Newsletter

Menu
Recent Post

Scarlett Facecare - kucingdomestik.com



Seiring dengan tanggal pernikahan saya yang semakin dekat, sejumlah teman dan kerabat memuji wajah saya yang tampak kian glowing dan cerah. Tak sedikit yang meminta saya berbagi rahasia perawatan kulit wajah. Beberapa yang lain mengira saya rutin mengunjungi klinik dan salon kecantikan. 

Calon manten


Well, saya memang melakukan perawatan wajah dengan rutin. Tapi tidak sampai ke klinik kecantikan (sayang duitnya cuy, mau nikah banyak kebutuhan  lain). Saya hanya menggunakan rangkaian produk perawatan wajah dari Scarlett yang dipakai setiap hari. 

Saya memutuskan pakai Scarlett Facecare setelah sebelumnya merasa puas banget dengan rangkaian produk bodycarenya (ulasan lengkap sudah pernah saya tulis di sini). Memang, agak risky karena itungannya coba-coba. Tapi kalau nggak dicoba gimana bisa tahu kan ya? 

Seperangkat facecare Scarlett yang terdiri dari facial wash, serum wajah, krim pagi, dan krim malam sudah saya order kira-kira sebulan lalu. Seperti biasa, puas banget sama packingnya yang super aman dan rapi tanpa rembes. 

Dibandingkan dengan produk bodycare-nya, packing rangkaian facecare ini terlihat jauh lebih "niat" dan berkelas. Wah, nggak sabaran jadinya untuk buru-buru nyobain. 

 

Well, saya baru tahu kalau produk perawatan wajah ini terhitung keluaran baru dari Scarlett. Ada dua series, yakni Brightly Series dan Acne Series. Berhubung wajah saya nggak terlalu bermasalah sama jerawat (kecuali kalo lagi PMS), saya pilih yang Brightly Series.

Terus terang, saya sempat kaget lho. Hasilnya udah langsung terlihat meski baru dipakai selama 1 minggu. Kulit wajah saya jadi lebih cerah dan glowing dari biasanya. Nggak cuma itu, bintik-bintik milea yang ada di bawah mata juga menghilang.

Sebelum dan sesudah pakai scarlett


Sempat ragu mau melanjutkan pemakaian atau tidak. Karena sering dengar kalau wajah berubah terlalu cepat setelah pemakaian produk perawatan tertentu, biasanya ada kandungan zat berbahaya di dalamnya. Tapi saya sudah ngepoin komposisi masing-masing produk Scarlett, semuanya aman. Sudah ada label BPOMnya pula. Ditambah saat ngintip-ngintip review dari dokter juga bilang kalau Scarlett aman, jadinya lega untuk terus melanjutkan pemakaian. 

Terlebih, setelah dipakai juga cocok dengan tipe kulit saya yang tipe normal-kombinasi. Nggak ada tuh iritasi, gatal-gatal atau semacamnya. So, aman lah ya. 

Berikut akan saya jelaskan rangkaian produknya satu per satu biar lebih jelas. 

Scarlett Brightening Facial Wash

Scarlett facial wash dengan kelopak bunga mawar di dalamnya


Ini produk buat cuci muka. Teksturnya agak berbeda dengan facial foam yang bisa saya pakai selama ini yang bertekstur seperti pasta. Facial Wash Scarlett teksturnya lebih cair dan licin. 

Yang menarik, Scarlett Brightening Facial Wash ini punya kelopak mawar utuh di dalamnya. Pantes wanginya lembut dan enak banget. 

Sayang, saat diaplikasikan ke wajah agak kurang berbusa sehingga kurang memberi kepuasan dalam rutinitas mencuci muka. 

Meski begitu, yang tepenting adalah Kandungan di dalamnya. Ada Glutathione, Aloe vera, rose petal, dan vitamin E. Dengan kombinasi seperti itu, jelaslah manfaat facial wash ini adalah untuk mencerahkan, melembabkan, dan menyehatkan kulit wajah. 


Scarlett Brightly Ever After Serum

Scarlett brightly after serum


Ini yang paling menarik buat saya. Packingnya bagus banget, ada tambahan kotak pelindungnya segala jadi super aman di perjalanan. 

Tekstur Scarlett Brightly Ever After Serum ini seperti serum wajah pada umumnya. Cair, tidak lengket, langsung kering dan meresap ke dalam kulit wajah setelah sebentar saja dipijat lembut.

Di kemasan tertulis cukup gunakan 2-3 tetes saja setiap kali pemakaian. Tapi berhubung jidat saya jenong kek lapangan bola, saya tambahkan satu tetes lagi agar lebih rata. 

Dari semua jenis rangkaian facecare, saya paling suka pakai serum karena efeknya langsung berasa saat itu juga. Jadi lembab dan kenyal gitu lho. 

Serum ini mengandung phyto whitening, glutathione, dan vitamin C. Wajar banget dong kalau kulit langsung cerah dalam seminggu pemakaian rutin. 


Scarlett Brightly Ever After Cream Day

Scarlett Day Cream


Saya kurang suka tekstur Scarlett Brightly Ever After Cream Day ini karena lebih encer dari cream day pada umumnya. Bukan apa, jadi menetes dan meleber kemana-mana gitu saat baru dicolek. 

Aroma-nya juga sedikit aneh menurut saya. Susah dijelaskan, kaya bau jamu (?) atau obat herbal begitu. Tapi ya masih termaafkanlah, nggak sampai bikin saya pusing atau muntah-muntah nyium baunya. (Tapi berharap banget Scarlett bisa berinovasi lagi untuk tekstur dan bau yang lebih nyaman untuk customer). 

Cuma kalau mau fair, apalah artinya tekstur dan aroma jika dibandingkan dengan hasilnya. Ga heran sih, kandungan krim siang Scarlett ini emang lengkap banget dan sesuai kebutuhan. 

Ada glutathione, rainbow algae untuk menyempurnakan warna pigmen kulit, Hexapeptide-8 untuk menyamarkan garis halus, rosehip oil in essential fatty acids dan antioksidan untuk menyamarkan bekas luka, Poreaway untuk menyamarkan pori-pori, Triceramide untuk melembabkan sekaligus menyamarkan keriput, dan aqua peptide glow untuk melembabkan dan mencerahkan.

Tanpa krim siang ini, yakin deh bercak milea saya nggak akan hilang. 

Scarlett Brightly Ever After Cream Night


Scarlett Night Cream


Berbeda dengan krim siang, krim malam Scarlett ini teksturnya favorit banget. Jauh lebih kental dan nyaman diaplikasikan.  Selain glutathione, vitamin C, Hexapeptide-8, Poreaway, dan aqua peptide glow, Scarlett Brightly Ever After Cream Night juga mengandung Niacinamide untuk mencerahkan kulit dan green caviar untuk mencegah kulit kering.

No komen-lah buat krim malam Scarlett ini. Suka. Suka. Suka. Pokoknya 😍😍😍


****

Nah, sudah tahu  kan sekarang rahasia kulit wajah cerah dan glowing jelang pernikahan saya? Jawabannya adalah rangkaian produk Scarlett Brightening Face Care Series.

Buat yang mau nyobain pakai, saya bocorin harganya masing-masing produk adalah Rp 75.000.Bisa order melalui WhatsApp 0877-0035-3000, LINE @scarlett_whitening, DM instagram @scarlett_whitening, atau di Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop. Semuanya dilayani, tinggal pilih mana yang paling nyaman buat kalian.


Salam glowing dari Tepian Musi 

1




Saya menulis ini sebetulnya malah dalam kondisi yang sangat tidak tenang dan super khawatir saat mempersiapkan pernikahan. Hanya kurang tiga bulan lagi jelang hari H. 

Well, untuk orang-orang yang gemesshh karena saya dan Nugi tidak kunjung menikah, tiga bulan lagi itu mungkin masih lama. Tapi buat saya dan Nugi, yang sampai saat ini masih jadi LDR Fighter Palembang-Jogja, 3 bulan itu berasa diuber-uber. 

To be honest, masih banyak hal yang belum selesai. Mulai dari bimbingan pranikah di gereja, tetek bengek urusan administrasi untuk catatan sipil dan tes kesehatan, sampai persoalan memilih vendor belum tuntas semuanya. 

Satu hal yang paling bikin saya cemas saat ini mungkin juga faktor finansial. Hubungan LDR sendiri sudah begitu mahal untuk dijalani. Apalagi persiapan untuk hari H-nya. Terlebih, saya dan Nugi bisa dibilang tidak-bisa-terlalu-mengandalkan-orang-tua-lagi untuk urusan biaya pernikahan kami. 

Saya anak yatim, sementara orang tua Nugi sudah masuk usia lanjut yang sudah melewati masa produktifnya. Saya sempat berpikir, kalau saja saya dan Nugi dipertemukan lebih awal (sekitar 5 tahun lalu saat papa saya masih hidup dan orang tua Nugi masih produktif), apakah kami bakal lebih tenang dalam menyiapkan pernikahan? Kan enak ya kalau bisa seperti teman-teman lain yang menikah dengan dibiayai orang tua 🀭


Tapi sudahlah. Saya tidak mau berandai-andai. Saya percaya waktu Tuhan tidak pernah salah. Dan, saya tahu perjuangan saya dan Nugi ini tidak akan sia-sia. Kelak di kemudian hari, kami akan mengenang semua ini dengan senyuman. Amin. Amin. 


Berikut beberapa hal yang saya lakukan agar tetap tenang dan tidak khawatir berlebihan dalam mempersiapkan pernikahan : 


1. Berdoa

Terserahlah mau dibilang sok relijius atau bagaimana. Tapi doa adalah hal terkecil sekaligus terbesar yang bisa saya lakukan saat ini. Berdoa berarti menyerahkan segala sesuatunya pada kehendak Tuhan. 

Saya percaya Tuhan yang mempertemukan saya dan Nugi. Dia pula yang mengizinkan kami sampai di titik ini. Jika pernikahan kami juga bagian dari kehendak-Nya untuk kebaikan kami, Dia pasti akan mencukupkan segala sesuatunya. 

Baik saya dan Nugi mungkin sama-sama tidak bisa mengandalkan ayah kami lagi. Tapi kami punya Bapa di Surga yang masih bisa kami mintai pertolongan. Kalau semesta dan segala isinya ini Dia yang punya, betapa kecil di mata-Nya urusan pernikahan dua insan manusia ini, bukan? 


2. Tarik Nafas dan Atur Skala Prioritas

Saat membuat list to do terkait pernikahan yang ternyata super ribet dan bejibun, reaksi pertama ya panik dan stress. Terlebih waktu yang entah kenapa berubah mendadak menjadi seperti kurva. Menanjak lambat ketika proses pedekate dan pacaran, dan seketika terjun bebas begitu tunangan akhir tahun lalu. Beuh, tahu-tahu sudah setengah tahun saja berlalu sementara persiapan baru beres sekian persennya. 

Meski sulit, saya dan Nugi memaksa diri untuk mengambil waktu sejenak untuk sekadar menarik nafas. Setelah pikiran lebih jernih, maka kami urutkan berdasar skala prioritasnya. Mana yang harus benar-benar dipikirkan lebih dulu. 

Biaya kontrakan atau DP KPR setelah menikah jelas jauh lebih penting ketimbang dekorasi, biaya pre-marital medical check up lebih penting ketimbang seragam bridesmaid, dst. 

 Dan begitulah, kami selesaikan perlahan satu per satu. Apa yang bisa dibereskan dalam waktu dekat ya dibereskan. Kesusahan sehari cukuplah sehari. Yang bisa dikerjakan hari ini ya hari ini. Begitupun yang besok atau lusa. Nikmati saja. Jalani. 


3. Ikhlas dan Tidak Memaksakan Diri

Kunci ketenangan adalah sikap hati. Yah memang, siapa sih yang tidak ingin punya acara pernikahan yang wah dan perfect? Saya dan Nugi juga inginnya sebuah pernikahan yang sempurna. Namanya juga momen sekali seumur hidup. Tak perlu mewah, tapi elegan. 

Tapi saya dan Nugi juga belajar untuk tidak memaksakan diri. Kalau memang mampu, ya why not? Tapi jika tidak, maka harus bisa ikhlas. 

Kembali ke hakikat pernikahan itu sendiri, bukan? Menyatukan dua jiwa dan dua keluarga. Sekarang yang penting itu sah dulu pokoknya. Kalau ternyata hanya mampu mengundang 50 orang, kenapa harus memaksa mengundang 1000 orang? 

Lebih baik sebuah pernikahan sederhana ketimbang harus menyusahkan diri sendiri, mengorbankan kenyamanan hidup berumah tangga di masa depan, atau meninggalkan utang yang tak terlunaskan. 


Saya tidak mau memaksakan diri. Nugi juga tidak.  Seperti apapun bentuknya nanti, kami ingin pernikahan yang bisa menjadi berkat. Benar-benar berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terkasih, dan bukannya membebani mereka. 


Akhir kata, mohon doanya ya agar dilancarkan segala prosesnya. Amin. 

2



Yuhuuu, buat yang ngikutin sosmed saya pasti udah tahu kalau saat ini saya tengah mempersiapkan pernikahan. Rencananya tahun ini dan tinggal hitungan bulan lagi. Nah, salah satu persiapan yang saya lakukan sebagai calon manten adalah getol merawat kesehatan kulit biar kinclong! 


Scarlett bodycare




Jadi saya kan tomboy ya. Aslinya tuh maleeess banget buat skin-care-an macem-macem. Tapi namanya buat momen spesial sekali seumur hidup, harus ikhlas dong berjuang dari jauh-jauh hari demi penampilan paripurna.

Di tulisan kali ini, saya akan cerita-cerita dikit sekaligus review rangkaian produk body care yang lagi saya pakai sekarang dari SCARLETT.


Rangkaian body care SCARLETT



So, ada 3 produk yang udah saya pakai dari berapa bulan lalu, yakni :


Body Scrub varian Romansa


Shower Scrub varian Pomegranate


Body Lotion varian Freshy.

Awalnya lihat review-an temen blogger, terus tertarik nyoba dan akhirnya DM instagram @scarlett_whitening buat order. Adminnya fast response dan nyampe-nya pun cepet cuy.

Yang bikin seneng itu, packaging-nya rapi banget jadi produk yang 3 botol itu sampai dengan selamat. Nggak tumpah atau rembes sama sekali karena pake bubble wrap. Kaya ginian tuh sepele, tapi nggak semua seller aware lho. Saya udah beberapa kali order produk lain di e-commerce isinya meluber kemana-mana karena nggak dikasih bubble wrap.

Soal harga, standar banget lah buat saya. Rp 75 k untuk masing-masing. Bisa juga beli paketan langsung seharga Rp 300 k dan udah dapat 5 produk bonus exclusive box dan free gift.

Selain lewat IG kaya saya, bisa order dengan cara lain juga lewat WhatsApp 0877-0035-3000, LINE @scarlett_whitening, atau di Shopee (Scarlett_whitening). Pilih aja mana enaknya. Pasti dilayanin semuanya kok.

___

REVIEW SCARLETT BODY CARE

Body Scrub

Scarlett body scrub




Ini body scrub pertama yang bikin saya betah di kamar mandi lama-lama. Wanginya lembut dan enak banget lho. Pas banget dengan suasana hati saya yang lagi berbunga-bunga.

Awalnya sempat ragu karena buliran scrub kan biasanya kasar dan bisa bikin kulit luka. Tapi SCARLETT enggak. Butirannya halus dan langsung berasa efeknya setelah dibilas. Kulit-kulit mati dan segala jenis daki langsung terangkat dan berasa banget sensasi halusnya.

Cara pakainya udah dijelaskan di kemasan. Tinggal balurkan di sekujur tubuh, usap-usap, biarkan selama 2-3 menit baru kemudian dibilas. Pakainya cukup 2-3 kali seminggu.




Shower Scrub

Scarlett Shower Scrub



Waktu lihat botolnya jujur agak kurang tertarik ya. Karena mohon maaf, jadi kaya sabun-sabun yang saya bikin sendiri buat praktik kewirausahaan jaman sekolah dulu πŸ˜‚

Tapi itulah ya, kata orang don't judge a book by it's cover. Karena setelah dicoba tuh enak banget. Teksturnya lembut dengan ada butiran scrub halus (lebih halus dari yang body scrub). Dan ini bisa memaksimalkan saat membersihkan tubuh.


Selain wangi buah pomegrante yang segar, yang bikin saya suka dengan shower scrub ini busanya banyak. Udahlah bersih dapet, sensasi freshnya awet juga. Kalau habis keluar dari kamar mandi tuh wanginya terus menguar kemana-mana.


Body Lotion

Scarlett body lotion



Nah, ini nih yang paling saya butuhkan. Jadi kulit saya tuh SUPER KERING yang bisa sampai bergaris-garis putih gitu kalau digaruk. Jadi emang butuh body lotion yang nggak cuma sekadar lotion, tapi benar-benar yang bisa membantu melembabkan dan menutrisi kulit.

Lotion scarlett ini sangat mudah meresap dan nggak lengket. Dengan design botol yang serupa dengan shower scrub-nya tapi much better karena ada fitur lock-umlock-nya, plus wangi yang nggak lebay bikin saya suka rutin makenya.

Dulu pas awal-awal make masih suka kelihatan baret putih pas nge-garuk, sekarang dengan pemakaian SCARLETT lotion udah enggak dong. Bye kulit kering dan bersisik-nya Ara… welcome kulit lembab, kenyal, mulus, dan kinclong 😍




SCARLETT dan Animal Lovers

Scarlett dan anabul




Sebagai emak kucing kampung dan penyayang binatang, daya tarik utama produk SCARLETT ini buat saya adalah klaimnya yang tidak melakukan uji coba pada binatang. Hal ini mungkin terkesan nggak penting ya, tapi hati saya tuh selalu nyess dan emosi kalau dengar ada produk yang menguji-cobakan segala sesuatunya pada binatang. Hey, binatang juga makhluk Tuhan kan ya… jangan diperlakukan sewenang-wenang dong.

Bersyukur banget SCARLETT aware sama masalah ini. Dan terbukti, SCARLETT bisa juga bikin produk kece dan berkualitas tanpa berlaku seenaknya sama binatang.

Selain itu, Body Scrub, Shower Scrub, dan Body Lotion dari Scarlett ini juga mengandung GLUTATHIONE dan vitamin E yang bisa mencerahkan, melembabkan, dan menutrisi kulit. Produknya juga halal dan sudah terdaftar di BPOM, jadi nggak perlu khawatir sama keamanannya.




Calon Manten dan Perawatan Tubuh

Calon manten : Ara dan Nugi




Calon manten atau orang yang akan menikah seperti saya memang perlu perawatan khusus. Selain menggunakan rangkaian produk body care seperti SCARLETT yang saya gunakan di atas, ada beberapa hal lain juga yang saya lakukan, di antaranya :



Tidur cukup dan teratur

Sebaik apapun produk skin care yang digunakan, jika pola hidup tidak sehat (banyak begadang misalnya) maka tidak akan mendapat hasil yang diharapkan.


Olahraga Rutin

Olahraga bisa meningkatkan fungsi dan regenerasi sel-sel dalam tubuh. Di mana sel-sel baru dalam tubuh akan memengaruhi kesehatan kulit, jantung, dan otak. Saya yang mageran ini tidak terlalu kuat olahraga berat, namun saya menyempatkan diri senam atau jalan kaki setidaknya 30 menit setiap hari.

Atur pola makan

Hindari gula, minyak, dan lemak berlebihan, serta banyak minum air putih. Bukan hanya efektif membuat badan lebih bugar, namun juga bonus berat badan yang stabil tanpa harus diet ekstrem.

Kurangi Make Up Berat

Mengurangi make up berat untuk sementara waktu agar kulit bisa beristirahat serta bernapas lega tanpa ada sumbatan dari bedak, foundation, atau loose powder. Sebagai gantinya, fokus saja pada skincare. Dengan ini, kulit akan menyerap oksigen lebih banyak dan tampak lebih segar di hari pernikahan.



*


Sekian dulu postingan kali ini, buat yang kebetulan membaca, mohon doa-nya untuk kelancaran pernikahan saya dan mas tunangan ya, gengs.


Salam dari Tepian Musi.
2



Ketika dihadapkan pada dua lelaki yang sama-sama berarti dalam hidup, di mana yang satu sudah jadi mantan, dan yang satu penjamin masa depan… Harus bagaimana? 


Antara Mantan dan Masa Depan



17 Desember 2020


Saya beruntung. Itu tanggal terakhir berlakunya rapid test untuk naik pesawat. Besoknya, tanggal 18 sudah diberlakukan aturan baru yang wajib pakai swab antigen itu. Fiuh, selamat. Hasil rapid saya yang diambil 2 hari sebelumnya di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II itu tidak sia-sia. Bandung, i'm coming ~~

Pertama kalinya naik Batik Air, saya mendarat di Soeta dengan selamat. Meski sempat kesal bukan main dengan penumpang di kursi tepat di depan saya karena (ternyata) dia membuang kulit kuaci sembarangan di sepanjang perjalanan. 


berasa pesawat punya emaknya

Makin badmood karena bandara masih sama ramainya. Seperti tidak sedang pandemi saja. Segigih apapun upaya saya untuk menerapkan protokol kesehatan, tetap adaaaa saja yang nempel-nempel. Langsung dah diri ini merasa kotor dan penuh noda πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

Saya makan siang di AW terminal 2. Sebetulnya sih tidak (terlalu) suka AW. Cuma sengaja biar bisa pamer fotonya ke Omnduut πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Secara Kak Yayan ini udah ngidam bener sama AW bandara Soetta. 

Setelah makan, saya bergegas mencari angkutan selanjutnya yang akan membawa saya menginjak Bumi Parahiyangan. Pilihannya dua : Travel atau Bus. 

Ketika saya kebingungan memilih dua hal ini, tepat di depan saya ada seorang cowok yang auranya ramah dan (sepertinya) bisa ditanyai. Dengan pasang tampang sangat kebingungan a la first traveller (eh, tapi emang iya sih, ini pertama kalinya saya ke Bandung) , si Aa yang kemudian saya tahu namanya Imran ini dengan sabar menjelaskan rute-rute bus dan plus minus naik travel. 

Membaca tulisan Nugi di sini, saya berkesimpulan betapa lelaki itu suka SOK TAHU banget ya dengan apa yang ada di pikiran ceweknya. Baiklah, saya merasa perlu klarifikasi tentang kenapa akhirnya saya memutuskan naik bus bersama Aa Imran ketimbang travel yang jadi rekomendasi dia. 

Di blognya Nugi bilang alasannya uang. Selisih ongkosnya yang cuma beberapa puluh ribu saja itu memang menjadi salah satu pertimbangan. Tapi sungguh bukan SATU-SATU-nya alasan saya milih naik bus. Kalau memang cuma masalah uang, ngapain pusing? Saya udah punya ATM pribadi ini kok πŸ˜‚πŸ˜‚

So, pertama… Sebagai orang yang baru pertama kali menuju Bandung, saya yakin di sepanjang jalan akan banyak hal yang bikin saya kepo. Saya pengen ada yang ditanya. Saya pengen ada temen ngobrol. 

Bayangkan, di travel yang penumpangnya terbatas itu, pasti akan sangat sulit ngobrol dengan santai dan bebas tanpa mengganggu orang lain. 

Yang kedua, I have condition yang mungkin memang belum sempat Nugi tahu. Jadi, saya ini "semi-claustrophobia". Nggak claustrophobia banget yang sampai bikin kena panic attack gitu, tapi saya benar-benar nggak suka dengan ruangan sempit atau kendaraan kecil yang tertutup. Yah, semacam minubus, taxi, atau mobil pribadi. 

Untuk perjalanan jarak pendek, saya masih bisa atasi. Tapi jika harus naik kendaraan-kendaraan ini dalam jangka waktu yang lama, saya bisa sangat gelisah dan super tidak nyaman (Dan biasanya terus memicu saya untuk mabok karena kekurangan oksigen). 



Saya suka kendaraan besar. Kereta api, pesawat, bus, atau bahkan belakang truk terbuka. Yang masih memungkinkan saya untuk berdiri atau berjalan di dalamnya. Bisa juga kendaraan kecil, namun tidak bikin saya merasa "dikurung" seperti sepeda motor atau mobil-mobil jeep yang tanpa atap dan pintu itu. (Makanya, tbh saya kecewa saat tahu motor Nugi ga bisa dipakai dan ke mana-mana malah nge-gocar. Padahal udah ngebayangin motoran keliling Bandung). 

Lanjut, ketiga, punya teman baru di perjalanan itu menyenangkan. Terlebih Aa Imron ini asyik banget diajak ngobrol. Baek pula mau bantuin bawa barang-barang saya yang bejibun. (Makasih banget ya Aa, kalau baca ini salam buat anak dan istri ya). 

Kalau lihat sawah rapi, artinya sudah di Pulau Jawa

Intinya, saya sama sekali tidak menyesali pilihan saya naik bus. Karena kalau saya naik travel, saya nggak bisa menikmati panorama di sepanjang tol dari sudut lebih tinggi. 

Drama Penjemputan

Saya memang sudah menangkap gelagat kejengkelan Nugi karena saya "ngeyel" naik bus. Plus dia sepertinya nggak suka banget sama Aa Imran yang dinilainya "menjerumuskan" saya. Padahal enggak lho.

Nugi ngabarin kemungkinan kalau dia nggak bisa jemput dan saya disarankan naik taxi online. Huh! Cowok macam apa dia? 

Well, yang Nugi nggak tahu, saya benar-benar nggak pusing tuh kalau memang dia nggak bisa jemput. Wahai Nugi, ketahuilah, di Bandung ini saya punya satu orang lain yang bisa saya andalkan selain kamu. Mas mantan! 

Mas mantan yang dari saya boarding sudah berisik mengawal perjalanan saya. Memastikan saya menghitung barang bawaan dengan benar. Mengingatkan saya makan tepat waktu plus printilan lainnya seperti tolak angin dan obat anti mabuk agar stamina saya tetap terjaga sampai tiba di Bandung. 

"Jemput Ara oy," bunyi chat saya tanpa basa-basi. 

"Lho, Nugi kemana?"

"Masih kerja nggak bisa jemput… "

"Aku mau aja lho jemput, tapi kan nggak enak sama Nugi."

"Ish. Jahaaattt…"

Mas mantan mencium bau marabahaya kalau saya sudah mulai ngambek, akhirnya menenangkan dengan bilang dia yang akan menjemput jika (dan hanya jika) Nugi betul-betul tidak bisa. 

Nah. Beres. Saya bisa kembali melanjutkan ber-oh dan wah ria dengan pemandangan di sepanjang tol. Di beberapa titik, proyek kereta cepat tampak masih dikerjakan. 

Dan syukurlah, di detik terakhir Nugi ngabarin bilang bisa jemput. Pffftt, perhatian juga ternyata dia meski sempat bikin saya menunggu lumayan lama karena dia bilang ingin makan dulu. Ini juga sempat bikin saya heran, Nugi kok ya jahat banget makan sendiri padahal saya juga udah kelaparan karena ketika bus tiba di pool, hari sudah jelang magrib. Mana dingin pula karena Bandung baru diguyur hujan. 

Tapi ya sudahlah. Better begitu karena Nugi kalau sudah (ke)lapar(an) atau sakaw cafeine itu asli super menyebalkan. Raut wajahnya bakal kaya ketiak saya : asem! Sungguh bikin pengen nabok saking nggak enaknya dilihat. Jadi biarlah dia makan dulu agar bertemu saya pertama kali dalam kondisi good mood


Hae, LDR Fighter

Dan… ketika akhirnya bisa lihat Nugi lagi untuk pertama kalinya setelah 9 bulan, asli sempat kaget. Nugi jadi montok banget gitu πŸ˜‚πŸ˜‚ Pengen ngatain dia, tapi terus sadar diri. Lha saya sendiri juga sama nambah bengkaknya kok πŸ˜‚πŸ˜‚ 
Yeahh, kadang definisi cinta adalah bahagia dan menggendut bersama...
Thank God, aroma badan Nugi nggak berubah. Sampai detik ini masih menempati peringkat ke-3 aroma favorit Ara setelah durian dan bau kucing yang sudah tidur lama. 

Umm, sisa cerita malam itu sudah diceritakan Nugi di blognya. Kurang lebih sama. Tbh, saya ingin ini ingin itu banyak sekali sama Nugi di kamar hotel. Apa daya, saya datang bulan hari itu dan cuma bisa guling-guling di kasur menahan kram perut nan menyiksa. 

Yah, mau nggak mau harus disyukuri sih. Tuhan ternyata masih melindungi komitmen pacaran kudus kami dari godaan setan yang mungkin menyelinap di dinginnya Bandung malam hari. Ya. Meski harus dengan jalan penuh penderitaan gini. (Ya Tuhan, prosesi sah di altarnya bisa dipercepat nggak? ) 

Btw, kalau Nugi punya nasi goreng sebagai comfort food, saya adalah tim sate padang. Sayang, setelah makan malam bukannya membaik, saya malah muntah-muntah di toilet. 

Pelajaran nomor satu untuk kalian yang baru pertama kali menginjak Bandung : Jangan. Pernah. Pesan. Sate. Padang. 


Pesanlah cuanki saja. Atau seblak. Atau cilok. 

Mahulana, Ksatria di Balik Lensa


Jumat (18/12) keesokan harinya, saya dibangunkan Nugi dan Mahul pagi-pagi sekali. Kepala saya masih gliyengan sejujurnya. Tapi schedule pemotretan sudah menunggu. (Tsaaaahhhh!!!) 

Memaksakan diri mandi dan dandan tipis pagi-pagi demi menyamarkan wajah pucat, saya siap foto-foto. Sama seperti Nugi, saya juga tidak menyangka Mahul se-total itu. 




Melihat hasil foto-foto "prewedding" kami yang luar biasa, saya tidak berpikir dua kali untuk meminta Mahul untuk memotret acara pemberkatan nikah kami kelak. Tentu kami siap jika harus membayar Mahul secara profesional, lengkap dengan transportasi dan akomodasi full service-nya di Palembang. 










Sayang sekali, Mahul menolak dengan halus. "Saya nggak pernah mau motoin nikahan temen, Teh. Soalnya saya nggak mau lihat yang lain senang-senang, saya sibuk kerja sendiri. Kalaupun saya datang ke Palembang, saya pengennya ikut senang-senang juga bareng tamu yang lain… "


Tidak selamanya orang ke-tiga adalah setan


Hmm. Iya juga sih. Baiklah, Mahul, kami mengerti. Tapi kabari segera kalau berubah pikiran ya, siapa tahu kan… 

Mantan VS Masa Depan

Usai sesi foto yang menyenangkan dan sarapan di hotel, Nugi masih harus lanjut kerja karena belum libur. Saya yang dicuekin, memilih chat mas mantan mengatur janji ketemuan. 

Well, sebetulnya saya belum terlalu siap jumpa mantan setelah pertemuan terakhir kami pada empat atau lima tahun silam. Apa daya, Ibu Ratu menitipkan mandat oleh-oleh yang harus diserahkan. Iyaaa, segitu sayangnya emang emak saya itu sama mas mantan πŸ˜‚

Kami janjian di KFC Pasar Baru setelah salat jumat. Yang dekat saja. Cukup turun dari hotel. Tempatnya juga sepi dan lumayan nyaman untuk Nugi menemani kami ngobrol sambil kerja. 

Kesan pertama setelah jumpa mantan? 

Ya ampun. Nggak berubah banget dia. Masih sama kurusnya. Cuma terlihat sih makin dewasa (ya iyalah, udah punya anak). 

Kami bertukar kabar terbaru sekaligus mengenang kisah lama. Meng-ghibahkan teman-teman lama kami. Saya juga membereskan "utang" yang menghantui saya bertahun-tahun ini (yang ternyata mas mantan lupa kalau dia pernah memiutangi saya). 

Berkali-kali saya menyelidiki perasaan sendiri. Saya merasa harus membereskan perasaan lama yang mungkin masih tersisa. Bagaimanapun, pria yang sekarang statusnya sudah jadi laki orang ini pernah begitu berarti dalam perjalanan hidup saya. Dia lelaki yang bikin saya sangat sulit move on. 

Saya merasa akan sangat berbahaya untuk lanjut ke jenjang berikutnya bersama Nugi jika saya terus menerus menoleh ke belakang. Kalau memang masih ada rasa yang tertinggal, mending break dulu kan ya? 

Dan saya rasa, saya tahu jawabannya. 

Jadi, sekalipun saya ngobrol berhadapan dengan mas mantan, ekor mata saya selalu mencari-cari keberadaan Nugi (yang sebenernya cuma di sebelah saya persis). Bahkan beberapa kali saat membahas kisah-kisah emosional, saya sampai merasa perlu menggenggam tangan Nugi di bawah meja untuk menenangkan diri. 

Saya sempat dengan kejam membandingkan keduanya dalam hati. Oh, jelas… dilihat dari sisi mana pun, tetap mantan yang menang πŸ˜‚πŸ˜‚ Mantan jauh lebih sabar, menyenangkan, dan dewasa ketimbang Nugi. 

Nugi aja mengakui kok. Saat perjalanan kembali ke hotel, dia bilang "Si X itu baik dan menyenangkan banget orangnya. Dan sampai sekarang pun kelihatan banget dia sayangnya sama kamu… "

Ya. Sayang mas mantan memang nggak berubah. Dari dulu dia begitu. Tapi ya sudah. "Cuma" sayang. Sebatas sayang. Nggak lebih. Dan nggak pernah lebih. 

Bukan cinta. Apalagi hasrat seorang lelaki ke perempuan. Jauhh... 

Dari dulu mas mantan memang begitu. Saya-nya yang terlalu GR. Saya terlalu bodoh sebagai cewek, karena belum bisa membedakan antara sayang dan cinta. Saya tidak tahu bedanya perhatian dan kasih sayang sebagai saudara atau sebatas sahabat, dengan keinginan dan hasrat untuk menjadi teman hidup hingga usai usia. 

Ah, itu dulu. 

Sekarang saya sudah tahu. Setelah melihat sendiri wujud cinta itu. Ada di Nugi. Terlihat jelas. Karena cowok itu yang akhirnya menunjukkan pada saya bahwa ada perbedaan amat besar antara cinta dan sekadar sayang. 

Nugi selama ini sangat percaya diri jika menyangkut perasaan saya. Bahkan saat memenangkan hati saya setahun lalu, dia dengan songongnya menikung seorang cowok yang sudah 4 tahun dekat dengan saya. 

Namun saat bertemu dengan mantan, untuk pertama kalinya saya melihat kegelisahan dalam diri Nugi. Bukan kecemburuan sih, tapi semacam kepercayaan dirinya selama ini terusik. Dia mungkin tidak sadar hal ini dan mungkin menyangkal jika ditanya langsung. Tapi menurut saya, Nugi cukup ekspresif kok... 

Nugi terlihat sedikit terganggu dengan begitu naturalnya interaksi saya dengan mantan. Saya memang jauh lebih luwes sih di depan mantan ketimbang saat bersama Nugi (Saya bahkan sempat "memalak" mantan, dan seketika dapat Rp 50 ribu yang menurutnya sudah cukup untuk jajan es duren di Bandung. Dengan orang lain mana berani saya begitu πŸ˜‚πŸ˜‚). 

"Aku yakin ini cuma soal waktu. X peka dan memahami kamu karena dia udah kenal lama sama kamu. Aku cuma kalah start masuk di hidupmu, " kata Nugi menghibur diri. 

Saya senyum-senyum sendiri lihat ekspresi Nugi saat ngomong itu. Sebagai pacar yang baik, saya merasa perlu menenangkan Nugi. Meyakinkan dia kalau saya sungguh sudah berdamai dengan masa lalu. Yang sudah biarlah berlalu dengan kesudahannya. 


Kalau boleh saya analogikan, mas mantan itu seperti pohon rindang di tepi jalan. Rimbun nan teduh di tengah terik dan padatnya lalu lintas kehidupan. Dia mampu menimbulkan rasa nyaman dalam diri dan bikin saya selalu ingin kembali meski hanya sekadar memetik buahnya barang dua atau tiga buah. Buah bernama ketulusan persahabatan dan persaudaraan yang nyata serta nggak lekang oleh waktu di tengah begitu banyaknya senyum palsu di dunia ini. 

Sementara Nugi adalah rumah. Yang mungkin belum selesai dibangun, atau masih butuh renovasi di sana-sini. Tidak (atau belum) terlalu nyaman karena masih banyak "perabotan" yang harus dilengkapi. Masih ada banyak proses yang harus dilalui. Tapi di rumah inilah saya tahu saya akan bisa tidur dengan nyenyak. Ada ketenangan dan kenyamanan aneh meski hujan badai topan berlangsung di luar sana. Nugi adalah rumah tempat saya bisa merasa pulang. 

Wahai Nugi, Mas mas Jogja kesayanganku ..., kalau kamu baca ini (dan aku yakin kamu akan baca ini) ... Tenang ya. Selagi kita terus pupuk dan rawat cinta ini, aku jamin nggak ada satu mantan pun yang bisa merampas hatiku darimu. Seperti katamu, kita ini adalah pasangan yang telah mengalahkan dunia dan hantu masa lalu. 

Kuharap, selamanya begitu. 


Akhir kata, 

Terima kasih, Bandung… 

Untuk membereskan segalanya. 


To be continued ~











10

 

Semua Bisa Berubah Maju - Melly Goeslaw



Belakangan ini di timeline sosial media bersileweran video-video lypsinc lagunya Teh Melly Goeslaw yang baru dengan judul Semua Bisa Berubah Maju. Tapi ternyata susah euy nyari liriknya. Padahal enak ini lagunya buat sekadar gerakin badan. 


Nah, buat yang nyari lirik lagu Semua Bisa Berubah Maju, ini aku tuliskan buat kalian. Kalau misalnya nanti ada yang sekiranya salah, tolong dikoreksi di kolom komentar ya... 😘



SEMUA BISA BERUBAH MAJU 

Melly Goeslaw


Bergerak terus bergerak

Nyalakan api semangat 

Kita buat semesta dan bumi pertiwi senang


Serentak kita melangkah

Demi masa depan yang cerah 

Lakukan perubahan , berubah untuk maju


Bersama jalin semangat

Bersama kita pantang menyerah

Mewujudkan harapan yang baru

Demi Indonesiaku

Semua bisa berubah maju



0



Saat ini seharusnya saya sedang menghitung hari untuk rencana perjalanan ke Jogja bertemu calon mertua. Tapi apa daya, si coro yang bikin merana itu bukannya mereda, malah kian merajalela.

Alhasil saya jadi punya alasan untuk uring-uringan. Masalahnya, jadi belum tahu pasti kapan bisa jumpa lagi Mas tersayang. Ya ampun, kenapa sih saya harus terkurung di Palembang?


Tuh kan.

Badmood lagi.


Sudahlah. Kawan-kapan saja dilanjutkan postingan ini. Kalau sudah baekan.




1

"Denganmu, aku merasa memiliki arti... "
( Nugisuke, 2020)


Ragi Story | kucingdomestik.com



Suatu hari di bulan Februari, sebuah buku mendarat di kosanku... Bukunya seukuran buku gambar. Lumayan tebal mengingat halamannya sedikit saja. Tak heran, kualitas kertasnya benar-benar bagus.

Saat kubaca, begini isinya :

Ragi Story : page 1


Aku tak pernah menyangka bagaimana dunia maya menjadi awal mula pertemuan dan kisah kita.

"Mas Nugie, ini Araaaa

Aku nggak install messenger lagi.
Aku lihat nomormu di info kontak FB,"

Begitu sapamu di 2 Oktober 2019.

Awal mula kita menjalin cerita
memupuk cerita
tumbuhkan asa...

Sejak hari itu, kita pun terlibat dalam obrolan tiada henti.

Dari sekadar obrolan ringan sambil menyesap kopi,
hingga perbincangan di telfon hingga larut malam hari



Ragi Story : page 2
Sejak itu, hubungan kita makin dekat
Meski kita terpisah tempat, namun kamu bagai memelukku erat

Hey, aku bahagia dengan hadirmu
Aku suka dengan tawamu
Suaramu adalah melodi bagiku

Aku tak lagi pemuda kesepian yang setiap malam sendirian berkawan gawai. 
Aku memilikimu, gadis berkacamata yang mampu melihat menembus benteng pertahananku. 

Denganmu, aku merasa disukai
Aku merasa disayangi
Aku merasa memiliki arti... 


Ragi Story : page 3


Sabtu, 18 Januari 2020, kita akhirnya bertemu. 
Di stasiun LRT itu, kau menjemputku 
Kau menyambutmu dengan sebuah senyuman, lalu pelukan yang rasanya enggan kulepaskan

Bersama kita berkendara menyusuri jalanan kota Palembang yang keras. 

Ragumu terkulai di atas bahuku, 
tanganmu terangkul mesra melingkari perutku

Tak disengaja kita melintas di atas Musi, 

melalui jembatan Ampera pulang-pergi
Pagi itu sungguh menghangatkan hati

Ragi Story : page 4
Terima kasih untuk segala kecemasan yang kaulemparkan untukku. Aku tahu, itu adalah caramu menyayangiku. 

Aku selalu tersenyum geli tiap teringat malam itu di Hotel Feodora

Nafasku sesak. Kau berusaha menenangkanku, namun justru berakhir aku yang menenangkanmu... 

Atau saat kita di -----  (maaf, disensor ya. Biar bagian ini kusimpan untukku sendiri :p) 



Ragi Story : page 5

Aku tahu, aku tak sempurna untukmu
Hari-hari kita pun bukanlah bebas konflik. 
Kadang aku merusak suasana hatimu atau membuat emosimu memercik. 

But hey, bukankah itu yang membuat cerita kita lebih berwarna? 

Perjalanan kita semakin berkesan? 

Yakinlah, semua amarah dan masalah ada untuk semakin membentuk kita, 

menguatkan jalinan hubungan kita. 

I won't leave you for that... 



Ragi Story : page 6
Jadi, mari kita terus berjalan melanjutkan perjuangan. 
Mengalahkan setiap hambatan menuju pelaminan. 

Ingatlah, tiap kali kau ingin menyerah, ada mas mas Jogja yang tak pernah melepaskan harapan untuk kita. 


Yang bisa kau buat tersenyum, 

yang bisa kau buat merasa berharga, 
Yang bisa kau buat merasa disayangi



Ara, gadisku, 

kamu itu berharga
Kamu itu istimewa
Kamu itu tiada duanya... 


Ragi Story


***



Saya nggak tahu harus bilang apa pada penulisnya, yang bukan hanya menulis dan menggambarnya sendiri... tapi juga repot menjilidnya jadi buku karena dia tahu ceweknya ini sungguh tergila-gila pada buku.

Berterima kasih rasanya terlalu klise dan nggak sebanding sama kerja kerasnya.

Tapi lewat postingan blog ini,
saya mau bilang...

Dia bukan cuma berhasil membuat buku terindah untuk saya miliki, tapi dia juga berhasil membuat saya merasa teramat dicintai.

Belum pernah ada seorang pun yang berbuat demikian sama saya.


Hey, Mas.
Justru kamulah yang membuatku merasa memiliki arti, tahu?


11


"Saat hidup tak berjalan seperti yang diinginkan, selalu ada rancangan Tuhan yang mengatasi segala kebaikan..."  Arako, 2020.



Sarjana Sastra




2008, 

Gadis 17 tahun itu membeku. Dia bisu sediam patung Buddha, tak tahu harus bagaimana kala melihat sosok lelaki yang paling dihormatinya itu berurai air mata. Ayahnya menangis. Di sini, di kamarnya. Tempat si gadis mengurung diri setelah hampir 2 bulan lamanya. 

"Maafkan papa, nggak bisa menguliahkanmu... "

Lelaki paruh baya itu berucap. Berulang-ulang. Penuh penyesalan. Si gadis tahu, hati ayah telah sama hancurnya. Si gadis yang sudah diterima di jurusan ilmu komunikasi sebuah PTN tanpa tes itu harus benar-benar mengubur mimpinya dulu tentang dunia kampus. 

Hanya otak labil remajanya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin belum sampai 2 tahun lalu ayahnya sanggup membelikannya motor matic keluaran baru untuk dibawanya sekolah, juga ponsel N6600 yang harganya masih Rp 4 juta..., tapi HANYA menyediakan uang Rp 1 juta untuk syarat daftar ulang saja tidak sanggup. 

Bercandaan macam apa ini? Sungguh nggak ada lucu-lucunya. 

Tapi satu hal yang pasti, air mata itu jelas bukan bercandaan. Si gadis tahu, perangai keras ayahnya tidak pernah mengizinkan dia menangis. Namun lihatlah beliau sekarang... Menangis dan menangis. Hanya kata maaf yang keluar di sela isaknya.

Si gadis terpekur. Dia bisa apa? Memang salah siapa sih kalau keluarganya bangkrut? Kalaupun tahu siapa yang salah, tidak akan pernah mengubah keadaan saat itu. Memangnya dia mau diam di kamar terus seumur hidup? 

Wahai putri bungsu nan manja, bangun! Terjagalah! Buka matamu lebar-lebar. Kamarmu ini bahkan sebentar lagi juga bukan milikmu lagi. Rumah ini sudah dijual, ingat? Hanya tinggal menghitung hari untuk mengepak barang-barangnya. 

Si gadis mengusap air matanya. Memegang tangan ayahnya yang dulu begitu sering menabok dirinya yang masih kecil karena memang bandel dan nakal luar biasa. 

Ditatapnya mata ayahnya dalam-dalam... 

"Pa. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Yang sudah ya sudah. Nggak bisa diapa-apain lagi. Aku sekarang mau nangis darah juga tetep nggak bisa kuliah ya itu fakta... harus diterima. Tapi aku nggak mau nyerah sama mimpiku. Papa tenang saja, aku bakal tetap kuliah suatu saat nanti. Tolong doakan saja, saat aku beneran bisa kuliah nanti... aku akan pakai uangku sendiri. Aku janji... "

Hari itu, dengan usapan lembut sang ayah di puncak kepalanya, si gadis berhenti dari aksinya mengurung diri. Dia mulai menyiapkan berkas lamaran kerja. Tidak lupa menulikan diri dari semua kabar teman-teman sekolahnya yang sibuk dengan dunia mahasiswa baru. 

Ya. Hidup kadang memang sebrengsek itu. Tapi menunda mimpi bukanlah akhir dari segalanya... 


2012,


Gadis yang sama tapi 4 tahun lebih tua itu sedang menangis di telepon. Di ujung sana, seorang sahabat cowoknya berusaha menenangkan. 

"Kapan memangnya terakhir bayar semesteran?"

"Tinggal besok... Dan gajian masih lama..."

"Ah, besok. Masih lama itu... Kamu tenang dulu lah... Masih bisa kita usaha---"

"BESOK KOK LAMA. SEBENTAR ITU! KALAU BESOK GA DAPAT UANGNYA GIMANA KULIAHKU, MAS???"

"Hey, hey... Lama atau sebentar itu tergantung kamu pake buat apa waktunya. 24 jam itu mungkin sebentar buatmu sekarang, tapi itu lama lho kalau kamu pakai -- berdoa, misalnya. Jadi... Sekarang, aku mohon kamu tenang dulu. Terserah gimana caranya. Doa yang bener-bener. Yakini satu hal, kamu masih tetap bisa bayar semesteranmu... "

Beberapa minggu kemudian, 
Si gadis yang semringah habis gajian menemui sang sahabat. Mengulurkan setumpuk lembaran uang merah yang masih wangi dan mulus. 

"Nih, utangku bayar semesteran kemaren. Plus lebihan buat bayar denda cicilan motormu. Bilang maaf juga ke ibu kosmu karena telat bayar..."

"Nggak usah, " tolak si sahabat tak terduga. 

"Lho? Kok nggak usah? Aku bilangnya minjem lho kemaren, bukan minta... "

"Iya. Tapi sekarang kamu pegang aja uangnya. Sebulan ini kamu gimana mau liputan kalau gajimu habis buat bayar utang...."

"Lho..., kok?"

"Kamu cuma harus janji satu hal sama aku..."

"Hmm?"

"Selesaikan kuliahmu. Apapun yang terjadi, kamu harus lulus. Aku akan anggap lunas utangmu begitu kamu udah sarjana nanti. Okay? "

"Tapi..."

"Aku nggak butuh tapi, aku butuh janji..."

"Umm... Okay... Aku janji sama mas... "

"Janji apa?"

"Janji selesaikan kuliah dan jadi sarjana... "

Hidup masih tetap sama brengseknya. Tapi selalu saja ada orang baik yang hadir untuk menghangatkan hati dan menjamin senyum. 

***


Tapi pada kenyataannya, perjalanan untuk lulus kuliah rupanya nggak pernah semudah itu, Maemunah! 

Iya. Gadis di cerita itu saya sendiri. Di masa lalu. Meski sudah diniatkan untuk lulus kuliah secepatnya (karena sudah merasa sangat ketinggalan), nyatanya dunia kuliah saya sama brengseknya. 

Mencoba kuliah Ilmu Komunikasi sembari bekerja, ternyata gagal. 3 kampus berbeda saya jalani dan nggak satupun yang selesai. Masalah utamanya bukan lagi biaya, memang (Puji Tuhan kerjaan waktu itu memungkinkan saya punya tabungan yang lebih dari cukup buat kuliah), tapi manajemen waktu. 

Belakangan baru tahu itu erat kaitannya dengan saya yang ternyata punya otak ADHD. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. 

Namun janji yang sama pada dua orang berbeda bertahun lalu itu benar-benar terasa seperti utang besar yang harus dilunasi. Saya terbeban. Saya tertekan. Tapi sekaligus juga jadi pemicu untuk nggak menyerah sama mimpi. 


Tahun 2015 saya pindah dari Bengkulu ke Palembang. Karena bingung tidak ada kesibukan, saya memutuskan kuliah lagi. Awalnya masih tetap ngotot ingin Ilmu Komunikasi, sungguh saya masih penasaran sama jurusan ini. Tapi Ibu Ratu menyarankan ambil sastra saja. Saya butuh sesuatu yang baru. 

Ya sudah sih. Tidak ada salahnya mencoba. Sastra juga sepertinya tidak buruk-buruk amat. Terlebih, ingin juga punya gelar yang sama dengan sahabat yang memiutangi saya itu. Dia lulusan sastra arab sebuah universitas Islam di Bandung. 

(Eh, belakangan baru tahu kalau gelar saya dan dia akhirnya berbeda. FYI buat yang mungkin belum tahu, lulusan sastra bisa berakhir jadi S.S  atau S.Hum, tergantung pada fakultas mana prodi sastra tersebut bernaung. Kalau fakultas sastra, gelarnya jadi S.S. Kalau fakultas ilmu sosial budaya seperti sahabat saya itu, jadinya S.Hum). 

Semester genap 2015, saya mulai kuliah. Sastra Inggris di Universitas Terbuka Palembang.  
Long story short, akhir 2019 selesai juga. Meski target cumlaude gagal dengan sukses karena pakai drama kecelakaan hebat yang bikin cedera kepala dan terpaksa cuti. Belum lagi perkara mental illness yang sungguh menghabiskan energi. 

Akhir minggu lalu, saya di-japri Ce Ria, teman seangkatan yang lulus duluan karena dia nggak pakai cuti. Disuruh ngecek daftar lulusan periode ini yang baru diumumkan website kampus. 

Di antara nyaris 1000 nama lintas prodi, nama saya ada. 

Heny Niagara

Yang sekarang nambah S.S di belakangnya. 

Mix feeling banget ini. Kaya yang..., ada sedikit malu dan minder karena teman-teman seangkatan wisudanya udah S2 atau malah ada yang S3. Tapi juga seneng dan bangga, meski jelas euforia berbeda dengan kalau misalnya saya kuliah "normal". Senang dan bangga, haru juga mungkin ... bukan sama gelarnya, tapi lebih ke ingat semua proses dan perjalanan panjang melewatinya. Wow, Ara, kamu hebat! 

Ah, iya. Juga tentang sebuah utang janji pada dua lelaki itu yang akhirnya lunas sudah. 

Satu-satunya penyesalan mungkin ya cuma karena papa yang nggak bisa mendengar langsung kabar gembira ini. Sedih, andai bisa lulus lebih cepat, papa masih bisa mendengar saya yang berterima kasih langsung. Bahwa berkat doa dan restunya jugalah saya benar-benar bisa selesaikan kuliah pakai uang sendiri. 

Tapi ya sudah lah, sekali lagi saya mau bilang : Hidup memang sebrengsek itu. Pffftt, sudah kebal ini kaya'nya. 

"Pa, terima kasih untuk semuanya. Juga maaf, untuk segalanya. Satu yang pasti sekarang, Anak gadismu ini betul-betul bukan si bungsu manja yang dulu lagi, kan?"


Dan terima kasih juga, untuk Mas Cep, sahabat terbaik yang pernah dan akan selalu saya miliki. Dukungannya yang ga pernah habis, doa-doa paling tulusnya... bahkan sampai sekarang ketika hidup kami sudah nggak sama lagi. 

Sebetulnya, saya nggak tahu sih dia masih ingat soal utang-piutang itu apa nggak. Habis dia itu tipe orang yang mudah lupa hal-hal sepele (Iya, duit buat dia benar-benar termasuk hal sepele di masa itu. Kami bukan cuma terbiasa saling ngutang, tapi juga biasa foya-foya menghabiskan gaji bersama πŸ˜‚ seperti berburu durian sampai mabok atau khilaf di gramedia) 

Tapi saya  jelas nggak akan lupa. Meski nominalnya persisnya saya sudah nggak ingat lagi. Pfffttt... Dasar. Tapi kisaran Rp 2 juta sih, kalau tidak salah. 

"Ndunk..., kalau kau baco ini, lunas utang ambo yo...!!! "

8 tahun sudah saya menanggung beban utang pada sahabat saya ini, akhirnya terbebas juga. Legaaaaa... luar biasa. Kalau bukan berkat pertolongan Tuhan dan orang-orang terkasih, mungkin ya nggak bakal selesai juga. 

***

Dari sebuah catatan harian tidak penting ini, saya merasa perlu berbagi beberapa hal sama siapapun yang mau baca :

1. Sama sekali bukan kiamat kalau fase hidupmu berbeda dari mayoritas orang kebanyakan. Saat terlambat atau pun terlalu cepat saat menjalani satu fase kehidupan, kadang malah membuatmu semakin "kaya"  dan "berwarna" 

2. Nggak ada kata terlambat untuk pendidikan. Belajar, mencari ilmu itu baru berakhir nanti kalau sudah di Liang lahat. 

3. Hidup itu brengsek. Tapi Tuhan selalu baik 😊



Salam dari Tepian Musi. 

Kado wisuda dari Ossas buat Mommy :
Anakan Kadal



Nb. 
Berhubung lagi 
gempar corona ini, Mommy Ossas 
nggak tahu bakal wisuda apa nggak. Jadi yang mau ngasih kado, bisa langsung japri saja ya πŸ˜‚πŸ˜‚

Btw, Mommy Ossas lagi 
nggak sabar nunggu 
Ibu Ratu membayar nazar. Hahaha... Sejuta tahun lalu, 
beliau sempat 
bernazar bakal 
bla bla bla bla 
kalau semua
 anaknya sudah sarjana. 

Apa nazarnya? 
Nanti diupdate kalau sudah ditunaikan. 










.





"




43

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels