Menu

Spiderman Far From Home


Oh, jadi ini ceritanya bukan soal Peter Parker yang kabur dari rumah toh, pikir saya di awal-awal film. Maklum, saya kan menghindari semua trailer dan spoiler. Jadi nontonnya benar-benar dalam kondisi  kanvas putih alias nggak ada bayangan apa-apa. Nebak-nebak judul doang kirain si Peter kabur kemana gitu …

Peter emang lagi jauh dari rumah. Tapi “cuma” study tour bareng temen-temen sekelasnya ke Eropa. Widiihhh, langsung berbinar-binar ni mata ngintipin kota-kota cantik di sana yang nggak tahu kapan bisa didatangi langsung. Itali, Ceko, Belanda, Jerman, Inggris … dan favorit saya : Austria. Hijau-hijau pegunungannya itu lho. Adem, sampe berasa dalam bioskop (ppppfffttt, AC-nya terlalu dingin ya, Ar?)

Austria



Dari segi plot, standar banget sih menurut saya. Terlalu simpel. Tentang Peter yang sebenernya pengen liburan sekaligus pedekate sama MJ, tapi malah terjebak sama misi penyelamatan dunia. Siapa penjahatnya aja ketebak kok. Visualisasi dan sound effect meski tetep keren, tapi saya merasa agak nanggung. Mmm…, semacam “duh, harusnya bisa lebih waaaahhh dari ini!”

Meski begitu ni film fun banget lho. Jokes-jokesnya dapet. Beberapa emang garing, tapi cukup banyak yang bikin satu studio pecah. Dan tahu apa yang paling berkesan buat saya? Romance scenes yang bertebaran di sepanjang film.

Saya nggak tahu nih apa tepatnya yang bikin saya senyum-senyum sendiri kaya orang bego di kegelapan. Faktor Chemistry Peter-MJ yang makin dapet kah? Ned-Betty yang kisah cinloknya unyu banget itu? Mungkin juga karena  si Tante seksi May sama Om Happy yang kemunculannya saya jamin bikin ni film naik rating… atau bisa jadi juga nggak ada hubungannya sama film. Melainkan faktor someone yang kebetulan nemenin nonton? (Astaga! Apaan cobaaa 😹😹)

Found this fanart on FB. Kyaaa... I ship this two 😻


Oh, meski tadi saya bilang penjahatnya ketebak, dua adegan pasca-kredit itu sama sekali nggak ketebak. Wohooo ...layak banget ditungguin. Saya pas keluar bioskop tuh terus langsung mikir “Wah, bakal ada apa lagi nih film selanjutnya?”

Saya nonton di CGV Transmart Jumat (5/7) kemarin. Niatnya nonton jam 6 tapi kehabisan karena kejebak macet dalam perjalanan dari Plaju (lagian ngapain juga pake hujan segala). Alhasil cuma dapat yang nyaris jam 8 malam.

Studio cukup ramai. ¾ terisi. Nggak ada insiden berarti kecuali mas-mas di sebelah saya masih nggak bisa nahan diri buat stop mainin HP. Beberapa kali terganggu banget sama cahaya yang keluar dari HP dia. Separo penonton udah keluar bahkan sebelum aftercredit 1 selesai. Well, dimaklumi juga sih karena udah kemalaman.

Total skor … ummm … versi objektif 8 (mungkin kurang-kurang sedikitlah). Tapi karena ni film bikin mood saya stabil padahal lagi PMS, skor akhir saya kasih 8,5 deh. Intinya (lumayan) recomended lah ...

Dan mohon maaf buat yang baca postingan ini karena ngarepin lebih banyak bocoran. Saya bukan Kang Spoiler. Nggak mau mengganggu kenikmatan orang lain yang mungkin belum sempat nonton.

Udaaaahhh… buruan nonton sendiri aja sana sebelum turun layar!




Salam dari Tepian Musi ...
(Mommy Ossas).


::


Nb.

I have taken a photo with someone who accompanied me to watch this movie last night. I even got his permission to upload our pic on my blog.


But after I looked at the photo carefully, I've changed my mind. I like the pic so much. Umm ..., sorry for being selfish, but right now I just want to keep it for myself.









0



Alasan pilih Yamaha LEXI

Halo semua, selamat datang kembali ke kenyataan. Haha ... lebaran baru usai. Ada yang THR-nya masih bingung mau diapain?

Gaji ketigabelas masih utuh?
Beli motor baru aja, gih! Biar akses transportasi tetap lancar meski jalanan sering macet.

Lha, kok motor, Ra?
Iya. Soalnya kan weekend kemaren habis nongkrong di acara akbarnya Yamaha di BKB bertajuk Yamaha Maxi Day 2019.

Sesuai judulnya, pengunjung disuguhi macem-macem tipe motor yang jadi bagian dari seri Maxi yang sudah dirilis sejak 3 tahun lalu. Saya sering dengar NMax, dan sudah pernah ngereview Aerox di sini , tapi sebenernya ada satu lagi yang tidak kalah kece, yakni tipe LEXI yang sampai saat ini punya 3 varian yakni Lexi Standar, Lexi S, dan yang terbaru : Lexi S ABS.

Ada 5 alasan utama kenapa Yamaha Lexi layak banget buat jadi pilihan untuk motor barumu. Berikut ulasan lengkapnya :

1. Desain dan pilihan warna kece

Yamaha Lexi

Namanya juga seri MAXI, body motor ini jelas lebih besar dari matic-matic pada umumnya, jadi terlihat kuat dan kokoh. Tampilannya terlihat seksi dan elegan, terutama dengan lampu LED dan tambahan lampu Hazard yang berguna untuk kondisi darurat.

Selain warna standar merah dan hitam, Yamaha Lexi ini juga punya varian warna yang unik yakni Matte Red, Matte Blue dan White Metallic.

2. Fitur Canggih

Asyik menyimak penjelasan

Nah, ada banyak banget fitur canggih yang ditawarkan. Lexi seri S dan S ABS telah mengusung Sistem Kunci Pintar (Smart Key System) untuk menyalakan motor. Dengan adanya sistem ini, Lexi bahkan dapat dihidupkan dengan menggunakan remote kontrol (wohooo, nggak kalah sama mobil cuyyy). Untuk manusia pelupa kaya saya, sangat tertolong dengan adanya fitur alarm yang akan berbunyi jika motor ditinggalkan dalam keadaan menyala.

Seri Lexi ini juga dilengkapi dengan Electronic Power Socket bagi kalian yang kehabisan daya gadget. Dengan EPS ini, kita bisa charge ponsel bila ada kebutuhan yang mendadak. Hari gini, kebutuhan pokok manusia memang ada 4 kan? Sandang, pangan, papan, dan casan 😹

Tampilan speedometer digital Yamaha Lexi

Seolah belum cukup, speedometer digitalnya juga kece badai. Kita bisa tahu informasi apa saja terkait kendaraannya. Misal, kecepatan, konsumsi bahan bakar, waktu, hingga mesin. Plus, indikator ini juga bisa diubah tingkat kecerahannya sesuai lingkungan sekitar. Beuh, macem bunglon aja gaesss….

Seri ini juga punya Stop Start System. Bagian ini berguna untuk menghemat bahan bakar. Kalau pas lagi ketemu lampu merah yang lama, kendaraan akan berhenti. Menyalakannya pun gampang. Tinggal gas seperti biasa dan ngeeengg!

3. Bagasi Luas

bagasi super luas Yamaha Lexi

Seiring kebutuhan yang makin banyak, kapasitas bagasi 12.8 liter ini membantu banget. Bisa buat nyimpan tas bahkan helm. Asyik nih kalau buat pergi berhari-hari dan agak jauh. Selain itu, motor ini punya kapasitas tangki bahan bakar sebesar 4,2 liter.

4. Mengutamakan Kenyamanan

Cobain dulu Yamaha Lexi-nya

Tempat duduk yang nyaman dan lega bikin motor ini enak banget dipakai. Baik sendirian maupun berboncengan. Terus bagian pijakan kaki di bagian depan juga cukup lega … bisa sekalian buat naro barang 😹

Kenyamanan dalam menghadapi medan apapun juga terjamin dengan performa terbaik mesin. Ada Bluecore Valve Variable Acquitition (VVA) yang memberikan tenaga saat aktif di 6000 RPM. Lalu DiASil Cylinder & Forged Piston yang diadaptasi langsung dari motor balap sehingga memungkinkan kendaraan memiliki performa bagus hingga 50.000 KM. Plus sistem pendingin dengan cairan yang memungkinkan suhu kendaraan tetap stabil.

5. Harga Bersaing

Untuk semua keunggulan yang ditawarkan, harga Rp 20 jutaan tetap worth it lah ya. Khusus buat yang di Palembang, banyak promo yang ditawarkan lho. Termasuk tawaran layanan service langsung dari bengkel resmi Yamaha. Cusss, tinggal main dan tanya-tanya langsung ke dealer resmi Thamrin Brothers


Palembang Bloggers

0


move on dari mantan gay

Tadinya, saya berpikir cuma saya lho cewek yang pernah diremukkan hatinya oleh cowok gay. Ternyata salah besar. Seiring waktu, roda takdir mempertemukan saya dengan sejumlah perempuan lain yang bernasib serupa.

Terakhir, seorang teman, sebut saja Mawar, malah udah tunangan dan bersiap menikah lho. Sebelum akhirnya si cowok memilih mundur. Meninggalkan Mawar dengan hati yang sama remuknya dengan hati saya kira-kira sejuta tahun lalu.

Well, tulisan ini khusus saya buat untuk Mawar, juga Mawar-Mawar lain yang mungkin juga lagi berjuang untuk move on dari lelaki terbaik yang pernah ada itu …
________________________________

Dia berbeda dengan semua pria yang pernah hadir di hidup kita. Pria tampan dan manis, perhatian, selalu ada untukmu, atau pendengar yang baik plus teman ngobrol asyik mungkin tidak terlalu sulit dicari. Namun satu hal lain dia miliki dan nyaris mustahil ditemukan di grup lelaki-straight : Peka.

Orang lain mungkin tidak akan mengerti, betapa asyiknya dingertiin saat monster PMS menyerang. Atau saat cuma pengen nangis atau marah sepuasnya tanpa harus ditanyain “kenapa?” atau “aku harus gimana?” (yang seringnya cuma malah bikin kita makin terpuruk).

Kita sulit mendeskripsikan. Tapi perasaan “safe and warm” yang selalu ada setiap kali di dekat dia itu beneran nyata. Sebagai cewek, kita ngerasa disayang dan dihormati yang bener-bener, tanpa pernah sedikitpun ngerasa khawatir bakal dilecehkan atau takut diminta ngelakuin hal-hal yang sebenernya nggak kita inginkan …

Cuma hal ini yang bisa kita terjemahkan : dia cowok baik dan sempurna.

Bahkan setelah semua topeng itu terbuka dan kita kemudian tahu kebenaran yang menghancurkan hati itu … kita nggak akan pernah sampai hati membenci dia. Sesakit apa pun … seluka apa pun … kita malah cuma berakhir pengen memeluk dia. Kita pengen menentramkan dia seperti dia sudah melakukan hal yang sama ke kita selama ini.

Namun keadaan dengan cepat memburuk. Kita jadi frustrasi. Berusaha menjauh dan kalap pengen ngelupain semuanya dengan instan. Lalu terjebak dengan siklus cari-pengganti-secepatnya demi bisa move on dan mengakhiri rasa sakit.

Dan kita sama-sama tahu. Semuanya cuma berakhir gagal. Kita makin tenggelam dalam frustrasi. Belum lagi kalau ditambah sikap dia yang bertahan (seolah) nggak-mau-ngelepasin-kita, padahal jelas-jelas udah nggak ada masa depan. Karena udah terlanjur ngerasa saling ngerti 100%.

Kamu, yang lagi ngerasain hal kaya gini. Yang lelah dengan semua ini. Yang rindu membebaskan hatimu dari belenggu masa lalu… saya pernah menggumulkan hal yang sama lho. Bukan setahun dua tahun … nyaris sewindu.

Kalau air matanya dikumpulin, mungkin udah jadi satu kolam renang 😅 Lebih dari itu, saya lebih menyesal dengan nasib cowok-cowok baik yang terpaksa jadi pelampiasan rasa frustrasi saya. Yang nggak pernah benar-benar saya cintai, tapi terlanjur dipacari dengan harapan bisa membantu saya ngelupain dia.

Tapi Puji Tuhan, akhirnya saya benar-benar bisa move on. 100%. Berikut upaya yang saya lakukan sampai akhirnya bisa lepas… (well, karena ini pengalaman pribadi, tidak menjamin bakal sukses diterapkan ke semua orang juga sih. Tapi semoga bisa menginspirasi).


1. Stop berusaha membenci

Tidak ada gunanya. Cewek cenderung lebih gampang ingat yang manis-manis ketimbang “kejahatan” dia. Jadi udah … biarin aja. Akui saja kalau dia emang cowok terbaik … and best boyfriend ever. Mau ketemu cowok manapun, bakal tetep kalah kok sama dia. Terima, kalau emang kita memang tidak akan pernah nemu cowok yang bakal se-perfect dia jadi pacar.

Kita tidak salah kok mencintai dia. Dia memang berkualitas untuk dicintai.

2. Ubah Mindset

Dia memang pacar terbaik, tapi akankah jadi suami terbaik pula?
Yok, ajak dirimu memikirkan hal ini. Dia memang cowok terbaik untuk dijadikan pacar, karena semua yang kita butuhkan dalam hubungan pacaran dia udah sediakan semuanya. Perhatian, kasih sayang, penerimaan, kesediaan waktu-tenaga-pikiran-uang, kepekaan … dan dia melakukannya dengan sempurna (nyaris mustahil disaingi pacar-pacar kita setelahnya).

Cuma satu yang tidak bisa dia kasih, sexual things. Dan faktanya memang kita tidak (atau belum) butuh itu saat pacaran. Makanya kita tidak merasa kurang. Kita malah seneng karena hati dan otak kita udah di-set, di mana lagi nemu cowok baek-baek begini?

Tapi begitu kita berpikir ke jenjang berikutnya : pernikahan (ayolah, masa mau terus pacaran doang sampai Jan Ethes jadi presiden?), pikiran seperti itu sudah tidak akan relevan lagi. Nikah butuh sex, cuuyy!!!

Kalau si dia biseksual, ya masih ada harapan buat dinafkahi batin. Tapi kalau dia pure gay gimana coba?

Yakin betah tidak disentuh? Bahkan kalau dia dengan alasan tertentu (pengen berketurunan atau apa) tetep bisa nyentuh kamu, siapa yang menjamin sosok siapa yang dia bayangkan di otaknya pas lagi berhubungan seksual denganmu?

Atau yang lebih parah lagi, kalau ternyata dia balik ke “habitat”nya setelah menikah (dan ini banyak kejadian lho). Lebih dari itu, apakah kamu beneran yakin pengen dia untuk jadi sosok ayah dari anak-anakmu?

Kalau diri saya yang paling jujur sih jelas jawabannya tidak. Makanya saya sounding ke diri sendiri : “Dia pacar terbaik, tapi bukan suami yang baik. Aku pengen hubby,  bukan sekadar pacar …”

3. Putuskan Kontak

Klise.
Tapi ini wajib. Tanpa putus kontak, seluruh dunia akan selalu mengingatkan kamu sama dia. Tidak peduli sejauh apapun kamu pergi.

Stop keinginan menghubungi atau caper ke dia dalam bentuk apapun. Stop ketergantungan kita akan sosoknya.

Bayangkan dia itu narkoba. Iya, dia bikin kita tenang dan damai … tapi itu cuma ilusi. Kita dirusaknya pelan-pelan ...dari dalam. Kita bahkan sanggup berpikir kalau kita tidak akan pernah bahagia lagi tanpa sosoknya.

Butuh 2 tahun full untuk saya tanpa komunikasi sampai akhirnya benar-benar lepas. Yang terberat jelas di awal … efek “sakaw”-nya itu lho. Percaya tidak, saya sampai harus ke psikiater 😹

Lha selama ini tiap ada masalah sebesar apa, cukup dengar satu dua patah kata dari dia udah langsung ok lagi. Tapi tanpa dia semuanya harus dihadapi sendiri.

Tidak terhitung godaan untuk mulai membalas chat dia. Tapi ditahan-tahan. Saya bahkan bikin aturan tegas ke diri saya, kalau sampai saya ngebales pesan dia ...atau mulai buka obrolan atau curhat ….harus langsung diblokir.

Eh, ternyata saya cukup tangguh juga. Sampai lewat 2 tahun masih belum diblokir juga ternyata … cuma unfol doang.

4. Libatkan Tuhan

Ini harusnya ditaro di nomor 1 sih. Bukannya memang cuma Dia yang berkuasa membolak-balikkan hati?

Saya percaya, kebebasan saya dari belenggu ini nggak lepas dari campur tangan Tuhan. Tanpa pertolongan dari-Nya, mungkin saya masih bakal terus ngarep dan baper tak berkesudahan.

Setiap kali saya “sakaw”, saya doa, nangis ke Tuhan. Saya bawa semua sakit, kecewa, penyesalan, frustrasi ...semuanya itu ke Tuhan. Saya juga mohon ke Tuhan untuk pulihkan hati saya.

Jika di awal-awal saya bertindak sendiri dengan grasa-grusu “nyari ganti”, belakangan sudah nggak. Saya bahkan mohon banget ke Tuhan untuk tidak dipertemukan dulu dengan jodoh sampai benar-benar move on. Hurt people will hurt people.

Saya percaya, cuma hati yang sudah pulih dan sehat yang pantas buat lelaki yang tepat.

Sambil nunggu saat terbaik dari Tuhan, saya pilih sibuk meng-upgrade diri. Benar kok, banyak hal yang bisa kita lakukan ketimbang menangisi dia.

Hidup ini indah, tapi seringkali terhalang sama air mata. Ketika air mata itu akhirnya menyusut, saya baru benar-benar bisa melihat, kalau bener-bener ada seseorang yang jauh lebih baik dari dia di segala aspek.

Saya sudah lumayan lama mengenalnya, tapi semacam baru sadar belakangan ini setelah benar-benar move on. Well, saya belum bisa cerita banyak. Masih menanti lampu hijau dari Tuhan … sementara ya tetap upgrade diri dulu 😹

Nah. Saya yakin, nanti kalian juga pasti menemukan seseorang itu. Sekarang yang penting, move on dulu yuk!

Bebaskan dirimu!

Nb.

Buat Mawar, stay strong girl!
Peluk yang banyak dari sini ...

Jangan menyerah. Kamu berhak bahagia!

2



Thamrin Brothers : Halal Bihalal dan Buka Bersama Media (dan blogger)

Senin (27/5) pagi, saya lagi ngasih makan Ling Ling si anak bulu paling bungsu ketika di-WA Bimo. Katanya kami --para blogger--, diundang Yamaha Thamrin Brothers untuk ikut acara buka bersama dan halal bihalal bareng media. Lokasinya di Emilia Hotel pukul 5 sore.

Meski undangan dadakan, saya langsung meng-iyakan. Bosen euy di kosan mulu. Otak saya kan juga butuh rehat, sebentar lagi meledak gara-gara skripsi.

Sorenya, langsung meluncur ke hotel yang masih satu kompleks dengan Palembang Indah Mall (PIM) itu. Kali ini bareng si Eka, yang dengan terpaksa suka cita jadi mbak ojek 😹 Sempat nggak enak hati, karena kami pikir sudah terlambat. Habis pake ada drama macet (padahal udah lewat jalan tikus) dulu sih. Belum lagi pake acara bingung-nggak-tahu-parkir-di mana.

Tapi syukurlah, ternyata acara belum mulai. Berhubung sudah mepet waktu berbuka puasa, didahului dengan buka bersama dulu baru mulai acara inti. Cukup rame juga ternyata, ada sekitar 30 orang yang hadir (Well, saya nggak ngitung sih sebenernya. Pake ilmu kira-kira aja). Selain petinggi dan karyawan Yamaha Thamrin Brothers plus kawan-kawan blogger Palembang, ada juga teman-teman jurnalis dari sejumlah media.

Team Bloggers

Seperti biasa, setiap ikut acara “tugas negara” ala blogger begini, selalu saja dapat info baru yang amat layak untuk ditulis dan di-share. Nah, apa saja? Simak terus di ulasan berikut :

Beli Motor Gratis Motor, Mau?

Enggie Suwarno

Lho, ini serius lho. Bukan saya, tapi Pak Enggie Suwarno selaku GM Yamaha Thamrin Brothers yang bilang. Jadi dalam rangka anniversary, mereka emang lagi ada promo.

Kalian yang melakukan pembelian motor Yamaha tipe apapun di Yamaha Thamrin Brothers di dealer mana saja (dalam wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu), berkesempatan dapat kupon yang akan diundi. Bakal ada 5 motor yang menunggu dimenangkan, yakni motor Yamaha R25 (1 buah), Yamaha Byson (1 buah), dan Yamaha Xabre (3 buah). Promo ini hanya berlaku hingga 31 Mei 2019 ini.

Program Kece untuk Para Lulusan SMK

Selama ini saya mikirnya Yamaha Thamrin Brothers itu “kerjaannya” cuma jual kendaraan. Ternyata saya salah, pemirsa. Asli, baru tahu kalau ternyata perusahaan ini sangat peduli lho dengan peningkatan SDM generasi muda kita.

Hal itu dibuktikan dengan adanya program Yamaha Engineering School (YES). Program ini memberi kesempatan bagi 20 orang lulusan SMK untuk ikut pelatihan intensif langsung dari tim Yamaha selama 4 bulan bebas biaya alias GRATIS. Ini berarti, peserta bisa belajar langsung seluk beluk teknis dan teknologi sepeda motor benar-benar langsung dari ahlinya.

Agus Suryanto

Diungkapkan Trainer Yamaha Thamrin Brothers, Agus Suryanto, para lulusan YES tersebut diharapkan akan mampu menjadi seorang entrepreneur dengan membuka usaha bengkel atau menjadi teknisi andal di bidang sepeda motor.

Jadi buat kalian lulusan SMK tahun 2016-2019 yang pengen nambah ilmu, buruan gih daftar mumpung masih buka. Coba datang langsung ke Yamaha Thamrin Brothers A Rivai di Jl Kapten A. Rivai No. 9 Palembang dengan memberikan persyaratan berikut :

Syarat pendaftaran YES

Setelah semua persyaratan lengkap, peserta nanti ikut tes tertulis dan wawancara pada tanggal 9 dan 10 Juli 2019. Kalau lulus, tanggal 15 Juli 2019 nanti udah bisa ikut pelatihannya.

Team Thamrin Brothers
______________________________

Makan udah, dapat info udah, dapat kenalan baru udah … tapi tentunya bakal kurang lengkap kalau nggak pake foto-foto. Hehehe …

Ga diajak foto bareng 😿

Eh, diajak ding 😹

Intinya, acara ini asyik banget. Asli. Itu berarti pula, satu Senin lagi yang berhasil saya lewati dengan senyum dan keceriaan. Terima kasih Yamaha Thamrin Brothers Palembang.


0



Kanker dalam Alkitab

Intro :
Jika teman-teman gereja saya hobi berbagi ayat Alkitab, maka saya lebih senang menyelidikinya. Membedah, mempertanyakan, bahkan mendebatnya kalau perlu … Entahlah. Rasanya itu jauh lebih seru dan menantang ketimbang hanya meng-copy satu dua ayat lalu meneruskan ke semua kontak saudara seiman yang ada di HP.

Alkitab bagi saya bukan cuma kitab suci, yang isinya cuma perkara rohaniah dan khotbah sana sini. Nggak. Sungguh, Alkitab nggak se-membosankan itu.

Dia lebih seperti sebuah rak dengan 66 buah buku lintas genre. Mulai sastra, biografi, petualangan, sejarah,kumpulan quote inspiratif, hingga “ramalan masa depan” ada semua. Beberapa di antaranya bahkan seperti buku misteri, puzzle atau mungkin juga kumpulan Teka Teki Silang yang menunggu dipecahkan pembacanya.

Dan postingan kali ini, cuma mencatat proses ketika saya berhasil memecahkan sebuah “misteri” kecil dalam Alkitab. Anggap saja pengingat, mana tahu saya pikun berapa tahun lagi 😂
_______________________________

Berawal dari celetukan seorang teman di WA yang bilang “Gue baru tahu, dari jaman Alkitab ternyata sudah ada penyakit kanker.”

Ya, saya tahu meski tidak pernah benar-benar memikirkannya sebelum ini. Tapi kalimat teman saya itu membuat otak saya gatal. Saya gelisah, ingin tahu apakah kanker yang disebut itu benar-benar kanker sebagaimana yang kita kenal di masa kini? Atau keterbatasan terjemahan saja? Mengingat Alkitab sudah ditulis sejak kurun waktu ribuan tahun lalu. Benarkah penyakit kanker sudah setua itu?

Seperti biasa, Mbah google menjadi rujukan awal saya dengan keyword “kanker dalam Alkitab”. Sayangnya, artikel-artikel yang ada nggak bikin saya puas. Malah ada satu artikel yang jadi rujukan utama mesin pencarian yang bilang Alkitab tidak mencatat soal penyakit ini sama sekali.

Padahal, Alkitab menyebut kata kanker satu kali kok, tepatnya di 2 Timotius 2:17 . Bunyinya begini :
Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus
Pencarian saya berlanjut dengan sejarah penyakit kanker, lalu menemukan sebuah tulisan dari cancer dot org yang kemudian dikutip Yulaika Ramadhani untuk tulisannya di website Tirto.
“ … Beribu-ribu tahun penyakit ini tidak memiliki nama. Hingga Hippocrates yang merupakan seorang dokter Yunani kuno (460-370 SM) menggunakan istilah karsinoid dan karsinoma untuk menggambarkan penyakit tersebut.
Dalam bahasa Yunani, kata-kata itu merujuk pada kepiting. Yang pada akhirnya diterjemahkan dalam bahasa latin menjadi cancer yang hingga kini digunakan untuk menamai penyakit tua tersebut.”
Nah, Hippocrates yang hidup tahun 460-370 SM pake kata Karsinoid. Sementara di Alkitab bahasa aslinya ---Yunani--- (yang saya lihat pake aplikasi My Sword Bible), kata kanker di 2 Timotius itu bentuk aslinya adalah kata γάγγραινα (gaggraina).

Gaggraina - Mysword Bible

Definisi Thayer tentang Gaggraina di aplikasi tersebut saya terjemahkan jadi :

“Sebuah penyakit yang menyebabkan bagian tubuh mana pun menderita peradangan dan membuatnya rusak. Kecuali jika obatnya diterapkan secara teratur, sel-selnya bisa menyebar dan menyerang bagian lain, dan akhirnya memakan tulang.”

Gaggraina sendiri berasal dari kata γραίνω (graino) atau to gnaw (eng) yang artinya menggerogoti.

Surat 2 Timotius ditulis Paulus pada sekira tahun 65 Masehi. Artinya, meski pada zaman itu jelas sudah ada penyakit kanker seperti yang kita kenal pada masa kini sesuai deskripsinya, kata yang digunakan masih belum “kanker”.

Bahkan, Alkitab versi Indonesia Terjemahan Lama (ITL) pun belum pakai kata “kanker” juga lho. Penerjemah pakainya kata “pekung” yang menurut KBBI artinya (n) penyakit kulit yang berbau busuk (akibat sakit sifilis atau kanker).


perbandingan terjemahan baru, lama, dan KJV

Alkitab Inggris versi King James Version (KJV) rupanya yang sudah pake kata “kanker”. KJV sendiri diterbitkan pertama kali pada tahun 1611. Artinya, di masa ini istilah kanker sudah mulai dikenal.

Sampai saya selesai menulis artikel ini, saya masih belum ketemu kapan tepatnya istilah kanker (cancer) pertama kali digunakan. Kalau ada yang tahu, tolong tulis di komentar ya?
__________________________________

Meski masih menyisakan satu puzzle tertinggal, setidaknya pencarian panjang ini sudah membuat saya tidak segelisah tadi. Mengingat saya kuliahnya juga ambil konsentrasi Translation, saya sangat memahami betapa sulitnya seni menerjemahkan itu.

Yang jelas, kata kanker seperti yang tertulis di 2 Timotius itu memang benar adalah penyakit kanker seperti yang sudah kita kenal di zaman modern ini. (Wow, jadi kanker benar-benar bukan penyakit newbie ternyata).

Lagipula, konteks ayat itu juga tidak membahas penyakit kankernya secara khusus kok. Itu cuma penegas nasehat Om Paulus di ayat sebelumnya. Dan baiknya memang dibaca langsung serangkai kaya gini :

2 Timotius 2:15-19

Om Paulus intinya nasehatin Dek Timotius (dan kita semua) untuk hati-hati sama omongan. Jangan kaya Himeneus dan Filetus yang hobi nyebar hoax pada zamannya sampai bikin iman orang lain rusak.

Begitchuuu.....

_______________________________

Nah, sekian dulu tulisan dari Mommy Ossas kali ini. Semoga bisa jadi berkat buat kita semua. Amin.


Salam ....


Tepian Musi, Mei 2019
Ditulis di sela kesuntukkan nggarap skripsi.
Dan Mommy Ossas berterima kasih pada Kak Samuel Dwi Martono, teman masa kecil yang sekarang udah jadi Pak Pendeta ✌️
Tanpanya tulisan ini masih mengendap di draft.



0


Time flies, huh?
Really. It's really hard to believe ….


Time flies ...



Dear, Lina a.k.a Naomi a.k.a Nomnom,

Jika ada benda mati paling berjasa dalam hidupmu, maka tak lain tak bukan adalah Si Poyang. Sungguh, kamu berutang nyawa pada mobil bak tua biru dongker (yang jelek luar biasa) milik bapakmu itu.

Kisahnya terjadi pada dua puluh satu Mei, persis dua puluh tahun lalu. Saat itu, kita semua masih tinggal di Pekik Nyaring. Sebuah desa kecil di pinggir Bengkulu. Rumahmu ramai di Jumat pagi hari itu karena kedatangan paman dan bibi dari jauh, lengkap dengan sepupu-sepupumu yang berkeriyapan mirip anak ayam.

Ya, hampir semua sepupumu masih bocah kala itu. Termasuk aku yang kalo tidak salah masih kelas 2 SD dan sedang menikmati hari libur. Kami semua semangat karena diajak jalan-jalan ke Blok 7 naik Poyang istimewa kududuk di muka yang sayangnya mendadak berulah. Mesinnya tidak bisa dihidupkan.

Sampai matahari meninggi, Si Poyang masih tidak bisa hidup. Wajah-wajah bersinar sejak pagi, mulai kompak menekuk. Kecewa. Rencana liburan sudah dipastikan gagal.

Lalu, semuanya terjadi begitu saja. Sangat cepat sampai aku sendiri kebingungan dengan perubahan sikap orang-orang dewasa.

Yang kuingat cuma, mamamu --yang perutnya mirip balon-- pagi hari itu masih segar bugar. Masih masak dan menjemur pakaian seperti lazimnya emak-emak… namun sekitar pukul 10 (atau 11?) mamamu masuk kamar yang dikunci, dan cuma ditemani bibimu.

Lalu mamaku dan mbah kita datang, disusul para tetangga yang sepertinya makin banyak saja. Dari hasil menguping (dan mengintip jendela kamar), aku tahu kalau mamamu ternyata mau melahirkan. Semua orang dewasa sibuk, berusaha menjemput bidan.

Tapi ternyata kamu tak sabar ingin keluar. Dibantu mbah, kamu lahir sebelum bidan datang. Selamat dan sehat tentunya, karena aku bisa mendengar suara tangis pertamamu yang keras luar biasa.

Selang beberapa saat, aku akhirnya bisa melihatmu. Lelap dalam bedongan yang cuma sebesar guling bayi. Mungil sekali. Kesan pertamaku, kamu manis. Terutama bibirmu, cantik sekali. Sedang tidur pun seperti terlihat sedang tersenyum.

Kesan kedua, kamu hitam. Iya, meski seiring waktu aku tahu itu bukan benar-benar hitam, melainkan sawo matang. Yah, pokoknya kulitmu itu memang sudah gelap dari sononya, jadi please, please … Tolong lupakan obsesimu pada krim pemutih atau make up atau apapun yang membuatmu malah terlihat seperti mayat hidup. Cewek-cewek di Barat saja rela operasi demi punya warna kulit seperti kamu, tahu …

Kembali lagi ke Si Poyang. Apa jadinya jika dia tidak mogok hari itu? Kami semua pergi bersenang-senang dan mamamu benar-benar sendirian. Tanpa telepon, tanpa ponsel, apalagi smartphone.

***

Lepas 6 bulan pertama hidupmu, kamu menghabiskan masa kecilmu lebih banyak di rumahku. Belajar bicara, belajar jalan semuanya di rumahku. Dari kecil kamu sudah bisa nyanyi. Lagu favoritmu  Di Doa Ibuku-nya Nikita dan Melompat Lebih Tinggi-nya Sheila on 7 yang cuma bisa kamu nyanyikan ujung-ujung barisnya. Lucu sekali.

Masa kecilmu nggak ada yang kulewatkan. Dibanding mbak 'Nti-mu yang kaya Barbie dan betah di rumah, kamu kecilnya lebih mirip aku yang ranger merah. Hobi ngeluyur dan kelayapan mendaki gunung lewati lembah bareng bocah lelaki yang namanya Jojon. Melihat kalian berdua selalu bikin aku ingat sama masa kecilku sendiri… bareng Toni, my partner in crime 😹 (oy, Toni. Kamu di mana?)

Yang kulewatkan sepertinya cuma masa remajamu ya, Lin? Karena berbarengan dengan badai di kehidupanku sendiri. Maaf untuk benar-benar mengabaikanmu di fase itu. Aku harus egois, demi menyelamatkan semuanya. Belum lagi kita akhirnya memang harus berpisah karena pindah.

Makanya aku senang sekali waktu kamu putuskan untuk kuliah di Palembang. Seperti mendapat kesempatan kedua. Berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama dan menunjukkan dunia ini lebih banyak padamu. (Yang sayangnya ga berjalan mulus karena jadwal kuliah dan asramamu yang ...begitulah 😹).

Tapi tidak mengapa. Bisa memperhatikanmu lagi sudah cukup. Toh kamu sudah besar sekarang. Sudah 20 tahun.

Astagaaaa… benar-benar 20 tahun lho, dan kamu berhasil tumbuh lebih tinggi, lebih cantik, dan lebih berbakat dari mbakmu ini. I'm proud of you.

Mbak menulis ini cuma mau bilang, kamu menginjak 20 tahun dengan jauh lebih beruntung dari mbak. Kamu menjalani 20 tahunmu dengan teramat normal dan wajar untuk gadis seusiamu. Kamu nggak harus menjalani kehidupan keras dunia orang dewasa seperti mbak. Kamu makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, kuliah tinggal kuliah … nggak kaya mbak yang di umurmu sudah harus pusing urusan kerjaan biar tetap bisa makan dan bayar kosan, plus nabung biar bisa kuliah suatu saat nanti.

Nggak, ini bukan kontes siapa-yang-lebih-menderita. Bukan … cuma pengen mengingatkanmu untuk lebih bersyukur dan bersyukur lagi.

Mbak nggak bisa nasehatin lebih banyak, toh kamu sudah dikelilingi orang-orang hebat dan tepat untuk ngajarin kamu tentang hidup. Mbak mungkin nggak pernah ngomong langsung … tapi sekali ini betul-betul ingin bilang …

I never saw you as a cousin, but always as a sibling. You have completed my life, which always wanted to have a younger siblings. I love you. Thank you for being born.
Happy 20th Birthday. You can find your birthday present at 1 Peter 1: 23-25. God bless you.

***


Tepian Musi. Peringatan 21 tahun lengsernya Soeharto.
0



Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa.

Mimpi 15.529 km | kucingdomestik


Heny. Aku tidak pernah suka nama depanku. Bukan soal nama itu terdengar keren atau tidak, tapi pasarannya itu lho. Waktu SMP aku benar-benar muak saat tahu di kelas ada tiga Heni. Belum termasuk Heni-heni dari kelas lain.

Aku makin kesal saat tahu kalau semula aku dimaksudkan untuk bernama Hana. Yah, meski mungkin sama pasarannya, setidaknya ada dua perempuan keren bernama Hana yang kubaca kisahnya dalam Alkitab. Pertama ibunya nabi Samuel, lalu seorang Nabiah yang berjumpa Yesus saat masih kecil di bait suci.

Belakangan mama berkisah, bukan tanpa alasan papa mengubah pikirannya. Namun setelah diam lama memperhatikanku yang masih bayi merah itu pada suatu malam.

Yah, dilihat dari sisi manapun, aku sepertinya memang tidak akan pernah cocok punya nama Hana, yang berarti anggun dalam bahasa Ibrani. Pun dari bahasa Jepang, artinya adalah bunga.

Pfffttt, satu-satunya bunga yang bisa diasosiasikan denganku mungkin bunga bangkai kali. Dan, untuk yang sudah bertemu denganku, semuanya pasti sepakat kalau “anggun” itu tidak akan pernah ada dalam kamus kepribadianku. Yang ada bakal jadi bahan tertawaan atau istilah yang umum saat itu “keberatan nama”.

“Anak bungsu kita ini …, tidak akan pernah tumbuh jadi gadis danau yang tenang. Dia itu air terjun,” kata Papa.

“Tidak bisa diam, berisik, hidupnya penuh gejolak, namun menyimpan potensi besar … Dia bisa berbahaya maupun indah menyejukkan. Tergantung bagaimana sudut pandang orang lain saat melihatnya.

Lalu …, sepasang kaki mungil itu kelak akan membawanya pergi. Seperti aliran air terjun yang bebas kemana pun, dia akan bertualang ke banyak tempat. Jauh dari asal. Jauh dari mana ia dilahirkan.”

Dan begitulah. Akhirnya ketuk palu. Namaku terus jadi Heny Niagara sampai sekarang. Terukir abadi di semua dokumen yang kumiliki. Heny, yang merupakan panggilan lumrah untuk anak perempuan dalam bahasa jawa (seperti halnya akhiran -ko pada nama Jepang), dan Niagara … satu-satunya nama air terjun yang terpikir oleh papa saat itu.

Mama juga bilang, papa juga sekaligus menyematkan doa dan harapan. Biar kelak aku bisa jadi seorang yang punya nama besar seperti Niagara. “Jadi kalau kamu tanya mama arti namamu, Heny Niagara itu berarti anak perempuan yang suka berpetualang," kata mamaku.

____________________________________

Itu kisah 28 tahun lalu. Kalau lihat diriku sekarang, mungkin mendiang papa diam-diam menyesal dalam pusaranya.

Apanya yang anak perempuan yang suka berpetualang? Lha sampai nyaris kepala tiga begini, sejauh-jauhnya aku pergi cuma nyebrang pulau Jawa.

Tapi, kalau mau jujur sama diri sendiri …, jiwa petualang itu memang ada sih. Aku tidak pernah benar-benar tumbuh jadi cewek rumahan. Kecuali karena kucing, koleksi buku, dan masakan mama, aku tidak pernah benar-benar betah di rumah.

Aku selalu ingin pergi. Tak peduli walau cuma menyusuri gang-gang yang belum pernah kulewati, atau cuma motoran sendirian ke kota sebelah.

Aku tak pernah punya tujuan pasti walau kadang kusamarkan dengan“liburan”, “nyari inspirasi” atau “nyari bahan buat tulisan”. Tapi nggak, sebetulnya. Sama seperti kata Bodhi di seri Supernova, perjalanan itu sendirilah tujuanku. Kalau aku kemudian dapat sesuatu dari perjalananku itu, ya itu bonus.

Aku merenung. Jika memang jiwa petualang itu memang sudah terpeta di wajahku sejak aku lahir hingga papa bisa melihatnya sejelas itu, lantas kenapa hidupku “begini-begini-saja”? Tidakkah aku seharusnya sudah jadi traveller blogger? Atau minimal sudah bergabung dengan jaringan backpacker internasional?

Lihat aku sekarang. Terjebak di kota panas nan macet macam Palembang. Oh, aku nggak mengeluh kok. Di kota ini makanannya enak dan aku dianugerahi teman-teman luar biasa baik dan menyenangkan di sini.

Tapi seperti Ossas yang tersiksa kalau belum mencakari kursi, jiwaku akan senantiasa haus kalau belum menjejak kaki di tempat yang belum pernah kudatangi. Hasrat yang akan selalu menunggu dipuaskan.

Padahal travelling nggak sesulit itu juga sebetulnya. Dari sisi finansial sangat mungkin selama aku bisa sedikit mengerem khilaf-ku untuk barang-barang nggak penting. Nggak masalah juga kalau harus nabung dulu dalam jangka waktu tertentu untuk keperluan tiket dan apapun itu.

Dari segi waktu, baik kuliah dan pekerjaanku sangat fleksibel sekarang. Pun aku juga nggak pernah tergantung sama orang lain untuk menemaniku bepergian. Singkatnya, aku SEBENERNYA bisa pergi kapan saja kalau memang niat.

LHA TERUS KENAPA HIDUPKU BEGINI-BEGINI SAJA?

Jawabannya mendadak muncul begitu saja. Dan amat sederhana.

Jadi selama ini, bertahun-tahun … tanpa sadar aku membendung aliranku sendiri. Aku terbiasa meredam hasrat dan mengalah …, terutama kalau berhubungan dengan sabda papa.

Di awal tadi sudah kusinggung soal papa yang merupakan manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal. Nah, papa itu sosok yang tak segan mendidik anak-anaknya dengan kekerasan, tapi beliau juga orang yang paling mudah menangis. Iya, papaku itu keras dan menakutkan tapi cengeng. Papa nggak segan nabokin aku dan kakakku kalau kami bandel, tapi aku sering memergokinya menangis kalau dengar ada tetangga atau saudara kami yang lagi susah.

Dan … papa yang dari awal paling tahu bagaimana kepribadianku dan bagaimana aku tumbuh, justru yang paling getol melarangku kemana-mana. Jangan harap bisa pergi liburan atau study tour kalau minta izinnya dulu.

Lha izin main ke kebun teh rame-rame di Kepahiang yang cuma 1,5 jam dari rumah kami saja nggak boleh kok. Ada saja alasannya. Banyak kecelakaanlah, jalan rawanlah, bahaya untuk perempuanlah apalah … Makanya, dulu aku sering kucing-kucingan. Atau pergi dulu baru ngomong. Mau dimarahi habis-habisan setelahnya aku nggak peduli, yang penting sudah jalan.

Yah, mungkin memang tipikal seorang ayah. Dimana-mana bakal begitu. Biar dilihatnya ada jiwa air terjun dalam diriku, di matanya aku akan selalu jadi putri kecilnya yang manja. Yang cukuplah dengan bermain ayunan dari ban bekas dan tergantung di pohon-pohon buah yang ditanamnya sendiri.

Oh, satu lagi. Kakakku. Yah, mungkin dia tak benar-benar punya niat jelek, tapi dalam banyak hal, dia itu benar-benar seperti toxic person yang tanpa sadar kerap memunahkan kepercayaan diriku dengan brutal. Dia yang multitalenta plus multitasking itu sering membuatku percaya kalau aku adalah manusia payah dan produk gagal, yang nggak bisa ngapa-ngapain.


___________________________________________

Akhir tahun 2018 lalu, jelang setahun peringatan kematian papa … aku memulai perjalanan solo perdanaku. Ke Jogja. Perjalanan yang kuberi judul “Perjalanan Menantang Tuhan”. Soal ini akan kuceritakan dalam postingan tersendiri kapan-kapan.

Namun salah satu yang kudapat dalam perjalanan itu adalah … aku akhirnya bisa benar-benar berdamai dengan Tuhan karena lelaki terhebat nomor satu-ku sudah diambil-Nya.

Meski awalnya masih seperti kepingan puzzle, kepergian papa bisa kumaknai berbeda sekarang. Lewat obrolan panjang berbulan-bulan dengan seorang kakak sekaligus bestie (Kak Yan, thank you so much), puzzle itu pun akhirnya lengkap.

Aku menerjemahkannya sebagai : Sudah saatnya membongkar bendungan. Kamu harus mulai bermimpi lagi, Ar!

Tidak ada lagi yang bisa menghalangiku bertualang kemana pun, kecuali Tuhan. (Oh, tapi aku kan bakal selalu minta izin-Nya dulu nanti setiap kali memulai petualangan).

Papaku, aku yakin dia tidak pernah benar-benar berniat melarangku berpetualang. Selama ini beliau kok yang paling memahamiku. Cuma kalah saja dengan rasa khawatirnya yang terlalu besar. Sekarang tidak perlu lagi … toh dia bisa berbicara, memohon langsung pada Tuhan untuk menjagaku.

Kakakku, aku bahagia dia sekarang sudah punya sesuatu yang lain untuk diurusi selain menertawakan mimpi dan meragukan semua kemampuanku. Biarlah dia sibuk sama istri dan anaknya.

Untuk pertama kalinya … aku benar-benar merasa bebas dan bahagia. Aku siap kemanapun.

Tinggal menunggu sinyal izin dan waktu yang tepat dari Tuhan. Dan kemudahanku mengurus paspor beberapa hari lalu benar-benar kumaknai sebagai pertanda baik …

Errr, memangnya kamu mau kemana sih, Ar?

Sudah kubilang, bukan soal lokasinya, karena tujuanku adalah perjalanan itu sendiri. Tapi tidak ada salahnya juga memulai dengan menuliskan ulang mimpi masa kecilku setelah Jogjakarta dan Candi Borobudur berhasil dicoret dari daftar tanpa diduga sama sekali.


Niagara Falls • googlemaps

Ini mimpiku. Niagara Falls alias air terjun Niagara di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada. 15.529 km jauhnya dari Palembang. Dan aku lebih ingin masuk lewat sisi Toronto Kanada ketimbang sisi New York.

Tentang mimpiku ini, bukan hanya harga tiketnya yang selangit, apply visa Kanada konon juga bakal sulit banget

Hahaha … memang terdengar mustahil ya kalau sekarang? Tapi kalau bermimpi aja nggak berani, gimana aku mau kuat jalani hidup yang payah ini?

Lagipula ... apa yang tertulis di kitab suci ini benar-benar jadi penghiburanku 😊


Ga ada yang ga mungkin


***
 
"Kenapa Niagara? Ga kejauhan? Memang kalau sudah sampai sana mau ngapain?" tanya mamaku begitu kuceritakan mimpiku ini.

"Ya ga kenapa-kenapa. Pengen aja. Lagian, salah sendiri ngasih nama anak begitu. Sampai sana ya cuma mau foto-foto aja, terus video call mama sambil dadah dadah...," jawabku.

"Punya duit apa kamu?"

"Sekarang sih belum. Tapi kan Bapa-ku Maha Kaya, DIA yang punya semesta ini. Kalau minta sungguh-sungguh, masa nggak dikasih?"

"Ya sudah. Pergilah kalau memang waktunya pergi kelak. Mama cuma bisa bantu doa. Tapi ada syaratnya ..."

"Syarat?"

"Selesaikan dulu kuliahmu!"


Ayayayaye, Captain!! Tanpa disuruh pun, selesaikan kuliah memang tujuan utama untuk saat ini. Berpetualang bisa menunggu, tapi nggak dengan pendidikan.


Nah, kalian. Doakan aku ya ... 😉

2


Teman-teman saya di Palembang, rata-rata punya motor sendiri. Ya nggak salah sih, kondisi jalanan kota pempek ini memang lebih bersahabat sama kendaraan roda dua ketimbang empat. Titik macet yang nggak bisa diprediksi itu lho … Kalau pakai motor kan masih bisa nyelip sana sini.

Buat cewek, pilihannya akan jelas jatuh ke skuter matic (skutik). Alasannya? Simpel dan mudah dioperasikan. Tinggal gas dan rem saja. Nah, untuk tipe motor seperti ini, ada dua merk yang bersaing merajai pasar yakni Honda Beat dan Yamaha Mio.

Dalam postingan kali ini, saya coba membandingkan keduanya. Tipe yang saya pilih yakni Honda Beat dan Yamaha Mio S. Soalnya kedua motor ini yang paling banyak dipakai oleh teman-teman saya.

Yuk… check it out!

Yamaha Mio S


Honda Beat


Fitur Hemat BBM

Produk keluaran Honda kerap dipilih karena terkenal hemat BBM. Tidak heran, karena Honda Beat sudah dilengkapi dengan fitur ISS (Idling Stop System) selaku fitur penghemat BBM. Ini yang bikin motor akan mati setelah berhenti selama 3 detik. Motor akan hidup kembali hanya dengan memuntir grup gas.

Sementara itu, Yamaha Mio S belum dilengkapi fitur ini. Meski demikian, Yamaha Mio S punya teknologi forged piston. Forged piston itu piston yang dibuat pake besi yang udah ditempa. Ini lebih kuat dibanding dibanding piston konvensional yang cuma dicetak. Teknologi forged piston banyak digunakan pada mesin balap karena tahan panas. Ini juga nih yang bikin mesin Yamaha Mio S ga berisik karena bahannya yang kuat dan ringan bikin gesekan berkurang.

Hal ini berimbas ke mesin yang bekerja jauh lebih enteng dan mencegah piston macet sehingga efisiensi bertambah. Dalam hal ini, bakal berimbas juga ke keiiritan bahan bakar.

Spesifikasi Mesin

Diintip dari data spesifikasi mesin di website resmi masing-masing, Honda Beat pakai mesin sebesar 108. 2 cc. Sedangkan Yamaha Mio S 125 cc. Selain itu, Honda Beat menyemburkan power sebesar 8,68 PS / 7500 rpm dan torsi sebesar 9,01 Nm / 6500 rpm. Sedangkan Yamaha Mio S memiliki power sebesar 9,51 PS / 8000 rpm dan torsi sebesar 9,6 Nm / 5500 rpm.

Dengan begitu, dari segi mesin Yamaha Mio S lebih unggul serta powerful dibanding Honda Beat. Lebih nyaman digunakan karena tarikan gasnya lebih enteng.

Kapasitas Bagasi dan Tanki Bensin

Cewek suka peduli dengan hal-hal remeh, seperti ukuran bagasi motor. Dalam hal ini, Honda Beat lebih unggul karena punya bagasi sebesar 11 liter. Meski demikian, bedanya tidak terlalu jauh dengan Yamaha Mio S yang punya bagasi sebesar 10,1 liter.

Jalanan Palembang yang titik macet dan jam macetnya sukar diprediksi, sering bikin was-was kehabisan BBM. Dalam hal ini, Yamaha Mio S lebih diuntungkan dengan kapasitas tangki bensin yang lebih besar dibanding Honda Beat. Honda Beat punya kapasitas sebesar 4 liter, sedangkan Yamaha Mio S 4,2 liter.


Ramah Lingkungan

Yamaha Mio S dilengkapi dengan teknologi DiAsil Cylinder yang ga dimiliki Honda Beat. DiAsil sendiri merupakan singkatan dari Die Aluminium Silicon, yang berarti material logam campuran aluminium dan silikon yang memiliki kemampuan pendinginan lebih baik, namun sifatnya keras dan tahan aus.

Teknologi DiAsil diklaim lebih ramah lingkungan, karena tidak menggunakan lapisan nikel total Die-Cast Aluminium, sehingga mudah didaur ulang. Bukan cuma murah, teknologi ini rupanya juga bikin mesin jadi lebih beperforma, ringan, ”dingin”, tidak berisik dan awet.

Tampilan

Urusan penampilan, kalo dari segi panel meter, Honda Beat sepertinya lebih cakep. Ini karena panelmeter Honda Beat merupakan perpaduan antara sistem analog dan digital. Sementara Yamaha Mio S masih pakai sistem full analog.

Meski begitu, kalau dilihat dari tampilan keseluruhan, Yamaha Mio S terlihat kece dengan fitur lampunya. Jika Honda Beat masih menggunakan lampu bohlam sebagai lampu utama, Mio S sudah pakai lampu utama LED. Jelas dong jauh lebih modern, terang, dan awet ketimbang bohlam.

Ga perlu khawatir kalau misalnya pulang sudah gelap karena terjebak macet.



Kesimpulan
 
Pada dasarnya memang bakal kembali lagi ke selera dan pilihan masing-masing. Skutik Honda Beat dan Yamaha Mio S punya keunggulan sendiri-sendiri. Tapi tidak ada salahnya sih mempertimbangkan Yamaha Mio S, karena jelas punya lebih banyak fitur unggulan.
_____________________________

Baca juga ulasan saya yang tentang motor Yamaha di sini

5

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...