Menu
Tampilkan postingan dengan label blogger Palembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogger Palembang. Tampilkan semua postingan

 

OMEN BY HP & VICTUS BY HP, Laptop Gaming Terbaru Incaran Para Gamer


Zaman sekarang ini nge-game udah jadi bagian dari gaya hidup ya? Bahkan gamer sudah diakui sebagai profesi tersendiri yang cukup menjanjikan karena dapat meraup untung berlimpah. Meski demikian, ada pula yang hanya menjadikan game sebagai pelepas penat di sela-sela kesibukan. 


Belum lama ini, saya bersama rekan-rekan blogger berkesempatan ikut dalam sebuah launching dua laptop gaming terbaru produksi HP. Sekalipun bukan seorang gamer profesional, saya langsung jatuh hati kalau mendengar pemaparannya secara langsung meski hanya virtual. 



Lebih lengkap, akan segera saya ulas di postingan ini, ya… 



OMEN BY HP


OMEN BY HP



Laptop terbaru OMEN by HP 16 inch inh jelas merupakan incaran para gamer. Dengan spesifikasi yang jelas bukan kaleng-kaleng, laptop ini memanjakan para penggunanya dengan sejumlah fitur, yakni :



Immersive Visuals: Gameplay serba cepat tersuguhkan dengan luar biasa dalam panel IPS FHD5,6144Hz dan 100% sRGB. Untuk pertama kalinya pada Laptop OMEN, rasakan warna low blue light yang akurat dengan TUV+Eyesafe®6 dan Flicker-Free untuk menjaga mata tetap segar selama sesi gaming yang panjang. Visual yang cerah juga ada pada keyboard, dengan per-key RGB lighting diintegrasikan dengan OMEN Gaming Hub Light Studio untuk mendapatkan tampilan yang sesuai dengan tema pengaturan game apapun.


Thermal Advances: Sistem pendinginan efisien dibuat mudah dengan OMEN Tempest Cooling Technology, yang memiliki Dynamic Power, Performance Control dari OMEN Gaming Hub, dan Undervolting7. Fitur ini mengelola sistem internal dengan menghapus sumber daya yang berat secara efisien.


Gusts of Energy: HP terus berinovasi dalam desain internal dengan bilah kipas yang 2,5 kali lebih tipis dan jumlah bilah yang lebih banyak 200% dibandingkan dengan OMEN 153. Hal tersebut meningkatkan aliran udara untuk memenuhi tuntutan daya internal yang kuat. Selain itu, sesi bermain game juga dapat berlangsung lebih lama dan dapat dilakukan di mana saja, dengan kapasitas baterai yang meningkat dari 52.5Whr menjadi 83Whr4, dan masa pakai baterai selama 9 jam. 


Expand, Last, Fast: Perluasan yang sangat cepat dan sederhana dengan akses single-panel ke SSD dan RAM melalui sekrup kepala Phillips di dasar kedua laptop memudahkan pertukaran perangkat keras. Bermain game online juga tidak akan tertinggal dengan Wi-Fi6E8 dan 1x port Thunderbolt 49 yang menyediakan satu port universal untuk konektivitas yang mudah.


Greener Gaming: HP memperkuat kepemimpinannya dengan menawarkan portofolio PC paling ramah lingkungan di dunia11 dengan laptop OMEN by HP, yang bersertifikat Energy Star12 dan terdaftar pada EPEAT Silver®13. 



VICTUS by HP 


VICTUS by HP



Dilaunching di hari yang sama, VICTUS by HP tampil dengan desain elegan dalam 3 pilihan warna memukau, yakni  yaitu mica silver, performance blue, dan ceramic white. Semuanya dilengkapi keyboard backlit standar dengan font unik yang tersedia di perangkat OMEN. Fitur lainnya termasuk: 


Powerfully Compact: Layar 16 inci dengan opsi hingga FHD 144 Hz refresh rate, layar flicker-free, dan terasa seperti laptop 15 inci untuk kepraktisan pemakaian sehari-hari. Piksel yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya dengan grafis yang didukung hingga NVIDIA® GeForce RTXTM 3060 Laptop GPU 6 GB. Kecepatan secepat kilat dan gameplay yang responsif dengan opsi hingga prosesor Intel® CoreTM i7- 11800H2 atau Mobile Processor AMD RyzenTM 5000 Series2 dengan memori DDR4 3200 MHz 16GB yang dapat ditingkatkan hingga 32GB.


Chill Drives: Ventilasi belakang yang lebar meningkatkan efisiensi termal yang didukung oleh aliran udara lima arah dan desain pipa four-heat membantu menjaga semuanya tetap dingin ketika aksi gaming memanas. Dengan opsi HINGGA 512GB PCIe® NVMeTM M.2 Gen4 SSD yang dapat ditingkatkan hingga 1TB, pendinginan laptop ini cepat dan sederhana untuk bermain game dan aktivitas lainnya.


Ultimate Control: Sudah dilengkapi OMEN Gaming Hub untuk memanfaatkan fitur internal yang kuat seperti Performance Mode dan System Vitals untuk membantu game berjalan dengan baik dan meningkatkan pengalaman bermain game dengan cara baru dan menarik. Network Booster dapat memprioritaskan bandwidth Anda untuk game dan aplikasi yang aktif, sehingga mengurangi jaringan lagging saat Anda bermain atau streaming.


Victus by HP 16 dibuat secara ramah lingkungan dengan plastik ocean bound daur ulang yang digunakan dalam pembuatan boks pengeras suara dan dasar bawah sasis14 serta kotak luar dan bantalan serat yang 100% ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.




OMEN dan VICTUS BY HP, Incaran Para Gamer





Baik OMEN maupun Victus by HP menjadi laptop incaran para gamer karena sama-sama menghadirkan teknologi Max-Q generasi ketiga NVIDIA yang menggunakan AI dan sistem optimal baru untuk membuat laptop gaming memiliki performa lebih cepat dan lebih baik dari sebelumnya. 


Dengan spek level dewa, Laptop OMEN by HP 16 bisa dimiliki dengan harga dimulai dari Rp 24.999.000. Sementara itu, Laptop Victus by HP 16 dirilis dengan Rp 18.999.000.



Nah, kalian mau yang mana?

1

Scarlett Glowtening Serum


Waktu pertama kali tahu Scarlett mengeluarkan produk baru yakni Scarlett Glowtening Serum beberapa bulan lalu, saya langsung semangat 45 memesan. Selain udah kadung cocok dengan rangkaian produk perawatan wajah Scarlett (ulasan lengkap di sini), saya memang lagi getol-getolnya melakukan perawatan ekstra demi menyiapkan hari pernikahan.

Yup, bulan ini, tepatnya tanggal 11 September nanti, saya akan sah mengakhiri masa lajang. Upacara pemberkatan rencananya akan berlangsung di sebuah gereja di Yogyakarta. Dalam beberapa hari terakhir ini, saya sudah sibuk banget dengan agenda lamaran dan sesi foto prewedding.

Seperti pasangan lain pada umumnya, tingkat stress saya jelang hari H lumayan tinggi. Terlihat dari mood swing yang rutin terjadi dan somehow jadi super sensitif. Biasanya, dalam kondisi stress begini, jerawat saya akan muncul bergantian. Namun untunglah, kali ini tidak terjadi. Wajah saya masih mulus-mulus saja sepertinya. Dan malah makin cerah dengan tekstur kulit jadi lebih baik.

Apakah ini berkat pemakaian rutin produk Scarlett Glowtening Serum ini ya? Hmmm… yuks simak ulasan lengkapnya.

Packaging

Kemasan serum yang aman

Seperti biasa, packaging alias kemasan produk-produk Scarlett itu memuaskan. Waktu saya order Scarlett Glowtening Serum dari website aslinya, nyampenya cepet tapi sama sekali nggak ada kerusakan di kemasannya. Nggak ada rembes, bocor, atau cacat produksi dari produknya.

Kemasan Scarlett Glowtening Serum ini mirip dengan kemasan Scarlett Brightening Serum yang saya miliki sebelumnya. Terdapat pengaman di dalam kotaknya sehingga botol mungil itu terlindungi dari guncangan atau benturan.

Seperti produk perawatan wajah pada umumnya, kemasan Scarlett Glowtening Serum 15 ml ini memberikan informasi lengkap terkait komposisi, cara pemakaian, kode BPOM hingga tanggal expirednya. Aman.

Kandungan dan Manfaat
Saya termasuk tipe orang yang teliti membaca komposisi produk skincare. Jika tidak yakin dengan kandungan yang tertera di dalamnya, saya tidak berani coba-coba.

Dari apa yang tertulis di kemasan, bahan yang terkandung di dalam Scarlett Glowtening Serum yakni : tranexamic acid, niacinamide, aloe vera extract, allantoin, licorice extract, calendula oil, geranium oil, dan olive oil.

Dari sejumlah artikel kesehatan yang saya baca, kandungan bahan aktif dalam Serum tersebut memiliki sejumlah manfaat, antara lain :

Tranexamide Acid
Berfungsi meredakan peradangan kulit, melindungi kulit dari sinar UV, dan meratakan warna kulit.

Niacinamide
Untuk melembabkan kulit, menyamarkan noda hitam, dan mengendalikan produksi minyak pada wajah.

Allantoin
Zat ini kaya akan antioksidan, sehingga mampu merangsang pertumbuhan kolagen pada kulit .

Geranium Oil
Menyamarkan garis halus pada wajah serta mengencangkan kulit dan memperlambat penuaan.

Auto glowing begitu diaplikasikan

Dengan sederet kandungan bahan baik seperti itu, pantas saja efeknya langsung terasa begitu diaplikasikan ke wajah. Lembap-lembap glowing gimanaaaa gitu.

Efeknya makin terasa setelah digunakan beberapa hari, kulit wajah saya semakin cerah dan halus. Hanya memang masih belum bisa menghilangkan kantong mata sepenuhnya. Yah, kalau ini sih perlu eye cream/serum sendiri ya? Semoga Scarlett bisa segera produksi. Amiiinnn.

Tekstur, Aroma, dan Cara Penggunaan
Dibanding serum-serum pada umumnya, tekstur Scarlett Glowtening Serum cenderung lebih pekat. Bahkan nyaris seperti tekstur day cream Scarlett Brightening Series yang masih rutin saya gunakan.
Tekstur yang pekat

Saya sih tidak masalah dengan tekstur seperti ini, hanya agak memikirkan nanti kalau sudah mau habis pasti akan sulit dijangkau dengan pipet tetesnya karena terlalu kental.

Aroma Scarlett Glowtening Serum cukup wangi, lembut dan "sopan"saat masuk ke hidung. Meski demikian, samar-samar masih tercium aroma mirip obat-obatan yang kadang mengganggu. Tapi saya tidak mengeluh kok, karena tidak sebanding dengan manfaat yang sudah dirasakan.

Saya menggunakan Scarlett Glowtening Serum ini berbarengan dengan rangkaian facecare brightening series saya. Jadi saya pakai dua serum sekaligus.

Gini nih lebih jelasnya... Di awal, saya tetap melakukan tahapan skincare seperti biasa. Dimulai dengan membersihkan muka dengan Scarlett Facial Wash, lalu lanjut Brightly Serum. Setelah brightly serumnya meresap, terus ditambahin pakai Glowtening serum ini. Cukup teteskan 2-3 tetes saja di dahi, serta pipi, lalu diratakan. Sudah cukup banget untuk seluruh wajah. Karena tekstur serum yang kental, Glowtening serum ini memang butuh waktu sedikit lebih lama untuk meresap.

Double serum

Setelah selesai dengan dua serum tadi, lanjut deh dengan cream-nya. Tinggal sesuaikan dengan waktunya, mau cream malam atau siang. Beres.

Well, penggunaan Scarlett Glowtening Serum dengan rangkaian Brightly series memaksimalkan saya untuk dapat kulit yang jauh lebih cerah dan sehat. Noda hitam dan bintik bintik milea saya sudah lenyap sama sekali dari wajah. Keren kan?

Dengan hasil kinclong begini, saya makin percaya diri menghadapi hari pernikahan. Optimis bakal manglingi seperti kata orang-orang.


Kesimpulan
Dari ulasan panjang lebar di atas, harusnya udah tahu dong kalau saya bakal tetap melanjutkan pemakaian Scarlett Glowtening Serum ini. Saya suka karena produk Scarlett ini Non alkohol, non paraben, aman karena teregistrasi di BPOM, kemasannya aman serta travel friendly, plus harga yang ga bikin jebol dompet.

Scarlett Glowtening Serum ini bisa didapat hanya dengan Rp75.000 saja. Buat kalian yang mau ikutan pakai biar wajah makin glowing, bisa nih cek-cek dan borong langsung lewat akun resminya ya.

- Line (@scarlett_whitening)

- Shopee: Scarlett_Whitening

- Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop

- WhatsApp (0877-0035-3000)


Akhir kata, doakan pernikahan saya lancar ya. Dan sampai jumpa di postingan Si Emak Kucing Kampung selanjutnya.










1

Scarlett Facecare - kucingdomestik.com



Seiring dengan tanggal pernikahan saya yang semakin dekat, sejumlah teman dan kerabat memuji wajah saya yang tampak kian glowing dan cerah. Tak sedikit yang meminta saya berbagi rahasia perawatan kulit wajah. Beberapa yang lain mengira saya rutin mengunjungi klinik dan salon kecantikan. 

Calon manten


Well, saya memang melakukan perawatan wajah dengan rutin. Tapi tidak sampai ke klinik kecantikan (sayang duitnya cuy, mau nikah banyak kebutuhan  lain). Saya hanya menggunakan rangkaian produk perawatan wajah dari Scarlett yang dipakai setiap hari. 

Saya memutuskan pakai Scarlett Facecare setelah sebelumnya merasa puas banget dengan rangkaian produk bodycarenya (ulasan lengkap sudah pernah saya tulis di sini). Memang, agak risky karena itungannya coba-coba. Tapi kalau nggak dicoba gimana bisa tahu kan ya? 

Seperangkat facecare Scarlett yang terdiri dari facial wash, serum wajah, krim pagi, dan krim malam sudah saya order kira-kira sebulan lalu. Seperti biasa, puas banget sama packingnya yang super aman dan rapi tanpa rembes. 

Dibandingkan dengan produk bodycare-nya, packing rangkaian facecare ini terlihat jauh lebih "niat" dan berkelas. Wah, nggak sabaran jadinya untuk buru-buru nyobain. 

 

Well, saya baru tahu kalau produk perawatan wajah ini terhitung keluaran baru dari Scarlett. Ada dua series, yakni Brightly Series dan Acne Series. Berhubung wajah saya nggak terlalu bermasalah sama jerawat (kecuali kalo lagi PMS), saya pilih yang Brightly Series.

Terus terang, saya sempat kaget lho. Hasilnya udah langsung terlihat meski baru dipakai selama 1 minggu. Kulit wajah saya jadi lebih cerah dan glowing dari biasanya. Nggak cuma itu, bintik-bintik milea yang ada di bawah mata juga menghilang.

Sebelum dan sesudah pakai scarlett


Sempat ragu mau melanjutkan pemakaian atau tidak. Karena sering dengar kalau wajah berubah terlalu cepat setelah pemakaian produk perawatan tertentu, biasanya ada kandungan zat berbahaya di dalamnya. Tapi saya sudah ngepoin komposisi masing-masing produk Scarlett, semuanya aman. Sudah ada label BPOMnya pula. Ditambah saat ngintip-ngintip review dari dokter juga bilang kalau Scarlett aman, jadinya lega untuk terus melanjutkan pemakaian. 

Terlebih, setelah dipakai juga cocok dengan tipe kulit saya yang tipe normal-kombinasi. Nggak ada tuh iritasi, gatal-gatal atau semacamnya. So, aman lah ya. 

Berikut akan saya jelaskan rangkaian produknya satu per satu biar lebih jelas. 

Scarlett Brightening Facial Wash

Scarlett facial wash dengan kelopak bunga mawar di dalamnya


Ini produk buat cuci muka. Teksturnya agak berbeda dengan facial foam yang bisa saya pakai selama ini yang bertekstur seperti pasta. Facial Wash Scarlett teksturnya lebih cair dan licin. 

Yang menarik, Scarlett Brightening Facial Wash ini punya kelopak mawar utuh di dalamnya. Pantes wanginya lembut dan enak banget. 

Sayang, saat diaplikasikan ke wajah agak kurang berbusa sehingga kurang memberi kepuasan dalam rutinitas mencuci muka. 

Meski begitu, yang tepenting adalah Kandungan di dalamnya. Ada Glutathione, Aloe vera, rose petal, dan vitamin E. Dengan kombinasi seperti itu, jelaslah manfaat facial wash ini adalah untuk mencerahkan, melembabkan, dan menyehatkan kulit wajah. 


Scarlett Brightly Ever After Serum

Scarlett brightly after serum


Ini yang paling menarik buat saya. Packingnya bagus banget, ada tambahan kotak pelindungnya segala jadi super aman di perjalanan. 

Tekstur Scarlett Brightly Ever After Serum ini seperti serum wajah pada umumnya. Cair, tidak lengket, langsung kering dan meresap ke dalam kulit wajah setelah sebentar saja dipijat lembut.

Di kemasan tertulis cukup gunakan 2-3 tetes saja setiap kali pemakaian. Tapi berhubung jidat saya jenong kek lapangan bola, saya tambahkan satu tetes lagi agar lebih rata. 

Dari semua jenis rangkaian facecare, saya paling suka pakai serum karena efeknya langsung berasa saat itu juga. Jadi lembab dan kenyal gitu lho. 

Serum ini mengandung phyto whitening, glutathione, dan vitamin C. Wajar banget dong kalau kulit langsung cerah dalam seminggu pemakaian rutin. 


Scarlett Brightly Ever After Cream Day

Scarlett Day Cream


Saya kurang suka tekstur Scarlett Brightly Ever After Cream Day ini karena lebih encer dari cream day pada umumnya. Bukan apa, jadi menetes dan meleber kemana-mana gitu saat baru dicolek. 

Aroma-nya juga sedikit aneh menurut saya. Susah dijelaskan, kaya bau jamu (?) atau obat herbal begitu. Tapi ya masih termaafkanlah, nggak sampai bikin saya pusing atau muntah-muntah nyium baunya. (Tapi berharap banget Scarlett bisa berinovasi lagi untuk tekstur dan bau yang lebih nyaman untuk customer). 

Cuma kalau mau fair, apalah artinya tekstur dan aroma jika dibandingkan dengan hasilnya. Ga heran sih, kandungan krim siang Scarlett ini emang lengkap banget dan sesuai kebutuhan. 

Ada glutathione, rainbow algae untuk menyempurnakan warna pigmen kulit, Hexapeptide-8 untuk menyamarkan garis halus, rosehip oil in essential fatty acids dan antioksidan untuk menyamarkan bekas luka, Poreaway untuk menyamarkan pori-pori, Triceramide untuk melembabkan sekaligus menyamarkan keriput, dan aqua peptide glow untuk melembabkan dan mencerahkan.

Tanpa krim siang ini, yakin deh bercak milea saya nggak akan hilang. 

Scarlett Brightly Ever After Cream Night


Scarlett Night Cream


Berbeda dengan krim siang, krim malam Scarlett ini teksturnya favorit banget. Jauh lebih kental dan nyaman diaplikasikan.  Selain glutathione, vitamin C, Hexapeptide-8, Poreaway, dan aqua peptide glow, Scarlett Brightly Ever After Cream Night juga mengandung Niacinamide untuk mencerahkan kulit dan green caviar untuk mencegah kulit kering.

No komen-lah buat krim malam Scarlett ini. Suka. Suka. Suka. Pokoknya 😍😍😍


****

Nah, sudah tahu  kan sekarang rahasia kulit wajah cerah dan glowing jelang pernikahan saya? Jawabannya adalah rangkaian produk Scarlett Brightening Face Care Series.

Buat yang mau nyobain pakai, saya bocorin harganya masing-masing produk adalah Rp 75.000.Bisa order melalui WhatsApp 0877-0035-3000, LINE @scarlett_whitening, DM instagram @scarlett_whitening, atau di Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop. Semuanya dilayani, tinggal pilih mana yang paling nyaman buat kalian.


Salam glowing dari Tepian Musi 

1

 

Semua Bisa Berubah Maju - Melly Goeslaw



Belakangan ini di timeline sosial media bersileweran video-video lypsinc lagunya Teh Melly Goeslaw yang baru dengan judul Semua Bisa Berubah Maju. Tapi ternyata susah euy nyari liriknya. Padahal enak ini lagunya buat sekadar gerakin badan. 


Nah, buat yang nyari lirik lagu Semua Bisa Berubah Maju, ini aku tuliskan buat kalian. Kalau misalnya nanti ada yang sekiranya salah, tolong dikoreksi di kolom komentar ya... 😘



SEMUA BISA BERUBAH MAJU 

Melly Goeslaw


Bergerak terus bergerak

Nyalakan api semangat 

Kita buat semesta dan bumi pertiwi senang


Serentak kita melangkah

Demi masa depan yang cerah 

Lakukan perubahan , berubah untuk maju


Bersama jalin semangat

Bersama kita pantang menyerah

Mewujudkan harapan yang baru

Demi Indonesiaku

Semua bisa berubah maju



0


"Saat hidup tak berjalan seperti yang diinginkan, selalu ada rancangan Tuhan yang mengatasi segala kebaikan..."  Arako, 2020.



Sarjana Sastra




2008, 

Gadis 17 tahun itu membeku. Dia bisu sediam patung Buddha, tak tahu harus bagaimana kala melihat sosok lelaki yang paling dihormatinya itu berurai air mata. Ayahnya menangis. Di sini, di kamarnya. Tempat si gadis mengurung diri setelah hampir 2 bulan lamanya. 

"Maafkan papa, nggak bisa menguliahkanmu... "

Lelaki paruh baya itu berucap. Berulang-ulang. Penuh penyesalan. Si gadis tahu, hati ayah telah sama hancurnya. Si gadis yang sudah diterima di jurusan ilmu komunikasi sebuah PTN tanpa tes itu harus benar-benar mengubur mimpinya dulu tentang dunia kampus. 

Hanya otak labil remajanya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin belum sampai 2 tahun lalu ayahnya sanggup membelikannya motor matic keluaran baru untuk dibawanya sekolah, juga ponsel N6600 yang harganya masih Rp 4 juta..., tapi HANYA menyediakan uang Rp 1 juta untuk syarat daftar ulang saja tidak sanggup. 

Bercandaan macam apa ini? Sungguh nggak ada lucu-lucunya. 

Tapi satu hal yang pasti, air mata itu jelas bukan bercandaan. Si gadis tahu, perangai keras ayahnya tidak pernah mengizinkan dia menangis. Namun lihatlah beliau sekarang... Menangis dan menangis. Hanya kata maaf yang keluar di sela isaknya.

Si gadis terpekur. Dia bisa apa? Memang salah siapa sih kalau keluarganya bangkrut? Kalaupun tahu siapa yang salah, tidak akan pernah mengubah keadaan saat itu. Memangnya dia mau diam di kamar terus seumur hidup? 

Wahai putri bungsu nan manja, bangun! Terjagalah! Buka matamu lebar-lebar. Kamarmu ini bahkan sebentar lagi juga bukan milikmu lagi. Rumah ini sudah dijual, ingat? Hanya tinggal menghitung hari untuk mengepak barang-barangnya. 

Si gadis mengusap air matanya. Memegang tangan ayahnya yang dulu begitu sering menabok dirinya yang masih kecil karena memang bandel dan nakal luar biasa. 

Ditatapnya mata ayahnya dalam-dalam... 

"Pa. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Yang sudah ya sudah. Nggak bisa diapa-apain lagi. Aku sekarang mau nangis darah juga tetep nggak bisa kuliah ya itu fakta... harus diterima. Tapi aku nggak mau nyerah sama mimpiku. Papa tenang saja, aku bakal tetap kuliah suatu saat nanti. Tolong doakan saja, saat aku beneran bisa kuliah nanti... aku akan pakai uangku sendiri. Aku janji... "

Hari itu, dengan usapan lembut sang ayah di puncak kepalanya, si gadis berhenti dari aksinya mengurung diri. Dia mulai menyiapkan berkas lamaran kerja. Tidak lupa menulikan diri dari semua kabar teman-teman sekolahnya yang sibuk dengan dunia mahasiswa baru. 

Ya. Hidup kadang memang sebrengsek itu. Tapi menunda mimpi bukanlah akhir dari segalanya... 


2012,


Gadis yang sama tapi 4 tahun lebih tua itu sedang menangis di telepon. Di ujung sana, seorang sahabat cowoknya berusaha menenangkan. 

"Kapan memangnya terakhir bayar semesteran?"

"Tinggal besok... Dan gajian masih lama..."

"Ah, besok. Masih lama itu... Kamu tenang dulu lah... Masih bisa kita usaha---"

"BESOK KOK LAMA. SEBENTAR ITU! KALAU BESOK GA DAPAT UANGNYA GIMANA KULIAHKU, MAS???"

"Hey, hey... Lama atau sebentar itu tergantung kamu pake buat apa waktunya. 24 jam itu mungkin sebentar buatmu sekarang, tapi itu lama lho kalau kamu pakai -- berdoa, misalnya. Jadi... Sekarang, aku mohon kamu tenang dulu. Terserah gimana caranya. Doa yang bener-bener. Yakini satu hal, kamu masih tetap bisa bayar semesteranmu... "

Beberapa minggu kemudian, 
Si gadis yang semringah habis gajian menemui sang sahabat. Mengulurkan setumpuk lembaran uang merah yang masih wangi dan mulus. 

"Nih, utangku bayar semesteran kemaren. Plus lebihan buat bayar denda cicilan motormu. Bilang maaf juga ke ibu kosmu karena telat bayar..."

"Nggak usah, " tolak si sahabat tak terduga. 

"Lho? Kok nggak usah? Aku bilangnya minjem lho kemaren, bukan minta... "

"Iya. Tapi sekarang kamu pegang aja uangnya. Sebulan ini kamu gimana mau liputan kalau gajimu habis buat bayar utang...."

"Lho..., kok?"

"Kamu cuma harus janji satu hal sama aku..."

"Hmm?"

"Selesaikan kuliahmu. Apapun yang terjadi, kamu harus lulus. Aku akan anggap lunas utangmu begitu kamu udah sarjana nanti. Okay? "

"Tapi..."

"Aku nggak butuh tapi, aku butuh janji..."

"Umm... Okay... Aku janji sama mas... "

"Janji apa?"

"Janji selesaikan kuliah dan jadi sarjana... "

Hidup masih tetap sama brengseknya. Tapi selalu saja ada orang baik yang hadir untuk menghangatkan hati dan menjamin senyum. 

***


Tapi pada kenyataannya, perjalanan untuk lulus kuliah rupanya nggak pernah semudah itu, Maemunah! 

Iya. Gadis di cerita itu saya sendiri. Di masa lalu. Meski sudah diniatkan untuk lulus kuliah secepatnya (karena sudah merasa sangat ketinggalan), nyatanya dunia kuliah saya sama brengseknya. 

Mencoba kuliah Ilmu Komunikasi sembari bekerja, ternyata gagal. 3 kampus berbeda saya jalani dan nggak satupun yang selesai. Masalah utamanya bukan lagi biaya, memang (Puji Tuhan kerjaan waktu itu memungkinkan saya punya tabungan yang lebih dari cukup buat kuliah), tapi manajemen waktu. 

Belakangan baru tahu itu erat kaitannya dengan saya yang ternyata punya otak ADHD. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. 

Namun janji yang sama pada dua orang berbeda bertahun lalu itu benar-benar terasa seperti utang besar yang harus dilunasi. Saya terbeban. Saya tertekan. Tapi sekaligus juga jadi pemicu untuk nggak menyerah sama mimpi. 


Tahun 2015 saya pindah dari Bengkulu ke Palembang. Karena bingung tidak ada kesibukan, saya memutuskan kuliah lagi. Awalnya masih tetap ngotot ingin Ilmu Komunikasi, sungguh saya masih penasaran sama jurusan ini. Tapi Ibu Ratu menyarankan ambil sastra saja. Saya butuh sesuatu yang baru. 

Ya sudah sih. Tidak ada salahnya mencoba. Sastra juga sepertinya tidak buruk-buruk amat. Terlebih, ingin juga punya gelar yang sama dengan sahabat yang memiutangi saya itu. Dia lulusan sastra arab sebuah universitas Islam di Bandung. 

(Eh, belakangan baru tahu kalau gelar saya dan dia akhirnya berbeda. FYI buat yang mungkin belum tahu, lulusan sastra bisa berakhir jadi S.S  atau S.Hum, tergantung pada fakultas mana prodi sastra tersebut bernaung. Kalau fakultas sastra, gelarnya jadi S.S. Kalau fakultas ilmu sosial budaya seperti sahabat saya itu, jadinya S.Hum). 

Semester genap 2015, saya mulai kuliah. Sastra Inggris di Universitas Terbuka Palembang.  
Long story short, akhir 2019 selesai juga. Meski target cumlaude gagal dengan sukses karena pakai drama kecelakaan hebat yang bikin cedera kepala dan terpaksa cuti. Belum lagi perkara mental illness yang sungguh menghabiskan energi. 

Akhir minggu lalu, saya di-japri Ce Ria, teman seangkatan yang lulus duluan karena dia nggak pakai cuti. Disuruh ngecek daftar lulusan periode ini yang baru diumumkan website kampus. 

Di antara nyaris 1000 nama lintas prodi, nama saya ada. 

Heny Niagara

Yang sekarang nambah S.S di belakangnya. 

Mix feeling banget ini. Kaya yang..., ada sedikit malu dan minder karena teman-teman seangkatan wisudanya udah S2 atau malah ada yang S3. Tapi juga seneng dan bangga, meski jelas euforia berbeda dengan kalau misalnya saya kuliah "normal". Senang dan bangga, haru juga mungkin ... bukan sama gelarnya, tapi lebih ke ingat semua proses dan perjalanan panjang melewatinya. Wow, Ara, kamu hebat! 

Ah, iya. Juga tentang sebuah utang janji pada dua lelaki itu yang akhirnya lunas sudah. 

Satu-satunya penyesalan mungkin ya cuma karena papa yang nggak bisa mendengar langsung kabar gembira ini. Sedih, andai bisa lulus lebih cepat, papa masih bisa mendengar saya yang berterima kasih langsung. Bahwa berkat doa dan restunya jugalah saya benar-benar bisa selesaikan kuliah pakai uang sendiri. 

Tapi ya sudah lah, sekali lagi saya mau bilang : Hidup memang sebrengsek itu. Pffftt, sudah kebal ini kaya'nya. 

"Pa, terima kasih untuk semuanya. Juga maaf, untuk segalanya. Satu yang pasti sekarang, Anak gadismu ini betul-betul bukan si bungsu manja yang dulu lagi, kan?"


Dan terima kasih juga, untuk Mas Cep, sahabat terbaik yang pernah dan akan selalu saya miliki. Dukungannya yang ga pernah habis, doa-doa paling tulusnya... bahkan sampai sekarang ketika hidup kami sudah nggak sama lagi. 

Sebetulnya, saya nggak tahu sih dia masih ingat soal utang-piutang itu apa nggak. Habis dia itu tipe orang yang mudah lupa hal-hal sepele (Iya, duit buat dia benar-benar termasuk hal sepele di masa itu. Kami bukan cuma terbiasa saling ngutang, tapi juga biasa foya-foya menghabiskan gaji bersama 😂 seperti berburu durian sampai mabok atau khilaf di gramedia) 

Tapi saya  jelas nggak akan lupa. Meski nominalnya persisnya saya sudah nggak ingat lagi. Pfffttt... Dasar. Tapi kisaran Rp 2 juta sih, kalau tidak salah. 

"Ndunk..., kalau kau baco ini, lunas utang ambo yo...!!! "

8 tahun sudah saya menanggung beban utang pada sahabat saya ini, akhirnya terbebas juga. Legaaaaa... luar biasa. Kalau bukan berkat pertolongan Tuhan dan orang-orang terkasih, mungkin ya nggak bakal selesai juga. 

***

Dari sebuah catatan harian tidak penting ini, saya merasa perlu berbagi beberapa hal sama siapapun yang mau baca :

1. Sama sekali bukan kiamat kalau fase hidupmu berbeda dari mayoritas orang kebanyakan. Saat terlambat atau pun terlalu cepat saat menjalani satu fase kehidupan, kadang malah membuatmu semakin "kaya"  dan "berwarna" 

2. Nggak ada kata terlambat untuk pendidikan. Belajar, mencari ilmu itu baru berakhir nanti kalau sudah di Liang lahat. 

3. Hidup itu brengsek. Tapi Tuhan selalu baik 😊



Salam dari Tepian Musi. 

Kado wisuda dari Ossas buat Mommy :
Anakan Kadal



Nb. 
Berhubung lagi 
gempar corona ini, Mommy Ossas 
nggak tahu bakal wisuda apa nggak. Jadi yang mau ngasih kado, bisa langsung japri saja ya 😂😂

Btw, Mommy Ossas lagi 
nggak sabar nunggu 
Ibu Ratu membayar nazar. Hahaha... Sejuta tahun lalu, 
beliau sempat 
bernazar bakal 
bla bla bla bla 
kalau semua
 anaknya sudah sarjana. 

Apa nazarnya? 
Nanti diupdate kalau sudah ditunaikan. 










.





"




39

Catatan mommy Ossas kencan bareng Nugisuke, owner thetravelearn di Palembang (bagian kedua -- habis)

Part 1-nya di sini


Ara-Nugi, our first date


"Mas, kamu adalah ke-tidak-pahamanku tentang semesta yang kupelajari dalam doa." (Arako, 2020)


Hotel Feodora, Kamar 307
Feodora Airport Hotel Palembang (pic : booking.com)

Saya memang kurang olahraga. Naik tangga ke lantai tiga saja sudah bikin saya megap-megap. Sampai di kamar yang lampunya remang-remang itu, saya mendadak nge-blank. Bingung ada apa. Lupa tadi kenapa.

Errr, lebih ke awkward juga sih. Baru nyadar kalau kami betul-betul cuma berduaan di dalam kamar. Malam minggu pula. Mau ngapain, Raaaa??? Main ular tangga? Apa monopoli? 

Menghilangkan kegugupan, saya langsung ke kamar mandi yang (sialnya) pintunya ga bisa dikunci. Mau pipis pun terus nggak jadi. Yah, tahu sih mas nggak bakal ngintip juga, tapi tetep saja. Nggak nyaman.

Saya cuma duduk di kloset. Mengatur nafas, sambil mengingat-ingat apa yang bikin saya tadi begitu "semangat 45" ngajak mas ke hotel. Asli, otak mendadak nge-lag di momen nggak tepat tuh nggak enak banget.

Pas keluar, begitu lihat tampang mas. Saya langsung paham. Kaya ada yang langsung nyalain lampu di sela keruwetan dalam kepala. Berbarengan dengan itu, mas bilang …

"Ra, aku kumat bengek …"

ASTAGA! IYAAA, GW TAU LU BENGEK, MAS! ORANG PALING BEGO AJA BAKAL TAHU KALAU LIAT TAMPANG LU SEKARANG. NGACA COBA UDAH KAYA IKAN PATIN DI PASAR NUNGGU DIGETOK!

Meski begitu, nggak sepatah kata pun sanggup keluar dari mulut saya. Saya sibuk mengontrol emosi sendiri. Tenang, Ra... Tenang ... Jangan meledak ...

"Tapi tenang aja. Udah minum obat kok," sambung mas buru-buru. 

TENANG, TENANG DARI HONGKONG?! KALAU LU MATI DI SINI SEKARANG GIMANA, MAS? MAMPUS GW, BISA JADI TERSANGKA PEMBUNUHAN INI… MANA CUMA BERDUAAN DI KAMAR HOTEL LAGI, PAPA BISA MENINGGAL DUA KALI KALAU TAHU ANAK GADISNYA BEGINI ...

Tapi yang keluar dari mulut saya cuma "Te… terus ini gimana ini, Mas? Kita ke rumah sakit?" 

"Nggak, nggak usah. Ntar juga baikan. Tunggu aja… Udah biasa kok ..."

Malam itu saya baru tahu kalau orang sesak nafas itu justru nggak nyaman kalau berbaring. Mereka harus tetap duduk meski sama nggak nyaman-nya. Kami berdua duduk di ujung tempat tidur.

Saya tuh sebenernya berusaha banget untuk menenangkan mas malam itu. Pengen nemenin dia dan pengen bisa bikin dia segera ngerasa baekan. Tapi saya juga nggak tahu harus gimana. Setiap kali ngajak ngobrol, mas jawabnya kaya orang sekarat di sinetron-sinetron itu (ya iyalah, Raaa… namanya orang asthma).

Tapi diem aja juga nggak enak. Bunyi detak jam masih kalah serem sama nafas mas yang "ngiiikk ...ngiiikk…" gitu. Setiap tarikan nafas mas, di kuping saya berasa kaya lonceng penanda kematian. Horor banget asli. Saya benar-benar ketakutan malam itu.

Takut kalau harus kehilangan Mas di meet up perdana kami. Kan nggak lucu.

Perlahan namun pasti, rasa takut kemudian berganti jadi rasa bersalah. Saya flashback momen seharian ini. Andai saya nggak bangunkan mas, dia bisa istirahat lebih lama. Andai saya segera ajak mas pulang begitu tahu ada yang nggak beres bahkan sejak masih di LRT, andai kami tunda dulu ketemuan sama teman (mereka toh orang-orang baik, pasti ngerti kalau janji terpaksa batal), andai saya paksa mas untuk nggak usah bawa motor …

Mas nggak perlu kumat sakit kaya' gini. 

Saya menyesal.

Lalu tanpa bisa dicegah, rasa bersalah pun bergeser ke benci sama diri sendiri. Yang kaya gini lu bilang sayang sama orang, Ra? Yakin lu sanggup berkomitmen seumur hidup? Pppfffttt … hari pertama aja lu udah gagal jagain dia! Mau bilang apa lu sama keluarganya kalau Nugi mati di Palembang? 

Dan … begitulah. Pikiran liar berkecamuk saling kejar di dalam kepala. Saya takut, cemas, dan panik luar biasa. Tapi di sisi lain, saya tahu harus menyembunyikan emosi sekuat tenaga.

Dalam satu kesempatan ngobrol di telepon, mas pernah bilang kalau serangan asthma-nya kumat, dia nggak mau orang di sekitarnya cemas dan khawatir. Itu bakal bikin dia makin nggak nyaman dan makin susah tenang. Makanya, saya nggak mau kelihatan panik atau cemas.

Tapi mas --tentu saja-- bisa lihat kalau ada yang nggak beres sama diri saya. Otak saya benar-benar kacau di dalam saat itu, tapi yang dilihat mas dari luar cuma Ara yang mendadak "freeze" dengan tatapan kosong. Persis kaya orang kesurupan, katanya.

"Ra… hey, Ara… kamu kenapa?" kata mas sambil menggenggam tangan saya lembut. 

Saya berusaha tetap diam, tapi ternyata nggak bisa. Sentuhan tangan mas ke kulit saya ibarat ujung peniti kena balon. Bikin saya nggak bisa nahan diri lagi.

Tangis saya meledak malam itu. Segala kecemasan dan kepanikan langsung tumpah. Saya bahkan sempat nyaris nggak bisa nahan keinginan untuk self harm lagi, even "cuma" jedot-jedotin kepala ke tembok. Ya ampun ... Badan sampai gemetar saking kalutnya.

Saya, yang semula ajak mas ke hotel berniat menenangkan dia, eh, malah berakhir dengan mas yang menenangkan saya. Kacau! 

Asli. Serangan asthma dan anxiety disorder itu sungguh bukan kolaborasi menyenangkan!

Untungnya, insiden malam itu berakhir juga. Setelah entah berapa jam, baik saya dan mas pada akhirnya sama-sama bisa tenang. Saya berhenti menangis, dan nafas mas berangsur normal meski belum sepenuhnya membaik. 

"Duuhh, jeleknya cewekku kalau nangis gini, cup cup cup…udah yaaaa," kata Mas sambil ngusap air mata saya dan ngelus ngelus puncak kepala. Kalau ada yang lihat tingkah dia yang begitu itu, orang-orang pasti mikir kalau umur saya ini baru 4 tahun. 

Meski begitu, saya cuma diam saja. Namanya juga sayang ... (Halah!)

Malam semakin larut, saya mulai bersiap pulang ke kosan. Tapi sebelumnya, saya sempat ajak mas berdoa. Saya peluk dia, dan kami doa bareng.

Begitu kata "Amin" terucap, mas bilang gini sambil senyum-senyum, "Ya ampun. Aku nggak pernah tahu lho pacarku ternyata relijius …"

Saya memutar bola mata. Nggak suka. Dilihat dari sudut mana pun, mana ada sejarahnya si Ara relijius. Fujoshi laknat begini lho.

 Saya tuh …, ajak mas berdoa ya karena cuma itu satu-satunya cara komunikasi ke Tuhan yang saya tahu. Saya cuma pengen berterima kasih. Nggak lebih. Andai … misalnya nih, Tuhan punya FB atau WA mah saya tentunya lebih pilih chat Tuhan begini : 

"TUHAAANNN …  harus banget ya bikin aku nunggu segini lamanya? Tapi nggak papa. Worth it banget tahu. Makasih ya, udah pertemukan aku sama belahan jiwa yang sekarang di sampingku ini. Engkau baik deh, selalu baik meski anakmu yang satu ini bandelnya nggak habis-habis…"



Standar Kegantengan Berbeda

Ganteng versi Mas 😹😹


Keesokan harinya, hari minggu (19/1) pagi, saya balik ke hotel lagi. Mas bangun kesiangan, tentu saja. Nggak papa sih, yang penting dia bisa tidur semalam.

Sampai kamar, mas ternyata belum mandi. Tapi pas saya peluk mas masih enak aja tuh aroma badannya meski ga lagi wangi deodorant, melainkan minyak kayu putih. Nggak lama, dia terus ke kamar mandi.

Kalau di hari sebelumnya saya ngeluh mas lelet banget mandinya, asli … nggak ada apa-apanya itu mah. Pagi itu mas JAUH LEBIH LELET. Kalau kemarin sambil luluran, yang ini bulu keteknya sambil dihitungin satu-satu kali. Habis tu dikepang.

Saya udah nyaris ketiduran di kasur saking bosannya nunggu dia. Tapi nggak sia-sia. Begitu pintu kamar mandi menjeblak terbuka dan wangi sabun menguar di udara, pemandangan indah langsung muncul di depan mata : Punggung fenomenal @nugisuke  versi live action 😹😹 Asli, yang di feed IG dia itu mah nggak ada apa-apanya. 

Lelaki yang memesona dengan punggungnya


"Kumisku udah dicukur nih, Ra…," kata Mas di depan cermin.

Oh, sambil cukuran toh tadi, pantesan lama. Saya diam-diam ngakak penuh kemenangan. Akhirnya, berhasil juga saya menyingkirkan men pride-nya mas plus apalah apalah yang dia sebut ideologi fisik itu.

Jadi gini, Mas itu ngerasa bangga dan ganteng dengan bulu yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Kumis tipis di wajah bikin dia ngerasa dewasa dan macho. Saya? Yang dari kecil memuja idol jepang-korena-cina dan tontonannya sekarang BL series Thailand tentu saja nggak sepakat. 

Saya mah nggak butuh cowok sangar nan macho. Lha tipe cowok ideal versi saya itu yang kaya Haoge kok (yang belum tahu, please nggak usah googling). Yah, intinya saya suka cowok syantiek. Kalaupun nggak bisa dapet yang syantiek ya minimal yang manis, imut, cute bikin gemes gitu deh. Bukan yang sangar (sok) macho.

Pffftt, makanya, ketika akhirnya bisa lihat mas tanpa kumis saya puas bukan main. Segera saja saya ikut mendekat ke cermin. Mas yang tadinya lagi pake pelembap, buru-buru menoleh begitu saya tepat di sampingnya. 

Saya jadi bisa ngeliatin wajah dia yang dari awal emang udah imut dengan bulu mata lentik dan alis lucunya itu … belum lagi kalau ngomongin tangannya yang sehalus kulit bayi.

Entah gimana wajah kami terus mendekat satu sama lain kaya ada magnet-nya. Lebih dekat … lebih dekat lagi… sampai hembusan nafasnya berasa hangat di wajah … sampai wangi tubuhnya tercium … Saya bahkan bisa lihat jerawat unyu dan mungil di bawah telinganya ...

"Mas…," ucap saya, setengah mendesah, nyaris berbisik.

"Hmm?" Mas kaya kehilangan kata-kata. 

"Ini kita udah telat lho ke gereja …"

Mas langsung ngakak. "Ya nggak papa telat, ntar kalau ditanya mama, kubilang 'Iya, Ma. Ini tadi telat soalnya Ara nakal di hotel…'"

Tapi dia terus sibuk ngaca lagi. Kembali "dandan" setelah sebelumnya sempat saya interupsi. Cuma saya masih kepikiran bercandaan mas barusan. Kenapa sih ya cewek selalu (di)salah(kan) misal terjadi sesuatu yang iya iya?

Cewek diperkosa katanya pakaian atau kelakuannya menggoda dan mancing-mancing lawan jenis duluan. Lha kelakuan mas yang sengaja keluar kamar mandi topless gitu apa namanya kalau nggak menggoda? Emang cowok doang gitu yang punya nafsu? Cewek nggak boleh horny? 

Tapi misal kemudian beneran terjadi apa-apa, kesimpulan yang ada ya bakal tetep "Ara yang nakal".

Hebat!!! 


Cowok dibonceng Cewek, Why Not? 

Jalan ke dusun Ibu Ratu, kalau musim hujan


Jam 9 lewat kami baru meluncur dari hotel. Kami akan ibadah di gereja di dusun Ibu Ratu di Desa Sungai Rengit Kabupaten Banyuasin. Perjalanan normal 45 menit dari kosan. 

Tapi karena Mas yang bawa Akashi, perjalanan berasa sejuta kali lebih lambat. Berulang kali saya bilang ke mas biar saya yang bawa motornya, mas nolak. Biasalah, cowok. Gengsinya kegedean. Nggak ada cerita cowok dibonceng cewek katanya.

"Ini mas bakal gini terus bawa motornya?" tanya saya yang mulai emosi saking nggak sabarnya.

"Iya, kenapa emang?"

"Mana bisa ibadah kita. Tengah hari ntar baru nyampe."

Entah karena menangkap nada ketus di suara saya, atau ngerasa belum menguasai medan yang didominasi jalan berlumpur khas dusun, atau khawatir terlambat ibadah … mas akhirnya menyerah juga. Dia bolehin saya yang bawa motor. Dan dia nangkring di boncengan.

"Raaaa…. GILA! KAMU NGEBUT BANGET!!!!" Mas sibuk teriak-teriak panik di belakang begitu saya tancap gas. Mana jalanan nggak rata, pasti nggak enak banget. Ya ampun, saya nggak merasa ngebut blass lho padahal.

Mas bilang itu adalah pertama dan terakhir kalinya dia diboncengin saya. Kapok katanya. Nggak mau lagi. Mas juga bilang kalau begitu cara saya bawa motor, di Bandung nggak akan biarin saya bawa motor sendiri. 

Hadeh. Payah!



Kujatuh Cinta Lagi, 'Tuk ke Sekian Kali ...

 Kabar baiknya, kami sampai gereja dengan selamat meski jelas amat terlambat. Yah, at least masih sempat dengerin khotbah. Kami duduk di bangku paling belakang, sepanjang sisa ibadah tangan mas nggak berhenti genggam tangan saya. Mas masih sakit, tangannya benar-benar panas.

Selesai ibadah, gereja memberi kesempatan untuk orang-orang yang baru pertama ibadah pertama kali untuk maju ke mimbar untuk memperkenalkan diri. Jadi Mas maju dong. 

Tahu nggak, dulu saya nggak percaya orang bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Tapi di detik pertama Mas ngomong di depan seisi gereja, saya kembali jatuh cinta pada lelaki satu ini. 

Jadi, saya tuh berasa melihat Nugi dengan versi berbeda. Nugi yang selama ini saya kenal kan kaya childish, suka cengengesan, rajin bercandaan, tapi pendiam dan kalem bukan main kalau di depan orang yang baru ketemu. Nugi yang di mimbar pegang microfon itu betul-betul semacam punya aura misterius yang kemudian membius semua audience.

Betapa tenang dan meyakinkannya Mas saat bilang dia ke Palembang buat nemuin mama saya. Bahwa dia ingin hubungan kami berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Bahwa dia secara khusus minta didoakan untuk rencana menikah tahun depan. 


Dalam hati pengen teriak lho, "NAH! INI BARU COWOK!!! JANGAN CUMA NGEDEKETIN, MODUS-MODUSIN BERTAHUN-TAHUN TAPI NGGAK NGELAMAR-LAMAR" (Lah, curcol Ra? 😹)

Yah, intinya saya pulang gereja hari itu dengan senyum mengembang. Asli, puas banget ngeliat tampang-tampang speechless orang-orang yang selama ini nggak bosen neror dengan "Mana cowoknya?" atau "Kok nggak nikah-nikah? Awas jadi perawan tua lho…" atau "Nggak usah milih-milih banget lah, nanti malah bablas nggak laku susah lho, Mbak…". Atau yang neror mama dengan "Anaknya Bu Tri males ngerjain kerjaan rumah gitu memang ada laki-laki yang mau?"

WOYY… TUUHHH… TUUHH COWOK GW. CALON LAKI GW. MANIS KAN? KEREN KAANN? DENGER DIA NGOMONG APA TADI? TAHUN DEPAN CUY, TAHUN DEPAANN…

(Weits, santai Ra. Santai. Nggak usah nge-gas… Ingat, balas dendam termanis adalah dengan senyuman. Yang elegan dong ... MUAHAHAHAAHAHAHA…)


Di Istana Ibu Ratu

Yah, di sini mah sebagian besar pembicaraan memang udah jadi urusan calon mantu dan ibu mertua. Saya sibuk pijatin kaki mas saja, berharap dia agak sedikit lebih enakan badannya nanti.

Soal pijat ini, saya dari dulu emang pengen banget bisa. Menurut saya, ini adalah keahlian penting yang seharusnya dimiliki setiap perempuan bersuami. Bahkan jauh lebih penting ketimbang keahlian memasak. Karena percayalah, di zaman kaya sekarang ini, adalah lebih baik suami makan di luar ketimbang pijat di luar. 😹😹😹


Oh iya, Mas juga lulus ujian mengguntingkan kuku lho. Cerita lengkap soal ini sudah pernah saya share di Facebook.

Mmm, sebelum jumpa Mas, ada satu kekhawatiran besar saya yang masih mengganjal. Jadi Mas itu kan punya asthma, saya sempat takut mas nggak bisa dekat-dekat atau piara kucing. Sementara saya, mana bisa hidup tanpa gumpalan bulu itu?

Tapi kekhawatiran saya nggak terbukti. Mas sama sekali nggak batuk atau bersin-bersin. Ossas juga kaya yang langsung akrab gitu sama Mas. Ndusel ndusel manja minta dielus. Aneh, padahal selama ini langsung kabur kalau lihat orang asing. 

Ossas dan ayah baru ...


Hmm …, mungkin Ossas paham. Yang sekali ini bukan orang asing, tapi calon ayah tiri. Lelaki yang akhirnya memenangkan hati mommy-nya tercinta.




Meski begitu, seiring waktu, mood saya memburuk dengan cepat. Mungkin karena sadar kalau nggak bisa lagi berlama-lama sama Mas. Asli, waktu tersisa cuma tinggal beberapa jam saja …

Memikirkan itu bikin saya nggak bisa menahan air mata. Ya. Saya nangis lagi. Di pelukan mas. Nggak mau pisah. Nggak ingin ditinggal.

Ibu Ratu diam saja. 

Tahu anak gadisnya ini aslinya memang cengeng. 


Dan Waktu Tetaplah Mencair ...

Waktu itu seperti kurva. Menanjak lambat sebelum jumpa, namun terjun bebas setelah mas di sini. 2 hari bak sekejap saja. Mas benar-benar sudah waktunya kembali ke Bandung.

Btw, Mas itu plin plan ternyata. Waktu berangkat bilangnya nggak akan pernah mau dibonceng saya lagi. Tapi pas setelah pamitan sama mama, dia bilangnya,

"Udah. Kamu aja yang bawa motornya …"

Haha. Kecanduan dia dibonceng cewek!

Tapi beda dengan berangkat tadi, saat pulang saya bawa motornya sepelan mungkin. Mungkin dengan begitu, waktu bisa sedikit melambat.

Sampai kosan, kami punya waktu sekitar 1,5 jam sebelum mas ke bandara. Saya ajak mas ke kamar yang sepi. Hujan lebat di luar... Memungkinkan kami untuk segera … ena-ena.

Pppfffttt. MANA ADA!!!!

Jadi … gini lho, pemirsah

Sekalipun nafsu tuh ada (ya iyalah, kami kan masih normal cuy!), sekalipun tempat dan suasana mendukung … tapi kalau kita betul-betul sayang sama orang tuh beda tahu. Beda banget!

Ketika rasa sayang mendominasi, rasa menghormati sekaligus rasa ingin menjaga dan melindungi itu muncul juga. Mungkin kedewasaan juga berperan di sini, bahwa masing-masing sudah ngerti apa konsekuensinya kalau misalnya sampai melanggar batas. 

Intinya kalau ke arah sana nggak lah. Kami nggak mau. Cara Tuhan mempertemukan kami sudah begitu indah. Nggak asyik banget kalau misalnya harus dirusak sama kenikmatan sesaat. Biarlah, dari awal kami sudah komitmen mau sabar sampai waktunya tiba. Sampai sah. Well, ini bukan mau sok suci atau gimana … tapi semata percaya kalau buah kesabaran itu nggak akan berkhianat. 

Masih banyak cara lain buat sayang-sayangan tanpa harus kebablasan.

Lagipupa,  boro pengen yang gitu-gituan, mata saya juga udah kaya keran bocor. Bawaannya cuma pengen nangis aja.

Nggak rela, cuma sesingkat ini ternyata waktu yang bisa dinikmati bareng orang yang sudah ditunggu demikian lama. Kami cuma berakhir dengan pelukan lamaaaaaaa banget tanpa banyak kata. Sesekali mas membujuk dan menenangkan kalau isak saya mulai tak terkendali. 

Saya tahu, mas juga nggak rela pisah. Cuma harga diri dia sebagai cowoklah yang menahan dia nggak sesenggukan kaya saya. Momen di kamar kosan saya itu bener-bener yang sering dideskripsikan dalam novel-novel romance : "Nggak perlu ngomong apapun, nggak perlu ngapa-ngapain … Lo ada di sini, di samping gw. Cukup."


Dan waktu tetaplah mencair, sekalipun kau berharap ia membeku selamanya...

Berat sekali rasanya mengantar mas ke bandara sore itu. Nggak banyak lagi momen yang saya ingat kecuali nemenin mas makan di CFC bandara dan sempat selfie beberapa kali untuk terakhir kalinya. Saya terlalu emosional.

Meski begitu …, saya sempat bertanya hal ini, "Mas, tiga kata dong untuk dua hari ini …"

"Aku. Semakin. Yakin."




Air mata saya mengalir lagi senja itu. Tapi bukan lagi air mata kesedihan karena perpisahan, tapi keyakinan dan ketetapan hati untuk memandang hari depan yang penuh harapan.


Aku. Semakin. Yakin

Salam, LDR Fighter!!!! Yoshhhh!!!!

***

Sampai selesai menulis postingan ini,
saya masih nggak ngerti kenapa
orang kaya Mas bisa suka
cewek sinting kaya' saya.
Apa ya? Rasanya terlalu
banyak kekurangan seorang Ara
untuk disandingkan
sama Nugi.
Tapi
satu hal yang pasti,
yang nggak sedikit pun saya ragukan ...
bahwa mas adalah jawaban doa yang sudah demikian lama saya nantikan.

Mommy Ossas mau
say thank you untuk kalian yang sudah mau baca dan ninggalin komentar,
mohon doanya ya kalian semua 😘
semoga #RagiStory bakal terus
berlanjut sampai maut memisahkan.
Amin. Amin. Amin.
19

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...