Newsletter

Menu

[Bukan Review] Pesona Jack-Jack di Film The Incredibles 2




The Incridibles 2 | pixar.wikia.com





Intro : 
Sehabis sanjo dalam rangka lebaran kemarin, Mami Ossas diajak nonton The Incredibles 2 sama ayah-bundanya Davie di CGV Social Market (Soma), Palembang. Kali pertama banget tuh menginjak Soma, karena selama ini kalau nonton cuma di Palembang Square (PS) atau Palembang Icon (PI). Tempatnya nyaman dan terkesan elit (kapan-kapan diulas sendiri deh), tapi sayang akses naik turun gedungnya baik lewat tangga, lift, dan eskalator kaya'nya terlalu sempit. Eh, nggak tahu juga ding kalau emang suasana aja pas emang lagi rame.

Halah. Kelamaan intro. Langsung aja nih reviewnya :


Menonton di suasana lebaran dengan tak ada satu pun kursi kosong tersisa dalam bioskop membuat tangan saya gatal untuk mengetik ulasan ini. Antusiasme masyarakat terhadap film animasi keluaran Disney Pixar ini memang luar biasa tinggi. Mengutip forbes.com, The Incredibles 2 mencetak rekor setelah meraup $27 juta di hari ke-lima pemutarannya. Wow!


Terhitung 14 tahun berselang sejak film pertamanya rilis di tahun 2004 lalu, setting waktu dalam The Incridible 2 justru tidak berubah, bahkan benar-benar kelanjutan dari scene terakhir di film lawasnya. Dikisahkan Hellen alias Elastic-girl direkrut seseorang untuk menjalankan sebuah misi untuk memulihkan kembali reputasi pahlawan super yang rusak akibat "kesalahpahaman" pascakasus Monster Bor. Sementara itu, suaminya Bob Parr alias Mr. Incredible terpaksa menggantikan Hellen mengurus rumah tangga.

Entah mengapa, saya mencium aroma seksisme yang cukup kental di sini. Terlihat jelas bagaimana Elastic-girl sangat bersinar ketika menjalankan "tugas lelaki", sementara Mr. Incredible benar-benar kelabakan kala harus menjalankan tugas keibuan. Membantu Dash mengerjakan PR, menghadapi Violet yang puber dan sedang "sakit cinta", dan si bayi Jack-Jack yang tidak bisa ditinggal meleng sedikit pun. Belum termasuk repotnya memasak dan mencuci. Pffft, sedikit kejam memang bagi Mr. Incredible, tapi sepertinya apa yang digambarkan dalam film memang realistis. Begitulah jadinya kalau menyuruh lelaki mengurus rumah. Jadi, masih ada yang berani bilang pekerjaan rumah tangga itu perkara gampang?

Untuk konflik utama sedikit tertebak baik alur maupun dalang di balik tokoh antagonisnya. Namun untuk sebuah film animasi bertema keluarga yang benar-benar untuk hiburan, sama sekali bukan masalah besar. Kalau butuh konflik lebih berat mungkin lebih baik nonton film thriler saja. Selain bernostalgia dengan tokoh lawas keluarga Parr yang karakternya unik dan memikat, penonton juga diajak berkenalan dengan sejumlah tokoh super hero baru dengan jenis kekuatan yang lebih bervariasi.

"Si bungsu Jack-Jack jenis kekuatan supernya apa, Ara?"
Banyak teman yang melontarkan pertanyaan ini setelah menonton trailer-nya. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak ingin merusak kesenangan Anda sekalian yang belum menonton. Yang jelas, Si kecil Jack-Jack memang benar-benar bintang yang membuat satu studio pecah tawanya setiap kali dia berulah. Pokoknya, sedikit spoiler di ending film pertama terkait Jack-Jack itu sungguh BELUM APA-APA. Jadi, alangkah baiknya jika Anda temukan jawaban dengan menontonnya sendiri, buruan gih. Nggak nyesel banget.

Menurut saya, film ini bukan hanya mampu membangkitkan suasana nostalgia bagi fans lama, namun dipastikan sukses juga menambah fans baru. Berhubung saya beserta seisi bioskop keluar dengan senyum dan sisa tawa terpeta di wajah, tidak berlebihan jika saya beri rating 9/10 bintang untuk film ini. Kalau tidak ingat kesempurnaan hanya milik Tuhan, mungkin saya kasih 10/10.

RECOMENDED!


Review ini juga tayang di Kompasiana dengan judul "Aroma Seksisme di Film The Incredibles 2"


Coda : 

Davie dan Mami Ossas

6 komentar:

  1. Jadi pengen nonton..mau liat aroma seksis itu 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, tontonlah Umek....samo keluarga lebih seru :D

      Hapus
  2. Cieh itu foto lagi akur :D hahaha. Favorit banget film ini. Pingin nonton ulang dan ketawa lepas, soalnya pas nonton satu studio paling 10-an orang (maklum di hari pertama tayang). Aku sama temen nonton doang yang ketawa (gak lepas) penonton lain kok adem-adem wae.

    BalasHapus
    Balasan
    1. weits, baek nian Davie lebaran ini samo Ara, Kak. Amplop THR dio be dikasih satu ke ara ...wkwkwkwkwk.....


      jiaaahh, sepi nian 10 orang? Yang Ara nonton pecaaahhh nian satu studio

      Hapus
  3. Cie Ara yg nnton first time di Soma wkwk stlh baca tulisan ini, aku jd ingin ke bioskop dan melihat si bungsu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasa PS tu lah, yang deket ...

      Ayo nonton sebelum nyesel :D

      Hapus

Author

authorHalo, Saya Ara Niagara dari Palembang, Penyayang kucing super random dan ADHD person.
Learn More →



Labels