Newsletter

Menu

Ketika Temanmu Aborsi



Ketika Temanmu Aborsi, kucingdomestik.com (pict : helpsharia.com)


Saya menulis ini dengan perasaan tidak keruan. Seorang teman, sebut saja Hanako (25), tadi malam chat dengan kabar amat tidak mengenakkan. Dia bilang ingin menggugurkan janin yang sedang dikandungnya.

Saya benar-benar bingung harus bagaimana atau merespon seperti apa. Saya tahu, idealnya saya harus melakukan apapun untuk mencegahnya melakukan perbuatan itu. Baik dari sisi agama maupun kemanusiaan, aborsi benar-benar sulit untuk diterima. Tapi di sisi lain, saya benar-benar memahami kondisinya yang complicated.

Hanako ini belum menikah. Sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu universitas negeri 
ternama. Dia punya pacar, namanya sebut saja Hide. Mereka sudah cukup lama pacaran, sekitar 4 atau 5 tahunan kalau tidak salah ingat. Hanako dan Hide pasangan serasi, sebetulnya. Sayang, cinta mereka terhalang restu. Bukan hanya beda agama, tapi juga beda status sosial.

Hanako anak orang kaya. Cantik, pintar, berkepribadian baik dan terlihat begitu sempurna dari luar. Tapi dia punya rahasia besar. Sebelum ini, dia seorang lesbian. Tapi dia perlahan "sembuh" berkat Hide. Cowok ini benar-benar berhati besar dan menerima Hanako termasuk segala masa lalunya. Hanako juga tidak yakin bisa mencintai laki-laki lain selain Hide.

Tapi orang tua Hanako kan tidak tahu apa-apa. Di mata mereka, Hanako itu putri mereka yang sempurna. Jelas tidak terima kalau dapat mantu "cuma" seorang freelancer.
Hanako gadis cerdas. Dia bukan tidak tahu fungsi alat kontrasepsi. Bahkan dia pun seharusnya tahu kalau berhubungan badan dengan pasangan yang belum sah itu jelas melanggar norma dan aturan agama. Saya merasa sudah mengenalnya cukup dekat untuk menyimpulkan bahwa kehamilan itu memang disengaja ..., agar mereka bisa menikah.

Kesimpulan ini diperkuat dengan isi chat Hanako yang bilang Hide bersedia bertanggung jawab. Masalahnya adalah di diri Hanako sendiri. Dia yang mendadak ingin menggugurkan kandungannya karena mungkin belakangan jadi berbalik ketakutan sendiri. Meski di awal dia terkesan siap, nyatanya dia belum siap untuk jadi ibu. Umm..., bukan belum siap jadi ibu sih sepertinya ... Dia hanya belum siap menghadapi penghakiman orang-orang di sekitarnya.

Saya betul-betul bingung bagaimana menghadapi Hanako. Terlepas dari standar moral dan keagamaan, saya benar-benar khawatir dengan kondisi kesehatannya jika dia sampai benar-benar melakukan aborsi. Saya juga khawatir ancaman hukum (pasal 341 KUHP) yang mengintainya.  Saya sungguh tidak ingin dia aborsi, meski saya juga sangat mengerti betapa pelik situasi yang dia hadapi. Alhasil, saya hanya menemaninya ngobrol semalaman sambil berdoa sepenuh hati agar Tuhan ubahkan pikirannya. Ketakutan terbesar saya adalah, Hanako ini diberkati dengan kondisi finansial yang memungkinkannya dapat melakukan apapun selagi bisa dibeli dengan uang. Termasuk aborsi.
Saya berharap, pikiran itu hanya didorong oleh kekalutan Hanako semata. Dia pasti akan berpikir lebih panjang nanti kalau sudah tenang. Dia cewek pintar dan Hide juga laki-laki yang tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada orang yang dia cintai.

Tapi saya salah.

Siang ini, Hanako mengabari kalau segalanya berjalan sesuai rencana.

Janin di perutnya sudah tidak ada lagi.


*

Saya syok. Saya tahu, semua ini di luar kuasa saya.
Tapi saya tetap menyesal dan tidak mampu mengenyahkan rasa bersalah ini.
Saya tahu, ini bukan urusan saya dan seharusnya tidak perlu terbebani karenanya.
Tapi bayang manusia-manusia lain yang saya kenal mendadak melintas.
Mereka yang saya tahu persis bahwa mereka begitu mendambakan kehadiran buah hati. Mereka yang pasti akan dengan senang hati merawat dan membesarkan bayi milik Hanako seperti anak mereka sendiri.
Saya juga memikirkan mereka yang saat ini mendambakan bisa menghirup kehidupan sedikit lebih lama lagi.




Dan saya merasa ...
kosong.


   There are only two ways to live your life. One is as though NOTHING is miracle. The other is as though EVERYTHING is a miracle. - Albert Einstein

1 comment:

  1. akupun sedih kalo bayangin seorang janin diaborsi :( .. okelah, dia kalut, tapiii apa ga terpikir sedikiiit aja kalo itu ttp anaknya sendiri, dan aborsi sama aja membunuh :(.

    ReplyDelete

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels