Newsletter

Menu

Etika Curhat yang Mungkin Kamu Abaikan

Etika Curhat yang Mungkin Kamu Abaikan | pict IG @mamanisss
 Saat seseorang menyisihkan waktu untukmu, dia sudah memberimu sebagian dari hidupnya yang tidak mungkin bisa kembali.
 Semalam, sesaat sebelum siaran final piala dunia berlangsung, ada dua orang yang chat saya di waktu bersamaan. Pertama seseorang yang lama nggak ada kabar, sebut saja si Donat. Dulu, kira-kira sejuta tahun lalu dia memang pernah curhat cukup dalam. Tapi setelah masalahnya kelar, dia kaya Avatar, menghilang begitu saja. Saya nggak tahu apa-apa lagi tentang dia.  Tapi semalam, Si Donat ini langsung nyerocos cerita masalahnya tanpa basa-basi lagi. Parahnya, waktu saya bilang mau nonton bola, dia bilang "Nonton sambil telponanlah." (Orang gila mana yang nonton bola sambil telponan?) 

Lalu ada seseorang lagi, sebut saja Nastar. Mau curhat juga sih. Tapi sebelum itu dia chat begini : "Ra, lagi apa? Banyak deadline-kah? Lu lagi puyeng nggak sekarang?" 

 Ketika saya jawab lagi siap-siap nonton piala dunia, ada deadline tapi masih seminggu lagi, dan kebetulan tidak sedang puyeng, dia baru bilang begini : "Kalau misalnya kelar nonton lu belum tidur, gw telpon ya, Ra? Pengen cerita gw. Ya kalau lu nggak keberatan ngedengerin sih tapi ..."

Nah, dari kedua orang ini, kira-kira saya lebih antusias meladeni yang mana coba? Tentu saja Si Nastar. Karena rasanya lebih enak beretika. 

 *** 


Setiap kita pasti pernah dalam posisi curhat dan dicurhati. Frekuensinya lebih banyak yang mana tentu tergantung pribadi masing-masing. Tapi kalau sedang dalam posisi orang yang ingin curhat, nggak ada salahnya lho meniru si Nastar. Menurut saya, dia sudah menerapkan etika curhat dengan sangat baik, antara lain : 


 1. Baca Situasi dan Kondisi
Bisa abaikan poin ini kalau yang dicurhati adalah profesional macam psikolog, psikiater, konselor bersertifikat (yang sudah kamu bayar tarif ratusan ribu per sesinya itu), atau pemuka agama. Tapi jika yang kamu curhati adalah orang biasa (baca : keluarga, sahabat, pacar, teman, kenalan dunia maya, dll), kamu haruslah pandai  membaca situasi dan kondisi pendengarmu. Sepelik apapun masalah yang kamu hadapi, tetaplah menyempatkan diri untuk cari tahu kesibukannya dan --kalau memungkinkan-- suasana hatinya. Percayalah, curhat dengan orang yang nggak mood mendengarkanmu cuma akan menambah kadar kebetean. Setidaknya, pastikan dulu dia bersedia kamu ganggu sebelum memulai sesi curhat. 


2. Sabar
 Urgensi masalah kadang bikin kamu hilang sabar. Kamu jadi marah dan kecewa luar biasa kalau nggak ditanggapi saat itu juga. But sorry to say, sebetulnya kamu sama sekali nggak berhak lho untuk begitu. 

Perlu diingat kalau setiap orang punya kesibukan dan skala prioritas sendiri-sendiri. Perkara hidup dan matimu belum tentu sepenting memandikan kucing bagi orang yang dicurhati. Dalam kasus si Nastar, ternyata masalah dia luar biasa pelik lho (melibatkan tindak amoral dan pelanggaran hukum). Tapi di sisi lain, dia amat mengerti kalau final piala dunia yang cuma 4 tahun  sekali itu juga perkara penting buat saya. Kesabaran dia menunggu sampai 2 jam sampai saya benar-benar siap mendengarkannya benar-benar patut diteladani. 

Kamu marah ketika chat curhatmu cuma di-read? Ngambek  karena dicueki? Lha memangnya kamu sudah ngasih apa sama teman yang kamu curhati itu? Kalau tidak terima dicueki, sila datangi psikolog dan konselor resmi, dijamin kamu bakal diladeni dengan memuaskan.

3. Legowo
Ketika memutuskan curhat bukan dengan orang dari kalangan profesional, kamu harus legowo untuk masalah yang tidak selalu ketemu solusinya. Catat baik-baik : orang yang kamu curhati itu bukan jin botol. Dia manusia biasa yang pikiran dan kemampuannya terbatas. Ya bersyukur kalau dia bisa bantu beresin masalahmu, tapi kalau pun tidak ya kamu harus terima. Toh, setidaknya kamu bisa berpikir ulang terkait semua masalah itu dengan kepala lebih jernih tiap selesai curhat.


4. Berterima-kasih 
Terima kasih di sini bukan sebatas “Makasih banyak lho, Say, udah mau dengerin aku," melainkan lebih ke bagaimana sikapmu setelah didengarkan.

 Mungkin kamu berpikir mendengarkan orang lain itu perkara sepele. Hal biasa, lumrah dilakukan dalam lingkup pertemanan atau persaudaraan. Namun sadar tidak? ketika seseorang sudah memutuskan untuk mendengarkanmu, meladenimu .... dia sudah merelakan sebagian dari hidupnya yang tidak bisa kembali lagi. 

Pernah terpikir tidak? waktu satu atau dua jam meladeni ocehanmu itu sangat bisa dia pakai nonton, makan enak, tidur, menulis artikel untuk beberapa ratus ribu rupiah, atau melakukan hal lain yang lebih penting. Tapi ternyata tidak dia lakukan saat itu, karena di matanya kamu lebih penting. Kamu lebih berharga. Didengarkan itu sama sekali bukan perkara sepele, tapi hadiah luar biasa kalau kamu menyadarinya. 

Namun apa yang banyak orang lakukan setelah selesai curhat? Ya sudah, selesai begitu saja. Kembali ke kehidupan awal seolah tidak terjadi apa-apa. Parahnya lagi, ketika ternyata masalah selesai dan hari-hari kembali normal dan berbahagia, lebih banyak yang pilih merayakannya dengan orang lain (GW GA CURCOL LHO!)

Seseorang yang kamu curhati itu, jangankan sesekali kamu tawari traktir es teh, dia masih hidup apa tidak pun tidak ada yang peduli. Baru mulai sibuk cari dia lagi ketika siklus masalah kembali, dan kamu sadar teman-temanmu yang lebih sering diajak hangout dan nonton itu ternyata tidak senyaman itu kalau diajak curhat. 

 Nggak perlu lah membayar teman curhatmu itu dengan tarif resmi psikolog. Tapi kalau ada berkat lebih, nggak ada salahnya lho nraktir dia bakso atau es jeruk favoritnya kalau kebetulan bertemu. Pun kalau nggak bisa karena terhalang jarak, kamu bisa menggantinya dengan sedikit perhatian. Support karyanya kek, hasil kerjanya ..., minimal komentari postingan IG atau statusnya. Kirimi dia pesan pribadi, tanya kabarnya atau ceritakan pencapaian positifmu. Atau apapun, yang intinya jangan sampai memutus silaturahmi. Syukur-syukur kalau kamu tipe orang yang berbesar hati sehingga bisa diajak gantian curhat.

 Berterima kasihlah, dengan cara tidak hanya datang padanya kalau lagi butuh saja. 
Berterima kasihlah, dengan cara memperlakukannya seperti manusia dan bukan keranjang sampah. 


***

Tulisan ini untuk si tukang curhat. Kalau buat teman curhat pernah saya posting di sini.



Nb. Postingan ini sedikit bernada ngomel.
 Faktor agak sensitif karena si Ossas sakit barengan dengan jadwal PMS mommy-nya:D


GWS Ossas anak Mommy | kucingdomestik.com

No comments:

Post a Comment

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels