Menu









Dari sekian banyak hal yang kupersiapkan untuk hari pernikahan selama kurang lebih setahun sebelumnya, ada satu hal sepele yang justru luput dan tidak terpikirkan sama sekali : bagaimana jika mataku tidak nyaman di sepanjang upacara pemberkatan nikah?

September 2021, aku dan Nugi, suamiku, menikah di sebuah gereja kecil di Yogyakarta. Saat itu dunia masih heboh dengan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung. Alhasil, pernikahanku berlangsung sangat sederhana. "Hanya" sebuah pemberkatan sederhana di gereja dengan tamu tidak lebih dari 30 orang.

Namun itu sama sekali bukan masalah. Aku tetap total mempersiapkan karena berpikir pernikahan adalah momen sakral yang tentunya hanya berlangsung sekali seumur hidup. Dan seperti hampir semua gadis yang hendak meninggalkan masa lajangnya, hari itu aku juga ingin tampil berbeda dari biasanya. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, aku melepas kacamata yang selama ini selalu menempel di wajahku, dan memutuskan memakai softlens di hari istimewa itu.

Rasanya menyenangkan melihat pantulan wajahku di cermin tanpa kacamata setelah makeup selesai. Awalnya tampak baik-baik saja. Aku tidak merasa terganggu ketika di mobil dalam perjalanan berangkat ke gereja. Saat menunggu upacara pemberkatan dimulai pun tidak ada masalah.


Mata kering semakin parah karena penggunaan lensa kontak


Namun kurang dari setengah jam jelang aku harus masuk ruangan dan melangkah di altar, mendadak mataku terasa sepat dan perih. Aku sekuat tenaga menahan godaan untuk tidak mengucek mataku, karena takut merusak make up atau nail art yang dikenakan.

Tapi mataku rasanya semakin gatal dan tidak nyaman. Bahkan tanpa masalah sepele seperti gangguan pada mata ini, aku dari awal sudah sangat gugup menghadapi hari pernikahanku. Aku sudah nyaris nekat melepas softlen dan memasang lagi kacamataku demi membuat mataku nyaman kembali.

Untunglah, sebelum aksi nekat itu kulakukan, ada salah satu ibu-ibu jemaat gereja yang notice. Mumpung masih ada waktu sedikit, dia membantuku melepas softlens, dan memberikan sesuatu seperti obat tetes mata.

Belakangan aku baru tahu kalau "obat tetes mata" itu adalah Insto Dry Eyes yang saat itu masih dalam kemasan lamanya. Efeknya langsung berasa. Mataku yang semula terasa sangat pedih, sepat, bahkan mulai kemerahan, seketika menjadi sejuk dan nyaman kembali. Aku menunggu 15 menit sebelum akhirnya memasang softlens kembali. Semua itu dilakukan dengan ekstra hati-hati agar make up istimewaku tidak rusak.

Puji Tuhan, sisa acara pemberkatan nikahku berlangsung lancar dan khidmat tanpa gangguan apapun. Aku dan suami saling mengucap janji, bertukar cincin dan mengikuti seluruh rangkaian acara pemberkatan dengan hati yang penuh dengan sukacita sekaligus hari. Finally. Aku sudah sah jadi istri orang.


Insto Dry Eyes, Solusi Mata Kering


Sejak momen sakral pernikahanku nyaris berantakan karena hal sesepele mata kering karena tidak terbiasa pakai softlens itu, aku jadi lebih aware soal ini. Meski sehari-hari aku kembali berkacamata, namun aktivitasku sebagai penulis dan content creator bikin mataku cukup rawan jadi kering lagi karena kelamaan menatap layar.
Momen sakral pernikahan kami di altar



Aku memahami bahwa gejala mata kering terkadang memang SePeLe, tetapi bukan berarti boleh disepelekan. Mata terasa sepet atau perih dan cepat lelah bisa menjadi tanda mata kering, sementara aktivitas yang membuat kita jarang berkedip, termasuk terlalu lama berkonsentrasi di depan layar misalnya dapat memicu atau memperburuk gejalanya.

Sekarang, ketika mata mulai terasa kering setelah bekerja cukup lama, aku biasanya memberikan waktu untuk beristirahat, lebih memperhatikan kedipan, dan bila diperlukan menggunakan Insto Dry Eyes.

Saat ini aku selalu sedia insto Dry Eyes. Aku bahkan biasa menyetok beberapa sekaligus agar bisa ditaruh di tempat-tempat strategis seperti di kantong tas, kotak kacamata, juga kotak obat di rumah sehingga bisa siap digunakan kapanpun aku butuh.

Insto Dry Eyes bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata untuk membantu mengatasi gejala mata kering. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg sebagai bahan aktifnya.

Tentu saja, aku juga belajar menggunakan tetes mata dengan benar. Untuk pengguna lensa kontak, Insto Dry Eyes perlu digunakan setelah lensa kontak dilepas, dan lensa kontak baru dapat digunakan kembali minimal 15 menit setelah obat diteteskan.

Kalau dipikir-pikir, pengalaman di hari pernikahanku ternyata mengajarkan sesuatu yang baru kusadari setelah bertahun-tahun.

Dulu aku begitu sibuk mempersiapkan bagaimana aku akan terlihat pada sebuah momen penting: gaun, makeup, rambut, sampai softlens.

Aku ternyata luput mempersiapkan bagaimana aku akan menikmati momen itu.

Padahal, ada banyak hal yang hanya datang sekali. Ada janji yang cuma diucapkan sekali. Ada tatapan yang ingin kita ingat. Ada wajah orang tua yang ingin kita lihat dengan jelas. Dan ada foto-foto yang suatu hari nanti akan kita buka kembali, berharap bisa mengingat setiap detailnya.

Semua itu bisa kacau seketika hanya karena sebab sesepele mata kering. Karena itu, sekarang aku belajar untuk tidak menunggu sampai gejala mata kering benar-benar mengganggu.


Sekarang, selalu siap sedia Insto Dry Eyes




Mata yang terasa sepet mungkin terlihat seperti masalah kecil. Tapi ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang penting, atau sedang berada di dalam momen yang sudah lama kita nantikan, kita tentu tidak ingin hal sekecil itu membuat kita harus berhenti.

Aku jadi semakin menyadari, #MataSePeLeJanganSepelein.


Insto Dry Eyes, penyelamat momen besar kami


Karena terkadang, menjaga mata tetap nyaman bukan sekadar soal kesehatan mata. Melainkan tentang memastikan kita bisa membuka mata lebar-lebar dan benar-benar hadir untuk momen yang berarti. Siapa yang menduga, #BebasMataKering ternyata bisa menjadi anugerah berarti di momen yang dinanti. Jadi, jangan sampai #InstoDryEyes luput dari persediaan sehari-hari.
0





Reinkarnasi - Bintang Putra Sugiatno 


Di tengah maraknya arus karya digital yang kerap diasosiasikan dengan kecanggihan kecerdasan buatan (AI), sebuah video klip dari single bertajuk Reinkarnasi hadir sebagai kejutan yang menggugah sekaligus bikin bangga. Debut Bintang Putra Sugiatno sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagunya seperti ingin membuktikan bahwa kejujuran rasa dan ketekunan berkarya masih menjadi kekuatan utama dalam industri musik akhir-akhir ini.

Reinkarnasi adalah lagu pop dengan nuansa reflektif dan lirih. Namun, kekuatannya sama sekali tidak berhenti pada melodi. Lagu ini diketahui lahir dari rasa rindu mendalam Bintang kepada mendiang kakeknya—sebuah tema personal yang diterjemahkan dengan bahasa puitik, sederhana, namun sarat makna.




Penilaian pribadi saat pertama mendengarnya, liriknya tidak berusaha dramatis secara berlebihan. Sebaliknya, justru tenang, seperti percakapan batin seseorang yang sedang berdamai dengan kehilangan.

“Mungkin hidup ini tak lama lagi / Aku menantikan Dia datang padaku”

Sebuah lirik pembuka yang langsung menempatkan pendengar pada ruang kontemplasi. Lagu ini berbicara tentang kefanaan, tentang sakit yang kelak berhenti, dan tentang harapan akan dimensi yang lebih baik. Bukan kematian yang menakutkan, melainkan transisi, sebuah perjalanan menuju terang.


“Aku sekarang telah terbang di langit / Melintasi dimensi yang lebih baik”


Lirik tersebut memberi kesan pelepasan yang lapang. Tergambar bahwa Reinkarnasi tidak hanya bicara soal pahitnya duka, tetapi juga tentang penerimaan. Bahkan ketika sudah masuk pada tanah gagasan “terlahir lagi”, lagu ini sama sekali tidak terjebak dalam tafsir literal. Lagunya lebih terasa sebagai simbol: keinginan untuk menerangi masa kemudian memahami diri yang pernah rapuh, dan tidak lagi merasa kesepian—karena cinta tidak benar-benar pergi.


Animasi dalam video klip Reinkarnasi


Selain lirik dan aransemen, kekuatan emosional lagu ini kemudian dipertegas lewat video klip animasi yang mengiringi. Visual yang ditampilkan begitu matang, detail, dan menyatu dengan atmosfer lagu, hingga banyak penonton –termasuk saya– yang menyangka video ini dibuat dengan bantuan AI. Padahal, animasi tersebut adalah karya orisinal anak negeri, dikerjakan dengan keterampilan, kesabaran, dan visi artistik yang jelas. Kualitasnya bak cuplikan film animasi produksi studio ternama luar negeri.

Animasi dalam Reinkarnasi jelas bukan hanya sekadar pemanis. Ia turut menjadi medium bercerita—menyampaikan perasaan yang mungkin sulit diucapkan dengan kata-kata terbatas dalam litik. Perpaduan warna, gerak, dan ritme visualnya menciptakan pengalaman menonton yang imersif, seolah penonton diajak ikut “terbang” melintasi dimensi batin sang pencipta lagu. Menurut Bintang, lagu ini sendiri terinspirasi dari sosok mendiang kakek yang begitu disayanginya. 

Bintang Putra Sugiatno, Berkarya di Usia Belia


Di usia yang masih sangat muda, Bintang Putra Sugiatno yang masih pelajaran kelas 2 SMKN di Bandung ini menunjukkan kedewasaan artistik yang jarang ditemui remaja seusianya. Reinkarnasi bukan hanya lagu pop biasa, melainkan sebuah kesaksian bahwa karya yang jujur, personal, dan digarap dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya. Di tengah zaman serba instan, karya ini telah berhasil mengingatkan kita: emosi manusia tetap tak tergantikan oleh teknologi apa pun.

Keberanian Bintang Putra Sugiatno untuk merilis karya sejujur Reinkarnasi di usia yang masih belia perlu diapresiasi lebih dari sekadar kekaguman sesaat. Di tengah tekanan untuk sekadar mengikuti tren atau mengejar viralitas, ia memilih jalur yang tidak mudah: berkarya dari pengalaman personal, mengolah rindu menjadi musik, dan menyampaikannya dengan visual yang digarap serius. Ini bukan sekadar soal bakat, melainkan soal keberanian mengambil posisi sebagai seniman—bahkan sebelum dunia sepenuhnya siap memberi pengakuan.

Saya sungguh berharap, langkah awal ini bukan menjadi puncak, melainkan fondasi. Konsistensi sering kali menjadi ujian terberat bagi musisi muda: menjaga api kreatif tetap menyala di tengah proses belajar, keterbatasan, dan perubahan hidup.

Namun jika Bintang mampu mempertahankan kejujuran rasa dan kesungguhan kerja seperti yang terasa dalam Reinkarnasi, bukan tidak mungkin ia akan tumbuh menjadi suara yang matang—bukan hanya mahir secara teknis, tetapi juga berakar kuat pada kemanusiaan. Dunia musik Indonesia selalu membutuhkan talenta muda yang berani jujur pada dirinya sendiri. 


Buat kalian yang penasaran, single REINKARNASI dari Bintang Putra Sugiatno sudah bisa didengarkan di semua platform musik. 
0

Baca juga

Ketika Mata Kering Nyaris Mengacaukan Momen Sakral Pernikahanku

Dari sekian banyak hal yang kupersiapkan untuk hari pernikahan selama kurang lebih setahun sebelumnya, ada satu hal sepele yang justru luput...