Newsletter

Menu

MOVEMENT : A Story of Two Lost Soul (1B)



MOVEMENT : A Story of Two Lost Soul | Ara Niagara




Prev ~
MOVEMENT : A Story of Two Lost Soul Chapter 1a



  “Yah, kok nggak jadi, Ka? Gue udah nunggu lama ini,” keluh Ariel pada ponsel pintarnya. “Ya udah. Tapi gue nggak balik ke apartemen, ya? Ok. Ok. Hati-hati, Raka.”
  Ariel menghela napas panjang. Diinjaknya gas mobil matic silver itu dalam-dalam, bergerak menjauhi pelataran sebuah restoran italia mewah di pinggir kota. Dia benar-benar kecewa pada Raka. Cowok macho berwajah setengah bule yang sudah hampir dua tahun mengisi hatinya itu seenak jidat membatalkan janji. Dan ini bukan kali pertama.
  Tak lama berselang, mobil Ariel sudah berbelok ke sebuah kompleks perumahan mewah dan berhenti tepat di gerbang rumah bercat putih. Dari luar pagar, bangunan rumah tampak dihiasi ornamen khas Jawa. Terlihat pula beberapa arca batu dan prasasti buatan di halamannya yang cukup luas. Ariel menunggu sejenak sampai Mbak Juju, asisten rumah tangganya membuka pintu gerbang pagar dengan sempurna.
  Telinga Ariel langsung menangkap gemericik air di kolam mungil yang sayup terdengar dari samping garasi begitu mesin mobil dimatikan. Disusul suara seorang perempuan yang berdiri memblokir pintu.
  “Ariel? Kok nggak bilang-bilang mau pulang, Sayang?"
     Entah bagaimana, perempuan sipit itu terlihat jauh lebih tua kini, dibanding terakhir kali Ariel melihatnya akhir tahun lalu. Tanpa pikir panjang, perempuan itu langsung dipeluknya dengan sayang tanpa berkata sepatah kata pun.
  “Mau makan dulu, Riel? Kamu pasti lapar. Mami suruh Mbak Juju panasin makanan dulu, ya? Atau mau mami masakin nasi goreng kesukaan kamu?”
  Ariel menggeleng lemah. “Nggak usah, Mam. Riel nggak lapar. Mau langsung tidur saja. Capek.”
  Ayuri, perempuan ibu Ariel itu mengangguk maklum. Diusapnya puncak kepala  anak sulungnya dengan penuh kerinduan. Tatapan matanya tak berhenti mengikuti langkah gontai sang putra yang bergerak masuk ke dalam rumah.
  Jauh di lubuk hati, Ariel pun merasa sama rindunya. Namun dia sedang tidak ingin bicara pada siapapun. Dia perlu menenangkan diri sejenak. Satu-satunya shelter perlindungan di rumah ini hanya kamarnya di lantai dua. Dan ke sanalah ia menuju.
  Saat di tangga, Ariel sempat melirik sebuah piano putih besar di ruang keluarga. Kosong. Dari posisi yang lebih tinggi, samar terbaca tulisan Piano Sonata No 14 tercetak di bagian atas lembar partitur. Bersamaan dengan itu, mendadak menyusup perasaan tidak enak dalam diri Ariel, yang buru-buru ditepisnya.
  Cowok itu lega ketika sampai di kamar, ruangan itu ternyata sama sekali tak berubah. Warna biru muda mendominasi mulai dari cat dinding, kain penutup jendela, hingga bed cover-nya. Sebuah boneka teddy bear ukuran besar teronggok kesepian di tempat tidur. Sekilas, jadi terlihat agak feminin mengingat fakta kamar itu adalah milik cowok 20 tahun.
  Ariel lalu menghempaskan tubuh ke kasur dan langsung memejamkan mata. Dia tidak ingin berpikir apa-apa lagi. Bayang senyum manis Raka adalah yang terakhir mampir di benaknya,  sebelum akhirnya tertidur lelap.
  Namun belum lagi seperempat jam  berselang, Ariel tersentak. Dentang piano terdengar dari  lantai bawah dan membuatnya terjaga. Nada–nada itu mengalun, memainkan simfoni duka yang begitu akrab bagi telinga Ariel : Moonlight Sonata.
  Perasaan tidak enak yang sempat dirasakannya tadi kembali muncul. Sadar ada yang tidak beres, Ariel bergegas keluar dari kamarnya. Setengah berlari ia menuruni anak tangga dua-dua sekaligus dan berhenti begitu menginjak anak tangga terakhir. Sorot matanya memperhatikan sosok gadis belia yang duduk anggun di bangku piano. Jemari gadis yang mirip boneka Jepang itu menari lincah di atas barisan tuts hitam-putih, namun bola mata sipitnya menatap nanar langit malam yang terbentang di balik jendela. Memantulkan bayang bulan purnama yang tampak angkuh bertakhta di atas sana.
  “Keiri …,” desis Ariel. Keharuan mendadak menyelimuti hatinya. Cowok itu sadar, betapa dia merindukan adiknya itu. Namun Keiri, yang rambut panjangnya lurus menjuntai sepinggang itu tak merespon. Jemarinya masih terus memainkan simfoni dari Beethoven itu tanpa sadar ada orang lain yang memerhatikan.
  Ariel mendekat pelan. Cowok itu menghitung langkahnya hati-hati, namun langsung mematung ketika Keiri mendadak menghentikan permainan dalam sebuah sentakan.
  “Pergi!” Keiri berucap lirih, menyerupai bisikan. “Jangan ganggu gue dulu!”
  Ariel diam. Dia menanti kata-kata Keiri selanjutnya. Namun gadis itu malah membisu. Keheningan canggung sempat meliputi ruangan sebelum akhirnya dipecahkan oleh piano yang kembali berdentang.
  Keiri memulai lagi permainannya, namun nada yang dihasilkan jauh berbeda dengan yang tadi. Sebelumnya, jemari gadis itu begitu sempurna menerjemahkan setiap not dalam partitur layaknya pianis profesional, tapi kali ini gerakannya amat kacau. Ketukannya melenceng, bahkan tekanan pada tutsnya terlampau kasar dan cepat untuk tempo adagio sostenuto  dalam first movement.
  “Pergiii!!”
  Samar Ariel mendengar suara Keiri di tengah permainan piano yang sekarang  jadi jauh lebih mirip bagian ketiga Moonlight Sonata.
  “Pergi !!!” Suara Keiri mulai meninggi, nyaris berteriak. “Gue mohon pergi dulu … Gue nggak mau diganggu !!!”
  Ariel tergugu. Dia terlalu syok melihat Keiri sekarang malah memukul-mukul pianonya dengan frustrasi. Bahu gadis itu bergetar hebat seiring ocehan di mulutnya mulai berganti isak.
  “PERGI!!!!!”
  Tanpa peringatan sama sekali, Keiri tiba-tiba menjerit sekuat tenaga sambil menutup kedua telinganya. Ariel tak tahan lagi.  Cewek itu spontan direngkuhnya dalam pelukan.
  Keiri meronta kalap. Dia tampak tak sadar dengan apa yang terjadi dan tak mengenali apa pun di sekitarnya.
  “Sssshhh, Keiri ... Ini gue,” bisik Ariel menenangkan. Namun Keiri seolah tak mendengar, dia malah semakin histeris dari sebelumnya. Ariel tak menyerah begitu saja.     “Keiri, ini gue, Ariel. Tenang ya, please ….”
  “A-riel?” ucap Keiri terbata. Ada nada tak percaya dalam suaranya.
  “Iya, ini gue, Ariel …” Ariel meyakinkan.
  “Kak Riel?”
  “Iya, ini Kak Riel ….”
  Ariel lega Keiri berhenti meronta. Cewek itu melerai pelukannya, lalu terdiam sejenak. Dengan wajah bersimbah air mata, ditatapnya Ariel dalam-dalam. Seolah ingin memastikan bahwa sosok di depannya ini sungguh-sungguh kakaknya.
  Perlu beberapa menit sebelum akhirnya Keiri memeluk Ariel kembali. “Kak Riel …,” desahnya lega.
  “Iya, ini gue….” Ariel mengusap lembut bahu adiknya.
  “Kak, gue takut ….”
  “Nggak usah takut, Keiri. Kan ada gue sekarang.”
  “Aiko,” bisik Keiri dalam kengerian. “Dia di sini, Kak. Ganggu gue terus…”
  “Aiko udah pergi, Ri. Nggak usah diinget-inget lagi. Ikhlasin ….”
  “Tapi dia beneran di sini,” debat Keiri.
  “Udah. Udah … muka lo pucet banget. Lo pasti kecapekan ini. Tidur yuk, Ri … istirahat.” Ariel terus membujuk Keiri agar mau beranjak dari pianonya.
  Mulanya Keiri enggan, namun akhirnya menurut juga. Tangannya dilingkarkan ke pinggang Ariel saat keduanya melangkah menuju kamar.
  Di kamar Keiri rupanya sudah menunggu Ayuri dan Juju dengan nampan berisi gelas air minum dan botol obat. Raut wajah keduanya tampak sedikit cemas, namun tetap tenang. Ariel buru-buru keluar kamar agar mami dan asisten rumah tangganya itu leluasa mengurus Keiri. Kedua wanita itu pasti sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti yang barusan terjadi.
  Ariel baru hendak kembali naik ke kamarnya, namun dikejutkan oleh sosok seseorang yang berdiri di anak tangga pertama. Sosok itu begitu jangkung. Dan meskipun cowok, struktur wajahnya terlihat mirip sekali dengan Keiri.
  Kedua tangan cowok itu mengepal sembari matanya menatap tajam ke Ariel, tampak ingin menelannya hidup-hidup. Dilihat dari gerak geriknya, bisa dipastikan cowok itu sudah cukup lama berdiri di sana untuk memperhatikan apa yang telah terjadi di ruangan itu.
  Bibir Ariel terbuka, hendak menyampaikan sesuatu. Namun belum sempat sepatah kata pun keluar dari mulutnya, cowok itu sudah buru-buru pergi.
Ariel merasa ribuan daun serai mendadak dijejalkan dalam hatinya. Perih, melihat ekspresi tak bersahabat dari cowok itu di rumahnya sendiri. Padahal cowok itu kan adiknya juga. Cowok itu ...

  Kei, saudara kembar Keiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels