Menu


Demi kenyaman, jika Anda membaca tulisan ini melalui ponsel, ubah dulu setting browsernya ke mode desktop/website dulu ya πŸ˜‰

Mudahnya urus paspor di kantor imigrasi Palembang


Yuhuu, di postingan ini saya bakal ceritain A-Z pengalaman saya membuat paspor baru di Kantor Imigrasi Kelas I Palembang. Mungkin akan sedikit panjang tulisannya, tapi mudah-mudahan yang baca bisa dapat gambaran detail terkait proses pengurusan paspor terbaru di Palembang tahun 2019 ini.


Check it out, Gaes!

***

Setelah sejuta tahun rencana bikin paspor berakhir gagal dengan berbagai alasan, di bulan April 2019 ini akhirnya saya punya paspor juga. Perdana. Itu pun harus diancam dulu sama sama Kak Yayan a.k.a Omnduut. “Kalau masih nggak bikin paspor juga sekali ini, kakak diamkan kamu satu jam kalo ketemu!”

Itu sungguh ancaman serius. Didiamkan Kak Yayan sejam sama artinya dengan membuang kesempatan dijajanin bakso, model, es krim Pak Samin, plus cerita update-an film atau buku kece terbaru. Didiamkan sejam itu juga berarti kehilangan 60 menit berharga untuk nggosipin orang lain dengan asyik (woy!).

Ok. Saya ngelantur. Balik ke paspor, setelah bertanya dengan berbagai sumber terpercaya, semedi, dan mandi bunga tujuh rupa campur air tujuh sumur serta tujuh samudera (Halah!) , berikut langkah-langkah mudah mengurus paspor di kantor imigrasi Palembang :


1. Mendapatkan nomor antrean online


Ini penting, karena dari yang saya baca tentang keluhan-keluhan masyarakat terkait Kantor Imigrasi Palembang di ulasan google maps, sepertinya kantor ini tidak melayani sistem antre manual lagi. Seluruh prosedur antrean wajib menggunakan antrean online (mohon koreksi kalau salah).


unduh aplikasi Layanan Paspor Online di Playstore


Caranya gampang kok, tinggal download aplikasi "Layanan Paspor Online" di play store. Lalu sign up dengan mengisi data standar (ikuti saja langkah-langkahnya. Gampang!).

Selanjutnya, pilih jadwal antrean yang tersedia (ditandai dengan kotak berwarna hijau).

Saat saya pertama mendaftar di awal Maret, kuota antrean sudah penuh. Hal ini cukup membuat saya kesal karena dicoba berhari-hari pun masih tetap penuh.

Lalu ada yang menyarankan saya untuk mulai mendaftar di hari Jumat pukul 2 siang. Sudah saya coba, dan antrean masih penuh juga (full merah).

lakangan saya baru tahu, kalau kuota antrean paspor itu di-update setiap 2 Minggu sekali. Ya, betul infonya, di hari Jumat pukul 14.00, namun SETIAP 2 MINGGU SEKALI.


Full green: Penampakan kuota tersedia kalau
baru buka. (IG kantor imigrasi Palembang)


Benar saja, ketika mencoba daftar di hari Jumat berikutnya (tanggal 29 Maret), mayoritas kolom antrean hampir semuanya masih hijau untuk jangka waktu 2 minggu ke depan.

Setelah menyocokkan jadwal, saya pilih antrean hari Kamis (10/4) pukul 09.00-10.00 WIB. Oh iya, satu nomor antrean bisa berlaku untuk 5 permohonan sekaligus. Jadi untuk keluarga atau bareng teman bisa diurus sekaligus.

Sambil menunggu hari H, saya beralih ke step selanjutnya.

2. Menyiapkan dokumen dan syarat yang dibutuhkan


Adapun syarat yang dibutuhkan untuk pengajuan pembuatan paspor dewasa adalah :



Syarat pengajuan paspor • kucingdomestik.co


* E-KTP asli dan fotokopi di kertas A4 (tidak usah dipotong kecil)

* akta kelahiran, surat nikah, ijazah terakhir, atau surat baptis asli dan fotokopi (cukup pilih salah satu dokumen yang di dalamnya terdapat informasi nama, tempat tanggal lahir, dan nama orang tua)

* Kartu keluarga asli dan fotokopi

* Meterai6000

* Paspor lama (jika untuk perpanjangan)


Syarat meterai itu luput saya bawa. Dan ternyata dibutuhkan untuk menandatangani surat pernyataan. Tidak masalah sih, di kompleks kantor imigrasi Palembang ada tempat fotokopian yang menjualnya. Tapi mahal bo’, Rp 10 ribu (eh, apa Rp 12 ribu ya?)

Hadeh, mending bawa sendiri dari rumah. Oh iya, jangan lupa juga bawa pena sendiri karena butuh nanti untuk mengisi formulir.

Sementara itu, kalau untuk yang berusia 17 tahun ke bawah berikut syaratnya :
s
Syarat paspor anak • IG Kantor Imigrasi Palembang


3. Datang ke Kantor Imigrasi Palembang, ambil formulir dan isi

Sesuai dengan jadwal di aplikasi, saya datang ke kantor imigrasi tanggal 10 April. Karena lokasi cukup jauh dari rumah, saya berangkat cukup pagi, setengah 8.

Sebaiknya memang sampai setidaknya setengah jam sebelum jadwal antrean, karena masih harus mengambil formulir dulu. Lokasi loket formulir di gedung bagian belakang, dekat masjid.

Saat mengambil formulir, harus menunjukkan aplikasi antrean online ke petugas. Sebaiknya sudah dalam posisi log in, sehingga tinggal menunjukkan.


Loket pengambilan formulir


Saat saya antre, beberapa orang di depan saya baru sibuk log in aplikasi saat diminta petugas, ngambil formulirnya jadi lama. Padahal kalau sudah menunjukkan, petugas akan langsung kasih formulirnya.

Begitu dapat, langsung ke luar ruangan dan isi formulirnya. Jangan lupa tempel meterai di lembar surat pernyataan.

Ga bawa lem? Tenang. Meterai itu sama kaya prangko, cukup basahi sedikit bisa nempel kok. Pakai air minum ya, jangan pakai ludah.

Bukan berarti ga bisa nempel, tapi pliss deh. JOROK TAHU!!!
 

4. Antre Serahkan Berkas


Setelah formulir diisi, gabungkan dengan semua dokumen persyaratan yang sudah dibawa dari rumah tadi dalam satu map, lalu masuk ke ruang layanan pengurusan paspor (lokasinya persis berhadapan dengan loket pengambilan formulir).

Rupanya saya datang kepagian. Harus benar-benar pukul 09.00 baru bisa ikut antre. Saat itu masih kurang setengah jam. Karena pengunjung tidak terlalu banyak dan masih banyak kursi kosong, saya dibolehkan security menunggu di dalam.

Tepat pukul 9, saya ikut antre menyerahkan berkas. Antreannya manual, tapi cukup tertib dan tidak terlalu ramai (mungkin karena faktor kuota antrean online yang memang dibatasi per sesi).

ss
Setelah menyerahkan berkas, dapat map ini + nomor antrean 

Petugas mengecek dokumen dan syarat yang dibutuhkan, memasukkannya ke dalam map khusus dan memberikan nomor antrean untuk proses wawancara.

“Tolong map-nya sambil dilengkapi sebelum wawancara ya, Mbak,” kata petugas menunjuk bagian depan map yang masih kosong dan harus diisi dengan data diri.

5. Wawancara dan Sesi Foto

Ini saat paling mendebarkan (sekaligus membosankan). Menunggu saat nomor antrean disebut untuk melakukan sesi wawancara.

Prosesnya mirip antre di bank. Ada 4 counter layanan yang buka. 3 counter khusus dan 1 counter prioritas. Memperhatikan counter prioritas ini benar-benar hiburan tersendiri. Bukan manula atau kaum difabel yang mencuri perhatian saya, tapi anak-anak di bawah 2 tahun ini.

Memperhatikan kehebohan para petugas membujuk mereka agar mau lihat ke kamera benar-benar mengundang senyum. Tak sedikit yang menangis atau malah tidur saat waktunya diambil foto. Setidaknya bisa mengurangi kejenuhan menunggu tiba giliran nomor saya dipanggil.


Pemandangan di counter prioritas 

Cukup lama juga saya menunggu. Kira-kira satu jam. Dalam jangka waktu itu, saya kuga memperhatikan proses wawancara orang lain.

Entah faktor sudah terlanjur cemas dan tegang duluan, saya melihat prosesnya lebih parah dari wawancara HRD saat melamar pekerjaan. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan ditanyakan petugas atau berapa lama durasi wawancaranya. Petugas juga terkesan jutek dan seram.

Tapi setelah giliran saya tiba diwawancara, rupanya tidak seseram itu. Sebaliknya, saya amat rileks menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Saya dapat petugas mas-mas yang (sepertinya) baru menikah. Kukunya yang masih penuh Inai jingga terlihat jelas.

Desas desus soal sikap petugas terasa mengintimidasi sih memang iya. Tapi saya maklumi, tanggung jawab mereka kan besar. Siapa yang menjamin kalau warga yang diwawancarai ini ternyata bakal calon TKW ilegal atau bagian dari sindikat penyelundupan narkoba internasional?

Cuma selama kita memang “tidak macam-macam”, proses wawancara juga ga aneh-aneh kok. Saya cuma ditanya mau kemana, urusan apa, kesibukannya apa, benar-benar baru sekali urus paspor? dan sederet hal yang sepertinya cuma ngobrol-ngobrol ala warung kopi.

Tahu-tahu saya sudah diminta scan sidik jari dan langsung foto saat itu juga. Dan ciiisss, berpose syantiek setelah sebelumnya disuruh copot kaca mata terlebih dahulu.

Sampai sempat bengong nggak percaya, sesimple dan sesingkat itu? Saya prediksi cuma sekitar 10 menit. 15 menit paling lama. Luar biasa!

Sebelum meninggalkan counter, saya diberi kertas berupa pengantar pembayaran paspor.



Bukti pengantar pembayaran paspor


6. Bayar dan Tunggu


Biaya pembuatan paspor adalah Rp 355 ribu untuk paspor biasa 48 halaman. Sudah bersih, tanpa biaya tambahan apapun.

Pembayaran bisa dilakukan di bank manapun, tapi kalau ga mau repot, bisa langsung bayar di mobil pos yang setia hadir di kantor imigrasi Palembang ini.


Mobil pos, menerima pembayaran paspor 


Setelah itu beres, tinggal tunggu 3 hari kerja untuk kembali dan ambil paspornya. Meski tertulis 3 hari kerja, saya sarankan setidaknya tunggu seminggu untuk mengambil.

Saya sendiri baru mengambil tanggal (23/4) kemarin karena minggu lalu banyak tanggal merah. Saat kembali ke kantor Imigrasi Palembang, datang sekitar pukul 9 pagi, langsung ke loket pengambilan paspor.

Menunggu sebentar saja, tidak sampai 10 menit, paspor pun sudah di tangan.

Fiuuuhh, senangnya. Bukan hanya tidak ada salah ketik nama atau data diri lainnya, tapi foto saya terlihat cakep. 10 kali lebih cakep dari foto ijazah, dan 100 kali lebih cakep dari foto e-KTP 😹😹😹



Akhirnyaaa... Setelah sejuta tahun , punya paspor juga 😹

Kesan saya tentang Kantor Imigrasi Kelas IA Palembang ...

Luar biasa!

Benar-benar pelayanan kelas I.

Jujur, tadinya sempat skeptis karena sudah banyak cerita tentang kebusukan tempat ini, atau cerita betapa sulitnya (atau dipersulit?) orang-orang saat mengurus paspor.

Tapi rupanya hal itu sama sekali tidak ditemui. Bahkan saya tidak melihat penampakan calo seorang pun.

Kalau soal urusan kelancaran wawancara, yah … mungkin itu balik-balik ke amal perbuatan pribadi masing-masing kali ya? Banyak berdoa saja dapat petugas yang baik hati dan tidak sombong 😹

Cuma saya juga heran lho, ada mbak-mbak yang diwawancara sebelum saya, kayanya prosesnya ribet banget. Diminta nunjukin surat keterangan kerja lah, disuruh nelpon atasannya lah. Beberapa orang lain juga ada yang diminta nunjukin tiket pesawat.

Yah, apapun itu, saya rasa itu tergantung dengan kemampuan kita meyakinkan petugas. Bahwa kita nggak akan “macem-macem” di luar negeri.

Saya sempat ditanya, “sudah beli tiketnya?”

Terus terang saya jawab belum. Tapi saya tambahkan, “justru karena itu pengen bikin paspor, Pak. Jadi kalau dapat tiket yang harganya ok tinggal berangkat!”

Beres.

Nggak usah ngasih keterangan macem-macem atau nggak bener. Karena itu cuma bikin gerak-gerik kita dicurigai. Para petugas itu juga pasti udah belajar psikologis manusia rasanya …

Nggak usah paket calo juga. Lha wong urus sendiri saja gampang banget kok.

Akhir kata, terima kasih Kantor Imigrasi Kelas IA Palembang, pertahankan pelayanan kaya gini ya? Sampai jumpa 4,5 tahun lagi 😽


Nb.
Kalau ada yang kurang jelas atau ingin ditanyakan, silakan colek Instagram Kantor Imigrasi Palembang (@kanimpalembang). Adminnya ramah dan responsif selagi di jam kerja.


Bonus :


Bule unyu yang English-nya lebih parah
dari gw 😹



14




Forest Talk with Bloggers - Palembang


“Manusia mencintai bumi seperti Sangkuriang mencintai Dayang Sumbi. Manusia memang masih menyayanginya, namun tak lagi menghormatinya sebagai ibu.” 


Itu kata teman saya, Yoga Palwaguna. Dia memang suka bikin sajak dengan kalimat aneh-aneh. Sering bermakna dalam  nan mak jleb. Tapi sekali ini, saya benar-benar sepakat dengannya.

Ibu Bumi, Bapa Angkasa. Nenek moyang kita telah sejak lama menyebut bumi sebagai ibu. Karena memang di sanalah kita –para manusia—memperolah kehidupan. Lahir, tumbuh, berkembang, beranak-cucu, hingga tiba saatnya jasad kembali pada pelukan tanah.

Manusia dulu demikian menghormati, bahkan nyaris memuja bumi. Sampai meludah langsung ke tanah pun adalah sesuatu yang pantang dilakukan. Sejumlah upacara macam Sedekah Bumi atau Bersih Desa rutin dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan bumi.

Namun sekarang, tampaknya ada yang berbeda.


Penyebab bumi makin panas • (dok. Forest Talk)


Manusia memang masih mengasihi bumi bahkan bergantung padanya. Namun tak lagi memandangnya dengan penghormatan, melainkan penuh nafsu. Pun tak segan lagi melakukan perbuatan tak senonoh terus menerus. Sampah, limbah, eksploitasi lahan, pertambangan, polusi … Hal-hal yang kemudian mendorong terjadinya pemanasan global yang kemudian berujung pada perubahan iklim. 

Jika Sangkuriang dan Dayang Sumbi mungkin hanya dipercaya sebatas legenda, maka perubahan iklim adalah sesuatu yang riil. Nyata tengah terjadi saat ini.

Manajer Climate Reality Indonesia, Ibu DR. Amanda Katili Niode membenarkan terjadinya perubahan iklim yang terjadi di muka bumi saat ini. Hal itu dibuktikan dengan perubahan ketinggian permukaan air, peningkatan suhu global, memanasnya samudera, melelehnya es di kedua kutub bumi dan wilayah sekitarnya, memanasnya suhu di samudera, juga pengasaman samudera.
Ibu Amanda Katili Niode • dok. Forest Talk

“Ada  60 juta orang di seluruh dunia yang terdampak cuaca ekstrem. Tak terkecuali di Indonesia. Dari 2481 bencana yang terjadi di negeri kita akhir-akhir ini seperti kekeringan, banjir, kebakaran hutan, gelombang panas dan dingin, badai, serta puting beliung, 97%-nya disebabkan oleh perubahan iklim. Tak kurang 10 juta masyarakat kita terdampak dan mengungsi karena ini,” jelas Bu Amanda.

Berkaca pada data-fakta tersebut, tak heran kalau Bu Amanda bilang kalau bumi kita sedang sekarat. Ya, bumi kita memang tengah sakit parah dan menderita menuju ajal. 

Lalu, akankah kita berpangku tangan menunggu bumi tutup usia dengan sendirinya? Yang berarti akan menjadi akhir bagi setiap kehidupan yang masih dikandungnya.

Tidak. Tentu saja tidak. Kita bisa mulai merawat ibu kita yang telah renta ini dengan berbagai cara , seperti :

1. Tidak buang sampah sembarangan
2. Memilah sampah organik dan anorganik agar lebih mudah didaur ulang.
3. Mengurangi penggunaan plastik (bawa tas sendiri saat belanja, stop pakai sedotan plastik sekali pakai, dll)
4. Mengurangi polusi

Itu cuma contoh. Masih banyak cara lain yang bisa terapkan untuk merawatnya, tentu. Dan ada satu hal lagi yang rupanya punya efek paling besar untuk memperpanjang asa bumi kita, yakni : Lestari Hutan.

Lestari Hutan? Makanan apa itu?
Simak terus ulasan berikut ini!


Menuju Pengelolaan Hutan Lestari Demi Masa Depan Bumi


Moderator dan Narasumber Forest Talk with Palembang Bloggers • foto : Bimo Rafandha

Beruntungnya saya dan rekan-rekan blogger Palembang saat dapat undangan acara Forest Talk with Blogger di Kuto Besak Theatre pada Sabtu (23/3) lalu. Acara bertajuk “Menuju Pengelolaan Hutan Lestari” tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Doctor Sjahrir dan The Climate Reality Project Indonesia. Di sini, saya benar-benar belajar banyak hal, terutama soal hutan dan kaitannya dengan kelangsungan nasib bumi kita.

Dr. Atiek Widyawati, salah satu pembicara dari Tropenbos Indonesia menjelaskan, hutan kita kian hari nasibnya kian memprihatinkan. Banyak areal hutan menjadi berkurang bahkan hilang karena aktivitas manusia. Mulai dari pembalakan liar, hingga alih fungsi lahan menjadi area perkebunan, pertanian maupun pemukiman. 


Deforestasi, degradasi, dan konversi hutan • dok. Forest Talk


“Jika ini dibiarkan, akan menimbulkan banyak masalah. Termasuk dampak bencana yang terjadi seperti banjir, kebakaran lahan dan kabut asap. Terjadinya bencana-bencana ini sudah diprediksi. Semua terjadi karena deforestasi. Untuk itu, perlu adanya solusi terkait hal ini, yakni mengembalikan lagi fungsi hutan dalam berbagai aspek,” kata Dr. Atiek.

Selain mencegah pembalakan liar, reboisasi, dan reklamasi lahan, kelestarian hutan bisa dijaga dengan cara memanfaatkan produk-produk hasil hutan non-kayu. Jadi guys, komoditas hutan itu nggak melulu kayu. Ada banyak produk hutan lain yang bisa dimanfaatkan tanpa harus menebang pohon-pohonnya yang butuh puluhan tahun lagi untuk kembali tumbuh besar.

Narasumber lainnya,  Ir. Murni Titi Resdiana, MBA yang merupakan Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim menjelaskan, ada begitu banyak potensi dari pohon-pohon di hutan untuk pengembangan ekonomi kreatif. 


Daun nanas bisa dijadikan serat untuk produk tekstil 


Mulai dari sebagai pewarna alam, bahan kerajinan, makanan, sumber minyak atsiri, hingga fashion. “Semua itu akan menjadi komoditas yang sangat menjanjikan. Namun tentunya, harus dibarengi dengan proses produksi maksimal dari segi kualitas dan strategi pemasaran yang tepat,” beber Bu Titi.


Saya sebagai model produk fashion hasil hutan • fotografer :  Mbak Katerina


Dalam pengelolaan sumder daya hasil hutan, tentunya diperlukan peran aktif dari masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar area hutan. Salah satu pihak yang peduli dengan pemberdayaan masyarakat tersebut adalah perusahaan APP Sinar Mas. Melalui program CSR  Desa Makmur Peduli Api (DMPA), sedikitnya ada 284 desa yang telah diberi pendampingan.

Head of Social Impact & Community Development APP Sinar Mas, Janudianto mengatakan, dana yang telah digelontorkan untuk ratusan desa tersebut adalah wujud komitmen APP Sinar Mas dalam menangani perubahan iklim. Adapun pengelolaan diserahkan ke masing-masing desa melalui bumdes atau koperasi. 
Produk makanan hasil binaan program DMPA APP Sinarmas • dok. Forest Talk


"Ini sebagai wujud nyata kontribusi kami dalam menangani perubahan iklim global. Namun tentunya kami tidak bisa bergerak sendiri. Perlu adanya kerjasama dengan masyarakat.  Dengan ini, selain bagian upaya dari mengedukasi masyarakat agar tidak lagi membakar hutan, bisa sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di masing-masing desa,” demikian Janudianto.

Keseruan Lainnya
Stand Pameran Meillin Gallery • dok. Forest Talk


Agenda Forest Talk with Blogger nggak cuma diisi dengan diskusi seru yang sarat ilmu. Sebanyak 40 peserta yang semuanya blogger itu juga disuguhi pameran produk hasil hutan yang begitu memanjakan mata. Ada produk-produk makanan dari stand DMPA, produk kerajinan tangan dari Meillin Gallery yang bahan bakunya berasal dari limbah kayu, dan yang paling menarik perhatian saya yakni pameran produk tekstil dari Galeri Wong Kito.


Jadi model (lagi), kali ini bareng Eka • dok. Forest Talk


Jadi produk-produk kain yang dipamerkan, semuanya dibuat menggunakan bahan alami, termasuk pewarnanya. Saya dan teman-teman juga berkesempatan praktik langsung ecoprint, yakni teknik membuat motif di kain menggunakan daun-daun. 


Serunya praktik langsung ecoprint • dok. Forest Talk

Proses pembuatannya cukup mudah, namun diperlukan kesabaran terutama saat memukul-mukul daun dengan palu kayu agar  motifnya tercetak sempurna.
Umek Elly Suryani terbuai aroma chicken wings Chef Taufik • dok. Forest Talk

Seolah belum cukup, peserta juga menyaksikan demo masak langsung oleh Chef Juna Taufik. Menyaksikan dari awal proses masak Mushroom in Paradise dan Chicken Wings Korean Sauce itu benar-benar bikin ngiler. Jadi nggak sabar pengen nyoba resepnya sendiri di rumah.

Last but not least ...


Foto bersama sebelum pulang


Saya amat terkesan dengan acara Forest Talk with Blogger Palembang ini. Benar-benar cara sempurna untuk berakhir pekan. Di atas semua ilmu dan keceriaan (plus goodie bag) yang dibawa pulang, acara ini telah menyadarkan saya akan satu hal penting. Bahwa kekurang-ajaraan dan ketidaksenonohan kita dalam memperlakukan bumi memang harus segera diakhiri.

Sudah saatnya kita kembali menghormati bumi laiknya ibu sendiri. Kini, ibu yang sudah tua, penyakitan, dan sekarat itu membutuhkan kita, anak-anaknya. Melestarikan hutan mungkin ibarat memberinya obat. Barangkali tak cukup ampuh untuk mengembalikan vitalitasnya seperti semula, namun jelas sudah lebih dari cukup untuk sekadar memperpanjang nafasnya.

Salam lestari! 

***

Bonus :






Sebagai emak kucing kampung, bertemu mereka Kuto Besak Theatre benar-benar sebuah kebahagiaan tersendiri. 😊

***


Tulisan ini juga tayang di lestarihutan.id

10

Launching All New Ertiga Sport


Kalian kalau punya mobil pengennya yang bagaimana, sih?

Saya pengennya yang pas buat keluarga. Lega, dan bisa muat lebih banyak orang. Desainnya tentu yang sporty. Biar tetap bisa gaya melaju di jalanan Palembang. Plus harganya juga nggak kemahalan.

Nah. Akhir pekan kemarin, saya dan rekan-rekan blogger Palembang dapat undangan spesial. Bukan acara blogger biasa, tapi peluncuran mobil baru dari Suzuki. 

Ga pake banyak mikir, saya dan pasukan  (Bimo, Nindy, Kak Ridho, Selvy, Dina, Paci, dan Mbak Fainun) langsung merapat ke Jade Restaurant di kompleks Palembang Indah Mall untuk menghadiri konferensi pers sore itu.

Jadi guys, ceritanya ada seri baru All New Ertiga yakni All New Ertiga Sport Series yang baru di-launching akhir Maret ini. Saya beruntung, mendengar pemaparan terkait mobil ini, A sampai Z-nya langsung dari pihak Suzuki. Mereka adalah Elysa Din Thamrin (Presiden Director PT Nusa Sarana Citra Bakti), Harold Donnel (4W Head of Brand Development and Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales), dan Ignatius Felix (Area Sales PT SIS).

Apa dan bagaimana sih All New Ertiga Sport Series ini? Baca terus ya …

Menjawab Tantangan Pasar

Didesain khusus untuk keluarga milenial



Seri All New Ertiga Sport ini bukan diproduksi begitu saja. Semua untuk menjawab tantangan pasar, di mana masyarakat saat ini sangat menginginkan adanya mobil MPV yang pas untuk kalangan keluarga muda dari generasi milenial. 

Bukan hanya mengutamakan kenyamanan, namun desain sporty-nya juga memastikan seri mobil ini memiliki tampilan kece dan sesuai dengan selera masyarakat muda. 

Fitur Unggulan
Seri All New Ertiga Sport memiliki sejumlah fitur unggulan. Dijelaskan Arfani selaku Trainer Suzuki, seri terbaru Ertiga ini masih tetap mempertahankan keunggulan teknologi lamanya sekaligus menambahkan sejumlah fitur baru.

Performa maksimal untuk perjalanan malam hari


Suzuki All New Ertiga Sport menggunakan lampu Daytime Running Light dan Defogger alias penghalau kabut.  “Fitur ini membantu pengemudi saat berkendara di malam hari sekaligus membantu di saat kondisi jarak pandang sempit karena cuaca buruk,” kata Arfani.



Selain itu, terdapat pula Rear Camera Parking yang berguna sekali saat memarkir mobil. Dari segi tampilan, baik eksterior dan interior sudah nggak perlu diragukan. Makin terlihat kece dengan hadirnya layar 6.8 inch di dashboard yang benar-benar sukses memberikan kesan mewah. Tersedia pula 3 varian warna yang bisa dipilih, yakni Cool Black, Metallic Magma Grey, dan Pearl Snow White.
Sudah cocok punya All New Ertiga Sport?



Soal harga, bohong kalau saya bilang murah. Kalau mau murah mah beli mobil-mobilan aja sana. Tapi dengan kualitas yang ditawarkan, harga Rp 257 juta untuk tipe manual dan Rp 269 juta untuk yang matic jelas besainglah ya. Ga bakal rugi kok memilikinya.


Jadi buat kalian, para keluarga millennial yang pengen punya mobil baru. Sudahlah, nggak usah kebanyakan mikir. All New Ertiga Sport Aja!



Terima kasih Ertiga  yang bikin malam Minggu kami ceria😘


***

Mommy Ossas berterima kasih pada 
Kak Ridho Arbain untuk foto-fotonya.
Dan Bimo Rafandha atas ajakannya 😘


7



Nannerl Mozart • wikipedia.org

Tulisan ini menjadi Headline di Kompasiana.

***

Sebelum ini, saya tidak pernah tahu Mozart punya kakak perempuan. Namanya Maria Anna Mozart atau yang lebih dikenal dengan nama kecilnya : Nannerl.

Saya tahu Nannerl dari sebuah channel Youtube Twoset Violin. Dalam salah satu episodenya, duo violinist yang hobi membuat konten lelucon ini memparodikan para komposer ternama seandainya masih hidup di era modern.


Di sini dua cowok Twoset Violin secara tidak langsung memberi tahu saya kalau Mozart ternyata punya saudara perempuan.

Nannerl lahir di Salzburg, Austria pada 30 Juli 1751 dan 4,5 tahun lebih tua dari adiknya, Wolfgang Amadeus Mozart. Dilansir dari theguardian.com, sepasang kakak beradik ini dikenal sebagai bocah ajaib. Sejak masih kanak-kanak, kemampuan bermusik mereka sering “dipamerkan” ayahnya, Leopold Mozart dalam sejumlah tour ke banyak tempat seperti Munich, Vienna, Paris, London, Jerman, hingga Swiss.

Potret keluarga Mozart • theguardian.com


Kemampuan Amadeus Mozart jelas sudah tidak diragukan lagi, namun siapa menyangka jika bocah jenius ini semula terinspirasi oleh kakaknya. Pada usia 3 tahun, Mozart mulai tertarik belajar musik karena memperhatikan ayahnya mengajari Nannerl alat musik harpsichord (cikal bakal piano).

***


Mozart dan Nannerl dalam Film Mozart's Sister (2010) • pict thecultureconcept.com

Sebagai orang awam di dunia musik dan hanya menyukai beberapa piece klasik terkenal, nama Nannerl seperti sihir. Saya penasaran dengan perempuan ini. Bukan sebagai kakak-nya Mozart, namun sebagai pribadi Nannerl sendiri.


Bakat Nannerl mengalir dari sang ayah yang juga seorang komponis sekaligus violinist terkenal pada masanya. Gadis ini begitu mencintai musik yang sudah dipelajarinya sejak usia 8 tahun. Dia dikenal sebagai pemain harpsichord dan fortepianist andal. Bersama adiknya, Mozart, Nannerl telah memukau banyak orang dari berbagai tempat.

Sayang, karir bermusik Nannerl harus terhenti di usia 18 tahun. Ayahnya melarang gadis itu bepergian dan mengasah bakatnya lagi karena sudah memasuki usia wajib menikah. Mulai tahun 1769, Nannerl tak lagi bermusik ke tempat-tempat yang jauh, namun tinggal di rumah saja di Salzburg bersama ibunya.

Nannerl tipikal gadis penurut dan baik-baik. Dia selalu tunduk pada keinginan ayahnya, termasuk soal pasangan hidup. Nannerl semula mencintai seorang kapten dan guru privat bernama Franz d’lppold, namun tak mendapat restu. Ayahnya memaksa gadis itu menolak lamaran. Hal ini sempat membuat adiknya meradang. Mozart ingin kakaknya berjuang membela keinginannya sendiri.

Namun  toh Nannerl tetap menikah dengan pria lain. Seorang hakim duda 5 anak bernama Johann Baptist Franz von Berchtold zu Sonnenburg. Selain anak bawaan dari suaminya, Nannerl kemudian punya 3 anak lagi dari rahimnya sendiri : Leopold Alois Pantaleon, Jeanette, dan Maria Babate.

Meski punya kehidupan rumah tangga yang luar biasa normal, Nannerl tak serta merta melupakan bakat alamnya. Dari surat-surat yang dikirim Mozart untuk Nannerl, adiknya itu memuji beberapa komposisi musik yang ditulis Nannerl. Hal ini menunjukkan, perempuan ini sebetulnya tak pernah menyerah untuk berkarya. Sayang, tak satu pun komposisi buah karya Nannerl yang terselamatkan.

Kisah Nannerl membuat sedikit banyak menjawab pertanyaan saya, mengapa nama komposer klasik perempuan tak pernah terdengar gaungnya. Bukan tidak ada, bukan tidak mampu yang jelas. Mereka hilang dan tenggelam oleh diskriminasi gender untuk kemudian dilupakan begitu saja oleh sejarah.

Perempuan, sejak dulu hanya diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Ah, kasihan Nannerl. Dia hidup di era yang salah.  Andai dia hidup di masa kini, dia sepertinya bukan sekadar jadi manusia bayangan di channel youtube adiknya. Mungkin musiknya dipakai dalam film-film fenomenal atau bahkan mencetak rekor di grammy awards.

Mungkin.

Nyatanya, Nannerl sudah meninggal hampir 200 tahun yang lalu. Dan selamanya dia hanya akan dikenang sebagai Nannerl, la Soueur de Mozart.


***


Setelah menulis ini, saya jadi tidak sabar menonton film Amadeus yang direkomendasikan Kak Yayan a.k.a Om Nduut . Adakah yang sudah nonton film peraih Oscar ini?
2

Alkitab atau Alki-Tab?  | pict : shutterstock.com



Malam minggu lalu, saya mengikuti ibadah pemuda gabungan di Gereja Baptis Kentan, Palembang. Sebuah ibadah gabungan khusus, edisi Valentine yang dipercepat. Seperti biasa, mulainya ngaret sekira setengah jam. Tapi berlangsung cukup khusyuk dan lancar sampai selesai.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya, tepatnya saat Firman Tuhan disampaikan alias khotbah. Rupanya masih cukup banyak anak-anak muda yang bertahan membawa Alkitab versi buku, meski yah tetap kalah banyak juga dengan mereka yang pilih pakai aplikasi Alkitab yang terinstal di ponsel pintar atau tab. Sejak tiga atau lima tahun terakhir, memang makin jarang terlihat orang kristen (khususnya usia pemuda-remaja) yang membawa Alkitab versi buku saat ke gereja maupun persekutuan doa. Termasuk saya.


Aplikadi MySword Bible | kucingdomestik.com

Ya. Saya memang lebih pilih aplikasi Alkitab karena alasan kepraktisan. Selain itu, saya pakai aplikasi MySword Bible. Mungkin bukan aplikasi Alkitab terbaik pilihan sejuta umat, tapi aplikasi ini menyediakan layanan Alkitab versi bahasa asli. Bahasa Ibrani untuk perjanjian lama, dan Bahasa Yunani untuk perjanjian baru. Menemukan kosakata baru atau sekadar membandingkan dengan versi terjemahan Bahasa Indonesia yang selama ini dibaca selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi saya. Seru dan jauh dari kata membosankan.

belajar bahasa Ibrani lewat MySword Bible | kucingdomestik.com


Beberapa tahun lalu, saat penggunaan aplikasi Alkitab dalam gawai belum semasif sekarang, seorang --katakanlah-- pemimpin rohani yang saya kenal sempat melarangnya. Dia tidak mau melihat ada ponsel diaktifkan saat beribadah, termasuk untuk mengakses aplikasi Alkitab. Entah apa yang dia pikirkan, namun saya berpendapat beliau semacam antipati dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman.

Lalu pada satu kesempatan mengobrol santai, saya katakan "Alkitab berwujud buku yang kita pakai sekarang memangnya asli? Bukannya itu wujud perkembangan zaman juga? Kalau mau bertahan asli ya kita harusnya masih pakai papirus atau loh batu sekalian..."

Saya sudah lama tidak bertemu beliau. Tapi pada natal akhir tahun lalu, saya lihat beliau sudah pakai Alki-tab, aplikasi Alkitab dalam tablet yang dibawanya saat berkhotbah.

***

Tentu tidak ada salahnya memanfaatkan teknologi dan mengikuti perkembangan zaman. Namun penggunaan Alkitab digital ini bukan tidak punya efek samping. Dibanding Alkitab versi buku, aplikasi Alkitab lebih rentan gangguan. Pengalaman saya, sekalipun HP dalam silent mode + airplane mode, sulit sekali memaksa diri tetap fokus pada jalannya khotbah. Tangan ini terlalu gatal untuk tidak mengutak-atik aplikasi yang lain. Entah membaca chat-chat lama dalam whatsapp, atau sekadar melirik foto-foto dalam galeri.

Dalam hal ini, jarak antara kekhusyukan ibadah dan kekejaman dunia digital memang hanya sebatas kontrol diri. Seberapa tahan kemampuan diri kita untuk fokus hanya ke Tuhan, dan bukannya aplikasi dalam genggaman.

Saat menulis ini, mendadak saya ingat Firman Tuhan yang berbunyi begini :

"Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.

Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka." Matius 5:29-30


Kedua ayat ini tentunya bukan untuk dimaknai secara harafiah. Namun Yesus sudah dengan tegas mengingatkan, bahwa jangan pernah main-main dengan dosa. Kalau tanya jujur pada nurani sendiri, pasti sebenarnya tahu kok ... bahwa bermain-main dengan ponsel saat beribadah, saat pendeta serius berkhotbah, itu bukan hanya tidak pantas secara etika manusia, namun juga berdosa. Menyepelekan Tuhan.

Tulisan ini saya akhiri dengan omelan ke diri sendiri :

"Hai Arako! Jika HPmu menyesatkan engkau, pecahkan dan buanglah itu, karena lebih baik jika kamu nggak punya ponsel, dari pada tubuhmu harus dicampakkan ke neraka gara-gara itu!"

Hehehe, yuk. Mulai bijak gunakan gawai-gawai kita.






0



Forum Merdeka Barat 9



Selain untuk pembangunan fisik, pemanfaatan Dana Desa banyak dialokasikan untuk pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dalam jangka waktu 2015-2018, tercatat sebanyak 37.830 unit BUMDes yang terbentuk lewat program kebijakan Dana Desa. Dengan demikian, per 21 Desember 2018, sebanyak 61% desa di Indonesia telah memiliki BUMDes. 

Hal tersebut disampaikan Sekjen Kementerian Desa Pembangunan Daerah  Tertinggal dan Transmigrasi, Anwar Sanusi dalam gelaran diskusi media Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertajuk “Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa” di Griya Agung, Palembang, Senin (4/2) kemarin. Saya dan beberapa rekan dari Kompasianer Palembang berkesempatan hadir dalam acara ini.

“Anggaran dana desa yang pada tahun 2015 sebesar Rp 20,67 triliun, meningkat jadi Rp 60 triliun di 2018. Jika di awal pelaksanaannya dana ini banyak digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat saja, tahun-tahun terakhir mulai banyak dimanfaatkan untuk hal lain, salah satunya pembentukan BUMDes. Dari total 45.549 unit BUMDes yang ada, sebanyak 37.830 unit di antaranya terbentuk melalui program Dana Desa,” kata Anwar. 

Menariknya, keberadaan BUMDes tersebut tak hanya berdampak signifikan pada perekonomian desa, namun juga berhasil menyerap cukup banyak tenaga kerja. Sebanyak 1.074.754 orang tenaga telah terserap lewat keberadaan BUMDes. 

Disampaikan Anwar, hal itu berpengaruh terhadap menurunnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) desa. TPT yang semula berada di angka 4,93% di tahun 2015, saat ini telah turun menjadi 3,72% di akhir 2018. “Sebanyak 1 juta lebih tenaga kerja berhasil terserap lewat keberadaan BUMDes ini. Dan dipastikan semuanya adalah tenaga kerja lokal,” jelas Anwar.  

Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Mawardi Yahya yang turut hadir dalam forum tersebut menyambut baik penyerapan  tenaga kerja oleh BUMDes. Menurutnya, hal itu secara tidak langsung telah meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). “Jangan sampai, tenaga kerja kita dieksploitasi untuk kepentingan negara lain. Dengan adanya BUMDes, artinya membuka peluang lapangan kerja di desa sendiri,” kata Mawardi.

Meski demikian, Mawardi mengakui, khusus untuk wilayah Sumatera Selatan, per akhir Oktober 2018 baru empat kabupaten/kota yang menerima kucuran dana desa tahap III. Keempat kabupaten/desa tersebut adalah Kota Prabumulih, Muara Enim, Musi Rawas, dan Banyuasin. Hal ini disebabkan karena sebagian besar desa belum menyerahkan laporan penggunaan dana desa tahap II. Di samping itu, masih ditemui sejumlah kasus penyelewengan terkait pemanfaatan dana desa di lapangan. 

Menanggapi hal ini, Anwar Sanusi mengatakan pihaknya telah menggandeng KPK untuk mengawasi penggunaan dana desa. Selain itu, diharapkan peran masyarakat pula untuk ikut melaporkan penyelewengan atau pelanggaran yang mungkin ditemui di lapangan. “Kita akui hal ini masih menjadi kendala kita. Namun kita sudah upayakan agar hal ini bisa ditekan, salah satunya dengan melibatkan KPK untuk mengawasi. Selain itu, masyarakat juga bisa berperan dengan melaporkan dugaan penyelewengan dana desa ke call center 1500040,” kata Anwar.

Anwar menambahkan, pihaknya berharap peran media untuk lebih menebarkan semangat penuh harapan ketimbang berita bohong. Banyak hal-hal positif yang bisa disampaikan terkait pencapaian pemanfaatan Dana Desa. “Misalnya saja, terdapat 145 BUMDes yang punya nilai omset di atas Rp 1 Miliar. Hal ini kan bisa menjadi contoh untuk diterapkan di BUMDes di tempat lain. Media berperan besar untuk menyebarkan hal seperti ini. Lebih baik menebar semangat hope ketimbang hoax,” demikian Anwar.  

Geng Kompal (Kompasianer Palembang)







1

Baca juga

Mimpi 15.529 Km

Tulisan ini dibuat dengan rasa rindu yang sangat, pada sosok manusia paling kontradiktif yang pernah kukenal : Papa. Mimpi 15.529 km | kuc...

Labels

aplikasi mysword bible arako atasi kusta BCC squad beauty blogger beautyblogger Blog competition blogger (ngaku) kristen blogger Crony blogger Jogja blogger Palembang buka bersama Thamrin Brothers Palembang Catatan Harian Tidak Penting CGV Transmart Palembang couple blogger de jakabaring ertiga sport palembang forest talk with blogger Palembang gelar sarjana sastra halal bihalal Yamaha Palembang hey say jump indonesia kado LM kado nikah kado pernikahan terbaik kehidupan nannerl mozart keito okamoto kucingdomestik kuliner launching ertiga sport palembang lepas kondom Lestari hutan Lirik lagu semua bisa berubah maju literasi digital married life masalah pernikahan masalah pernikahan pertama mizan mizan anti pembajakan mizan blog competition mizan group mommy ossas nannerl mozart New Enzyplex no animal tested skincare nugisuke Palembang Beauty Bloger Palembang blogger paspor Palembang pasutri Pond's Triple Glow Serum Prudential Indonesia PRULink Generasi Baru dan PRULink Syariah Generasi Baru PTC Mall Pucuk Coolinary festival Pucuk Coolinary festival Palembang ragi story RagiStory Raiku Beauty Raiku Brightening Series RaikuxPBB restoran palembang review review jujur Sarjana Sastra sastra Inggris Scarlett Scarlett Body Care Scarlett brightly serum Scarlett glowtening serum Scarlett mask serum pencerah wajah Sisternet Palembang skincare Spiderman Far from home Stigma kusta Teh Pucuk Harum Thamrin Brothers Palembang Tugas Negara Warung Tekko Warung Tekko Palembang Yamaha Mio vs Honda beat Yamaha palembang