Menu
Tampilkan postingan dengan label Bloggercrony. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bloggercrony. Tampilkan semua postingan



Khasiat Jamu Habis Bersalin

Jamu di mataku lebih dari sekadar obat tradisional. Tradisi turun temurun ini diracik dengan penuh cinta, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai salah satu pusaka yang harus dijaga. Aku salah satu generasi yang beruntung masih bisa merasakan khasiat jamu tradisional. Lewat racikan jamu habis bersalin warisan nenekku yang dibuat oleh mamaku, aku pun pulih lebih cepat pasca melahirkan si kembar setahun lalu.


Proses Persalinan Si Kembar yang Tak Mudah

Si Kembar Kamaya & Kisae

Aku melahirkan dua putri kembar, Kamaya dan Kisae melalui operasi caesar pada Maret 2023 silam. Kedua anakku lahir sehat dan selamat meski dalam kondisi prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR). Sayangnya kondisiku tak sebaik anak-anakku.

Aku sempat mengalami perburukan pascamelahirkan akibat preeklamsia dan post partum anemia. Selama 3 hari, aku berjuang di antara hidup dan mati dengan banyak alat menempel di tubuhku. Aku tidak bisa melihat apa pun karena pembuluh darah di mataku bengkak dan nyaris pecah. Terlambat penanganan sedikit saja, aku akan buta permanen.

Saat itu, untuk pertama kalinya aku begitu takut mati. Aku takut meninggalkan 2 anakku yang bahkan belum sempat kupeluk. Namun Puji Tuhan, Sang Maha Segalanya itu masih sayang padaku. Aku diberi kesempatan hidup lebih panjang untuk membersamai tumbuh kembang anak-anakku.

Kondisiku perlahan mulai stabil hingga akhirnya bisa pulang ke rumah meski belum dibolehkan langsung turun dari tempat tidur.


Jamu Habis Bersalin, Lebih dari Sekadar Obat Tradisional

Jamu Habis Bersalin Tradisional

Kira-kira seminggu pascamelahirkan, Ibu Ratu, mamaku terkasih rutin menyediakan segelas jamu tradisional racikannya sendiri. Sekilas penampakannya berwarna jingga cerah mirip jamu kunyit asam, namun kata beliau itu adalah racikan jamu habis bersalin.

Jamu habis bersalin versi mamaku terbuat dari berbagai bahan alami seperti kunyit, temulawak, jahe, kencur, adas dan sejumlah bahan lainnya. Rasanya tidak seenak jamu beras kencur atau kunyit asam yang lebih akrab di lidahku, untuk itulah sudah disiapkan penawarnya berupa wedang jahe kayu manis yang rasanya manis segar karena dimasak dengan gula merah. Jika dirasa masih kurang enak, aku boleh menambahkan madu.

Jamu yang dibuat mamaku sama dengan yang dulu sering dibuat mendiang Mbah Utiku. Semasa hidupnya, beliau kerap dimintai tolong ibu-ibu yang habis bersalin di desaku untuk memijat bayi-bayi mereka. Saat pergi memijat bayi, Mbah Uti akan membawa sebotol jamu habis bersalin racikannya sebagai “oleh-oleh” untuk ibunya.

Mbah Utiku bukan dukun bayi atau tukang pijat bayi, beliau tidak pernah mengklaim itu sebagai profesinya. Namun kemampuan beliau sepertinya menyebar sendiri dari mulut ke mulut sehingga adaa saja yang minta tolong. Aku menaruh hormat pada beliau, karena dalam setiap “aksi”nya, beliau tidak pernah memasang tarif atau meminta imbalan. Meski tuan rumah biasanya tetap memberikan sesuatu untuk Mbah Uti bawa pulang sebagai ucapan terima kasih.

Tentu saja racikan jamu yang sama buatan Mbah Uti sudah terlebih dahulu dinikmati mama dan bibiku, saat mereka melahirkan anak-anaknya. Saat aku dan saudara-saudaraku baru hadir di dunia ini.

Aroma jamu, aroma cinta

Di momen pertama kali menenggak jamu habis bersalin racikan Ibu Ratu, tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Aroma berbagai rimpang yang melebur dalam segelas jamu mengingatkanku pada aroma nenekku yang selalu tercium tak sengaja setiap kali beliau mendekapku . Aku membatin, andai beliau masih hidup, pasti beliau yang akan meraciknya untukku.

Namun aku juga tersadar, bahwa regenerasi memang harus terjadi. Dan aku lega karena “tongkat estafet” telah dilanjutkan. Ibu Ratu berhasil menjaga “warisan pusaka” peninggalan mendiang Mbah Uti dengan sangat baik. Aku yakin lewat jamu yang Ibu Ratu racik, tertuang banyak sekali cinta di dalamnya.

3 generasi

Aku pun bertekad untuk mempelajari resep jamunya baik-baik dari Ibu Ratu, agar kelak ketika giliran Aya dan Sae yang membutuhkan, aku sudah siap meraciknya dengan penuh cinta.

Jamu habis bersalin di mataku lebih dari sekadar obat tradisional. Sebab ia mampu menghadirkan kembali cinta dari orang terkasih yang sudah lama tiada.


Khasiat Jamu Habis Bersalin

Khasiat Jamu Habis Bersalin

Khasiat jamu habis bersalin sudah umum dirasakan para ibu yang habis melahirkan. Jamu jenis ini membantu ibu pulih dengan cepat dan bisa menjalani masa nifas dengan lebih ringan. Jamu habis bersalin banyak jenisnya, masing-masing daerah (atau keluarga) punya komposisi andalan sendiri. Versi yang praktis juga sudah banyak dijual dalam bentuk kemasan instan.

Meski demikian, khasiatnya bisa dilihat dari kandungan bahan-bahan jamu itu sendiri, antara lain :

Kunyit (Zingiber officinale)

Berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Rimpang ini juga kaya akan berbagai zat seperti curcumin, vitamin C, kalium, mangan, dan magnesium yang sangat baik bagi tubuh ibu selama masa nifas. Kandungan ini juga bisa membantu memulihkan sakit perut dan mempercepat penyembuhan luka pascamelahirkan, baik pervaginam maupun bekas operasi caesar.

Temulawak (Curcuma zanthorrhiza)
Berdasarkan Nutrients Journal, temulawak terbukti dapat meningkatkan fungsi otak, kadar dopamin, dan bertindak sebagai antidepresan alami. Tak hanya itu, temulawak juga mengandung berbagai senyawa yang baik untuk kesehatan seperti terpenoid, kurkuminoid, dan xanthorrhizol. Senyawa tersebut bersifat antioksidan, antiradang, anyimikroba, hingga antikanker. Temulawak berkhasiat untuk mengobati stretch mark dengan cara meningkatkan fungsi membran kulit, juga berguna sebagai ASI booster.

Jahe (Zingiber Officinale)
Jahe berkhasiat mencegah infeksi, mengurangi peradangan dan meningkatkan oksigen dan aliran darah ke rahim sehingga mempercepat penyembuhan ibu habis bersalin. Ini karena jahe mengandung senyawa gingerol, shogaol dan paradol yang baik untuk kesehatan tubuh. Jahe juga ampuh meredakan mual bahkan bisa menurunkan berat badan.

Adas (Foeniculum vulgare)
Adas bermanfaat bagi ibu yang baru melahirkan karena dapat membantu melancarkan pencernaan, mengurangi kembung, dan mengurangi gas. Adas juga dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran para ibu secara keseluruhan.

Masih banyak bahan rempah lain yang bisa digunakan dalam racikan jamu habis bersalin. Namun pada umumnya, jamu jenis ini memang dibuat khusus untuk membantu proses pemulihan para ibu yang baru melahirkan dengan lebih cepat.

Pengalamanku sendiri bagaimana?

Aku mengonsumsi jamu habis bersalin racikan Ibu Ratu setiap 2 hari sekali. Sebelumnya aku sudah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokterku, dan beliau mengatakan jamu justru sangat baik dikonsumsi selama tidak berlebihan.

Terkait hasilnya aku tidak mau banyak bicara. Lihat saja dua foto berikut ini yang diambil dalam jeda waktu kira-kira dua minggu. Ya, hanya dua minggu saja, aku sudah sesegar dan sebugar itu. Nyaris tidak tersisa tanda-tanda bahwa aku sempat kritis sebelumnya.

Pulih lebih cepat

Melewati masa nifas, aku juga masih rutin mengkonsumsi jamu tradisional. Jamu yang kubuat sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di apotek hidup di rumahku.

Kini, setahun sudah usia si kembar. Berkat jamu tradisional, ibunya bukan hanya berhasil pulih lebih cepat setelah bersalin, namun kini jauh lebih bugar, segar, juga punya  berat badan yang ideal.

Sehat, bugar, dan ideal meski sudah emak-emak


Keluarga Kembara

Selamat Hari Jamu Nasional, mari lestarikan jamu tradisional. Dijamin tidak akan menyesal!


1

Bertahan Hidup dan Bertemu Cinta Modal Ngeblog

Banyak hal yang sudah terlewati selama saya menjadi blogger. Terlahir dari keluarga sederhana dan tidak punya privilege dalam hal finansial, membuat saya harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup. Namun bermodal ngeblog juga lah, saya akhirnya bertemu cinta dan memulai bahagia.


Sejak orang tua bangkrut tepat ketika saya lulus SMA belasan tahun lalu, praktis saya dipaksa dewasa sebelum waktunya. Saya berjuang untuk hidup sendirian. Untuk makan, untuk tempat tinggal. Tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa dijalani “bocah” lulusan SMA yang tinggal di kota kecil. Pun saat itu akses informasi dan dunia digital belum sebaik sekarang.


Berbagai pekerjaan saya lakoni demi bisa bertahan dari hari ke hari. Mulai dari penjaga toko, waiters sebuah kafe kecil, baby sitter, hingga yang agak mendingan, menjadi staf pembukuan di sebuah perusahaan kontraktor.


Kehidupan saya beranjak membaik setelah mengikuti sebuah diklat jurnalistik yang digelar sebuah perusahaan media lokal setempat yang terhubung pada jaringan koran dan televisi nasional. Hasil diklat saya yang dinilai cukup baik membuat saya direkrut perusahaan itu untuk menjadi jurnalis meski belum kuliah saat itu.


Ketika Hidup di Antara Berita

Sambil membagi waktu di antara liputan dan target menulis 7 berita per hari, saya berusaha menyelesaikan kuliah yang agak terlambat. Sayangnya perjalanan tidak semulus itu. Singkat cerita, saya sempat gagal beberapa kali dalam menyelesaikan kuliah.

Perjalanan hidup memang tak selalu mulus. Meski sempat hidup cukup nyaman saat menjadi jurnalis, saya kemudian mengalami episode terpuruk lagi. Berturut-turut dalam kurun waktu sekian tahun saja : resign dari kantor, putus cinta dengan tragis, papa meninggal setelah sakit cukup parah, berkutat dengan masalah kejiwaan, hingga harus membereskan masalah finansial keluarga yang tidak sedikit.


Di saat bersamaan, saya saat itu juga masih harus berjuang menyelesaikan kuliah saya. Saya boleh saja punya banyak list kegagalan, namun saya sudah bertekad untuk menyelesaikan kuliah karena begitu menginginkannya.


Selengkapnya baca : Sarjana Sastra dan Lunasnya Sebuah Utang


Menghadapi kerasnya hidup tanpa punya pekerjaan tetap tentunya tidak semudah itu dihadapi. Namun bersyukur, di tahun-tahun itu, lebih kurang tahun 2015-an, ada dunia blogger yang menyelamatkan saya.


Sebetulnya saya sudah mulai ngeblog sejak masih aktif sebagai jurnalis tahun 2011. Namun saat itu tidak terlalu serius menekuni. Hanya memanfaatkan sebuah platform blog keroyokan (Kompasiana), dan blog pribadi gratisan. Saat itu saya menulis hanya sebagai media refreshing dari kejenuhan menulis berita. Juga mungkin sebagai tempat alternatif penampungan tulisan ketika tidak semua berita yang saya tulis ternyata layak muat.


Tahun 2015 ketika saya pindah ke Palembang dan memulai segalanya dari nol, saya dipertemukan dengan sejumlah blogger yang sudah terlebih dahulu eksis dan “serius” ngeblog. Salah satunya Kak Yayan, pemilik blog omnduut dot  com yang kemudian malah menjadi bestie rasa kakak sendiri.


Dunia blogger saat itu sangat “sempit”. Meski banyak Komunitas Blogger Indonesia terbentuk, di Palembang sih terkesan orangnya “itu-itu saja”. Tampak jelas ketika ada event online, wajah-wajah yang terlihat biasanya sudah hafal. Pertemanan dunia maya jadi terjalin di dunia nyata.



Perkenalan dengan Mas Satto dan Bloggercrony


Saya juga baru sadar kalau di tahun 2015 pula Komunitas Bloggercrony Indonesia berdiri. Perkenalan saya dengan Bloggercrony sendiri baru terjadi di tahun 2018, memang. Saat itu saya bertemu dengan Mas Satto Raji dalam sebuah event di Palembang. Di tahun-tahun berikutnya, praktis mulai banyak terlibat dengan banyak event (dan tentu saja job) juga bareng BCC. Beberapa di antaranya saat event bersama sisternet dimana saya juga akhirnya bersua dengan Mbak Wawa.


Bersua dengan Mbak Wawa


Salah satu event blogger paling berkesan adalah ketika diundang oleh Bluebird. Saat itu kami para blogger diundang untuk menjajal aplikasi My Bluebird yang baru di-launching. Senang sih karena sudah tahu kalau si burung biru ini bukan perusahaan kaleng-kaleng. Armada Bluebird (termasuk Bigbird) sudah terstandardisasi SNI (Standar Nyaman Indonesia) karena pengemudinya profesional dan dapat diandalkan, armadanya aman dan nyaman, dan mudah diakses.


event bersama Bluebird


Yang jelas, saat-saat itu bisa dibilang adalah era kejayaan blogger. Meski saya tidak punya pekerjaan tetap, tapi dari ngeblog, saya bukan hanya berhasil melewati fase survival alias bertahan hidup , namun juga berhasil menyelesaikan kuliah saya, membayar semua treatment termasuk obat dan terapi untuk memulihkan kesehatan mental, juga termasuk melunasi semua utang keluarga.


Bukan Blogger Sekadarnya dan Maksimalkan Potensi Diri yang Ada


Menulis memang sudah menjadi passion buat saya. Diary, koran, hingga blog dan status media sosial menurut saya hanya perbedaan wadah semata. Namun proses menuangkan setiap pemikiran atau perasaan dalam serangkaian kata-kata menurut saya ya masih tetap sama saja.


Meski demikian, manusia itu perlu berubah untuk tumbuh. Seperti yang kita tahu, jika sesuatu berhenti tumbuh, maka di saat itu juga proses pembusukan menuju mati akan dimulai. Saya tidak mau “membusuk” secepat itu. Tidak di usia yang menurut saya justru sedang produktif-produktifnya.


Saya sempat cukup rajin meng-upgrade kualitas tulisan dan meningkatkan produktivitasnya. Puji Tuhan, rupanya cukup berbuah hasil dengan memenangkan beberapa blog competition. Yang agak membanggakan ketika akhirnya berhasil meraih title Best in Citizen Journalism dalam gelaran Kompasiana Awards 2019.


Kompasiana Award


Namun prestasi terbaik saya dari nge-blog bukanlah ketika memenangkan lomba-lomba blog, namun ketika bagaimana tulisan saya ter-notice oleh sejumlah pihak yang kemudian mengakui potensi saya.


Misalnya ketika di tahun 2018-2019 saya mendapat “kehormatan” tergabung dalam pengerjaan sebuah project penulisan buku Profil Desa Peduli Gambut oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang bekerja sama dengan Epistema Institute. Saat itu, recruiter-nya meyakini saya mampu mengemban tugas setelah membaca sejumlah tulisan saya yang sudah pernah tayang. BRGM  sendiri adalah sebuah Lembaga Nonstruktural yang dibentuk Presiden RI tahun 2016. Saat itu, saya beserta tim berhasil membuat 3 buah buku.

Sebelumnya, naskah novel fiksi yang saya tulis juga sempat meloloskan saya mengikuti pelatihan expert class di Gramedia Writing Project 3 di Jakarta. Di sini saya berkesempatan belajar langsung dari mentor yang merupakan penulis hebat seperti Rossi L Simamora, Tere Liye, dan Aan Mansyur.


Kelas menulis bersama salah satu mentor, Rossi L Simamora



 Saat itu saya mulai menyadari, bahwa saya bukan blogger sekadarnya dan tidak mau menjadi blogger sekadarnya. Saya mulai diakui (setidaknya oleh sejumlah pihak yang kompeten), bahwa saya sebetulnya punya potensi yang (lumayan) menjanjikan. Sebuah keyakinan yang membuat saya tetap bertahan hidup di tengah ketidakstabilan mental karena berkutat dengan ADHD, depresi, dan gangguan kecemasan.

Tak ingin puas sebagai penulis, saya juga mulai memperdalam skill sebagai translator juga editor. Sampai saat ini, saya kerap menerima job-job freelance di bidang ini. Kadang, menjaga diri tetap sibuk adalah sarana healing terbaik bagi orang-orang yang terlalu sering ingin mati. Ups!

Belakangan, tepatnya ketika pandemi covid 19 mempercepat era digitalisasi, blogger tak hanya dituntut “cuma” bisa nulis saja. Media semakin berkembang dengan konten-konten audio visual. Mau tidak mau, saya dan hampir semua blogger kembali mengasah skill untuk memproduksi konten tersebut. Kemampuan mengambil gambar dan video editing sederhana pun terasah dan bertambah dengan sendirinya.

Menemukan Cinta dan Memulai Keluarga Kecil Bahagia

Rupanya keputusan saya menekuni dunia per-bloggeran ini sangat tepat. Saya mendapat banyak berkat dari sini, bukan hanya uang, relasi, dan peluang… saya bahkan menemukan cinta dan belahan jiwa.

Hati saya terpaut pada Nugisuke, mas-mas Jogja yang stay di Bandung dengan blog thetravelearn dot com-nya. Travel blogger satu ini berhasil memikat saya untuk sepakat mengikat janji suci di altar pada tahun 2021.

Saat ini, kebahagiaan keluarga kecil kami kian lengkap dengan hadirnya 2 putri kembar kami, Kamaya dan Kisae (Aya dan Sae). Dengan bertambahnya member baru, sekali dua pula, praktis kebutuhan kami sekeluarga atas kendaraan roda empat semakin mendesak.

Mobil? Carro aja!

Kalau menurut kemampuan finansial kami sekarang, belum bisa sih beli mobil baru. Tapi mobil bekas pun rasanya ga masalah kalau emang kondisinya masih oke. Nah, beruntung, berkat Blogger Day 201424 Bloggercrony, saya jadi tahu kalau ada yang namanya Carro. Jadi Carro ini tempat kita bisa jual beli mobil bekas dengan kondisi yang masih sangat baik dan layak pakai. Nah, kalian bisa banget nih Temukan mobil #CarroCertified bagus layaknya baru sekarang di carro.id . Kebetulan saya sama Nugi juga lagi rajin intip-intip.

Saat ini, saya juga menikmati peran baru saya sebagai mom of twins. Tidak mudah menjalani peran ini dengan kapasitas saya yang terbatas. Namun sebagai blogger, saya merasa punya privilege, setidaknya jika dibandingkan dengan para ibu lain di lingkungan sekitar saya.

Dibanding tetangga-tetangga saya misalnya, saya merasa lebih melek literasi dan lebih mudah mengakses informasi yang sudah banyak tersaji dari sumber-sumber kredibel. Sebagai blogger, saya mendapat kemudahan dalam mengakses ilmu-ilmu parenting dari mereka yang berkompeten di bidangnya seperti dokter spesialis anak, psikolog anak, atau para ahli gizi. Bukan hanya dari akun sosmed, namun sampai berinteraksi langsung melalui webinar atau seminar offline yang sering digelar dan melibatkan para blogger sebagai pesertanya.

Mom of twins

Menjadi mom blogger juga memungkinkan saya mendapat income tambahan lewat sejumlah job atau tawaran endorsement yang diterima tanpa harus khawatir melewatkan perkembangan anak. Nyaris semua kesibukan seorang blogger seperti saya bisa dilakukan dari rumah saja.

Namun di atas semua itu, privilege terbaik menurut saya adalah komunitas itu sendiri. Lewat apa yang di-sharing-kan blogger lain lewat tulisan dan pengalamannya, saya belajar banyak hal. Juga suntikan dukungan dan semangat ketika sedang terpuruk dan hari-hari tak berjalan dengan baik.

Saya melewatkan masa kehamilan, persalinan, dan masa postpartum dengan tidak mudah. Saya melewati 8 bulan masa kehamilan dengan full bedrest. Saya mengalami kritis selama 3 hari setelah melahirkan Aya Sae. Saya menjalani hari-hari  sebagai ibu baru dengan kesulitan finansial sampai sempat merasakan gejala baby blues.



Namun setiap kali membaca pengalaman ibu-ibu lain dengan segala suka dukanya, selalu mampu menguatkan saya. Meyakinkan saya bahwa saya tidak sendirian. Juga memberi saya harapan, bahwa hari-hari terburuk sekalipun pasti akan berlalu.

Melalui tulisan ini, saya sekaligus ingin berterima kasih pada para mom blogger yang lebih senior. Saya ingin mereka tahu, bahwa apa yang mereka bagikan selama ini telah banyak membantu saya selaku ibu newbie ini melewati hari-hari sulit dalam berumah tangga.

Ini menunjukkan bahwa blogger dan komunitas tidak bisa dipisahkan. Blogger bisa dibilang tidak bisa hidup tanpa blogger lainnya. Saya pribadi sangat bersyukur bergabung dengan Bloggercrony. Sejauh ini apa yang dilakukan Bloggercrony banyak sekali membantu teman-teman blogger.

Blogger Day 2024

Bukan hanya dalam hal berjejaring, dan berbagi ilmu serta job, namun belakangan bahkan merambah dengan memperhatikan para blogger yang memiliki UMKM. Menjembatani pelaku usaha dengan konsumen tentunya merupakan hal yang sangat positif dan harus dipertahankan.

Saat ini saya memang masih harus pandai-pandai membagi waktu antara ngeblog dan kesibukan dan tanggung jawab baru di keluarga. Dalam hal ini, bikin saya jadi kurang leluasa terlibat dalam berbagai event. Berbeda dengan saat masih single dulu yang bebas kemanapun. Meski demikian, jika memungkinkan, saya pasti mengusahakan untuk tetap terlibat dalam kegiatan komunitas blogger.

Menjadi blogger memberi ruang untuk diri saya sendiri, yang utuh sebagai Ara. Bagaimanapun, bagian diri Ara yang satu ini sama pentingnya dengan Ara yang istrinya Nugi maupun Ara yang mommy-nya Aya Sae.

Sampai detik saya menuliskan ini, saya belum pernah menyesal menjadi blogger. Saya Ara, bukan blogger sekadarnya. Saya blogger yang berhasil bertahan hidup dan menemukan banyak cinta darinya.





2



Di dusun orang tua saya, di salah satu desa di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, kusta (atau dikenal juga dengan lepra) masih dianggap sebagai tulah atau penyakit kutukan juga guna-guna. Penderitanya sering dijauhi, dikucilkan, atau malah diisolasi keluarganya sendiri karena malu. Tidak heran jika penderita kusta yang ada malah jadi enggan berobat akibat masih suburnya stigma negatif yang berkembang di masyarakat.

Stigma negatif terhadap penyakit kusta ini tidak boleh dibiarkan. Menurut data WHO, Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga kasus kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil. Total penderitanya mencapai 18.000 kasus.

Padahal, kusta bukanlah jenis penyakit yang menular dengan mudah. Kusta tidak bisa ditularkan lewat jabat tangan, berpelukan, duduk bersebelahan, bahkan tidak menular antara ibu dan bayi lewat persalinan.

Butuh waktu untuk kusta dapat menular karena masa inkubasinya tidak sebentar. Juga butuh bersinggungan dengan penderita secara intens untuk bisa menular. Sehingga, seharusnya masyarakat tidaklah perlu mengucilkan penderita dengan alasan takut tertular.


Untuk memerangi stigma negatif kusta di masyarakat agar penderitanya tidak terus bertambah akibat enggan berobat, perlu keterlibatan semua pihak untuk bekerja sama. Salah satunya seperti yang belum lama ini dilakukan NLR (No Leprosy Remains) yakni dengan menggelar roadshow di Slawi, Tegal, dan Cirebon. Roadshow tersebut terselenggara pada awal Juni 2023 lalu dengan menggandeng BABINSA (Bintara Pembina Desa) dan ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga).






Saya mengetahui informasi ini setelah menyimak live show bertajuk "Gaung Kusta Bersama Babinsa dan PKK) di Ruang Publik KBR (Kantor Berita Radio) lewat siaran langsung di Youtube pada 14 Juni 2023 lalu. Hadir sebagai narasumber, Kapten Inf. Shokib Setiadi (Pasiter Kodim 0712/Tegal) dan Ibu Elly Novita, S.KM, MM (Wakil Ketua Pokja 4, TP PKK Kabupaten Tegal) yang kemudian banyak berbagi cerita terkait peranan pihaknya dalam memerangi stigma penyakit kusta di masyarakat.

Anggota Babinsa dan PKK adalah garda terdepan yang banyak berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka telah mendapat edukasi dan penyuluhan seputar kusta dalam roadshow yang digelar NLR sehingga bisa meneruskan informasinya kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

Pak Shokib Setiadi menyatakan pihaknya menyambut baik adanya roadshow leprosy tersebut. "Roadshow tersebut menjadi bahan edukasi tim untuk nanti diteruskan melalui penyuluhan dan pendampingan ke masyarakat," kata Shokib.

Babinsa sebagai perangkat keamanan di desa-desa memang punya kewajiban menjaga kondisi di desanya masing-masing termasuk dari bahaya penyakit menular. Dalam hal ini, babinsa punya kesempatan lebih dalam mengedukasi masyarakat terkait penyakit kusta. Termasuk meluruskan kesalahpahaman atau stigma negatif yang terlanjur beredar di masyarakat.

Shokib menambahkan, sebagai wujud komitmen Babinsa untuk NLR Indonesia, pihaknya juga rutin menggelar komunikasi sosial sebagai wadah diskusi dengan warga. "Harapannya jika warga sudah terbiasa ngobrol bersama kami, nantinya warga akan lebih terbuka. Sehingga keluhan-keluhan akan gejala penyakit kusta bisa diketahui lebih awal sebelum menjadi lebih parah," jelas Shokib.

Tidak hanya itu, Babinsa menurut Shokib juga masih konsisten menggelar kegiatan-kegiatan lintas sektoral yang membahas berbagai aspek di wilayahnya, dari politik hingga kesehatan. Dengan demikian, Babinsa juga punya wewenang untuk menggandeng tenaga kesehatan untuk melakukan edukasi langsung di masyarakat.

Sementara itu Ibu Elly Novita, S.KM, MM selaku Wakil Ketua Pokja 4, TP PKK Kabupaten Tegal menyoroti akibat buruk stigma negatif tentang kusta di masyarakat. Penderita menjadi takut dan malu untuk berobat sehingga malah mempertinggi tingkat penularan.

Padahal, dijelaskan Elly, jika sudah memiliki tanda-tanda penyakit kusta, penderita harus segera melaporkan diri ke puskesmas tedekat untuk mendapat penanganan. Jika betul terkonfirmasi kusta, maka keluarga yang tinggal serumah dan tetangga terdekat bisa turut mendapatkan obat untuk mencegah penularan.

Dikatakan Elly, meski ibu-ibu PKK punya kesempatan lebih untuk mengedukasi masyarakat terkait kusta karena langsung bersinggungan dengan masyarakat, pihaknya berharap tokoh-tokoh masyarakat seperti pamong desa dan pemuka agama bisa turut ambil bagian dalam memerangi kusta ini. "Tokoh masyarakat, pamong desa atau pemuka agama adalah sosok yang dihormati di masyarakat. Suara mereka cenderung lebih didengar. Akan sangat membantu jika ada keterlibatan tokoh-tokoh ini dalam mengedukasi warga," kata Elly.

Saya tidak tahu apakah roadshow yang penuh edukasi dan penyuluhan ini dilakukan di wilayah lain atau tidak. Namun saya pribadi berharap, roadshow semacam ini bisa dilakukan merata di daerah-daerah lain di Indonesia. Termasuk di dusun orang tua saya di Banyuasin dan tidak hanya mencakup wilayah pulau Jawa saja.

Dengan demikian, pemahaman terkait kusta ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat. Semakin masyarkat tahu dan teredukasi, tentunya diharapkan bisa turut menurunkan bahkan menghapuskan kasus kusta di Indonesia dan menjadikan negeri ini bebas kusta sepenuhnya.
0

Hak Kesehatan Seksual (gambar : kompas)


Belakangan ini saya beberapa kali membaca berita yang cukup bikin geram, yakni soal pelecehan seksual yang dialami kaum disabilitas. Kasus-kasus yang sungguh bikin marah, geram, sedih, dan miris sekaligus. Terlebih, karena para korbannya masih remaja atau di bawah umur.

Saya ingat saat masih kecil, ada kehebohan di dusun saya. Salah seorang warga, seorang remaja perempuan down syndrome, mendadak diketahui hamil di luar nikah. Saat itu saya belum terlalu paham, namun saya sudah tahu bahwa hamil tanpa didahului ikatan pernikahan sebelumnya merupakan hal yang sangat memalukan.

Ketika sudah agak lebih dewasa, saya baru paham kalau apa yang terjadi dengan remaja tersebut adalah kasus perkosaan dengan memanfaatkan ketidakberdayaan si korban. Pelakunya lebih dari satu, dan hampir semua adalah tetangga sendiri yang berdalih mengajak korban bermain-main di sawah yang ada pondoknya. Dan di sanalah perilaku bejat itu terjadi berulang kali hingga sang remaja akhirnya hamil tanpa pernah benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi.

Kasus seperti ini membuat saya sadar, bahwa mendapatkan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi adalah hak setiap orang, termasuk remaja disabilitas dan OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta). Wawasan terkait edukasi ini selain berdampak baik bagi kesehatan, tentunya akan mampu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman pelecehan dan kekerasan seksual yang mungkin terjadi.

Belum lama ini, saya dan rekan-rekan sesama blogger dan teman-teman Ruang Publik KBR dan NLR Indonesia mengikuti sebuah siaran sosialisasi bertajuk Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja disabilitas. Dalam agenda tersebut, salah satu narasumber yakni Westiani Agustin yang merupakan founder Biyung Indonesia mengatakan, edukasi terkait kesehatan seksual dan reproduksi untuk perempuan Indonesia masih cukup sulit diakses. "Jangankan untuk yang disabilitas dan OYPMK, yang remaja normal saja masih kesulitan mengakses informasi. Umumnya karena topik-topik terkait kesehatan seksual dan reproduksi ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan," ujar Westiani.
Pentingnya Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Hal senada disampaikan Wilhelmina Ice, remaja Champion program Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) asal Nusa Tenggara Timur. Menurut Ice yang juga remaja disabilitas ini, dirinya tergolong beruntung mendapatkan edukasi dari program HKSR yang dia ikuti. "Namun ada banyak teman-teman saya yang kesulitan mengakses informasi. Selain ada perbedaan kapasitas pemahaman antara teman yang satu dan yang lain, keluarga sendiri terkadang masih tidak mau tahu tentang hal ini," ujarnya.

Disampaikan Project Officier HKSR NLR Indonesia, Nona Ruhel Yabloy, sudah saatnya masyarakat kita sadar bahwa seks edukasi itu berbeda dengan pornografi. Dengan pemahaman yang benar terkait kesehatan seksual, remaja khususnya penyandang disabilitas lebih bisa melindungi dirinya sendiri. "Mulai dari hal-hal sederhana terkait pentingnya menjaga kebersihan dan merawat diri. Untuk wanita tahu kapan harus mengganti pembalut saat menstruasi, dll," jelas Nona.

Hal tersebut penting, tapi sampai sekarang banyak orang tua yang berpikir anak akan tahu sendiri pada waktunya, tidak perlu diajari. Padahal belum tentu. Seringkali anak justru kebingungan dan mencari tahu sendiri. Tentunya akan jadi berbahaya jika pada akhirnya anak malah mendapat informasi yang keliru.

Untuk itulah, perlu adanya support system dari orang terdekat. Penting membangun hubungan yang sehat agar remaja punya tempat aman untuk bertanya, khususnya terkait kesehatan seksual dan reproduksi yang selama ini dianggap tabu.






0


Catatan Mommy Ossas
sepulang kelas literasi digital
Sisternet Palembang dan Blogger
Crony Community.

Kapan Anak Boleh Punya Gadget Sendiri?

***


Ossas dan Ling Ling belum saya kasih gadget sendiri. Selain karena berbulu, bertaring, dan kakinya empat, mereka sepertinya sudah cukup puas  saya putarkan video Cat Games di YouTube seminggu sekali.


Ling Ling main gadget


Meski begitu, sama seperti semua ibu zaman now, saya juga kepo maksimal dengan jawaban pertanyaan yang jadi judul postingan ini. Selain bermanfaat untuk anak-anak didik saya di sekolah, bisa sekalian sebagai persiapan kalau nanti punya anak sendiri.

Beruntung banget bisa ikutan kelas literasi digital bareng persembahan XL Axiata melalui program Sisternet Palembang yang bekerja sama dengan Blogger Crony Community Sabtu (14/9) lalu di Loggo House Palembang.

Kelas ini benar-benar mengupas tuntas soal anak dan gadget dengan menghadirkan Tsurayya Syarif Zain, SPd.I, S.Psi, MA selaku pembicara. Nah, narasumber yang biasa disapa Mbak Aya ini adalah dosen Psikologi, konselor, sekaligus Praktisi Pendidikan & Parenting.

Mbak Aya



Melarang Penggunaan Gadget Tak Lagi Relevan


Tak bisa dipungkiri, gadget sudah jadi bagian kehidupan masa kini. Melarang menggunakan gadget sama saja mundur dari peradaban.

Mbak Aya mengungkapkan, gadget atau gawai di masa sekarang ibarat sebilah pisau. Satu sisi memang bisa berbahaya --terutama bagi anak di bawah umur--, namun juga banyak sisi positifnya yang bermanfaat, seperti :

• media pembelajaran yang efektif
• membuka peluang bergabung dengan komunitas yang positif
• pengayaan kompetensi dan kreativitas


Namun tentu saja kita tidak serta merta menutup mata akan dampak negatifnya. Sebut saja kemungkinan terpapar pornografi, kecanduan, berkurangnya fungsi motorik tubuh, hingga terganggunya zona privasi.

Dalam hal ini, khusus anak di bawah umur, penggunaan gadget memang harus tetap didampingi oleh orang tua. Jangan sampai berlebihan, apalagi mengakibatkan kecanduan.

Orang tua perlu memperkenalkan bentuk kesenangan lain di luar gadget, agar anak tidak terus menerus terfokus pada gadget. Sekalipun digunakan untuk hal-hal positif, segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Keseimbangan dalam hidup adalah mutlak demi kesehatan fisik dan mental anak.





Kapan Anak Boleh Punya Gadget Sendiri?

Sampai akhir acara, tidak ada jawaban pasti yang saya peroleh atas pertanyaan ini. Masing-masing dikembalikan lagi pada kebijakan orang tua dan keluarga masing-masing.

Meski demikian, ada rambu-rambu yang mungkin bisa membantu para orang tua mencari waktu terbaik untuk membolehkan anak memiliki gadget sendiri, yakni :

1. Pembatasan

Meski anak boleh-boleh saja dikenalkan pada gadget sedini mungkin (sekali lagi, karena memang sudah zamannya demikian), pembatasan adalah sebuah keharusan. Batasi waktu anak dalam menggunakan gadget sesuai umurnya. Jika anak sudah bisa diskusi, ajak dia menentukan durasi dan waktu yang disepakati. Misal satu jam di akhir pekan.

Dalam hal ini, pastikan Anda konsisten dalam menerapkan aturan. Jangan lupa diskusikan juga konsekuensi yang didapat jika melanggar.

2. Pengawasan

Menurut undang-undang, seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun masih dikategorikan sebagai anak. Artinya, orang tua masih bertanggung jawab penuh, dalam hal ini termasuk melakukan pengawasan dalam setiap aspek kehidupannya. Termasuk gadget yang dia “miliki”.

Untuk anak-anak yang masih kecil, pengawasan mungkin bukan masalah besar. Namun untuk anak yang lebih besar (remaja), hal ini seringkali menjadi dilematis karena anak sudah mengerti apa itu privasi. Orang tua tidak bisa seenak udel “merazia” ponsel anaknya sekalipun berhak, karena akan melukai perasaan anak.

Dalam hal ini, maka belajarlah menjadi tipe orang tua yang tegas sekaligus bisa diajak diskusi. Dengan demikian, anak terbiasa terbuka dan komunikatif terhadap orang tuanya. Pola asuh otoriter dan permisif tidak lagi sesuai dalam menghadapi anak zaman now.




3. Perhatikan Kematangan Emosional Anak

Banyaknya umur atau besarnya fisik bukan jaminan anak matang secara psikis dan emosional. Dalam hal ini, memang hanya orang tua sendirilah yang bisa menilai seberapa matang anak-anaknya.

Gadget dan ketidakmatangan emosional seseorang sama sekali bukan kombinasi yang baik. Kita tentunya sepakat, gadget --terutama jika sudah terhubung dengan internet bisa menjadi sangat berbahaya. Cyberbullying, pornografi, pelanggaran privasi, dan sederet kejahatan serta hal negatif lainnya bisa ditemukan dalam genggaman.

Pastikan anak sudah matang secara emosional sebelum memiliki gadgetnya sendiri.

Calon ibu terbaik masa depan 😹


Berdasarkan 3 rambu di atas, saya memutuskan untuk memberi anak saya nanti gadget sendiri jika dia terbukti :

  1. Bertanggung jawab atas dirinya sendiri, salah satunya dengan mampu mengikuti jam batasan yang selama ini diterapkan

  1. Memiliki hidup berkualitas, dalam hal ini mampu menikmati waktu dan kehidupannya di luar gadget, dan seimbang pula antara dunia dan akhirat)
  2. Bisa membangun komunikasi yang terbuka dan dilandasi kepercayaan terhadap orang tuanya. Sehingga jika menemui hal-hal yang tidak diinginkan, dia sudah terbiasa bercerita
  3. Matang secara emosional. Dia masih ngamuk kalau nggak dikasih ponsel? Masih maksa harus dibelikan smartphone tipe ini atau itu? BIG NO! Dia harus mampu mengontrol dirinya sendiri sebelum diberi kepercayaan penuh pada gadget.
  4. Nilai plus jika dia mampu memanfaatkan gadget untuk menaikkan nilai dirinya (mengasah bakat seni, belajar bahasa, berbisnis, mencari uang, dll).

Jika anak belum memenuhi standar saya ini, maka saya hanya sebatas mengenalkan atau memberinya kesempatan untuk menggunakan, namun tidak untuk memilikinya sendiri.


Terima Kasih Sisternet dan Blogger Crony Community

Terus terang, saya baru tahu tentang Sisternet itu setelah datang ke acara ini. Jadi, Sisternet itu adalah program bentukan XL Axiata yang bertujuan memberikan edukasi, khususnya literasi digital kepada kaum perempuan. Secara, kaum hawa ini lebih senang belajar bersama kaum sendiri.


Mbak Astri




Ferdinand Oktavian  selaku Head of Sales XL Axiata Greater Palembang didampingi Astri Mertiana selaku Sisternet Partnership Management XL Axiata mengatakan, sejak diluncurkan 4 tahun lalu atau pada tahun 2015, Program Sisternet telah menjadi pelopor dalam memprakarsai solusi untuk berbagai masalah sosial yang sering dihadapi oleh wanita, termasuk para ibu.


“Diperlukan pengetahuan, pemahaman dan keahlian  untuk melakukan pengawasan. Parenting Festival seperti ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk memahami pentingnya adaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini,” kata Astri.

Agenda ini juga jadi ajang ngumpul para blogger Palembang sekaligus meet perdana saya dengan Mbak Wawa alias Wardah Fajri, yakni Owner Digital Kreativ Hub & Pendiri Bloggercrony Community.

Sayang waktu beliau di Palembang mepet banget, jadi nggak sempat ngobrol banyak. Well, tetap thank you banget lho, Mbak, sudah diundang ke acara kece macem ini. Ilmunya dapet, fun-nya dapet … masih dapet bonus hadiah Tumblr dan pulsa XL pula karena menang kuis 😉

Foto bersama pemenang kuis (foto : Bimo Rafandha)


Sampai jumpa lagi lain waktu.















0

Baca juga

Cara Mengatasi Mata Kering Tanpa Ke Dokter A La Mommy Twins

Cara Mengatasi Mata Kering Tanpa Ke Dokter (kucingdomestik.com)  Belakangan saya sibuk cari cara mengatasi mata kering , kalau bisa ya yang ...