Menu

Ragi Story : Kisah Gas Melon dan Gas Pinky di Awal Pernikahan

Ragi Story : Kisah Gas Melon dan Gas Pinky

Episode Ragi Story kali ini berkisah tentang Gas Melon dan Gas Pinky sempat mewarnai hari-hari manten anyar di awal pernikahan. Ini #RagiStory, Story-nya Ara dan Nugi.


Masih ingat ribut-ribut netijen soal Nagita Slavina yang pakai gas melon alias gas elpiji 3 kg untuk masak rendang jelang lebaran lalu? Gas melon yang tabungnya berwarna hijau itu adalah elpiji khusus subsidi pemerintah untuk masyarakat miskin. Memangnya semiskin apa istri Raffi Ahmad itu sampai ga kebeli gas elpiji non-subsidi?

Tapi hari ini aku tidak mau membahas Nagita Slavina. Hanya ribut-ribut soal gas melon itu membuat ingatanku melayang ke masa saat masih manten anyar bersama Nugisuke. Saat itu kami masih tinggal di sebuah kontrakan sederhana yang masuk kawasan Sleman, Yogyakarta.

Memulai hidup sebagai pasutri dari nol tentu banyak suka dukanya. Saat itu aku dan Nugi hidup sangat pas-pasan. Tabungan kami sudah habis untuk biaya nikahan (termasuk tiket PP Jogja-Palembang dan SWAB covid😅).

Cuma yang namanya manten anyar, menjalaninya ya enjoy saja. Bunga-bunga cinta masih sangat wangi sehingga mampu membungkus fakta kalau sebenarnya sangat pusing soal duit. Kami bahkan masih bisa menertawakan diri saat berburu detergen atau sabun yang ada hadiah piring dan gelas demi ga usah beli peralatan makan.

Kami juga membeli kompor satu tungku dan gas melon karena memang anggarannya hanya cukup untuk itu. Semuanya berjalan biasa saja. Sebiasa banyak rumah tangga lain yang memulai hidup dari nol setelah menikah.

Gas Melon yang Mematahkan Hati

Suatu hari, gas melon kami habis. Nugi pergi ke warung untuk membelinya. Sepulangnya dia, aku semringah karena tabung gas melon yang dibawanya tampak mulus. Biasanya kan sudah bocel-bocel atau berkarat di banyak bagian.

Namun senyumku mendadak menguap begitu melihat tulisan dalam huruf besar-besar berwarna putih yang tampak begitu kontras di hijau tabungnya :

HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN

Aku syok. Untuk pertama kalinya merasa tertampar fakta. Meski sudah lama tahu bahwa gas elpiji melon ini adalah subsidi pemerintah yang hanya ditujukan bagi masyarakat kurang mampu, rasanya aku bersikap tidak mau tahu. Sama seperti nyaris semua orang (tak peduli bagaimana status ekonomi atau sosialnya) di sekitarku.

Namun kali itu benar-benar berbeda. Aku benar-benar merasa ditabok oleh tulisan itu. Bisa dibilang, itu kali pertama aku membaca tulisannya sejelas itu. Selama ini, aku selalu mendapat tabung gas melon yang tampilan luarnya tidak mulus lagi. Bocel dan karatan sana sini. Kalau pun tampak ada huruf-hurufnya, biasanya sebagian besar sudah pudar.

Aku nyaris tidak pernah merasa bersalah menggunakan gas melon selama ini, karena di dusun mamaku tidak ada yang menjual gas elpiji nonsubsidi. Semua rumah tangga lumrah memakai tabung gas melon karena hanya itu yang tersedia.

Di kosan aku juga pakai gas melon. Yah, apa yang bisa diharapkan dari anak kos kuliahan yang masih harus menghidupi mamanya yang janda itu dengan penghasilan tak menentu? Dilihat dari sudut manapun, tampaknya saat itu aku memang masih berhak atas gas melon.

Tapi semuanya tidak bisa disamakan dengan kondisiku setelah menikah. Meski aku dan Nugi hidup pas-pasan, kami jauuh dari kekurangan. Meski aku dan Nugi juga tidak tajir melintir, rasanya enggan juga kalau disebut miskin. Terlebih, gaji budak koorporat perusahaan Bandung tentunya sudah lebih dari cukup untuk hidup tenang di Jogja.

Ini tidak bisa dibiarkan! Batinku saat itu. Aku sudah langsung gelisah ketika memakai gas melon untuk memasak. Ada rasa ga nyaman, campuran antara takut dan rasa bersalah karena tahu masih memakai sesuatu yang bukan peruntukannya.

Aku lalu bilang ke Nugi, bahwa aku ingin ganti tabung gas. Aku tidak mau pakai gas melon lagi. Kondisi finansial rumah tanggaku mungkin memang belum stabil, tapi aku tidak mau terbiasa mengambil yang bukan hak kami.

Masalahnya, tabung gas perdana tidaklah murah. Tabung gas melon itu saja kami belinya sudah sekitar 150 atau 200 ribu. Mungkin kalau yang nonsubsidi 5,5 kg itu bisa setengah juta sendiri. Duit dari mana? Ga ada anggarannya karena kami juga masih banyak keperluan lain.

Meski begitu, aku tidak lelah memperkatakan kalau aku mau tabung gas baru. Spesifik tabung gas pinky 5,5 kg karena sepertinya akan nampak cantik di dapur mungilku. Yah, Istilahnya manifestasi aja dulu. Memperkatakan yang baik-baik dengan niat yang baik pula. Aku meyakini akan terkabul.


Gas Pinky yang Datang Sendiri

Bright Gas Pinky

Sepertinya seisi semesta kompak bersinergi mewujudkan keinginanku itu. Tidak lama setelah keinginan menggebu-gebu untuk beli tabung gas baru rutin diucapkan, ndelalah aku melihat flyer di akun IG Bright Gas berisi ajakan untuk meramaikan HUT Pertamina ke-64 dengan iming-iming tabung Bright Gas perdana 5,5 kg untuk 640 orang.

Tentu saja aku sangat tertarik. Bright Gas sendiri merupakan produk gas elpiji dalam negeri non-subsidi yang diproduksi oleh PT Pertamina. Meski aku biasanya kurang beruntung kalau urusan undian atau give-away give-away-an, yang kali itu aku cukup optimis. 640 pemenang itu jumlah cukup banyak, terlebih kriterianya adalah yang posting tercepat. Saat kusisir jumlah postingan melalui hashtag, ada sekitar 300-an akun yang sudah posting. Masih ada separuh kuota tersisa.

Tanpa pikir panjang, aku langsung membuat foto bersama Nugi dan menguploadnya secepat mungkin. Aku benar-benar optimis bahwa inilah jalanku mendapat tabung gas pinky impian.

Dan benar saja, saat diumumkan kira-kira sebulan berselang, namaku ada di antara 640 penerima tabung gas perdana. Proses klaimnya juga tidak lama. Hanya berselang 1 minggu, tabung gas pinky itu pun “datang sendiri” ke kontrakan kami. Rupanya diantar oleh agen gas terdekat dengan domisili kami.

Bright Gas Pinky 5,5 kg

Puji Tuhan, Puji Tuhan, Puji Tuhan.

Akhirnya kami bisa lepas dari gas subsidi. Yang lucu adalah nasib gas melon kami. Tadinya berniat kalau sudah punya tabung gas pinky, tabung gas melonnya akan kami hibahkan ke saudara atau tetangga yang lebih berhak. Bisa juga kami jual dan hasil penjualannya bisa didonasikan.

Eh, kontrakan kami malah kebobolan maling saat kami tinggal main ke Solo. Tidak ada barang yang hilang kecuali tabung gas melon kami 😂 Sepertinya malingnya kepepet butuh tabung gas buat jualan.

Well, sejak hari itu, tabung gas pinky masih setia menemani hari-hariku di dapur sampai detik ini. Awalnya memang agak syok untuk pembagian anggaran. Biasa budget isi ulang gas melon cukup 20 ribu, refill gas pinky bisa nyaris 100 ribu. Dengan nominal yang sama, budget isi ulang gas pinky bisa dapat gas melon 3 kali lipat.

Rugi?

Menurutku tergantung sudut pandang. Lebih mahal iya, jelas. Namun setidaknya aku bisa masak dengan lebih tenang. Di samping rupanya ya berkat Tuhan memang selalu ada untuk mencukupkan. Sampai sekarang, rasanya aku dan Nugi belum pernah sampai di titik ga bisa kebeli gas sama sekali.


Belajar Untuk Tidak Makan Hak Orang Lain

Saat membuat draft tulisan ini, timeline media sosialku ramai dengan kisah mahasiswi undip so called influencer, yang punya gaya hidup cukup mewah dan sering flexing ke-hedon-annya, tapi rupanya termasuk dalam daftar penerima beasiswa KIP Kuliah. Padahal, beasiswa ini merupakan program pemerintah, yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa dari keluarga fakir miskin.

Ini mirip seperti kasus Nagita Slavina yang ketahuan pakai tabung gas melon untuk masak rendang. Padahal, sekelas Nagita rasanya lebih dari mampu untuk menyetok tabung gas pinky sampai segudang sendiri, bukan? Kenapa masih harus pakai gas melon yang bukan peruntukannya?

Tapi kebiasaan menikmati sesuatu yang bukan hak dan peruntukannya ini nampaknya sesuatu yang lumrah di masyarakat kita. Banyak program dan bantuan pemerintah yang sebetulnya sudah didesain dengan sangat baik, namun praktiknya tidak tepat sasaran.

Aku ingat waktu masih nguli dulu dan liputan pembagian BLT yang jelas-jelas ditujukan bagi masyarakat miskin, masih saja ditemukan orang-orang bermobil dan berkalung-cincin-gelang emas ikut antre.

Begitu pun saat di SPBU, tidak jarang kita melihat mobil-mobil mewah turut antre mengisi pertalite atau biosolar yang jelas-jelas BBM bersubsidi.

Segala yang bersubsidi atau bahkan gratisan itu memang lebih enak. Kadang kita juga terpaksa menikmatinya karena keadaan serta satu dan lain hal. Tapi menurutku, kita harus rajin mempertanyakan, apakah aku benar-benar berhak menikmatinya? Apakah masih ada orang lain yang seharusnya lebih berhak menerima?

Terkadang, perkara miskin dan kaya itu hanya sebatas mental. Mau sebanyak apapun uang hingga miliaran, kalau mentalnya miskin, biasanya tetap akan punya sejuta alasan untuk tetap mengambil hak orang lain dan menikmatinya tanpa mau tahu. Lihat tuh koruptor kita, rata-rata udah tajir melintir. Tapi selalu merasa kurang terus hidupnya.

Sebaliknya, orang-orang dengan penghasilan pas-pasan bahkan yang hidupnya berkekurangan, hatinya bisa sangat kaya. Aku kenal salah satu temanku, dia kuliah dengan beasiswa bidikmisi (semacam KIP K sekarang) karena memang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun di semester yang lebih tinggi, dia memutuskan mengundurkan diri dari penerima beasiswa karena kehidupannya membaik setelah disambi-sambi kerja.

Aku juga pernah baca berita tentang tukang becak di Madiun yang menolak BLT karena merasa bahwa itu bukan haknya.

Kisah-kisah seperti ini menurutku jauh lebih menghangatkan hati. Di samping jadi reminder juga untukku pribadi, untuk tahu malu jika sampai makan sesuatu yang merupakan hak orang lain yang lebih membutuhkan.

Aku dan Nugi belum sempurna. Belum sesuci itu sampai ga berbuat kesalahan sedikit pun. Tapi di rumah tangga kecil kami yang baru seumur jagung ini, kami sudah berkomitmen untuk tidak meyalahgunakan hak orang lain yang lebih membutuhkan untuk kepentingan pribadi.

Dimulai dari hal-hal yang bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari, seperti tidak pakai gas melon dan tidak mengisi pertalite kalau kelak punya mobil. Kami mau terus melatih mental kami agar terbiasa menjadi “kaya”.

Kalaupun kami belum kaya, toh kami punya Bapa di Surga YANG MAHA KAYA. Butuh apa-apa tinggal minta melalui doa. Ga perlu sampai mengambil apa yang bukan hak dan peruntukannya.


14 komentar:

  1. Aku setuju banget bahwa miskin atau kaya itu masalah mental. Mau duit ngga berseri juga kalau mental miskin mah sama aja... Mau isi dompet pas tapi kalau ngga mental miskin, pasti malu menerima yang bukan hak-nya.

    BalasHapus
  2. Setuju sih mba meskipun kita hidup kekurangan jangan sampai ngambil hak orang lain kan kasian mereka yang lebih membutuhkan daripada kita.

    BalasHapus
  3. aduh bener juga ya. Si hijau dan si merah beda penggunaannya agar bisa tepat sasarannya. Tapi mau menggunakan tabung menjadi cara yang terbaik untuk efisensi menggunakan enregi lebih hemat

    BalasHapus
  4. Setuju miskin kaya itu masalah menta l prilly yang artis itu juga pake gas hijau.

    BalasHapus
  5. setuju, susah sih kalo mentalnya cari yang murah jadinya pakai gas melon yang bukan hak mereka ya

    BalasHapus
  6. Mau pakai gas warna apa itu pilihan masing-masing yah tapi ini kami bahas juga loh di rumah. Saya dan anak yang udah bisa baca ngobrolin gas melon itu ada tulisan untuk masyarakat miskin sementara kami bukan termasuk golongan tersebut dan juga membangun mental jangan merasa miskin melulu. Bukan tajir melintir, alhamdulillah masih mampu beli tabung yang biru 12kg. Pakai gas melon karena kapasitasnya kecil jadi cepat habis, sebel kan mau masak eh gas habis sementara toko masih tutup. Kalau pakai gas 12kg biasa sekitar sebulan sekali aja belinya. Alhamdulillah masih diberi kemampuan.

    BalasHapus
  7. Dari cerita gas saja cukup membuat aku haru dan betah mengikuti kisahnya. Memang benar, aku melihat di sekelilingku juga, banyak penerima program pemerintah kayak PKH atau apalah itu namanya, yang masih dibilang berkecukupan. Yang shock, waktu ada bantuan Covid dari Pemrov , dibuka dulu dong sama RT. Terus dipalakin jatah warga. Diambil sebagian. Hadueh.

    BalasHapus
  8. Inspiratif banget tulisannya. Setuju banget, sebaiknya jangan menggunakan atau melakukan sesuatu di mana kita tidak berhak untuk hal tersebut ya

    BalasHapus
  9. Setuju kak, jangan ambil hak orang lain. Karena peruntukkannya aja udah beda. Jadi memang bagusnya gunakan yang memang sesuai, biar nyaman dan berkah ya

    BalasHapus
  10. Aku dulu pake tabung melon, sejak ada Gas Alam sekarang jadi langganan. Lebih praktis, gak ada acara copat-copot selang. Tinggal pake, dan bayar tiap bulan aja hehe

    BalasHapus
  11. Aku di rumah juga uda ga pakai gas lagi.. karena keseringan ditinggal keluar kota, jadi kami memilih pindah ke kompor induksi. Aku setuju untuk semua keputusan hanya sebatas mental dan niat. Dimana ada kemauan, pasti Allah kasih jalan yang terbaik.

    Seneng baca curhatannya..
    Tapi pemikiran demikian memang gabisa disamaratakan yaa.. Bagi seseorang, hal ini penting diperhatikan. Namun bagi orang lain, mungkin hal ini termasuk hal yang luput.
    Salut sama kejelian mata netijen, hihihi..

    BalasHapus
  12. Aku jadi ingat waktu jadi petugas sensus tahun 2022 kemarin, masih banyak yang rumahnya gedongan tapi pakai gas melon sih kak. Meskipun kata mereka untuk cadangan aja atau untuk ngisi gas water heater sih kak.

    BalasHapus
  13. Bright Gas ini yang dulu namanya Blue Gas bukan sih? Karena dulu ingat suka beli tabung gas biru 5 kilo buat naik gunung. Iya, Mapala di kampus gw naik gunung bawa tabung gas 5 kilo. Wkwkwkwk...

    Dulu waktu ngekos saya suka dibilang anak kosan songong karena di saat yang lain pakai kompor minyak, saya sudah pakai kompor gas dengan tabung kecil itu. Di saat di rumah lain pakai tabung gas 3 kilo, di rumah saya pakai yang 12 kilo. Ya Alhamdulillah selalu ada rejeki sih buat dapur keluarga. Gak apa-apa dikatain sok kaya, buat saya itu doa supaya saya jadi kaya beneran. Betul, tidak?! Hehehe

    BalasHapus
  14. Ulasan Mba membuka banyak mata bahwa sesungguhnya setiap orang sudah ada jalan rezekinya dan dalam pemanfaatannya mestinya tidak egois. Ya, kita harus mau tahu bahwa apa yang menjadi hak orang banyak tidak sepantasnya kita nikmati demi keuntungan sendiri.

    BalasHapus

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...