Newsletter

Menu

Self Injury Awareness Day 2019 : Dariku yang Pernah Melukai Diri Sendiri



Hari Kesadaran Cedera Diri Sedunia * pict : saveourgreen.org

Tulisan ini menjadi Headline di Kompasiana.

*

Setiap tanggal 1 Maret diperingati sebagai Self-Injury Awareness Day atau Hari Kesadaran Cedera Diri Sedunia. Peringatan ini merupakan kampanye global untuk menyebarkan kesadaran tentang perilaku menyakiti diri sendiri sekaligus bagaimana mengatasinya.

Kampanye ini tidak dibuat tanpa alasan, tentu saja. Beberapa tahun belakangan, perilaku menyakiti diri sendiri ini telah berubah menjadi semacam tren, khususnya di kalangan remaja.  Dilansir dari Biro Media BEM Fakultas Psikologi UI 2018, statistik menunjukkan setidaknya 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 7 pria pernah melakukan aksi self-injury pada tahun 2016. Menariknya, hampir separuh pelaku self-injury pernah menjadi korban kekerasan seksual.

Sebagai salah satu mantan pelakunya (Puji Tuhan, sudah terbebas dari perilaku ini. Semoga tidak akan pernah kumat-kumat lagi. Amin), saya ingin berbagi kisah tentang seluk beluk self injury ini.  Hitung-hitung turut meramaikan Self Injury Awareness Day yang (sepertinya) kurang terdengar gaungnya di Indonesia.

***
Self Injury (SI) adalah tindakan dimana seseorang dengan sengaja dan penuh kesadaran melukai dirinya sendiri. Metodenya macam-macam. Bisa mengiris, menggores, menyayat, menusuk atau membakar kulit. Bisa juga memarkan tubuh, dengan menjedot-jedotkan ke tembok misalnya. Pada tingkat ekstrem, seseorang malah sangat mungkin menyuntikkan racun atau mematahkan tulang sendiri. Aktivitas ini jelas merupakan kelainan psikologis, namun sangat berbeda dengan keinginan atau pikiran untuk bunuh diri. Hampir semua pelaku SI sama sekali tidak ingin mati. 

Lah, tetep aja bego banget sih orang begitu? Kan sakit!

Sakit. Nah, memang itu yang dicari pelakunya. Rasa sakit.

SI memang sangat sulit dimengerti oleh orang normal dan punya kondisi psikis luar biasa sehat (kecuali mereka yang tidak asing dengan ilmu psikologi seperti psikolog atau psikiater). Namun untuk mereka yang terbiasa melakukannya, SI itu semacam rest area dari tol kehidupan yang luar biasa sesak dan melelahkan.

Begini, tidak ada orang yang kondisi mentalnya sehat walafiat, terus ujug-ujug pengen SI. Mereka yang melakukan ini pasti sedang sakit mentalnya. Entah diakui apa tidak. Pelakunya merasakan sakit dan tekanan luar biasa, namun tidak berwujud. Tidak terlihat. Pemicunya ya bisa macam-macam. Masing-masing orang berbeda.  Habis putus cinta, masalah keluarga, rasa malu, sedih atau marah tak tertahankan, penyesalan atau rasa bersalah mendalam, kecewa, putus asa, dan banyak lagi lah. 

Perasaan tidak tertahankan ini sangat mengganggu dan di titik tertentu seperti nggak akan pernah ada habisnya. SI berarti semacam “menerjemahkan” atau “mewujudkan” rasa sakit itu. Kan jauh lebih gampang menyembuhkan sayatan kecil di lengan ketimbang mengakhiri sedih karena ditinggal mati ayah yang ternyata diam-diam punya 3 istri simpanan misalnya.

Yah, itu misalnya. Tapi intinya sama saja sih. Semacam pelarian saja. Yang penting ada yang mengalihkan dari rasa sakit tak berwujud itu.

Efektif?

Umm, harus saya akui. Iya. Lumayan melegakan. Saya tidak tahu bagaimana kinerjanya, tapi mungkin seperti kalau kita makan sesuatu yang pedas. Tahu itu menyiksa dan bikin nggak nyaman, tapi tetap ada rasa enak dan puas yang ditinggalkan.

Masalahnya, rasa lega dari SI ini betul-betul hanya sementara. Rasa sementara ini yang bikin orang SI kecanduan dan otomatis pengen ngulang dan ngulangin terus. Lama-lama ya capek juga. Bukannya nyelesaiin masalah, malah nambahin masalah. Dari yang tadinya udah tertekan sama masalah di awal, jadi makin ditambahin depresinya karena SI.

Eh, bener lho. Orang SI itu udah tertekan dan merasa bersalah sendiri sama perilakunya. SIsi waras dan manusiawi seseorang pasti akan selalu ngasih tahu kalau yang dilakukannya itu salah. Makanya umumnya mereka terus jadi malu. Nutupin sedemikian rupa. Jangan sampai bekas-bekasnya ketahuan. (Selama bertahun-tahun dulu, ga pernah ada yang tahu saya SI sampe tanpa sengaja ada yang ngeliat ada darah merembes ke lengan baju. Mau nggak mau terpaksa cerita karena diinterogasi terus).

Nah, kalau ada yang SI terus malah posting di sosmed itu saya nggak ngerti deh. Mungkin itu cara dia meminta pertolongan. Tapi apapun itu, kalau kalian melihat atau tahu ada orang yang SI begitu, please please banget  jangan dihakimi. Nggak usah dikata-katain. Nggak usah dibego-begoin. Percayalah, mereka itu aslinya pasti udah tahu kok kalau yang dilakukannya itu bego dan ga guna. Dan kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya udah dia alami. 

Tenangkan, support, tawarkan konsultasi ke professional, atau sekadar sediakan kuping kalau dia mau cerita. Misalnya kamu nggak bisa ngelakuin apapun itu ya cukup doakan untuk kebaikan dia. Tuhan kadang punya cara sendiri untuk memeluk orang-orang yang begitu. Kalau nggak bisa doa juga, ya sudah … diam saja. Sesungguhnya diam memang jauh lebih baik ketimbang menambah penderitaan dia.

Karena akan sangat membahayakan jika sakit batin yang dia rasakan udah ke taraf ga bisa lagi dialihkan sama sakit fisik yang nyata. Di sini pikiran untuk bunuh diri bakal gampang banget merasuknya.

***

Perilaku ini bisa sembuh atau dihentikan?
Bisa. Sangat bisa. Saya buktinya. Tapi ya harus diakui itu amat sangat tidak gampang. Ketimbang “mengobati” untuk pulih, saya lebih pake istilah “bertarung” untuk menang. Karena ini memang butuh perjuangan dan benar-benar harus dilawan.

Buat kalian yang kebetulan masih SI dan tanpa sengaja nemu tulisan ini entah gimana. Saya mau bilang ini ke kalian … sama kaya gangguan psikis lainnya, pada akhirnya memang cuma Tuhan dan diri sendiri yang bisa menyembuhkan. Orang-orang macem psikiater, psikolog, konselor, atau sahabat partner curhat kita atau siapapun dan apapun itu posisinya cuma supporter, cuma cheerleader. Yang bertarung di arena gladiator , hadap-hadapan sama monster Self Injury itu tetap kita sendiri.  

Jadi hal pertama yang harus kamu lakukan adalah : sadari ini, dan kuatkan dirimu. 

Yah, kalau aku kuat ya nggak bakal SI lah, Araaaaa!!!!

Yup. Betul. Maka  yang kedua, akuilah kalau kita lemah. Kalau kita nggak se-setrong itu. Kalau kita emang lagi tidak baik-baik saja. Nggak papa. Nggak ada yang salah dengan itu. Mungkin memang ada orang lain yang ngalamin kaya kita dan mereka baik-baik saja, sekali lagi nggak papa. Jangan pernah ukur kekuatan diri kita dengan milik orang lain. Kapasitas tiap orang beda-beda. Sama kaya nggak semua orang bisa ngangkat gallon dan masang ke dispenser tanpa tumpah, kan?

Paling enak ngakuin segala kelemahan itu sama Tuhan. Karena cuma DIA yang nggak bakal ngata-ngatain kita atau bikin kita terpuruk. Berdoalah, sekalipun susah dan harus dipaksa. Berdoalah, meskipun kayanya sia-sia dan nggak ada perubahan. Berdoalah, sekalipun ngerasa diri nggak layak menghadap-Nya. Terserah mau gimana pun caramu berdoa. Tuhan Maha Mendengar. Dan Dia memang cuma sejauh doa.

Tuhan memang Maha Segalanya. Dia sanggup aja bantu kita memenangkan pertarungan secara instan atau hitungan detik kalau emang mau. Tapi kadang Tuhan pengen ngajarin kita sesuatu yang lain dan ada babak tertentu yang memang harus dilalui. Intinya di poin ketiga, kita ga boleh pasif dan diam saja menunggu. Kita juga harus berjuang dan berusaha sendiri semaksimal mungkin. Ora et Labora, Brooo!!

Caranya bisa macam-macam, salah satunya ya coba minta bantuan dengan orang lain. Seperti yang udah disinggung di atas, yang bisa menghancurkan si monster SI emang cuma Tuhan dan diri sendiri. Tapi nggak ada salahnya juga punya supporter atau cheerleader. Mereka memang nggak secara langsung ikut bertarung, tapi mereka bisa kasih kamu tips dan trik menghadapi si monster, atau minimal menyemangati kamu biar kamu nggak nyerah. 

Kamu bisa pilih teman atau sahabat, pembimbing rohani, keluarga, atau siapapun yang bisa dipercaya (pastikan mereka bukan toxic person ya). Kalau misalnya nggak punya atau nggak yakin, bisa dicoba konsul ke psikolog. Setidaknya mereka sudah lebih pintar ngurusi psikis seseorang. Oh, kita juga bisa menghubungi nomor darurat untuk konseling resmi dari Kementerian Kesehatan RI lho di nomor 119 (saya belum pernah coba sih, tapi semoga bisa membantu).

Yang paling penting di atas semua ini, Yuk …, mulai belajar sayangi diri kita sendiri. Saya tahu ini yang paling susah dilakukan. Saya masih belajar sampai sekarang. Tapi yuk, mulai coba tanamkan kalau dirimu itu sama berharganya dengan orang lain.

Kalau kamu nggak akan tega mengiris tangan temanmu atau menjedotkan kepala adikmu ke tembok, kenapa harus tega melakukan itu ke diri sendiri? Kamu lho yang paling memahami dirimu itu. Cuma kamu yang paling tahu gimana penderitaan atau rasa sakit yang sudah dia alami. Daripada nambahin rasa sakitnya, kenapa ga coba peluk dirimu sendiri dan lakukan segala yang kamu bisa untuk bikin dia merasa nyaman? 

Apa yang kamu lakukan kalau ternyata melukai orang lain? Minta maaf. Nah, minta maaflah pada dirimu yang sudah kamu sayat tangannya atau jedotkan kepalanya di tembok itu. 

Dan maafkan juga dirimu yang sudah bersalah melakukan semua itu. Berdamailah. Dan mulailah menjadi teman dan pendukung satu sama lain. Nggak perlu malu dengan bekas lukamu. Mulai sekarang, jangan anggap itu sebagai kesalahan, tapi bekas luka pertarungan. Battle Scars. Setiap kali kamu lihat bekas luka itu, kamu akan lihat betapa hebatnya kamu sudah bisa bertahan sejauh ini.

Jika kamu dan dirimu sudah bisa saling menguatkan, kalian akan bisa menghadapi apapun, termasuk monster SI itu. Juga monster-monster lain yang akan tetap ada sepanjang jalan perjalanan hidup. Tidak gampang, tentu. Tapi jelas bukan hal mustahil lagi.



Selamat Hari Kesadaran Cedera Diri Sedunia.

Salam dari Tepian Musi,

Dariku yang pernah self-injury.









10 komentar:

  1. Jujur ku baru tau tentang fenomena SI e mbak,.. mungkin sering lihat namun g tau kalau ada istilahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini marak, Pak ... terutama di usia remaja yang masih labil-labilnya. Cuma ya itu, fenomena gunung es. Lebih banyak yang ga terekspos.... terima kasih sudah singgah. Salam kenal.

      Hapus
  2. makasih sharingnya, semoag banyak orang yang tertolong ya, krn prilaku demikian itu mengerikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak. Terima kasih sudah singgah

      Hapus
  3. Artikelnya bagus. Memberi pencerahan. Thanks udah berbagi.

    BalasHapus
  4. Ooh ini tulisan yang viral itu. No wonder sih wakakakakak.
    Dapet ilmu lagi deh.

    BalasHapus
  5. aku pikir itu sama dgn bunuh diri, tapi trnyata beda yaaa. aku prnh liat mba, video di FB, cuma gavtau sih ini termasuk SI ato bukan. anaknya itu mohon maaf merupakan anak berkebutuhan khusus. dan dia sama sekali ga bisa kontrol dirinya dr melukai diri sendiri. jedot2in kepala, mukulin kepalanya pake tangan dll. masalahnya krn ini ABK, melarangnya dan memberitahu anaknya ga mungkin sama dgn cara utk anak yg biasa.

    di video itu sih pengobatannya memakai mariyuana jadinya. itu sanggub buat anaknya tenang dan ga melukai dirinya lg. tp ttp miris yaaa, krn hrs memakai psikotropika :(.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, kalau yang anak begitu beda lagi kasusnya, Mbak. Itu memang karena ada kelainan di otaknya jadi ga bisa ngontrol. Memang butuh obat kalau yang begitu.

      Kalau yang saya tulis ini lebih ke gangguan psikologis sih, di tahap tertentu yang parah memang bisa ga kekontrol lagi. Tapi sebenernya kalau belum parah ya masih bisa dilawan ...

      Hapus

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels