Newsletter

Menu

Simfoni Rindu untuk Sang Iblis


Sketch by : Syahyuti (lukisanlukisanku.blogspot.com)

#

Biola itu bukan "The Hammer" buatan Antonio Stradivari yang termasyur. Pun jelas bukan "Ex-Vieuxtemps" -  Guarneri Del Gesu yang harganya menyentuh angka jutaan dollar Amerika pada lelang terakhirnya. Meski ada ukiran mirip Barong Bali di kepalanya hingga terkesan unik, tetap saja itu hanya biola 4/4 biasa yang permukaannya mulus sewarna madu. Biola itu terlelap di dalam kotak kayu berlapis beledu hitam yang dibiarkan terbuka di atas meja rias.

Sementara itu, di seberang ruangan, tampak Sang Iblis terbaring lemah di atas ranjang dengan selang oksigen di hidungnya. Matanya yang berkantung dan mulai keriput di kedua ujungnya itu memandang biola penuh damba. Dia berpikir, sudah berapa lama bow-nya tak digosok rosin?
"Kamu ingin aku menggosok minyak damar pada penggesek biolamu, Mas?" ujar Dayu yang tiba-tiba saja sudah duduk bercermin. Tubuh ramping 35 tahunnya menghalangi pandangan Sang Iblis pada biola kesayangannya.
"Enyah kau perempuan jalang!" maki Sang Iblis. "Berani kausentuh biolaku ...."
Huh. Ancaman kosong, batin Dayu. Dia berbalik, menatap Sang Iblis yang kini nafasnya tersengal.
"Sudahlah, Mas. Istirahatlah...," kata Dayu dengan nada membujuk bocah tiga tahun. Dia merapikan selimut dan mengelus lengan Sang Iblis, berusaha menenangkannya.
Sang Iblis perlahan kembali bernafas nornal, meski sama sekali bukan karena Dayu. Dia memperoleh ketenangan lantaran bayang biola di atas meja rias telah kembali ke retinanya. Sang Iblis tersenyum.
***
Dayu tahu apa yang dipikirkan Sang Iblis. Lelaki itu pasti terkenang akan masa emasnya ketika masih bermain di orkestra terbaik seantero negeri.
Bertahun lalu, jemari panjang Sang Iblis selalu lincah menerjemahkan lembar-lembar sonata Beethoven atau Bach dalam tarian gesekan dawai. Dia  memahat partitur menjadi alunan melodi terindah yang belum pernah gagal memukau telinga siapapun. Orang lain menyebutnya penyihir, karena dipercaya menambahkan mantra-mantra pemanggil Dewa Musik agar hadir dalam setiap konsernya.
Namun Dayu tahu persis, bukan Dewa Musik yang dipujanya, melainkan Sang Penghulu Malaikat, Lucifer, yang menganugerahinya kemampuan bermusik tiada tanding.
Mulanya Dayu juga tak percaya. Sama seperti semua orang, dia pun terpikat pada Sang Iblis hingga rela dinikahi. Namun saat itulah, topeng Dewa Musik tampan penuh pesona yang dikenakan akhirnya terlepas.
Awalnya Dayu berpikir rasa sakit itu datang hanya karena malam pertama. Namun Sang Iblis mulai menganggap bagian tubuh Dayu yang lain sebagai kanvas yang bisa dilukisnya dengan puntung rokok, ujung pisau, cairan lilin panas, atau apapun yang bisa ditemukan. Sang Iblis menganggap setiap jeritan Dayu adalah lagu yang sama merdunya dengan Kreutzer Sonata.
Dan begitulah, Dayu merasa aktingnya bersama Sang Iblis layak mendapat Piala Oscar. Dunia mengenal keduanya sebagai pasangan musisi serasi yang mengabdikan hidup hanya untuk musik. Tak ada keturunan, tak ada ahli waris... Pun tak ada yang tahu, bahwa pernah ada tiga janin di perut Dayu yang tak diizinkan lahir oleh Sang Iblis.
***
Tapi lihatlah, batin Dayu. Sang Iblis kini tak berdaya. Kecelakaan hampir dua tahun lalu telah melumpuhkan syaraf-syaraf anggota geraknya. Menyisakan sakit kepala dan nyeri dada yang tak pernah pulih meski dihujani ratusan butir analgesik. Jangankan bermain biola, dia bahkan terlalu sakit untuk memuaskan hasrat iblisnya yang biasa.
"Dayu...," ucap Sang Iblis pelan. Matanya masih tak beralih dari meja rias. "Ambilkan bi-biolaku..., lalu taruh di sini. Di sisiku."
Dayu menurut. Biola itu dikeluarkan dari kotak, lalu digendongnya seperti seorang bayi. Ditaruhnya hati-hati di sisi suaminya. Penggeseknya digenggamkan pada jemari suaminya yang mulai kaku.
Sang Iblis kembali tersenyum. Seulas senyum terakhir sebelum raut kesakitan mendadak muncul di wajahnya. Sang Iblis tersengal, mulutnya megap-megap seperti ikan yang diangkat ke daratan. Tubuhnya mengejang selama beberapa saat, sebelum akhirnya terkulai lemas tak bergerak lagi.
"Kasihan kamu, Mas. Pasti sakit ya?" Dayu bermonolog. "Tapi paling tidak, di sana kamu bisa memainkan simfoni rindumu yang indah itu untuk dunia fana ini. Iya kan, Mas?"
Dayu meraih gagang telepon di meja. Kematian Sang Iblis harus diwartakan seluas mungkin.
***
Sang Iblis punya selaksa simfoni rindu untuk melagukan kembali biolanya. Sementara Dayu, dia hanya punya satu simfoni rindu saja : mengirim Sang Iblis kembali ke neraka.
Dayu pun tersenyum pada tabung oksigen yang alirannya dia matikan beberapa menit yang lalu.




Palembang. Awal Bulan Hujan '16



Cerpen ini sudah tayang di kompasiana.com , dan memenangkan mini-event bertema Rindu yang digelar komunitas fiksi Rumpies The Club Kompasiana.

2 komentar:

  1. nah blog baru...


    selamat ara...

    deddyhuang.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuhuu, mokasih Koko ...
      doain ketularan hokinyo ye :p

      Hapus

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels