Newsletter

Menu

Fenomena Berbagi Foto Sadis Hasil Kejahatan, Sakit Jiwa?

Ibadah Penghiburan Melinda Zidemi

***

Ada satu hal dari yang saya soroti dari kasus pembunuhan dan perkosaan teman dan saudara seiman terkasih saya, Melinda Zidemi. Sejak pertama kali mendengar kabar duka ini pada Selasa (26/3) pagi, saya mendapati begitu banyak foto jenazah Kak Mel, terutama saat masih di TKP bersileweran di sosial media. Portal berita, Facebook, Twitter, Instagram, WA grup … semuanya tanpa blur!

Saya yang belum pulih dari syok saat mendengar tragedi ini, mati-matian mempertahankan diri “tetap waras” ketika disuguhi gambar-gambar yang tidak pantas itu. Belum lagi surut rasa duka dan amarah untuk pelaku, harus ditambahi emosi kesal luar biasa oleh ulah para netizen.

Yang lebih mengerikan lagi, saya perhatikan ada beberapa dari mereka yang berani sekali membagikan foto-foto itu di akun Facebook tunangan Kak Mel. Bukan hanya satu dua, tapi banyak. Saya duga, inilah faktor yang membuat tunangan Kak Mel akhirnya memilih me-nonaktifkan akun facebooknya.

Memangnya siapa orang waras yang tahan melihat orang terkasihnya dalam kondisi mengenaskan seperti itu?


*

Fenomena membagikan foto sadis ini bukan hanya terjadi di kasus Kak Mel. Banyak kok. Masyarakat kita agaknya memang hobi berbagi foto-foto tidak pantas seperti ini. Korban perampokan, aksi bunuh diri, aksi terorisme, dan paling sering korban kecelakaan.

Meski sudah men-steril-kan friendlist dari mereka yang hobi berbagi foto-foto tidak pantas ini (dengan unfollow, unfriend, atau blokir), kadang foto-foto ini masih juga terlihat di sejumlah forum atau grup yang diikuti.

Meski sama sekali tak mendukung, saya masih mengerti ketika admin page tertentu membagikan foto-foto macam ini. Tujuannya jelas. Apalagi kalau bukan sebagai sarana mendulang react dan komentar? Makin populer sebuah page, makin banyak pula keuntungan finansial yang diperoleh.

Tapi ketika foto-foto ini disebar oleh “orang-orang biasa”, apa sih tujuannya?

Ingin menuai react dan like juga? Bangga karena sudah mengetahui sebuah peristiwa heboh? Merasa keren karena sudah berjasa memberi tahu pihak keluarga korban?

“Ya kan ingin turut berbelasungkawa, Ar …”

Berbelasungkawa dari Hongkong?!?!

Begini. Cobalah kalian, yang pernah dan masih suka menyebar foto-foto semacam itu diam sebentar. Coba renungkan dan bayangkan, kalau orang-orang dalam foto tersebut adalah anggota keluarga kalian sendiri. Orang-orang terkasih kalian sendiri …

Yakin bakal ikhlas dan rela?

((Saya yang papanya meninggal wajar (bukan karena korban kejahatan) saja, tetap ada rasa tidak rela ketika melihat foto jenazah beliau diunggah orang lain --sekalipun teman sendiri--. Bagaimana kalau kondisinya mengenaskan? Mungkin saya bakal beneran gila.))

Kalau sudah membayangkan dan merenungkan tapi masih tidak merasa bersalah sudah berbagi foto semacam itu, kalian perlu baca info ini :

Psikiater forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr.Natalia Widiasih Raharjanti, Sp.KJ dalam wawancaranya kepada Tribunnews  mengungkapkan, ada ciri kepribadian tertentu yang memang menikmati penyebaran konten sadis, yakni orang narsistik, psikopat dan sadis.

Narsistik adalah gangguan kepribadian yang mana seseorang menganggap dirinya teramat penting dan memiliki kebutuhan untuk sangat dikagumi. Orang macam ini tidak hanya ekstra percaya diri, namun juga kerap tidak menghargai 'perasaan atau ide-ide dan mengabaikan kebutuhan orang lain.

Psikopat adalah adalah suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan antisosial. Psikopat merupakan salah satu kelainan psikis yang mengerikan. Psikopat termasuk bagian dari gangguan kepribadian yang dapat ditandai dengan perilaku antisosial, impulsif, tidak mengikuti atau mengabaikan norma di dalam masyarakat, serta tidak memiliki perasan takut ataupun bersalah.

Sadis -- sadistik, sadisme-- berarti kepuasan seksual yang diperoleh dengan menyakiti orang lain (yang disayangi) secara jasmani atau rohani.


Masih tetap ngeyel berbagi foto tidak pantas dengan berbagai alasan? Mungkin anda benar-benar perlu memeriksakan diri ke poli psikiatrik.


“Yah, Arako lebay! Saya kan cuma posting foto jenazah di peti. Sudah nggak cantik, rapi, tidak mengenaskan lagi. Nggak maksud apa-apa, cuma sebagai kenang-kenangan sekaligus wujud kehilangan dan rasa belasungkawa kami untuk orang yang kami sayang.”


Ayolah, banyak cara lain untuk mengungkapkan rasa itu. Kalau memang mau buat kenang-kenangan, ya sudah. Ambil dan simpan sendiri, nggak usah di-share.


Yuk, sama-sama belajar bijak dan berpikir dulu sebelum mengunggah sesuatu.

Salam.



Tulisan pertama saya terkait mendiang Kak Mel berjudul "Haruskah Menunggu Melinda Zidemi yang Lain?" telah tayang dan menjadi Headline di Kompasiana.






1 comment:

  1. aku sampe browsing td siapa melinda zidemi ini dan kenapa kasusnya.. maklum mba, aku jarang baca berita jujurnya.. dan lgs miris sih... ga kebayang memang kalo foto2 jenazah disebar kemana2 sampe keluarga terdekatnya ikut melihat juga :(..

    1 lg yg aku ga suka yaa, krn ini srg aku temuin... org lagi opnam, kondisi juga kayak org sakit, djenguk tapi yg menjenguk ini hobi bgt foto2... dan sering maksa untuk "foto dulu yuuuuk, biar temen2 lain tau kondisi kamu gmn"

    WTF, kdg kalo ga inget usianya lbh tua, pgn aku maki... ada banyaaakk yg seperti itu di sekitarku.. kenapa ya susaah sekali orang2 menghargai privacy org lain :(

    ReplyDelete

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels