Newsletter

Menu

MOVEMENT : A Story Of Two Lost Souls (1A)





Movement : A Story of Two Lost Souls | Ara Niagara


    Cowok berambut fringe itu buru-buru keluar dari toilet wanita bertuliskan RUSAK di pintunya. Sebisa mungkin kemeja biru acak-acakan itu dirapikan. Namun alangkah kagetnya dia saat melihat seseorang dengan begitu santai bersandar pada tembok, mendekap lengan terlipat di dada, dan hanya beberapa langkah  saja dari toilet.
 “Sya ..., elo… di sini?” tanya Ariel, cowok itu, gugup. Padahal, dia tadi sangat yakin toilet rusak di lantai empat kampusnya ini sudah kosong, apalagi sudah menjelang magrib. Tidak ada lagi perkuliahan. Tak mungkin pula ada orang lain.
  Lalu, sejak kapan cewek bernama Gisya itu ada di sini?
    Cewek ber-body gitar spanyol itu jelas bukan teman Ariel. Tapi siapa sih penghuni kampus ini yang tidak tahu dengan cewek itu? Namanya sudah terkenal di seantero kampus, mulai dari kalangan sesama mahasiswa, penjaga kantin, satpam, tukang parkir, hingga  pasukan cleaning service. Bahkan bangku taman dan tiang papan nama prodi pun rasanya akan ikut bergosip juga andai mereka punya mulut.
  Sebutlah Gisya yang jelita, yang kulit kuning langsatnya memesona, yang kemeja putihnya dari Caroline Herrera, yang punya tas baru Prada, juga yang rambut lurus panjangnya sering gonta-ganti warna. Lalu Gisya yang rela tidur dengan para dosennya demi nilai A, yang siap memberi servis kilat bagi mahasiswa kaya raya, sampai Gisya yang punya jadwal tetap menemani sejumlah “orang penting” menginap di vila-vila luar kota.
  “Iya. Kenapa? Masalah buat lo, A-Ri-El?”
Ariel menelan ludah. Tertegun. Bagaimana ayam, ehm, cewek ini tahu namanya? Dia bahkan mampu melafalkan dengan tepat : Ari(y)el,  dan bukan Aril seperti kebanyakan dosen saat memanggilnya.
  “Nngng, nggak, kok …” Ariel makin gugup. Sorot mata gadis itu terasa mengintimidasi meski sudah terhalang lensa kontak biru terang.
“Yang ada lo tuh yang bikin masalah buat gue,” sungut Gisya. “Transaksi short-time gue gagal tahu! Klien langsung kabur begitu lihat ada orang lain di toilet,” imbuhnya sebelum ngeloyor pergi begitu saja.
  Ariel bengong. Namun sejurus kemudian,  kepanikan mendadak melanda pikirannya. “Sya…, Gisya…, tunggu!” serunya.
  Gisya menghentikan langkah tanpa berbalik.
  “El… elo lihat gue tadi?” tanya Ariel pelan.  Cowok itu gagal menyembunyikan getar kecemasan dalam nada suaranya. “Lihat apa?” Gisya menoleh ke belakang.
  Ariel mematung. Tak berani menjawab. Jemarinya basah, berkeringat. Dia bahkan bisa mendengar degup jantungnya sendiri.
  Gisya tersenyum sadis. “Lihat lo ciuman sama Raka?”
  Kulit putih Ariel sontak memerah seperti pantat kera gunung. Lidahnya kelu. Kepalanya kosong. Dia terlalu cemas dan takut hingga tidak tahu harus merespon seperti apa. “Santai ajalah! Gue aja santai kok dikatain anak-anak sekampus!” kata Gisya enteng, seiring kakinya bergerak menjauhi Ariel.
  Ariel kembali diam. Dia memerhatikan punggung cewek itu dengan perasaan tak keruan, sebelum akhirnya menghilang di belokan tangga.
  “Arrrrrrrrrrgggggghhhhhhhhhh!!!” Ariel mengacak rambutnya, frustrasi.
  Rahasia terbesarnya terbongkar sudah.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels