Newsletter

Menu

Mohon maaf tulisan masih dalam tahap penyuntingan ...

Akan segera dipublish segera
0

Jejak Buku Bajakan di Palembang

Palembang yang memutih sebulan terakhir, mengingatkan saya saat pertama kali menginjak kota ini 4 tahun lalu. Pada 2015 saya pindah ke kota pempek ini tepat saat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyerang. Benar-benar kesan pertama yang tidak mengenakkan karena langsung disambut sesak napas, mata pedih, dan batuk-batuk oleh kabut asap.

Saat itu saya tetap jatuh cinta pada kota ini. Terutama oleh pemandangan lapak-lapak buku di ruas jalan di seputaran Masjid Agung dan kawasan pasar. Pemandangan yang tidak pernah saya temukan di Bengkulu, kota saya sebelumnya yang jumlah toko bukunya saja bisa dihitung dengan jari. Ya memang tidak bisa disamakan. Bengkulu kota kecil, Palembang sudah metropolitan.

Saya di salah satu lapak buku di ruas jalan seputar Masjid Agung  (foto : Arista Devi)

Kala itu saya bersama seorang teman menembus kabut asap menyusuri lapak-lapak tersebut satu per satu. Buku-bukunya sangat beragam dan harganya murah. Semula saya pikir buku-buku tersebut bekas. Mayoritas memang iya, tapi banyak juga yang masih baru, lengkap dengan plastik pembungkus yang masih rapi.

Saya bahkan kaget melihat Da Vinci Code-nya Dan Brown terbitan Bentang Pustaka (Mizan Group) dihargai Rp15.000, padahal masih bersegel. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya karena buku saya yang lama sudah rusak kena banjir. Sampai di rumah saya kecewa karena bukunya bajakan!

Saya heran, kenapa tidak kepikiran buku yang saya beli itu bajakan, ya? Padahal, dilihat dari harga saja sudah "mencurigakan". Tapi itu jadi titik balik saya untuk mulai aware dengan keaslian buku. Saya juga jadi jarang beli buku di sana lagi. Kapok, sih tidak, sesekali masih menelusuri lapak untuk mencari buku-buku lama. Cuma jadi ekstra hati-hati agar jangan sampai terjebak buku bajakan lagi.

Sejak saat itu destinasi belanja buku kembali ke kebiasaan semula: toko buku. Saya berbahagia karena toko buku di Palembang banyak. Selain toko buku besar dan resmi yang umumnya ada di pusat perbelanjaan, toko buku kecil-kecil juga tersebar hampir di setiap sudut Kota.

Sejauh ini, saya belum pernah menemukan buku bajakan di toko buku besar. Namun, di toko buku kecil masih  ditemukan buku bajakan. Jenisnya memang bukan novel-novel laris atau buku-buku populer, melainkan pelbagai jenis kamus.

Tahu dari mana kalau bajakan? Dari kualitasnya. Jilid yang tidak rapi dan mudah lepas, kertas yang tipis-buram-mudah sobek, juga hasil cetakannya yang persis fotokopian dengan bercak hitam di sana-sini.

Buku Bajakan di Perpustakaan


Sekilas semua tampak asli
Sebagai orang yang suka sakaw kalau tidak membaca, perpustakaan jelas menjadi tempat favorit. Terutama kalau musim kemarau melanda dompet. Tempat adem, nyaman, dan koleksi bukunya jelas lebih banyak dari rak buku sendiri.  Sayang, kenyamanan itu rupanya harus terusik kala mendapati buku bajakan di antara koleksinya. Dan itu terjadi sebulan lalu saat saya dan Bimo, teman sekaligus blogger mau hunting foto untuk ikut sebuah kontes.

Saya dan Bimo berkunjung ke salah satu perpustakaan di Kota Palembang. Saat memilih buku untuk dijadikan properti foto, tanpa sengaja kami menemukan Intelegensi Embun Pagi (IEP), buku terakhir seri Supernova karya Dee Lestari yang tampak "kesepian" karena letaknya terpisah dari 5 seri sebelumnya.

Ada dua buku IEP dalam rak. Saya mengambil salah satunya dan mengernyit  heran. Kok berbeda ya dengan IEP yang biasa saya baca di kosan?

Bimo yang kebetulan juga sesama aDeection alias penggemar Ibu Suri Dee spontan merebut IEP dari tangan saya. Wajahnya semringah karena jumpa buku favoritnya dan mulai membuka halaman demi halaman dengan antusias. Namun sesaat saja, ekspresinya berubah masam.

"Yah, bajakan ini, Raa...," keluhnya seperti orang patah hati.

Saya menggeleng tak percaya. Tak mau percaya lebih tepatnya. Meski sudah merasa aneh sejak menyentuh buku itu pertama kali, saya tidak ingin berprasangka macam-macam. Buku bajakan di perpustakaan? Yang benar saja!

Tapi Bimo benar. Saya ingat betul kalau tulisan dan gambar di sampul IEP asli dicetak dengan huruf timbul dan menghasilkan efek kilau berpendar warna jika terkena cahaya. Hal itu tidak ditemukan di IEP koleksi perpustakaan yang cetakannya tampak begitu biasa.
Perbandingan sampul depan kedua versi

Makin diperhatikan, ciri-ciri buku bajakan makin kentara. Pertama dari bobotnya, buku tersebut jauh lebih ringan dari buku asli. Lalu kualitas kertasnya yang sangat buruk karena tipis dan tampak keruh. Untuk hasil cetak halaman dalam, sebagian besar cukup bersih dan sekilas tidak jauh berbeda dengan versi asli. Namun, di halaman-halaman terakhir, tepatnya di halaman yang memuat profil dan buku-buku karya Dee yang lain, tampak sangat buram (lihat gambar).
Perbandingan halaman dalam kedua versi
Saya mengambil IEP kedua dari rak yang rupanya sama saja. Sama-sama bajakan! Lalu mulailah saya dan Bimo berspekulasi, sibuk mengira-ngira sendiri bagaimana jalannya buku bajakan bisa sampai ke perpustakaan. Oh, apa pun itu, semoga hanya wujud kelalaian atau ketidaktahuan pihak perpustakaan semata, bukan kesengajaan.

Selasa (22/10) kemarin, secara khusus saya kembali ke perpustakaan tersebut. Dan sampai artikel ini diterbitkan, buku bajakan itu masih ada di sana, di raknya semula.

(Puk-puk Ibu Suri dan Bentang Pustaka ( Mizan Group) turut berduka cita ya ... :'( )

Buku Bajakan, Lebih dari Sekadar Memprihatinkan

Apa yang saya kisahkan di atas, tentu ibarat seiris timun di cuka pempek dibanding dengan fenomena buku bajakan di negeri ini. Masih ditemukannya buku bajakan bahkan di tempat “terhormat” macam perpustakaan, tentunya sebuah fakta yang sangat miris. Tidak terbayang berapa eksemplar  buku bajakan yang sudah tersebar selama ini. Dan itu bisa di mana saja dan diedarkan oleh siapa saja.

Ini kita masih bicara buku fisik, belum yang digital alias e-book. Dan saya tahu itu tidak lebih baik kondisinya. Saya punya kenalan penulis, dia pernah curhat sambil menangis karena menemukan bukunya yang masih dalam masa preorder (PO), sudah diobral versi e-booknya oleh sebuah oknum akun Instagram dengan harga Rp1000.

Belum lagi kalau bicara soal buku repro yang beredar luas di toko buku online. Dalam sebuah situs marketplace lokal, saya banyak menemukan penjual buku repro. Adapun repro sebetulnya sama saja dengan bajakan, namun dalam versi lebih keren. Adapula penjual yang sengaja mengecoh pembeli yang kurang mengerti dan mengatakan buku tersebut adalah ORI.

Salah satu penjual buku repro di sebuah marketplace lokal (dok. tangkapan layar pribadi)

Dalam hal ini, kontrol  dari market place sangat lemah. Yang lebih  ironis, penjual buku tersebut  malah termasuk penjual yang dapat bintang dari pengelola marketplace.

Nah, kalau diukur pakai parameter model Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), pembajakan buku di Indonesia pasti sudah seperti Palembang dengan kabut asapnya sebulan terakhir. Bukan saja tidak sehat alias memprihatinkan, melainkan sudah di level BERBAHAYA.

Saya tidak punya data soal pembajakan buku di Indonesia. Namun, merujuk pada berita kompas (2012), jumlah terbitan buku di Indonesia tiap tahunnya tidak sampai 18 ribu judul. Angka ini tergolong rendah karena negara lain seperti Jepang mampu menerbitkan sekitar 40 ribu, India 60 ribu, dan Cina 140 ribu. Jumlah terbitan buku kita sama dengan Malaysia dan Vietnam, namun kalau dilihat dari jumlah penduduknya, tentu saja produksi kita masih sangat rendah.

Tidak perlu penelitian macam-macam untuk mencari tahu penyebabnya. Otak orang paling awam sekalipun pasti juga paham kalau pembajakan buku ikut andil.

Memangnya penerbit mana yang bisa terus produksi kalau cuma dapat rugi? Penulis mana juga yang bisa tahan kalau tahu hasil kerja kerasnya yang sampai berdarah-darah itu ujung-ujungnya cuma dibajak? Sudahlah royalti kecil, masih dipotong pajak, bukunya dibajak pula.

Lalu, toko buku dan penyalur resmi mana yang tidak gulung tikar kalau jualan mereka tak laku karena kalah bersaing harga dengan buku bajakan yang murah meriah itu?

Buku bajakan mematikan industri buku. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa terjadi kiamat di dunia literasi kita. Kalau sudah begitu, sama saja kita berjalan mundur dari peradaban.

Yang Bisa Kita Lakukan


Tidak bisa dimungkiri, masalah buku bajakan adalah perkara komplek yang melibatkan banyak pihak. Perlu kerja sama dan konsistensi dari semua pihak untuk memeranginya.

Yang pertama tentunya dari kita, masyarakat selaku konsumen buku. Ayo, tumbuhkan kesadaran dari diri kita sendiri kalau pembajakan itu dosa besar, dan kita akan terlibat dosa juga kalau sampai membelinya.

Memang, jiwa sobat misqueen kita sangat tertolong dengan adanya buku bajakan. Tapi, apa kita tidak jauh lebih rugi kalau gara-gara ini penulis kita kemudian kapok menulis, penerbit favorit kita bangkrut, toko buku kesayangan kita tutup (ini sudah mulai terjadi di Palembang), dan kita tidak bisa lagi baca buku.

Jika masih ada yang membeli, maka pembajakan akan terus terjadi. Lingkaran setan. Jadi mari  kita sama-sama putus salah satu mata rantainya dengan berhenti membeli buku bajakan. Toh kalau buku asli mahal masih bisa menabung, nunggu diskon, atau urunan sama teman. Bahkan kalaupun betul-betul tidak mampu beli, masih bisa pinjam teman atau di perpustakaan, kan? Banyak jalan biar tetap bisa baca buku tanpa harus beli bajakan.

Kedua, bertobatlah wahai pembajak! Tidaklah jadi berkah penghasilanmu kalau didapat dari kesengsaraan orang lain. Bila kalian baca tulisan ini, tapi masih nekat membajak, saya kutuk kalian enggak bisa kentut 7 hari! (Hey, ini serius!!!)

Ketiga, untuk penjual buku baik distributor dan pemilik toko, berhentilah menyalurkan buku bajakan. Terlebih kalau sampai menipu pembeli dengan mengatakan buku tersebut asli.

Untuk penulis dan penerbit,  tolong, jangan pernah bosan mengedukasi masyarakat soal ini. Karena seperti yang sempat saya singgung di awal tulisan di atas, ada orang-orang seperti saya yang sebenarnya tidak berniat membeli buku bajakan, namun berakhir membeli juga karena tertipu dan kesulitan mengidentifikasi. Edukasi terus di berbagai kesempatan. Baik saat live event, sosial media, atau kalau perlu di setiap buku yang terbit ada halaman khusus ada peringatan atau info  bagaimana membedakan buku asli dan bajakan (misalnya). Oh, bisa juga seperti yang Mizan lakukan sekarang dengan mengadakan blog dan vlog competition anti pembajakan.

Terakhir, buat aparat dan pihak-pihak berwenang, mohon lebih diperketat lagi penegakan hukumnya. Undang-undang kita sudah ada yang mengatur soal ini dan sepertinya memang sudah berjalan, dengan diadakannya razia contohnya. Hanya saja langkah tersebut masih belum menimbulkan efek jera, para pembajak masih sangat leluasa menjalankan aksinya. Semoga ke depannya bisa lebih tegas lagi.

Jika kita mau ambil bagian untuk memerangi pembajakan buku, saya yakin dunia literasi kita masih punya harapan dan masa depan.

Stop pembajakan mulai dari sekarang!


***

Salam dari Tepian Musi.

Tepian Musi yang masih berkabut
(foto : dok WAG Kompal)
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Mizan Anti Pembajakan, persembahan Mizan.com dan Mizan Store.

17

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels