Menu

 


Mangrove sudah lama dikenal sebagai pohon yang punya fungsi ekologis, terutama sebagai garda terdepan penjaga pesisir. Hutan di tepi laut ini tak hanya hijau di permukaan, tapi juga punya akar-akar kuat yang muncul dari lumpur. Tugasnya bukan cuma melindungi pantai, tapi mangrove juga merupakan rumah bagi berbagai jenis biota.

Tapi pernah terpikir ga sig bahwa mangrove juga bisa menjadi sumber pangan?

Cerita ini saya temukan di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Lewat webinar EcoBloggerSquad bertajuk "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat" akhir September lalu bersama The Asia Foundation dan Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat.

Mama-Mama Friwen: Menjaga Hutan, Menjaga Pangan



Daniel Kbarek, Program Officer The Asia Foundation dalam webinar berkisah bahwa mangrove ternyata juga dapat memiliki fungsi sebagai sumber pangan. Mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari camilan, minuman, hingga tepung gluten free. Bahkan, ada pula pemanfaatan yang berkaitan dengan produksi madu.

Ini mindblowing banget sih. Jujur, aku baru tahu kalau mangrove juga bisa dimakan. 

Namun, cerita mangrove sebenarnya lebih besar dari sekadar produk makanan. Sumber daya dari hutan perlu diolah terlebih dahulu sebelum bisa dikonsumsi. 

Steve Wawiyai, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat bercerita tentang apa yang dilakukan mama-mama atau kaum perempuan di Kampung Friwen. 

Kaum perempuan di sana bukan hanya sekadar mengolah bahan baku yang dihasilkan hutan mangrove, namun benar-benar berperan sebagai garda terdepan yang menjaga hutan mangrove tersebut. 

Mereka terlibat dalam rehabilitasi hutan, menanam kembali mangrove di kawasan yang rusak, melakukan pemantauan, dan menjaga agar hutan tidak dieksploitasi sembarangan.


Ada hubungan yang sangat sederhana di sini: kalau hutannya rusak, sumber pangannya juga ikut terancam.

Karena itu, bagi mereka, menjaga mangrove dan memanfaatkan hasilnya bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya berjalan beriringan. Hutan menyediakan pangan, sementara pengetahuan tentang pangan menjadi salah satu alasan untuk terus menjaga hutan.

Yang dipertahankan akhirnya bukan hanya pohonnya, tetapi juga ilmu pengetahuan lokal, sumber pangan lokal yang tersedia, juga penghidupan masyarakat yang tumbuh di dalamnya. 

Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen, Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota.

Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.

Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.

Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan anak muda. 

Dari Mangrove ke Pohon Asam di Pinggir Jalan



Jauh dari Raja Ampat, saya menemukan contoh lain yang lebih dekat dengan keseharian.

Saat ini saya tinggal di Bandung. Di salah satu ruas jalan tidak jauh dari tempat tinggal saya, ada pohon asam jawa yang cukup besar. Selama ini saya mengenalnya seperti kebanyakan orang mungkin mengenal pohon di pinggir jalan: sebagai pohon peneduh.

Tajuknya lebar dan rindang. Berjalan atau berkendara di bawahnya terasa sedikit lebih teduh dibandingkan ruas jalan yang minim pepohonan.

Padahal, asam jawa (Tamarindus indica) punya fungsi lain yang tidak kalah menarik. Buahnya sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bumbu. Daging buahnya dapat diolah menjadi minuman, sirup, manisan, permen, dan berbagai produk pangan lainnya.

Pohon asam pun bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam lanskap jalan Indonesia. Penanaman pohon sebagai peneduh dan bagian dari penghijauan jalan sudah dilakukan sejak masa kolonial. Bandung sendiri memiliki sejarah panjang dalam penataan ruang hijau dan pepohonan di sepanjang jalan.

Kini, asam jawa kembali hadir dalam penataan kawasan Gedung Sate–Gasibu. Pohon-pohon yang ditanam di sana tentu masih membutuhkan waktu untuk tumbuh besar. Belum ada buah yang bisa dipanen dalam waktu dekat.

Tetapi justru di situlah menariknya.

Ketika sebuah pohon ditanam hari ini, kita mungkin sedang menanam manfaat yang baru akan terasa bertahun-tahun kemudian.

Menanam Lebih dari Sekadar Pohon

Mangrove di Friwen dan asam jawa di Bandung tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda. Tetapi keduanya mengingatkan kita pada satu hal sederhana: tanaman tidak selalu hanya punya satu fungsi.

Sebuah pohon bisa membantu menjaga ekosistem sekaligus menyediakan pangan. Bisa membuat lingkungan lebih teduh sekaligus menghasilkan sesuatu yang dapat dikonsumsi. Bahkan, ketika pengetahuan tentang pemanfaatannya tetap hidup, tanaman tersebut dapat menjadi bagian dari budaya dan penghidupan masyarakat.

Karena itu, mungkin saat memilih tanaman untuk penghijauan, kita tidak hanya perlu bertanya, “Seberapa rindang pohon ini?”

Kita juga bisa bertanya:

Apa yang bisa diberikan pohon ini kepada lingkungan?

Apa yang bisa diberikannya kepada manusia?

Dan yang paling penting, bagaimana kita memastikan manfaat itu tetap ada untuk generasi berikutnya?

Sebab menjaga pohon dengan fungsi ganda berarti menjaga lebih dari sekadar penghijauan.

Kita juga sedang menjaga kemungkinan: bahwa dari satu pohon, bisa tumbuh keteduhan, pangan, pengetahuan, dan kehidupan.

Kebetulan saat ini tinggal menghitung hari menjelang Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026, yang berlangsung pada 3–11 Oktober 2026 di Bangkok. Tahun ini, BKKCAW mengangkat tema “Rai Likit, Economy we Shape, Climate we Share”, dengan berbagai pembahasan yang mempertemukan isu iklim dengan ekonomi, sistem pangan, komunitas, serta alam dan keanekaragaman hayati.

Menariknya, beberapa agenda BKKCAW tahun ini secara langsung memperlihatkan bagaimana hubungan tersebut bisa diwujudkan. Misalnya, Forest Market yang menampilkan produk-produk hasil usaha sosial berbasis hutan yang dikelola perempuan.

 Program itu menunjukkan bagaimana produk hutan bisa menciptakan penghidupan berkelanjutan sekaligus mempertahankan nilai ekonomi di dalam komunitas. Ada pula Sambal from the Forest, yang mengenalkan hasil pangan dari berbagai lanskap hutan Indonesia sekaligus mengangkat bagaimana pengetahuan perempuan mengenai pangan dan sumber daya hutan dapat mendukung ketahanan pangan rumah tangga, usaha komunitas, penghidupan berkelanjutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.


Nah, sampai sini harusnya kita semakin sadar, bahwa ternyata pohon-pohon itu tak hanya memberi manfaat baik bagi lingkungan. Ya buat sumber pangan, ya buat meningkatkan perekonomian. Makanya, jangan biarkan perubahan iklim merusak alam kita. Jaga alam, jaga hutan, untuk kehidupan anak-cucu kita di masa depan. Share dong tanaman di daerahmu yang juga punya manfaat ganda seperti mangrove atau asam jawa.

0









Dari sekian banyak hal yang kupersiapkan untuk hari pernikahan selama kurang lebih setahun sebelumnya, ada satu hal sepele yang justru luput dan tidak terpikirkan sama sekali : bagaimana jika mataku tidak nyaman di sepanjang upacara pemberkatan nikah?

September 2021, aku dan Nugi, suamiku, menikah di sebuah gereja kecil di Yogyakarta. Saat itu dunia masih heboh dengan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung. Alhasil, pernikahanku berlangsung sangat sederhana. "Hanya" sebuah pemberkatan sederhana di gereja dengan tamu tidak lebih dari 30 orang.

Namun itu sama sekali bukan masalah. Aku tetap total mempersiapkan karena berpikir pernikahan adalah momen sakral yang tentunya hanya berlangsung sekali seumur hidup. Dan seperti hampir semua gadis yang hendak meninggalkan masa lajangnya, hari itu aku juga ingin tampil berbeda dari biasanya. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, aku melepas kacamata yang selama ini selalu menempel di wajahku, dan memutuskan memakai softlens di hari istimewa itu.

Rasanya menyenangkan melihat pantulan wajahku di cermin tanpa kacamata setelah makeup selesai. Awalnya tampak baik-baik saja. Aku tidak merasa terganggu ketika di mobil dalam perjalanan berangkat ke gereja. Saat menunggu upacara pemberkatan dimulai pun tidak ada masalah.


Mata kering semakin parah karena penggunaan lensa kontak


Namun kurang dari setengah jam jelang aku harus masuk ruangan dan melangkah di altar, mendadak mataku terasa sepat dan perih. Aku sekuat tenaga menahan godaan untuk tidak mengucek mataku, karena takut merusak make up atau nail art yang dikenakan.

Tapi mataku rasanya semakin gatal dan tidak nyaman. Bahkan tanpa masalah sepele seperti gangguan pada mata ini, aku dari awal sudah sangat gugup menghadapi hari pernikahanku. Aku sudah nyaris nekat melepas softlen dan memasang lagi kacamataku demi membuat mataku nyaman kembali.

Untunglah, sebelum aksi nekat itu kulakukan, ada salah satu ibu-ibu jemaat gereja yang notice. Mumpung masih ada waktu sedikit, dia membantuku melepas softlens, dan memberikan sesuatu seperti obat tetes mata.

Belakangan aku baru tahu kalau "obat tetes mata" itu adalah Insto Dry Eyes yang saat itu masih dalam kemasan lamanya. Efeknya langsung berasa. Mataku yang semula terasa sangat pedih, sepat, bahkan mulai kemerahan, seketika menjadi sejuk dan nyaman kembali. Aku menunggu 15 menit sebelum akhirnya memasang softlens kembali. Semua itu dilakukan dengan ekstra hati-hati agar make up istimewaku tidak rusak.

Puji Tuhan, sisa acara pemberkatan nikahku berlangsung lancar dan khidmat tanpa gangguan apapun. Aku dan suami saling mengucap janji, bertukar cincin dan mengikuti seluruh rangkaian acara pemberkatan dengan hati yang penuh dengan sukacita sekaligus hari. Finally. Aku sudah sah jadi istri orang.


Insto Dry Eyes, Solusi Mata Kering


Sejak momen sakral pernikahanku nyaris berantakan karena hal sesepele mata kering karena tidak terbiasa pakai softlens itu, aku jadi lebih aware soal ini. Meski sehari-hari aku kembali berkacamata, namun aktivitasku sebagai penulis dan content creator bikin mataku cukup rawan jadi kering lagi karena kelamaan menatap layar.
Momen sakral pernikahan kami di altar



Aku memahami bahwa gejala mata kering terkadang memang SePeLe, tetapi bukan berarti boleh disepelekan. Mata terasa sepet atau perih dan cepat lelah bisa menjadi tanda mata kering, sementara aktivitas yang membuat kita jarang berkedip, termasuk terlalu lama berkonsentrasi di depan layar misalnya dapat memicu atau memperburuk gejalanya.

Sekarang, ketika mata mulai terasa kering setelah bekerja cukup lama, aku biasanya memberikan waktu untuk beristirahat, lebih memperhatikan kedipan, dan bila diperlukan menggunakan Insto Dry Eyes.

Saat ini aku selalu sedia insto Dry Eyes. Aku bahkan biasa menyetok beberapa sekaligus agar bisa ditaruh di tempat-tempat strategis seperti di kantong tas, kotak kacamata, juga kotak obat di rumah sehingga bisa siap digunakan kapanpun aku butuh.

Insto Dry Eyes bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata untuk membantu mengatasi gejala mata kering. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg sebagai bahan aktifnya.

Tentu saja, aku juga belajar menggunakan tetes mata dengan benar. Untuk pengguna lensa kontak, Insto Dry Eyes perlu digunakan setelah lensa kontak dilepas, dan lensa kontak baru dapat digunakan kembali minimal 15 menit setelah obat diteteskan.

Kalau dipikir-pikir, pengalaman di hari pernikahanku ternyata mengajarkan sesuatu yang baru kusadari setelah bertahun-tahun.

Dulu aku begitu sibuk mempersiapkan bagaimana aku akan terlihat pada sebuah momen penting: gaun, makeup, rambut, sampai softlens.

Aku ternyata luput mempersiapkan bagaimana aku akan menikmati momen itu.

Padahal, ada banyak hal yang hanya datang sekali. Ada janji yang cuma diucapkan sekali. Ada tatapan yang ingin kita ingat. Ada wajah orang tua yang ingin kita lihat dengan jelas. Dan ada foto-foto yang suatu hari nanti akan kita buka kembali, berharap bisa mengingat setiap detailnya.

Semua itu bisa kacau seketika hanya karena sebab sesepele mata kering. Karena itu, sekarang aku belajar untuk tidak menunggu sampai gejala mata kering benar-benar mengganggu.


Sekarang, selalu siap sedia Insto Dry Eyes




Mata yang terasa sepet mungkin terlihat seperti masalah kecil. Tapi ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang penting, atau sedang berada di dalam momen yang sudah lama kita nantikan, kita tentu tidak ingin hal sekecil itu membuat kita harus berhenti.

Aku jadi semakin menyadari, #MataSePeLeJanganSepelein.


Insto Dry Eyes, penyelamat momen besar kami


Karena terkadang, menjaga mata tetap nyaman bukan sekadar soal kesehatan mata. Melainkan tentang memastikan kita bisa membuka mata lebar-lebar dan benar-benar hadir untuk momen yang berarti. Siapa yang menduga, #BebasMataKering ternyata bisa menjadi anugerah berarti di momen yang dinanti. Jadi, jangan sampai #InstoDryEyes luput dari persediaan sehari-hari.
0





Reinkarnasi - Bintang Putra Sugiatno 


Di tengah maraknya arus karya digital yang kerap diasosiasikan dengan kecanggihan kecerdasan buatan (AI), sebuah video klip dari single bertajuk Reinkarnasi hadir sebagai kejutan yang menggugah sekaligus bikin bangga. Debut Bintang Putra Sugiatno sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagunya seperti ingin membuktikan bahwa kejujuran rasa dan ketekunan berkarya masih menjadi kekuatan utama dalam industri musik akhir-akhir ini.

Reinkarnasi adalah lagu pop dengan nuansa reflektif dan lirih. Namun, kekuatannya sama sekali tidak berhenti pada melodi. Lagu ini diketahui lahir dari rasa rindu mendalam Bintang kepada mendiang kakeknya—sebuah tema personal yang diterjemahkan dengan bahasa puitik, sederhana, namun sarat makna.




Penilaian pribadi saat pertama mendengarnya, liriknya tidak berusaha dramatis secara berlebihan. Sebaliknya, justru tenang, seperti percakapan batin seseorang yang sedang berdamai dengan kehilangan.

“Mungkin hidup ini tak lama lagi / Aku menantikan Dia datang padaku”

Sebuah lirik pembuka yang langsung menempatkan pendengar pada ruang kontemplasi. Lagu ini berbicara tentang kefanaan, tentang sakit yang kelak berhenti, dan tentang harapan akan dimensi yang lebih baik. Bukan kematian yang menakutkan, melainkan transisi, sebuah perjalanan menuju terang.


“Aku sekarang telah terbang di langit / Melintasi dimensi yang lebih baik”


Lirik tersebut memberi kesan pelepasan yang lapang. Tergambar bahwa Reinkarnasi tidak hanya bicara soal pahitnya duka, tetapi juga tentang penerimaan. Bahkan ketika sudah masuk pada tanah gagasan “terlahir lagi”, lagu ini sama sekali tidak terjebak dalam tafsir literal. Lagunya lebih terasa sebagai simbol: keinginan untuk menerangi masa kemudian memahami diri yang pernah rapuh, dan tidak lagi merasa kesepian—karena cinta tidak benar-benar pergi.


Animasi dalam video klip Reinkarnasi


Selain lirik dan aransemen, kekuatan emosional lagu ini kemudian dipertegas lewat video klip animasi yang mengiringi. Visual yang ditampilkan begitu matang, detail, dan menyatu dengan atmosfer lagu, hingga banyak penonton –termasuk saya– yang menyangka video ini dibuat dengan bantuan AI. Padahal, animasi tersebut adalah karya orisinal anak negeri, dikerjakan dengan keterampilan, kesabaran, dan visi artistik yang jelas. Kualitasnya bak cuplikan film animasi produksi studio ternama luar negeri.

Animasi dalam Reinkarnasi jelas bukan hanya sekadar pemanis. Ia turut menjadi medium bercerita—menyampaikan perasaan yang mungkin sulit diucapkan dengan kata-kata terbatas dalam litik. Perpaduan warna, gerak, dan ritme visualnya menciptakan pengalaman menonton yang imersif, seolah penonton diajak ikut “terbang” melintasi dimensi batin sang pencipta lagu. Menurut Bintang, lagu ini sendiri terinspirasi dari sosok mendiang kakek yang begitu disayanginya. 

Bintang Putra Sugiatno, Berkarya di Usia Belia


Di usia yang masih sangat muda, Bintang Putra Sugiatno yang masih pelajaran kelas 2 SMKN di Bandung ini menunjukkan kedewasaan artistik yang jarang ditemui remaja seusianya. Reinkarnasi bukan hanya lagu pop biasa, melainkan sebuah kesaksian bahwa karya yang jujur, personal, dan digarap dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya. Di tengah zaman serba instan, karya ini telah berhasil mengingatkan kita: emosi manusia tetap tak tergantikan oleh teknologi apa pun.

Keberanian Bintang Putra Sugiatno untuk merilis karya sejujur Reinkarnasi di usia yang masih belia perlu diapresiasi lebih dari sekadar kekaguman sesaat. Di tengah tekanan untuk sekadar mengikuti tren atau mengejar viralitas, ia memilih jalur yang tidak mudah: berkarya dari pengalaman personal, mengolah rindu menjadi musik, dan menyampaikannya dengan visual yang digarap serius. Ini bukan sekadar soal bakat, melainkan soal keberanian mengambil posisi sebagai seniman—bahkan sebelum dunia sepenuhnya siap memberi pengakuan.

Saya sungguh berharap, langkah awal ini bukan menjadi puncak, melainkan fondasi. Konsistensi sering kali menjadi ujian terberat bagi musisi muda: menjaga api kreatif tetap menyala di tengah proses belajar, keterbatasan, dan perubahan hidup.

Namun jika Bintang mampu mempertahankan kejujuran rasa dan kesungguhan kerja seperti yang terasa dalam Reinkarnasi, bukan tidak mungkin ia akan tumbuh menjadi suara yang matang—bukan hanya mahir secara teknis, tetapi juga berakar kuat pada kemanusiaan. Dunia musik Indonesia selalu membutuhkan talenta muda yang berani jujur pada dirinya sendiri. 


Buat kalian yang penasaran, single REINKARNASI dari Bintang Putra Sugiatno sudah bisa didengarkan di semua platform musik. 
0

Baca juga

Mangrove Papua, Asam Jawa, dan Para Tumbuhan Agen Ganda

  Mangrove sudah lama dikenal sebagai pohon yang punya fungsi ekologis, terutama sebagai garda terdepan penjaga pesisir. Hutan di tepi laut ...