Menu


"Saya berjanji untuk hidup setia dan saling membantu, baik waktu suka maupun susah, waktu sehat maupun sakit, dalam berkekurangan ataupun berkelimpahan. Saya berjanji, akan menghormati, dan setia padanya dan tidak ada yang bisa menceraikan kami berdua kecuali maut."

___________________________________________


Waktu melihat kalender hari ini, aku kaget melihat tanggalnya sudah tiba di tanggal 29 Februari. Hari terakhir bulan cinta tahun ini. Buatku, waktu melesat cepat sekali. Isi kepalaku langsung melayang ke Februari 2023, tepat setahun lalu ketika rumah tangga #RagiStory mendapat ujian yang rasanya bikin kami berdua tidak bisa bernafas saking engepnya.


Februari tahun itu sebetulnya kusambut dengan sukacita. Seperti biasa, aku selalu berbahagia karena itu bulan lahirku. Biasanya aku tidak terlalu merasa gimana-gimana setiap ulang tahun. Tapi sejak Nugi hadir di hidupku, dia selalu merayakannya dan menghujaniku dengan cinta.


Tahun lalu juga begitu, kami masih sempat merayakan ulang tahunku di awal Februari. Terlebih perutku semakin membesar saat itu dengan dua janin di rahimku yang sudah menginjak 7 bulan. Deg-degan, mulai cemas dengan persalinan yang makin dekat, namun juga sangat excited. Ga sabar bertemu dengan dua malaikat kecil kami.


Namun ga ada angin ga ada hujan, tanpa warning atau firasat sama sekali, mendadak di suatu petang Nugi bilang kalau aku harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa keluarga kami. Awalnya Nugi enggan cerita detail, namun aku yang sudah gelagat kegelisahannya sejak berapa hari lalu membujuknya untuk cerita.


"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk cerita, tapi kupikir kamu dan kita harus menyiapkan diri. Kantorku lagi bermasalah, Beb. Ga tahu bakal bertahan apa nggak. Beberapa rekan kantor udah pada dipecatin, aku ga tahu kapan giliranku, tapi ada kemungkinan aku kena lay off juga," kata Nugi yang bikin jantungku auto bergemuruh.


Air mataku langsung meleleh. Hormon kehamilanku terlalu complicated untuk memproses informasi ini. Respon pertama adalah komplen ke Tuhan. Why now? Kenapa harus sekarang sih, Tuhan? Tepat di saat kehamilanku 7 bulan dan dokter sudah menyuruhku menyiapkan diri untuk persalinan kapan saja karena risiko kelahiran prematur untuk kehamilan kembar itu sangat tinggi.

Bahkan tanpa kabar ga enak seperti ini pun, beban mentalku menghadapi persalinan udah ga mudah. Ini lagi ditambah-tambahin begini. Tuhan ya ampun, mentalku ga se-setrong itu. Aku merasa aku akan jauh lebih woles andai kabar ini kuterima saat kami masih manten anyar. 

Saat itu kami masih berdua, rasanya masalah seberat apapun bisa ditanggung berdua. Tapi beda cerita saat tanggung jawab kami sudah nambah seperti ini. Dua sekaligus pula. Gimana kami membiayai dua bayi ini kalau Nugi ga lagi bergaji?


Aku benar-benar kalut saat itu. Fokusku hanya pada nasib Aya Sae yang ada di rahumku. Orang tua macam apa kami kalau sampai ga bisa menjamin awal hidup mereka di dunia ini?


Tapi mungkin ini salah satu privileged sudah menikah. Jadi, sekalut apapun aku saat itu, begitu melihat ekspresi Nugi, lelaki yang sangat kucintai ini rupanya juga ga bisa menyembunyikan kekecewaannya sendiri, emosiku yang biasanya meledak-ledak ga keruan justru mereda.

Perasaan "aku-ga-sendirian-lagi" itu malah nyata jadi penguat di saat tak terduga. Aku sadar, sefrustrasi dan sekecewanya aku, ga akan ada apa-apanya dengan yang dirasakan Nugi. Tanpa Nugi menjelaskan lebih jauh, aku tahu dia menyesali dirinya lebih dari apapun.


Nugi itu suami yang baik dan aku sangat yakin akan jadi Bapak yang baik juga. Tapi karena itulah dia jadi kelewat kecewa sama dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjadi sandaran keluarga kecilnya, justru di saat sosoknya sebagai pemimpin paling dibutuhkan.


Aku langsung "menampar" diriku sendiri, mengingatkan diriku sendiri, mengontrol diriku sendiri untuk ga mengeluarkan kalimat apapun yang akan menyalahkan Nugi. Nugi ga salah apapun di sini. Dia juga ga kuasa mengatur apapun yang terjadi di kantornya. 

Sebaliknya, di sini peranku sebagai istri, yang kata Tuhan adalah penolong yang sepadan itu teruji. Ara yang sebagai ibu hamil memang sudah down ga keruan sejak awal, tapi Ara yang sebagai istri ga boleh ikut down juga. Hancur semua kami nanti.


Aku meminta waktu menyendiri sejenak untuk menenangkan diri. Aku meminta maaf pada Aya Sae kalau gejolak emosiku sekarang dan dalam beberapa hari ke depan mungkin akan bikin mereka ga nyaman. Kuminta mereka bersabar dan bantu mendoakan kami, orang tuanya yang lemah ini agar dikuatkan Tuhan.


Setelah (agak) tenang, aku kembali pada Nugi yang masih tampak bengong dan terpuruk. Kuajak dia berdoa. Bukan kami sok relijies apa gimana, tapi justru kami mau komplen dan mengeluarkan semua uneg-uneg saat itu biar lega. Meski doa-doa kami cuma didominasi komplen, tapi di ujung doa aku memaksa diriku berucap, "Saat ini aku sungguh nggak ngerti kenapa kami harus menghadapi hal kaya gini sekarang. Tapi aku mau belajar percaya, bahwa Engkau punya maksud baik semua ini. Kalau memang harus kami melalui ini, kami ga akan menghindar, tapi tolong kuatkan kami melalui semua ini. Amin."

Seiring kepalaku mulai terurai selepas berdoa, aku yang sudah pernah menghadapi krisis bahkan beberapa kali masuk zona survival di sejumlah fase hidup sebelum ini, langsung menyiapkan sejumlah strategi dengan semua kemungkinan terburuk : Nugi dipecat.


Aku menyusun skala prioritas sambil mendata aset dan tabungan kami. Puji Tuhan, keputusan kami menunda pembuahan selama setahun khusus untuk menabung rupanya sangat tepat. Nugi sejumlah tabungan di rekening dan aku punya "celengan" dalam bentuk LM dan reksadana. 

Fokus kami adalah persalinan. Sisanya biar "dipikirkan sambil jalan". Aku meminta Nugi mengecek saldo BPJS ketenagakerjaannya. Puji Tuhan, rupanya jumlahnya sudah lumayan. Ada sekian puluh juta. Kubilang Nugi, amit-amit kamu beneran dipecat dan ga langsung dapat kerjaan baru, saldo ini udah cukup buat kita makan beberapa waktu dan buat modal usaha. 

Melihatku sibuk menyusun strategi, Nugi tampak tidak tinggal diam. Dia juga mulai mengusulkan sejumlah "jalan keluar", termasuk mengingatkan ada 2 CC-nya yang masih available dengan limit masing-masing belasan juta rupiah. 

So, untuk target jangka pendeknya sudah. Sementara kami masih bisa bernafas sampai persalinan. Tinggal pikirkan untuk yang jangka menengah dan panjangnya. Bisa sambil jalan. Yang penting, yang prioritas paling atas kami tidak perlu mencemaskannya dulu sekarang.


***

2023 kami lalui seperti roller coaster. Up n down dengan ekstrem kami lalui sepanjang tahun.

Bayiku selamat, Puji Tuhan. Tapi aku sempat kritis pascamelahirkan.

Nugi selamat dari lay off, namun perombakan manajemen kantor membuatnya harus didemosi dan membuat gaji bulanannya berkurang.

Persiapan tabungan anak kami selama setahun hanya dimaksudkan untuk satu anak, tapi ketika diberi dua sekaligus ... sungguh tidak mudah menyesuaikannya.

Tabungan kami habis lagi seperti waktu habis menikah, celengan LM-ku harus "disekolahkan", Nugi juga harus berutang CC.

Kami punya banyak pengeluaran tak terduga di tahun itu. Termasuk hilangnya HP Nugi dan anak bulu kami, Otin, yang sempat-sempatnya keracunan dan nyaris tewas (tagihan klinik hewannya, pemirsaah 🙃🙃🙃). Tapi juga dapat berkat tak terduga juga. Nugi dapat drone dan iPad dari menang lomba nulis.

Tapi seperti kata seorang teman baik yang padanya aku sampahkan semua kejadian ini,

"Ara dan Nugi, kalian tu bukannya hidup sendiri. Ga akan mungkin kami biarin Aya Sae kelaparan. Tenang-tenang, rukun-rukun, baek-baeklah di sana. Semua akan berlalu. All is well..."



***

Dan hari ini, tepat setahun setelah semua kejadian yang nyaris bikin aku ga bisa bernafas itu ...


Aku menuliskan semua ini di sebelah Aya Sae yang tertidur pulas. Mereka sehat dan tumbuh dengan baik. Imunisasi lengkap bahkan sampai ke imunisasi tambahan yang tidak disubsidi pemerintah.

Di kamar Nugi sedang mengikuti instruksi dari aplikasi belajar bahasa spanyol. Itu caranya rehat sejenak dari dua job-nya (ya, Nugi double job sekarang).

Tabungan LM-ku sudah pulang dari "sekolah". Beberapa bulan lalu Nugi sudah menebusnya.

Kami tidak pusing dengan kebutuhan harian atau anak, karena bahkan Aya Sae sudah "mampu" beli diapers dan skincare-nya sendiri lewat tawaran endorsement yang mampir ke akun sosmedku.

Sudah mulai membuat beberapa portfolio sekaligus untuk beberapa financial goals (termasuk untuk traveling one day).

PR kami hanya menyisakan sedikit cicilan CC yang masih dalam batas sangat aman untuk kesehatan finansial.


Tapi di atas semua yang terjadi ini, baik tahun lalu dan tahun ini --juga tahun-tahun ke depan kuharap-- aku sangat bersyukur bahwa #RagiStory bertahan. Aku berbahagia karena aku dan Nugi bisa saling mendukung dan tetap memegang janji pernikahan kami.


Aku dan Nugi sadar bahwa apa yang kami alami ini belum apa-apa. Tapi memang rumah tangga itu memang ga pernah mudah kan?


Kalau mau mudah, mungkin janji pernikahan di altar harusnya diganti :

"Setia dalam suka saja, sehat saja, dan berkelimpahan saja".







0

 

Kamaya dan Kisae 


Aku selalu membiarkan putri kembarku, Kamaya dan Kisae menangis satu dua menit lebih lama, meskipun aku sudah tahu mengapa mereka menangis. Buat sebagian orang, apalagi ibu-ibu senior, aku mungkin ibu yang kejam. Kok tega membiarkan anak menangis.

Tapi sebelum menghakimiku lebih jauh, biarkan dulu aku bercerita.

Aya dan Sae bukanlah anak-anak rewel. Mereka sangat jarang menangis. Bidan-bidan di ruang bayi berkata si kembar selalu anteng. Ibu Ratu juga membenarkan. Saat mereka baru berumur 3 hari dan harus kutinggalkan di rumah karena aku harus lanjut opname akibat preeclampsia dan anemia berat, Ibu Ratu bilang Aya dan Sae tidak pernah menangis. Jika ada yang membuat mereka tidak nyaman seperti lapar atau popoknya basah, mereka hanya menggeliat seperti cacing kepanasan.


Benar saja, Aya dan Sae memang tidak rewel. Tetangga kontrakan sampai tidak percaya kami punya anak bayi karena nyaris tidak ada suaranya.


Awalnya aku senang dengan kondisi ini, ketidakrewelan Aya Sae membantuku pulih dengan pesat. Aku bisa beristirahat dengan proper, begitupun Nugi dan Ibu Ratu. Kami hanya cukup memeriksa kondisi mereka berkala. Minum setiap 1-2 jam sekali dan memeriksa popoknya. Selebihnya aman tenteram damai sentosa.


Namun semakin hari, aku merasakan kejanggalan. Naluri keibuanku merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Sampai suatu ketika, aku melihat ekspresi Sae yang kira-kira berumur 2 mingguan tampak sangat tidak nyaman karena popoknya minta diganti, namun dia seperti berusaha keras menahan diri untuk tidak menangis.


Aku seperti tertampar. Melihat Sae seperti itu membawa ingatanku ke masa lalu. Di mana hatiku sempat mengeras seperti batu, dan tidak bisa menangis selama setidaknya 1,5 tahun. Jangan ditanya rasanya. Sungguh sesak dan tersiksa. Seperti mau mati.


Aku menangis melihat Sae seperti itu. Aku sadar bahwa selama ini Sae dan Aya bukannya tidak rewel, tapi mereka berusaha keras untuk tidak rewel agar tidak menyusahkan orang dewasa di sekitarnya.
Maka di hari-hari setelahnya, kuhabiskan quality time-ku bersama mereka dengan membisikkan kalimat-kalimat semacam …


"Nak, boleh lho nangis kalau tidak nyaman. Siapa yang suruh Aya dan Sae ga boleh nangis? Boleh lho, Nak..."


"Nak, nangis aja kalau ga nyaman. Kalau lapar boleh nangis, kalau sakit boleh nangis, kalau popoknya basah boleh nangis. Nangis lah, Nak..."


"Aya dan Sae takut nangis ya? Takut ganggu mommy, Bapak, sama Eyang? Ga papa, Nak. Kami ga papa kok... Aya sama Sae boleh nangis sepuasnya..."


dst.


Butuh waktu, namun perlahan-lahan mereka mulai berani mengekspresikan diri. Belum berbentuk tangis yang sebenarnya memang, lebih berupa rengekan atau keluhan. Tapi setidaknya ada kemajuan.
Dan aku, Nugi, dan Ibu Ratu juga kompak untuk terus sounding ke mereka. Bukan hanya soal tangisan, namun kami kompak mengenalkan mereka pada emosi dan perasaan-perasaan lain yang dirasakan.
Termasuk jika ada saat-saat aku kelepasan marah pada Nugi dan mereka terpaksa mendengarnya. Kujelaskan pada mereka bahwa tadi aku marah sekaligus meminta maaf karena bikin mereka tidak nyaman.


Hari demi hari berlalu, Aya dan Sae mulai tampak normal. Mereka sudah bisa menangis, meski intensitasnya masih tidak sesering bayi-bayi lain yang selama ini kutemui seumur hidup.


Sampai sekarang, Aya dan Sae hanya menangis ketika kami sudah sangat terlambat memahami kode-kode ketidaknyamanan mereka. Itupun langsung diam seketika jika kami sudah memenuhi apa yang jadi kebutuhannya. Selebihnya, mereka lebih memilih berkomunikasi lewat ekspresi wajah, gerakan tangan, atau ocehan-ocehan kecil dari bibir mungil mereka.


Saking langkanya momen mereka menangis, aku selalu membiarkan mereka menangis satu atau dua menit lebih lama. Semata untuk mengajarkan mereka bahwa menangis itu melegakan. Bagaimana pun, manusia itu butuh menangis. Seperlunya. Sewajarnya.


Dan itulah yang dilakukan Aya dan Sae. Mereka menangis seperlunya dan sewajarnya. Aku sebagai ibunya tentu juga tidak akan membiarkan mereka menangis berlama-lama.


Karena diberi kesempatan menangis dengan porsi yang cukup, Aya dan Sae kini perlahan tumbuh jadi bayi-bayi yang cukup cerdas secara emosional. Sama sekali tidak sulit menenangkan mereka jika sudah terlanjur menangis. Mereka juga banyak tertawa dan sudah bisa diajak bercerita.


Dan kubiarkan anakku menangis satu dua menit lebih lama, agar mereka tahu apa guna air mata. Kelak tentu akan kuajarkan juga, bahwa menangis itu bukan hanya bentuk ekspresi ketidaknyamanan, namun bisa juga sebagai wujud kebahagiaan.
Akhir-akhir ini aku sering sekali mendadak menangis sendiri saking bahagianya.

Kalau kamu? Kapan terakhir menangis bahagia?



0

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...