Menu

Ragi Story : Pelajaran dari Membeli Sepeda Motor Cash

Proses membeli sepeda motor secara cash di rumah tangga yang baru seumur jagung memberi banyak pelajaran buat Ara dan Nugi. Selengkapnya dalam Ragi Story, it's our story, a journey to stay happy 


Membeli Sepeda Motor Cash

Di awal pernikahan dan memulai hidup baru di sebuah kontrakan di Jogja, saya dan Nugi tidak langsung berpikir ingin membeli sepeda motor. Apalagi secara cash. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan saat itu karena nyaris semua tabungan terkuras untuk biaya pernikahan. Kami juga masih memiliki beberapa cicilan, termasuk pengeluaran rutin tiap bulannya untuk membayar kamar kos Nugi di Bandung meski sudah lebih dari setahun tidak lagi ditempati.


Keinginan membeli sepeda motor baru timbul dan kian menguat setelah "mengaudit" buku kas rumah tangga kami. Pengeluaran untuk transportasi kami per bulan rupanya menyentuh angka Rp 700 ribu lebih. Padahal, mobilitas kami sebetulnya terbatas. Nugi juga masih work from home. Yang rutin paling biaya untuk ojol saat ke gereja PP setiap minggunya. Ditambah jika ada event/job ngeblog offline atau butuh belanja sesuatu sesekali, yang sungguh bisa dihitung dengan jari frekuensinya.


Sepeda motor yang tadinya kami anggap hanya sebatas keinginan, ternyata mulai berubah menjadi kebutuhan. Kontrakan kami yang terletak di Jogja coret, tepatnya di kawasan Godean yang sudah masuk kabupaten Sleman, membuat kami kerap kesulitan mendapat akses angkutan. Tidak ada angkutan umum yang proper, sementara jasa angkutan online juga tak sebanyak di dalam kota.


Seringkali kami harus menunggu lama setelah memesan, dan berakhir di-cancel drivernya. Terlebih jika hari hujan, nyaris tidak ada yang mau pick up. Driver Jogja ini rupanya belum semilitan driver Bandung, yang standby kapanpun dalam kondisi apapun.


Kami pernah pulang ke kontrakan sampai larut malam karena tidak ada yang pick up orderan kami untuk diantar ke Godean. Ketika akhirnya bisa pulang, itu pun karena sudah diakali untuk membagi jarak tempuh. Jadi misal total 10 km, kami pesan 2 kali untuk masing-masing jarak per 5 km agar tidak dicancel lagi.


Kami kadang juga terpaksa menolak sejumlah ajakan meet up teman-teman blogger Jogja karena memang sesulit itu untuk kemana-mana. Mungkin beberapa teman blogger masih ada yang menganggap kami sombong karena sekarang nyaris nggak pernah diajak-ajak ngumpul lagi 😅😅


Ah, nyesek memang kalau ingat masa itu. Tapi ya itulah asem-asemnya kehidupan manten baru yang mau ga mau harus dinikmati.



Motor Baru VS Motor Bekas


Ketika menyadari bahwa sepeda motor adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi (karena jika tidak, anggaran kami akan semakin membengkak tiap bulannya), kami langsung memasukkan itu ke skala prioritas. Lupakan dulu perabotan atau keinginan ini itu yang masih bisa ditunda.


Masalahnya, duit dari mana?

Semurah-murahnya motor, jelas tidak bisa didapat dengan uang 1-2 juta. Kecuali kalau mau beli motor bekas.


Nugi sempat melontarkan opsi ini, karena menurutnya, yang penting punya motor dulu. Tidak harus baru, yang penting bisa dipakai.


Tapi saya menentang, saya semasa gadis sudah beli 2 sepeda motor. Baru semuanya, meski 2-2nya kredit. Mohon maaf, saya tidak mau downgrade. Pernikahan harusnya membawa kualitas hidup lebih baik, jangan malah turun.


Alasan kedua, saya dan Nugi benar-benar "buta" soal otomotif. Siapa yang menjamin kami akan membeli motor yang layak meski bekas? Kalau yang terjadi sebaliknya bagaimana? Niat ingin hemat dan untung malah buntung karena uangnya habis untuk biaya reparasi di bengkel. Teman saya ada yang begini, beli motor bekas yang terjangkau dompet, tapi nyaris setiap minggu harus masuk bengkel karena adaaa saja yang bermasalah.


Di mata saya, opsi motor baru tetap yang terbaik untuk kami yang sama-sama tidak mengerti dunia motor. Kalau beli baru, ada garansi perawatan sampai berbulan-bulan. Kami hanya cukup meluangkan waktu untuk "check up" rutin di bengkel resmi.



Cash VS Kredit


Opsi pembelian sepeda motor secara kredit atau cash sempat menjadi perdebatan Jika ingin cepat dapat motornya, tentu pilihan kredit lebih mudah. Tapi kalau hitung-hitungan jangka panjang, pembelian secara kredit sungguh melelahkan. Bukan hanya harganya yang akan jauh berlipat ketimbang pembelian secara cash, namun juga membayangkan tagihan yang harus dibayar tiap bulannya sementara masih ada tagihan lain yang perlu diselesaikan apa tidak bikin kepala meledak? Bisa-bisa tak tersisa lagi anggaran untuk sekadar jajan es duren atau nonton di bioskop.


Saya bilang ke Nugi, sudah cukup saat masih single saya berurusan dengan utang dan tagihan. Saya lelah. Saya ingin hidup tenang. Saya ingin upgrade kondisi finansial saya. Kalaupun memang harus kredit, saya pilih kredit properti, bukan kendaraan.


"Ya sudah, kalau kamu memang yakin. Mari kita imani, kalau kita bisa membeli secara cash… Soal duitnya dari mana urusan nanti, mari kita minta sama Tuhan dulu," jawab Nugi yang menandai komitmen kami untuk membeli sebuah sepeda motor secara cash.



Rutin Berdoa


"Makin spesifik kita minta ke Tuhan, makin spesifik pula Tuhan menjawab."


Entah benar atau tidak, tapi saya sudah membuktikan sendiri soal ini saat meminta jodoh dari Tuhan. Super spesifik. Dan …, Tuhan menjawab tepat seperti apa yang saya minta. Makanya nggak ada keraguan sedikit pun soal Nugi adalah tulang rusuk. Karena memang se-spesifik itu Tuhan menjawab. Kapan-kapan saya cerita sendiri soal ini.


Lanjut ke motor, saya juga merasa perlu spesifik saat minta Tuhan. Setelah riset sedikit soal harga dan tipe-tipe motor, serta memperhitungkan kondisi finansial kami, kami pun memutuskan mulai berdoa untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit. Warna merah. Persis seperti Akashi milik saya di Palembang yang masih mulus dan tidak pernah rewel meski sudah dipakai 6 tahun.


Harga cashnya Rp 15.000.000 , meski ada dealer yang memberikan harga Rp 14.750.000. Bukan nominal yang sedikit, tapi kami cukup optimis sudah bisa membelinya dalam setengah tahun. Tentang caranya, biarkan Tuhan yang urus.


Pada November 2021, kami mulai rutin menyelipkan permohonan kami untuk sebuah sepeda motor Honda Revo Fit Merah cash di setiap mezbah keluarga kecil kami setiap malam (Yah, mungkin semacam doa bareng keluarga setelah salat magrib berjamaah kalau untuk keluarga muslim, kira-kira).


Kami percaya jika Tuhan sudah ACC, kami akan mendapatkannya di waktu yang tepat. Tugas kami sebagai manusia adalah berusaha. Ya, menabung!



Bertahan dari Serbuan Badai


Sekilas rencana kami untuk menabung rutin sambil tetap berdoa terkesan sangat mudah dan bikin optimis. Kenyataannya setelah dijalani adaaaa saja serbuan badainya.


Mulai dari pengeluaran-pengeluaran tak terduga yang lebih prioritas, job sampingan yang seret-lancar silih berganti, rasa frustrasi dan tidak sabaran karena masih harus naik ojol kemana-mana dengan segala dramanya, mulut-mulut nyinyir tetangga dan netijen, hingga yang paling sulit dilawan yakni serbuan brosur dan iklan promo pembelian secara kredit.


Sistem kredit yang ditawarkan sungguh menggiurkan, bahkan ada yang hanya butuh DP ratusan ribu rupiah dengan cicilan cukup ringan (meski harus ambil yang 3 tahun). Tapi saya dan Nugi saling mengingatkan dan menguatkan, bahwa kredit itu jebakan betmen. Kami gantian saja saling mengingatkan untuk bertahan dalam komitmen membeli secara cash.


Terkesan sangat mudah dituliskan, tapi yang kami alami berbulan-bulan lalu rasanya sungguh berat. Puji Tuhan, kami bertahan



Ao, Sang Jawaban Doa


Pada akhir tahun sebetulnya tabungan kami sudah cukup untuk membeli sepeda motor cash, terutama dengan tambahan THR Nugi yang diterima jelang Natal. Namun terpakai untuk biaya mudik kami Palembang dan Bengkulu, lalu lanjut ke Bandung.


Di Bandung kami banyak pengeluaran, namun memang harus dilakukan demi misi mengakhiri "tagihan" kosan Nugi. Sudah waktunya kami menutup keran pengeluaran tak berguna. Kalaupun suatu saat nanti Nugi harus kembali masuk kantor dan kami pindah lagi ke Bandung, biarlah itu urusan nanti.


Singkat cerita, baru pada pertengahan Februari dana kami terkumpul. Itupun berkat bantuan Ibu Ratu yang mentransfer dana nyaris ⅓-nya. Terima kasih, Yang Mulia. Mohon maaf, kami belum mampu ngasih yang terbaik malah dikasih terus ini😭😭😭


Saya sudah semangat 45 mau ke dealer untuk mengambil motor kami, ndelalah sales yang selama ini berhubungan dengan kami mengabari stok Revo Fit warna merah kosong. Bukan hanya di dealer setempat, namun bahkan Se-Jogja Raya ini kosong.


<To be continued
Tulisan belum selesai. Wkwkwk..lanjut besok ya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...