Menu
Recent Post


Teman-teman saya di Palembang, rata-rata punya motor sendiri. Ya nggak salah sih, kondisi jalanan kota pempek ini memang lebih bersahabat sama kendaraan roda dua ketimbang empat. Titik macet yang nggak bisa diprediksi itu lho … Kalau pakai motor kan masih bisa nyelip sana sini.

Buat cewek, pilihannya akan jelas jatuh ke skuter matic (skutik). Alasannya? Simpel dan mudah dioperasikan. Tinggal gas dan rem saja. Nah, untuk tipe motor seperti ini, ada dua merk yang bersaing merajai pasar yakni Honda Beat dan Yamaha Mio.

Dalam postingan kali ini, saya coba membandingkan keduanya. Tipe yang saya pilih yakni Honda Beat dan Yamaha Mio S. Soalnya kedua motor ini yang paling banyak dipakai oleh teman-teman saya.

Yuk… check it out!

Yamaha Mio S
0


kucingdomestik.com

Yuhuu, di postingan ini saya bakal ceritain A-Z pengalaman saya membuat paspor baru di Kantor Imigrasi Kelas I Palembang. Mungkin akan sedikit panjang tulisannya, tapi mudah-mudahan yang baca bisa dapat gambaran detail terkait proses pengurusan paspor terbaru di Palembang tahun 2019 ini.

Check it out …


***
10




Forest Talk with Bloggers - Palembang


“Manusia mencintai bumi seperti Sangkuriang mencintai Dayang Sumbi. Manusia memang masih menyayanginya, namun tak lagi menghormatinya sebagai ibu.” 


Itu kata teman saya, Yoga Palwaguna. Dia memang suka bikin sajak dengan kalimat aneh-aneh. Sering bermakna dalam  nan mak jleb. Tapi sekali ini, saya benar-benar sepakat dengannya.

Ibu Bumi, Bapa Angkasa. Nenek moyang kita telah sejak lama menyebut bumi sebagai ibu. Karena memang di sanalah kita –para manusia—memperolah kehidupan. Lahir, tumbuh, berkembang, beranak-cucu, hingga tiba saatnya jasad kembali pada pelukan tanah.

Manusia dulu demikian menghormati, bahkan nyaris memuja bumi. Sampai meludah langsung ke tanah pun adalah sesuatu yang pantang dilakukan. Sejumlah upacara macam Sedekah Bumi atau Bersih Desa rutin dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan bumi.

Namun sekarang, tampaknya ada yang berbeda.


Penyebab bumi makin panas • (dok. Forest Talk)


Manusia memang masih mengasihi bumi bahkan bergantung padanya. Namun tak lagi memandangnya dengan penghormatan, melainkan penuh nafsu. Pun tak segan lagi melakukan perbuatan tak senonoh terus menerus. Sampah, limbah, eksploitasi lahan, pertambangan, polusi … Hal-hal yang kemudian mendorong terjadinya pemanasan global yang kemudian berujung pada perubahan iklim. 

Jika Sangkuriang dan Dayang Sumbi mungkin hanya dipercaya sebatas legenda, maka perubahan iklim adalah sesuatu yang riil. Nyata tengah terjadi saat ini.

Manajer Climate Reality Indonesia, Ibu DR. Amanda Katili Niode membenarkan terjadinya perubahan iklim yang terjadi di muka bumi saat ini. Hal itu dibuktikan dengan perubahan ketinggian permukaan air, peningkatan suhu global, memanasnya samudera, melelehnya es di kedua kutub bumi dan wilayah sekitarnya, memanasnya suhu di samudera, juga pengasaman samudera.
Ibu Amanda Katili Niode • dok. Forest Talk

“Ada  60 juta orang di seluruh dunia yang terdampak cuaca ekstrem. Tak terkecuali di Indonesia. Dari 2481 bencana yang terjadi di negeri kita akhir-akhir ini seperti kekeringan, banjir, kebakaran hutan, gelombang panas dan dingin, badai, serta puting beliung, 97%-nya disebabkan oleh perubahan iklim. Tak kurang 10 juta masyarakat kita terdampak dan mengungsi karena ini,” jelas Bu Amanda.

Berkaca pada data-fakta tersebut, tak heran kalau Bu Amanda bilang kalau bumi kita sedang sekarat. Ya, bumi kita memang tengah sakit parah dan menderita menuju ajal. 

Lalu, akankah kita berpangku tangan menunggu bumi tutup usia dengan sendirinya? Yang berarti akan menjadi akhir bagi setiap kehidupan yang masih dikandungnya.

Tidak. Tentu saja tidak. Kita bisa mulai merawat ibu kita yang telah renta ini dengan berbagai cara , seperti :

1. Tidak buang sampah sembarangan
2. Memilah sampah organik dan anorganik agar lebih mudah didaur ulang.
3. Mengurangi penggunaan plastik (bawa tas sendiri saat belanja, stop pakai sedotan plastik sekali pakai, dll)
4. Mengurangi polusi

Itu cuma contoh. Masih banyak cara lain yang bisa terapkan untuk merawatnya, tentu. Dan ada satu hal lagi yang rupanya punya efek paling besar untuk memperpanjang asa bumi kita, yakni : Lestari Hutan.

Lestari Hutan? Makanan apa itu?
Simak terus ulasan berikut ini!


Menuju Pengelolaan Hutan Lestari Demi Masa Depan Bumi


Moderator dan Narasumber Forest Talk with Palembang Bloggers • foto : Bimo Rafandha

Beruntungnya saya dan rekan-rekan blogger Palembang saat dapat undangan acara Forest Talk with Blogger di Kuto Besak Theatre pada Sabtu (23/3) lalu. Acara bertajuk “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari” tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Doctor Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia. Di sini, saya benar-benar belajar banyak hal, terutama soal hutan dan kaitannya dengan kelangsungan nasib bumi kita.

Dr. Atiek Widyawati, salah satu pembicara dari Tropenbos Indonesia menjelaskan, hutan kita kian hari nasibnya kian memprihatinkan. Banyak areal hutan menjadi berkurang bahkan hilang karena aktivitas manusia. Mulai dari pembalakan liar, hingga alih fungsi lahan menjadi area perkebunan, pertanian maupun pemukiman. 


Deforestasi, degradasi, dan konversi hutan • dok. Forest Talk


“Jika ini dibiarkan, akan menimbulkan banyak masalah. Termasuk dampak bencana yang terjadi seperti banjir, kebakaran lahan dan kabut asap. Terjadinya bencana-bencana ini sudah diprediksi. Semua terjadi karena deforestasi. Untuk itu, perlu adanya solusi terkait hal ini, yakni mengembalikan lagi fungsi hutan dalam berbagai aspek,” kata Dr. Atiek.

Selain mencegah pembalakan liar, reboisasi, dan reklamasi lahan, kelestarian hutan bisa dijaga dengan cara memanfaatkan produk-produk hasil hutan non-kayu. Jadi guys, komoditas hutan itu nggak melulu kayu. Ada banyak produk hutan lain yang bisa dimanfaatkan tanpa harus menebang pohon-pohonnya yang butuh puluhan tahun lagi untuk kembali tumbuh besar.

Narasumber lainnya,  Ir. Murni Titi Resdiana, MBA yang merupakan Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim menjelaskan, ada begitu banyak potensi dari pohon-pohon di hutan untuk pengembangan ekonomi kreatif. 


Daun nanas bisa dijadikan serat untuk produk tekstil 


Mulai dari sebagai pewarna alam, bahan kerajinan, makanan, sumber minyak atsiri, hingga fashion. “Semua itu akan menjadi komoditas yang sangat menjanjikan. Namun tentunya, harus dibarengi dengan proses produksi maksimal dari segi kualitas dan strategi pemasaran yang tepat,” beber Bu Titi.


Saya sebagai model produk fashion hasil hutan • fotografer :  Mbak Katerina


Dalam pengelolaan sumder daya hasil hutan, tentunya diperlukan peran aktif dari masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar area hutan. Salah satu pihak yang peduli dengan pemberdayaan masyarakat tersebut adalah perusahaan APP Sinar Mas. Melalui program CSR  Desa Makmur Peduli Api (DMPA), sedikitnya ada 284 desa yang telah diberi pendampingan.

Head of Social Impact & Community Development APP Sinar Mas, Janudianto mengatakan, dana yang telah digelontorkan untuk ratusan desa tersebut adalah wujud komitmen APP Sinar Mas dalam menangani perubahan iklim. Adapun pengelolaan diserahkan ke masing-masing desa melalui bumdes atau koperasi. 
Produk makanan hasil binaan program DMPA APP Sinarmas • dok. Forest Talk


"Ini sebagai wujud nyata kontribusi kami dalam menangani perubahan iklim global. Namun tentunya kami tidak bisa bergerak sendiri. Perlu adanya kerjasama dengan masyarakat.  Dengan ini, selain bagian upaya dari mengedukasi masyarakat agar tidak lagi membakar hutan, bisa sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di masing-masing desa,” demikian Janudianto.

Keseruan Lainnya
Stand Pameran Meillin Gallery • dok. Forest Talk


Agenda Forest Talk with Blogger nggak cuma diisi dengan diskusi seru yang sarat ilmu. Sebanyak 40 peserta yang semuanya blogger itu juga disuguhi pameran produk hasil hutan yang begitu memanjakan mata. Ada produk-produk makanan dari stand DMPA, produk kerajinan tangan dari Meillin Gallery yang bahan bakunya berasal dari limbah kayu, dan yang paling menarik perhatian saya yakni pameran produk tekstil dari Galeri Wong Kito.


Jadi model (lagi), kali ini bareng Eka • dok. Forest Talk


Jadi produk-produk kain yang dipamerkan, semuanya dibuat menggunakan bahan alami, termasuk pewarnanya. Saya dan teman-teman juga berkesempatan praktik langsung ecoprint, yakni teknik membuat motif di kain menggunakan daun-daun. 


Serunya praktik langsung ecoprint • dok. Forest Talk

Proses pembuatannya cukup mudah, namun diperlukan kesabaran terutama saat memukul-mukul daun dengan palu kayu agar  motifnya tercetak sempurna.
Umek Elly Suryani terbuai aroma chicken wings Chef Taufik • dok. Forest Talk

Seolah belum cukup, peserta juga menyaksikan demo masak langsung oleh Chef Juna Taufik. Menyaksikan dari awal proses masak Mushroom in Paradise dan Chicken Wings Korean Sauce itu benar-benar bikin ngiler. Jadi nggak sabar pengen nyoba resepnya sendiri di rumah.

Last but not least ...


Foto bersama sebelum pulang


Saya amat terkesan dengan acara Forest Talk with Blogger Palembang ini. Benar-benar cara sempurna untuk berakhir pekan. Di atas semua ilmu dan keceriaan (plus goodie bag) yang dibawa pulang, acara ini telah menyadarkan saya akan satu hal penting. Bahwa kekurang-ajaraan dan ketidaksenonohan kita dalam memperlakukan bumi memang harus segera diakhiri.

Sudah saatnya kita kembali menghormati bumi laiknya ibu sendiri. Kini, ibu yang sudah tua, penyakitan, dan sekarat itu membutuhkan kita, anak-anaknya. Melestarikan hutan mungkin ibarat memberinya obat. Barangkali tak cukup ampuh untuk mengembalikan vitalitasnya seperti semula, namun jelas sudah lebih dari cukup untuk sekadar memperpanjang nafasnya.

Salam lestari! 

***

Bonus :






Sebagai emak kucing kampung, bertemu mereka Kuto Besak Theatre benar-benar sebuah kebahagiaan tersendiri. 😊

10

Ibadah Penghiburan Melinda Zidemi

***

Ada satu hal dari yang saya soroti dari kasus pembunuhan dan perkosaan teman dan saudara seiman terkasih saya, Melinda Zidemi. Sejak pertama kali mendengar kabar duka ini pada Selasa (26/3) pagi, saya mendapati begitu banyak foto jenazah Kak Mel, terutama saat masih di TKP bersileweran di sosial media. Portal berita, Facebook, Twitter, Instagram, WA grup … semuanya tanpa blur!

Saya yang belum pulih dari syok saat mendengar tragedi ini, mati-matian mempertahankan diri “tetap waras” ketika disuguhi gambar-gambar yang tidak pantas itu. Belum lagi surut rasa duka dan amarah untuk pelaku, harus ditambahi emosi kesal luar biasa oleh ulah para netizen.

Yang lebih mengerikan lagi, saya perhatikan ada beberapa dari mereka yang berani sekali membagikan foto-foto itu di akun Facebook tunangan Kak Mel. Bukan hanya satu dua, tapi banyak. Saya duga, inilah faktor yang membuat tunangan Kak Mel akhirnya memilih me-nonaktifkan akun facebooknya.

Memangnya siapa orang waras yang tahan melihat orang terkasihnya dalam kondisi mengenaskan seperti itu?


*

Fenomena membagikan foto sadis ini bukan hanya terjadi di kasus Kak Mel. Banyak kok. Masyarakat kita agaknya memang hobi berbagi foto-foto tidak pantas seperti ini. Korban perampokan, aksi bunuh diri, aksi terorisme, dan paling sering korban kecelakaan.

Meski sudah men-steril-kan friendlist dari mereka yang hobi berbagi foto-foto tidak pantas ini (dengan unfollow, unfriend, atau blokir), kadang foto-foto ini masih juga terlihat di sejumlah forum atau grup yang diikuti.

Meski sama sekali tak mendukung, saya masih mengerti ketika admin page tertentu membagikan foto-foto macam ini. Tujuannya jelas. Apalagi kalau bukan sebagai sarana mendulang react dan komentar? Makin populer sebuah page, makin banyak pula keuntungan finansial yang diperoleh.

Tapi ketika foto-foto ini disebar oleh “orang-orang biasa”, apa sih tujuannya?

Ingin menuai react dan like juga? Bangga karena sudah mengetahui sebuah peristiwa heboh? Merasa keren karena sudah berjasa memberi tahu pihak keluarga korban?

“Ya kan ingin turut berbelasungkawa, Ar …”

Berbelasungkawa dari Hongkong?!?!

Begini. Cobalah kalian, yang pernah dan masih suka menyebar foto-foto semacam itu diam sebentar. Coba renungkan dan bayangkan, kalau orang-orang dalam foto tersebut adalah anggota keluarga kalian sendiri. Orang-orang terkasih kalian sendiri …

Yakin bakal ikhlas dan rela?

((Saya yang papanya meninggal wajar (bukan karena korban kejahatan) saja, tetap ada rasa tidak rela ketika melihat foto jenazah beliau diunggah orang lain --sekalipun teman sendiri--. Bagaimana kalau kondisinya mengenaskan? Mungkin saya bakal beneran gila.))

Kalau sudah membayangkan dan merenungkan tapi masih tidak merasa bersalah sudah berbagi foto semacam itu, kalian perlu baca info ini :

Psikiater forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr.Natalia Widiasih Raharjanti, Sp.KJ dalam wawancaranya kepada Tribunnews  mengungkapkan, ada ciri kepribadian tertentu yang memang menikmati penyebaran konten sadis, yakni orang narsistik, psikopat dan sadis.

Narsistik adalah gangguan kepribadian yang mana seseorang menganggap dirinya teramat penting dan memiliki kebutuhan untuk sangat dikagumi. Orang macam ini tidak hanya ekstra percaya diri, namun juga kerap tidak menghargai 'perasaan atau ide-ide dan mengabaikan kebutuhan orang lain.

Psikopat adalah adalah suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan antisosial. Psikopat merupakan salah satu kelainan psikis yang mengerikan. Psikopat termasuk bagian dari gangguan kepribadian yang dapat ditandai dengan perilaku antisosial, impulsif, tidak mengikuti atau mengabaikan norma di dalam masyarakat, serta tidak memiliki perasan takut ataupun bersalah.

Sadis -- sadistik, sadisme-- berarti kepuasan seksual yang diperoleh dengan menyakiti orang lain (yang disayangi) secara jasmani atau rohani.


Masih tetap ngeyel berbagi foto tidak pantas dengan berbagai alasan? Mungkin anda benar-benar perlu memeriksakan diri ke poli psikiatrik.


“Yah, Arako lebay! Saya kan cuma posting foto jenazah di peti. Sudah nggak cantik, rapi, tidak mengenaskan lagi. Nggak maksud apa-apa, cuma sebagai kenang-kenangan sekaligus wujud kehilangan dan rasa belasungkawa kami untuk orang yang kami sayang.”


Ayolah, banyak cara lain untuk mengungkapkan rasa itu. Kalau memang mau buat kenang-kenangan, ya sudah. Ambil dan simpan sendiri, nggak usah di-share.


Yuk, sama-sama belajar bijak dan berpikir dulu sebelum mengunggah sesuatu.

Salam.



Tulisan pertama saya terkait mendiang Kak Mel berjudul "Haruskah Menunggu Melinda Zidemi yang Lain?" telah tayang dan menjadi Headline di Kompasiana.






1

Launching All New Ertiga Sport


Kalian kalau punya mobil pengennya yang bagaimana, sih?

Saya pengennya yang pas buat keluarga. Lega, dan bisa muat lebih banyak orang. Desainnya tentu yang sporty. Biar tetap bisa gaya melaju di jalanan Palembang. Plus harganya juga nggak kemahalan.

Nah. Akhir pekan kemarin, saya dan rekan-rekan blogger Palembang dapat undangan spesial. Bukan acara blogger biasa, tapi peluncuran mobil baru dari Suzuki. 

Ga pake banyak mikir, saya dan pasukan  (Bimo, Nindy, Kak Ridho, Selvy, Dina, Paci, dan Mbak Fainun) langsung merapat ke Jade Restaurant di kompleks Palembang Indah Mall untuk menghadiri konferensi pers sore itu.

Jadi guys, ceritanya ada seri baru All New Ertiga yakni All New Ertiga Sport Series yang baru di-launching akhir Maret ini. Saya beruntung, mendengar pemaparan terkait mobil ini, A sampai Z-nya langsung dari pihak Suzuki. Mereka adalah Elysa Din Thamrin (Presiden Director PT Nusa Sarana Citra Bakti), Harold Donnel (4W Head of Brand Development and Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales), dan Ignatius Felix (Area Sales PT SIS).

Apa dan bagaimana sih All New Ertiga Sport Series ini? Baca terus ya …

Menjawab Tantangan Pasar

Didesain khusus untuk keluarga milenial



Seri All New Ertiga Sport ini bukan diproduksi begitu saja. Semua untuk menjawab tantangan pasar, di mana masyarakat saat ini sangat menginginkan adanya mobil MPV yang pas untuk kalangan keluarga muda dari generasi milenial. 

Bukan hanya mengutamakan kenyamanan, namun desain sporty-nya juga memastikan seri mobil ini memiliki tampilan kece dan sesuai dengan selera masyarakat muda. 

Fitur Unggulan
Seri All New Ertiga Sport memiliki sejumlah fitur unggulan. Dijelaskan Arfani selaku Trainer Suzuki, seri terbaru Ertiga ini masih tetap mempertahankan keunggulan teknologi lamanya sekaligus menambahkan sejumlah fitur baru.

Performa maksimal untuk perjalanan malam hari


Suzuki All New Ertiga Sport menggunakan lampu Daytime Running Light dan Defogger alias penghalau kabut.  “Fitur ini membantu pengemudi saat berkendara di malam hari sekaligus membantu di saat kondisi jarak pandang sempit karena cuaca buruk,” kata Arfani.



Selain itu, terdapat pula Rear Camera Parking yang berguna sekali saat memarkir mobil. Dari segi tampilan, baik eksterior dan interior sudah nggak perlu diragukan. Makin terlihat kece dengan hadirnya layar 6.8 inch di dashboard yang benar-benar sukses memberikan kesan mewah. Tersedia pula 3 varian warna yang bisa dipilih, yakni Cool Black, Metallic Magma Grey, dan Pearl Snow White.
Sudah cocok punya All New Ertiga Sport?



Soal harga, bohong kalau saya bilang murah. Kalau mau murah mah beli mobil-mobilan aja sana. Tapi dengan kualitas yang ditawarkan, harga Rp 257 juta untuk tipe manual dan Rp 269 juta untuk yang matic jelas besainglah ya. Ga bakal rugi kok memilikinya.


Jadi buat kalian, para keluarga millennial yang pengen punya mobil baru. Sudahlah, nggak usah kebanyakan mikir. All New Ertiga Sport Aja!



Terima kasih Ertiga  yang bikin malam Minggu kami ceria😘


***

Mommy Ossas berterima kasih pada 
Kak Ridho Arbain untuk foto-fotonya.
Dan Bimo Rafandha atas ajakannya 😘


7



Nannerl Mozart • wikipedia.org

Tulisan ini menjadi Headline di Kompasiana.

***

Sebelum ini, saya tidak pernah tahu Mozart punya kakak perempuan. Namanya Maria Anna Mozart atau yang lebih dikenal dengan nama kecilnya : Nannerl.

Saya tahu Nannerl dari sebuah channel Youtube Twoset Violin. Dalam salah satu episodenya, duo violinist yang hobi membuat konten lelucon ini memparodikan para komposer ternama seandainya masih hidup di era modern.


Di sini dua cowok Twoset Violin secara tidak langsung memberi tahu saya kalau Mozart ternyata punya saudara perempuan.

Nannerl lahir di Salzburg, Austria pada 30 Juli 1751 dan 4,5 tahun lebih tua dari adiknya, Wolfgang Amadeus Mozart. Dilansir dari theguardian.com, sepasang kakak beradik ini dikenal sebagai bocah ajaib. Sejak masih kanak-kanak, kemampuan bermusik mereka sering “dipamerkan” ayahnya, Leopold Mozart dalam sejumlah tour ke banyak tempat seperti Munich, Vienna, Paris, London, Jerman, hingga Swiss.

Potret keluarga Mozart • theguardian.com


Kemampuan Amadeus Mozart jelas sudah tidak diragukan lagi, namun siapa menyangka jika bocah jenius ini semula terinspirasi oleh kakaknya. Pada usia 3 tahun, Mozart mulai tertarik belajar musik karena memperhatikan ayahnya mengajari Nannerl alat musik harpsichord (cikal bakal piano).

***


Mozart dan Nannerl dalam Film Mozart's Sister (2010) • pict thecultureconcept.com

Sebagai orang awam di dunia musik dan hanya menyukai beberapa piece klasik terkenal, nama Nannerl seperti sihir. Saya penasaran dengan perempuan ini. Bukan sebagai kakak-nya Mozart, namun sebagai pribadi Nannerl sendiri.


Bakat Nannerl mengalir dari sang ayah yang juga seorang komponis sekaligus violinist terkenal pada masanya. Gadis ini begitu mencintai musik yang sudah dipelajarinya sejak usia 8 tahun. Dia dikenal sebagai pemain harpsichord dan fortepianist andal. Bersama adiknya, Mozart, Nannerl telah memukau banyak orang dari berbagai tempat.

Sayang, karir bermusik Nannerl harus terhenti di usia 18 tahun. Ayahnya melarang gadis itu bepergian dan mengasah bakatnya lagi karena sudah memasuki usia wajib menikah. Mulai tahun 1769, Nannerl tak lagi bermusik ke tempat-tempat yang jauh, namun tinggal di rumah saja di Salzburg bersama ibunya.

Nannerl tipikal gadis penurut dan baik-baik. Dia selalu tunduk pada keinginan ayahnya, termasuk soal pasangan hidup. Nannerl semula mencintai seorang kapten dan guru privat bernama Franz d’lppold, namun tak mendapat restu. Ayahnya memaksa gadis itu menolak lamaran. Hal ini sempat membuat adiknya meradang. Mozart ingin kakaknya berjuang membela keinginannya sendiri.

Namun  toh Nannerl tetap menikah dengan pria lain. Seorang hakim duda 5 anak bernama Johann Baptist Franz von Berchtold zu Sonnenburg. Selain anak bawaan dari suaminya, Nannerl kemudian punya 3 anak lagi dari rahimnya sendiri : Leopold Alois Pantaleon, Jeanette, dan Maria Babate.

Meski punya kehidupan rumah tangga yang luar biasa normal, Nannerl tak serta merta melupakan bakat alamnya. Dari surat-surat yang dikirim Mozart untuk Nannerl, adiknya itu memuji beberapa komposisi musik yang ditulis Nannerl. Hal ini menunjukkan, perempuan ini sebetulnya tak pernah menyerah untuk berkarya. Sayang, tak satu pun komposisi buah karya Nannerl yang terselamatkan.

Kisah Nannerl membuat sedikit banyak menjawab pertanyaan saya, mengapa nama komposer klasik perempuan tak pernah terdengar gaungnya. Bukan tidak ada, bukan tidak mampu yang jelas. Mereka hilang dan tenggelam oleh diskriminasi gender untuk kemudian dilupakan begitu saja oleh sejarah.

Perempuan, sejak dulu hanya diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Ah, kasihan Nannerl. Dia hidup di era yang salah.  Andai dia hidup di masa kini, dia sepertinya bukan sekadar jadi manusia bayangan di channel youtube adiknya. Mungkin musiknya dipakai dalam film-film fenomenal atau bahkan mencetak rekor di grammy awards.

Mungkin.

Nyatanya, Nannerl sudah meninggal hampir 200 tahun yang lalu. Dan selamanya dia hanya akan dikenang sebagai Nannerl, la Soueur de Mozart.


***


Setelah menulis ini, saya jadi tidak sabar menonton film Amadeus yang direkomendasikan Kak Yayan a.k.a Om Nduut . Adakah yang sudah nonton film peraih Oscar ini?
2



Hari Kesadaran Cedera Diri Sedunia * pict : saveourgreen.org

Tulisan ini menjadi Headline di Kompasiana.

*

Setiap tanggal 1 Maret diperingati sebagai Self-Injury Awareness Day atau Hari Kesadaran Cedera Diri Sedunia. Peringatan ini merupakan kampanye global untuk menyebarkan kesadaran tentang perilaku menyakiti diri sendiri sekaligus bagaimana mengatasinya.

Kampanye ini tidak dibuat tanpa alasan, tentu saja. Beberapa tahun belakangan, perilaku menyakiti diri sendiri ini telah berubah menjadi semacam tren, khususnya di kalangan remaja.  Dilansir dari Biro Media BEM Fakultas Psikologi UI 2018, statistik menunjukkan setidaknya 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 7 pria pernah melakukan aksi self-injury pada tahun 2016. Menariknya, hampir separuh pelaku self-injury pernah menjadi korban kekerasan seksual.

Sebagai salah satu mantan pelakunya (Puji Tuhan, sudah terbebas dari perilaku ini. Semoga tidak akan pernah kumat-kumat lagi. Amin), saya ingin berbagi kisah tentang seluk beluk self injury ini.  Hitung-hitung turut meramaikan Self Injury Awareness Day yang (sepertinya) kurang terdengar gaungnya di Indonesia.

***
Self Injury (SI) adalah tindakan dimana seseorang dengan sengaja dan penuh kesadaran melukai dirinya sendiri. Metodenya macam-macam. Bisa mengiris, menggores, menyayat, menusuk atau membakar kulit. Bisa juga memarkan tubuh, dengan menjedot-jedotkan ke tembok misalnya. Pada tingkat ekstrem, seseorang malah sangat mungkin menyuntikkan racun atau mematahkan tulang sendiri. Aktivitas ini jelas merupakan kelainan psikologis, namun sangat berbeda dengan keinginan atau pikiran untuk bunuh diri. Hampir semua pelaku SI sama sekali tidak ingin mati. 

Lah, tetep aja bego banget sih orang begitu? Kan sakit!

Sakit. Nah, memang itu yang dicari pelakunya. Rasa sakit.

SI memang sangat sulit dimengerti oleh orang normal dan punya kondisi psikis luar biasa sehat (kecuali mereka yang tidak asing dengan ilmu psikologi seperti psikolog atau psikiater). Namun untuk mereka yang terbiasa melakukannya, SI itu semacam rest area dari tol kehidupan yang luar biasa sesak dan melelahkan.

Begini, tidak ada orang yang kondisi mentalnya sehat walafiat, terus ujug-ujug pengen SI. Mereka yang melakukan ini pasti sedang sakit mentalnya. Entah diakui apa tidak. Pelakunya merasakan sakit dan tekanan luar biasa, namun tidak berwujud. Tidak terlihat. Pemicunya ya bisa macam-macam. Masing-masing orang berbeda.  Habis putus cinta, masalah keluarga, rasa malu, sedih atau marah tak tertahankan, penyesalan atau rasa bersalah mendalam, kecewa, putus asa, dan banyak lagi lah. 

Perasaan tidak tertahankan ini sangat mengganggu dan di titik tertentu seperti nggak akan pernah ada habisnya. SI berarti semacam “menerjemahkan” atau “mewujudkan” rasa sakit itu. Kan jauh lebih gampang menyembuhkan sayatan kecil di lengan ketimbang mengakhiri sedih karena ditinggal mati ayah yang ternyata diam-diam punya 3 istri simpanan misalnya.

Yah, itu misalnya. Tapi intinya sama saja sih. Semacam pelarian saja. Yang penting ada yang mengalihkan dari rasa sakit tak berwujud itu.

Efektif?

Umm, harus saya akui. Iya. Lumayan melegakan. Saya tidak tahu bagaimana kinerjanya, tapi mungkin seperti kalau kita makan sesuatu yang pedas. Tahu itu menyiksa dan bikin nggak nyaman, tapi tetap ada rasa enak dan puas yang ditinggalkan.

Masalahnya, rasa lega dari SI ini betul-betul hanya sementara. Rasa sementara ini yang bikin orang SI kecanduan dan otomatis pengen ngulang dan ngulangin terus. Lama-lama ya capek juga. Bukannya nyelesaiin masalah, malah nambahin masalah. Dari yang tadinya udah tertekan sama masalah di awal, jadi makin ditambahin depresinya karena SI.

Eh, bener lho. Orang SI itu udah tertekan dan merasa bersalah sendiri sama perilakunya. SIsi waras dan manusiawi seseorang pasti akan selalu ngasih tahu kalau yang dilakukannya itu salah. Makanya umumnya mereka terus jadi malu. Nutupin sedemikian rupa. Jangan sampai bekas-bekasnya ketahuan. (Selama bertahun-tahun dulu, ga pernah ada yang tahu saya SI sampe tanpa sengaja ada yang ngeliat ada darah merembes ke lengan baju. Mau nggak mau terpaksa cerita karena diinterogasi terus).

Nah, kalau ada yang SI terus malah posting di sosmed itu saya nggak ngerti deh. Mungkin itu cara dia meminta pertolongan. Tapi apapun itu, kalau kalian melihat atau tahu ada orang yang SI begitu, please please banget  jangan dihakimi. Nggak usah dikata-katain. Nggak usah dibego-begoin. Percayalah, mereka itu aslinya pasti udah tahu kok kalau yang dilakukannya itu bego dan ga guna. Dan kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya udah dia alami. 

Tenangkan, support, tawarkan konsultasi ke professional, atau sekadar sediakan kuping kalau dia mau cerita. Misalnya kamu nggak bisa ngelakuin apapun itu ya cukup doakan untuk kebaikan dia. Tuhan kadang punya cara sendiri untuk memeluk orang-orang yang begitu. Kalau nggak bisa doa juga, ya sudah … diam saja. Sesungguhnya diam memang jauh lebih baik ketimbang menambah penderitaan dia.

Karena akan sangat membahayakan jika sakit batin yang dia rasakan udah ke taraf ga bisa lagi dialihkan sama sakit fisik yang nyata. Di sini pikiran untuk bunuh diri bakal gampang banget merasuknya.

***

Perilaku ini bisa sembuh atau dihentikan?
Bisa. Sangat bisa. Saya buktinya. Tapi ya harus diakui itu amat sangat tidak gampang. Ketimbang “mengobati” untuk pulih, saya lebih pake istilah “bertarung” untuk menang. Karena ini memang butuh perjuangan dan benar-benar harus dilawan.

Buat kalian yang kebetulan masih SI dan tanpa sengaja nemu tulisan ini entah gimana. Saya mau bilang ini ke kalian … sama kaya gangguan psikis lainnya, pada akhirnya memang cuma Tuhan dan diri sendiri yang bisa menyembuhkan. Orang-orang macem psikiater, psikolog, konselor, atau sahabat partner curhat kita atau siapapun dan apapun itu posisinya cuma supporter, cuma cheerleader. Yang bertarung di arena gladiator , hadap-hadapan sama monster Self Injury itu tetap kita sendiri.  

Jadi hal pertama yang harus kamu lakukan adalah : sadari ini, dan kuatkan dirimu. 

Yah, kalau aku kuat ya nggak bakal SI lah, Araaaaa!!!!

Yup. Betul. Maka  yang kedua, akuilah kalau kita lemah. Kalau kita nggak se-setrong itu. Kalau kita emang lagi tidak baik-baik saja. Nggak papa. Nggak ada yang salah dengan itu. Mungkin memang ada orang lain yang ngalamin kaya kita dan mereka baik-baik saja, sekali lagi nggak papa. Jangan pernah ukur kekuatan diri kita dengan milik orang lain. Kapasitas tiap orang beda-beda. Sama kaya nggak semua orang bisa ngangkat gallon dan masang ke dispenser tanpa tumpah, kan?

Paling enak ngakuin segala kelemahan itu sama Tuhan. Karena cuma DIA yang nggak bakal ngata-ngatain kita atau bikin kita terpuruk. Berdoalah, sekalipun susah dan harus dipaksa. Berdoalah, meskipun kayanya sia-sia dan nggak ada perubahan. Berdoalah, sekalipun ngerasa diri nggak layak menghadap-Nya. Terserah mau gimana pun caramu berdoa. Tuhan Maha Mendengar. Dan Dia memang cuma sejauh doa.

Tuhan memang Maha Segalanya. Dia sanggup aja bantu kita memenangkan pertarungan secara instan atau hitungan detik kalau emang mau. Tapi kadang Tuhan pengen ngajarin kita sesuatu yang lain dan ada babak tertentu yang memang harus dilalui. Intinya di poin ketiga, kita ga boleh pasif dan diam saja menunggu. Kita juga harus berjuang dan berusaha sendiri semaksimal mungkin. Ora et Labora, Brooo!!

Caranya bisa macam-macam, salah satunya ya coba minta bantuan dengan orang lain. Seperti yang udah disinggung di atas, yang bisa menghancurkan si monster SI emang cuma Tuhan dan diri sendiri. Tapi nggak ada salahnya juga punya supporter atau cheerleader. Mereka memang nggak secara langsung ikut bertarung, tapi mereka bisa kasih kamu tips dan trik menghadapi si monster, atau minimal menyemangati kamu biar kamu nggak nyerah. 

Kamu bisa pilih teman atau sahabat, pembimbing rohani, keluarga, atau siapapun yang bisa dipercaya (pastikan mereka bukan toxic person ya). Kalau misalnya nggak punya atau nggak yakin, bisa dicoba konsul ke psikolog. Setidaknya mereka sudah lebih pintar ngurusi psikis seseorang. Oh, kita juga bisa menghubungi nomor darurat untuk konseling resmi dari Kementerian Kesehatan RI lho di nomor 119 (saya belum pernah coba sih, tapi semoga bisa membantu).

Yang paling penting di atas semua ini, Yuk …, mulai belajar sayangi diri kita sendiri. Saya tahu ini yang paling susah dilakukan. Saya masih belajar sampai sekarang. Tapi yuk, mulai coba tanamkan kalau dirimu itu sama berharganya dengan orang lain.

Kalau kamu nggak akan tega mengiris tangan temanmu atau menjedotkan kepala adikmu ke tembok, kenapa harus tega melakukan itu ke diri sendiri? Kamu lho yang paling memahami dirimu itu. Cuma kamu yang paling tahu gimana penderitaan atau rasa sakit yang sudah dia alami. Daripada nambahin rasa sakitnya, kenapa ga coba peluk dirimu sendiri dan lakukan segala yang kamu bisa untuk bikin dia merasa nyaman? 

Apa yang kamu lakukan kalau ternyata melukai orang lain? Minta maaf. Nah, minta maaflah pada dirimu yang sudah kamu sayat tangannya atau jedotkan kepalanya di tembok itu. 

Dan maafkan juga dirimu yang sudah bersalah melakukan semua itu. Berdamailah. Dan mulailah menjadi teman dan pendukung satu sama lain. Nggak perlu malu dengan bekas lukamu. Mulai sekarang, jangan anggap itu sebagai kesalahan, tapi bekas luka pertarungan. Battle Scars. Setiap kali kamu lihat bekas luka itu, kamu akan lihat betapa hebatnya kamu sudah bisa bertahan sejauh ini.

Jika kamu dan dirimu sudah bisa saling menguatkan, kalian akan bisa menghadapi apapun, termasuk monster SI itu. Juga monster-monster lain yang akan tetap ada sepanjang jalan perjalanan hidup. Tidak gampang, tentu. Tapi jelas bukan hal mustahil lagi.



Selamat Hari Kesadaran Cedera Diri Sedunia.

Salam dari Tepian Musi,

Dariku yang pernah self-injury.









10

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels