Menu

Liburan Cara Aku ke Niagara Falls, Kanada


Tahun 2022 adalah salah satu tahun yang nggak akan pernah saya lupakan. Selain fakta bahwa di tahun inilah saya akhirnya mengandung sepasang janin kembar buah cinta saya dengan mas Nugi, di tahun ini jugalah saya akhirnya berhasil mewujudkan 2 mimpi kecilku: mengecap paspor dan naik maskapai merah berinisial AA.

Paspor saya sebenarnya sudah jadi dari tahun 2019. Saya pun sudah berencana untuk melakukan perjalanan internasional secara mandiri. Apa daya, awal tahun 2020 pandemi COVID-19 menyerang dunia, sehingga baru 3 tahun kemudian saya "memerawani" paspor saya sendiri 😅 Tapi nggak apa-apa, karena sekalinya ngecap paspor langsung dapat 3 negara. Saya pun melakukan perjalanan ini bersama mas suami tercinta. Berkat bantuan dan inisiatifnya jugalah impian kecil saya terwujud. Makasih ya, bebeb 😘

Perjalanan ini juga semakin menguatkan analisis saya kalau gaya traveling kami berdua ini memang berbeda. Jadi, biar sama-sama pergi ke satu destinasi, kami punya ketertarikan sendiri-sendiri. Ada yang bisa menebak perbedaan kami?

Berbeda Namun Tetap Bersama

Berbeda dengan mas yang tertarik dengan benda-benda mati—bangunan, kereta api, makanan—saya lebih berminat dengan kehidupan. Salah satu contohnya bisa dilihat ketika kami berada di Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Sementara mas sibuk membidik kereta monorel yang hilir mudik di atas sana, saya tetap membumi. Mengabadikan aksi dan ekspresi dari orang-orang yang menyeberang tertib di persimpangan McD.

Ketika berada di tempat makan, mas akan sangat concerned dengan bagaimana caranya dia mengambil foto makanan dan desain interior secara estetik. Saya? "Ngerusuhin" waiter atau yang punya tempat makan sekalian dengan sederet obrolan. Tidak jarang pula saya ikut ke dapur, melihat proses di balik kepulan asap yang menjadi asal muasal hidangan lezat di atas meja kami.

Biar berbeda, namun kami tetap bisa berjalan bersama. Kuncinya adalah saling memahami, dan bukannya saling mengikuti. Saya memahami selera dan minat mas Nugi, saya biarkan dia menikmatinya. Ketika saya sudah bosan menunggu, saya akan menyibukkan diri dengan apa yang saya suka di tempat yang sama, tak perlu saling memaksa.

Perjalanan adalah sebuah proses mengikuti suara hati. Liburan dengan cara saya sendiri, berjalan dengan cara dan kecepatan saya. Mungkin saya terkesan lamban ya di mata Nugi 😅 Dia masih semangat jalan cepat, saya udah ngos-ngosan. Dia udah siap berpindah ke spot berikutnya, saya masih mau leyeh-leyeh. Kalau bukan karena saya, mana mau Nugi rebahan di bawah pohon di Suria KLCC Park, Kuala Lumpur, sampai akhirnya kami kehujanan dan berteduh cukup lama di salah satu gazebo.

Traveling Paling Berkesan Bersamanya

Kalau ditanya, "Kapan pengalaman traveling paling berkesan?" Tentu saja saya akan mantap menjawab perjalanan ke Singapura, Malaysia, dan Vietnam tahun ini bersama Nugi. Terlepas dari berbagai drama dan lika-liku yang terjadi (marahan sama Nugi, ketinggalan kereta api ke Jogja dan harus beli tiket baru, asam lambung kambuh parah di Vietnam, dsb), namun tetap tak mengubah fakta bahwa inilah perjalanan saya yang paling berkesan sejauh ini.

Traveling paling berkesan di tahun 2022 bersama mas suami

Dua alasannya sudah saya singgung di awal, bahwa inilah momen pertama kalinya mengecap paspor dan pertama kalinya saya ke luar negeri.

Alasan ketiga, dan inilah alasan terkuat dari 2 alasan sebelumnya, adalah karena saya bjsa traveling dengan Nugi, orang yang paling saya sayaaang saat ini. Mau ke mana pun, mau bagaimana pun, bepergian bersama orang kesayangan itu beda rasanya. Berkesaaannn banget mengalahkan perjalanan-perjalanan lainnya, bahkan perjalanan pertama saya (waktu itu ke Jogja) beberapa tahun silam.

Niagara: Ketika Nama adalah Doa

Bukan sembarangan kalau mendiang papa saya menyematkan "Niagara" pada nama saya. Papa mendoakan saya sebagai seorang gadis petualang yang berkelana, melanglang buana menembus benua. Dari situlah, saya menargetkan Air Terjun Niagara (Niagara Falls) sebagai destinasi impian saya. Pokoknya, jangan dulu mati deh sebelum ke Niagara.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata papa saya malah menjadi orang yang protektif dan gampang cemas kalau saya keluyuran sedikit saja 😅 Jadi kalau saya mau ngebolang sama temen-temen—waktu itu tinggal di Bengkulu—saya baru minta izin ke papa saat udah sampai di tempat tujuan. Jatuhnya nggak minta izin sih ya, tapi ngasih tahu aja, papa saya udah nggak akan bisa melarang-larang lagi kalau udah kayak gitu.

Oke, kembali soal destinasi impian.
Meskipun sama-sama wibu seperti Nugi, tapi boleh dong saya memimpikan destinasi lain selain Jepang.

Air terjun super megah yang berada di perbatasan dua negara ini memang bisa dicapai baik dari Amerika Serikat dan Kanada. Tapi, saya dan mas sepakat untuk menjangkaunya dari Kanada. Negara ini menurut kami lebih menarik dan menyenangkan untuk dieksplor daripada Amerika Serikat (yaaa meskipun kalau ada rejeki ke AS nggak nolak juga sih).

Karena sudah bersatu di dalam pernikahan, tentu saya nggak lantas egois mau ke sana sendirian. Saya menyertakan Nugi di dalam impian ini, sama seperti dia sudah mengajak saya ke Singapura dan Malaysia meski dia sudah berkali-kali ke dua negara itu sampai bosan 😅

Itinerary yang saya susun memang belum rinci, namun Toronto akan menjadi kota tujuan penerbangan kami dari Indonesia. Begitu tiba di Toronto, kami akan menghabiskan 2-3 hari (di luar hari kedatangan, karena pasti akan digunakan full buat istirahat) sebelum akhirnya naik kereta api ke Niagara Falls. Baru tau juga ada kereta api ke sana, namanya GO Train, bagian dari GO Transit-nya kota Toronto. Yah, meskipun nggak semaniak Nugi, tapi saya juga suka naik kereta api.

Nah, perjalanan ke Niagara ini bakal win-win solution deh. Saya dapet Niagara, Nugi dapet pengalaman baru dengan kereta api di Kanada. Dia juga semangat buat ngubek-ubek kota Toronto dan naik MRT-nya. Kata Nugi, di Toronto ada subway dan tram, jadi dia juga akan happy.

4 fakta Air Terjun Niagara


Dari hasil browsing di Traveloka, penerbangan dari Jakarta ke Toronto biasanya menghabiskan waktu satu hari penuh atau 24 jam, seringkali lebih. Transit-nya dua kali, di Narita (Jepang) dan Vancouver (Kanada). Ongkos sekali jalan mulai dari Rp13 jutaan doang. Kecil lah ya segitu mah, ada amin saudara-saudara?
Ada beberapa obyek wisata yang saya lirik di kota Toronto, mau saya sempatkan di sela-sela waktu rehat. Tapi sebisanya aja, nggak ngoyo. St. Lawrence Market, High Park, Toronto Zoo, dan Chinatown adalah beberapa di antaranya. Tempat-tempat di mana saya bisa mengamati dan mengabadikan ragam kehidupan di kota terbesar Kanada ini.

Oh iya, saya juga anak pantai, sukaaa banget sama pantai! Sewaktu dulu di Bengkulu, gampang banget tuh kalau mau ke pantai karena masih di wilayah kota. Pindah ke Palembang, eh kok nggak ada pantai sama sekali, rawa-rawa sama sungai aja isinya. Tinggal setahun di Jogja dalam rangka membangun finansial rumah tangga kami, juga nggak sempet ke pantai.

Makanya kalau pas cuacanya cocok, mau mampir ke pantai juga di Toronto. Saya lihat-lihat di internet, ada beberapa pantai yang lumayan juga, seperti Woodbine Beach dan Hanlan's Point Beach.

Toronto, gerbang menuju Air Terjun Niagara

Terus di Niagara Falls-nya mau ngapain aja dan berapa lama? Puas-puasin main ke sana sampai bosen! Cari hotel sedekat mungkin dengan Niagara Falls. Berkali-kali ke sana nggak masalah, saya nggak mau menyia-nyiakan waktu. Niagara Falls saat terang, saat malam, saat sunrise/sunset, saat mendung, dapet semua hehe. Malah mungkin saya dan Nugi bakal nenda aja kali ya, karena ada beberapa campground alias bumi perkemahan di sekitar Air Terjun Niagara ini.

Saya ini memang bukan traveling savvy yang hafal macem-macem website atau aplikasi traveling, apalagi yang internasional. Rada gaptek saya kalau soal ginian mah. Saya cuma tau brand-brand terkenal di Indonesia seperti Traveloka. Selama ini kalau mau pesen hotel, tiket pesawat terbang, sampai tiket kereta api yang pertama kepikiran ya Traveloka. Apalagi saya juga nggak punya kartu kredit, jadi emang beneran butuh aplikasi dalam negeri buat keperluan traveling saya.
Traveloka juga bahasanya mudah dipahami traveler awam seperti saya, navigasinya mudah dimengerti. Sebagai ibu-ibu, Traveloka juga memikat dengan seabrek promo di aplikasi. Kebetulan, saya memang tipe orang yang smartphone-based daripada PC-based kayak Nugi. Pokoknya segala sesuatu sebisa mungkin dilakukan dengan rebahan deh.

Untuk perjalanan ke Air Terjun Niagara ini, sudah pasti saya akan memesan tiket pesawatnya di Traveloka. Selain itu, penyewaan pocket wifi internasional dan pembelian asuransi perjalanan di Kanada juga bisa saya lakukan di Traveloka. Kaget, ternyata produk dan fitur Traveloka udah selengkap ini ya! Harganya pun sangat terjangkau buat ukuran kita wisatawan Indonesia.

Eh iya, asuransi perjalanan itu penting banget gengs! Nugi dan temen dekatku, mas Yayan, juga menyarankan punya asuransi di setiap perjalanan, apalagi bepergian jarak jauh. Mungkin sekilas kesannya kayak buang-buang duit, tapi rasanya jadi lebih tenang. Siapa yang tahu koper kita rusak selama di dalam bagasi pesawat, atau penerbangan kita ditunda lebih dari 4 jam, atau selama di perjalanan kita terserang virus endemik? Lebih baik keluar sedikit modal di awal daripada tekor di akhir. Biayanya mulai seratus ribuan kok, tergantung dengan berapa lama kita pergi.
Melalui tulisan ini, saya mau mendorong teman-teman semua untuk berani mewujudkan perjalanan ke destinasi impian. Nggak perlu takut, nggak perlu minder sebagai traveler pemula yang biasanya nggak pernah ke mana-mana. Dengan keinginan yang kuat dan sedikit keberanian, pasti bisa kok. Percaya sama saya, kalau udah dijalanin, bakal terbukti sendiri bahwa perjalanan itu nggak seseram yang dibayangkan kok. Ada papan-papan informasi yang menunjukkan arah, ada orang-orang baik untuk tempat bertanya bahkan meminta pertolongan. Nggak perlu cemas juga kalau nggak lancar berbahasa Inggris, banyak negara yang rakyatnya juga pas-pasan, apalagi negara-negara Asia (yang di luar bekas kolonial Inggris).

Buat persiapan dan bahan belajar, kalian bisa pedekate dulu sama temen-temennya yang udah lebih berpengalaman soal traveling. Kalau perlu, gabung sama komunitas-komunitas traveler/backpacker yang banyak bertebaran di media sosial. Dari mereka, kita bisa belajar tentang apa aja yang perlu dipersiapkan dalam sebuah perjalanan, gimana step-step yang ideal, apa yang perlu diperhatikan, dsb.

Mengabadikan kehidupan di Bukit Bintang, Kuala Lumpur

Rencanakan liburan di Traveloka yuk, bisa mulai dari yang deket-deket dulu kalau takut langsung jauh ke Kanada hehe. Bisa mulai dari traveling bareng dulu, sebelum berkelana seorang diri. Ikuti suara hati kamu dan jalani hidup dengan gayamu! Nggak perlu ikut-ikutan gaya orang lain, nggak perlu ikut-ikutan destinasi wisatawan lain. Temukan apa yang jadi minatmu, wujudkan, dan nikmati #LifeYourWay.

 Salam dari mamak kucing dan 2 anak bulunya 😸

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...