Newsletter

Menu
Recent Post



Wew. Judulnya kaya nganu banget ya? 😂

Tapi tenaaang... Isinya bukan ngotbahin orang kok. Demi apa saya nggak punya kompetensi apa-apa untuk itu. Cuma sharing pengalaman hidup kaya biasanya aja kok. Syukur-syukur bisa jadi berkat buat orang lain, kalau nggak ya sudah. Cukup buat jadi pengingat diri sendiri laiknya tugas sebuah catatan harian …

***

Ada satu kegelisahan yang saya sampaikan ke Tuhan. Kenapa sih hidup kaya'nya makin sulit? Tuhan juga kaya hobi banget mengabaikan saya (well, sebenernya saya tahu DIA nggak pernah benar-benar mengabaikan, tapi pokoknya saya merasa diabaikan. Gitu).

Maksudnya, dibanding sama dulu yang setiap doa kaya’ gampang banget dikabulkan. Setiap keinginan yang cuma terpendam dalam hati pun bisa tercapai. Easy!

Pernah lho dulu pas masih SMP cuma 'mbatin pengen banget bisa punya majalah Aneka Yes! tapi nggak punya duit plus ga berani minta ke ortu. Mana kalau beli jauh pula harus ke kota (saya di Bengkulu dulu tinggalnya rada di dusun sih). Sampai doa gini ke Tuhan “Duh Tuhan, yang bekas aja nggak papa deh. Aku cuma pengen baca cerpen-cerpennya.”

Eh, nggak lama pas main ke rumah temennya papa, pulangnya dikasih berdus-dus buku dan majalah. Tentu saja, isinya termasuk puluhan majalah Aneka Yes! Mana edisi lama yang halaman fiksinya lumayan mendominasi ketimbang edisi baru yang saat itu cuma penuh berita artis 😂

Tapi belakangan udah jarang banget ngerasain begitu. Bukan nggak dikabulkan sih, tapi apa ya? Semacam perlu usaha lebih keras  yang kadang sampe bikin capek kalau pengen mendapatkan sesuatu.

Ketika saya pertanyakan ini pada-Nya selama berbulan-bulan, akhirnya dijawab juga. Lewat khotbah seorang pendeta sekian minggu yang lalu.

***

Well, orang Kristen itu diajarkan bahwa Tuhan bukanlah pribadi yang Jauh-Tinggi-Tak Terjangkau. Dia justru sesungguhnya amat dekat dengan hidup manusia, laiknya seorang Ayah sendiri. Makanya sapaan ke Tuhan pun bilangnya “Allah Bapa”, “Bapa di Surga”, atau belakangan yang lebih ngetren di kalangan generasi milenial : “Papi J” alias “Papi Jesus”.


Saat iman kita baru lahir, maka Tuhan akan memperlakukan kita seperti bayi atau anak kecil juga. Ya, perlakuan orang tua ke anak kecil kaya mana sih? Dipeluk-peluk, disayang-sayang, dimanjain, apa kebutuhannya dicukupi, apa permintaannya dituruti… gitu-gitulah. Apalagi kalau misal anaknya  manis dan penurut, ortu makin seneng juga pasti ngasih hadiah macem-macem. Makanya, di fase awal kenal Tuhan … nggak heran dah kalau sukacita terus. Bahagia senantiasa …enak. Doanya dikabulkan mulu (nggak sedikit pula yang instan).

Sedikit ngingetin sama lagu “... Waktu ku kecil, hidupku … amatlah senaang….” 😂

Tapi seperti anak kecil pula, iman itu adalah sesuatu yang hidup. Dia bisa tumbuh dan berkembang. Makin besar si anak, katakanlah di usia remaja …  ortu pun pelan-pelan bakal “melepas”. Biar si anak belajar. Biar si anak mengerti apa itu tanggung jawab. Apa itu konsekuensi.

Apa masih boleh minta macem-macem ke ortu? Ya boleh dong. Ortu bakal masih tetap bertanggung jawab memenuhi kebutuhan si anak. Tapi si anak juga seharusnya udah paham, kalau ada yang namanya kewajiban seiring tanggung jawab yang makin besar. Misal udah disekolahin atau dikuliahin, ya belajarlah yang bener… misal udah dibeliin HP atau laptop, ya dijagalah baik-baik.

Di fase ini, anak juga mulai bisa "berpikir sendiri". Jika tadinya segala hal harus dikasih tahu dan diajarin, di sini mulai ngerti apa yang sebenernya boleh dan nggak boleh dilakukan. Orang tua nggak terlalu mengekang lagi, tapi memberi kebebasan dan kepercayaan pada anak. Namun di sini hubungan antara ortu sama anak akan mulai berasa renggangnya. Si anak sebenarnya tahu kalo ortunya tetap sayang dan nggak pernah mengabaikan, tapi justru si anaklah yang biasanya mulai menjaga jarak karena sibuk dengan dunianya sendiri.

Makin besar dan besar si anak, apalagi kalau udah kerja dan berpenghasilan sendiri … dia akan paham sendiri kalau minta macam-macam ke ortu itu udah nggak pantes lagi. Sebaliknya, dia akan mulai belajar memberi. Dia pengen menyenangkan orang tuanya.

Nah, seseorang dengan iman yang sudah sampai di fase ini biasanya bakal dengan gampang diidentifikasi dengan seberapa banyak (dan ikhlas) dia memberi. Sedekah , misi kemanusiaan ...atau pemberian dalam bentuk apapun yang dilakukan bukan lagi didasari oleh hukum tabur tuai alias “aku memberi karena pengen berkatku dilipatgandakan”, tapi justru lebih ke ungkapan rasa syukur dan terima kasih karena sudah TERLEBIH DAHULU dibaikin dan dipelihara selama ini sama Tuhan.

Di sisi lain, hidup juga pasti bakal makin penuh tantangan. Tanggung jawab makin besar. Masalah yang tadinya cuma sebatas tugas sekolah, mulai kompleks dengan masalah kerjaan atau relasi. Masalah iman yang tadinya mungkin sebatas ujian-ujian kecil, mulai menghadapi pencobaan yang macam-macam dan lebih berat.

Gimana sikapnya ke ortu? Ya tergantung pribadi masing-masing … ada yang cukup bijak dengan terbuka ke ortu jadi bisa dapat support yang dibutuhkan. Sebagian yang lain memilih sok setrong menghadapinya sendiri dengan berbagai alasan kaya “nggak mau membebani ortu,dll”.


Tapi pada akhirnya bakal paham sendiri kok … bahwa sejauh-jauh kita pergi. Kita selalu rindu pulang. Kita tahu cuma ortu yang sayang sama kita tanpa syarat. Gitu pun ke Tuhan … sejauh-jauh kita berusaha menyelesaikan masalah sendiri … pada akhirnya kita bakal cari Tuhan. Cuma Dia yang nerima kita apa adanya … Cuma Dia yang benar-benar bisa diandalkan.

***

Dalam khotbahnya, pendeta yang memberi saya pelajaran ini bertanya pada jemaat …

“Buat kalian yang sudah besar-besar, yang sudah kerja, yang sudah menikah dan berkeluarga … coba tanya ke ayah atau ibumu … apa yang sebenarnya paling diinginkan dari kalian? Apa yang bisa kalian lakukan dan paling menyenangkan buat mereka?”

Jemaat terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Mengira-ngira apa jawabannya.

“Saya yakin, jawabannya adalah waktu. Orang tua sebetulnya nggak butuh kalian kasih macam-macam. Kalian ajak bicara, kalian ajak komunikasi pun sudah senang. Apalagi yang tinggal jauh, sekadar ditelepon dan kalian ngabari tentang hidup kalian pun mereka bakal senang…apalagi kalau kalian sediakan waktu khusus buat nengokin.

Dan… kalian juga pasti sudah ngerti sendiri, bahwa di umur segini kalian nggak pernah perlu lagi minta-minta sama mereka. Kalian paham, orang tua manapun kalau mereka punya… kalau mereka yakin itu adalah yang baik buat kalian, mereka pasti bakal kasih. Nggak perlu kalian mohon mohon minta ini itu sampai nangis darah, kadang cuma bilang 'Pak E, si kecil mau daftar TK ini, bapaknya baru gajian seminggu lagi...bisa minta tolong dulu nggak, Pak?” hari itu juga kalau memang ada pasti ditransfer. Saya jamin itu.


Nah. Jika orang tua di dunia ini saja bisa melakukan hal seperti itu, apalagi Tuhan. Apalagi Bapa kita di Surga … DIA tentu jauh melampaui semua orang tua terbaik di dunia ini. DIA mengenal kita. DIA tahu isi hati kita.

Tapi laiknya orang tua, DIA juga ingin kita mengingat-Nya, menyediakan waktu untuk-Nya di sela apapun kesibukan kita. DIA ingin kita berkomunikasi rutin denganNya. Berapa lama kita menjadi Kristen? Di fase mana keimanan kita saat ini? Model anak seperti apakah kita? Sudahkah hidup kita menyenangkan hati-Nya?”

***

Khotbah itu jujur saja, telah menampar saya. Telak. Saya mungkin sudah lama berhenti berdoa untuk meminta ini-itu. Toh sudah lama tahu kalau pemberian Tuhan itu selalu yang terbaik tanpa harus repot meminta.

Tapi ada suatu hal lain yang menabok saya. Waktu ke dusun Ibu Ratu, saya tanya ke beliau. Apa yang paling diharapkan dari anak-anaknya yang sudah besar? Dan jawabannya persis sama : waktu.

Hadeehhh, waktu untuk orang tua di dunia saja sepertinya sangat minim, apalagi untuk Tuhan. Pun kalau sempat berkomunikasi, jarang sekali dari hati ke hati. Kebanyakan isinya cuma mengeluh atau komplain ini itu. Jarang sekali bersyukurnya. Jarang sekali berterima kasihya. Parahnya lagi, kadang komunikasi ke Tuhan juga cuma berasa sebagai rutinitas belaka. Belum lagi tanggung jawab dalam iman yang masih belum mampu dijalankan sepenuhnya… jauuuhh … masih jauuuhh….


Lha kaya gitu kok berani-beraninya ngedumel dan bilang hidup diabaikan Tuhan. Yang ada elu kali yang mengabaikan Tuhan, Araaaaa …!!!

Mbok tobat toh, Nduk!!


"Iman yang dewasa itu seperti anak yang sudah berkeluarga. Bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan orang-orang yang dikasihinya ... Tak lagi banyak meminta --apalagi menuntut-- untuk dibahagiakan orang tua, tapi juga tak menutup akses komunikasi pada mereka. Sebaliknya, dia justru akan lebih berhasrat mengasihi orang tuanya ... semakin rindu untuk bertemu... Semakin sering menelpon ...meski hanya sekadar berkabar atau meminta nasehat bijak menjalani kehidupan."


0

Spiderman Far From Home


Oh, jadi ini ceritanya bukan soal Peter Parker yang kabur dari rumah toh, pikir saya di awal-awal film. Maklum, saya kan menghindari semua trailer dan spoiler. Jadi nontonnya benar-benar dalam kondisi  kanvas putih alias nggak ada bayangan apa-apa. Nebak-nebak judul doang kirain si Peter kabur kemana gitu …

Peter emang lagi jauh dari rumah. Tapi “cuma” study tour bareng temen-temen sekelasnya ke Eropa. Widiihhh, langsung berbinar-binar ni mata ngintipin kota-kota cantik di sana yang nggak tahu kapan bisa didatangi langsung. Itali, Ceko, Belanda, Jerman, Inggris … dan favorit saya : Austria. Hijau-hijau pegunungannya itu lho. Adem, sampe berasa dalam bioskop (ppppfffttt, AC-nya terlalu dingin ya, Ar?)

Austria



Dari segi plot, standar banget sih menurut saya. Terlalu simpel. Tentang Peter yang sebenernya pengen liburan sekaligus pedekate sama MJ, tapi malah terjebak sama misi penyelamatan dunia. Siapa penjahatnya aja ketebak kok. Visualisasi dan sound effect meski tetep keren, tapi saya merasa agak nanggung. Mmm…, semacam “duh, harusnya bisa lebih waaaahhh dari ini!”

Meski begitu ni film fun banget lho. Jokes-jokesnya dapet. Beberapa emang garing, tapi cukup banyak yang bikin satu studio pecah. Dan tahu apa yang paling berkesan buat saya? Romance scenes yang bertebaran di sepanjang film.

Saya nggak tahu nih apa tepatnya yang bikin saya senyum-senyum sendiri kaya orang bego di kegelapan. Faktor Chemistry Peter-MJ yang makin dapet kah? Ned-Betty yang kisah cinloknya unyu banget itu? Mungkin juga karena  si Tante seksi May sama Om Happy yang kemunculannya saya jamin bikin ni film naik rating… atau bisa jadi juga nggak ada hubungannya sama film. Melainkan faktor someone yang kebetulan nemenin nonton? (Astaga! Apaan cobaaa 😹😹)

Found this fanart on FB. Kyaaa... I ship this two 😻


Oh, meski tadi saya bilang penjahatnya ketebak, dua adegan pasca-kredit itu sama sekali nggak ketebak. Wohooo ...layak banget ditungguin. Saya pas keluar bioskop tuh terus langsung mikir “Wah, bakal ada apa lagi nih film selanjutnya?”

Saya nonton di CGV Transmart Jumat (5/7) kemarin. Niatnya nonton jam 6 tapi kehabisan karena kejebak macet dalam perjalanan dari Plaju (lagian ngapain juga pake hujan segala). Alhasil cuma dapat yang nyaris jam 8 malam.

Studio cukup ramai. ¾ terisi. Nggak ada insiden berarti kecuali mas-mas di sebelah saya masih nggak bisa nahan diri buat stop mainin HP. Beberapa kali terganggu banget sama cahaya yang keluar dari HP dia. Separo penonton udah keluar bahkan sebelum aftercredit 1 selesai. Well, dimaklumi juga sih karena udah kemalaman.

Total skor … ummm … versi objektif 8 (mungkin kurang-kurang sedikitlah). Tapi karena ni film bikin mood saya stabil padahal lagi PMS, skor akhir saya kasih 8,5 deh. Intinya (lumayan) recomended lah ...

Dan mohon maaf buat yang baca postingan ini karena ngarepin lebih banyak bocoran. Saya bukan Kang Spoiler. Nggak mau mengganggu kenikmatan orang lain yang mungkin belum sempat nonton.

Udaaaahhh… buruan nonton sendiri aja sana sebelum turun layar!




Salam dari Tepian Musi ...
(Mommy Ossas).


::


Nb.

I have taken a photo with someone who accompanied me to watch this movie last night. I even got his permission to upload our pic on my blog.


But after I looked at the photo carefully, I've changed my mind. I like the pic so much. Umm ..., sorry for being selfish, but right now I just want to keep it for myself.









0




Halo semua, selamat datang kembali ke kenyataan. Haha ... lebaran baru usai. Ada yang THR-nya masih bingung mau diapain?

Gaji ketigabelas masih utuh?
Beli motor baru aja gih, biar akses transportasi tetap lancar meski jalanan sering macet.

Lha, kok motor, Ra?
Iya. Soalnya kan weekend kemaren habis nongkrong di acara akbarnya Yamaha di BKB bertajuk Yamaha Maxi Day 2019.

Sesuai judulnya, pengunjung disuguhi macem-macem tipe motor yang jadi bagian dari seri Maxi yang sudah dirilis sejak 3 tahun lalu. Saya sering dengar NMax, dan sudah pernah ngereview Aerox di sini … tapi sebenernya ada satu lagi yang nggak kalah kece, yakni tipe LEXI yang sampai saat ini punya 3 varian yakni Lexi Standar, Lexi S, dan yang terbaru : Lexi S ABS.

Ada 5 alasan utama kenapa Yamaha Lexi layak banget buat jadi pilihan untuk motor barumu. Berikut ulasannya :

1. Desain dan pilihan warna kece


Namanya juga seri MAXI, body motor ini jelas lebih besar dari matic-matic pada umumnya, jadi terlihat kuat dan kokoh. Tampilannya terlihat seksi dan elegan, terutama dengan lampu LED dan tambahan lampu Hazard yang berguna untuk kondisi darurat.

Selain warna standar merah dan hitam, Yamaha Lexi ini juga punya varian warna yang unik yakni
Matte Red, Matte Blue dan White Metallic.




2. Fitur Canggih



Nah, ada banyak banget fitur canggih yang ditawarkan. Lexi seri S dan S ABS telah mengusung Sistem Kunci Pintar (Smart Key System) untuk menyalakan motor. Dengan adanya sistem ini, Lexi bahkan dapat dihidupkan dengan menggunakan remote kontrol (wohooo, nggak kalah sama mobil cuyyy). Untuk manusia pelupa kaya saya, sangat tertolong dengan adanya fitur alarm yang akan berbunyi jika motor ditinggalkan dalam keadaan menyala.

Seri Lexi ini juga dilengkapi dengan Electronic Power Socket bagi kalian yang kehabisan daya gadget. Dengan EPS ini, kita bisa charge ponsel bila ada kebutuhan yang mendadak. Hari gini, kebutuhan pokok manusia memang ada 4 kan? Sandang, pangan, papan, dan casan 😹




Seolah belum cukup, speedometer digitalnya juga kece badai. Kita bisa tahu informasi apa saja terkait kendaraannya. Misal, kecepatan, konsumsi bahan bakar, waktu, hingga mesin. Plus, indikator ini juga bisa diubah tingkat kecerahannya sesuai lingkungan sekitar. Beuh, macem bunglon aja gaesss….

Seri ini juga punya Stop Start System. Bagian ini berguna untuk menghemat bahan bakar. Kalau pas lagi ketemu lampu merah yang lama, kendaraan akan berhenti. Menyalakannya pun gampang. Tinggal gas seperti biasa dan ngeeengg!




3. Bagasi Luas



Seiring kebutuhan yang makin banyak, kapasitas bagasi 12.8 liter ini membantu banget. Bisa buat nyimpan tas bahkan helm. Asyik nih kalau buat pergi berhari-hari dan agak jauh.

Selain itu, motor ini punya kapasitas tangki bahan bakar sebesar 4,2 liter.

4. Mengutamakan Kenyamanan



Tempat duduk yang nyaman dan lega bikin motor ini enak banget dipakai. Baik sendirian maupun berboncengan. Terus bagian pijakan kaki di bagian depan juga cukup lega … bisa sekalian buat naro barang 😹

Kenyamanan dalam menghadapi medan apapun juga terjamin dengan performa terbaik mesin. Ada Bluecore Valve Variable Acquitition (VVA) yang memberikan tenaga saat aktif di 6000 RPM. Lalu DiASil Cylinder & Forged Piston yang diadaptasi langsung dari motor balap sehingga memungkinkan kendaraan memiliki performa bagus hingga 50.000 KM. Plus sistem pendingin dengan cairan yang memungkinkan suhu kendaraan tetap stabil.

5. Harga Bersaing

Untuk semua keunggulan yang ditawarkan, harga Rp 20 jutaan tetap worth it lah ya. Khusus buat yang di Palembang, banyak promo yang ditawarkan lho. Termasuk tawaran layanan service langsung dari bengkel resmi Yamaha. Cusss, tinggal main dan tanya-tanya langsung ke dealer resmi Thamrin Brothers






0




Tadinya, saya berpikir cuma saya lho cewek yang pernah diremukkan hatinya oleh cowok gay. Ternyata salah besar. Seiring waktu, roda takdir mempertemukan saya dengan sejumlah perempuan lain yang bernasib serupa.

Terakhir, seorang teman, sebut saja Mawar, malah udah tunangan dan bersiap menikah lho. Sebelum akhirnya si cowok memilih mundur. Meninggalkan Mawar dengan hati yang sama remuknya dengan hati saya kira-kira sejuta tahun lalu.

Well, tulisan ini khusus saya buat untuk Mawar, juga Mawar-Mawar lain yang mungkin juga lagi berjuang untuk move on dari lelaki terbaik yang pernah ada itu …


***

Dia berbeda dengan semua pria yang pernah hadir di hidup kita. Pria tampan dan manis, perhatian, selalu ada untukmu, atau pendengar yang baik plus teman ngobrol asyik mungkin tidak terlalu sulit dicari. Namun satu hal lain dia miliki dan nyaris mustahil ditemukan di grup lelaki-straight : Peka.

Orang lain mungkin nggak akan ngerti, betapa asyiknya dingertiin saat monster PMS menyerang. Atau saat cuma pengen nangis atau marah sepuasnya tanpa harus ditanyain “kenapa?” atau “aku harus gimana?” (yang seringnya cuma malah bikin kita makin terpuruk).

Kita sulit mendeskripsikan. Tapi perasaan “safe and warm” yang selalu ada setiap kali di dekat dia itu beneran nyata. Sebagai cewek, kita ngerasa disayang dan dihormati yang bener-bener, tanpa pernah sedikitpun ngerasa khawatir bakal dilecehkan atau takut diminta ngelakuin hal-hal yang sebenernya nggak kita inginkan …

Cuma hal ini yang bisa kita terjemahkan : dia cowok baik dan sempurna.

Bahkan setelah semua topeng itu terbuka dan kita kemudian tahu kebenaran yang menghancurkan hati itu … kita nggak akan pernah sampai hati membenci dia. Sesakit apa pun … seluka apa pun …  kita malah cuma berakhir pengen memeluk dia. Kita pengen menentramkan dia seperti dia sudah melakukan hal yang sama ke kita selama ini.

Namun keadaan dengan cepat memburuk. Kita jadi frustrasi. Berusaha menjauh dan kalap pengen ngelupain semuanya dengan instan. Lalu terjebak dengan siklus cari-pengganti-secepatnya demi bisa move on dan mengakhiri rasa sakit.

Dan kita sama-sama tahu. Semuanya cuma berakhir gagal. Kita makin tenggelam dalam frustrasi. Belum lagi kalau ditambah sikap dia yang bertahan (seolah) nggak-mau-ngelepasin-kita, padahal jelas-jelas udah nggak ada masa depan. Karena udah terlanjur ngerasa saling ngerti 100%.

Kamu, yang lagi ngerasain hal kaya gini. Yang lelah dengan semua ini. Yang rindu membebaskan hatimu dari belenggu masa lalu… saya pernah menggumulkan hal yang sama lho. Bukan setahun dua tahun … nyaris sewindu.

Kalau air matanya dikumpulin, mungkin udah jadi satu kolam renang 😅 Lebih dari itu, saya lebih menyesal dengan nasib cowok-cowok baik yang terpaksa jadi pelampiasan rasa frustrasi saya. Yang nggak pernah benar-benar saya cintai, tapi terlanjur dipacari dengan harapan bisa membantu saya ngelupain dia.

Tapi Puji Tuhan, akhirnya saya benar-benar bisa move on. 100%. Berikut upaya yang saya lakukan sampai akhirnya bisa lepas… (well, karena ini pengalaman sendiri, nggak menjamin bakal sukses diterapkan ke semua orang juga sih. Tapi semoga bisa jadi inspirasi).

1. Stop berusaha membenci ....

Ga ada gunanya. Cewek cenderung lebih gampang ingat yang manis-manis ketimbang “kejahatan” dia. Jadi udah … biarin aja. Akui saja kalau dia emang cowok terbaik … and best boyfriend ever. Mau ketemu cowok manapun, bakal tetep kalah kok sama dia. Terima, kalau emang kita nggak akan pernah nemu cowok yang bakal se-perfect dia jadi pacar.

Kita nggak salah kok mencintai dia. Dia memang berkualitas untuk dicintai.

2. Ubah Mindset ...

Dia emang pacar terbaik, tapi akankah jadi suami terbaik pula?

Yok, ajak dirimu memikirkan hal ini. Dia memang cowok terbaik untuk dijadikan pacar, karena semua yang kita butuhkan dalam hubungan pacaran dia udah sediakan semuanya. Perhatian, kasih sayang, penerimaan, kesediaan waktu-tenaga-pikiran-uang, kepekaan … dan dia melakukannya dengan sempurna (nyaris mustahil disaingi pacar-pacar kita setelahnya).

Cuma satu yang nggak bisa dia kasih, sexual things. Dan faktanya emang kita nggak (atau belum) butuh itu saat pacaran. Makanya kita nggak merasa kurang. Kita malah seneng karena hati dan otak kita udah di-set, di mana lagi nemu cowok baek-baek begini?

Tapi begitu kita berpikir ke jenjang berikutnya : pernikahan (ayolah, masa mau terus pacaran doang sampai Jan Ethes jadi presiden?), pikiran kaya gitu udah nggak bisa dipakai lagi. Nikah butuh sex, cuuyy!!!

Kalau si dia biseksual, ya masih ada harapan buat dinafkahi batin. Tapi kalau dia pure gay gimana coba?

Yakin betah ga disentuh? Bahkan kalau dia dengan alasan tertentu (pengen berketurunan atau apa) tetep bisa nyentuh kamu, siapa yang ngejamin siapa sosok yang dia bayangkan di otaknya pas lagi main sama kamu?

Atau yang lebih parah lagi, kalau ternyata dia balik ke “habitat”nya setelah menikah (dan ini banyak kejadian lho) … atau… kamu beneran yakin pengen dia untuk jadi sosok ayah dari anak-anakmu?




Kalau diri aku yang paling jujur sih jelas jawabannya nggak. Makanya aku sounding ke diri sendiri : “Dia pacar terbaik, tapi bukan suami yang baik. Aku pengen laki, bukan pacar …”

3. Putuskan Kontak ...

Klise.
Tapi ini wajib. Tanpa putus kontak, seluruh dunia akan selalu mengingatkan kamu sama dia. Nggak peduli sejauh apapun kamu pergi.

Stop keinginan menghubungi atau caper ke dia dalam bentuk apapun. Stop ketergantungan kita akan sosoknya.

Bayangkan dia itu narkoba. Iya, dia bikin kita tenang dan damai … tapi itu cuma ilusi. Kita dirusaknya pelan-pelan ...dari dalam. Kita bahkan sanggup berpikir kalau kita nggak akan pernah bahagia lagi tanpa sosoknya…

Butuh 2 tahun full untuk saya tanpa komunikasi sampai akhirnya benar-benar lepas. Yang terberat jelas di awal … efek “sakaw”-nya itu lho. Percaya nggak, saya sampai harus ke psikiater 😹

Lha selama ini tiap ada masalah sebesar apa, cukup dengar satu dua patah kata dari dia udah langsung ok lagi. Tapi tanpa dia semuanya harus dihadapi sendiri ….

Nggak terhitung godaan untuk mulai ngebales chat dia ...tapi ditahan-tahan. Saya bahkan bikin aturan tegas ke diri saya, kalau sampai saya ngebales pesan dia ...atau mulai buka obrolan atau curhat ….harus langsung diblokir.

Eh, ternyata saya cukup tangguh juga. Sampai lewat 2 tahun masih belum diblokir juga ternyata … cuma unfol doang.

4. Libatkan Tuhan ...

Ini harusnya ditaro di nomor 1 sih. Bukannya memang cuma Dia yang berkuasa membolak-balikkan hati?

Saya percaya, kebebasan saya dari belenggu ini nggak lepas dari campur tangan Tuhan. Tanpa pertolongan dari-Nya, mungkin saya masih bakal terus ngarep dan baper tak berkesudahan.

Setiap kali saya “sakaw”, saya doa, nangis ke Tuhan. Saya bawa semua sakit, kecewa, penyesalan, frustrasi ...semuanya itu ke Tuhan. Saya juga mohon ke Tuhan untuk pulihkan hati saya.

Jika di awal-awal saya bertindak sendiri dengan grasa-grusu “nyari ganti”, belakangan sudah nggak. Saya bahkan mohon banget ke Tuhan untuk nggak dipertemukan dulu dengan jodoh sampai benar-benar move on. Hurt people will hurt people.

Saya percaya, cuma hati yang sudah pulih dan sehat yang pantas buat lelaki yang tepat.

Sambil nunggu saat terbaik dari Tuhan, saya pilih sibuk meng-upgrade diri. Benar kok, banyak hal yang bisa kita lakukan ketimbang menangisi dia.

Hidup ini indah, tapi seringkali terhalang sama air mata. Ketika air mata itu akhirnya menyusut, saya baru benar-benar bisa melihat … kalau bener-bener ada seseorang yang jauh lebih baik dari dia di segala aspek.

Saya sudah lumayan lama mengenalnya, tapi semacam baru sadar belakangan ini setelah benar-benar move on. Well, saya belum bisa cerita banyak. Masih menanti lampu hijau dari Tuhan … sementara ya tetap upgrade diri dulu 😹




Nah. Saya yakin, nanti kalian juga pasti menemukan seseorang itu. Sekarang yang penting … move on dulu yuk …

Bebaskan dirimu!



Nb. 

Buat Mawar, stay strong girl!
Peluk yang banyak dari sini ... 

Jangan menyerah. Kamu berhak bahagia!





1

Thamrin Brothers : Halal Bihalal dan Buka Bersama Media (dan blogger)


Senin (27/5) pagi, saya lagi ngasih makan Ling Ling si anak bulu paling bungsu ketika di-WA Bimo. Katanya kami --para blogger--, diundang Yamaha Thamrin Brothers untuk ikut acara buka bersama dan halal bihalal bareng media. Lokasinya di Emilia Hotel pukul 5 sore.

Meski undangan dadakan, saya langsung meng-iyakan. Bosen euy di kosan mulu. Otak saya kan juga butuh rehat, sebentar lagi meledak gara-gara skripsi.

Sorenya, langsung meluncur ke hotel yang masih satu kompleks dengan Palembang Indah Mall (PIM) itu. Kali ini bareng si Eka, yang dengan terpaksa suka cita jadi mbak ojek 😹 Sempat nggak enak hati, karena kami pikir sudah terlambat. Habis pake ada drama macet (padahal udah lewat jalan tikus) dulu sih. Belum lagi pake acara bingung-nggak-tahu-parkir-di mana.

Tapi syukurlah, ternyata acara belum mulai. Berhubung sudah mepet waktu berbuka puasa, didahului dengan buka bersama dulu baru mulai acara inti. Cukup rame juga ternyata, ada sekitar 30 orang yang hadir (Well, saya nggak ngitung sih sebenernya. Pake ilmu kira-kira aja). Selain petinggi dan karyawan Yamaha Thamrin Brothers plus kawan-kawan blogger Palembang, ada juga teman-teman jurnalis dari sejumlah media.

Team Bloggers



Seperti biasa, setiap ikut acara “tugas negara” ala blogger begini, selalu saja dapat info baru yang amat layak untuk ditulis dan di-share. Nah, apa saja? Simak terus di ulasan berikut :

Beli Motor Gratis Motor, Mau?

Enggie Suwarno


Lho, ini serius lho. Bukan saya, tapi Pak Enggie Suwarno selaku GM Yamaha Thamrin Brothers yang bilang. Jadi dalam rangka anniversary, mereka emang lagi ada promo.

Kalian yang melakukan pembelian motor Yamaha tipe apapun di Yamaha Thamrin Brothers di dealer mana saja (dalam wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu), berkesempatan dapat kupon yang akan diundi. Bakal ada 5 motor yang menunggu dimenangkan, yakni  motor Yamaha R25 (1 buah), Yamaha Byson (1 buah), dan Yamaha Xabre (3 buah). Promo ini hanya berlaku hingga 31 Mei 2019 ini.

Program Kece untuk Para Lulusan SMK

Selama ini saya mikirnya Yamaha Thamrin Brothers itu “kerjaannya” cuma jual kendaraan. Ternyata saya salah, pemirsa. Asli, baru tahu kalau ternyata perusahaan ini sangat peduli lho dengan peningkatan SDM generasi muda kita.

Hal itu dibuktikan dengan adanya program Yamaha Engineering School (YES).  Program ini memberi kesempatan bagi 20 orang lulusan SMK untuk ikut pelatihan intensif langsung dari tim Yamaha selama 4 bulan bebas biaya alias GRATIS. Ini berarti, peserta bisa belajar langsung seluk beluk teknis dan teknologi sepeda motor benar-benar langsung dari ahlinya.

Agus Suryanto


Diungkapkan Trainer Yamaha Thamrin Brothers, Agus Suryanto, para lulusan YES tersebut diharapkan akan mampu menjadi seorang entrepreneur dengan membuka usaha bengkel atau menjadi teknisi andal di bidang sepeda motor.

Jadi buat kalian lulusan SMK tahun 2016-2019 yang pengen nambah ilmu, buruan gih daftar mumpung masih buka. Coba datang langsung ke Yamaha Thamrin Brothers A Rivai di Jl Kapten A. Rivai No. 9 Palembang dengan memberikan persyaratan berikut :

Syarat pendaftaran YES


Setelah semua persyaratan lengkap, peserta nanti ikut tes tertulis dan wawancara pada tanggal 9 dan 10 Juli 2019. Kalau lulus, tanggal 15 Juli 2019 nanti udah bisa ikut pelatihannya.

Team Thamrin Brothers




***



Makan udah, dapat info udah, dapat kenalan baru udah …  tapi tentunya bakal kurang lengkap kalau nggak pake foto-foto. Hehehe …

Ga diajak foto bareng 😿


Eh, diajak ding 😹


Intinya, acara ini asyik banget. Asli. Itu berarti pula, satu Senin lagi yang berhasil saya lewati dengan senyum dan keceriaan. Terima kasih Yamaha Thamrin Brothers Palembang.


0

Postingan kedua under-label "Blogger Ngaku Kristen"

Yang pertama di SINI


Kanker dalam Alkitab

Intro :

Jika teman-teman gereja saya hobi berbagi ayat Alkitab, maka saya lebih senang menyelidikinya. Membedah, mempertanyakan, bahkan mendebatnya kalau perlu … Entahlah. Rasanya itu jauh lebih seru dan menantang ketimbang hanya meng-copy satu dua ayat lalu meneruskan ke semua kontak saudara seiman yang ada di HP.

Alkitab bagi saya bukan cuma kitab suci, yang isinya cuma perkara rohaniah dan khotbah sana sini. Nggak. Sungguh, Alkitab nggak se-membosankan itu.

Dia lebih seperti sebuah rak dengan 66 buah buku lintas genre. Mulai sastra, biografi, petualangan, sejarah,kumpulan quote inspiratif, hingga “ramalan masa depan” ada semua. Beberapa di antaranya bahkan seperti buku misteri, puzzle atau mungkin juga kumpulan Teka Teki Silang yang menunggu dipecahkan pembacanya.

Dan postingan kali ini, cuma mencatat proses ketika saya berhasil memecahkan sebuah “misteri” kecil dalam Alkitab. Anggap saja pengingat, mana tahu saya pikun berapa tahun lagi 😂


***

Berawal dari celetukan seorang teman di WA yang bilang “Gue baru tahu, dari jaman Alkitab ternyata sudah ada penyakit kanker.”

Ya, saya tahu meski tidak pernah benar-benar memikirkannya sebelum ini. Tapi kalimat teman saya itu membuat otak saya gatal. Saya gelisah, ingin tahu apakah kanker yang disebut itu benar-benar kanker sebagaimana yang kita kenal di masa kini? Atau keterbatasan terjemahan saja? Mengingat Alkitab sudah ditulis sejak kurun waktu ribuan tahun lalu. Benarkah penyakit kanker sudah setua itu?

Seperti biasa, Mbah google menjadi rujukan awal saya dengan keyword “kanker dalam Alkitab”. Sayangnya, artikel-artikel yang ada nggak bikin saya puas. Malah ada satu artikel yang jadi rujukan utama mesin pencarian yang bilang Alkitab nggak mencatat soal penyakit ini sama sekali.

Padahal, Alkitab menyebut kata kanker satu kali kok, tepatnya di 2 Timotius 2:17 . Bunyinya begini :

Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus

Pencarian saya berlanjut dengan sejarah penyakit kanker, lalu menemukan sebuah tulisan dari cancer dot org yang kemudian dikutip Yulaika Ramadhani untuk tulisannya di website Tirto.

“ … Beribu-ribu tahun penyakit ini tidak memiliki nama. Hingga Hippocrates yang merupakan seorang dokter Yunani kuno (460-370 SM) menggunakan istilah karsinoid dan karsinoma untuk menggambarkan penyakit tersebut.
Dalam bahasa Yunani, kata-kata itu merujuk pada kepiting. Yang pada akhirnya diterjemahkan dalam bahasa latin menjadi cancer yang hingga kini digunakan untuk menamai penyakit tua tersebut.”

Nah, Hippocrates yang hidup tahun 460-370 SM pake kata Karsinoid. Sementara di Alkitab bahasa aslinya ---Yunani--- (yang saya lihat pake aplikasi My Sword Bible), kata kanker di 2 Timotius itu bentuk aslinya adalah kata γάγγραινα (gaggraina).

Gaggraina - Mysword Bible


Definisi Thayer tentang Gaggraina di aplikasi tersebut saya terjemahkan jadi :

“Sebuah penyakit yang menyebabkan bagian tubuh mana pun menderita peradangan dan membuatnya rusak. Kecuali jika obatnya diterapkan secara teratur, sel-selnya bisa menyebar dan menyerang bagian lain, dan akhirnya memakan tulang.”

Gaggraina sendiri berasal dari kata
γραίνω (graino) atau to gnaw (eng) yang artinya menggerogoti.

Surat 2 Timotius ditulis Paulus pada sekira tahun 65 Masehi. Artinya, meski pada zaman itu jelas sudah ada penyakit kanker seperti yang kita kenal pada masa kini sesuai deskripsinya, kata yang digunakan masih belum “kanker”.

Bahkan, Alkitab versi Indonesia Terjemahan Lama (ITL) pun belum pakai kata “kanker” juga lho. Penerjemah pakainya  kata “pekung” yang menurut KBBI artinya (n) penyakit kulit yang berbau busuk (akibat sakit sifilis atau kanker).

perbandingan terjemahan baru, lama, dan KJV


Alkitab Inggris versi King James Version (KJV) rupanya yang sudah pake kata “kanker”. KJV sendiri diterbitkan pertama kali pada tahun 1611. Artunya, di masa ini istilah kanker sudah mulai dikenal.

Sampai saya selesai menulis artikel ini, saya masih belum ketemu kapan tepatnya istilah kanker (cancer) pertama kali digunakan. Kalau ada yang tahu, tolong tulis di komentar ya?

***

Meski masih menyisakan satu puzzle tertinggal, setidaknya pencarian panjang ini sudah membuat saya tidak segelisah tadi. Mengingat saya kuliahnya juga ambil konsentrasi Translation, saya sangat memahami betapa sulitnya seni menerjemahkan itu.

Yang jelas, kata kanker seperti yang tertulis di 2 Timotius itu memang benar adalah penyakit kanker seperti yang sudah kita kenal di zaman modern ini. (Wow, jadi kanker benar-benar bukan penyakit newbie ternyata).

Lagipula, konteks ayat itu juga tidak membahas penyakit kankernya secara khusus kok. Itu cuma penegas nasehat Om Paulus di ayat sebelumnya. Dan baiknya memang dibaca langsung serangkai kaya gini :

2 Timotius 2:15-19


Om Paulus intinya nasehatin Dek Timotius (dan kita semua) untuk hati-hati sama omongan. Jangan kaya Himeneus dan Filetus yang hobi nyebar hoax pada zamannya sampai bikin iman orang lain rusak.


Begitchuuu.....


***

Nah, sekian dulu tulisan dari Mommy Ossas kali ini. Semoga bisa jadi berkat buat kita semua. Amin.

Salam ....

Tepian Musi, Mei 2019
Ditulis di sela kesuntukkan nggarap skripsi.
Dan Mommy Ossas berterima kasih pada Kak Samuel Dwi Martono, teman masa kecil yang sekarang udah jadi Pak Pendeta ✌️
Tanpanya tulisan ini masih mengendap di draft.



0

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels