Menu
Tampilkan postingan dengan label Blog competition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog competition. Tampilkan semua postingan



Asuransi Kesehatan Masa Kini, Bayarnya Cashless Sesuai Tagihan


Belum lama ini saya masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Penyebabnya asam lambung naik dan mengiritasi saluran pernafasan. Bikin saya jadi mual hebat, batuk-batuk parah, juga sesak nafas.

Beruntung, kondisi saya segera membaik setelah mendapat penanganan yang tepat. Setelah menunggu beberapa jam, saya diperbolehkan pulang dengan "dibekali" 7 macam obat sekaligus. Saya lega karena cukup dengan rawat jalan saja, tidak sampai rawat inap karena pasti akan sangat merepotkan.

Namun ketika harus membayar tagihan rumah sakitnya, saya dan suami sama-sama nyengir kuda. Bukan mau mengeluh sih, tapi nominalnya bukan kaleng-kaleng. Cukup untuk staycation di hotel bintang 4 atau makan di restoran mewah sampai kenyang. Ini saya "hanya" rawat jalan lho, bayangkan jika harus rawat inap dan otomatis menambah biaya kamar per malamnya.

Maka benarlah, kesehatan itu sungguh nikmat Tuhan yang tidak murah harganya. Jangan tunggu sakit baru menyadarinya, ya!


Pentingnya Asuransi untuk Proteksi Diri

Kejadian mendadak berurusan dengan rumah sakit itu membuat saya dan suami langsung berbicara serius soal asuransi kesehatan. Sebetulnya kami sudah punya BPJS, namun faskes 1 kami cukup jauh dari kontrakan yang kami tempati sekarang. Kami butuh proteksi ekstra untuk bisa dipakai di mana saja dan kapan saja tanpa khawatir.

Sebagai generasi milenial yang (merasa) sudah cukup melek finansial, kami menyadari betul pentingnya memiliki asuransi kesehatan. Sebelum menikah sudah dipikirkan dan direncanakan, namun memang belum terlaksana karena banyaknya kebutuhan ini itu khas pengantin baru. Masuknya saya ke IGD seolah bak kode kecil dari Tuhan agar kami segera mengurus asuransi kesehatan demi proteksi diri ke depannya.

Perlunya proteksi diri untuk saat-saat terkapar di RS begini

By the way,  banyak teman dan kerabat saya yang masih berpikir asuransi itu hanya buang-buang uang. Rugi jika sudah membayar namun tak terpakai karena sehat terus alias tidak pernah sakit.

Ini pemikiran yang keliru, menurut saya. Membayar premi asuransi itu bisa diibaratkan seperti menyewa jasa satpam untuk rumah atau kantor kita. Memangnya kita akan merasa rugi jika keadaan aman-aman saja dan tidak terjadi tindak pencurian atau perampokan? Tentu tidak, bukan? Kita akan bersyukur karenanya.

Sebaliknya, jika amit-amit terjadi hal yang tidak diinginkan, kita bisa sedikit lega karena sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk sebuah proteksi atau perlindungan.

Pilihan Asuransi Digital untuk Keluarga Milenial

Pandemi Covid-19 telah mempercepat digitalisasi di setiap sendi kehidupan masyarakat. Nyaris segala hal sudah bisa dilayani dalam genggaman. Semua sudah serba online dan cashless.

Tidak terkecuali dengan asuransi. Saya ingat saat saya masih bekerja kantoran nyaris satu dekade lalu, produk-produk asuransi hanya bisa diakses secara konvensional melalui agen atau sales-sales marketing-nya. Tapi rupanya sekarang sudah bisa diakses dengan mudah secara online lewat gadget.


Flexi Hospital & Surgical Protection, Bayar Asuransi Cashless Sesuai Tagihan

Tepat ketika saya dan suami asyik berunding memilih asuransi pada pertengahan Juni lalu, Astra Life rupanya baru meluncurkan Flexi Hospital & Surgical Protection yang merupakan asuransi kesehatan dengan manfaat penggantian biaya perawatan di Rumah sakit di Indonesia.

Kami tertarik dengan produk asuransi ini karena memberikan penggantian biaya rawat jalan darurat dan penggantian biaya perawatan lengkap di Indonesia di Rumah Sakit Indonesia dengan pembayaran manfaat sesuai tagihan. Maksudnya, kita bisa memilih dan menentukan sendiri besaran premi yang harus dibayarkan sesuai dengan kebutuhan dan manfaat yang diinginkan.

Biar lebih jelas, bisa langsung ke tautan ilovelife.co.id untuk mencoba sendiri kalkulator premi dan manfaat dari Flexi Hospital & Surgical Protection seperti yang sudah saya coba ini. 

Hasil kalkulator premi (screenshot pribadi)

Asuransi Flexi Hospital & Surgical Protection dari #AstraLife ini juga merupakan solusi untuk para pasien yang membutuhkan penggantian biaya rawat jalan kanker (radioterapi dan kemoterapi) dan Cuci Darah. Termasuk juga penggantian biaya fisioterapi yang mencakup terapi okupasi dan terapi Wicara.

Untuk pembayarannya no ribet-ribet club. Semua bisa dibayar dengan non-tunai karena adanya fasilitas cashless dengan e-card di Rumah Sakit rekanan di Indonesia. 

Manfaat asuransi Flexi Hospital & Surgical Protection dari Astra Life


Ah, andai saja saya dan suami sudah membeli produk asuransi ini sebelum saya terkapar di IGD, pasti tidak perlu pusing dengan tagihannya. But better late than never. Tidak ada kata terlambat untuk mulai sadar memproteksi diri.


Fasilitas MCU Flexi Hospital & Surgical, Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

"Lebih baik mencegah daripada mengobati"
Hampir semua orang tahu adagium atau peribahasa ini. Namun pada kenyataannya lebih banyak orang yang baru sibuk berobat ketika sudah kadung terserang penyakit ketimbang mencegahnya.

Mahalnya biaya disinyalir sebagai salah satu faktor penghambat sehingga banyak orang enggan melakukan Medical Check Up (MCU). Padahal, MCU adalah langkah penting untuk dilakukan sebagai pencegahan.

Mengutip detikHealth dot com, MCU rutin perlu dilakukan karena dari hasilnya bisa diketahu kondisi medis seseorang secara keseluruhan. MCU juga berguna untuk mendeteksi penyakit dalam tubuh, terutama jika terserang sejumlah penyakit yang tidak bergejala. Selain itu, MCU juga bisa digunakan untuk mengetahui risiko penyakit seseorang yang mungkin terjadi di masa depan.

Flexi Hospital & Surgical Protection dari #AstraLife agaknya memahami benar pentingnya MCU ini. Bukan hanya berfokus membuat #TagihanRSjadiRingan semata, asuransi ini juga memberikan fasilitas MCU gratis setiap 2 tahun terhitung sejak tanggal polis aktif lho.

Lebih detail terkait fasilitas MCU ini, bisa dilihat pada gambar berikut :

Fasilitas MCU di Flexi Hospital & Surgical Protection (sumber : ilovelife.co.id)

Hmm, sepertinya Flexi Hospital & Surgical Protection ini asuransi kesehatan masa kini banget, ya?! Sudah preminya terjangkau dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, bayarnya bisa cashless sesuai tagihan mengikuti perkembangan zaman era digital, manfaatnya juga maksimal. Sungguh jawaban kebutuhan asuransi keluarga milenial. 

Untuk info lebih lanjut terkait Flexi Hospital & Surgical

And last but not least,
please protect yourself,
protect your familiy,
protect everyone that you loved,
So you can live your life and love your life then ...
#LoveLife

_____________________________________

Untuk info lebih lanjut terkait Flexi Hospital &Surgical Protection, bisa kunjungi website dan follow media sosial berikut ini :

Website :
Facebook : AstraLifeID
Twitter : @AstraLifeID



1

* Demi kenyamanan, jika Anda membaca tulisan di blog ini lewat ponsel, ubah dulu setting-an browser-nya ke mode desktop atau website ya 😉😉

Tenang Hadapi Culture Shock Makanan Bersama new Enzyplex


Saya menghabiskan nyaris seumur hidup di Sumatera. Lahir dan besar di Bengkulu, lalu menetap di kota pempek, Palembang sejak tahun 2015 silam. Namun sejak menikah akhir tahun lalu dengan seorang mas-mas Jawa, saya pun kemudian diboyong suami untuk tinggal bersama di kota kelahirannya di tanah Jawa, tepatnya Yogyakarta.

Di tahun 2022 ini, untuk pertama kalinya saya berlebaran di Jogja. Benar-benar perdana ini, gaes! Meski secara kepercayaan tidak turut merayakan, namun saya ikut memeriahkan karena keluarga besar Nugi, suami saya, semuanya (kecuali mamak) merayakan Idul Fitri.

Sesajen Bapak Mertua di malam takbiran

Bapak mertua yang penghayat kepercayaan Kejawen ber-KTP Islam sudah menyiapkan sesajen sejak petang hari di malam takbiran. Lalu keesokan harinya di hari H, setelah keluarga kakak ipar dan keponakan-keponakan selesai salat Ied di masjid dekat rumah, saya dan suami ikut sungkem kepada mertua bersama mereka.

Jujur, saya sempat rindu berat dengan pempek, tekwan, dan teman-temannya yang selalu tersedia saat tradisi sanjo (saling berkunjung ke rumah kerabat/teman saat lebaran) di Palembang. Bagaimana ya? Sebagai produk asli Sumatera, saya masih cukup kesulitan mengatasi culture shock makanan di Jogja ini rupanya.

Sudah tahu kan ya, makanan Sumatera itu pada umumnya cenderung bercita rasa pedas dan gurih, sementara di Jogja nyaris semuanya cenderung manis (bahkan opor temen makan ketupat pun manis lho 😭😭). Masakan Sumatera juga biasanya lebih "berani" dalam penggunaan santan, rempah, maupun bumbu-bumbu dapur. Sementara masakan pada umumnya Jawa lebih soft alias  "pelit bumbu".

Meski demikian, saya berusaha keras beradaptasi. Tidak mudah, tentu saja. Tapi bisa kok. Dalam jangka waktu beberapa bulan ini sejak pindah ke Jogja, meski masih belum sanggup makan gudeg yang menurut saya masih terlalu manis untuk teman makan nasi, tapi saya sudah sangat bisa menikmati nasi pecel dan menu-menu khas angkringan seperti mendoan dan sate telur puyuh.

Menu angkringan yang bersahaja


Cabe Burung yang Bikin Mutung


Di awal-awal tinggal di Jogja, saya sempat bingung dengan penyebutan "cabe rawit". Rupanya ada perbedaan makna dengan yang selama ini saya pahami dengan pengertian orang Jogja pada umumnya. Dalam pemahaman saya, cabe rawit itu ya cabe hijau kecil-kecil yang umumnya jadi teman makan gorengan.

Namun bagi orang Jogja (terutama bagi ibu-ibu warung atau pedagang di pasar), cabe yang saya maksud itu adalah cabe lalap. Sementara cabe rawit buat mereka adalah sebutan untuk cabe berwarna merah agak oranye, dan ukurannya agak lebih besar dari cabe yang untuk makan gorengan. Nah, dalam pemahaman saya, cabe rawit Jogja Version ini namanya cabe burung.

Cabe rawit VS Cabe burung


Terus terang, saya agak musuhan dengan cabe burung ini. Derajat pedasnya sebetulnya biasa saja, masih bisa ditanggung lidah. Namun sensasi panasnya luar biasa. Perut saya tidak nyaman dibuatnya. Ya nyeri, ya perih. Cabe yang benar-benar bikin mutung, orang Bengkulu bilang. Mutung bisa diartikan sensasi terbakar, panas yang amat sangat, atau gosong. Kalau dalam KBBI, mutung artinya musnah terbakar. Yah, sama-sama berhubungan dengan panas pokoknya. 

Kalau masak sendiri, cabe burung ini pasti saya hindari. Saya lebih suka perpaduan cabe merah keriting dengan cabe rawit hijau kecil karena menghasilkan rasa pedas yang elegan, menurut saya.

Masalahnya, orang Jogja yang terkenal dengan masakan manisnya ini, ternyata lebih memfavoritkan cabe burung (atau versi mereka : cabe rawit) untuk dunia persambelannya. Ini sungguh culture shock makanan yang masih begitu sulit saya taklukkan. Masakan apapun di Jogja, baik opor, sate, geprek-geprekan, goreng-gorengan bakar-bakaran, bakso, soto, bahkan untuk menu-menu angkringan, nyaris selalu didampingi sambal oranye berbahan baku cabe burung ini.

Ini sungguh dilematis, Ferguso! Satu sisi, masakan Jogja yang dominan manis ini kok kurang sreg jika tidak dicocol sambal. Tapi kalau sambalnya cabe burung, bagaimana nasib perut saya coba?

Memilih tidak makan sama sekali juga bukan jawaban. Apalagi saat disuguhi ketupat opor di rumah mertua atau ayam geprek di rumah Budhe? Mana bisa menolak? Bisa hancur pencitraan saya sebagai menantu idaman di hari lebaran kalau sampai lancang menolak makan.

Culture Shock Makanan Featuring Dispepsia


Masalah culture shock makanan saya dengan cabe burung, biasanya akan diperburuk dengan dispepsia di hari raya saking banyak dan beragamnya makanan yang disantap.

Tahu kan sensasi tidak nyaman di perut seperti terasa penuh, kembung, begah, nyeri di ulu ati, sakit perut? Biasanya kita bilangnya sakit maag. Tapi menurut artikel di alodokter, sekumpulan sensasi tidak nyaman atau gejala tersebut disebut sindrom dispepsia.

Saya kerap mengalami gejala itu karena maklumlah, banyak yang antre minta dimakan kalau hari besar itu. Ketupat opor dan kondimennya, sederet kue-kue kering dan basah seperti nastar, kastangel, atau lapis legit, rengginang, hingga sirup dan minuman bersoda.

Kalian pernah mengalami juga? Kalau pernah, menyebalkan bukan jika kemeriahan dan kebahagiaan hari raya bersama keluarga harus diganggu dispepsia?

Dua masalah ini sempat membuat saya cemas menghadapi lebaran kemarin. Saya sungguh berharap momen perdana saya berlebaran dengan keluarga suami bisa berkesan dan berjalan lancar.

Tenang Berlebaran dengan new Enzyplex


new Enzyplex, suplemen enzim

Syukurlah, kecemasan saya ternyata tidak terbukti. Terima kasih sangat kepada Nugi, suami tercinta yang memperkenalkan saya dengan new Enzyplex. Dia yang sudah duluan konsumsi bilang, new Enzyplex itu bisa membantu mengatasi gejala dispepsia.

Tadinya saya pikir new Enzyplex itu obat maag, habis dari kemasannya gambar lambung gitu ye kan. Warna hijau pula. Kaya, khas banget gitu lho.

Tapi setelah baca-baca label kemasan dan artikel di internet, baru ngeuh kalau new Enzyplex merupakan suplemen enzim. Bukan obat. Di dalam kapsulnya terkandung enzim pankreatin (amilase, lipase, protase) yang dibutuhkan untuk proses pencernaan. Hayoo, mari kita inget-inget lagi pelajaran biologi materi sistem pencernaan manusia 🤭

Ditambah kandungan lain seperti Vitamin B kompleks, Deoxycholic Acid dan Simeticone, produk new Enzyplex ini jadi efektif banget menjaga kesehatan pencernaan kita. Plus, bisa mengurai gas berlebih di lambung sehingga menjauhkan perut kita dari sensasi-sensasi mual-kembung-perih tidak nyaman itu. 

Suplemen new Enzyplex ini paling baik dikonsumsi setelah makan karena akan bekerja maksimal jika ada makanan di lambung. Bisa dikonsumsi rutin karena jika kandungan enzimnya tidak terpakai, akan otomatis dibuang tubuh. Yang penting sesuai aturan pakai dan tidak berlebihan.

Hasilnya gimana?

Lebaran perdana saya di tanah Jawa bisa dikatakan lancar jaya berkat minum new Enzyplex. Puji Tuhan. Mulai dari "bekas" sesajen Bapak mertua, ketupat opor buatan ibu mertua, nasi ayam geprek buatan budhe, juga bakso buatan bulik di Gunung Kidul (yang semuanya featuring cabe burung) bisa tenang dinikmati tanpa drama sakit perut sama sekali. Perut kenyang, hati pun senang.




Di atas semua itu, saya sangat menikmati momen kebersamaan dalam lebaran. Bisa bersilaturahmi dan lebih mengenal keluarga baru dari pihak suami, juga mengikuti tradisi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan sungguh merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Saking berkesan dan menikmati setiap momennya, sibuk ngobrol dan berinteraksi dalam kehangatan keluarga besar, saya malah baru sadar kalau kami tidak punya banyak dokumentasi. Agak menyesal juga sih tidak banyak foto-foto.

Satu dari sedikit dokumentasi yang tersisa : saya, kakak ipar, dan Bapak mertua berkunjung ke rumah Budhe

Ah, sudahlah. Biar jadi alasan untuk mengulang lebaran di tahun selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya lagi. Kira-kira bakal seasyik apa ya? Kalau kalian, bagaimana cerita lebarannya?

Salam ya dari Jogja yang istimewa Seistimewa kalian yang berkenan meninggalkan jejak di tulisan ini ☺️☺️☺️


***





3

Jejak Buku Bajakan di Palembang

Palembang yang memutih sebulan terakhir, mengingatkan saya saat pertama kali menginjak kota ini 4 tahun lalu. Pada 2015 saya pindah ke kota pempek ini tepat saat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyerang. Benar-benar kesan pertama yang tidak mengenakkan karena langsung disambut sesak napas, mata pedih, dan batuk-batuk oleh kabut asap.

Saat itu saya tetap jatuh cinta pada kota ini. Terutama oleh pemandangan lapak-lapak buku di ruas jalan di seputaran Masjid Agung dan kawasan pasar. Pemandangan yang tidak pernah saya temukan di Bengkulu, kota saya sebelumnya yang jumlah toko bukunya saja bisa dihitung dengan jari. Ya memang tidak bisa disamakan. Bengkulu kota kecil, Palembang sudah metropolitan.

Saya di salah satu lapak buku di ruas jalan seputar Masjid Agung  (foto : Arista Devi)

Kala itu saya bersama seorang teman menembus kabut asap menyusuri lapak-lapak tersebut satu per satu. Buku-bukunya sangat beragam dan harganya murah. Semula saya pikir buku-buku tersebut bekas. Mayoritas memang iya, tapi banyak juga yang masih baru, lengkap dengan plastik pembungkus yang masih rapi.

Saya bahkan kaget melihat Da Vinci Code-nya Dan Brown terbitan Bentang Pustaka (Mizan Group) dihargai Rp15.000, padahal masih bersegel. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya karena buku saya yang lama sudah rusak kena banjir. Sampai di rumah saya kecewa karena bukunya bajakan!

Saya heran, kenapa tidak kepikiran buku yang saya beli itu bajakan, ya? Padahal, dilihat dari harga saja sudah "mencurigakan". Tapi itu jadi titik balik saya untuk mulai aware dengan keaslian buku. Saya juga jadi jarang beli buku di sana lagi. Kapok, sih tidak, sesekali masih menelusuri lapak untuk mencari buku-buku lama. Cuma jadi ekstra hati-hati agar jangan sampai terjebak buku bajakan lagi.

Sejak saat itu destinasi belanja buku kembali ke kebiasaan semula: toko buku. Saya berbahagia karena toko buku di Palembang banyak. Selain toko buku besar dan resmi yang umumnya ada di pusat perbelanjaan, toko buku kecil-kecil juga tersebar hampir di setiap sudut Kota.

Sejauh ini, saya belum pernah menemukan buku bajakan di toko buku besar. Namun, di toko buku kecil masih  ditemukan buku bajakan. Jenisnya memang bukan novel-novel laris atau buku-buku populer, melainkan pelbagai jenis kamus.

Tahu dari mana kalau bajakan? Dari kualitasnya. Jilid yang tidak rapi dan mudah lepas, kertas yang tipis-buram-mudah sobek, juga hasil cetakannya yang persis fotokopian dengan bercak hitam di sana-sini.

Buku Bajakan di Perpustakaan


Sekilas semua tampak asli
Sebagai orang yang suka sakaw kalau tidak membaca, perpustakaan jelas menjadi tempat favorit. Terutama kalau musim kemarau melanda dompet. Tempat adem, nyaman, dan koleksi bukunya jelas lebih banyak dari rak buku sendiri.  Sayang, kenyamanan itu rupanya harus terusik kala mendapati buku bajakan di antara koleksinya. Dan itu terjadi sebulan lalu saat saya dan Bimo, teman sekaligus blogger mau hunting foto untuk ikut sebuah kontes.

Saya dan Bimo berkunjung ke salah satu perpustakaan di Kota Palembang. Saat memilih buku untuk dijadikan properti foto, tanpa sengaja kami menemukan Intelegensi Embun Pagi (IEP), buku terakhir seri Supernova karya Dee Lestari yang tampak "kesepian" karena letaknya terpisah dari 5 seri sebelumnya.

Ada dua buku IEP dalam rak. Saya mengambil salah satunya dan mengernyit  heran. Kok berbeda ya dengan IEP yang biasa saya baca di kosan?

Bimo yang kebetulan juga sesama aDeection alias penggemar Ibu Suri Dee spontan merebut IEP dari tangan saya. Wajahnya semringah karena jumpa buku favoritnya dan mulai membuka halaman demi halaman dengan antusias. Namun sesaat saja, ekspresinya berubah masam.

"Yah, bajakan ini, Raa...," keluhnya seperti orang patah hati.

Saya menggeleng tak percaya. Tak mau percaya lebih tepatnya. Meski sudah merasa aneh sejak menyentuh buku itu pertama kali, saya tidak ingin berprasangka macam-macam. Buku bajakan di perpustakaan? Yang benar saja!

Tapi Bimo benar. Saya ingat betul kalau tulisan dan gambar di sampul IEP asli dicetak dengan huruf timbul dan menghasilkan efek kilau berpendar warna jika terkena cahaya. Hal itu tidak ditemukan di IEP koleksi perpustakaan yang cetakannya tampak begitu biasa.
Perbandingan sampul depan kedua versi

Makin diperhatikan, ciri-ciri buku bajakan makin kentara. Pertama dari bobotnya, buku tersebut jauh lebih ringan dari buku asli. Lalu kualitas kertasnya yang sangat buruk karena tipis dan tampak keruh. Untuk hasil cetak halaman dalam, sebagian besar cukup bersih dan sekilas tidak jauh berbeda dengan versi asli. Namun, di halaman-halaman terakhir, tepatnya di halaman yang memuat profil dan buku-buku karya Dee yang lain, tampak sangat buram (lihat gambar).
Perbandingan halaman dalam kedua versi
Saya mengambil IEP kedua dari rak yang rupanya sama saja. Sama-sama bajakan! Lalu mulailah saya dan Bimo berspekulasi, sibuk mengira-ngira sendiri bagaimana jalannya buku bajakan bisa sampai ke perpustakaan. Oh, apa pun itu, semoga hanya wujud kelalaian atau ketidaktahuan pihak perpustakaan semata, bukan kesengajaan.

Selasa (22/10) kemarin, secara khusus saya kembali ke perpustakaan tersebut. Dan sampai artikel ini diterbitkan, buku bajakan itu masih ada di sana, di raknya semula.

(Puk-puk Ibu Suri dan Bentang Pustaka ( Mizan Group) turut berduka cita ya ... :'( )

Buku Bajakan, Lebih dari Sekadar Memprihatinkan

Apa yang saya kisahkan di atas, tentu ibarat seiris timun di cuka pempek dibanding dengan fenomena buku bajakan di negeri ini. Masih ditemukannya buku bajakan bahkan di tempat “terhormat” macam perpustakaan, tentunya sebuah fakta yang sangat miris. Tidak terbayang berapa eksemplar  buku bajakan yang sudah tersebar selama ini. Dan itu bisa di mana saja dan diedarkan oleh siapa saja.

Ini kita masih bicara buku fisik, belum yang digital alias e-book. Dan saya tahu itu tidak lebih baik kondisinya. Saya punya kenalan penulis, dia pernah curhat sambil menangis karena menemukan bukunya yang masih dalam masa preorder (PO), sudah diobral versi e-booknya oleh sebuah oknum akun Instagram dengan harga Rp1000.

Belum lagi kalau bicara soal buku repro yang beredar luas di toko buku online. Dalam sebuah situs marketplace lokal, saya banyak menemukan penjual buku repro. Adapun repro sebetulnya sama saja dengan bajakan, namun dalam versi lebih keren. Adapula penjual yang sengaja mengecoh pembeli yang kurang mengerti dan mengatakan buku tersebut adalah ORI.

Salah satu penjual buku repro di sebuah marketplace lokal (dok. tangkapan layar pribadi)

Dalam hal ini, kontrol  dari market place sangat lemah. Yang lebih  ironis, penjual buku tersebut  malah termasuk penjual yang dapat bintang dari pengelola marketplace.

Nah, kalau diukur pakai parameter model Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), pembajakan buku di Indonesia pasti sudah seperti Palembang dengan kabut asapnya sebulan terakhir. Bukan saja tidak sehat alias memprihatinkan, melainkan sudah di level BERBAHAYA.

Saya tidak punya data soal pembajakan buku di Indonesia. Namun, merujuk pada berita kompas (2012), jumlah terbitan buku di Indonesia tiap tahunnya tidak sampai 18 ribu judul. Angka ini tergolong rendah karena negara lain seperti Jepang mampu menerbitkan sekitar 40 ribu, India 60 ribu, dan Cina 140 ribu. Jumlah terbitan buku kita sama dengan Malaysia dan Vietnam, namun kalau dilihat dari jumlah penduduknya, tentu saja produksi kita masih sangat rendah.

Tidak perlu penelitian macam-macam untuk mencari tahu penyebabnya. Otak orang paling awam sekalipun pasti juga paham kalau pembajakan buku ikut andil.

Memangnya penerbit mana yang bisa terus produksi kalau cuma dapat rugi? Penulis mana juga yang bisa tahan kalau tahu hasil kerja kerasnya yang sampai berdarah-darah itu ujung-ujungnya cuma dibajak? Sudahlah royalti kecil, masih dipotong pajak, bukunya dibajak pula.

Lalu, toko buku dan penyalur resmi mana yang tidak gulung tikar kalau jualan mereka tak laku karena kalah bersaing harga dengan buku bajakan yang murah meriah itu?

Buku bajakan mematikan industri buku. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa terjadi kiamat di dunia literasi kita. Kalau sudah begitu, sama saja kita berjalan mundur dari peradaban.

Yang Bisa Kita Lakukan


Tidak bisa dimungkiri, masalah buku bajakan adalah perkara komplek yang melibatkan banyak pihak. Perlu kerja sama dan konsistensi dari semua pihak untuk memeranginya.

Yang pertama tentunya dari kita, masyarakat selaku konsumen buku. Ayo, tumbuhkan kesadaran dari diri kita sendiri kalau pembajakan itu dosa besar, dan kita akan terlibat dosa juga kalau sampai membelinya.

Memang, jiwa sobat misqueen kita sangat tertolong dengan adanya buku bajakan. Tapi, apa kita tidak jauh lebih rugi kalau gara-gara ini penulis kita kemudian kapok menulis, penerbit favorit kita bangkrut, toko buku kesayangan kita tutup (ini sudah mulai terjadi di Palembang), dan kita tidak bisa lagi baca buku.

Jika masih ada yang membeli, maka pembajakan akan terus terjadi. Lingkaran setan. Jadi mari  kita sama-sama putus salah satu mata rantainya dengan berhenti membeli buku bajakan. Toh kalau buku asli mahal masih bisa menabung, nunggu diskon, atau urunan sama teman. Bahkan kalaupun betul-betul tidak mampu beli, masih bisa pinjam teman atau di perpustakaan, kan? Banyak jalan biar tetap bisa baca buku tanpa harus beli bajakan.

Kedua, bertobatlah wahai pembajak! Tidaklah jadi berkah penghasilanmu kalau didapat dari kesengsaraan orang lain. Bila kalian baca tulisan ini, tapi masih nekat membajak, saya kutuk kalian enggak bisa kentut 7 hari! (Hey, ini serius!!!)

Ketiga, untuk penjual buku baik distributor dan pemilik toko, berhentilah menyalurkan buku bajakan. Terlebih kalau sampai menipu pembeli dengan mengatakan buku tersebut asli.

Untuk penulis dan penerbit,  tolong, jangan pernah bosan mengedukasi masyarakat soal ini. Karena seperti yang sempat saya singgung di awal tulisan di atas, ada orang-orang seperti saya yang sebenarnya tidak berniat membeli buku bajakan, namun berakhir membeli juga karena tertipu dan kesulitan mengidentifikasi. Edukasi terus di berbagai kesempatan. Baik saat live event, sosial media, atau kalau perlu di setiap buku yang terbit ada halaman khusus ada peringatan atau info  bagaimana membedakan buku asli dan bajakan (misalnya). Oh, bisa juga seperti yang Mizan lakukan sekarang dengan mengadakan blog dan vlog competition anti pembajakan.

Terakhir, buat aparat dan pihak-pihak berwenang, mohon lebih diperketat lagi penegakan hukumnya. Undang-undang kita sudah ada yang mengatur soal ini dan sepertinya memang sudah berjalan, dengan diadakannya razia contohnya. Hanya saja langkah tersebut masih belum menimbulkan efek jera, para pembajak masih sangat leluasa menjalankan aksinya. Semoga ke depannya bisa lebih tegas lagi.

Jika kita mau ambil bagian untuk memerangi pembajakan buku, saya yakin dunia literasi kita masih punya harapan dan masa depan.

Stop pembajakan mulai dari sekarang!


***

Salam dari Tepian Musi.

Tepian Musi yang masih berkabut
(foto : dok WAG Kompal)
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Mizan Anti Pembajakan, persembahan Mizan.com dan Mizan Store.

15

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...