Newsletter

Menu



Menjajal De Jakabaring Museum 3D Trick Art Palembang | kucingdomestik.com




Belum lama ini Mami Ossas dapat undangan menghadiri soft opening De Jakabaring, sebuah museum 3D Trick Art di Palembang. Lokasinya cukup strategis (meski lumayan jauh juga kalau dari kosan saya), yakni di gedung Graha Teknologi Sriwijaya, tak jauh dari Jakabaring Sport Centre.
 
 Gubernur Sumsel, Alex Noerdin saat meresmikan museum ini berkata dirinya senang ada pihak pengelola yang memanfaatkan aset terbengkalai. “Gedung ini tadinya hanya menganggur tak terawat. Sekarang oleh pengelola disulap jadi museum seperti ini tentunya menjadi lebih bermanfaat, khususnya untuk menambah kekayaan destinasi pariwisata kota Palembang,” kata Alex.
Awas!!!! | kucingdomestik.com


Dalam museum ini, sedikitnya terdapat 35 spot foto menarik yang tentu saja instagramable. Saya dan beberapa teman dari Blogger Palembang berkesempatan menjajal berfoto di tiap spot satu per satu. Tema lukisan yang menjadi background foto benar-benar memanjakan mata, mulai dari fauna, sport, keajaiban dunia, pesona alam, scene film terkenal, lukisan klasik, hingga Alex Noerdin.

Mbak Murni tugasnya motoin Mami Ossas | kucingdomestik.com


De Jakabaring ini buka setiap hati dengan harga tiket sangat terjangkau, yakni Rp 20 ribu untuk hari biasa dan Rp 25 ribu untuk libur dan akhir pekan. De Jakabaring Museum 3D Trick Art Palembang tentunya sangat bisa dijadikan tempat wisata alternatif dalam kota.





Meski demikian, menurut Mami Ossas masih ada beberapa hal yang harus menjadi catatan pihak pengelola untuk De Jakabaring lebih baik ke depannya. Di antaranya :

1. Karena lokasi tidak berada di tepi jalan raya, perlu ada semacam papan nama, spanduk, atau petunjuk  model apa pun yang dipasang di depan gang. Ini akan memudahkan pengunjung (dan mamang gojek) yang mungkin belum familiar dengan daerah Jakabaring dan sekitarnya.

2. Kondisi gedung yang perlu rehab di sejumlah titik (plafon, cat, dll). Saya memaklumi karena gedung tersebut memang lama tak digunakan. Namun untuk lebih menarik minat pengunjung di masa depan, tentu penampilannya perlu diupayakan agar lebih fresh.

3. Beberapa spot foto kurang pas pemasangannya sehingga bertabrakan dengan spot foto lain. Misalnya pada foto spongebob. Lukisan Bikini Bottom terpaksa di-crop karena bersinggungan dengan spot di sebelahnya. Beberapa lukisan lain entah kenapa kurang baik pencahayaannya (seperti menara eiffel).

4. Mengingat cuaca Palembang lebih sering seperti neraka bocor, pendingin ruangan mungkin perlu ditambah.

Tapi khusus untuk yang nomor 4 sepertinya bisa diabaikan. Karena mungkin saat saya berkunjung, kondisi museum benar-benar sangat ramai dan penuh manusia. Dalam kondisi normal sepertinya tidak sampai membuat make-up luntur. Hehehe ....

dari kiri : Mbak Murni, Paci, Mami Ossas, Bik Donna | kucingdomestik.com





Spongebob feat Mami Ossas | kucingdomestik.com

Bisa naik dolphin juga | kucingdomestik.com
Entah apa yang Paci dan Bik Donna diskusikan di tengah samudera | kucingdomestik.com


Overall, De Jakabaring Museum 3D Trick Art tetap asyik banget untuk dikunjungi. Selamat bersenang-senang berburu foto di sana ya :D





Nb.
Jadi pengen ngajak Ossas buat foto-foto di De Jakabaring biar dia nggak galau begini

"Mami, kapan janji kenaikan jatah whiskas-ku direlisasikan?" _ Ossas


0

Keito Okamoto Keluar dari Hey! Say! JUMP? | pict : aramajapan.com




Intro :

Jadi Mami Ossas itu kan nge-fans banget sama dunia Jejepangan. Nggak cuma kebudayaan, anime, atau manga-nya, tapi juga dunia idol-nya. Mami Ossas sih nggak terlalu suka sama cewek-ceweknya yang model AKB48 mbaknya Jeketi 48 itu, tapi lebih suka sama boyband-nya (ya iyalah, biar seger dikit ni mata liat cowok-cowok bening, hehehe). Selain Arashi, Mami Ossas suka banget sama satu grup lagi yang namanya Hey! Say! JUMP (HSJ).

Cukup sekian intronya, langsung aja ke bahasan yang jelas mengejutkan dunia Jumpers Internasional ini. Check it out!

*

Berita yang datang dari grup yang memulai debut sejak tahun 2007 ini jelas bikin heboh. HSJ yang berada di bawah agensi Johnny & Associates ini tadinya berjumlah 10 orang. Namun pada tahun 2011, jumlah membernya jadi tinggal sembilan setelah member termuda mereka Morimoto Ryutaro dikeluarkan setelah terlibat skandal merokok di bawah umur.

Di penghujung Juni ini sedang santer diberitakan kalau salah satu member yakni Okamoto Keito juga (di)keluar(kan) dari grup yang sudah membesarkan namanya setelah lebih dari 10 tahun. Member yang terkenal dengan kemampuan bilingual karena punya darah british ini memang dikabarkan sering bikin onar di luar panggung. Termasuk kasus skandal seksnya dengan beberapa perempuan beberapa tahun lalu. Berbagai media bahkan sudah berkesimpulan aneh-aneh, bahwa Keito resmi dikeluarkan dari HSJ meski tetap berada di payung Johnny’s. Beberapa yang lain menyebut Keito akan bersolo karir.

Tapi benarkah Okamoto Keito keluar dari Hey! Say! JUMP! ?

Berdasarkan video yang saya tonton di youtube dan instagram, keputusan Keito untuk hengkang dari HSJ memang benar adanya. Cowok kelahiran April '95  ini ingin melanjutkan study di Amerika. Meski demikian, dia berjanji untuk tidak meninggalkan HSJ. Dengan ini, saya berkesimpulan kalau Keito tidak keluar permanen dari HSJ, namun hanya vakum sementara sampai jangka waktu yang tidak ditentukan,

Dengan keputusan tersebut, kegiatan HSJ ke depan, termasuk sejumlah tour dan konser yang rutin digelar setiap tahun hanya akan diisi oleh delapan member tersisa. Yang jelas, jangankan fans mereka di seluruh dunia, sesama member sendiri juga kebingungan dengan keputusan mendadak ini. Yamada Ryosuke selaku Ace (Centre) HSJ seperti dilansir JUMPaper Johnny’s Web menulis seperti ini :





Semuanya,
Terkait studi Keito Okamoto di lyar negeri, pengumuman itu memang mendadak. Dan untuk penggemar Keito dan fans JUMP, saya tulus meminta maaf.

Ketika saya pertama kali mendengarnya dari Keito, saya bingung. dari perspektif saya sendiri, ada banyak hal yang saya tidak bisa saya sepakati dengan Keito.
Mengapa waktu ini?
Mengapa sekarang?
Saya berpikir ini bukan tempat saya untuk membicarakan semuanya.

Maaf,
Untuk mengatakan bahwa saya percaya (keputusan) ini datang sebagai hasil dari Keito yang berjuang untuk melakukan apa yang dia yakini sebagai cara terbaik bagi JUMP untuk berevolusi.


Setelah berdiskusi tentang studi ke luar negeri ini dengan semua member, kami memutuskan untuk membiarkannya pergi. Itu kesimpulan yang kami dapatkan.


Jika Keito akan melakukan yang terbaik agar JUMP berevolusi, 

maka delapan dari kami juga merasa bahwa kami harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Seperti yang Yabu-kun sebutkan dalam pesan video, tahun ini kami akan melanjutkan tur dengan delapan orang dari kami. Mohon tunggu sebentar untuk detailnya!


Saya minta maaf atas pengumuman mendadak ini. Namun tentu akan membuat saya senang sekali mengetahui bahwa kalian akan terus mendukung Keito dan menunggu saat kembalinya dia.
Dan yang tersisa dari kami, kami ingin menumpahkan semua yang kami miliki ke dalam pekerjaan kami. Saya ingin berpikir kami dapat memperkuat dasar JUMP ketika Keito pulang ke rumah. Dan saat Keito kembali, saya akan melakukan yang terbaik untuk dapat menunjukkan kepada semua orang berapa banyak JUMP telah berubah.

Itu akan membuat saya sangat bahagia, jika kalian dapat terus bersama Hey! Say! JUMP.
Saya menantikan dukungan kalian. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membawa pengumuman yang lebih membahagiakan semua orang.

Ryosuke Yamada,



(Deh, surat Ryo-chan bikin nyesek euy. Mohon maaf kalau terjemahan saya nggak pas-pas banget. Tapi pokoknya intinya begitu lah :p )

Komentar saya terkait berita ini ya lebih kurang sama. Menyesalkan pastinya. Setiap member HSJ masing-masing unik. Mereka saling melengkapi dan nggak tergantikan. Sampai sekarang saja masih suka mengkhayal andai Ryutaro bisa balik lagi ke Jump. Meski bukan fans berat Keito, rasa kehilangan itu pasti tetap ada. Tapi yah namanya sudah keputusan ybs, orang luar bisa apa, sih?

Saya cuma bersyukur bukan Arioka Daiki atau Inoo Kei yang keluar. Kalau sampai mereka berdua yang keluar dari HSJ, bisa nangis bombay berhari-hari saya.

Well, good luck aja deh buat Keito dan studinya. Semoga habis ini kelakuannya bisa berubah jadi lebih baik dan nggak bandel lagi. Buat HSJ juga, semoga kehilangan satu member lagi nggak bikin mereka terpuruk.



Coda :
Bonus foto member JUMP dari awal debut sebagai bocah unyu-unyu sampai sekarang udah jadi Abang-abang keren :D





0




The Incridibles 2 | pixar.wikia.com





Intro : 
Sehabis sanjo dalam rangka lebaran kemarin, Mami Ossas diajak nonton The Incredibles 2 sama ayah-bundanya Davie di CGV Social Market (Soma), Palembang. Kali pertama banget tuh menginjak Soma, karena selama ini kalau nonton cuma di Palembang Square (PS) atau Palembang Icon (PI). Tempatnya nyaman dan terkesan elit (kapan-kapan diulas sendiri deh), tapi sayang akses naik turun gedungnya baik lewat tangga, lift, dan eskalator kaya'nya terlalu sempit. Eh, nggak tahu juga ding kalau emang suasana aja pas emang lagi rame.

Halah. Kelamaan intro. Langsung aja nih reviewnya :


Menonton di suasana lebaran dengan tak ada satu pun kursi kosong tersisa dalam bioskop membuat tangan saya gatal untuk mengetik ulasan ini. Antusiasme masyarakat terhadap film animasi keluaran Disney Pixar ini memang luar biasa tinggi. Mengutip forbes.com, The Incredibles 2 mencetak rekor setelah meraup $27 juta di hari ke-lima pemutarannya. Wow!


Terhitung 14 tahun berselang sejak film pertamanya rilis di tahun 2004 lalu, setting waktu dalam The Incridible 2 justru tidak berubah, bahkan benar-benar kelanjutan dari scene terakhir di film lawasnya. Dikisahkan Hellen alias Elastic-girl direkrut seseorang untuk menjalankan sebuah misi untuk memulihkan kembali reputasi pahlawan super yang rusak akibat "kesalahpahaman" pascakasus Monster Bor. Sementara itu, suaminya Bob Parr alias Mr. Incredible terpaksa menggantikan Hellen mengurus rumah tangga.

Entah mengapa, saya mencium aroma seksisme yang cukup kental di sini. Terlihat jelas bagaimana Elastic-girl sangat bersinar ketika menjalankan "tugas lelaki", sementara Mr. Incredible benar-benar kelabakan kala harus menjalankan tugas keibuan. Membantu Dash mengerjakan PR, menghadapi Violet yang puber dan sedang "sakit cinta", dan si bayi Jack-Jack yang tidak bisa ditinggal meleng sedikit pun. Belum termasuk repotnya memasak dan mencuci. Pffft, sedikit kejam memang bagi Mr. Incredible, tapi sepertinya apa yang digambarkan dalam film memang realistis. Begitulah jadinya kalau menyuruh lelaki mengurus rumah. Jadi, masih ada yang berani bilang pekerjaan rumah tangga itu perkara gampang?

Untuk konflik utama sedikit tertebak baik alur maupun dalang di balik tokoh antagonisnya. Namun untuk sebuah film animasi bertema keluarga yang benar-benar untuk hiburan, sama sekali bukan masalah besar. Kalau butuh konflik lebih berat mungkin lebih baik nonton film thriler saja. Selain bernostalgia dengan tokoh lawas keluarga Parr yang karakternya unik dan memikat, penonton juga diajak berkenalan dengan sejumlah tokoh super hero baru dengan jenis kekuatan yang lebih bervariasi.

"Si bungsu Jack-Jack jenis kekuatan supernya apa, Ara?"
Banyak teman yang melontarkan pertanyaan ini setelah menonton trailer-nya. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak ingin merusak kesenangan Anda sekalian yang belum menonton. Yang jelas, Si kecil Jack-Jack memang benar-benar bintang yang membuat satu studio pecah tawanya setiap kali dia berulah. Pokoknya, sedikit spoiler di ending film pertama terkait Jack-Jack itu sungguh BELUM APA-APA. Jadi, alangkah baiknya jika Anda temukan jawaban dengan menontonnya sendiri, buruan gih. Nggak nyesel banget.

Menurut saya, film ini bukan hanya mampu membangkitkan suasana nostalgia bagi fans lama, namun dipastikan sukses juga menambah fans baru. Berhubung saya beserta seisi bioskop keluar dengan senyum dan sisa tawa terpeta di wajah, tidak berlebihan jika saya beri rating 9/10 bintang untuk film ini. Kalau tidak ingat kesempurnaan hanya milik Tuhan, mungkin saya kasih 10/10.

RECOMENDED!


Review ini juga tayang di Kompasiana dengan judul "Aroma Seksisme di Film The Incredibles 2"


Coda : 

Davie dan Mami Ossas
6

My boy Ossas



  Pertanyaan ini udah mampir di kuping saya sejak masih ngeblog di platform gratisan sebelah. Soal kenapanya sih nggak terlalu jelas. Tapi kucing domestik yang merupakan kucing ras asli Indonesia alias kucing kampung ini memang tidak bisa lepas dari kehidupan saya, terutama si Ossas.
  Siapa Ossas?
  Ossas ini anak jantan saya satu-satunya. Saat diadopsi persis pada lebaran tahun 2017 lalu, Ossas masih bayi kurus kerempeng dan giginya belum tumbuh semua. Waktu itu saya sudah punya punya dua anak lain sebetulnya, Kittun dan Momon. Naas, nggak lama kemudian dua-duanya tewas diracun orang dan hanya Ossas yang bertahan. Sejak itu saya jadi agak posesif sama si boy putih-oranye ini.
  Kenapa namanya Ossas?
  Asli kalau bisa ganti aja saya pengen namain dia Matsumune atau Michaelangelo gitu biar keren. Yang namain bukan saya, tapi sepupu jauh yang saat itu nge-fans banget sama cowok Afrika yang nama lengkapnya Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwembubwem Ossas. Dan jadilah namanya Ossas sampai sekarang. Dia nggak mau lagi dipanggil pakai nama lain.
  Ossas ini tipikal kucing domestik biasa. Nggak rewel, lincah, jago berburu. Tapi dia agak picky eater. Yah, salah saya sendiri juga sih nggak biasain dia makan makanan kampung. Dari kecil makannya whiskas dan ngemil fellybite. Minimal banget ikan sarden kalengan. Mau gimana lagi, namanya juga sayang sama anak sendiri.
  Yang saya heran dari Si Ossas, dia sering banget dikira kucing cewek. Waktu masih kecil wajar lah ya, belum terlalu kelihatan. Lha sekarang dua biji kembar di selangkangan dia udah segede apa, masa masih pada salah identifikasi gender gitu sih?
  Menurut temen yang suka main ke kosan (dan selalu ngira Si Ossas itu cewek), Ossas itu kelihatan cantik. Lebih terkesan anggun ketimbang macho. Huuffhh, jangan-jangan ini faktor maminya yang ngefans sama banyak cowok cantik pula.
Ossas dan Embul, Kisah Cinta Beda Kasta

  Ossas sekarang sudah punya istri, namanya Embul. Kucing keturunan persia abu-abu punya tetangga. Pas masih zaman pedekate dulu ya, Si Ossas sering hilang tengah malam. Pas saya cari-cari, ternyata dia udah melungker di depan kandang Si Embul. Mungkin yang punya Embul terkesan dengan kesetiaan si Ossas apa gimana, direstuin dah itu akhirnya. Padahal banyak pejantan lain yang naksir Embul. Yah, mungkin itu yang namanya love will find the way ...
  Ngomongin Ossas mah nggak akan ada habisnya. Dan meskipun saya ada di team #kucingdomestik , bukan berarti saya anti kucing ras. Pada dasarnya saya suka kucing (dan anjing dan hampir semua binatang) apa saja. Namun untuk kesibukan saya saat ini, dimana kalau lagi ada kerjaan di luar suka ninggalin kosan sampai berhari-hari, kucing domestik memang pilihan tepat. Perawatannya nggak ribet, dan mereka nggak manja kalau ditinggal. Yang penting makanan, minuman, sama pasir pup-nya disiapin. Mau dibiarin keluyuran di luar juga santai aja, nggak bakalan ada yang mau nyulik.
  Yosh, sekian dulu perkenalan dari Os sas dan maminya. Pantengin terus blog ini, bakal banyak banget catatan harian yang sebetulnya tidak penting-penting amat, namun sayang untuk dilewatkan. Semoga saya nggak males ya buat update. Untuk yang blognya minta di-follow, tinggalin jejak aja. Pasti saya follow kok.
  
2

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels