Newsletter

Menu



Menjajal De Jakabaring Museum 3D Trick Art Palembang | kucingdomestik.com




Belum lama ini Mami Ossas dapat undangan menghadiri soft opening De Jakabaring, sebuah museum 3D Trick Art di Palembang. Lokasinya cukup strategis (meski lumayan jauh juga kalau dari kosan saya), yakni di gedung Graha Teknologi Sriwijaya, tak jauh dari Jakabaring Sport Centre.
 
 Gubernur Sumsel, Alex Noerdin saat meresmikan museum ini berkata dirinya senang ada pihak pengelola yang memanfaatkan aset terbengkalai. “Gedung ini tadinya hanya menganggur tak terawat. Sekarang oleh pengelola disulap jadi museum seperti ini tentunya menjadi lebih bermanfaat, khususnya untuk menambah kekayaan destinasi pariwisata kota Palembang,” kata Alex.
Awas!!!! | kucingdomestik.com


Dalam museum ini, sedikitnya terdapat 35 spot foto menarik yang tentu saja instagramable. Saya dan beberapa teman dari Blogger Palembang berkesempatan menjajal berfoto di tiap spot satu per satu. Tema lukisan yang menjadi background foto benar-benar memanjakan mata, mulai dari fauna, sport, keajaiban dunia, pesona alam, scene film terkenal, lukisan klasik, hingga Alex Noerdin.

Mbak Murni tugasnya motoin Mami Ossas | kucingdomestik.com


De Jakabaring ini buka setiap hati dengan harga tiket sangat terjangkau, yakni Rp 20 ribu untuk hari biasa dan Rp 25 ribu untuk libur dan akhir pekan. De Jakabaring Museum 3D Trick Art Palembang tentunya sangat bisa dijadikan tempat wisata alternatif dalam kota.





Meski demikian, menurut Mami Ossas masih ada beberapa hal yang harus menjadi catatan pihak pengelola untuk De Jakabaring lebih baik ke depannya. Di antaranya :

1. Karena lokasi tidak berada di tepi jalan raya, perlu ada semacam papan nama, spanduk, atau petunjuk  model apa pun yang dipasang di depan gang. Ini akan memudahkan pengunjung (dan mamang gojek) yang mungkin belum familiar dengan daerah Jakabaring dan sekitarnya.

2. Kondisi gedung yang perlu rehab di sejumlah titik (plafon, cat, dll). Saya memaklumi karena gedung tersebut memang lama tak digunakan. Namun untuk lebih menarik minat pengunjung di masa depan, tentu penampilannya perlu diupayakan agar lebih fresh.

3. Beberapa spot foto kurang pas pemasangannya sehingga bertabrakan dengan spot foto lain. Misalnya pada foto spongebob. Lukisan Bikini Bottom terpaksa di-crop karena bersinggungan dengan spot di sebelahnya. Beberapa lukisan lain entah kenapa kurang baik pencahayaannya (seperti menara eiffel).

4. Mengingat cuaca Palembang lebih sering seperti neraka bocor, pendingin ruangan mungkin perlu ditambah.

Tapi khusus untuk yang nomor 4 sepertinya bisa diabaikan. Karena mungkin saat saya berkunjung, kondisi museum benar-benar sangat ramai dan penuh manusia. Dalam kondisi normal sepertinya tidak sampai membuat make-up luntur. Hehehe ....

dari kiri : Mbak Murni, Paci, Mami Ossas, Bik Donna | kucingdomestik.com





Spongebob feat Mami Ossas | kucingdomestik.com

Bisa naik dolphin juga | kucingdomestik.com
Entah apa yang Paci dan Bik Donna diskusikan di tengah samudera | kucingdomestik.com


Overall, De Jakabaring Museum 3D Trick Art tetap asyik banget untuk dikunjungi. Selamat bersenang-senang berburu foto di sana ya :D





Nb.
Jadi pengen ngajak Ossas buat foto-foto di De Jakabaring biar dia nggak galau begini

"Mami, kapan janji kenaikan jatah whiskas-ku direlisasikan?" _ Ossas


0

Keito Okamoto Keluar dari Hey! Say! JUMP? | pict : aramajapan.com




Intro :

Jadi Mami Ossas itu kan nge-fans banget sama dunia Jejepangan. Nggak cuma kebudayaan, anime, atau manga-nya, tapi juga dunia idol-nya. Mami Ossas sih nggak terlalu suka sama cewek-ceweknya yang model AKB48 mbaknya Jeketi 48 itu, tapi lebih suka sama boyband-nya (ya iyalah, biar seger dikit ni mata liat cowok-cowok bening, hehehe). Selain Arashi, Mami Ossas suka banget sama satu grup lagi yang namanya Hey! Say! JUMP (HSJ).

Cukup sekian intronya, langsung aja ke bahasan yang jelas mengejutkan dunia Jumpers Internasional ini. Check it out!

*

Berita yang datang dari grup yang memulai debut sejak tahun 2007 ini jelas bikin heboh. HSJ yang berada di bawah agensi Johnny & Associates ini tadinya berjumlah 10 orang. Namun pada tahun 2011, jumlah membernya jadi tinggal sembilan setelah member termuda mereka Morimoto Ryutaro dikeluarkan setelah terlibat skandal merokok di bawah umur.

Di penghujung Juni ini sedang santer diberitakan kalau salah satu member yakni Okamoto Keito juga (di)keluar(kan) dari grup yang sudah membesarkan namanya setelah lebih dari 10 tahun. Member yang terkenal dengan kemampuan bilingual karena punya darah british ini memang dikabarkan sering bikin onar di luar panggung. Termasuk kasus skandal seksnya dengan beberapa perempuan beberapa tahun lalu. Berbagai media bahkan sudah berkesimpulan aneh-aneh, bahwa Keito resmi dikeluarkan dari HSJ meski tetap berada di payung Johnny’s. Beberapa yang lain menyebut Keito akan bersolo karir.

Tapi benarkah Okamoto Keito keluar dari Hey! Say! JUMP! ?

Berdasarkan video yang saya tonton di youtube dan instagram, keputusan Keito untuk hengkang dari HSJ memang benar adanya. Cowok kelahiran April '95  ini ingin melanjutkan study di Amerika. Meski demikian, dia berjanji untuk tidak meninggalkan HSJ. Dengan ini, saya berkesimpulan kalau Keito tidak keluar permanen dari HSJ, namun hanya vakum sementara sampai jangka waktu yang tidak ditentukan,

Dengan keputusan tersebut, kegiatan HSJ ke depan, termasuk sejumlah tour dan konser yang rutin digelar setiap tahun hanya akan diisi oleh delapan member tersisa. Yang jelas, jangankan fans mereka di seluruh dunia, sesama member sendiri juga kebingungan dengan keputusan mendadak ini. Yamada Ryosuke selaku Ace (Centre) HSJ seperti dilansir JUMPaper Johnny’s Web menulis seperti ini :





Semuanya,
Terkait studi Keito Okamoto di lyar negeri, pengumuman itu memang mendadak. Dan untuk penggemar Keito dan fans JUMP, saya tulus meminta maaf.

Ketika saya pertama kali mendengarnya dari Keito, saya bingung. dari perspektif saya sendiri, ada banyak hal yang saya tidak bisa saya sepakati dengan Keito.
Mengapa waktu ini?
Mengapa sekarang?
Saya berpikir ini bukan tempat saya untuk membicarakan semuanya.

Maaf,
Untuk mengatakan bahwa saya percaya (keputusan) ini datang sebagai hasil dari Keito yang berjuang untuk melakukan apa yang dia yakini sebagai cara terbaik bagi JUMP untuk berevolusi.


Setelah berdiskusi tentang studi ke luar negeri ini dengan semua member, kami memutuskan untuk membiarkannya pergi. Itu kesimpulan yang kami dapatkan.


Jika Keito akan melakukan yang terbaik agar JUMP berevolusi, 

maka delapan dari kami juga merasa bahwa kami harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Seperti yang Yabu-kun sebutkan dalam pesan video, tahun ini kami akan melanjutkan tur dengan delapan orang dari kami. Mohon tunggu sebentar untuk detailnya!


Saya minta maaf atas pengumuman mendadak ini. Namun tentu akan membuat saya senang sekali mengetahui bahwa kalian akan terus mendukung Keito dan menunggu saat kembalinya dia.
Dan yang tersisa dari kami, kami ingin menumpahkan semua yang kami miliki ke dalam pekerjaan kami. Saya ingin berpikir kami dapat memperkuat dasar JUMP ketika Keito pulang ke rumah. Dan saat Keito kembali, saya akan melakukan yang terbaik untuk dapat menunjukkan kepada semua orang berapa banyak JUMP telah berubah.

Itu akan membuat saya sangat bahagia, jika kalian dapat terus bersama Hey! Say! JUMP.
Saya menantikan dukungan kalian. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membawa pengumuman yang lebih membahagiakan semua orang.

Ryosuke Yamada,



(Deh, surat Ryo-chan bikin nyesek euy. Mohon maaf kalau terjemahan saya nggak pas-pas banget. Tapi pokoknya intinya begitu lah :p )

Komentar saya terkait berita ini ya lebih kurang sama. Menyesalkan pastinya. Setiap member HSJ masing-masing unik. Mereka saling melengkapi dan nggak tergantikan. Sampai sekarang saja masih suka mengkhayal andai Ryutaro bisa balik lagi ke Jump. Meski bukan fans berat Keito, rasa kehilangan itu pasti tetap ada. Tapi yah namanya sudah keputusan ybs, orang luar bisa apa, sih?

Saya cuma bersyukur bukan Arioka Daiki atau Inoo Kei yang keluar. Kalau sampai mereka berdua yang keluar dari HSJ, bisa nangis bombay berhari-hari saya.

Well, good luck aja deh buat Keito dan studinya. Semoga habis ini kelakuannya bisa berubah jadi lebih baik dan nggak bandel lagi. Buat HSJ juga, semoga kehilangan satu member lagi nggak bikin mereka terpuruk.



Coda :
Bonus foto member JUMP dari awal debut sebagai bocah unyu-unyu sampai sekarang udah jadi Abang-abang keren :D





0



MOVEMENT : A Story of Two Lost Soul | Ara Niagara




Prev ~
MOVEMENT : A Story of Two Lost Soul Chapter 1a



  “Yah, kok nggak jadi, Ka? Gue udah nunggu lama ini,” keluh Ariel pada ponsel pintarnya. “Ya udah. Tapi gue nggak balik ke apartemen, ya? Ok. Ok. Hati-hati, Raka.”
  Ariel menghela napas panjang. Diinjaknya gas mobil matic silver itu dalam-dalam, bergerak menjauhi pelataran sebuah restoran italia mewah di pinggir kota. Dia benar-benar kecewa pada Raka. Cowok macho berwajah setengah bule yang sudah hampir dua tahun mengisi hatinya itu seenak jidat membatalkan janji. Dan ini bukan kali pertama.
  Tak lama berselang, mobil Ariel sudah berbelok ke sebuah kompleks perumahan mewah dan berhenti tepat di gerbang rumah bercat putih. Dari luar pagar, bangunan rumah tampak dihiasi ornamen khas Jawa. Terlihat pula beberapa arca batu dan prasasti buatan di halamannya yang cukup luas. Ariel menunggu sejenak sampai Mbak Juju, asisten rumah tangganya membuka pintu gerbang pagar dengan sempurna.
  Telinga Ariel langsung menangkap gemericik air di kolam mungil yang sayup terdengar dari samping garasi begitu mesin mobil dimatikan. Disusul suara seorang perempuan yang berdiri memblokir pintu.
  “Ariel? Kok nggak bilang-bilang mau pulang, Sayang?"
     Entah bagaimana, perempuan sipit itu terlihat jauh lebih tua kini, dibanding terakhir kali Ariel melihatnya akhir tahun lalu. Tanpa pikir panjang, perempuan itu langsung dipeluknya dengan sayang tanpa berkata sepatah kata pun.
  “Mau makan dulu, Riel? Kamu pasti lapar. Mami suruh Mbak Juju panasin makanan dulu, ya? Atau mau mami masakin nasi goreng kesukaan kamu?”
  Ariel menggeleng lemah. “Nggak usah, Mam. Riel nggak lapar. Mau langsung tidur saja. Capek.”
  Ayuri, perempuan ibu Ariel itu mengangguk maklum. Diusapnya puncak kepala  anak sulungnya dengan penuh kerinduan. Tatapan matanya tak berhenti mengikuti langkah gontai sang putra yang bergerak masuk ke dalam rumah.
  Jauh di lubuk hati, Ariel pun merasa sama rindunya. Namun dia sedang tidak ingin bicara pada siapapun. Dia perlu menenangkan diri sejenak. Satu-satunya shelter perlindungan di rumah ini hanya kamarnya di lantai dua. Dan ke sanalah ia menuju.
  Saat di tangga, Ariel sempat melirik sebuah piano putih besar di ruang keluarga. Kosong. Dari posisi yang lebih tinggi, samar terbaca tulisan Piano Sonata No 14 tercetak di bagian atas lembar partitur. Bersamaan dengan itu, mendadak menyusup perasaan tidak enak dalam diri Ariel, yang buru-buru ditepisnya.
  Cowok itu lega ketika sampai di kamar, ruangan itu ternyata sama sekali tak berubah. Warna biru muda mendominasi mulai dari cat dinding, kain penutup jendela, hingga bed cover-nya. Sebuah boneka teddy bear ukuran besar teronggok kesepian di tempat tidur. Sekilas, jadi terlihat agak feminin mengingat fakta kamar itu adalah milik cowok 20 tahun.
  Ariel lalu menghempaskan tubuh ke kasur dan langsung memejamkan mata. Dia tidak ingin berpikir apa-apa lagi. Bayang senyum manis Raka adalah yang terakhir mampir di benaknya,  sebelum akhirnya tertidur lelap.
  Namun belum lagi seperempat jam  berselang, Ariel tersentak. Dentang piano terdengar dari  lantai bawah dan membuatnya terjaga. Nada–nada itu mengalun, memainkan simfoni duka yang begitu akrab bagi telinga Ariel : Moonlight Sonata.
  Perasaan tidak enak yang sempat dirasakannya tadi kembali muncul. Sadar ada yang tidak beres, Ariel bergegas keluar dari kamarnya. Setengah berlari ia menuruni anak tangga dua-dua sekaligus dan berhenti begitu menginjak anak tangga terakhir. Sorot matanya memperhatikan sosok gadis belia yang duduk anggun di bangku piano. Jemari gadis yang mirip boneka Jepang itu menari lincah di atas barisan tuts hitam-putih, namun bola mata sipitnya menatap nanar langit malam yang terbentang di balik jendela. Memantulkan bayang bulan purnama yang tampak angkuh bertakhta di atas sana.
  “Keiri …,” desis Ariel. Keharuan mendadak menyelimuti hatinya. Cowok itu sadar, betapa dia merindukan adiknya itu. Namun Keiri, yang rambut panjangnya lurus menjuntai sepinggang itu tak merespon. Jemarinya masih terus memainkan simfoni dari Beethoven itu tanpa sadar ada orang lain yang memerhatikan.
  Ariel mendekat pelan. Cowok itu menghitung langkahnya hati-hati, namun langsung mematung ketika Keiri mendadak menghentikan permainan dalam sebuah sentakan.
  “Pergi!” Keiri berucap lirih, menyerupai bisikan. “Jangan ganggu gue dulu!”
  Ariel diam. Dia menanti kata-kata Keiri selanjutnya. Namun gadis itu malah membisu. Keheningan canggung sempat meliputi ruangan sebelum akhirnya dipecahkan oleh piano yang kembali berdentang.
  Keiri memulai lagi permainannya, namun nada yang dihasilkan jauh berbeda dengan yang tadi. Sebelumnya, jemari gadis itu begitu sempurna menerjemahkan setiap not dalam partitur layaknya pianis profesional, tapi kali ini gerakannya amat kacau. Ketukannya melenceng, bahkan tekanan pada tutsnya terlampau kasar dan cepat untuk tempo adagio sostenuto  dalam first movement.
  “Pergiii!!”
  Samar Ariel mendengar suara Keiri di tengah permainan piano yang sekarang  jadi jauh lebih mirip bagian ketiga Moonlight Sonata.
  “Pergi !!!” Suara Keiri mulai meninggi, nyaris berteriak. “Gue mohon pergi dulu … Gue nggak mau diganggu !!!”
  Ariel tergugu. Dia terlalu syok melihat Keiri sekarang malah memukul-mukul pianonya dengan frustrasi. Bahu gadis itu bergetar hebat seiring ocehan di mulutnya mulai berganti isak.
  “PERGI!!!!!”
  Tanpa peringatan sama sekali, Keiri tiba-tiba menjerit sekuat tenaga sambil menutup kedua telinganya. Ariel tak tahan lagi.  Cewek itu spontan direngkuhnya dalam pelukan.
  Keiri meronta kalap. Dia tampak tak sadar dengan apa yang terjadi dan tak mengenali apa pun di sekitarnya.
  “Sssshhh, Keiri ... Ini gue,” bisik Ariel menenangkan. Namun Keiri seolah tak mendengar, dia malah semakin histeris dari sebelumnya. Ariel tak menyerah begitu saja.     “Keiri, ini gue, Ariel. Tenang ya, please ….”
  “A-riel?” ucap Keiri terbata. Ada nada tak percaya dalam suaranya.
  “Iya, ini gue, Ariel …” Ariel meyakinkan.
  “Kak Riel?”
  “Iya, ini Kak Riel ….”
  Ariel lega Keiri berhenti meronta. Cewek itu melerai pelukannya, lalu terdiam sejenak. Dengan wajah bersimbah air mata, ditatapnya Ariel dalam-dalam. Seolah ingin memastikan bahwa sosok di depannya ini sungguh-sungguh kakaknya.
  Perlu beberapa menit sebelum akhirnya Keiri memeluk Ariel kembali. “Kak Riel …,” desahnya lega.
  “Iya, ini gue….” Ariel mengusap lembut bahu adiknya.
  “Kak, gue takut ….”
  “Nggak usah takut, Keiri. Kan ada gue sekarang.”
  “Aiko,” bisik Keiri dalam kengerian. “Dia di sini, Kak. Ganggu gue terus…”
  “Aiko udah pergi, Ri. Nggak usah diinget-inget lagi. Ikhlasin ….”
  “Tapi dia beneran di sini,” debat Keiri.
  “Udah. Udah … muka lo pucet banget. Lo pasti kecapekan ini. Tidur yuk, Ri … istirahat.” Ariel terus membujuk Keiri agar mau beranjak dari pianonya.
  Mulanya Keiri enggan, namun akhirnya menurut juga. Tangannya dilingkarkan ke pinggang Ariel saat keduanya melangkah menuju kamar.
  Di kamar Keiri rupanya sudah menunggu Ayuri dan Juju dengan nampan berisi gelas air minum dan botol obat. Raut wajah keduanya tampak sedikit cemas, namun tetap tenang. Ariel buru-buru keluar kamar agar mami dan asisten rumah tangganya itu leluasa mengurus Keiri. Kedua wanita itu pasti sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti yang barusan terjadi.
  Ariel baru hendak kembali naik ke kamarnya, namun dikejutkan oleh sosok seseorang yang berdiri di anak tangga pertama. Sosok itu begitu jangkung. Dan meskipun cowok, struktur wajahnya terlihat mirip sekali dengan Keiri.
  Kedua tangan cowok itu mengepal sembari matanya menatap tajam ke Ariel, tampak ingin menelannya hidup-hidup. Dilihat dari gerak geriknya, bisa dipastikan cowok itu sudah cukup lama berdiri di sana untuk memperhatikan apa yang telah terjadi di ruangan itu.
  Bibir Ariel terbuka, hendak menyampaikan sesuatu. Namun belum sempat sepatah kata pun keluar dari mulutnya, cowok itu sudah buru-buru pergi.
Ariel merasa ribuan daun serai mendadak dijejalkan dalam hatinya. Perih, melihat ekspresi tak bersahabat dari cowok itu di rumahnya sendiri. Padahal cowok itu kan adiknya juga. Cowok itu ...

  Kei, saudara kembar Keiri.
0





Movement : A Story of Two Lost Souls | Ara Niagara


    Cowok berambut fringe itu buru-buru keluar dari toilet wanita bertuliskan RUSAK di pintunya. Sebisa mungkin kemeja biru acak-acakan itu dirapikan. Namun alangkah kagetnya dia saat melihat seseorang dengan begitu santai bersandar pada tembok, mendekap lengan terlipat di dada, dan hanya beberapa langkah  saja dari toilet.
 “Sya ..., elo… di sini?” tanya Ariel, cowok itu, gugup. Padahal, dia tadi sangat yakin toilet rusak di lantai empat kampusnya ini sudah kosong, apalagi sudah menjelang magrib. Tidak ada lagi perkuliahan. Tak mungkin pula ada orang lain.
  Lalu, sejak kapan cewek bernama Gisya itu ada di sini?
    Cewek ber-body gitar spanyol itu jelas bukan teman Ariel. Tapi siapa sih penghuni kampus ini yang tidak tahu dengan cewek itu? Namanya sudah terkenal di seantero kampus, mulai dari kalangan sesama mahasiswa, penjaga kantin, satpam, tukang parkir, hingga  pasukan cleaning service. Bahkan bangku taman dan tiang papan nama prodi pun rasanya akan ikut bergosip juga andai mereka punya mulut.
  Sebutlah Gisya yang jelita, yang kulit kuning langsatnya memesona, yang kemeja putihnya dari Caroline Herrera, yang punya tas baru Prada, juga yang rambut lurus panjangnya sering gonta-ganti warna. Lalu Gisya yang rela tidur dengan para dosennya demi nilai A, yang siap memberi servis kilat bagi mahasiswa kaya raya, sampai Gisya yang punya jadwal tetap menemani sejumlah “orang penting” menginap di vila-vila luar kota.
  “Iya. Kenapa? Masalah buat lo, A-Ri-El?”
Ariel menelan ludah. Tertegun. Bagaimana ayam, ehm, cewek ini tahu namanya? Dia bahkan mampu melafalkan dengan tepat : Ari(y)el,  dan bukan Aril seperti kebanyakan dosen saat memanggilnya.
  “Nngng, nggak, kok …” Ariel makin gugup. Sorot mata gadis itu terasa mengintimidasi meski sudah terhalang lensa kontak biru terang.
“Yang ada lo tuh yang bikin masalah buat gue,” sungut Gisya. “Transaksi short-time gue gagal tahu! Klien langsung kabur begitu lihat ada orang lain di toilet,” imbuhnya sebelum ngeloyor pergi begitu saja.
  Ariel bengong. Namun sejurus kemudian,  kepanikan mendadak melanda pikirannya. “Sya…, Gisya…, tunggu!” serunya.
  Gisya menghentikan langkah tanpa berbalik.
  “El… elo lihat gue tadi?” tanya Ariel pelan.  Cowok itu gagal menyembunyikan getar kecemasan dalam nada suaranya. “Lihat apa?” Gisya menoleh ke belakang.
  Ariel mematung. Tak berani menjawab. Jemarinya basah, berkeringat. Dia bahkan bisa mendengar degup jantungnya sendiri.
  Gisya tersenyum sadis. “Lihat lo ciuman sama Raka?”
  Kulit putih Ariel sontak memerah seperti pantat kera gunung. Lidahnya kelu. Kepalanya kosong. Dia terlalu cemas dan takut hingga tidak tahu harus merespon seperti apa. “Santai ajalah! Gue aja santai kok dikatain anak-anak sekampus!” kata Gisya enteng, seiring kakinya bergerak menjauhi Ariel.
  Ariel kembali diam. Dia memerhatikan punggung cewek itu dengan perasaan tak keruan, sebelum akhirnya menghilang di belokan tangga.
  “Arrrrrrrrrrgggggghhhhhhhhhh!!!” Ariel mengacak rambutnya, frustrasi.
  Rahasia terbesarnya terbongkar sudah.






0




The Incridibles 2 | pixar.wikia.com





Intro : 
Sehabis sanjo dalam rangka lebaran kemarin, Mami Ossas diajak nonton The Incredibles 2 sama ayah-bundanya Davie di CGV Social Market (Soma), Palembang. Kali pertama banget tuh menginjak Soma, karena selama ini kalau nonton cuma di Palembang Square (PS) atau Palembang Icon (PI). Tempatnya nyaman dan terkesan elit (kapan-kapan diulas sendiri deh), tapi sayang akses naik turun gedungnya baik lewat tangga, lift, dan eskalator kaya'nya terlalu sempit. Eh, nggak tahu juga ding kalau emang suasana aja pas emang lagi rame.

Halah. Kelamaan intro. Langsung aja nih reviewnya :


Menonton di suasana lebaran dengan tak ada satu pun kursi kosong tersisa dalam bioskop membuat tangan saya gatal untuk mengetik ulasan ini. Antusiasme masyarakat terhadap film animasi keluaran Disney Pixar ini memang luar biasa tinggi. Mengutip forbes.com, The Incredibles 2 mencetak rekor setelah meraup $27 juta di hari ke-lima pemutarannya. Wow!


Terhitung 14 tahun berselang sejak film pertamanya rilis di tahun 2004 lalu, setting waktu dalam The Incridible 2 justru tidak berubah, bahkan benar-benar kelanjutan dari scene terakhir di film lawasnya. Dikisahkan Hellen alias Elastic-girl direkrut seseorang untuk menjalankan sebuah misi untuk memulihkan kembali reputasi pahlawan super yang rusak akibat "kesalahpahaman" pascakasus Monster Bor. Sementara itu, suaminya Bob Parr alias Mr. Incredible terpaksa menggantikan Hellen mengurus rumah tangga.

Entah mengapa, saya mencium aroma seksisme yang cukup kental di sini. Terlihat jelas bagaimana Elastic-girl sangat bersinar ketika menjalankan "tugas lelaki", sementara Mr. Incredible benar-benar kelabakan kala harus menjalankan tugas keibuan. Membantu Dash mengerjakan PR, menghadapi Violet yang puber dan sedang "sakit cinta", dan si bayi Jack-Jack yang tidak bisa ditinggal meleng sedikit pun. Belum termasuk repotnya memasak dan mencuci. Pffft, sedikit kejam memang bagi Mr. Incredible, tapi sepertinya apa yang digambarkan dalam film memang realistis. Begitulah jadinya kalau menyuruh lelaki mengurus rumah. Jadi, masih ada yang berani bilang pekerjaan rumah tangga itu perkara gampang?

Untuk konflik utama sedikit tertebak baik alur maupun dalang di balik tokoh antagonisnya. Namun untuk sebuah film animasi bertema keluarga yang benar-benar untuk hiburan, sama sekali bukan masalah besar. Kalau butuh konflik lebih berat mungkin lebih baik nonton film thriler saja. Selain bernostalgia dengan tokoh lawas keluarga Parr yang karakternya unik dan memikat, penonton juga diajak berkenalan dengan sejumlah tokoh super hero baru dengan jenis kekuatan yang lebih bervariasi.

"Si bungsu Jack-Jack jenis kekuatan supernya apa, Ara?"
Banyak teman yang melontarkan pertanyaan ini setelah menonton trailer-nya. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak ingin merusak kesenangan Anda sekalian yang belum menonton. Yang jelas, Si kecil Jack-Jack memang benar-benar bintang yang membuat satu studio pecah tawanya setiap kali dia berulah. Pokoknya, sedikit spoiler di ending film pertama terkait Jack-Jack itu sungguh BELUM APA-APA. Jadi, alangkah baiknya jika Anda temukan jawaban dengan menontonnya sendiri, buruan gih. Nggak nyesel banget.

Menurut saya, film ini bukan hanya mampu membangkitkan suasana nostalgia bagi fans lama, namun dipastikan sukses juga menambah fans baru. Berhubung saya beserta seisi bioskop keluar dengan senyum dan sisa tawa terpeta di wajah, tidak berlebihan jika saya beri rating 9/10 bintang untuk film ini. Kalau tidak ingat kesempurnaan hanya milik Tuhan, mungkin saya kasih 10/10.

RECOMENDED!


Review ini juga tayang di Kompasiana dengan judul "Aroma Seksisme di Film The Incredibles 2"


Coda : 

Davie dan Mami Ossas
6

My boy Ossas



  Pertanyaan ini udah mampir di kuping saya sejak masih ngeblog di platform gratisan sebelah. Soal kenapanya sih nggak terlalu jelas. Tapi kucing domestik yang merupakan kucing ras asli Indonesia alias kucing kampung ini memang tidak bisa lepas dari kehidupan saya, terutama si Ossas.
  Siapa Ossas?
  Ossas ini anak jantan saya satu-satunya. Saat diadopsi persis pada lebaran tahun 2017 lalu, Ossas masih bayi kurus kerempeng dan giginya belum tumbuh semua. Waktu itu saya sudah punya punya dua anak lain sebetulnya, Kittun dan Momon. Naas, nggak lama kemudian dua-duanya tewas diracun orang dan hanya Ossas yang bertahan. Sejak itu saya jadi agak posesif sama si boy putih-oranye ini.
  Kenapa namanya Ossas?
  Asli kalau bisa ganti aja saya pengen namain dia Matsumune atau Michaelangelo gitu biar keren. Yang namain bukan saya, tapi sepupu jauh yang saat itu nge-fans banget sama cowok Afrika yang nama lengkapnya Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwembubwem Ossas. Dan jadilah namanya Ossas sampai sekarang. Dia nggak mau lagi dipanggil pakai nama lain.
  Ossas ini tipikal kucing domestik biasa. Nggak rewel, lincah, jago berburu. Tapi dia agak picky eater. Yah, salah saya sendiri juga sih nggak biasain dia makan makanan kampung. Dari kecil makannya whiskas dan ngemil fellybite. Minimal banget ikan sarden kalengan. Mau gimana lagi, namanya juga sayang sama anak sendiri.
  Yang saya heran dari Si Ossas, dia sering banget dikira kucing cewek. Waktu masih kecil wajar lah ya, belum terlalu kelihatan. Lha sekarang dua biji kembar di selangkangan dia udah segede apa, masa masih pada salah identifikasi gender gitu sih?
  Menurut temen yang suka main ke kosan (dan selalu ngira Si Ossas itu cewek), Ossas itu kelihatan cantik. Lebih terkesan anggun ketimbang macho. Huuffhh, jangan-jangan ini faktor maminya yang ngefans sama banyak cowok cantik pula.
Ossas dan Embul, Kisah Cinta Beda Kasta

  Ossas sekarang sudah punya istri, namanya Embul. Kucing keturunan persia abu-abu punya tetangga. Pas masih zaman pedekate dulu ya, Si Ossas sering hilang tengah malam. Pas saya cari-cari, ternyata dia udah melungker di depan kandang Si Embul. Mungkin yang punya Embul terkesan dengan kesetiaan si Ossas apa gimana, direstuin dah itu akhirnya. Padahal banyak pejantan lain yang naksir Embul. Yah, mungkin itu yang namanya love will find the way ...
  Ngomongin Ossas mah nggak akan ada habisnya. Dan meskipun saya ada di team #kucingdomestik , bukan berarti saya anti kucing ras. Pada dasarnya saya suka kucing (dan anjing dan hampir semua binatang) apa saja. Namun untuk kesibukan saya saat ini, dimana kalau lagi ada kerjaan di luar suka ninggalin kosan sampai berhari-hari, kucing domestik memang pilihan tepat. Perawatannya nggak ribet, dan mereka nggak manja kalau ditinggal. Yang penting makanan, minuman, sama pasir pup-nya disiapin. Mau dibiarin keluyuran di luar juga santai aja, nggak bakalan ada yang mau nyulik.
  Yosh, sekian dulu perkenalan dari Os sas dan maminya. Pantengin terus blog ini, bakal banyak banget catatan harian yang sebetulnya tidak penting-penting amat, namun sayang untuk dilewatkan. Semoga saya nggak males ya buat update. Untuk yang blognya minta di-follow, tinggalin jejak aja. Pasti saya follow kok.
  
2


Sketch by : Syahyuti (lukisanlukisanku.blogspot.com)

#

Biola itu bukan "The Hammer" buatan Antonio Stradivari yang termasyur. Pun jelas bukan "Ex-Vieuxtemps" -  Guarneri Del Gesu yang harganya menyentuh angka jutaan dollar Amerika pada lelang terakhirnya. Meski ada ukiran mirip Barong Bali di kepalanya hingga terkesan unik, tetap saja itu hanya biola 4/4 biasa yang permukaannya mulus sewarna madu. Biola itu terlelap di dalam kotak kayu berlapis beledu hitam yang dibiarkan terbuka di atas meja rias.

Sementara itu, di seberang ruangan, tampak Sang Iblis terbaring lemah di atas ranjang dengan selang oksigen di hidungnya. Matanya yang berkantung dan mulai keriput di kedua ujungnya itu memandang biola penuh damba. Dia berpikir, sudah berapa lama bow-nya tak digosok rosin?
"Kamu ingin aku menggosok minyak damar pada penggesek biolamu, Mas?" ujar Dayu yang tiba-tiba saja sudah duduk bercermin. Tubuh ramping 35 tahunnya menghalangi pandangan Sang Iblis pada biola kesayangannya.
"Enyah kau perempuan jalang!" maki Sang Iblis. "Berani kausentuh biolaku ...."
Huh. Ancaman kosong, batin Dayu. Dia berbalik, menatap Sang Iblis yang kini nafasnya tersengal.
"Sudahlah, Mas. Istirahatlah...," kata Dayu dengan nada membujuk bocah tiga tahun. Dia merapikan selimut dan mengelus lengan Sang Iblis, berusaha menenangkannya.
Sang Iblis perlahan kembali bernafas nornal, meski sama sekali bukan karena Dayu. Dia memperoleh ketenangan lantaran bayang biola di atas meja rias telah kembali ke retinanya. Sang Iblis tersenyum.
***
Dayu tahu apa yang dipikirkan Sang Iblis. Lelaki itu pasti terkenang akan masa emasnya ketika masih bermain di orkestra terbaik seantero negeri.
Bertahun lalu, jemari panjang Sang Iblis selalu lincah menerjemahkan lembar-lembar sonata Beethoven atau Bach dalam tarian gesekan dawai. Dia  memahat partitur menjadi alunan melodi terindah yang belum pernah gagal memukau telinga siapapun. Orang lain menyebutnya penyihir, karena dipercaya menambahkan mantra-mantra pemanggil Dewa Musik agar hadir dalam setiap konsernya.
Namun Dayu tahu persis, bukan Dewa Musik yang dipujanya, melainkan Sang Penghulu Malaikat, Lucifer, yang menganugerahinya kemampuan bermusik tiada tanding.
Mulanya Dayu juga tak percaya. Sama seperti semua orang, dia pun terpikat pada Sang Iblis hingga rela dinikahi. Namun saat itulah, topeng Dewa Musik tampan penuh pesona yang dikenakan akhirnya terlepas.
Awalnya Dayu berpikir rasa sakit itu datang hanya karena malam pertama. Namun Sang Iblis mulai menganggap bagian tubuh Dayu yang lain sebagai kanvas yang bisa dilukisnya dengan puntung rokok, ujung pisau, cairan lilin panas, atau apapun yang bisa ditemukan. Sang Iblis menganggap setiap jeritan Dayu adalah lagu yang sama merdunya dengan Kreutzer Sonata.
Dan begitulah, Dayu merasa aktingnya bersama Sang Iblis layak mendapat Piala Oscar. Dunia mengenal keduanya sebagai pasangan musisi serasi yang mengabdikan hidup hanya untuk musik. Tak ada keturunan, tak ada ahli waris... Pun tak ada yang tahu, bahwa pernah ada tiga janin di perut Dayu yang tak diizinkan lahir oleh Sang Iblis.
***
Tapi lihatlah, batin Dayu. Sang Iblis kini tak berdaya. Kecelakaan hampir dua tahun lalu telah melumpuhkan syaraf-syaraf anggota geraknya. Menyisakan sakit kepala dan nyeri dada yang tak pernah pulih meski dihujani ratusan butir analgesik. Jangankan bermain biola, dia bahkan terlalu sakit untuk memuaskan hasrat iblisnya yang biasa.
"Dayu...," ucap Sang Iblis pelan. Matanya masih tak beralih dari meja rias. "Ambilkan bi-biolaku..., lalu taruh di sini. Di sisiku."
Dayu menurut. Biola itu dikeluarkan dari kotak, lalu digendongnya seperti seorang bayi. Ditaruhnya hati-hati di sisi suaminya. Penggeseknya digenggamkan pada jemari suaminya yang mulai kaku.
Sang Iblis kembali tersenyum. Seulas senyum terakhir sebelum raut kesakitan mendadak muncul di wajahnya. Sang Iblis tersengal, mulutnya megap-megap seperti ikan yang diangkat ke daratan. Tubuhnya mengejang selama beberapa saat, sebelum akhirnya terkulai lemas tak bergerak lagi.
"Kasihan kamu, Mas. Pasti sakit ya?" Dayu bermonolog. "Tapi paling tidak, di sana kamu bisa memainkan simfoni rindumu yang indah itu untuk dunia fana ini. Iya kan, Mas?"
Dayu meraih gagang telepon di meja. Kematian Sang Iblis harus diwartakan seluas mungkin.
***
Sang Iblis punya selaksa simfoni rindu untuk melagukan kembali biolanya. Sementara Dayu, dia hanya punya satu simfoni rindu saja : mengirim Sang Iblis kembali ke neraka.
Dayu pun tersenyum pada tabung oksigen yang alirannya dia matikan beberapa menit yang lalu.




Palembang. Awal Bulan Hujan '16



Cerpen ini sudah tayang di kompasiana.com , dan memenangkan mini-event bertema Rindu yang digelar komunitas fiksi Rumpies The Club Kompasiana.
2

invitation-hijup-blogger-softex (1)
Selama ini saya berpikir acara meet up blogger yang isinya “cewek banget” itu bakal ribet dan membosankan. Namun pikiran itu luruh seketika saat menghadiri HIjUP Bloggers Meet Up bersama Softex Daun Sirih pada Sabtu, 12 Mei 2018 di Benteng Kuto Besak Theatre Restoran, Palembang belum lama ini.
IMG-20180512-WA0022_1
Saat pertama tiba tepat pukul 11 siang, sebetulnya saya agak minder karena penampilan tidak se-kinclong female blogger lain yang sudah lebih dulu di lokasi. Maklum, saya tipe cewek yang jauh dari kata feminin. Saya belum terbiasa bersolek atau memadu-padankan baju agar enak dilihat.
Beruntung, salah satu blogger, Mbak Kartika Lestari yang biasa saya panggil Bikcik membisiki saya. Pada kotak hijau di atas meja yang diperuntukkan bagi masing-masing peserta, terdapat sehelai kain jilbab keluaran HIjUP. Bikcik membantu saya memakainya sebagai syal sekaligus menyuruh saya melepas kunciran rambut. Wah, efek rambut terurai dan syal tambahan membuat penampilan saya langsung tampak berbeda. Dari yang tadinya cewek-tomboy-banget, menjadi cewek-tomboy-yang-agak-feminin-sedikit 😹
IMG_20180522_182216
IMG_20180522_184819
Desain motif dan warna dari produk keluaran HIjUP saya akui memang menarik, dan sangat cocok untuk kemeja putih simpel saya. Meski diproduksi khusus untuk pakaian muslimah, jelas tidak ada larangan untuk saya yang kebetulan tidak berhijab ini untuk memakainya, kan? Asli, saya benar-benar dibuat jatuh hati dan penasaran ingin tahu koleksi HIjUP lainnya yang lengkap di website Hijup.com. Untungnya, saya punya kode voucher yang bikin dapat potongan belanja sebesar Rp. 50.000,- dengan minum pembelanjaan Rp 250.000,- . Eh, buat kalian yang lagi pengen belanja untuk persiapan lebaran, bisa juga lho pakai kode vouchernya. Catet nih : HIJUPSFTXPLM . Caranya tinggal klik banner (foto paling atas di postingan ini), setelah tautan terbuka tinggal masukin deh kode vouchernya. Tapi buruan ya …, berlakunya cuma sampai dengan 22 Juli 2018 dan nggak berlaku untuk produk diskon.
*
Acara di Kuto Besak Theater pun berlanjut, menghadirkan 4 narasumber kece dengan materi yang tentu saja tak kalah kecenya. Nah, saya akan coba merangkumnya di sini untuk kalian. Jangan bosan dulu ya membacanya, Ladies!
mbak-anastasia-01
Pertama, ada Kak Indah Nada Puspita, seorang social media influencer sekaligus host acara Hijab Travelling yang tayang di salah satu stasiun TV swasta nasional.
Kegiatan dan kesibukan Kak Nada yang padat memaksanya pandai-pandai menjaga kesehatan tubuh. Diantaranya dengan cara makan makanan bergizi, tidur yang cukup, banyak minum air putih, olahraga teratur dan berusaha untuk tidak stress atau banyak pikiran.
Tidak sebatas kesehatan tubuh, kesehatan organ kewanitaan juga penting untuk diperhatikan. Terutama saat sedang menstruasi dimana pertumbuhan bakteri menjadi berlipat, dan berpotensi besar menimbulkan masalah seperti keputihan. Untuk itu, Kak Nada menyarankan agar cewek-cewek rajin mengganti pembalut saat menstruasi.
Ucapan Kak Nada itu dibenarkan oleh narasumber kedua, dr. Abraham Martadiansyah, SpOG. Menurut dokter ganteng ini, keputihan menjadi masalah kewanitaan nomor satu se-Indonesia. Pemicunya secara umum adalah iklim tropis Indonesia yang memang “kurang bersahabat” untuk area Miss V yang senantiasa tertutup. Cuaca yang panas dan menjadikan lembap, membuat area sensitif itu rentan diserang pertumbuhan bakteri dan menyebabkan keputihan. Selain itu, keputihan juga bisa dipicu oleh hal lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, obesitas hingga faktor hormonal dan stress.
Berikut Tips dari dr Abraham untuk menghindari keputihan :
  1. Menghindari penggunaan celana ketat yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat
  2. Segera ganti pakaian yang berkeringat pasca olahraga
  3. Tidur tanpa celana dalam — penting agar miss V tetap kering dan dapat ‘bernafas’ di malam hari
  4. Pastikan Miss V dalam kondisi benar-benar kering sebelum berganti celana dalam  atau setelah buang air kecil
    Gunakan pembersih Miss V dari bahan alami
  5. Jangan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
Selama ini, saya suka dibuat resah oleh siklus bulanan. Ingin curhat atau ngobrol-ngobrol untuk cari informasi tapi bingung, tidak tahu siapa yang harus ditanya karena saudara dan teman dekat hampir semuanya cowok. Saya galau karena lama menstruasi saya tergolong singkat, maksimal 3 hari saja. Namun volume darah yang keluar benar-benar mengkhawatirkan karena (rasanya) terlalu banyak. Saya bahkan bisa ganti pembalut 10-12 kali sehari semalam saking derasnya.
Beruntung, saya bisa bertanya langsung pada dr Abraham yang menjelaskan bahwa lama pendarahan 2-8 hari dengan siklus 21-35 hari sekali adalah masih termasuk normal. Demikian pula volume darah yang keluar, jika tubuh masih sanggup mentolerir, artinya masih normal. “Yang penting teratur. Perlu waspada jika antara siklus sebelum dan sesudahnya jauh berbeda. Misal bulan ini sedikit, lalu bulan depan banyak. Nah, itu yang perlu pemeriksaan lebih lanjut,” kata dr. Abraham.
Leganya saya mendengar penjelasan dokter satu ini. Masalah selanjutnya hanya tinggal pembalut. Tidak banyak merk pembalut yang menyediakan varian yang sesuai dengan kebutuhan saya (yang bisa menampung volume darah haid cukup banyak). Namun sepertinya saya tidak perlu risau. Narasumber ketiga, Kak Anastasia Erika yang menjabat sebagai Brand Manager Softex Daun Sirih menjelaskan bermacam varian produk Softex Daun Sirih yang memang diproduksi khusus sebagai jawaban atas permasalahan kewanitaan perempuan Indonesia.
IMG_20180522_191017
Untuk kebutuhan saya, Softex Daun Sirih Varian Slim Extra Heavy Flow 36 jelas jadi pilihan utama. Bantalan pembalutnya yang panjang bisa menampung darah haid yang keluar saat sedang deras-derasnya. Varian ini juga bisa dipakai saat tidur. Nyaman tanpa khawatir tembus. Untuk yang darah haidnya tidak terlalu deras, bisa pakai varian yang lain seperti slim regular flow 23 cm atau heavy flow 29 cm. Kalau sudah selesai haid, bisa juga pakai pantyliner untuk mengurangi kelembapan area Miss V.
IMG_20180522_190841
Selain itu, seperti yang tercantum pada kemasannya, semua varian Softex Daun Sirih memang mengandung ekstrak daun sirih yang bermanfaat bagi kesehatan organ kewanitaan. Daun sirih memang telah lama terbukti khasiatnya sebagai antiseptik alami yang sekaligus berfungsi sebagai penghilang bau. Jadi kaum hawa kekinian nggak perlu khawatir organ kewanitaannya menjadi gatal atau bau.
Kak Erika menyampaikan, kebiasaan buruk perempuan saat menstruasi adalah malas mengganti pembalut. Padahal, pembalut perlu diganti setidaknya setiap tiga jam sekali. Lewat dari tiga jam, pertumbuhan bakteri jahat akan sangat cepat berlipat sehingga berisiko tinggi bagi organ kewanitaan. “Jangan nunggu penuh pokoknya. Ganti setiap 3 jam sekali agar kebersihan dan kesehatan organ kewanitaan kita tetap terjaga,” kata Kak Erika.
Puas ngobrol sehat bebas worry soal seluk beluk dunia kewanitaan, peserta masih dibekali satu ilmu tambahan sebagai bonus, yakni sesi belajar seni photography Flat Lay bersama Om Ade Yolfi. Om Ade ini seorang fotografer yang sudah lama aktif di Asosiasi Profesi Fotografer Indonesia (APFI) Sumsel.
Menurut Om Ade, Flat Lay adalah gaya fotografi dengan cara membidik beberapa objek, baik makanan, produk, dan lainnya melalui jepretan kamera dari atas ke bawah lurus 90 derajat. Objeknya itu sendiri diletakan di permukaan datar (flat) di permukaan yang menghadap ke kamera. Wohoo, berguna banget ini untuk blogger yang sering dapet job endorsement.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk teknik foto flat lay, yakni background, proporsi foto, pencahayaan dan editing. Om Ade yang saat mengajar tidak terlalu banyak berteori, langsung mengajari seluruh peserta untuk praktik.
IMG_20180512_142031
Seru dan asyik. Sampai nyaris lupa waktu. Bersyukurnya saya dikasih kesempatan ikut acara seasyik ini. Bukan hanya soal bingkisan dan isi goodie bag-nya yang memanjakan mata, tapi lebih kepada banyaknya ilmu baru yang diperoleh sepulangnya dari acara. Si Tomboy yang biasanya cuek ini, bisa lebih peduli dengan kebersihan dan kesehatan organ kewanitaan, terutama saat menstruasi.
Terima kasih ya, HIjUP dan Softex Daun Sirih atas undangannya. Semoga nggak kapok mengundang saya. Sampai jumpa di next event.
banner-blog-blogger-softex-palembang-2
Nb :
Buat kalian yang pengen tahu lebih banyak soal HIjUP dan Softex Daun Sirih, bisa cek link-link di bawah ini :

https://www.hijup.com/id/

Instagram : @hijup

Twitter : @hijup

Line : https://line.me/R/ti/p/@usg8207g

Youtube : https://www.youtube.com/hijupcom

Facebook : https://www.facebook.com/hijupcom

HijUp Magazine : https://www.hijup.com/magazine

x

Softex Daun Sirih
Products by PT Softex Indonesia

http://softexindonesia.com/id/

Instagram : @womenhealthypedia
0

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels