ketidaknyamanan mereka. Itupun langsung diam seketika jika kami sudah memenuhi apa yang jadi kebutuhannya. Selebihnya, mereka lebih memilih berkomunikasi lewat ekspresi wajah, gerakan tangan, atau ocehan-ocehan kecil dari bibir mungil mereka.


Saking langkanya momen mereka menangis, aku selalu membiarkan mereka menangis satu atau dua menit lebih lama. Semata untuk mengajarkan mereka bahwa menangis itu melegakan. Bagaimana pun, manusia itu butuh menangis. Seperlunya. Sewajarnya.


Dan itulah yang dilakukan Aya dan Sae. Mereka menangis seperlunya dan sewajarnya. Aku sebagai ibunya tentu juga tidak akan membiarkan mereka menangis berlama-lama.


Karena diberi kesempatan menangis dengan porsi yang cukup, Aya dan Sae kini perlahan tumbuh jadi bayi-bayi yang cukup cerdas secara emosional. Sama sekali tidak sulit menenangkan mereka jika sudah terlanjur menangis. Mereka juga banyak tertawa dan sudah bisa diajak bercerita.


Dan kubiarkan anakku menangis satu dua menit lebih lama, agar mereka tahu apa guna air mata. Kelak tentu akan kuajarkan juga, bahwa menangis itu bukan hanya bentuk ekspresi ketidaknyamanan, namun bisa juga sebagai wujud kebahagiaan.
Akhir-akhir ini aku sering sekali mendadak menangis sendiri saking bahagianya.

Kalau kamu? Kapan terakhir menangis bahagia?



0


Ragi Story : Desember 2023, Ketika Sukacita Natal Itu Kembali

Sudah lama ga update Ragi Story, padahal kami punya banyak cerita. Salah satunya adalah di Desember 2023 ini, kali pertama kami merayakan Natal dengan formasi lengkap setelah si kembar lahir. Sukacita kami sekeluarga tertuang di postingan kali ini.
___________________________________________________________________
Sewaktu kecil, aku merasa sukacita natal itu terpampang nyata. Aku ingat betapa antusiasnya Ara kecil menyambut Desember dan hari natal. Sibuk sekali pokoknya. Entah latihan menyanyi, membuat koreografi tarian untuk tampil di gereja, membantu mama membuat kue, atau sekadar menerka-nerka akan dapat baju natal baru seperti apa.

Sayangnya, sukacita dan antusiasme menyambut natal ini kian meredup seiring bertambahnya usia. Mulai mengerti rasa malu dan malas untuk sekadar tampil di acara gereja, mulai enggan juga bertemu banyak orang saat tradisi sanjo (saling berkunjung, bersilaturahmi ke rumah teman dan kerabat setiap hari raya) karena malas ditanya-tanya, serta alasan-alasan lainnya yang entah kenapa bikin Natal rasanya jadi tidak semenarik dulu saat masih kecil.

Sekitar tahun 2010-an, aku mulai merasa makin lempeng dengan Hari Natal. Tidak membencinya, namun apa ya… semacam kehilangan sprakle di hati. Saat itu keluargaku harus tercerai- berai pisah kota karena badai ekonomi yang menerpa kami. Usaha papa bangkrut sehingga semua aset harus ludes terjual. Papa, mama, kakak, nenek dan aku sendiri terpaksa berpisah karena harus berjuang bertahan hidup.

Selama beberapa tahun kemudian, aku kerap melewatkan natal tanpa keluargaku. Ketika akhirnya kemudian bisa berkumpul lagi karena aku menyusul pindah ke Palembang (dari kota sebelumnya, Bengkulu), rupanya tidak bertahan lama juga. Papa meninggal pada Desember 2017, hanya beberapa minggu menjelang Natal.

Natal terakhir bersama papa, aku bahkan ga punya foto yang resolusinya lebih baik 😭

Sejak tahun itu, aku praktis "membenci" desember juga natal. Aku terlalu sakit ditinggal pergi papaku untuk selamanya. Meski manusia memang tidak pernah terbiasa dengan lubang-lubang kehilangan, namun buatku, Desember dan Natal hanyalah sebuah momen untuk membuka lagi memori luka itu.


Tahun berikutnya kakakku satu-satunya juga sudah sibuk dengan keluarga barunya. Alhasil, natal hanya bisa kulewatkan berdua saja dengan mama. Untuk seseorang yang sangat merindukan hangatnya keluarga di setiap hari raya, aku sungguh merasa kesepian.

Natalku berteman sepi
Saat itu, aku masih merayakan Natal sepertinya hanya karena KTP-ku Kristen. Tapi jauh di lubuk hati terdalam, aku benar-benar kehilangan sukacita natal itu sendiri.

Desember 2019, Ketika Nugisuke Hadir di Hidupku

Natal bersama Nugisuke

Setelah dua tahun penuh berkutat dalam duka mengenang papa tercinta, seorang mas-mas Jogja yang stay di Bandung mendadak hadir di hidupku. Meski hanya berjumpa di udara, hadirnya ternyata mampu menarikku agar tak berkubang dalam kesepian terlalu dalam.


Papa tentu belum tergantikan sosoknya. Namun ketika aku punya seseorang yang kemudian berjanji untuk menemani hari-hari, membuatku merasa tak lagi kesepian dan sendiri. Nugi, si mas-mas Jogja itu kemudian memintaku menjadi kekasihnya di Desember 2019. Tepat ketika era pandemi resmi dimulai di Tiongkok.

Tak menyangka namun bersyukur, komitmen kami pun rupanya berlanjut. Berturut-turut Desember setelahnya kulalui dengan aman sentosa karena punya seseorang yang bisa menemaniku merayakan natal.

2020, kami merayakan Natal di Jogja. Tak lama kemudian, tepatnya di malam tahun baru 2021, Nugi melamarku dan kami resmi bertunangan.
Saat bertunangan di gereja

Tahun 2021, kami di Palembang sebagai manten anyar. Pada malam natal, kami malah di bioskop nonton Spiderman. Rencananya mau ibadah esok paginya saja. Eh malah kejebak banjir, alhasil kami melewatkan ibadah natal tahun itu. Kami hanya sempat menemani mama natalan di dusun sambil menikmati hari-hari kami sebagai manten anyar. 
Natal 2022, bersama mama dan Aya Sae di perut

Tahun 2022, kami merayakan Natal di Bandung. Tepat satu minggu setelah kami pindahan dari Jogja. Kami ga cuma berdua saat itu, sudah ada Aya Sae yang berusia enam bulan dalam kandunganku, juga mama yang baru datang dari Palembang.

Desember 2023, Ketika Sukacita Natal Itu Kembali

Desember 2023, Ketika Sukacita Natal Itu Kembali

Desember 2023 ini ada yang berbeda. Beberapa minggu sebelum Desember tiba, aku sudah memesan sejumlah ornamen penghias pohon natal di market place. 1 renceng lampu hias dan beberapa item gantungannya. Lalu membeli 5 topi Santa Claus sekaligus, masing-masing untukku, Nugi, Aya, Sae, dan mama.

Aku juga mulai hunting sejumlah hampers kue kering yang akan segera ku-check out begitu THR dari kantor Nugi cair. Termasuk memesan gula batok langsung dari Palembang untuk persiapan membuat cuko pempek.

Nugi berjanji akan mengajak kami semua ke mall menjelang Natal dengan agenda utama membeli baju baru, terutama untuk Aya Sae sambil makan di luar. Kami juga berencana membuat foto keluarga bertema natal dan mulai mereka-reka dimana tempat dan kapan timing yang tepat untuk mengambil foto.
Menghadiri Natal gabungan bertema budaya Sunda, awal Desember

Kami juga merekap jadwal-jadwal perayaan natal di gereja kami. Termasuk rencana membawa Aya Sae ikut perayaan natal khusus anak sekolah minggu.

Dengan semua rencana itu, aku jadi gelisah dan suka mondar-mandir sendiri saking excited-nya. Euforia menyambut natal sangat terasa di rumah kontrakan minimalis kami. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali seantusias itu.

Meski demikian, semua perasaan itu terasa begitu familiar. Seperti de javu, seperti sobat lama yang bersua kembali. Aku ingat, aku ingat semua semangat ini. Aku selalu mengalaminya setiap tahun, dulu sekali. Mungkin belasan atau puluhan tahun yang lalu.

Aku tak bisa berhenti mengukir senyum di sepanjang Desember. Terlebih ketika semua rencana itu mulai terealisasi satu per satu, meski ternyata tak semulus yang direncanakan. Adaaa saja "insiden" yang mengganggu.

Beberapa insiden tersebut antara lain, lampu pohon natal yang kami beli tahun lalu rupanya hanya bertahan beberapa hari dan mati. Tambahan lampu yang kubeli dari market place rupanya kualitasnya juga buruk dan menyusul mati. Nugi jadi terpaksa beli baru yang setelah dipasang ternyata kurang panjang. Alhasil kami memutar otak untuk mengakali agar lampunya cukup (yang berhasil dengan hanya menghias ⅔ pohon natalnya. Yang menghadap tembok tidak perlu diberi lampu).
Nugisuke opname, pertengahan Desember

Insiden "terberat" adalah Nugi yang ndelalah harus opname di rumah sakit karena asthma-nya kambuh. Bagian ini mungkin kelak akan dibahas dalam tulisan tersendiri. Namun karena ini, kami harus merelakan Aya Sae batal ikut perayaan natal sekolah minggu. Issoke, girls. Tahun depan ya, Nak…

Lalu THR natal Nugi yang diproyeksikan akan turun 1-2 minggu sebelum natal, ternyata baru cair hanya beberapa hari menjelang Natal. Jadinya was was nungguin paket kue kering. Takut ekspedisi kadung overload. Untunglah, paketnya sampai sebelum Natal tiba.

Insiden berikutnya adalah ketika sesi foto keluarga tepat di malam Natal. Kami sudah mempersiapkan diri dan terutama menyiapkan mood Aya Sae agar siap difoto. Rupanya sesi pemotretan tak berjalan mulus. Aya yang biasanya banci kamera mendadak menangis meraung-raung. Kemungkinan karena kelelahan setelah belanja di mall.

Aya menangis saat sesi foto

Namun semua itu tidak sebanding dengan sukacita yang aku –kami-- rasakan. Aku bahkan sempat menangis terharu ketika ibadah Natal. Merenungi betapa baiknya Tuhan pada keluarga kami. Mensyukuri setiap penyertaan Tuhan di sepanjang tahun 2023. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur ga habis-habis pokoknya.
_________________________________________________________________________________

Pada akhirnya, Natal selalu berbicara tentang kasih. Bagaimana kasih Tuhan hadir dalam hidupmu. Bagaimana kamu hidup dengan mengasihi Tuhan dan sesamamu.

Aku sendiri merasakan kasih Tuhan nyata hadir di rumahku, yang kini lengkap berisi orang-orang terkasihku. Aku masih ingin merayakan banyak natal dan natal lagi bersama mereka. Bukan hanya tahun 2023 ini, namun di tahun-tahun berikutnya juga. 


Has been written with a grateful heart and a bunch of thanks, for those that I Love the most :

Nugi, best husband in this universe.

Aya dan Sae, our little angels from heaven.

Mama, my super and wonderful woman ever.

Wouldn't be Christmas without all of you, guys!

(Bandung, akhir tahun 2023)




2


Menjadi Ibu, Memintal Cinta Bersama Miyako Nanoal (kucingdomestik.com)

Kalau ditanya apa satu kata yang mendeskripsikan 2023 bagiku, maka jawabannya adalah: ajaib. Tahun 2023 adalah tahun yang ajaib bagiku, karena di tahun inilah aku menyandang peran baru sebagai seorang ibu. Dulu sebelum melahirkan, aku sering berpikir, "Bisakah aku jadi ibu yang work-life balance seperti Nikita Willy Si Brand Ambassador Rice Cooker Miyako itu?" 
Aku mendamba jadi ibu yang hadir dengan kasih, jago masak, namun juga tanpa kehilangan dirinya. Sekarang, tepat di penghujung tahun, aku mau membagikan perjalanan itu dalam tulisan ini.

______________________________________________________________________________

Tahun 2023 ini aku menjadi ibu untuk pertama kali. Tidak tanggung-tanggung, aku dipercaya Tuhan membersamai dua anak sekaligus. Buat yang belum tahu, saat ini aku punya dua putri kembar. Namanya Kamaya (Aya) dan Kisae (Sae) yang saat ini berusia 9 bulan.

Momen tak terlupakan, perdana mendekap Aya dan Sae

Menjadi ibu sungguh tidak mudah, namun juga sekaligus anugerah terindah. Menjadi ibu berarti sebuah proses dan pembelajaran seumur hidup. Menjadi ibu tak hanya mendampingi sang buah hati tumbuh, namun juga harus mau ikut bertumbuh.

Ibu adalah sebuah bentuk cinta. Yang setiap senyumnya adalah bait-bait doa. Yang tutur serta lakunya diawasi semesta. Ibu adalah tempat pulang, dimana peluknya selalu bersemayan kehangatan.

Ibu adalah sebuah potret keikhlasan dan pengorbanan. Demi anak selamat dilahirkan, seorang ibu bukan hanya ikhlas kehilangan waktu me time atau bentuk badan, bahkan nyawa pun siap digadaikan. Aku sendiri sempat merasakan berada di antara hidup dan mati ketika kritis karena preeklamsia pasca-melahirkan. Tidak masalah, toh segalanya sepadan.

Nikita Willy, Sosok Ibu yang Menginspirasi

Nikita Willy dan Miyako Nanoal

Sebelumnya aku belum pernah merasakan jadi ibu. Sehingga ketika resmi menyandang status sebagai ibu, segalanya masih serba baru. Aku membutuhkan banyak guru untuk mengajariku melewati hari-hari sebagai ibu. Siapa saja bisa menjadi guruku, baik orang tua, teman-teman ibu senior, dokter dan tenaga medis lainnya, buku-buku, artikel di internet, media sosial, hingga sosok publik figur yang menginspirasi.

Nikita Willy adalah salah satu sosok ibu yang banyak menginspirasiku. Dia masih terhitung sebagai ibu baru bagi putranya, Baby Izz. Sebagai publik figur yang tentunya punya kesibukan lebih dari ibu rumah tangga biasa sepertiku, aku melihat Nikita Willy benar-benar mengambil perannya sebagai ibu dengan sangat serius.

Nikita Willy diketahui mengasuh sendiri Babby Izz tanpa bantuan baby sitter. Dia menerapkan sejumlah aturan untuk bayinya dengan lembut namun konsisten. Misalnya sleep training, feeding rules, juga pembatasan gadget dan lebih banyak membacakan buku.

Nikita Willy yang Menginspirasi

Di samping itu, Nikita Willy juga memberi contoh bagaimana berbagi peran yang setara dengan suaminya dalam hal pengasuhan anak. Ayah benar-benar ikut terlibat dalam membersamai tumbuh kembang anak. Ini hal yang sangat baik mengingat fakta bahwa Indonesia adalah termasuk dalam kategori fatherless contry.

Lalu bagian yang kerap diabaikan banyak ibu adalah, bagaimana Nikita Willy ternyata tetap punya waktu untuk memperhatikan dan merawat dirinya sendiri. Dengan segala kesibukannya, Nikita masih menekuni hobinya berolahraga dan menari. Nikita Willy mengajarkanku bagaimana kebahagiaan seorang ibu itu sama pentingnya dengan kebahagiaan anggota keluarga yang lain. Malah, sesungguhnya ibu yang berbahagialah yang jadi kunci anak-anak berbahagia.

Memintal Cinta Lewat Dapur dan Masakan

Meski sibuk, Nikita Willy masih sempat memasak untuk keluarga 

Dilihat dari aspek manapun, aku dan Nikita Willy memang ibarat langit dan bumi. Beda kasta, beda dunia. Meski demikian, rupanya ada satu persamaanku dengan Nikita Willy, yakni kami sama-sama memintal cinta lewat dapur dan masakan. Nikita Willy cukup sering memamerkan aktivitasnya memasak hidangan lezat untuk keluarganya.

Aku dan Nikita Willy kebetulan sama-sama berasal dari Sumatera. Bagi kami orang Sumatera, masakan adalah sumber kebahagiaan, wujud cinta, penghormatan, juga rasa syukur. Orang Sumatera kalau makan piringnya harus "ramai" karena tidak pernah diajari berhemat atau berlaku prihatin kalau menyangkut soal makanan. Makanya, jangan heran jika di rumah makan padang atau Palembang langsung disuguhi bermacam-macam hidangan sekaligus nyaris seperti sedang kondangan. Sebab dalam keseharian, kami terbiasa disiapi makanan yang demikian oleh Ibu kami di rumah.

Contoh masakanku untuk keluarga

Aku terbiasa memasak sepenuh hati untuk keluarga. Lewat masakan, aku menambahkan banyak cinta di dalamnya. Lewat menghabiskan setiap bekal yang dibawanya ke kantor, suamiku membalas semua cinta itu sama besarnya. Lewat menghabiskan setiap porsi MPASI-nya, bayi-bayiku paham kalau aku mencintai mereka.
Terkadang bahasa cinta ibu memang tak selalu berupa untaian kalimat indah. Lebih sering berupa telapak tangan yang beraroma kunyit atau bawang merah.

 

Masak Lebih Optimal Bersama Miyako Nanoal

Mengurus bayi kembar tentunya jauh lebih riweh ketimbang satu bayi saja. Ibu dituntut harus lebih kreatif dalam membagi waktu. Termasuk dalam urusan memasak, efisiensi waktu mutlak diperlukan. Dalam hal ini, aku sangat terbantu dengan hadirnya sejumlah barang elektronik yang memudahkan proses memasak seperti chopper, blender, air fryer, dan (tentu saja) rice cooker.

Nikita Willya, Brand Ambassador Miyako

Berbicara tentang rice cooker, dari Nikita Willy selaku brand ambassador Miyako, aku mengenal Rice Cooker Miyako MCM-586 BH yang menggunakan panci nanoal. Iya, Nikita Willy Pakai Miyako lho gaes!

Nah, sebagai makhluk yang cukup visual, aku merasa langsung jatuh hati ketika lihat rice cooker ini "bersanding" dengan Nikita Willy. Desain dengan warna baby pink-nya terlihat imut, manis, dan sangat cocok dengan dapur kontrakanku yang minimalis.

FYI, buat yang belum tahu, nanoal adalah suatu lapisan anti lengket pada panci rice cooker yang membuatnya tidak mudah tergores, lebih tahan lama, dan tidak membuat nasi cepat kering. Pada Rice Cooker Miyako MCM-586 BH, nanoalnya terbuat dari bahan berlian hitam.

Alasan memilih Miyako Nanoal

Meski sekilas terlihat mungil dan imut, namun kapasitas Rice Cooker Miyako MCM-586 BH ini sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga kecilku. Panci nanoal-nya muat menampung beras hingga 1,8 liter dan untuk nasi mencapai 5 liter. Wah, besar juga ternyata.

Aku sangat terbantu dengan fitur 3 in 1 rice cooker ini. Tidak hanya bisa memasak dan menghangatkan nasi, namun juga ada fungsi mengukus yang banyak membantuku dalam membuat MPASI untuk si kembar. Jadi ketika masak nasi untuk orang dewasa, kukusannya bisa sekalian membuat nasi lembek atau bubur untuk bayi. Terlebih, Panci Nanoal Miyako ini sudah lulus uji food grade serta bersertifikasi bebas dari zat kimia asam perfluorooctanoic (PFOA) berbahaya. Jadi dijamin aman dan ga was-was lagi untuk menyiapkan makanan untuk keluarga.

Fitur kukusan Rice Cooker Miyako Bisa dipakai untuk memasak MPASI (sc. YouTube Bunda Juna Jasmine)
_________________________________________________________________________

Menjadi ibu memang penuh tantangan. Namun dengan berbagi peran bersama pasangan dan peralatan rumah tangga seperti rice cooker Miyako yang bisa diandalkan, semuanya dapat dengan baik berjalan. Menyajikan masakan yang enak adalah salah satu caraku untuk hadir dan mengalirkan cinta pada keluarga. Karena di dalam setiap masakan, ada kasih sayang ibu yang tak lekang oleh zaman.

Menjadi Ibu adalah pembelajaran sepanjang masa



4


Mata saya cuma dua seperti manusia pada umumnya, namun punya banyak cerita. Mulai dari mata memerah karena gejala mata kering, hingga nyaris buta karena preeclampsia pasca-melahirkan bayi kembar pada Maret 2023 lalu. Semuanya akan saya rangkum dalam tulisan di penghujung tahun berikut ini :

Mata Kering di Hari Raya Hingga Nyaris Buta Karena Preeklamsia (kucingdomestik.com)

Beberapa hari lalu, saya dan keluarga kecil saya baru merayakan hari Raya Natal. Ini tahun pertama saya merayakan natal dengan kedua putri kembar kami, Aya dan Sae, setelah tahun sebelumnya mereka masih berada dalam kandungan.

Tradisi merayakan Natal di Bandung agak berbeda dengan kota saya sebelumnya, Palembang. Di Bandung tidak ada tradisi sanjo (tradisi saling berkunjung antar teman dan kerabat untuk bersilaturahmi di hari raya) sehingga rumah kami cenderung sepi. Meski demikian, tetap ada beberapa kerabat kami yang mampir berkunjung sekalian menengok si kembar.

Hari itu, 25 Desember, kami sekeluarga memulai hari dengan ibadah pagi di gereja. Gedung gereja kami baru difungsikan kembali setelah renovasi. Bangunannya belum sempurna, namun AC-nya terpantau sudah terpasang sangat dingin (setelah di waktu sebelumnya kami harus puas dengan kipas angin).

Saat pulang ke rumah, saya kembali terpapar AC yang dingin di dalam taxi online yang kami tumpangi. Tidak heran sih, sebab meskipun sudah masuk musim penghujan, cuaca Bandung sangat panas hari itu.

Alhasil, mata saya pun kena imbasnya. Mendadak merah dan terasa sangat perih dan sepat. Sangat tidak nyaman. Namun saya menahan diri untuk tidak menguceknya karena tahu hal itu cuma akan memperburuk keadaan. Kondisi ini sungguh bikin drama karena di saat bersamaan saya tetap tidak boleh mengalihkan pandangan dari kedua bayi saya yang lagi aktif-aktifnya merangkak ke sana kemari. Bagaimana mau mengawasi kalau pandangan jadi benar-benar terganggu seperti ada pasir kasar yang menempel di mata.

Mata merah dan sepat karena kering

Apa yang terjadi pada mata saya adalah gejala mata kering. Biasa terjadi karena faktor udara atau paparan AC dan gadget yang berlebihan. Kondisi ini disebabkan oleh mata yang tidak cukup mendapat pelumasan dari air mata.

Normalnya, permukaan mata kita akan dialiri air mata secara berkala setiap kali berkedip. Namun pada kondisi mata kering dimana produksi air mata terganggu, permukaan mata jadi tidak terlumasi dengan baik. Inilah yang disebut sindrom mata kering atau bahasa kerennya : Keratoconjunctivitis sicca.

Apakah pelumasan air mata sepenting itu?

Ya! Air mata bukanlah air biasa karena punya komposisi air, garam, minyak, lendir, dan protein. Fungsinya untuk melumasi mata dan menjaga permukaan mata tetap halus. Air mata juga mampu melindungi mata dari benda asing dan kuman penyebab infeksi.

Fungsi air mata

Maka dari itulah, kondisi mata kering harus segera diatasi. Sebab jika dibiarkan saja bisa berakibat fatal bagi penglihatan. Pertolongan pertama saya pada kondisi mata kering adalah dengan meneteskan eye drop untuk membantu pelumasan mata. Dalam hal ini, saya selalu sedia #InstoDryEyes di kotak obat mengingat saya sehari-hari juga susah lepas dari gadget sehingga cukup rentan terkena mata kering. Baik karena faktor pekerjaan (sebagai content writer) atau hanya sekadar hobi (nonton dan membaca e-book) yang bikin mata pegel, mata sepet, dan mata kering.

Insto Dry Eyes Sebagai Solusi Mata Kering

Insto Dry Eyes, Solusi untuk Mata Kering

Bukan tanpa alasan mengapa saya memilih Insto Dry Eyes sebagai #SolusiMataKering. Si Mungil Biru ini punya kandungan bahan aktif yang bekerja dengan memberi efek pelumas seperti air mata, yakni hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg dan benzalkonium chloride chloride 0,1 mg. Kedua bahan aktif ini bermanfaat untuk meringankan rasa tidak nyaman akibat kurangnya air mata.

Sepengalaman saya, setelah meneteskan 1-2 tetes Insto Eye Drop di mata yang kering, efeknya langsung terasa. Tidak sampai hitungan jam, mata saya tidak lagi kemerahan dan kembali nyaman.

Selain itu, Insto Dry Eyes ini hadir dalam kemasan mungil nan praktis yang bisa dibawa kemana pun, bahkan bisa masuk dalam tas kecil sekalipun. Dikemas dalam botol 7,5 ml, harga Insto Dry Eyes juga sangat terjangkau : Rp 18 ribuan saja!
Insto Dry Eyes, Si Biru Mungil Kesayangan

Saya merasa cocok dengan Insto Dry Eyes karena selain terbukti jadi solusi mata kering, yang terpenting adalah aman ketika digunakan. Tidak menimbulkan reaksi alergi atau efek samping berlebihan. Ga rugi deh selalu sedia Insto Dry Eyes untuk digunakan kapan pun di manapun saat dibutuhkan.

Nyaris Buta Permanen Karena Preeklamsia

Saat ini saya cukup protektif dengan kesehatan mata. Jangankan mata kering, kelilipan debu sedikit saja saya sudah heboh sendiri biasanya. Saya juga mulai mengontrol durasi dalam penggunaan gadget agar tidak membuat mata saya lelah.

Saya rasa, semua orang akan bersikap seperti saya jika sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan penglihatan. Ya, saya sudah pernah nyaris buta permanen karena preeklamsia.

Akhir Maret 2023 lalu, saya sempat berada di antara hidup dan mati pasca-melahirkan dua putri kembarku. Postpartum anemia dan preeklamsia. Buat yang belum tahu, preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan melonjaknya tekanan darah.

Tingginya tekanan darah saya pasca melahirkan (melebihi 180/120 mmhg) membuat pembuluh mata saya bengkak dan nyaris pecah. Kata dokter, terlambat sedikit saja mendapat pertolongan dan pembuluh mata terlanjur pecah, maka saya akan buta permanen.

Saya saat nyaris buta karena preeklamsia 

Saya yang seumur hidup berkutat dengan hipotensi (darah rendah) dan mendadak nyaris tewas karena hipertensi (darah tinggi) saat melahirkan, tentu saja sempat kebingungan dengan kondisi ini. Namun kemudian saya mendapat penjelasan, bahwa kehamilan dengan janin kembar memang meningkatkan potensi preeklamsia.

Saya bersyukur akhirnya bisa melewati masa kritis. Tidak sampai kehilangan nyawa atau pun buta permanen. Meski demikian, penglihatan saya sempat tidak berfungsi selama kira-kira satu minggu. Saya tidak bisa melihat apapun karena sangat blur. Bahkan ketika sudah pulang dari rumah sakit pun, saya belum bisa melihat wajah kedua bayi saya dengan jelas.

Perempuan dan Risiko Kesehatan Mata

Apa yang saya alami sebelumnya menyadarkan saya bahwa kaum perempuan rupanya punya faktor risiko lebih tinggi untuk kesehatan mata, termasuk dalam urusan mata kering. Selama ini sungguh nyaris tidak pernah terpikirkan oleh saya.

Mata kering 

Melansir alodokter, ada sejumlah kelompok orang dengan faktor-faktor yang lebih berisiko mengalami mata kering, yakni :

✓Berusia di atas 50 tahun
✓Berjenis kelamin wanita
✓Mengalami perubahan hormon, misalnya karena kehamilan, konsumsi pil KB, atau menopause
✓Menderita penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh, seperti lupus atau rheumatoid arthritis
✓Mengalami kekurangan vitamin A
✓Menggunakan lensa kontak dalam waktu yang lama
✓Pernah menjalani operasi refraktif untuk memperbaiki penglihatan

Wah, berat juga ya jadi perempuan. Sebagai sesama kaum perempuan, saya jadi ingin mengingatkan agar kita lebih aware lagi dalam menjaga kesehatan mata kita.

Mungkin bisa dimulai dengan hal-hal sederhana seperti menjaga pola hidup dan rajin mengonsumsi makanan yang baik untuk kesehatan mata. Selain itu, juga bisa dilakukan dengan membatasi penggunaan gadget. Kalau pun memang terpaksa harus terpapar gadget setiap harinya, minimal ambil time out secara berkala untuk mengistirahatkan mata.

Jangan sampai karena terlalu berambisi mengejar dunia, kita malah kehilangan jendelanya. Yuk, sayangi mata kita!

4

Suara Remaja Disabilitas untuk Pemilu 2024

Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 sudah di depan mata. Kurang dari 3 bulan lagi, tepatnya pada 14 Februari 2024, masyarakat Indonesia bisa memilih langsung pemimpin negara juga para wakil rakyat di parlemen. Digelar serentak di seluruh wilayah NKRI, setiap warga negara yang memenuhi persyaratan bisa memberikan hak suaranya, termasuk remaja juga penyandang disabilitas.

Suara pemilih pemula yang didominasi kaum remaja sangat patut diperhitungkan. Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU), dari total daftar pemilih tetap (DPT) yang tercatat untuk Pemilu 2024 yakni 204.807.222 pemilih, 22,85%-nya atau 46.800.161 pemilih merupakan generasi Z.

Di antara para pemilh pemula tersebut, ada sejumlah kelompok disabilitas yang telah dijamin hak suaranya oleh negara seperti yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

Para remaja penyandang disabilitas ini rupanya cukup antusias menyambut pemilu 2024. Tentunya tidak sabar menanti pengalaman menggunakan hak politik untuk pertama kalinya.

Terkait hal ini, pemerintah melalui Badan Pengawas Pemilu rutin melakukan sosialisasi agar para penyandang disabilitas mau berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.

Hal ini tergambar dalam talkshow yang digelar Ruang Publik KBR bekerja sama dengan NLR Indonesia bertajuk "Partisipasi Remaja dengan Disabilitas dalam Pemilu 2024" pada Selasa (28/11) lalu. Dua orang narasumber hadir secara virtual, yakni Noviati, S.IP mewakili Pusat Pengambangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat) sekaligus Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah dan Kenichi Satria Kaffah yang Merupakan Seorang Remaja Disabilitas.

Remaja Disabilitas Butuh Difasilitas

Kenichi Satria Kaffah mengaku sangat antusias menyambut pemilu 2024 mendatang. Sebab untuk pertama kalinya remaja ini akan menggunakan hak suaranya.

Meski demikian, diakui Kenichi masih banyak kendala yang dihadapi para penyandang disabilitas dalam memberikan hak suaranya. Selain karena masih kurangnya sosialisasi di sejumlah daerah, terkadang juga ditemui sejumlah TPS yang belum ramah penyandang disabilitas.

"Sosialisasi ini penting sekali, karena banyak teman-teman saya yang belum terjangkau informasi soal pemilu dan menyalurkan hak pilih ini. Padahal kalau tahu, mereka pasti akan sama antusiasnya seperti saya," kata remaja yang akrab disapa Ken ini.

Ken bahkan punya persiapan khusus untuk menghadapi pemilu, salah satunya yakni dengan cara aktif mengikuti sejumlah sosialisasi bersama KPU dan Bawaslu, kemudian meneruskan informasi yang didapat kepada rekan-rekannya.

"Saya berharap remaja dengan disabilitas juga turut berpartisipasi langsung di pemilu ini. Sebab hak suara kami juga patut diperhitungkan dan tentunya sangat berpengaruh karena turut menjadi bagian penting dalam menuju Indonesia Emas 2045.

Panwaslu Fasilitasi Remaja Disabilitas

Menanggapi keluhan remaja disabilitas, Noviati mengatakan tanggung jawab utama panwaslu adalah meningkatkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal ini, salah satu yang diprioritaskan adalah memastikan fasilitas yang digunakan sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk agar ramah digunakan oleh penyandang disabilitas.

Selain itu, sesuai dengan peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 22 Tahin 2022 tentang penyusunan daftar pemilih dan sistem informasi data pemilih, pemerintah sudah memberikan ruang yang seluas-luasnya terhadap disabilitas mulai dari hak untuk didaftar sebagai pemilih, hak memberikan suara secara rahasia, hak atas TPS yang accesible, termasuk untuk mencalonkan dan dicalonkan sebagai anggota legislatif termasuk jika ada disabilitas yang berkeinginan untuk mendaftar sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

"Panwaslu sudah seharusnya memfasilitasi penyelenggaraan pemungutan suara bagi penyandang disabiltas. Termasu memastikan agar lokasi TPS harus accesible yaitu tidak berundak, tidak ada loran armpit, dan bilik suara harus lebar disesuaikan dengan kursi roda," jelas Noviati.

Dengan semua fasilitas itu, seharusnya tidak ada lagi penghalang bagi penyandang disabilitas untuk memberikan hak pilihnya.

Lebih lanjut tentang talkshow ini bisa disimak melalui channel YouTube Berita KBR.


0

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...