Menu

Proses membeli sepeda motor secara cash di rumah tangga yang baru seumur jagung memberi banyak pelajaran buat Ara dan Nugi. Selengkapnya dalam Ragi Story, it's our story, a journey to stay happy 


Membeli Sepeda Motor Cash

Di awal pernikahan dan memulai hidup baru di sebuah kontrakan di Jogja, saya dan Nugi tidak langsung berpikir ingin membeli sepeda motor. Apalagi secara cash. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan saat itu karena nyaris semua tabungan terkuras untuk biaya pernikahan. Kami juga masih memiliki beberapa cicilan, termasuk pengeluaran rutin tiap bulannya untuk membayar kamar kos Nugi di Bandung meski sudah lebih dari setahun tidak lagi ditempati.


Keinginan membeli sepeda motor baru timbul dan kian menguat setelah "mengaudit" buku kas rumah tangga kami. Pengeluaran untuk transportasi kami per bulan rupanya menyentuh angka Rp 700 ribu lebih. Padahal, mobilitas kami sebetulnya terbatas. Nugi juga masih work from home. Yang rutin paling biaya untuk ojol saat ke gereja PP setiap minggunya. Ditambah jika ada event/job ngeblog offline atau butuh belanja sesuatu sesekali, yang sungguh bisa dihitung dengan jari frekuensinya.


Sepeda motor yang tadinya kami anggap hanya sebatas keinginan, ternyata mulai berubah menjadi kebutuhan. Kontrakan kami yang terletak di Jogja coret, tepatnya di kawasan Godean yang sudah masuk kabupaten Sleman, membuat kami kerap kesulitan mendapat akses angkutan. Tidak ada angkutan umum yang proper, sementara jasa angkutan online juga tak sebanyak di dalam kota.


Seringkali kami harus menunggu lama setelah memesan, dan berakhir di-cancel drivernya. Terlebih jika hari hujan, nyaris tidak ada yang mau pick up. Driver Jogja ini rupanya belum semilitan driver Bandung, yang standby kapanpun dalam kondisi apapun.


Kami pernah pulang ke kontrakan sampai larut malam karena tidak ada yang pick up orderan kami untuk diantar ke Godean. Ketika akhirnya bisa pulang, itu pun karena sudah diakali untuk membagi jarak tempuh. Jadi misal total 10 km, kami pesan 2 kali untuk masing-masing jarak per 5 km agar tidak dicancel lagi.


Kami kadang juga terpaksa menolak sejumlah ajakan meet up teman-teman blogger Jogja karena memang sesulit itu untuk kemana-mana. Mungkin beberapa teman blogger masih ada yang menganggap kami sombong karena sekarang nyaris nggak pernah diajak-ajak ngumpul lagi πŸ˜…πŸ˜…


Ah, nyesek memang kalau ingat masa itu. Tapi ya itulah asem-asemnya kehidupan manten baru yang mau ga mau harus dinikmati.



Motor Baru VS Motor Bekas


Ketika menyadari bahwa sepeda motor adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi (karena jika tidak, anggaran kami akan semakin membengkak tiap bulannya), kami langsung memasukkan itu ke skala prioritas. Lupakan dulu perabotan atau keinginan ini itu yang masih bisa ditunda.


Masalahnya, duit dari mana?

Semurah-murahnya motor, jelas tidak bisa didapat dengan uang 1-2 juta. Kecuali kalau mau beli motor bekas.


Nugi sempat melontarkan opsi ini, karena menurutnya, yang penting punya motor dulu. Tidak harus baru, yang penting bisa dipakai.


Tapi saya menentang, saya semasa gadis sudah beli 2 sepeda motor. Baru semuanya, meski 2-2nya kredit. Mohon maaf, saya tidak mau downgrade. Pernikahan harusnya membawa kualitas hidup lebih baik, jangan malah turun.


Alasan kedua, saya dan Nugi benar-benar "buta" soal otomotif. Siapa yang menjamin kami akan membeli motor yang layak meski bekas? Kalau yang terjadi sebaliknya bagaimana? Niat ingin hemat dan untung malah buntung karena uangnya habis untuk biaya reparasi di bengkel. Teman saya ada yang begini, beli motor bekas yang terjangkau dompet, tapi nyaris setiap minggu harus masuk bengkel karena adaaa saja yang bermasalah.


Di mata saya, opsi motor baru tetap yang terbaik untuk kami yang sama-sama tidak mengerti dunia motor. Kalau beli baru, ada garansi perawatan sampai berbulan-bulan. Kami hanya cukup meluangkan waktu untuk "check up" rutin di bengkel resmi.



Cash VS Kredit


Opsi pembelian sepeda motor secara kredit atau cash sempat menjadi perdebatan Jika ingin cepat dapat motornya, tentu pilihan kredit lebih mudah. Tapi kalau hitung-hitungan jangka panjang, pembelian secara kredit sungguh melelahkan. Bukan hanya harganya yang akan jauh berlipat ketimbang pembelian secara cash, namun juga membayangkan tagihan yang harus dibayar tiap bulannya sementara masih ada tagihan lain yang perlu diselesaikan apa tidak bikin kepala meledak? Bisa-bisa tak tersisa lagi anggaran untuk sekadar jajan es duren atau nonton di bioskop.


Saya bilang ke Nugi, sudah cukup saat masih single saya berurusan dengan utang dan tagihan. Saya lelah. Saya ingin hidup tenang. Saya ingin upgrade kondisi finansial saya. Kalaupun memang harus kredit, saya pilih kredit properti, bukan kendaraan.


"Ya sudah, kalau kamu memang yakin. Mari kita imani, kalau kita bisa membeli secara cash… Soal duitnya dari mana urusan nanti, mari kita minta sama Tuhan dulu," jawab Nugi yang menandai komitmen kami untuk membeli sebuah sepeda motor secara cash.



Rutin Berdoa


"Makin spesifik kita minta ke Tuhan, makin spesifik pula Tuhan menjawab."


Entah benar atau tidak, tapi saya sudah membuktikan sendiri soal ini saat meminta jodoh dari Tuhan. Super spesifik. Dan …, Tuhan menjawab tepat seperti apa yang saya minta. Makanya nggak ada keraguan sedikit pun soal Nugi adalah tulang rusuk. Karena memang se-spesifik itu Tuhan menjawab. Kapan-kapan saya cerita sendiri soal ini.


Lanjut ke motor, saya juga merasa perlu spesifik saat minta Tuhan. Setelah riset sedikit soal harga dan tipe-tipe motor, serta memperhitungkan kondisi finansial kami, kami pun memutuskan mulai berdoa untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit. Warna merah. Persis seperti Akashi milik saya di Palembang yang masih mulus dan tidak pernah rewel meski sudah dipakai 6 tahun.


Harga cashnya Rp 15.000.000 , meski ada dealer yang memberikan harga Rp 14.750.000. Bukan nominal yang sedikit, tapi kami cukup optimis sudah bisa membelinya dalam setengah tahun. Tentang caranya, biarkan Tuhan yang urus.


Pada November 2021, kami mulai rutin menyelipkan permohonan kami untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit Merah cash di setiap mezbah keluarga kecil kami setiap malam (Yah, mungkin semacam doa bareng keluarga setelah salat magrib berjamaah kalau untuk keluarga muslim, kira-kira).


Kami percaya jika Tuhan sudah ACC, kami akan mendapatkannya di waktu yang tepat. Tugas kami sebagai manusia adalah berusaha. Ya, menabung!



Bertahan dari Serbuan Badai


Sekilas rencana kami untuk menabung rutin sambil tetap berdoa terkesan sangat mudah dan bikin optimis. Kenyataannya setelah dijalani adaaaa saja serbuan badainya.


Mulai dari pengeluaran-pengeluaran tak terduga yang lebih prioritas, job sampingan yang seret-lancar silih berganti, rasa frustrasi dan tidak sabaran karena masih harus naik ojol kemana-mana dengan segala dramanya, mulut-mulut nyinyir tetangga dan netijen, hingga yang paling sulit dilawan yakni serbuan brosur dan iklan promo pembelian secara kredit.


Sistem kredit yang ditawarkan sungguh menggiurkan, bahkan ada yang hanya butuh DP ratusan ribu rupiah dengan cicilan cukup ringan (meski harus ambil yang 3 tahun). Tapi saya dan Nugi saling mengingatkan dan menguatkan, bahwa kredit itu jebakan betmen. Kami gantian saja saling mengingatkan untuk bertahan dalam komitmen membeli secara cash.


Terkesan sangat mudah dituliskan, tapi yang kami alami berbulan-bulan lalu rasanya sungguh berat. Puji Tuhan, kami bertahan



Ao, Sang Jawaban Doa


Pada akhir tahun sebetulnya tabungan kami sudah cukup untuk membeli sepeda motor cash, terutama dengan tambahan THR Nugi yang diterima jelang Natal. Namun terpakai untuk biaya mudik kami Palembang dan Bengkulu, lalu lanjut ke Bandung.


Di Bandung kami banyak pengeluaran, namun memang harus dilakukan demi misi mengakhiri "tagihan" kosan Nugi. Sudah waktunya kami menutup keran pengeluaran tak berguna. Kalaupun suatu saat nanti Nugi harus kembali masuk kantor dan kami pindah lagi ke Bandung, biarlah itu urusan nanti.


Singkat cerita, baru pada pertengahan Februari dana kami terkumpul. Itupun berkat bantuan Ibu Ratu yang mentransfer dana nyaris ⅓-nya. Terima kasih, Yang Mulia. Mohon maaf, kami belum mampu ngasih yang terbaik malah dikasih terus ini😭😭😭


Saya sudah semangat 45 mau ke dealer untuk mengambil motor kami, ndelalah sales yang selama ini berhubungan dengan kami mengabari stok Revo Fit warna merah kosong. Bukan hanya di dealer setempat, namun bahkan Se-Jogja Raya ini kosong.


<To be continued
Tulisan belum selesai. Wkwkwk..lanjut besok ya



0



Asuransi Kesehatan Masa Kini, Bayarnya Cashless Sesuai Tagihan


Belum lama ini saya masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Penyebabnya asam lambung naik dan mengiritasi saluran pernafasan. Bikin saya jadi mual hebat, batuk-batuk parah, juga sesak nafas.

Beruntung, kondisi saya segera membaik setelah mendapat penanganan yang tepat. Setelah menunggu beberapa jam, saya diperbolehkan pulang dengan "dibekali" 7 macam obat sekaligus. Saya lega karena cukup dengan rawat jalan saja, tidak sampai rawat inap karena pasti akan sangat merepotkan.

Namun ketika harus membayar tagihan rumah sakitnya, saya dan suami sama-sama nyengir kuda. Bukan mau mengeluh sih, tapi nominalnya bukan kaleng-kaleng. Cukup untuk staycation di hotel bintang 4 atau makan di restoran mewah sampai kenyang. Ini saya "hanya" rawat jalan lho, bayangkan jika harus rawat inap dan otomatis menambah biaya kamar per malamnya.

Maka benarlah, kesehatan itu sungguh nikmat Tuhan yang tidak murah harganya. Jangan tunggu sakit baru menyadarinya, ya!


Pentingnya Asuransi untuk Proteksi Diri

Kejadian mendadak berurusan dengan rumah sakit itu membuat saya dan suami langsung berbicara serius soal asuransi kesehatan. Sebetulnya kami sudah punya BPJS, namun faskes 1 kami cukup jauh dari kontrakan yang kami tempati sekarang. Kami butuh proteksi ekstra untuk bisa dipakai di mana saja dan kapan saja tanpa khawatir.

Sebagai generasi milenial yang (merasa) sudah cukup melek finansial, kami menyadari betul pentingnya memiliki asuransi kesehatan. Sebelum menikah sudah dipikirkan dan direncanakan, namun memang belum terlaksana karena banyaknya kebutuhan ini itu khas pengantin baru. Masuknya saya ke IGD seolah bak kode kecil dari Tuhan agar kami segera mengurus asuransi kesehatan demi proteksi diri ke depannya.

Perlunya proteksi diri untuk saat-saat terkapar di RS begini

By the way,  banyak teman dan kerabat saya yang masih berpikir asuransi itu hanya buang-buang uang. Rugi jika sudah membayar namun tak terpakai karena sehat terus alias tidak pernah sakit.

Ini pemikiran yang keliru, menurut saya. Membayar premi asuransi itu bisa diibaratkan seperti menyewa jasa satpam untuk rumah atau kantor kita. Memangnya kita akan merasa rugi jika keadaan aman-aman saja dan tidak terjadi tindak pencurian atau perampokan? Tentu tidak, bukan? Kita akan bersyukur karenanya.

Sebaliknya, jika amit-amit terjadi hal yang tidak diinginkan, kita bisa sedikit lega karena sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk sebuah proteksi atau perlindungan.

Pilihan Asuransi Digital untuk Keluarga Milenial

Pandemi Covid-19 telah mempercepat digitalisasi di setiap sendi kehidupan masyarakat. Nyaris segala hal sudah bisa dilayani dalam genggaman. Semua sudah serba online dan cashless.

Tidak terkecuali dengan asuransi. Saya ingat saat saya masih bekerja kantoran nyaris satu dekade lalu, produk-produk asuransi hanya bisa diakses secara konvensional melalui agen atau sales-sales marketing-nya. Tapi rupanya sekarang sudah bisa diakses dengan mudah secara online lewat gadget.


Flexi Hospital & Surgical Protection, Bayar Asuransi Cashless Sesuai Tagihan

Tepat ketika saya dan suami asyik berunding memilih asuransi pada pertengahan Juni lalu, Astra Life rupanya baru meluncurkan Flexi Hospital & Surgical Protection yang merupakan asuransi kesehatan dengan manfaat penggantian biaya perawatan di Rumah sakit di Indonesia.

Kami tertarik dengan produk asuransi ini karena memberikan penggantian biaya rawat jalan darurat dan penggantian biaya perawatan lengkap di Indonesia di Rumah Sakit Indonesia dengan pembayaran manfaat sesuai tagihan. Maksudnya, kita bisa memilih dan menentukan sendiri besaran premi yang harus dibayarkan sesuai dengan kebutuhan dan manfaat yang diinginkan.

Biar lebih jelas, bisa langsung ke tautan ilovelife.co.id untuk mencoba sendiri kalkulator premi dan manfaat dari Flexi Hospital & Surgical Protection seperti yang sudah saya coba ini. 

Hasil kalkulator premi (screenshot pribadi)

Asuransi Flexi Hospital & Surgical Protection dari #AstraLife ini juga merupakan solusi untuk para pasien yang membutuhkan penggantian biaya rawat jalan kanker (radioterapi dan kemoterapi) dan Cuci Darah. Termasuk juga penggantian biaya fisioterapi yang mencakup terapi okupasi dan terapi Wicara.

Untuk pembayarannya no ribet-ribet club. Semua bisa dibayar dengan non-tunai karena adanya fasilitas cashless dengan e-card di Rumah Sakit rekanan di Indonesia. 

Manfaat asuransi Flexi Hospital & Surgical Protection dari Astra Life


Ah, andai saja saya dan suami sudah membeli produk asuransi ini sebelum saya terkapar di IGD, pasti tidak perlu pusing dengan tagihannya. But better late than never. Tidak ada kata terlambat untuk mulai sadar memproteksi diri.


Fasilitas MCU Flexi Hospital & Surgical, Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

"Lebih baik mencegah daripada mengobati"
Hampir semua orang tahu adagium atau peribahasa ini. Namun pada kenyataannya lebih banyak orang yang baru sibuk berobat ketika sudah kadung terserang penyakit ketimbang mencegahnya.

Mahalnya biaya disinyalir sebagai salah satu faktor penghambat sehingga banyak orang enggan melakukan Medical Check Up (MCU). Padahal, MCU adalah langkah penting untuk dilakukan sebagai pencegahan.

Mengutip detikHealth dot com, MCU rutin perlu dilakukan karena dari hasilnya bisa diketahu kondisi medis seseorang secara keseluruhan. MCU juga berguna untuk mendeteksi penyakit dalam tubuh, terutama jika terserang sejumlah penyakit yang tidak bergejala. Selain itu, MCU juga bisa digunakan untuk mengetahui risiko penyakit seseorang yang mungkin terjadi di masa depan.

Flexi Hospital & Surgical Protection dari #AstraLife agaknya memahami benar pentingnya MCU ini. Bukan hanya berfokus membuat #TagihanRSjadiRingan semata, asuransi ini juga memberikan fasilitas MCU gratis setiap 2 tahun terhitung sejak tanggal polis aktif lho.

Lebih detail terkait fasilitas MCU ini, bisa dilihat pada gambar berikut :

Fasilitas MCU di Flexi Hospital & Surgical Protection (sumber : ilovelife.co.id)

Hmm, sepertinya Flexi Hospital & Surgical Protection ini asuransi kesehatan masa kini banget, ya?! Sudah preminya terjangkau dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, bayarnya bisa cashless sesuai tagihan mengikuti perkembangan zaman era digital, manfaatnya juga maksimal. Sungguh jawaban kebutuhan asuransi keluarga milenial. 

Untuk info lebih lanjut terkait Flexi Hospital & Surgical

And last but not least,
please protect yourself,
protect your familiy,
protect everyone that you loved,
So you can live your life and love your life then ...
#LoveLife

_____________________________________

Untuk info lebih lanjut terkait Flexi Hospital &Surgical Protection, bisa kunjungi website dan follow media sosial berikut ini :

Website :
Facebook : AstraLifeID
Twitter : @AstraLifeID



1

 Tulisan kali ini berisi pengalaman saya mengatasi rambut lepek dengan menjajal rangkaian haircare Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner. Apakah berhasil? Baca terus sampai habis ya!


Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

Berbagai cara sudah saya coba lakukan demi mengatasi masalah rambut saya yang super lepek, berminyak dan awut-awutan ini. Mulai dari menjajal berbagai merk shampoo dan conditioner, sampai mencoba rutin melakukan perawatan di salon. Namun sepertinya semua upaya saya masih belum memberikan hasil maksimal.


Rasanya rambut saya hanya bagus selama beberapa saat saja setelah keluar dari salon, selebihnya ya kembali lepek, berminyak, dan awut-awutan. Sedih sih ya, rasanya udah habis akal banget mengatasi rambut yang begini ini. Padahal katanya rambut itu mahkota wanita. Huhuhu...


Untunglah, belum lama ini saya dapat kabar kalau Scarlett baru saja mengeluarkan produk hair care. Wah info baru ini, soalnya yang saya tahu, Scarlett selama ini terkenal dengan rangkaian produk skin care dan body care-nya yang nyaris semuanya sudah saya coba. 


Berbekal rasa kepo dan hasil membaca review teman-teman sesama blogger, saya pun memutuskan mencoba hair care produksi Scarlett ini. Saya sih belum tahu ada varian yang lain atau tidak, namun yang saya coba saya pakai adalah Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner.


So, berikut review lengkap rangkaian Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner versi si Emak kucing kampung untuk atasi rambut lepek dan berminyak.


Kemasan, Aroma, dan Tekstur Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

Beruntunglah Scarlett karena saya ini bukan tipe orang yang memilih produk dari kemasannya. Andai cuma lihat dari packagingnya, sudah pasti saya tidak akan beli.

Kemasan Scarlett Sea Salt Shampoo & Conditioner

 Ini masalah selera sih, tapi saya betul-betul kurang suka dengan packaging Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner ini. Desain kemasan botol plastik transparan ini, terlebih tempelan kertas labelnya mengingatkan saya dengan shampoo-shampoo buatan UMKM lokal atau buatan anak-anak sekolah untuk project wirausahanya.  


Ayolah, untuk perusahaan milik Felicya Angelista yang bahkan mampu menjadikan Song Joong Ki dan Twice Ambassadornya, seharusnya Scarlett bisa membuat kemasan yang lebih elegan. (Jangan baper ya, Scarlett! Ini masukan dari pelanggan setia kok 😘)


Untungnya, kelemahan packagingnya langsung terlupakan begitu saja begitu tutupnya dibuka. Sebagai pecinta pantai banget, saya hafal aroma aquatik nan segar yang langsung menyeruak dari dalam botol shampoonya ini. Warnanya yang biru segar juga mengingatkan saya dengan warna air kolam renang. Menariknya, ada tambahan wangi bunga magnolia yang lembut juga. Kebayang nggak sih perpaduan sempurna aroma fresh dan lembut itu? 


Sementara itu, aroma conditioner-nya terasa lebih kuat meski masih sama-sama enak dan sopan masuk hidung. Conditioner Scarlett ini punya wangi bunga-bunga yang manis gitu, lebih tepatnya kaya bunga evening primrose alias bunga sedap malam.


Lanjut ke tekstur. Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo berupa cairan agak kental berwarna biru cerah. Teksurnya biasa saja seperti layaknya shampoo pada umumnya. Tapi cairan shampoonya tidak mudah tumpah bahkan jika botolnya terguling. 

Shampoo yang biru, conditioner yang pink

Sementara untuk conditionernya yang berwarna baby pink ini lebih pekat ketimbang shampoonya, namun lebih ringan ketimbang conditioner pada umumnya. Saya suka tekstur conditioner Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo ini karena tidak lengket dan sangat mudah dibilas.

Kandungan Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

Hasil baca-baca label kemasan dan beberapa artikel review, produk Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner ini mengandung sea salt alias garam laut yang punya fungsi utama mengurangi kadar minyak berlebih di kulit kepala. Cocok banget kan buat yang punya rambut lepek kaya saya?


Selain itu, bersama kandungan bahan-bahan lainnya yang aman, shampoo dan conditioner Scarlett ini juga diklaim bisa mengatasi penumpukan kotoran di permukaan kulit kepala, serta membuka kutikel kulit rambut sehingga penyerapan perawatan selanjutnya bisa lebih maksimal.

Selain fungsi pembersihan maksimal, produk Shampoo dan Conditioner Scarlett ini juga bermanfaat menguatkan akar rambut, memberikan volume, mencegah rambut bercabang dan rontok, serta bikin rambut shining shimering splendid.

Wohoo, paket lengkap banget ya. Apakah hasilnya sejalan dengan klaimnya? 

Kesan Setelah Pemakaian Rutin Selama 2 Minggu

Sebetulnya tidak 2 minggu full banget sih ya, karena saya tidak keramas setiap hari. Cukup 2-3 hari sekali saja biar tidak boros shampoo πŸ™‚

Meski agak kesulitan menuangkan cairan shampoo-nya karena desain botol 250 ml ini cukup besar di genggaman saya, tapi saya lumayan menikmati keramas dengan shampoo Scarlett ini. Mungkin sebagian orang tidak terlalu suka karena sensasi busanya kurang melimpah, namun efek kulit kepala langsung bersih dan segar langsung berasa.

Dan saya suka sekali dengan conditionernya. Cukup tuang secukupnya ke telapak tangan setelah keramas, lalu usapkan ke bagian tengah hingga ujung rambut dan diamkan selama beberapa menit sebelum dibilas bersih. Saya suka karena conditioner ini sangat mudah dibilas sehingga hemat air.

Nugisuke, suami saya, selalu memuji rambut saya wangi sekali setiap kali habis keramas. Macem orang mandi kembang saja, katanya sambil menghujani saya dengan ciuman. Hehehe...

Bye rambut lepek, welcome rambut bervolume 😘

Hebatnya lagi, rambut saya yang biasanya lepek parah langsung terlihat mengembang dan bervolume bahkan dari pemakaian pertama. Minyak minyak yang selama ini yang juga kerap bikin saya ketombean auto lenyap seketika.

Kalau klaim bikin rambut berkilaunya sih belum terlalu kelihatan sih ya, tapi Shampoo ini sangat layak untuk diteruskan pemakaiannya. Setidaknya untuk saya.

Apakah kalian tertarik nyobain juga? 




0

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...