Menu


"Siapa yang mengira, bahwa segumpal bulu  bisa mendatangkan begitu banyak kebahagiaan"  - Chicken Soup for the Soul : Pelajaran dari Kucingku

Semua Akan Bucing Pada Waktunya

Dalam salah satu buku seri Chicken Soup for the Soul favorit saya : Pelajaran dari Kucingku, ada beberapa kisah tentang orang-orang yang semula tidak menyukai bahkan cenderung membenci kucing, lama kelamaan menjadi budak kucing (bucing) juga. Di dunia nyata, dua orang terkasih saya rupanya juga mengalami proses seperti itu. Dari cat haters menjadi cat lovers. Memang hanya butuh waktu dan kesempatan, pada akhirnya semua akan menjadi bucing pada waktunya.

___________________________________________

Sewaktu masih pacaran dengan Nugisuke, saya sempat sangat khawatir begitu tahu saya ternyata mengencani seseorang yang punya riwayat asthma akut. Saya cemas dengan kemungkinan tidak bisa memelihara kucing jika kelak berumah tangga.

Untungnya, Nugi bilang dia tidak bermasalah dengan bulu kucing. Saya ingat sekali, "kalau kita serumah nanti, kamu boleh piara kucing. Tapi mohon maaf aku nggak akan nguwel nguwel atau ngelus-ngelus mereka kaya kamu. Aku nggak suka kucing," katanya waktu itu.

Meski kecewa calon suami tidak suka kucing, tapi saya lega Nugi tidak melarang saya memeliharanya. Itu sudah cukup. Lagi pula, saya sangat maklum kenapa Nugi tidak suka kucing. Selain penyakit asthma bawaannya, Nugi lahir dan tumbuh besar di keluarga yang tidak suka kucing.

Ibu mertua saya akan sibuk mengusir dengan gagang sapu jika ada kucing yang mendekat atau lewat dekat rumahnya. Kata Nugi, tidak pernah ada seekor kucing pun yang pernah menginjak rumah mereka sejak dulu.

Di awal-awal menikah dan tinggal di sebuah rumah kontrakan petak, saya tidak langsung memelihara kucing. Sudah cukup terhibur dengan kehadiran kucing abu-abu milik ibu kos bernama Marco yang selalu singgah minta jatah uang keamanan tikus. Selain itu, ada banyak kucing liar yang menjadikan rumah kami sebagai basecamp karena saya selalu menyiapkan dry food di teras.

Meski demikian, kami sempat mencoba memelihara beberapa Kitten yang kami temukan di jalanan. Sedikitnya ada 3 ekor yang sempat kami pelihara dan beri nama, yakni Panda, Cireng, dan Uci. Sayang, ketiganya belum memilih kami sebagai babu. Panda kabur di hari kedua kami pelihara, Cireng mati setelah seminggu sempat kami rawat dengan penuh cinta, dan Uci hilang setelah kami titipkan ke tetangga saat harus ada pekerjaan ke luar kota (padahal hanya ditinggal 2 hari).

Ojan dan Otin saat baru diadopsi

Namun di rumah kontrakan yang baru, kami sepertinya berjodoh dengan 2 ekor kitten yang kami jemput jauh-jauh dari Kaliurang. Sepasang kitten kembar berwarna oren-putih yang mirip sekali dengan Ossas saya di Palembang. Jadilah Ossas Jantan (Ojan) dan Ossas Betina (Otin) menemani hari-hari kami di kontrakan baru.

Perlahan namun pasti, Nugi mulai bersikap seperti layaknya ayah ke anak-anaknya. Segera saja dia punya anak favorit : Otin. Yah, semua ayah memang rasanya akan lemah kepada anak perempuan. Nugi bahkan menyebut dirinya sendiri "Bapak" jika bicara pada duo krucil itu.

Tidur pun minta kelon Bapak

Nugi yang dulu bilang tidak akan mengelus-elus kucing manapun yang saya pelihara, kenyataannya setiap hari selalu punya quality time bersama anabul. Entah menimang-nimang, memangku salah satunya ketika sedang sibuk bekerja, atau mengajak mereka bermain yang disebut Nugi sebagai "momong anak".

Iyaa, nggak ngelus ngelus. Cuma nimang nimang aja 😝😝😝😝

Kalau sudah begini, apa masih pantas meng-klaim dirinya sebagai orang yang tidak suka kucing?

***

Selain Nugi, mama saya tercinta alias yang mulia Ibu Ratu juga selalu bilang dirinya tidak suka kucing. Sepanjang ingatan masa kecil saya, Ibu Ratu memang kejam dengan anak-anak bulu kesayangan saya dan papa. Beliau tidak segan menyabet, menendang, atau mengguyur para kucing jika nekat bandel naik ke atas meja mencuri makanan.

Ossas dan Ling ling, kucing saya di Palembang


Ibu Ratu juga sering membuang para kitten yang menurutnya sudah bisa disapih. Saya benar-benar jadi dendam kesumat dengan mama saya sendiri gara-gara ini. Beruntung, saya punya papa yang sama-sama cat lovers. Kalau tidak ada papa, saya tidak akan pernah diizinkan memelihara kucing sama sekali tentunya.

Saya tidak ingat kapan persisnya Ibu Ratu  berubah. Sepertinya tidak lama setelah papa meninggal. Saat itu, Ossas I yang saya pelihara sejak kecil ingin diminta tetangga dan saya minta pendapat Ibu Ratu. 

"Ya jangan boleh lah, enak saja minta-minta. Sudah besar kok diminta, yang ngerumat sejak kecil siapa?!" komen Ibu Ratu saat itu.

Saya geli sendiri, rasanya selama ini beliau mati-matian memaksa saya berhenti memelihara kucing yang dianggapnya sumber banyak penyakit. 

Lalu ketika Ossas I mati dan saya punya Ossas II yang masih kecil, saya sering mengajaknya pulang pergi dari kosan ke dusun Ibu Ratu setiap weekend. Ossas saat itu masih muat masuk tas selempang saya.

Pada suatu hari, ketika saya akan membawa Ossas kembali ke kosan, Ibu Ratu melarang saya. Beliau meminta Ossas ditinggal saja di dusun.

"Kasihan nggak muat lagi masuk tasmu, lagipula di kosanmu sempit, nggak bisa bebas main-main dia. Di sini kan halaman luas, banyak pohon..," kata Ibu Ratu.

Di situ saya sudah membatin, halah! Bilang saja mulai sayang dengan Ossas dan nggak mau pisah. 

Waktu Ossas ga dibolehin saya bawa ke kosan lagi 

Kecintaan Ibu Ratu pada makhluk berkuping segitiga itu kian nyata setelah saya menikah. Setelah diboyong Nugi untuk pindah dan menetap di Yogyakarta, praktis saya meninggalkan anak-anak bulu saya dalam pengasuhan Ibu Ratu di Palembang. Selain Ossas, saya juga meninggalkan Ling Ling beserta 3 anaknya : Pedro, Cemong, dan Citam. 

Setiap kali saya berkesempatan menelpon, Ibu Ratu akan mengoceh terkait kelakuan anak bulu itu. Ossas yang makin buduk dan keluyuran terus bak preman kampung lah, Ling Ling yang jadi primadona dusun dan selalu diapeli banyak pejantan lah, Pedro dan Cemong yang rutin menghadiahi Ibu Ratu upeti tikus dan anakan ular lah, juga Citam yang belum lama ini membantai 22 dari 25 ekor anak ayam kampung peliharaannya.

Semuanya diceritakan dengan begitu antusias oleh Ibu Ratu. Seolah tak ada topik lain yang lebih menarik ketimbang semua anak-anak bulu itu. Bahkan beliau tidak peduli apakah saya sudah hamil atau belum. Bagi beliau, menebak-nebak siapa sesungguhnya bapak dari janin-janin kucing di perut Ling Ling jauh lebih mendebarkan ketimbang menunggu kabar kehamilan saya, anak bungsu dan perempuan satu-satunya ini.

"Sebenernya nggak suka banget kucing saya tuh"

Meski dengan segala kelakuan ajaibnya jika menyangkut kucing, Ibu Ratu masih suka berucap ke siapa pun yang mau mendengarkan, "Sebenernya nggak suka banget kucing saya tuh. Kotorannya bau, bulunya nempel ke baju kemana-mana, bandel nggak bisa dibilangin. Makannya banyak harus ikan pula..."

Kalau sudah begitu saya iya-iyakan saja. 

Manusia yang dipercaya sebagai kasta tertinggi ciptaan Tuhan, memang kadang masih denial mengakui dirinya sudah menjadi seorang budak makhluk lain. Namun percayalah, semua itu hanya soal waktu dan kesempatan. Jika sudah sekali saja terhipnotis pesonanya, maka semua akan menjadi bucing juga pada waktunya.


Apa kalian punya kisah orang-orang seperti Nugi dan Ibu Ratu juga?


Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang menyempatkan diri meninggalkan jejak di kolom komentar



2

Hak Kesehatan Seksual (gambar : kompas)


Belakangan ini saya beberapa kali membaca berita yang cukup bikin geram, yakni soal pelecehan seksual yang dialami kaum disabilitas. Kasus-kasus yang sungguh bikin marah, geram, sedih, dan miris sekaligus. Terlebih, karena para korbannya masih remaja atau di bawah umur.

Saya ingat saat masih kecil, ada kehebohan di dusun saya. Salah seorang warga, seorang remaja perempuan down syndrome, mendadak diketahui hamil di luar nikah. Saat itu saya belum terlalu paham, namun saya sudah tahu bahwa hamil tanpa didahului ikatan pernikahan sebelumnya merupakan hal yang sangat memalukan.

Ketika sudah agak lebih dewasa, saya baru paham kalau apa yang terjadi dengan remaja tersebut adalah kasus perkosaan dengan memanfaatkan ketidakberdayaan si korban. Pelakunya lebih dari satu, dan hampir semua adalah tetangga sendiri yang berdalih mengajak korban bermain-main di sawah yang ada pondoknya. Dan di sanalah perilaku bejat itu terjadi berulang kali hingga sang remaja akhirnya hamil tanpa pernah benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi.

Kasus seperti ini membuat saya sadar, bahwa mendapatkan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi adalah hak setiap orang, termasuk remaja disabilitas dan OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta). Wawasan terkait edukasi ini selain berdampak baik bagi kesehatan, tentunya akan mampu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman pelecehan dan kekerasan seksual yang mungkin terjadi.

Belum lama ini, saya dan rekan-rekan sesama blogger dan teman-teman Ruang Publik KBR dan NLR Indonesia mengikuti sebuah siaran sosialisasi bertajuk Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Bagi OYPMK dan Remaja disabilitas. Dalam agenda tersebut, salah satu narasumber yakni Westiani Agustin yang merupakan founder Biyung Indonesia mengatakan, edukasi terkait kesehatan seksual dan reproduksi untuk perempuan Indonesia masih cukup sulit diakses. "Jangankan untuk yang disabilitas dan OYPMK, yang remaja normal saja masih kesulitan mengakses informasi. Umumnya karena topik-topik terkait kesehatan seksual dan reproduksi ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan," ujar Westiani.
Pentingnya Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Hal senada disampaikan Wilhelmina Ice, remaja Champion program Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) asal Nusa Tenggara Timur. Menurut Ice yang juga remaja disabilitas ini, dirinya tergolong beruntung mendapatkan edukasi dari program HKSR yang dia ikuti. "Namun ada banyak teman-teman saya yang kesulitan mengakses informasi. Selain ada perbedaan kapasitas pemahaman antara teman yang satu dan yang lain, keluarga sendiri terkadang masih tidak mau tahu tentang hal ini," ujarnya.

Disampaikan Project Officier HKSR NLR Indonesia, Nona Ruhel Yabloy, sudah saatnya masyarakat kita sadar bahwa seks edukasi itu berbeda dengan pornografi. Dengan pemahaman yang benar terkait kesehatan seksual, remaja khususnya penyandang disabilitas lebih bisa melindungi dirinya sendiri. "Mulai dari hal-hal sederhana terkait pentingnya menjaga kebersihan dan merawat diri. Untuk wanita tahu kapan harus mengganti pembalut saat menstruasi, dll," jelas Nona.

Hal tersebut penting, tapi sampai sekarang banyak orang tua yang berpikir anak akan tahu sendiri pada waktunya, tidak perlu diajari. Padahal belum tentu. Seringkali anak justru kebingungan dan mencari tahu sendiri. Tentunya akan jadi berbahaya jika pada akhirnya anak malah mendapat informasi yang keliru.

Untuk itulah, perlu adanya support system dari orang terdekat. Penting membangun hubungan yang sehat agar remaja punya tempat aman untuk bertanya, khususnya terkait kesehatan seksual dan reproduksi yang selama ini dianggap tabu.






0

* Demi kenyamanan, jika Anda membaca tulisan di blog ini lewat ponsel, ubah dulu setting-an browser-nya ke mode desktop atau website ya πŸ˜‰πŸ˜‰

Tenang Hadapi Culture Shock Makanan Bersama new Enzyplex


Saya menghabiskan nyaris seumur hidup di Sumatera. Lahir dan besar di Bengkulu, lalu menetap di kota pempek, Palembang sejak tahun 2015 silam. Namun sejak menikah akhir tahun lalu dengan seorang mas-mas Jawa, saya pun kemudian diboyong suami untuk tinggal bersama di kota kelahirannya di tanah Jawa, tepatnya Yogyakarta.

Di tahun 2022 ini, untuk pertama kalinya saya berlebaran di Jogja. Benar-benar perdana ini, gaes! Meski secara kepercayaan tidak turut merayakan, namun saya ikut memeriahkan karena keluarga besar Nugi, suami saya, semuanya (kecuali mamak) merayakan Idul Fitri.

Sesajen Bapak Mertua di malam takbiran

Bapak mertua yang penghayat kepercayaan Kejawen ber-KTP Islam sudah menyiapkan sesajen sejak petang hari di malam takbiran. Lalu keesokan harinya di hari H, setelah keluarga kakak ipar dan keponakan-keponakan selesai salat Ied di masjid dekat rumah, saya dan suami ikut sungkem kepada mertua bersama mereka.

Jujur, saya sempat rindu berat dengan pempek, tekwan, dan teman-temannya yang selalu tersedia saat tradisi sanjo (saling berkunjung ke rumah kerabat/teman saat lebaran) di Palembang. Bagaimana ya? Sebagai produk asli Sumatera, saya masih cukup kesulitan mengatasi culture shock makanan di Jogja ini rupanya.

Sudah tahu kan ya, makanan Sumatera itu pada umumnya cenderung bercita rasa pedas dan gurih, sementara di Jogja nyaris semuanya cenderung manis (bahkan opor temen makan ketupat pun manis lho 😭😭). Masakan Sumatera juga biasanya lebih "berani" dalam penggunaan santan, rempah, maupun bumbu-bumbu dapur. Sementara masakan pada umumnya Jawa lebih soft alias  "pelit bumbu".

Meski demikian, saya berusaha keras beradaptasi. Tidak mudah, tentu saja. Tapi bisa kok. Dalam jangka waktu beberapa bulan ini sejak pindah ke Jogja, meski masih belum sanggup makan gudeg yang menurut saya masih terlalu manis untuk teman makan nasi, tapi saya sudah sangat bisa menikmati nasi pecel dan menu-menu khas angkringan seperti mendoan dan sate telur puyuh.

Menu angkringan yang bersahaja


Cabe Burung yang Bikin Mutung


Di awal-awal tinggal di Jogja, saya sempat bingung dengan penyebutan "cabe rawit". Rupanya ada perbedaan makna dengan yang selama ini saya pahami dengan pengertian orang Jogja pada umumnya. Dalam pemahaman saya, cabe rawit itu ya cabe hijau kecil-kecil yang umumnya jadi teman makan gorengan.

Namun bagi orang Jogja (terutama bagi ibu-ibu warung atau pedagang di pasar), cabe yang saya maksud itu adalah cabe lalap. Sementara cabe rawit buat mereka adalah sebutan untuk cabe berwarna merah agak oranye, dan ukurannya agak lebih besar dari cabe yang untuk makan gorengan. Nah, dalam pemahaman saya, cabe rawit Jogja Version ini namanya cabe burung.

Cabe rawit VS Cabe burung


Terus terang, saya agak musuhan dengan cabe burung ini. Derajat pedasnya sebetulnya biasa saja, masih bisa ditanggung lidah. Namun sensasi panasnya luar biasa. Perut saya tidak nyaman dibuatnya. Ya nyeri, ya perih. Cabe yang benar-benar bikin mutung, orang Bengkulu bilang. Mutung bisa diartikan sensasi terbakar, panas yang amat sangat, atau gosong. Kalau dalam KBBI, mutung artinya musnah terbakar. Yah, sama-sama berhubungan dengan panas pokoknya. 

Kalau masak sendiri, cabe burung ini pasti saya hindari. Saya lebih suka perpaduan cabe merah keriting dengan cabe rawit hijau kecil karena menghasilkan rasa pedas yang elegan, menurut saya.

Masalahnya, orang Jogja yang terkenal dengan masakan manisnya ini, ternyata lebih memfavoritkan cabe burung (atau versi mereka : cabe rawit) untuk dunia persambelannya. Ini sungguh culture shock makanan yang masih begitu sulit saya taklukkan. Masakan apapun di Jogja, baik opor, sate, geprek-geprekan, goreng-gorengan bakar-bakaran, bakso, soto, bahkan untuk menu-menu angkringan, nyaris selalu didampingi sambal oranye berbahan baku cabe burung ini.

Ini sungguh dilematis, Ferguso! Satu sisi, masakan Jogja yang dominan manis ini kok kurang sreg jika tidak dicocol sambal. Tapi kalau sambalnya cabe burung, bagaimana nasib perut saya coba?

Memilih tidak makan sama sekali juga bukan jawaban. Apalagi saat disuguhi ketupat opor di rumah mertua atau ayam geprek di rumah Budhe? Mana bisa menolak? Bisa hancur pencitraan saya sebagai menantu idaman di hari lebaran kalau sampai lancang menolak makan.

Culture Shock Makanan Featuring Dispepsia


Masalah culture shock makanan saya dengan cabe burung, biasanya akan diperburuk dengan dispepsia di hari raya saking banyak dan beragamnya makanan yang disantap.

Tahu kan sensasi tidak nyaman di perut seperti terasa penuh, kembung, begah, nyeri di ulu ati, sakit perut? Biasanya kita bilangnya sakit maag. Tapi menurut artikel di alodokter, sekumpulan sensasi tidak nyaman atau gejala tersebut disebut sindrom dispepsia.

Saya kerap mengalami gejala itu karena maklumlah, banyak yang antre minta dimakan kalau hari besar itu. Ketupat opor dan kondimennya, sederet kue-kue kering dan basah seperti nastar, kastangel, atau lapis legit, rengginang, hingga sirup dan minuman bersoda.

Kalian pernah mengalami juga? Kalau pernah, menyebalkan bukan jika kemeriahan dan kebahagiaan hari raya bersama keluarga harus diganggu dispepsia?

Dua masalah ini sempat membuat saya cemas menghadapi lebaran kemarin. Saya sungguh berharap momen perdana saya berlebaran dengan keluarga suami bisa berkesan dan berjalan lancar.

Tenang Berlebaran dengan new Enzyplex


new Enzyplex, suplemen enzim

Syukurlah, kecemasan saya ternyata tidak terbukti. Terima kasih sangat kepada Nugi, suami tercinta yang memperkenalkan saya dengan new Enzyplex. Dia yang sudah duluan konsumsi bilang, new Enzyplex itu bisa membantu mengatasi gejala dispepsia.

Tadinya saya pikir new Enzyplex itu obat maag, habis dari kemasannya gambar lambung gitu ye kan. Warna hijau pula. Kaya, khas banget gitu lho.

Tapi setelah baca-baca label kemasan dan artikel di internet, baru ngeuh kalau new Enzyplex merupakan suplemen enzim. Bukan obat. Di dalam kapsulnya terkandung enzim pankreatin (amilase, lipase, protase) yang dibutuhkan untuk proses pencernaan. Hayoo, mari kita inget-inget lagi pelajaran biologi materi sistem pencernaan manusia 🀭

Ditambah kandungan lain seperti Vitamin B kompleks, Deoxycholic Acid dan Simeticone, produk new Enzyplex ini jadi efektif banget menjaga kesehatan pencernaan kita. Plus, bisa mengurai gas berlebih di lambung sehingga menjauhkan perut kita dari sensasi-sensasi mual-kembung-perih tidak nyaman itu. 

Suplemen new Enzyplex ini paling baik dikonsumsi setelah makan karena akan bekerja maksimal jika ada makanan di lambung. Bisa dikonsumsi rutin karena jika kandungan enzimnya tidak terpakai, akan otomatis dibuang tubuh. Yang penting sesuai aturan pakai dan tidak berlebihan.

Hasilnya gimana?

Lebaran perdana saya di tanah Jawa bisa dikatakan lancar jaya berkat minum new Enzyplex. Puji Tuhan. Mulai dari "bekas" sesajen Bapak mertua, ketupat opor buatan ibu mertua, nasi ayam geprek buatan budhe, juga bakso buatan bulik di Gunung Kidul (yang semuanya featuring cabe burung) bisa tenang dinikmati tanpa drama sakit perut sama sekali. Perut kenyang, hati pun senang.




Di atas semua itu, saya sangat menikmati momen kebersamaan dalam lebaran. Bisa bersilaturahmi dan lebih mengenal keluarga baru dari pihak suami, juga mengikuti tradisi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan sungguh merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Saking berkesan dan menikmati setiap momennya, sibuk ngobrol dan berinteraksi dalam kehangatan keluarga besar, saya malah baru sadar kalau kami tidak punya banyak dokumentasi. Agak menyesal juga sih tidak banyak foto-foto.

Satu dari sedikit dokumentasi yang tersisa : saya, kakak ipar, dan Bapak mertua berkunjung ke rumah Budhe

Ah, sudahlah. Biar jadi alasan untuk mengulang lebaran di tahun selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya lagi. Kira-kira bakal seasyik apa ya? Kalau kalian, bagaimana cerita lebarannya?

Salam ya dari Jogja yang istimewa Seistimewa kalian yang berkenan meninggalkan jejak di tulisan ini ☺️☺️☺️


***





3


Hal hal yang berubah dari Nugisuke setelah menikah

April ini, usia pernikahan saya dan Nugisuke udah 7 bulan. Akhirnya, lebih setengah tahun dan menginjak semester kedua. Iyaaa, masih terhitung seumur jagung banget meski udah mulai terasa aneh di kuping kalau ada yang bilang kami manten anyar. Dibanding dengan saat masih single atau awal-awal pernikahan, suami saya ini lumayan banyak berubah setelah menikah.

Nah, dalam rangka merayakan monthversary kami (hilih), saya memilih menulis postingan ini untuk mengabadikan momen tentang suami tercinta. Agar suatu saat nanti bisa dibaca lagi, entah untuk mencari kekuatan untuk bertahan di masa sulit, atau sekadar untuk membangkitkan memori senyum dan bersyukur atas hari-hari yang sudah kami lewati berdua.

Cukup intronya, langsung saja, berikut hal-hal yang berubah dari Nugisuke setelah setengah tahun menikah dalam Ragi Story ~ a Journey to Stay Happy :

1. Lebih Berisi

Ara~Nugi sebelum dan sesudah menikah

Kadang definisi cinta itu adalah menggendut bersama. Wkwkwkwk.

Kalau tidak membandingkan foto-foto Nugi saat masih bujangan, saya tidak terlalu notice sih kalau tubuhnya tambah berisi sekarang. Tapi saya sendiri juga melar sih.

Sebetulnya kalau dari porsi makan biasa saja. Rasanya kami nyaris tidak pernah makan berlebihan. Sesekali makan di luar namun tetap didominasi makanan rumahan yang selalu diupayakan memenuhi menu gizi seimbang.

Satu-satunya biang kerok penyebab melarnya tubuh kami adalah kemageran akut. Saya dan Nugi harus akui, sejak punya Ao (motor baru kami), kami jadi kian malas bergerak. Apalagi olahraga. Dulu saat awal menikah masih rutin jalan-jalan tipis di sekitar sawah atau keliling kampung, sekalian menikmati pemandangan dan udara segar. Kadang kalau belanja pun sengaja pilih rute yang agak jauh biar bisa jalan kaki lebih lama.

Sekarang nyaris nggak pernah. Ya ampun … kalau tidak mau kebablasan obesitas, sepertinya kami sudah harus segera rutin berolahraga lagi. Demi kesehatan dan kebugaran juga tentunya mengingat faktor U juga mulai berpengaruh.

Tolong doakan niat ini agar segera direalisasikan dan bukan sekadar angan-angan ya ...

2. Tidak (Terlalu) Idealis Lagi

Saat staycation di Ramada Suites Solo

Nugisuke dengan Blog  thetravelearn.com -nya selama ini punya personal branding sebagai traveler dan hotel reviewer. Nugi yang dulu cenderung idealis, dia berdedikasi mempertahankan niche travel dan hotel reviewer di blog maupun akun media sosialnya semaksimal mungkin.Nugi yang dulu juga tak segan menolak tawaran paid promotion yang berpotensi "merusak" blognya.

Tapi lihatlah sekarang, blognya mulai "kacau" dengan banyaknya postingan yang sebenarnya bukan-Nugi-banget. Meski tak sampai bikin Nugi kehilangan identitas asli sepenuhnya, tetap saja, Nugi berubah. Dia tak seidealis dulu lagi.

Dan saya tahu persis alasannya. Semata karena Nugi sangat paham kalau sekarang dia tak hanya menghidupi diri sendiri, tapi sudah punya istri yang menjadi tanggung jawabnya.

Sebetulnya gaji bulanan Nugi sebagai budak korporat sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kami berdua tanpa Nugi harus mengorbankan idealisme blognya. 7 bulan kami berumah tangga, rasanya belum pernah sekali pun kekurangan apa yang mau dimakan atau dipakai.

Tapi buat Nugi itu belum cukup. Kata Nugi, kami berdua masih punya banyak mimpi yang harus diwujudkan. Men pride Nugi diam-diam juga kerap terluka ketika dilihatnya saya harus menahan diri nunggu gajian atau fee cair dulu kalau mau beli sesuatu. Dia berulang kali bilang ingin segera mencapai kemerdekaan finansial, sehingga bisa lebih maksimal menyejahterakan rumah tangga kecilnya, sekaligus menyokong kebutuhan hidup orang tua kami yang usianya beranjak senja.

Meski menyayangkan nasib blognya, tapi saya tidak bisa menyalahkan Nugi sepenuhnya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin jadi suami yang lebih bertanggung jawab. Bukan salah Nugi kalau dia ingin membahagiakan saya, istrinya. Bukan salah Nugi kalau dia ingin tetap berbakti pada orang tuanya. Dan bukan salah Nugi kalau dia punya banyak rencana juga mimpi-mimpi masa depannya.

Melihat Nugi sampai segitunya, saya cuma bisa berdoa agar kondisi finansial kami segera settle. Income yang lewat saya juga semoga bisa lebih banyak, biar Nugi tidak terus-terusan mengkhawatirkan isi keranjang akun marketplace saya.

Dengan begitu, Nugi tidak perlu lagi "merusak" blognya dengan job-job receh yang malah bikin dia kehilangan identitasnya.

3. Lebih Berani Melawan Ara

Ape lo ape Lo!

Beneran lho ini. Di awal menikah, seperti yang sudah saya singgung di postingan ini, Nugi itu tipe Yes Boy. Dia akan iya iya saja terkait apa saja yang saya bilang demi menghindari konflik. Maklum, produk Jogja gaes, harus meladeni istrinya yang mulutnya produk pesisir Sumatera ini. Bisa apa dia?

Di masa itu, saya sangat yakin Nugi bakal aktif misal tergabung dalam organisasi atau komunitas macem Ikatan Suami-Suami Takut Istri🀣

Tapi sekarang, Nugi sudah berubah gaes. Dia tidak inggih inggih lagi sekarang. Sudah berani mendebat, berargumen, bahkan tidak segan menolak apapun yang saya putuskan sebelah pihak dan dia ga sreg. Nugi bukan lagi yes boy-nya Ara.

Perlahan namun pasti, dia makin meresapi perannya sebagai kepala rumah tangga secara utuh. Makin jelas kalau dia tidak mau menyerahkan posisinya sebagai leader di rumah ini kepada siapapun, bahkan kepada istrinya yang super galak dan sering kesurupan reog ini.

Perubahan yang sungguh bikin saya terharu dan bangga. Bikin saya kian yakin kalau saya tidak menikahi pria yang salah.

Nugi memang makin berani melawan saya, untuk hal-hal yang menurutnya tidak benar. Tapi dia melakukannya masih dengan cara  super lembut khas mas mas Jogja. Tanpa tarik urat leher, tanpa kata-kata mutiara, dan tentu saja tanpa main tangan sama sekali.

Kelembutan dan kesabarannya tidak sirna, bahkan seiring waktu kian bertambah. Inilah yang pada akhirnya selalu meluluhkan sisi emosional berlebih seorang Ara.

Semakin hari, kami makin lihai berdebat dan bernegosiasi dengan lebih elegan untuk menyelesaikan setiap konflik. Belum sempurna, tentu saja. Kadang masih ada momen-momen "kelepasan", tapi sudah jauh membaik dari triwulan pertama.


4. Sudah Bisa Pasang Badan untuk Ara



Saat baru menikah, masih di minggu-minggu awal kami serumah, saya dan Nugi sempat ada ribut besar. Saya berkonflik dengan keluarga Nugi perkara kesalahpahaman. Respon Nugi? Dia auto di pihak keluarganya dan menyalahkan saya dong. 3 lawan 1 gaes.

Apakah saya terus nangis-nangis minta dipulangkan ke Palembang? Oh, tentu tidak, Esmeralda! Justru saya yang "ngusir" Nugi dari kontrakan kami. Saya minta dia pulang ke tempat orang tuanya, ke keluarganya. Saya minta dia ambil waktu sebanyak yang dia perlukan, dan silakan kembali kapan saja saat dia sudah benar-benar siap berumah tangga.

Di mata saya saat itu, Nugi belum siap menjadi suami seorang Ara. Dia masih berat ke keluarganya. Memang tidak bisa disalahkan juga sih, keluarga kandung jelas segalanya buat Nugi. Tapi jujur saja, saya tidak mau serumah dengan suami macam itu. Buat saya, suami yang tidak bisa memberikan rasa aman ke istrinya itu suami yang belum beneran suami.

Tapi ternyata Nugi hanya kembali ke rumah ibunya beberapa hari saja, setelah itu dia pulang ke kontrakan petak kami dengan permintaan maaf dan perubahan sikap yang nyata.

Setelahnya, Nugi nyaris selalu berdiri di pihak saya ketika ada konflik dengan orang lain. Bahkan ketika menurutnya saya yang salah. Dia akan menegur dan mendidik saya di dalam rumah, tapi ketika menghadapi "dunia" dan segala masalahnya, dia selalu di sisi saya.

Lalu beberapa hari lalu, Nugi mendadak berbicara sangaaaattt ketus pada seseorang yang sebetulnya sangat dia hormati. Saat saya tanya kenapa, Nugi bilang dia tidak suka cara seseorang itu bertanya pada saya dengan nada mengintimidasi. Jadi perlu diberi pelajaran sedikit.

Padahal, saya merasa tidak ada masalah lho. Ya, cara orang itu bertanya memang bikin tidak nyaman sih, tapi rasanya tidak perlu juga kalau sampai diganjar keketusan Nugi sedemikian rupa. Saya masih bisa handle sendiri.

Tapi tentu saja saya berterima kasih dan mengapresiasi tindakan Nugi. Itu momen di mana saya merasa Nugi benar-benar makin matang sebagai seorang suami. Dia betul-betul pasang badan untuk saya tanpa diminta. Spontan begitu saja. Dan … Nugi terlihat seperti sosok berbeda. Saya masih sulit percaya kalau dia masih lelaki yang sama dengan yang saya suruh kembali pada ibunya berbulan bulan bulan lalu.

Tapi itu beneran Nugi. Nugi yang sama. Nuginya Ara, yang semakin hari semakin dewasa saja

***


Perubahan adalah keniscayaan. Segala sesuatu yang bertumbuh akan berubah. Tak terkecuali Nugi (juga saya). Jika seseorang tidak berubah, maka artinya dia berhenti tumbuh. Dan kalau sudah demikian, proses pembusukan pun dimulai.

Menikah benar-benar mengubah banyak hal. Disadari atau tidak. Disukai atau tidak. Diinginkan atau tidak. Perubahan apsti terjadi. Tinggal ke arah mana perubahan terjadi. Kian membaik kah? Atau justru memburuk? Siapkah kita menghadapi semua perubahan itu?


Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang masih berkenan meninggalkan jejak di postingan ini.


<to be continued>


Bonus :

Otin dan Ojan, anak baru kami


3







Cerita Kusta, Stigma, dan Upaya Atasinya 
(Pict : World Health Organization)


*

Main saya kurang jauh ternyata. Saya pikir kusta atau lepra, penyakit kulit yang udah ada sejak jaman Alkitab ini udah tinggal butiran debu. Nyatanya enggak. Masih banyak aja lho pengidapnya. Indonesia bahkan jadi 3 besar negara di dunia penyumbang kasus baru terbanyak,yakni mencapai 17 ribu kasus per tahun. Wah.

Mirisnya, banyaknya jumlah kasus kusta tersebut diperparah stigma yang kadung mendarah daging di masyarakat. Penyakit kusta dianggap sebagai penyakit menular yang sangat ganas, sehingga pengidapnya kerap dikucilkan. Bukan cuma dijauhi, namun terkadang sampai dipecat dari pekerjaan.

Stigma negatif terhadap pasien kusta ini menjadi efek domino yang menyebabkan 4 aspek kesehatan lainnya akan terganggu. Mulai dari sakit mental karena pasien akan tertekan, berlanjut ke sakit sosial karena pasien akan cenderung mengurung diri dan enggan bersosialisasi, lalu merembet ke sakit ekonomi karena pasien tidak bisa bekerja. Dan yang terburuk tentunya adalah sakit spiritual karena semua stigma tersebut juga mengisolasi pasien untuk datang ke tempat-tempat ibadah dimana kebutuhan rohani dan spiritual biasanya terpenuhi.

Jelaslah masalah stigma terhadap penyakit kusta ini bukan perkara sepele dan tentunya perlu perhatian khusus untuk menanganinya. Hal ini dipaparkan dengan apik oleh Dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dalam webinar bertajuk "Kolaborasi Pentahelix untuk Atasi Kusta" yang saya ikuti bersama rekan-rekan blogger belum lama ini.

Blogger Crony Community

Menurut Dr. Flora, diperlukan kolaborasi pentahelix atau multipihak dimana unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, serta media bersatu dan berkomitmen bersama untuk mengatasi kusta. "Sebab tidak bisa mengandalkan pihak medis saja untuk mengatasi stigma terhadap kusta ini. Kami tidak bisa bergerak sendiri, harus ada pihak-pihak lain yang mendampingi," jelas Dr Flora.

Dalam kesempatan tersebut, Dr Flora menegaskan bahwa kusta sebetulnya adalah penyakit menular yang paling tidak menular. Kusta dapat menular jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. "Bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Dengan fakta ini, sebetulnya masyarakat tidak perlu takut berlebihan atau menjauhi pasien sedemikian rupa," beber Dr Flora.

Screenshot Webinar


Masih dalam webinar yang sama, narasumber kedua yakni Wisnu Saputra, S.H, S.IKom selaku jurnalis sekaligus ketua bidang organisasi PWI Kab Bandung menjelaskan bahwa media juga aktif terlibat dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Atasi Kusta karena punya peranan penting, yakni mengedukasi masyarakat dan menyebarkan informasi seluasnya. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi terpapar informasi yang keliru terkait kusta. "Kalau sudah mendapat informasi yang benar dan teredukasi, diharapkan masyarakat tidak lagi termakan stigma," ungkapnya

Wisnu menambahkan, di era digital seperti sekarang, peran media tidak hanya terbatas pada media-media mainstream namun juga bisa dilakukan oleh masyarakat biasa termasuk citizen journalist, blogger, dan influencer. "Langkah paling simpel yang bisa dilakukan adalah meneruskan informasi yang didapat. Secara tidak langsung, itu akan mengedukasi masyarakat lewat follower masing-masing," kata Wisnu.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak terlibat dalam mengatasi kusta di negeri ini. Sekecil apapun peranmu, tetap akan berdampak pada eliminasi stigma kusta di Indonesia. Dan jika itu sudah kompak dilakukan semua pihak, hanya tinggal perkara waktu bahwa penyakit kusta akan benar-benar lenyap karena semua pasiennya sudah tertangani dan diterapi dengan baik.


Punya pengalaman soal penyakit kusta, atau punya kenalan dan saudara yang sakit kusta? Yuk share di kolom komentar.




Salam dari Jogja

0



Kesan Setelah Rutin Pakai Scarlett


Tanpa terasa, udah berbulan-bulan saya rutin memakai rangkaian produk Scarlett Brightly Face Care Series sebagai skincare rutin harian saya. Di postingan kali ini, Mommy Ossas alias si Emak Kucing Kampung akan menuliskan kesan-kesan selama memakai Scarlett Brightly Face Series.

Sebelumnya, coba lihat foto-foto saya dulu dan sekarang. Beda jauh kan ya? Meskipun sekarang secara umur udah lebih tua, tapi efek rajin skincarean bener-bener terlihat nyata. Makin glowing gitu lho.

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang

Kesibukan sebagai Ibu Rumah Tangga bukan alasan untuk nggak skincarean. Kalau kulit sehat dan wajah glowing, selain bikin kepercayaan diri meningkat, suami juga makin nempel. Jadi jangan males skincare-an ya …

Balik ke Scarlett tadi, berikut kesan-kesan saya selama rutin pakai Scarlett Brightly Face Care Series yang terdiri dari Scarlett Brightly Ever After Serum, Scarlett Brightly Ever After Cream Day, dan Scarlett Brightly Ever After Cream Night.

1. Hasilnya Nyata

Meski di awal-awal pemakaian tidak langsung terjadi perubahan yang signifikan, namun setelah rutin perawatan hasilnya terlihat nyata.

Bercak dan noda hitam tersamar, bekas jerawat memudar, wajah lebih terasa lembap dan segar, serta terlihat halus dan cerah.

Ga heran sih, produk-produk Scarlett punya kandungan glutathione, phyto whitening, dan vitamin C, serta deretan kandungan lain dengan fungsinya masing-masing. Seperti :

Rainbow algae yang meratakan warna pigmen kulit

Hexapeptide-8 yang menyamarkan garis halus

Poreaway yang menyamarkan pori-pori

Rosehip oil in essential fatty acids dan antioksidan yang menyamarkan bekas luka

Triceramide yang melembabkan sekaligus menyamarkan keriput, dan

Aqua peptide glow yang mencerahkan dan menghidrasi kulit!


2. Harga terjangkau


Dengan sederet manfaat dan hasil yang terbukti, harga produk-produk Scarlett Brightly Face Care Series tergolong sangat terjangkau. Masing-masing bisa dibeli hanya dengan Rp 75 ribu saja. Bahkan bisa jauh lebih murah ketika promo.


3. Packaging Cantik dan Aman

Saya suka dengan kemasan Scarlett Brightly Face Care Series yang desainnya elegan dan tampak mahal. Terlebih, sekarang tersedia kemasan kecil alias travel size yang bakal praktis banget dibawa kemana-mana tanpa bikin penuh tas.

Selain itu, paket-paket produk Scarlett Brightly Face Care Series selalu dikemas dengan aman. Buble wrap melimpah dan masih dilapisi kardus sehingga diterima dengan aman tanpa rembes sama sekali. Puas banget rasanya.

4. Peduli dengan Nasib Hewan

Sebagai penyayang binatang (ga cuma kucing), saya terkesan sekali dengan Scarlett yang sama sekali ga memanfaatkan hewan untuk uji coba produk-produknya.

Buat sebagian orang mungkin ga terlalu peduli ya, buat saya ini hal yang patut diapresiasi. Scarlett benar-benar memenangkan hati saya untuk soal ini.

5. Cocok

Kadang yang namanya skincare itu cocok-cocokan. Beruntung, saya cocok dengan Scarlett ini karena selama pemakaian tidak menimbulkan iritasi atau masalah kulit lainnya. Ini menunjukkan bahan-bahan yang digunakan Scarlett adalah aman.

Iya dong, karena sudah terdaftar di BPOM juga.


Kesimpulannya, Scarlett Brightly Face Care Series punya kesan yang positif buat saya. Apakah akan terus dilanjutkan? Tentu saja! Meski saya ga menutup kemungkinan untuk menjajal produk produk yang lain. Tapi kalau ga ada yang lebih baik dan cocok, tentu saya akan kembali pada Scarlett.

Nah, buat kalian yang tertarik menjajal Scarlett setelah membaca tulisan ini, produk Scarlett bisa di-order dengan mudah melalui : 
WhatsApp di nomor 0877-0035-3000
LINE @scarlett_whitenin
DM instagram @scarlett_whitening
atau di Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop. 

Silakan pilih mana yang paling sreg buat kalian.


Sampai jumpa di postingan Emak Kucing Kampung lainnya ya…

Salam dari Jogja yang istimewa, seistimewa kalian yang meninggalkan jejak di kolom komentar.


Bonus :

Suci, anak kucing kampung jalanan yang baru kami adopsi. Masih kena scabies kupingnya

0


Ragi Story : Sudah siap lepas kondom kah?

"Gimana? Udah siap lepas kondom kah?" tanya saya ke Nugi kapan hari.

(Btw, sebelum melanjutkan baca postingan si Emak Kucing Kampung kali ini, better baca tulisan Nugi soal kondom di sini dulu ya biar agak nyambung).

Saya nanya begitu karena waktu detoks saya udah selesai. Dengan kata lain, secara fisik, saya sebenarnya sudah siap hamil.

Tapi seperti yang saya duga, Nugi menggeleng dan menjawab "belum" sambil nyengir. Saya ketawa. Ya, saya emang udah tau jawaban Nugi sebelum nanya karena udah sering disisipkan di pillow talk rutin kami. Dan, ya, saya juga sama. Belum siap. Secara fisik mungkin sudah, tapi secara mental belum.

Meski begitu, saya dengan berbahagia pengen ngabarin kalau kami berprogress, tentu saja. Sudah jauh lebih siap jika dibanding awal-awal pernikahan kami.

Soal finansial, Puji Tuhan sudah ga ada kekhawatiran lagi (bukan karena duit udah tidak berseri, tapi setidaknya kami udah nabung dan percaya Tuhan yang akan mencukupkan sisanya). Pun dengan kondisi fisik, baik saya sama Nugi ngerasa ok. Meski belakangan ngerasa butuh stok koyo lebih banyak πŸ˜…

Paling hanya sedikit PR untuk mengganti faskes 1 di BPJS karena baru bisa diproses bulan April besok. FYI, faskes 1 saya masih tercatat di sebuah puskesmas di Palembang. So, kalau ini beres, harusnya tidak ada kendala yang aneh-aneh lagi.

Satu-satunya masalah kami memang masih di sisi mental. Belakangan ini, kami merasa sangat stress dengan tangisan anak tetangga (maklumlah, masih tinggal di kontrakan yang cuma berbatas dinding). Kami memang ga sampai marah-marah atau mengeluh ke tetangga. Sekali lagi sangat maklum. Tetangga kami didominasi keluarga muda dengan anak yang masih kecil-kecil. Tapi ya itu, tidak bisa membohongi diri juga kalau saya dan Nugi merasa sangat frustrasi ketika para bocil itu kompak menangis di jam jam ajaib, sementara kami sangat butuh ketenangan.

Semua kondisi ini menyadarkan kami kalo kami sungguh belum siap dengan salah satu konsekuensi sebagai orang tua : mendengar tangisan bayi setiap hari, setiap saat.

Saya tahu, mungkin ada banyak yang akan bilang "Itu kan anak tetangga. Nanti kalau anak sendiri akan terbiasa, naluri keibuan pasti akan muncul dengan sendirinya dan akan membantumu..."

Ya. Ya. Ya. Saya tahu teorinya. Tapi kalau sesederhana bisa selesai dengan naluri keibuan, saya rasa ga akan pernah ada kasus baby blues atau Post Partum Depression (PPD) di dunia ini. Ga bakal ada cerita ibu gorok leher anaknya atau ngelempar bayinya sendiri ke sumur kek yang bersileweran di berita dan timeline sosmed akhir-akhir ini.

Dengan riwayat kesehatan mental yang bisa dibilang tidak terlalu bagus, wajar dong kalau saya khawatir dengan kondisi saya sebagai ibu?

"Ah, lu mah terlalu khawatir. Terlalu takut untuk hal yang belum tentu terjadi ... Kaya ga punya Tuhan aja..."
Yep. Benar. Mungkin saya takut. Saya tidak akan menyangkal pernyataan itu. Tapi menurut saya, ketakutan juga bukan sebuah kesalahan ye kan?

Saya memang takut, tapi saya juga tidak yang diam saja. Saya takut, tapi juga berusaha mengatasinya.

Saya banyak memperhatikan tetangga, bagaimana cara dia menenangkan anaknya yang nangis ... gimana cara dia mengalihkan emosi dan rasa frustrasi. Saya juga rajin ikut webinar parenting dan kelas persiapan kehamilan. Membekali diri juga dengan banyak bacaan. Well, semua itu belum tentu kepakai di saya emang (karena saya tau bahwa setiap ibu, kehamilan, dan anak itu unik), tapi setidaknya, dengan melakukan segala persiapan itu, saya jadi merasa punya bekal atau kisi kisi.

Selain itu, banyak malam juga yang saya habiskan buat menyerahkan semua ketakutan ini ke Tuhan. Saya percaya, akan ada titik dimana Tuhan akan kasih keyakinan bahwa saya sanggup menjadi ibu, sama seperti saat DIA kasih keyakinan bahwa saya sanggup jadi istrinya Nugi.

Namun yang perlu diingat di sini, menjadi orang tua itu bukan cuma tugas ibu lho. Ayah juga besar perannya. Kapan hari ada seorang temen yang cerita, ada saudaranya yang baru 3 hari jadi ayah tapi sudah bersungut-sungut ga keruan mengeluh kurang tidur, dll. Ini menunjukkan kalau sebenernya dia belum siap mental jadi ayah, bukan? Belum siap sama konsekuensi punya anak bayi gitu ...

Nah, saya tidak mau itu terjadi sama Nugi. makanya saya mau pastiin dulu kesiapan mental dia juga. Dan kalaupun Nugi ternyata memang belum siap juga ya nggak papa ... Better jujur begitu ketimbang memaksakan diri.

Selain itu, saya dan Nugi merasa perlu membereskan beberapa "urusan kami" dulu sebagai pasangan, tanpa "direcoki" anak. Yah, sedikit ini dan sedikit itu. Mudah-mudahan, setelah semua selesai, kami akan siap lahir batin untuk dititipin anak sama Tuhan.
"Lha kalian aja nunda-nunda momongan begitu, yakin bakal dikasih emang?"
Yakin kok. Dia kan Sang Maha Pemberi. Meski saya sama Nugi sejak masih pacaran sama-sama melihat kalau anak bukan tujuan pernikahan. Buat kami, anak hanya pelengkap. Dikasih dari rahim sendiri (amin), Puji Tuhan. Enggak pun bisa adopsi dan tetep Puji Tuhan.

So, tidak masalah sama sekali buat kami (paling nanti yang masalahin keluarga besar, tetangga, sama netijen 🀣🀣🀣)

Dan kalau misalnya kesiapan punya anak bisa diukur pakai skala angka 1-10, saat baru menikah kesiapan saya sama Nugi mungkin di angka minus 4, tapi sekarang udah naik di angka 6. Kami tidak berencana menunggu sampai siap 100% di angka 10 kok, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan (tsaaaahhhh). Tapi setidaknya ada di angka 8 lah kira-kira, syukur-syukur bisa mencapai 9.

Dari 6 ke 8 atau 9 harusnya tidak akan terlalu lama lagi. Seharusnya.
Doakan kami ya, teman-teman terkasih ... Agar pada waktuNya nanti kami betul-betul siap dititipin anugerah terindah dari Tuhan.

Sekian postingan si emak kucing kampung malam ini,
Salam dari Jogja yang kalo siang puanas dan kalo malem dingin 😘

Bonus :

Ossas Markosas digendong mommy

2


Tulisan ini berisi review pemakaian Pond's Triple Glow Serum untuk kulit saya yang kuning langsat. Apakah serum ini mampu wujudkan kulit cerah, sehat, dan merona? Baca sampai habis ya!


Pond's Triple Glow Serum


Saya sudah lama sadar kalau tone kulit saya itu bukan putih, tapi lebih ke tanned. Warna aslinya kuning langsat, tapi sempat jadi sawo matang karena hobi kelayapan dan malas perawatan. So, frasa "pengen putih" ga pernah ada di kamus hidup saya sih. Tapi kalo "pengen cerah" iya banget. Gimana ya, apapun warna kulitnya, kalau terlihat cerah ga kusam tuh enak aja pasti lihatnya. Saya tidak mau kembali dekils seperti dulu.

Aku yang dulu



Dibanding saat masih single, saya cenderung lebih telaten merawat diri sekarang setelah menikah. Lagi seneng nyobain banyak produk skincare juga. Targetnya sih biar kulit sehat dan ternutrisi aja, kalau bisa dapat hasil cerah merona ya itu bonus banget. Skincare paling baru yang dicoba adalah Triple Glow Serum dan Triple Serum Mask dari Pond's.

Berikut penampakannya, sengaja beli yang kemasan mini biar ga rugi-rugi amat misalnya ga cocok. Terus, biar semangat, saya juga ajakin Nugi, suami buat nyobain juga. 

Nah, gimana hasilnya setelah pakai Triple Glow Serum Pond's yang dipercaya sebagai serum pencerah wajah terbaik ini? Simak terus reviewnya ya...




Pond’s Triple Glow Serum : Warna, Aroma, Tekstur


Dari segi warnanya yang putih bening ini, Pond's Triple Glow Serum sebenernya ga terlalu istimewa. Nyaris sama aja kaya serum-serum pada umumnya. Tapi aroma wangi lembut elegan khas produk Pond's selalu jadi nilai plus. Wanginya lembut dan sopan masuk ke hidung. Saya suka.

Tekstur Pond's Triple Glow Serum


Dari teksturnya, serum Pond's ini lebih kental dari serum pada umumnya yang cenderung berupa cairan encer. Dengan tekstur yang kental seperti ini, 3 tetes saja sudah sangat cukup untuk diaplikasikan ke seluruh bagian wajah. Nah, saya suka nih tekstur yang begini karena langsung merata, cepat menyerap dan nggak meninggalkan kesan lengket sama sekali.

But honestly, sempat ada sensasi nyelekit agak perih gitu saat baru dipakai. Well, ini reaksi yang biasa saya alami kalau cobain produk baru pertama kali. Nggak ngerti juga kenapanya. Entah kulit saya tipe yang sensitif atau gimana. Tapi mungkin perlu adaptasi aja kali ya, soalnya biasanya sensasi ini akan berkurang dan memudar dengan sendirinya di pemakaian ketiga dan seterusnya.


Efek Pemakaian Pond’s Triple Glow Serum


Pond's Triple Glow Serum



Efek pertama yang langsung terlihat sesaat setelah Pond's Triple Glow Serum diaplikasikan adalah, kulit auto lembap. Hasil browsing-browsing baca review di internet, efek lembap ini berkat kandungan Hyaluronic Acid yang mampu menyerap dalam ke setiap lapisan kulit. Ga hanya lembap, tapi juga tampak berkilau.

Soal klaim yang mampu mencerahkan gimana?

Well, belum langsung kelihatan sih di satu dua hari pemakaian. Tapi setelah pemakaian rutin 2 minggu, lumayan kelihatan bedanya. Meski warna kulit saya memang nggak putih putih amat, kelihatan sih kalau makin cerah dan ga kusam lagi.

Kandungan Pond's Triple Glow Serum


Selain kandungan hyaluronic acid yang saya singgung sebelumnya, Pond's Triple Glow Serum ini juga menggunakan formula Gluta-Boost-C yang mengandung glutathione, yakni antioksidan yang dikenal efektif mencerahkan kulit. Nggak cuma itu, ada kandungan Gluta-Boost-C juga yang ampuh menyamarkan flek hitam.

Dengan kekuatan 60x lebih efektif dari Vitamin C yang dilengkapi vitamin B3+, Pond’s Triple Glow Serum adalah salah satu serum pencerah wajah terbaik di Indonesia. Punya kulit kuning langsat yang cerah, sehat, merona bukan lagi angan-angan.

Oh iya, serum pencerah wajah dari Pond’s ini juga mampu menyamarkan bekas-bekas jerawat lho. Pas nih buat kalian yang butuh serum untuk say goodbye sama jerawat.


Lengkapi Perawatan dengan Pond’s Triple Glow Serum Mask


Pond's Triple Glow Serum Mask



Untuk hasil yang lebih sempurna, saya juga aplikasikan Pond's Triple Serum dalam wujud sheet mask. Kalau Pond's Triple Glow Serum pakenya rutin tiap hari, yang Pond's Triple Glow Serum Mask ini pakenya cukup seminggu sekali. Saat weekend, sekalian quality time bareng suami. Enak kan bisa tetep happy meski belum bisa kemana-mana.

Sama dengan produk serum pencerah wajah, Pond’s Triple Glow Mask ini juga punya khasiat mencerahkan, melembabkan, dan melembutkan. Masker ini mengandung Gluta-Boost-C, vitamin B 3+, dan Hyaluronic Acid. Tiga kekuatan skin care terbaik ini lah yang oke banget buat pancarkan triple action glow.


Pond’s Triple Glow Serum Mask yang Super Praktis

Maskeran dulu



Yang saya suka dari Triple Glow Serum Mask ini karena super praktis dan sangat mudah diaplikasikan. Tinggal tempelkan saja ke wajah yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Habis itu didiamkan selama kira-kira 15-20 menit. Nah, saya sih disambi baca buku.

Kalau udah, jangan buru-buru dibilas. Msker Pond's ini kan mengandung banyak serum, bahkan mengandung 100x Niacinamide lebih banyak dari sheet mask Pond's lainnya. Sayang ye kan kalau langsung dibilas, mending sisa sisa serum yang menempel itu diratakan sambil dipijat-pijat lembut. Saya bahkan sampai ngusapin sisa serumnya ke siku dan lutut saking ga mau terbuang gitu aja.




Hasil setelah rutin pakai 2 minggu


Menulis ini, saya merasa jauh lebih bersyukur dan lebih menerima diri saya sendiri. Saya ga mau terobsesi jadi putih karena saya bangga dengan tone kulit saya yang kuning langsat begini. Masih dalam rangka memperingati International Women's Day, saya juga berharap perempuan-perempuan lain juga lebih bisa mencintai keunikan dalam diri, termasuk warna kulitnya. Bukan warnanya yang penting, tapi bagaimana terus merawat dan menyehatkannya.

Percayalah, apapun warna kulitmu, tetap bisa terlihat cerah, sehat, segar dan merona lho. Yuk, lebih rajin skincarean!




***








1

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...