Menu



Ketika dihadapkan pada dua lelaki yang sama-sama berarti dalam hidup, di mana yang satu sudah jadi mantan, dan yang satu penjamin masa depan… Harus bagaimana? 


Antara Mantan dan Masa Depan



17 Desember 2020


Saya beruntung. Itu tanggal terakhir berlakunya rapid test untuk naik pesawat. Besoknya, tanggal 18 sudah diberlakukan aturan baru yang wajib pakai swab antigen itu. Fiuh, selamat. Hasil rapid saya yang diambil 2 hari sebelumnya di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II itu tidak sia-sia. Bandung, i'm coming ~~

Pertama kalinya naik Batik Air, saya mendarat di Soeta dengan selamat. Meski sempat kesal bukan main dengan penumpang di kursi tepat di depan saya karena (ternyata) dia membuang kulit kuaci sembarangan di sepanjang perjalanan. 


berasa pesawat punya emaknya

Makin badmood karena bandara masih sama ramainya. Seperti tidak sedang pandemi saja. Segigih apapun upaya saya untuk menerapkan protokol kesehatan, tetap adaaaa saja yang nempel-nempel. Langsung dah diri ini merasa kotor dan penuh noda πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

Saya makan siang di AW terminal 2. Sebetulnya sih tidak (terlalu) suka AW. Cuma sengaja biar bisa pamer fotonya ke Omnduut πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Secara Kak Yayan ini udah ngidam bener sama AW bandara Soetta. 

Setelah makan, saya bergegas mencari angkutan selanjutnya yang akan membawa saya menginjak Bumi Parahiyangan. Pilihannya dua : Travel atau Bus. 

Ketika saya kebingungan memilih dua hal ini, tepat di depan saya ada seorang cowok yang auranya ramah dan (sepertinya) bisa ditanyai. Dengan pasang tampang sangat kebingungan a la first traveller (eh, tapi emang iya sih, ini pertama kalinya saya ke Bandung) , si Aa yang kemudian saya tahu namanya Imran ini dengan sabar menjelaskan rute-rute bus dan plus minus naik travel. 

Membaca tulisan Nugi di sini, saya berkesimpulan betapa lelaki itu suka SOK TAHU banget ya dengan apa yang ada di pikiran ceweknya. Baiklah, saya merasa perlu klarifikasi tentang kenapa akhirnya saya memutuskan naik bus bersama Aa Imran ketimbang travel yang jadi rekomendasi dia. 

Di blognya Nugi bilang alasannya uang. Selisih ongkosnya yang cuma beberapa puluh ribu saja itu memang menjadi salah satu pertimbangan. Tapi sungguh bukan SATU-SATU-nya alasan saya milih naik bus. Kalau memang cuma masalah uang, ngapain pusing? Saya udah punya ATM pribadi ini kok πŸ˜‚πŸ˜‚

So, pertama… Sebagai orang yang baru pertama kali menuju Bandung, saya yakin di sepanjang jalan akan banyak hal yang bikin saya kepo. Saya pengen ada yang ditanya. Saya pengen ada temen ngobrol. 

Bayangkan, di travel yang penumpangnya terbatas itu, pasti akan sangat sulit ngobrol dengan santai dan bebas tanpa mengganggu orang lain. 

Yang kedua, I have condition yang mungkin memang belum sempat Nugi tahu. Jadi, saya ini "semi-claustrophobia". Nggak claustrophobia banget yang sampai bikin kena panic attack gitu, tapi saya benar-benar nggak suka dengan ruangan sempit atau kendaraan kecil yang tertutup. Yah, semacam minubus, taxi, atau mobil pribadi. 

Untuk perjalanan jarak pendek, saya masih bisa atasi. Tapi jika harus naik kendaraan-kendaraan ini dalam jangka waktu yang lama, saya bisa sangat gelisah dan super tidak nyaman (Dan biasanya terus memicu saya untuk mabok karena kekurangan oksigen). 



Saya suka kendaraan besar. Kereta api, pesawat, bus, atau bahkan belakang truk terbuka. Yang masih memungkinkan saya untuk berdiri atau berjalan di dalamnya. Bisa juga kendaraan kecil, namun tidak bikin saya merasa "dikurung" seperti sepeda motor atau mobil-mobil jeep yang tanpa atap dan pintu itu. (Makanya, tbh saya kecewa saat tahu motor Nugi ga bisa dipakai dan ke mana-mana malah nge-gocar. Padahal udah ngebayangin motoran keliling Bandung). 

Lanjut, ketiga, punya teman baru di perjalanan itu menyenangkan. Terlebih Aa Imron ini asyik banget diajak ngobrol. Baek pula mau bantuin bawa barang-barang saya yang bejibun. (Makasih banget ya Aa, kalau baca ini salam buat anak dan istri ya). 

Kalau lihat sawah rapi, artinya sudah di Pulau Jawa

Intinya, saya sama sekali tidak menyesali pilihan saya naik bus. Karena kalau saya naik travel, saya nggak bisa menikmati panorama di sepanjang tol dari sudut lebih tinggi. 

Drama Penjemputan

Saya memang sudah menangkap gelagat kejengkelan Nugi karena saya "ngeyel" naik bus. Plus dia sepertinya nggak suka banget sama Aa Imran yang dinilainya "menjerumuskan" saya. Padahal enggak lho.

Nugi ngabarin kemungkinan kalau dia nggak bisa jemput dan saya disarankan naik taxi online. Huh! Cowok macam apa dia? 

Well, yang Nugi nggak tahu, saya benar-benar nggak pusing tuh kalau memang dia nggak bisa jemput. Wahai Nugi, ketahuilah, di Bandung ini saya punya satu orang lain yang bisa saya andalkan selain kamu. Mas mantan! 

Mas mantan yang dari saya boarding sudah berisik mengawal perjalanan saya. Memastikan saya menghitung barang bawaan dengan benar. Mengingatkan saya makan tepat waktu plus printilan lainnya seperti tolak angin dan obat anti mabuk agar stamina saya tetap terjaga sampai tiba di Bandung. 

"Jemput Ara oy," bunyi chat saya tanpa basa-basi. 

"Lho, Nugi kemana?"

"Masih kerja nggak bisa jemput… "

"Aku mau aja lho jemput, tapi kan nggak enak sama Nugi."

"Ish. Jahaaattt…"

Mas mantan mencium bau marabahaya kalau saya sudah mulai ngambek, akhirnya menenangkan dengan bilang dia yang akan menjemput jika (dan hanya jika) Nugi betul-betul tidak bisa. 

Nah. Beres. Saya bisa kembali melanjutkan ber-oh dan wah ria dengan pemandangan di sepanjang tol. Di beberapa titik, proyek kereta cepat tampak masih dikerjakan. 

Dan syukurlah, di detik terakhir Nugi ngabarin bilang bisa jemput. Pffftt, perhatian juga ternyata dia meski sempat bikin saya menunggu lumayan lama karena dia bilang ingin makan dulu. Ini juga sempat bikin saya heran, Nugi kok ya jahat banget makan sendiri padahal saya juga udah kelaparan karena ketika bus tiba di pool, hari sudah jelang magrib. Mana dingin pula karena Bandung baru diguyur hujan. 

Tapi ya sudahlah. Better begitu karena Nugi kalau sudah (ke)lapar(an) atau sakaw cafeine itu asli super menyebalkan. Raut wajahnya bakal kaya ketiak saya : asem! Sungguh bikin pengen nabok saking nggak enaknya dilihat. Jadi biarlah dia makan dulu agar bertemu saya pertama kali dalam kondisi good mood


Hae, LDR Fighter

Dan… ketika akhirnya bisa lihat Nugi lagi untuk pertama kalinya setelah 9 bulan, asli sempat kaget. Nugi jadi montok banget gitu πŸ˜‚πŸ˜‚ Pengen ngatain dia, tapi terus sadar diri. Lha saya sendiri juga sama nambah bengkaknya kok πŸ˜‚πŸ˜‚ 
Yeahh, kadang definisi cinta adalah bahagia dan menggendut bersama...
Thank God, aroma badan Nugi nggak berubah. Sampai detik ini masih menempati peringkat ke-3 aroma favorit Ara setelah durian dan bau kucing yang sudah tidur lama. 

Umm, sisa cerita malam itu sudah diceritakan Nugi di blognya. Kurang lebih sama. Tbh, saya ingin ini ingin itu banyak sekali sama Nugi di kamar hotel. Apa daya, saya datang bulan hari itu dan cuma bisa guling-guling di kasur menahan kram perut nan menyiksa. 

Yah, mau nggak mau harus disyukuri sih. Tuhan ternyata masih melindungi komitmen pacaran kudus kami dari godaan setan yang mungkin menyelinap di dinginnya Bandung malam hari. Ya. Meski harus dengan jalan penuh penderitaan gini. (Ya Tuhan, prosesi sah di altarnya bisa dipercepat nggak? ) 

Btw, kalau Nugi punya nasi goreng sebagai comfort food, saya adalah tim sate padang. Sayang, setelah makan malam bukannya membaik, saya malah muntah-muntah di toilet. 

Pelajaran nomor satu untuk kalian yang baru pertama kali menginjak Bandung : Jangan. Pernah. Pesan. Sate. Padang. 


Pesanlah cuanki saja. Atau seblak. Atau cilok. 

Mahulana, Ksatria di Balik Lensa


Jumat (18/12) keesokan harinya, saya dibangunkan Nugi dan Mahul pagi-pagi sekali. Kepala saya masih gliyengan sejujurnya. Tapi schedule pemotretan sudah menunggu. (Tsaaaahhhh!!!) 

Memaksakan diri mandi dan dandan tipis pagi-pagi demi menyamarkan wajah pucat, saya siap foto-foto. Sama seperti Nugi, saya juga tidak menyangka Mahul se-total itu. 




Melihat hasil foto-foto "prewedding" kami yang luar biasa, saya tidak berpikir dua kali untuk meminta Mahul untuk memotret acara pemberkatan nikah kami kelak. Tentu kami siap jika harus membayar Mahul secara profesional, lengkap dengan transportasi dan akomodasi full service-nya di Palembang. 










Sayang sekali, Mahul menolak dengan halus. "Saya nggak pernah mau motoin nikahan temen, Teh. Soalnya saya nggak mau lihat yang lain senang-senang, saya sibuk kerja sendiri. Kalaupun saya datang ke Palembang, saya pengennya ikut senang-senang juga bareng tamu yang lain… "


Tidak selamanya orang ke-tiga adalah setan


Hmm. Iya juga sih. Baiklah, Mahul, kami mengerti. Tapi kabari segera kalau berubah pikiran ya, siapa tahu kan… 

Mantan VS Masa Depan

Usai sesi foto yang menyenangkan dan sarapan di hotel, Nugi masih harus lanjut kerja karena belum libur. Saya yang dicuekin, memilih chat mas mantan mengatur janji ketemuan. 

Well, sebetulnya saya belum terlalu siap jumpa mantan setelah pertemuan terakhir kami pada empat atau lima tahun silam. Apa daya, Ibu Ratu menitipkan mandat oleh-oleh yang harus diserahkan. Iyaaa, segitu sayangnya emang emak saya itu sama mas mantan πŸ˜‚

Kami janjian di KFC Pasar Baru setelah salat jumat. Yang dekat saja. Cukup turun dari hotel. Tempatnya juga sepi dan lumayan nyaman untuk Nugi menemani kami ngobrol sambil kerja. 

Kesan pertama setelah jumpa mantan? 

Ya ampun. Nggak berubah banget dia. Masih sama kurusnya. Cuma terlihat sih makin dewasa (ya iyalah, udah punya anak). 

Kami bertukar kabar terbaru sekaligus mengenang kisah lama. Meng-ghibahkan teman-teman lama kami. Saya juga membereskan "utang" yang menghantui saya bertahun-tahun ini (yang ternyata mas mantan lupa kalau dia pernah memiutangi saya). 

Berkali-kali saya menyelidiki perasaan sendiri. Saya merasa harus membereskan perasaan lama yang mungkin masih tersisa. Bagaimanapun, pria yang sekarang statusnya sudah jadi laki orang ini pernah begitu berarti dalam perjalanan hidup saya. Dia lelaki yang bikin saya sangat sulit move on. 

Saya merasa akan sangat berbahaya untuk lanjut ke jenjang berikutnya bersama Nugi jika saya terus menerus menoleh ke belakang. Kalau memang masih ada rasa yang tertinggal, mending break dulu kan ya? 

Dan saya rasa, saya tahu jawabannya. 

Jadi, sekalipun saya ngobrol berhadapan dengan mas mantan, ekor mata saya selalu mencari-cari keberadaan Nugi (yang sebenernya cuma di sebelah saya persis). Bahkan beberapa kali saat membahas kisah-kisah emosional, saya sampai merasa perlu menggenggam tangan Nugi di bawah meja untuk menenangkan diri. 

Saya sempat dengan kejam membandingkan keduanya dalam hati. Oh, jelas… dilihat dari sisi mana pun, tetap mantan yang menang πŸ˜‚πŸ˜‚ Mantan jauh lebih sabar, menyenangkan, dan dewasa ketimbang Nugi. 

Nugi aja mengakui kok. Saat perjalanan kembali ke hotel, dia bilang "Si X itu baik dan menyenangkan banget orangnya. Dan sampai sekarang pun kelihatan banget dia sayangnya sama kamu… "

Ya. Sayang mas mantan memang nggak berubah. Dari dulu dia begitu. Tapi ya sudah. "Cuma" sayang. Sebatas sayang. Nggak lebih. Dan nggak pernah lebih. 

Bukan cinta. Apalagi hasrat seorang lelaki ke perempuan. Jauhh... 

Dari dulu mas mantan memang begitu. Saya-nya yang terlalu GR. Saya terlalu bodoh sebagai cewek, karena belum bisa membedakan antara sayang dan cinta. Saya tidak tahu bedanya perhatian dan kasih sayang sebagai saudara atau sebatas sahabat, dengan keinginan dan hasrat untuk menjadi teman hidup hingga usai usia. 

Ah, itu dulu. 

Sekarang saya sudah tahu. Setelah melihat sendiri wujud cinta itu. Ada di Nugi. Terlihat jelas. Karena cowok itu yang akhirnya menunjukkan pada saya bahwa ada perbedaan amat besar antara cinta dan sekadar sayang. 

Nugi selama ini sangat percaya diri jika menyangkut perasaan saya. Bahkan saat memenangkan hati saya setahun lalu, dia dengan songongnya menikung seorang cowok yang sudah 4 tahun dekat dengan saya. 

Namun saat bertemu dengan mantan, untuk pertama kalinya saya melihat kegelisahan dalam diri Nugi. Bukan kecemburuan sih, tapi semacam kepercayaan dirinya selama ini terusik. Dia mungkin tidak sadar hal ini dan mungkin menyangkal jika ditanya langsung. Tapi menurut saya, Nugi cukup ekspresif kok... 

Nugi terlihat sedikit terganggu dengan begitu naturalnya interaksi saya dengan mantan. Saya memang jauh lebih luwes sih di depan mantan ketimbang saat bersama Nugi (Saya bahkan sempat "memalak" mantan, dan seketika dapat Rp 50 ribu yang menurutnya sudah cukup untuk jajan es duren di Bandung. Dengan orang lain mana berani saya begitu πŸ˜‚πŸ˜‚). 

"Aku yakin ini cuma soal waktu. X peka dan memahami kamu karena dia udah kenal lama sama kamu. Aku cuma kalah start masuk di hidupmu, " kata Nugi menghibur diri. 

Saya senyum-senyum sendiri lihat ekspresi Nugi saat ngomong itu. Sebagai pacar yang baik, saya merasa perlu menenangkan Nugi. Meyakinkan dia kalau saya sungguh sudah berdamai dengan masa lalu. Yang sudah biarlah berlalu dengan kesudahannya. 


Kalau boleh saya analogikan, mas mantan itu seperti pohon rindang di tepi jalan. Rimbun nan teduh di tengah terik dan padatnya lalu lintas kehidupan. Dia mampu menimbulkan rasa nyaman dalam diri dan bikin saya selalu ingin kembali meski hanya sekadar memetik buahnya barang dua atau tiga buah. Buah bernama ketulusan persahabatan dan persaudaraan yang nyata serta nggak lekang oleh waktu di tengah begitu banyaknya senyum palsu di dunia ini. 

Sementara Nugi adalah rumah. Yang mungkin belum selesai dibangun, atau masih butuh renovasi di sana-sini. Tidak (atau belum) terlalu nyaman karena masih banyak "perabotan" yang harus dilengkapi. Masih ada banyak proses yang harus dilalui. Tapi di rumah inilah saya tahu saya akan bisa tidur dengan nyenyak. Ada ketenangan dan kenyamanan aneh meski hujan badai topan berlangsung di luar sana. Nugi adalah rumah tempat saya bisa merasa pulang. 

Wahai Nugi, Mas mas Jogja kesayanganku ..., kalau kamu baca ini (dan aku yakin kamu akan baca ini) ... Tenang ya. Selagi kita terus pupuk dan rawat cinta ini, aku jamin nggak ada satu mantan pun yang bisa merampas hatiku darimu. Seperti katamu, kita ini adalah pasangan yang telah mengalahkan dunia dan hantu masa lalu. 

Kuharap, selamanya begitu. 


Akhir kata, 

Terima kasih, Bandung… 

Untuk membereskan segalanya. 


To be continued ~











9

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...